[Jadi? Bagaimana keadaannya Azazel?]

[Untuk sementara ini kau bisa bersantai terlebih dahulu]

[Begitukah?]

[Yah... Sekiryuutei itu sedari tadi menatapku dengan tajam, sementara gadis ungu yang biasa bersama Vali itu tak ikut ke pertemuan ini]

[...]

[Ngomong-ngomong, kau sekarang dimana Azazel?]

[Aku sedang diruangan pertemuan tahu! Wih~ tempatnya keren euy!]

*Tut!*

Obrolan jarak jauh hanya dengan sebuah alat elektronik kecil itu akhirnya berakhir tak lebih dari sekitar 20 detik saja...

Naruto memang kadang kesal sih dengan Azazel. Dikala ia mencoba serius terhadap sesuatu, Azazel malah mencoba mengalihkan perhatiannya dengan hal-hal yang konyol dan membuatnya tidak konsentrasi

Dasar gubernur gak jelas!

Mencoba menghela nafas panjang, Naruto mengadahkan kepalanya keatas – langit malam ini serasa lebih indah dari hari yang sebelumnya dengan bintang-bintang yang terang menerangi, namun sayang bulan kali ini tak nampak

Terbayang wajah Rize yang baru saja dibicarakan Azazel. Ada banyak dugaan dibenak Naruto mengapa gadis yang pertama kali ia tolong itu tak datang dipertemuan semacam ini padahal dirinya adalah kandidat yang seharusnya ikut bersanding disebelah Vali

Namun satu hal yang pasti, gadis itu tak ikut karena menjaga Kurumi di apartemen bukan? lalu siapa yang menjaganya selain Rize?

"..."

"Rize, Kurumi –"

"- entah kenapa aku merasa seperti meninggalkan mereka..."

::

::

::

::


[ New Line! ]

:: Disclaimer :: – Kishimoto-sama and Ishibumi-sama [This is purely Fanfiction. Made only to entertain for those who read] ::

:: Rating :: – M for Some Reason ::

:: Genre :: – Adventure, Supernatural, Comedy[?], Romance ::

:: Warning :: – OOC[?], AU, Typo[!], Miss-Typo, EYD yang perlu dibenahi dan lainnya ::


::

::


[ Chapter #29 ]

- Tragedy! Dan senandung malam yang memilukan –


::

::

::

::

Kembali ke ruangan pertemuan yang ada di Kuoh Academy. Terlihat sang iblis bungsu dari keluarga Sitri tengah melaporkan tentang tragedi Kokabiel bersama Rias disebelahnya. Penjelasan yang cukup panjang yang membuat seisi ruangan dapat paham dengan kronologi kejadiannya

"Begitulah yang bisa kusampaikan" Ucap Sona sambil menunduk diikuti Rias yang berada disebelahnya

Sirzech mengangguk pelan, dagunya kini bersandar diatas kedua tangannya yang saling bertautan dengan bibir yang bergetar pelan "Lalu, bagaimana dengan keadaan Naruto yang kalian sebut itu?" ucapnya dengan pose yang sama

Rias menggeleng pelan pertanda ia tak tahu sama sekali, sesaat ia mendapati sosok Vali yang kini menunduk mencoba menghiraukan pertanyaan sang Maou yang menyangkut tentang sahabatnya itu

Jika tentang keberadaan Naruto yang sebenarnya, bertanyan pada Rias adalah hal yang percuma. Meski ia ikut dalam pertarungan melawan Kokabiel bersama para Peeragenya serta Naruto, Vali, serta Rize, namun ia hanya melawan Cerberus berkepala tiga itu saja, sedangkan yang melawan Kokebiel adalah Naruto dan Vali

"Tentang Naruto, aku tidak tahu-"

"Dia telah pergi, itu yang kutahu..."

Ucapan dengan nada datar yang memotong perkataan Rias itu terasa dingin membeku. Seketika seluruh pandangan mengarah kearah Vali yang kini tengah menunduk sambil terus bersandar di dinding tanpa ada niatan sedikitpun untuk maju selangkah

"Dia telah pergi? Apa yang kau maksud itu Hakuryuukou?"

Mendengar pertanyaan sang Maou Lucifer membuat Vali mengadahkan kepalanya lurus kedepan. Seluruh pasang mata kini menatapnya dengan pandangan yang begitu penasaran kecuali Azazel yang tak sedikitpun menoleh kearahnya

Vali menghela nafas, mencoba menenangkan hati dikala suasana dengan aura yang begitu terasa berat ini "Hanya itu yang kutahu Maou Lucifer, aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya namun satu yang bisa kupercayai, yaitunyawa Kokabiel pasti berada ditangannya"

"Begitu-"

"Bagus saja kalau ia mati, musuh sepertinya tidak pantas untuk hidup!"

"I-Issei?!"

Umpatan tajam dari Issei mendapatkan tatapan tajam dari Vali. Seisi ruangan hanya bisa terdiam atas apa yang dikatakan Issei yang terasa begitu menusuk, namun berbeda dengan Azazel yang hanya tersenyum simpul meski awalnya ia hendak tertawa pelan – Maa... gubernur yang hoby nya memancing itu memang agak gak jelas!

Dan entah kenapa Azazel sekarang paham dengan perkataan Naruto tentang mempermalukan diri. Sejenak ia berpikir apa jika Naruto berada disini – keberadaannya bisa diterima? Dia itu dicurigai sebagai musuh bagi Rias dan anak-anaknya bukan?

"Ah, maafkan soal Naruto, Sekiryuutei. Aku tak menyangka jika kau begitu membenci dirinya" ucap Azazel sambil tersenyum simpul dan membuat Issei hanya mendecih kesal sambil membuang wajahnya kearah lain –

- Dan yah... entah kenapa rasanya Vali ingin sekali menendang kepala Sekiryuutei sok kuat itu

"Azazel –" Sirzech Lucifer menyela, tatapan matanya kini mengarah pada Azazel yang terlihat begitu santai tanpa ada sedikitpun beban sama sekali "- Kau kenal dengan Naruto itu?"

Yah, mau bagaimana lagi?

Naruto merupakan peranan penting bagi Azazel dalam masalah ini, masalah yang menyangkut tentang bawahannya yang kadang membangkang selalu diselesaikan Naruto dengan begitu baik. Bahkan masalah soal Kokabiel – Azazel sedikit tak percaya jika bocah pirang itu bisa membunuhnya

Bukan tanpa alasan Azazel beranggapan begitu. Sosok Naruto memang terasa asing di dunia yang penuh dengan aura supernatural seperti ini. Dikala manusia lain diberkati dengan Sacred Gear yang katanya diturunkan oleh Tuhan. Naruto malah mempunyai kemampuan bertarung dan kemampuan lain yang cukup unik bukan hasil dari Sacred Gear melainkan hasil dari latihannya sendiri

Dan sekarang? Andai jika Naruto tidak mengalahkan Kokabiel waktu itu, mungkin pertemuan tiga petinggi fraksi seperti ini tidak akan pernah terjadi

"Sebelumnya maafkan bawahanku jika selalu mengusik kedamaian kalian –" ucap Azazel yang langsung mendapati tatapan tajam dari pihak Rias "- aku duduk disini pun bukan berarti aku mau menjadi pihak yang disalahkan, aku kenal Naruto karena akulah yang mencoba mengatasi masalahku sendiri"

"Apa maksudmu Azazel-dono?" tanya Michael dengan aura yang berwibawa. Disusul dengan Serafall Leviathan yang ikut merasa penasaran atas apa yang dikatakan Azazel barusan

"Seperti yang dijelaskan oleh Rias dan Sona tadi. Kokabiel memang berencana untuk kembali mengadakan Great War kedua namun itu atas kehendaknya sendiri –" ucap Azazel meski keadaan disekitarnya seolah tak ada yang percaya dengan apa yang diucapkannya

"- Kalian mungkin tak percaya, namun pertanyaannya adalah untuk apa aku menyuruh Vali menghentikan Kokabiel bersama dengan Naruto?"

Semuanya terdiam sesaat setelah mendengar apa yang dikatakan Azazel. Sedikit terdengar lucu memang ketika sang gubernur mengatasi masalahnya sendiri dengan menyuruh orang lain serta muridnya. Namun jalan apa lagi yang bisa ia ambil selain itu?

Azazel bukanlah Datenshi yang bodoh. Otaknya yang bisa dibilang cerdik sangat pintar untuk merencanakan sesuatu meski ditutupi dengan sifat konyol serta wajah pemalasnya. Dibalik senyum tipisnya yang menutupi sesuatu, ada sebuah pemikiran cerdik yang membuatnya bisa terbebas dari tuduhan kepadanya

"Tapi Azazel-"

"Kau juga melihatnya kan Rias? Naruto dan Vali yang bertarung dengan Kokabiel demi sekolahmu ini? Kau mungkin menyalahkanku karena Kokabiel tapi yang seharusnya adalah kau dan anak-anakmu itu berterima kasih pada Naruto karena berhasil menyelamatkan nyawamu serta sekolahmu bukan malah membencinya –"

"- Lagipula kau bisa apa? Iblis yang masih dalam bimbingan sepertimu belum cukup kuat untuk mengalahkan Kokabiel"

Seketika Rias serta yang lainnya bungkam, membuat suasana yang terjadi menjadi terdiam tanpa ada satupun yang mencoba menyahut. Bahkan sang Maou Lucifer sedikit memperberat auranya yang begitu kuat ketika Azazel merendahkan adiknya walau dibalik wajah kalemnya

"Kau berlebihan Azazel..."

"Hahah! Maaf jika aku berlebihan namun bukankah memang begitu kenyataannya? Lalu bagaimana jika langsung saja menandatangani perjanjian tiga fraksi ini? Kalian menginginkan itu bukan?"

Sirzech dan Serafall langsung menatap Azazel dengan pandangan penasaran seolah mereka menyadari bahwa Azazel mencoba membebaskan diri dari masalah padahal masalah ini berawal dari bawahannya, berbeda dengan Michael yang tersenyum tulus karena memang begitulah yang ia inginkan

Azazel tersenyum simpul...

'Dan sekarang, tinggal menunggu senandung malam yang akan terjadi sebentar lagi!'

.

.

.

.

.

.

"Kurumi-chan..."

Latar kembali berganti menjadi ruangan yang sedikit lebih gelap dari yang sebelumnya, lampu pijar kecil di sisi mencoba menerangi, jendela dibiarkan terbuka membiarkan angin bermain berlalu lalang tanpa henti

Rize memanggil sang gadis dengan nada yang sama. Agak sedikit sakit ketika sang gadis yang dipanggil hanya diam terduduk diatas kasur empuk yang mungkin cukup untuk dua orang saja?

Langkahnya berjalan mencoba mendekat, lantai dimalam hari seperti ini terasa berdecit ribut...

"Kurumi-chan..."

Nada itu terdengar kembali bercampur dinginnya angin malam

Rize kini sudah berada diatas kasur, mencoba menggeser tubuhnya mendekati Kurumi yang masih senantiasa terduduk dengan pandangan yang kosong menatap kedepan. Rambut hitamnya yang tergerai bebas dengan tubuh yang hanya dilapisi piyama berwarna biru muda

"Kau masih memikirkan Naruto?"

"..."

Tak ada tanggapan atau atensi...

*Pluk!*

Elusan lembut terasa hangat dikepala Kurumi, membiarkan telapak tangan yang berada dipuncak kepalanya itu mengelus lembut surai hitamnya yang begitu halus. Rize tersenyum lembut – entah apa yang saat ini ia pikirkan

Pada kenyataannya Rize hanyalah mencoba membantu Kurumi untuk mengeluarkan beban yang selama ini hinggap dikepalanya. Kejadian yang terjadi karena kesalahpahaman itu bukanlah salah mereka, hanya saja Naruto tak paham bagaimana keadaannya

Bukankah begitu?

"Rize..."

"Ya?"

Tangannya terasa dingin membeku, mencoba menghentikan elusan yang diberikan Rize tepat dipucuk kepalanya

"Apa kau tahu apa yang saat ini Naruto pikirkan?"

"..."

"Kenapa kau berpikir seperti itu?"

Kurumi menjilat bibir bawahnya pelan, ada sebuah kalimat panjang yang belum bisa ia katakan pada gadis bersurai ungu yang berada disebelahnya ini. Meskipun ia bisa mengutarakannya – namun ia masih merasa sedikit ragu

"Entah kenapa aku merasa hari ini ada yang tidak beres..."

"..."

"Tenanglah, aku disini bersamamu..."

Dan begitulah, Rize mencoba memeluk erat Kurumi yang masih terduduk tanpa ekspresi, kehangatan melawan rasa dingin malam yang membara, suasana hening yang seolah membawa pesan tersembunyi dibalik malam yang sedikit berbeda dari yang sebelumnya

.

.

.

.

.

[Naruto!]

[...]

[Bersiaplah, aku tak tahu kapan akan dimulai namun aura yang tersebar disini cukup berat...]

[Tenanglah, aku menjaga kalian dari luar...]

.

.

.

.

.

"Jadi? Bagaimana selanjutnya?"

Pertanyaan yang menggantung itu keluar secara ambigu dari bibir Azazel. Pandangan mata tertuju pada tiga petinggi masing-masing fraksi yang berada didepannya, sedikit melirik kearah rombongan Rias yang saat ini tengah menggenggam tangan Issei dengan erat begitu juga Sona dan Tsubaki yang berdiri dibelakang Serafall

Sebuah perjanjian berupa surat khusus yang ditandatangani oleh keempat petinggi tepat diatas meja kini menghilang dibalik sebuah lingkaran sihir. Sesaat Sirzech terlihat menundukkan kepalanya mencoba berpikir tentang sesuatu yang tidak diketahui

Jari-jari yang saling bertautan bergetar satu sama lain seolah menunggu hal yang sudah dipastikan. Senyum tipis pertanda buruk baru saja dimulai

"Yah... setelah perjanjian ini selesai, mungkin sudah saatnya kita sedikit akur daripada yang sebelumnya –"

"- Tapi sebelumnya, apa kalian tidak berpikir jika pertemuan semacam ini mengundang bahaya yang besar?"

Michael tersenyum lembut sebagai respon yang bisa ia berikan. Jelas ia bisa merasa aman berada disini bukan karena ia hanya ditemani dengan Irina saja yang saat ini berdiri dibelakangnya. Namun diluar gedung pun sudah ada ratusan Tenshi yang siap menjaganya

Disisi lain Serafall tak perlu merasa tertekan karena apa yang diucapkan Sirzech sebelumnya. Sebagai salah satu Maou sudah sepantasnya ia memiliki pasukan iblis yang siap menjaganya bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk dirinya

"Bagaimana menurutmu Azazel?"

Azazel tersenyum simpul, tak bisanya Sirzech menanyakan hal yang seperti itu padanya serta dengan senyum yang menyimpan sesuatu "Tenang saja! pasukanku siap menjaga diluar gedung, lagipula aku sudah meminta bantuan pada orang luar yang setidaknya bisa menjaga kita dari luar kekkai" ucapnya dengan nada santai

"Orang luar?"

"Begitulah..."

*Duaaaaarr~!*

*Duaaaaaarrr~!*

Dan tepat setelah Azazel mengakhiri pembicaraannya dengan Sirzech, terjadi ledakan besar dari luar gedung yang membuat semua yang ada diruangan itu sedikit merasa terkejut meski mereka sudah tahu ini akan terjadi

Terlihat jelas dari luar jendela – langit berwarna merah berkat Kekkai yang menghalangi kini dipenuhi dengan lingkaran sihir yang memunculkan ratusan pasukan penyihir hitam yang entah darimana asalnya. Disisi lain sumber dari dua ledakan besar tadi adalah gedung sekolah yang terbakar hebat serta ledakan besar yang menghasilkan kawah besar di lapangan olahraga Kuoh Academy

"Apa yang terjadi?!"

Rias sedikit terlihat panik membuat para Peeragenya yang senantiasa berada dibelakangnya sedikit merasa khawatir. Bukan tanpa alasan, masalah utamanya adalah Koneko dan Gasper Vladi sang vampire yang memiliki Sacred Gear berbahaya itu masih berada di ruangan klubnya

"Rias!" Sirzech mencoba membuka suara memanggil nama sang adik, ekspresi yang tertampil diwajahnya kini terlihat lebih serius daripada yang sebelumnya

Sirzech tahu bahwa ada dua peerage Rias yang tidak ikut pertemuan ini dan salah satunya adalah vampire yang memiliki sacred gear yang bisa menghentikan waktu itu. Memang Rias sedikit ceroboh karena tak membawa dua anak itu ke dalam pertemuan ini dan malam meninggalkan mereka disana

Dan sekarang...

Bagaimana jika mereka sudah ditangkap para penyihir itu?!

"Cepat kembali ke klubmu bersama yang para Peeragemu lalu selamatkan Gasper-kun, Sona dan Tsubaki akan ikut bersamamu dan biarkan kami sisanya yang akan menjaga melawan ratusan penyihir diatas sana"

"Ha'i! Onii-sama!"

Tak lama kemudian, Rias dan Peeragenya serta Sona juga Tsubaki menghilang dalam lingkaran sihir, menyisakan empat petinggi fraksi dan Vali juga Irina yang masih berada disana tanpa ada niatan untuk sedikit bergerak tanpa tujuan

*Sraak!*

"Azazel?"

Azazel mendorong kursinya kebelakang dan berdiri tegak, bahkan sahutan Serafall tak membuat senyum simpul di wajahnya luntur sama sekali karena hal seperti ini sudah benar-benar diluar dari dugaannya

Tak ia sangka – jika apa yang dikatakan Naruto itu adalah benar. Melihat pasukan tiga fraksi yang bertarung dengan para penyihir dari jendela saja membuat ia paham bahwa pertempuran ini butuh banyak pasukan

Lihat saja! meski sulit untuk melihat dari jendela – namun ia tahu jika pasukannya hanya tinggal sedikit akibat serangan dari ratusan penyihir yang menyerang dengan laser misterius itu...

"Vali, apa kau tak ingin bersenang-senang di luar sana?" ucap Azazel mencoba bertanya pada Vali yang sedari tadi terdiam tanpa bersuara

Vali menyunggingkan senyum tipis pertanda tertarik, pemuda yang tergila-gila dengan pertarungan itu akhirnya bergerak sambil mengeluarkan sayap birunya "Yah... setidaknya aku bisa sedikit merenggangkan otot tubuhku" ucapnya percaya diri lalu melesat keluar melalui jendela dan terbang menerobos ratusan penyihir itu

Mereka melihatnya – Azazel serta yang lainnya – saat Vali melayang diatas udara tepat di tengah-tengah ratusan penyihir yang entah darimana asalnya itu. Perubahan tubuhnya terlihat sedikit mencolok dengan beberapa tubuh yang dilapisi armor layaknya Power Ranger. Lalu setelahnya ia melesat cepat secara acak menghajar ratusan penyihir itu dengan kecepatan yang ia punya

*Zraaat! Zraaat! Zraaat!*

"Sasuga Hakuryuukou, tapi apa ia tidak merepotkanmu Azazel-dono?"

"Kau bisa tenang Michael, bocah naga itu bisa diandalkan kok!" ucap Azazel membalas pertanyaan Michael dengan sedikit membela muridnya yang terkadang agak menjengkelkan itu

Dan selanjutnya?

*Twiink~!*

Tiba-tiba aliran waktu serasa berhenti, membuat seluruh pasukan yang berada diluar gedung seketika terdiam tanpa ada satupun yang mau bergerak kecuali Vali yang masih menyerbu ratusan penyihir yang entah darimana itu

"Forbidden Valor View kah? Sepertinya adik kalian sedang dalam bahaya, Maou"

Keringat dingin perlahan muncul dari pelipis Sirzech juga Serafall saat mendengar apa yang baru saja dituturkan Azazel – entah mereka berdua tak tahu apa yang terjadi pada adik tercintanya "Biar aku yang melihat mereka Sirzech-tan! Azazel dan yang lainnya berjaga disini" tukas Serafall lalu menghilang dalam lingkaran sihir khas Sitri

*Bzzzztt~! Sriiiing~!*

Pertempuran diluar gedung terlihat sedikit berat sebelah, pasukan tiga fraksi yang terdiam membeku akibat efek dari Sacred Gear milik Gasper Vladi perlahan mulai berguguran diserang pasukan penyihir yang entah darimana datangnya itu dan tentunya terus bermunculan. Puluhan laser serta sambaran petir yang merupakan serangan dari para penyihir membuat Vali yang masih berada disana sedikit merasa jengkel

"Dasar Azazel, jadi apa aku harus membunuh ratusan penyihir ini?" ucap Vali dengan sebuah pertanyaan retoris. Sesaat setelah mengumpulkan semua kekuatan yang ia punya, sebuah bola biru muncul ditelapak tangannya

*Swuuuuush!*

Melesat cepat keatas langit hingga hampir mencapai puncak Kekkai yang menutupi, Vali lalu menatap kebawahnya – mendapati pasukan penyihir yang masih asik membabat habis pasukan tiga fraksi yang perlahan mulai berguguran dan beberapa penyihir yang mengikutinya

"Sekarang –" mencoba menekan tenaga pada tangannya, Vali lalu melemparkan bola biru itu kearah pasukan iblis yang mengumpul dibawahnya "Rasakan ini!"

*Swuuuuuush~!*

*Duaaar!*

Melesat dengan begitu cepat, bola biru itu lalu meledak bagaikan bom tepat ditengah-tengah pasukan penyihir yang mengumpul dibawahnya. Tak ada kerusakan yang berarti mengingat para penyihir berada diudara dan ledakan itupun berada diudara – namun imbasnya Vali mendapati hampir semua pasukan penyihir menatap tajam kearahnya, bahkan parahnya, para penyihir kembali bermunculan dari lingkaran sihir yang membuat mereka semakin banyak saja

Kembali ke gedung pertemuan...

Azazel kini mencoba menghubungi Naruto meski dalam keadaan genting seperti ini, menyadari Serafall, Rias dan Sona yang belum juga menghentikan efek dari Forbidden Valor View saja sudah cukup mengkhawatirkan, lalu bagaimana dengan pasukan tiga fraksi yang perlahan menipis dan hampir habis berbanding terbalik dengan pasukan penyihir yang terus bermunculan? Yah.. mungkin saja Rias dan Sona terkena efek dari Sacred Gear berbahaya itu dan membuat Serafall sedikit kerepotan

Sesaat Azazel mendapati Michael yang kini memberikan perintah pada Irina untuk membantu Vali yang bertempur diluar sana, gadis suci itu tak terkena efek dari Forbidden Valor View karena ia dilindungi oleh kekuatan Excalibur yang ia punya

*Tuuut..*

"Naruto?"

*Sriiiing~!*

Belum sempat untuk mendengar suara Naruto, tiba-tiba muncul lingkaran sihir yang tidak dikenal dari diantara mereka bertiga – Azazel, Sirzech dan Michael. Sesosok wanita berkulit agak kecoklatan dengan rambut yang senada, kacamata yang bertengger diatas batang hidungnya serta jemari tangan yang mengait erat sebuah tongkat sihir

"Katerea Leviathan?!"

"Para petingi tiga fraksi, sudah saatnya kami membangun dunia yang baru!" sesaat setelah perkataannya yang terdengar angkuh, Katerea mengangkat tongkatnya keatas dan muncul cahaya yang terasa berkilauan

*Sriiing~*

*Duaaaaaaarr!*

.

.

.

.

.

[Naruto! Kau disana?!]

[Oii Oii Azazel? Ada apa? Mengapa kau sepanik itu?]

[keadaan yang terjadi sudah diluar dugaanku, bagaimana keadaan diluar sana?]

[...]

[Mungkin tidak seburuk didalam sana? Bahkan aku baru saja menghabisi sekumpulan manusia yang bisa menggunakan sihir disini]

[Begitu kah? Kurasa kau benar soal pertahanan yang kau katakan waktu itu]

[...]

[Jadi, bagaimana selanjutnya? Tak ada siapapun disini setelah aku menghabisi pasukan manusia penyihir itu, apa aku perlu masuk ke dalam? Sepertinya disana terlihat kesusahan? Aku bisa melihat kilauan cahaya dari luar kekkai]

[Tidak perlu! Musuh didalam sini memperalat salah satu anak Rias yang memiliki Sacred Gear untuk menghentikan waktu, membuat pasukanku perlahan berguguran secara pasti, dan parahnya pasukan musuh terus saja bertambah]

[Tunggu dulu Azazel, apa maksudmu?]

[Sebaiknya kau periksa calon istri Vali dan gadis kesayanganmu itu! Mungkin mereka tidak tahu jika kekuatan gadis berambut hitam itu lebih berbahaya dibanding kekuatan anaknya Rias, namun bukan berarti mereka tidak mengetahuinya juga jika ada orang lain yang memiliki kekuatan yang sama]

[...]

[Naruto?!]

[Baiklah kalau begitu, jaga dirimu Azazel sebelum aku tiba membawa Kurumi dan Rize...]

*Tuuuut~*

.

.

.

.

.

*Drap! Drap! Drap!*

Derap langkah kaki yang terdengar memantul disepanjang jalan terasa begitu berat, terlihat siluet sesosok remaja yang tengah berlari dengan begitu kencang tanpa peduli dengan apa yang terjadi disekitarnya sepanjang ia berlari

Ekspresi wajahnya terlihat begitu khawatir, bibir yang bergetar hebat serta tangan yang terkepal erat serasa mewakili perasaan yang saat ini ia alami sebenarnya

Tokisaki Kurumi dan Kamishiro Rize...

Naruto tak bisa berpikir dengan jernih saat ini, telapak kakinya yang menghantam jalanan bahkan tak terasa lagi ketika bayangan buruk tentang dua perempuan yang pernah ia tolong itu muncul dikepalanya – bayangan berupa ia tak bisa menyelamatkan mereka berdua!

Mungkin ada sedikit rasa ego yang membuat pikirannya kembali mengingat tentang kejadian kesalahpahaman yang membuatnya lari dari ketiga teman seapartemennya itu, namun ia harus membuang jauh-jauh tentang itu! Rize dan Kurumi saat ini sedang dalam bahaya!

*Tap!*

Lompatan kakinya terasa ringan, genting-genting rumah seakan menjadi pijakan spesial yang menjadi tempat pijakannya untuk berlari saat ini, keringat yang bercucuran serta ekspresi yang terlihat begitu khawatir menjadi pertanda

Dan...

"Penyihir itu?! Sialan!"

Jauh didepan sana, ia bisa melihat beberapa penyihir yang terbang menuju apartemennya dengan kecepatan yang cukup cepat. Jantungnya seakan terpicu dua kali lipat, berdetak kencang seolah bisa menebak kejadian apa yang terjadi selanjutnya

*Tap!*

Naruto menekan chakranya pada salah satu kakinya yang kini menjadi acuan, pandangan matanya menajam ketika penyihir yang berada jauh didepan sana sudah sampai ditempat tujuan – yaitu apartemennya!

Jujur Naruto tak menginginkan hal ini – ketika sosok yang berharga baginya tengah berada dalam bahaya yang besar. Pertanyaan tentang kenapa ini terjadi? Seolah berputar tak henti-henti dikepalanya

Naruto tak pernah menginginkan ini!

Jujur! Ia membenci sosok yang mencoba melukai sosok yang berharga baginya!

*Zwwuuuush~!*

"Tunggu aku bangsat sialan!"

.

.

.

.

.

Kembali ke Kuoh Academy. Terlihat sosok Vali yang melayang diudara dengan sayap birunya yang bercahaya, tubuh berlapis armour berwarna putih sejenak terlihat sedikit agak mencolok dibandingkan dengan yang lainnya

Senyum tipis tercetak indah dibalik armour yang saat ini ia kenakan, dikala pasukan penyihir kini berada didepannya dengan pandangan yang sedikit lebih tajam daripada yang sebelumnya – itu pandangan benci tahu!

"Kalian mau mengeroyokku huh?" pertanyaan retoris keluar dari bibir Vali, mencoba memprovokasi pasukan penyihir didepannya yang perlahan mulai merasa terpicu "- menjijikkan!"

"Hajar dia!"

*Sriiingg!*

Puluhan laser yang muncul berkat kekuatan para penyihir itu melesat begitu cepat kearah Vali. Namun meski begitu Vali dengan begitu mudah menahan serangan mereka hanya dengan sebuah lingkaran sihir yang muncul ketika tangnnya terjulur kedepan sebagai sebuah pertahanan yang solid

*Sriiing!*

Merasa pertahannnya tak dapat menahan serangan sekumpulan penyihir didepannya, membuat Vali mendecih kesal lalu mundur kebelakang mencoba menghindar dari serangan pasukan penyihir itu

*Swuuush!*

Serangan jarak jauh tiba-tiba berhenti menyerang Vali sedikit merasa keheranan. Namun belum sempat untuk menemukan jawaban dari rasa herannya, dirinya kembali mundur kebelakang dengan pose waspada ketika sekumpulan penyihir itu mendekatinya mencoba menyerangnya dari dekat

"Mencoba mendekati ku heh?" Vali tersenyum miring dibalik armor yang ia kenakan. Baginya, musuh mendekat adalah kesempatan emas yang bisa ia gunakan untuk menyerang "- kalau begitu sekarang giliranku!"

Mengumpulkan tenaganya pada kedua kaki serta kedua tangannya, Vali lalu melesat dengan sangat cepat ke arah sekumpulan penyihir itu lalu mencoba memberikan sedikit serangan berupa tendangan secara acak

*Duaaag!*

Penyihir yang lain hanya bisa terdiam dengan ekspresi yang cukup terkejut ketika salah satu teman mereka terpental akibat tendangan Vali hingga menghantam tanah dengan begitu kuat, seketika mereka langsung menyerang Vali yang saat ini berada ditengah-tengah mereka dengan tangan kosong – mengingat serangan berupa laser dengan jarak sedekat ini bisa membunuh teman sendiri

*Syuut!*

*Wuuss!*

Serangan demi serangan terus mereka lakukan demi bisa merusak armor yang dikenakan Vali – atau setidaknya bisa menyentuhnya saja. namun sayang kecepatan Vali dalam menghindari serangan keroyokan itu bisa dibilang cukup cepat dan begitu lihai, bahkan sempat ia menyentuh beberapa penyihir diantara mereka. tak lama kemudian Vali kembali terbang keatas mencoba menghindari serangan keroyokan itu

"Cih! Sialan!"

Kesal ketika sang target kabur dengan begitu mudahnya, para pasukan penyihir itu kembali mencoba menyerang Vali dengan sebuah laser misterius namun tepat sebelum itu – Vali merentangkan satu tangannya kedepan mencoba melakukan sesuatu

"Divide! Divide! Divide! Divide! Divide! Divide!"

Seketika beberapa penyihir langsung terbungkuk lemas hingga hampir terjatuh karena tak bisa menyeimbangkan tubuhnya diudara ketika sesuatu yang entah apa itu membuat kekuatan mereka terbagi secara terus menerus – tentunya membuat mereka terkejut karena itu terjadi secara tiba-tiba

Pandangan mereka tak lepas dari sosok Vali yang tersenyum miring karena suatu hal yang mereka tidak tahu, pancaran rasa benci ketika mata mereka menajam begitu terasa bagi Vali yang notabene berhasil membuat mereka lemah karena Sacred Gearnya – Divine Dividing

Melihat pasukan musuh masih sibuk mencoba mengumpulkan tenaga – kesempatan emas itu tak bisa Vali abaikan sedikitpun! Dari kedua tangannya perlahan muncul bola biru yang perlahan membesar – ada aura yang terasa begitu kuat dari dalam sana

"Sekarang –" Vali tersenyum miring, kedua tangannya telah siap untuk melempar dua bola misterius itu "- giliranku untuk menyerang!"

*Swuuuuush!*

*Boooom~!*

.

.

.

Mengabaikan Vali dengan ledakan yang cukup besar itu. Berfokus para tiga petinggi fraksi yang sebelumnya terkena serangan mendadak dari Katerea Leviathan. Tak disangka oleh Azazel, Michael maupun Sirzech jika ruangan yang mereka tempati dihancurkan oleh Katerea dengan begitu mudah, beruntung bagi mereka bisa membuat sebuah perlindungan berupa kekkai kecil yang dibuat Michael mengingat mereka tak bisa menghindar dengan cara lain

Disamping itu, Katerea kini berdiri dengan angkuh jauh didepan mereka bertiga, wajahnya terlihat begitu sombong ketika mendapati tiga petinggi fraksi itu perlahan berpijak diatas tanah dengan selamat

"Lama tak bertemu ya? Sirzech Lucifer~"

Nada suara yang terdengar begitu menusuk, sebuah salam disampaikan dengan begitu lantang oleh Katerea pada Sirzech yang masih memasang ekspresi datar seperti biasanya. Tak ada atensi atau tanggapan yang keluar dari mulut sang Maou berambut merah crimson itu

Begitu pula dengan Michael yang berdiri disebelahnya, senyum yang biasa ia lakukan kini tak nampak pada wajahnya malah sedikit terlihat waspada daripada Sirzech, berbeda dengan Azazel yang memasang senyum miring

"..."

"Tak ada tanggapan kah?" sedikit kesal ketika salamnya tak diberi tanggapan sedikitpun, Katerea lalu mengacungkan tongkat sihirnya kearah Sirzech dengan aura yang begitu angkuh "- Dasar raja iblis pencuri tahta!"

Sirzech memejamkan matanya mencoba mengacuhkan apa yang baru saja dikatakan Katerea – entah ia tak bisa membayangkan apa yang dirasakan Serafall jika mendengar perkataan Katerea yang begitu menusuk

Mencuri tahta kah? Sirzech memegang gelar raja iblis lucifer bukan hasil dari curian siapapun, namun karena golongan iblis lama lah yang membuat ulah hingga dengan bodohnya melepas gelar mereka karena kelakuan mereka sendiri

Seperti Katerea yang seharusnya menyandang gelar Leviathan, lagipula Sirzech sendiri tidak tahu siapa sebenarnya keturunan raja iblis Lucifer sendiri? Kalaupun ada bukankah ia termasuk iblis yang begitu hebat?

"Katerea-"

"Yo! Iblis yang sok merebut tahta dengan mencoba mengacaukan pertemuan tingkat tinggi ini!"

*Twitch!*

Oke! Katerea bisa dibilang kesal sekarang. Bukan tanpa alasan, terkadang mulut Azazel selalu berbicara secara jujur namun menusuk telinga orang lain. Ketika memotong ucapan Sirzech dan menyebut Katerea sebagai iblis yang sok saja sudah membuat telinga Katerea gatal

Dan kini? Azazel berjalan satu langkah kedepan seolah menantang Katerea untuk bertarung. Ada senyum tipis yang terasa begitu misterius dibalik wajah Azazel. Namun meskipun begitu, Katerea tidak peduli sama sekali entah apapun itu

"Azazel! Aku akan membunuhmu!"

"Sirzech, Michael –" sesaat Azazel mencoba bertanya sebentar pada kedua petinggi fraksi itu, senyuman tulus serta anggukan kecil seolah meyakinkan Azazel bahwa ia bebas mau melakukan apapun pada Katerea "- baiklah kalau begitu..."

Terdiam ditempat, Azazel mencoba mengeluarkan sebuah belati kecil dari sakunya lalu mengacungkannya kearah Katerea. Ada sedikit aura yang tak lagi terasa asing bagi Michael dan Sirzech dari belati itu namun mereka hanya terdiam

"Katerea Leviathan, Akulah lawanmu!"

"Omoshiroi! Kalau begitu biarkan aku menghabisimu Gubernur sialan!"

.

.

.

.

.

Ditempat yang berbeda dengan waktu yang sama, terlihat seorang pemuda pirang tengah melayang diudara dengan kecepatan yang bahkan sulit untuk diikuti oleh mata telanjang, tubuhnya seakan dipenuhi dengan aura yang begitu kelam

Iris matanya yang awalnya biru langit kini berubah menjadi warna lain yang menandakan bahwa ia memasuki Sage Mode. Lompatan tiap kali kakinya memijak atap-atap rumah seakan semakin tinggi dan semakin jauh kedepan

"Cih! Entah kenapa penyihir itu semakin banyak saja!"

Ada perasaan yang sedikit merasa khawatir ketika musuh yang jauh berada didepannya seakan semakin banyak. Ada beberapa sosok yang terus bermunculan dari lingkaran sihir lalu mengikuti kawanannya yang lain dan terus menuju kedepan

Naruto mendapatinya! – sebuah apartemen yang sudah dipastikan menjadi target para penyihir yang entah darimana asalnya itu. Dan ketika para penyihir itu telah sampai di tempat tujuan dengan masing-masing sepasang tangan yang terjulur kedepan –

- Naruto benar-benar menekan seluruh chakranya pada kakinya lalu melesat cepat bagaikan sebuah hempasan angin yang begitu kuat

*Swwuuuuuuuuuuusshh~!*

.

.

.

.

*Duaaaagg!*

*Craaas!*

Satu tendangan kuat berhasil mengenai salah satu dari sekumpulan penyihir yang hendak menghancurkan apartemen dibawah mereka ketika Naruto dengan sangat cepatnya mengarahkan kakinya kedepan. Membuat penyihir yang tak beruntung itu terpental kuat dengan kepala yang hampir putus dari lehernya

Mendadak sekumpulan penyihir itu terkejut ketika ada sesosok yang mereka tak kenal sama sekali diantara mereka, segera mereka mencoba menyerang Naruto dengan tangan kosong namun sebelum itu –

"Kage Bunshin no Jutsu!"

- puluhan bunshin muncul secara mendadak disekitar Naruto yang masih melayang diudara membuat kumpulan asap putih mengepul dimana-mana dan tentunya menghalangi pandangan sekumpulan penyihir itu. Beberapa bunshin mencoba melempar Naruto untuk jatuh ke tanah sedangkan beberapa yang lainnya sibuk bertarung dengan penyihir yang lain

*Bruuuk!*

Mendarat dengan telentang diatas tanah, membuat Naruto sedikit mengerang kesakitan akibat benturan yang bisa dibilang cukup keras. Namun masalahnya bukan itu! Sumber masalah adalah pasukan penyihir yang ada diudara tepat didepan matanya

Masih dalam Sage Mode dikala posisi tubuhnya yang terbaring diatas tanah, Naruto mencoba memusatkan chakra bercampur elemen fuuton ditelapak tangannya. Sedikit terasa dingin namun begitu kuat ketika sebuah bola chakra perlahan terbentuk meskipun kecil

Ini masih belum seberapa...

Entah Naruto tak tahu sama sekali apa yang dilakukan Kurumi dan Rize didalam apartemen hingga membuat mereka tak keluar sama sekali. Ada sedikit rasa penasaran yang membuatnya ingin cepat-cepat untuk masuk kedalam sana tanpa peduli dengan pasukan penyihir yang sibuk dengan para bunshinnya itu

Namun sayang ia tidak bisa!

*Ziiing~!*

Bola chakra ditelapak tangan Naruto perlahan berubah menjadi sebuah shuriken berwarna putih dengan putaran yang cukup cepat lagi aura yang begitu kental nan kuat, sedikit susah baginya untuk menahan Rasenshuriken dikala posisi tubuhnya yang seperti ini – mata terpejam sebelah menjadi sebuah pertanda

Matanya masih fokus kearah para penyihir yang sibuk dengan bunshin-bunshinnya, dengan sekuat tenaga Naruto mencoba melempar Rasenshuriken kearah puluhan para penyihir yang melayang diudara itu

*Zuuuuiiiiing~!*

.

.

.

'Aku sebenarnya tak yakin...'

.

.

.

'Kenapa masalah yang tak ada kaitannya denganku selalu berakhir dengan kejadian seperti ini?'

.

.

.

*Blaaaaaaaarr!*

Ledakan besar pun terjadi dengan begitu kuatnya diudara ketika para penyihir tak sedikitpun tahu jika ada sebuah serangan mematikan dari bawah hingga akhirnya mereka terkena imbasnya. Ledakan yang cukup kuat yang mungkin saja bisa membangunkan orang lain yang tengah tertidur dengan nyenyak

Tak peduli sedikitpun dengan nasib apa yang diterima para musuhnya, lantas Naruto langsung terbarung dari acara rebahannya lalu melesat cepat kedalam apartemen. Meski langkah kakinya terasa cukup berat namun ia tidak peduli sama sekali dengan itu

*Braak!*

Ia mendobrak pintu apartemen dengan begitu kuat, hanya kegelapan yang saat ini bisa ia lihat dengan matanya yang terlihat seperti kodok pertanda bahwa ia masih dalam Sage Mode. Ruangan yang terlihat cukup rapi, meski disudut sana ada sebuah gelas dengan air yang terasa dingin

"Kurumi! Rize! Dimana kalian?!"

Naruto mencoba berteriak keras, pandangannya beredar kesegala arah tanpa peduli apa yang saat ini terjadi disekitarnya. Dengan cekatan ia perlahan menekan tombol untuk menyalakan lampu namun yang ia dapatkan hanyalah kekosongan saja

"Kurumi! Rize!"

Naruto perlahan mulai merasa panik! Ini benar-benar sudah berada diluar kepalanya!

Ia benar-benar tidak konsentrasi sekarang! Gambaran buruk tentang Rize dan Kurumi terus berputar ulang dikepalanya tanpa henti, keringat dingin mengucur dari pelipisnya

Naruto mencoba mencari mereka didapur – namun ia tidak mendapatkan apapun, mendobrak sebuah kamar yang dulunya ia tempati bersama Vali dan tidak mendapati sesosok gadis satupun

Dan ketika ia mendobrak sebuah kamar lain...

*Braaaak!*

Naruto mendapati mereka berdua...

Rize dan Kurumi...

Sudah berapa lama mereka tidak bertemu?

Matanya kini tak bisa menipu apa yang ia lihat saat ini – sesosok dua gadis yang bisa ia kenali sebagai Rize tengah memeluk erat Kurumi dalam dekapannya, sepasang mata yang dimiliki Rize dan Kurumi terbuka ketika dobrakan pintu kamar mereka terdengar dengan begitu keras

Naruto ada disana...

"Rize! Kurumi-"

*Blaaaaaaar~!*

Rize kembali memeluk Kurumi yang tidak tahu apapun dengan cukup erat, begitu pula Naruto yang hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya ketika ledakan terjadi tepat diatap apartemen yang mereka tempati saat ini

'Sial! Apa masih ada penyihir lain yang datang?!' batin Naruto mencoba berpikir dengan keras bagaimana bisa keluar dari masalah ini

*Blaaaaaaaarr~!*

Ledakan besar yang kedua terjadi diatap apartemen yang mereka tempati hingga retak dan hancur, tanpa pikir panjang Naruto langsung memukul kosong keatas memberikan tekanan angin yang cukup kuat hingga membuat puing-puing atap yang hancur dan hampir menghantam tubuh Rize juga Kurumi itu terpental

'Cih! Mereka semakin banyak saja!' batin Naruto mendecih kesal ketika para penyihir yang melayang diudara kembali muncul entah darimana

"Naruto-kun!"

"Kage Bunshin no Jutsu!"

*Pooofft!*

"Cepat bawa pergi Rize dan Kurumi dari sini, biar aku yang menghajar mereka semua disini!" perintah Naruto pada kedua bunshinnya, selanjutnya kedua bunshin itu menggendong tubuh Rize juga Kurumi lalu pergi dari apartemen ini – tanpa peduli teriakan Rize dan tatapan pilu dari Kurumi yang tertuju pada Naruto yang asli

Lalu...

Sekarang...?

"Katon :: Gokakyou no Jutsu!"

*Swuuuuuuush~!*

Tepat setelah merangkai handseal yang rumit, Naruto menyerang pasukan penyihir yang melayang diudara itu dengan sebuah bola api yang cukup besar, melesat dengan cepat kearah mereka dengan api yang terlihat berkobar

.

.

.

'Setidaknya itu bisa sedikit membuat mereka repot...'

.

.

'Ah... rasanya sudah lama ya?'

.

.

Si rubah bodoh itu mungkin lagi tertidur sekarang, namun aku tahu jika ia pasti akan selalu mendukungku bagaimanapun keadaannya...'

.

.

'Kurama, untuk kali ini aku butuh kekuatanmu!'

.

.

.

*Brruuuuuuussstt!*

Seketika seluruh tubuh Naruto terlapisi oleh chakra berwarna oranye terang, chakra yang cukup terasa begitu kuat hingga terlihat seperti api yang berkobar pada tubuh Naruto. Matanya perlahan terbuka – menampilkan iris mata campuran antara Sage Mode dan Bijuu Mode

"Selanjutnya –"

"- Akan kuhabisi kalian!"

.

.

.

.

.

Mengabaikan apa yang terjadi selanjutnya pada Naruto...

Kembali ke Kuoh Academy, tempat terjadinya tragedi besar antara tiga fraksi. Terlihat dengan begitu jelas sosok Michael juga Sirzech terus bertahan dengan kekkai kecil yang dibuat Michael dari serangan para penyihir berupa laser aneh

*Srriiiiing!*

Puluhan laser itu terus menghujani Michael dan Sirzech tanpa henti, ada sedikit rasa bosan ketika mereka hanya bisa terdiam disini sedangkan Azazel tengah bersenang-senang dengan Katerea diudara jauh diatas sana

"Michael-dono, kurasa sebaiknya lepaskan saja kekkai ini, biar aku yang mengurusi mereka" ucap Sirzech yang bosan dengan terkurung didalam kekkai kecil yang melindungi mereka dari serangan para penyihir itu

Michael tersenyum simpul lalu melepaskan kekkai yang melindungi mereka, hal itupun tidak dibuang sia-sia oleh para penyihir. Dengan cepat mereka kembali menghujani Michael dan Sirzech dengan serangan laser – namun tepat sebelum itu...

*Swwuuuzzz!*

Tepat setelah Sirzech membentangkan kedua tangannya lebar-lebar, sebuah aura merah kehitam-hitaman yang dikenal dengan nama Power of Destruction itu langsung menyambar hujan laser itu hingga hancur tak tersisa

Sirzech tersenyum simpul, oke! ini tidak cukup buruk baginya toh mengeluarkan kekuatan kecil semacam itu tidak membuatnya sedikit kesusahan. Sejenak ia mendapati para pasukan penyihir itu tengah menatapnya dengan wajah yang bercucuran keringat dingin

Sirzech mencoba kembali menyerang – kedua tangannya kini kembali membentang lebar-lebar menghasilkan Power of Destruction yang melesat dengan begitu cepat kearah sekumpulan penyihir itu hingga membuat mereka terbabat habis satu-persatu tanpa tersisa sedikitpun

Michael disebelahnya hanya bisa tersenyum seperti biasa, "Sasuga Sirzech-dono, kau benar-benar hebat" pujinya sambil menoleh sedikit kearah Sirzech

Dan tiba-tiba...

*Twiink~!*

Sirzech dan Michael mengulas senyum kecil ketika aliran waktu kembali berjalan berkat Rias dan peeragenya, Sona dan Tsubaki serta Serafall yang berhasil membebaskan sang pemilik sacred gear Forbidden Valor View. Seketika pasukan tiga fraksi kembali bergerak tanpa kekangan meski pada akhirnya populasi mereka hanya sedikit dibanding yang sebelumnya

Dan sekarang...

"Apa Azazel masih bertarung dengan Katerea?" secara serentak Michael dan Sirzech mengadahkan kepalanya keatas, mendapati sosok Azazel yang melesat cepat kearah Katerea dengan pola serangan yang sama

Fokus pada Azazel – pria paruh baya yang pada kenyataannya adalah sesosok gubernur datenshi itu kini melesat dengan begitu cepat kearah Katerea, dua buah pedang yang terbuat dari cahaya kini tergenggam erat dikedua tangannya

*Syuut!*

Azazel mencoba mengayunkan light swordnya pada Katerea, namun sayang serangannya berakhir dengan sia-sia ketika Katerea berhasil menghindar dengan mundur kebelakang lalu balik menyerang Azazel dengan mengacungkan tongkat sihirnya kearah Azazel

*Bruuuss!*

Muncul lingkaran sihir kecil dari didepan Katerea, hingga muncul puluhan laser aneh yang melesat dengan begitu cepat kearah Azazel

Azazel sendiri? Pria paruh baya itu tersenyum simpul seperti biasa seolah hal seperti ini bukanlah hal yang terlalu berat bagi dirinya. Lantas ia membuat sebuah barrier berbentuk lingkaran sihir yang lumayan besar didepannya

*Blaaar!*

"Lumayan juga untuk ukuran gubernur Datenshi sepertimu" puji Katerea menatap ledakan yang terjadi antara serangannya dengan pertahanan Azazel. Sekilas ia melihat Azazel yang masih terlihat segar bugar jauh didepan sana

Disana – Azazel hanya tersenyum simpul, tak ada tanggapan ataupun sedikit atensi yang ia berikan setelah Katerea mencoba memujinya, tangannya kini mencoba masuk kedalam baju yang ia kenakan lalu mengeluarkan sebuah belati emas yang ujungnya membentuk kerucut

"Saa... kurasa aku butuh bantuan dari kekuatan ini, kurasa?"

"Apa itu?"

"Downfall Dragon Spear, bukankah bagus jika aku mempunyai sacred gear buatanku sendiri?" ucap Azazel memperkenalkan belati itu pada Katerea dengan senyum tipis seperti biasa

"Sacred Gear? Katamu?!"

"..."

"Balance Breaker!"

Seketika belati yang dipegang Azazel mengeluarkan pendar cahaya yang begitu menyilaukan mata, membuat semua makhluk yang ada disana – entah itu Katerea, Michael, Sirzech, Vali dan yang lainnya – menatap kearahnya

Setelah beberapa detik kemudian...

Kini tak ada lagi sosok Azazel disana, tak ada lagi sosok pria paruh baya yang terlihat begitu pemalas. Yang ada hanyalah seseseorang yang tengah mengenakan armor berwarna emas gelap dengan enam pasang sayang dibelakangnya, juga sebuah ligh spear yang kini berada digenggamannya

"Azazel!"

"Lihat! Bukankah bagus jika aku mempunyai zirah perang sendiri? –"

"- kalau begitu aku tak akan segan untuk menghabisimu, Katerea Leviathan!"

.

.

.

.

.

*Duaaag!*

*Buugh! Duaaakk!*

Fokus pada Naruto ditempat yang berbeda – kini sosoknya tengah asik melakukan baku hantam pada satu sosok penyihir yang berada didepannya. Mata tajamnya tak lepas dari sosok yang telah menghancurkan atap apartemennya itu

*Duuugg!*

*Cooouugh!*

Pukulan yang begitu amat kuat itu membuat sang penyihir memuntahkan liurnya dengan ekspresi yang terlihat begitu amat sakit, lalu kembali menerima pukulan kuat di pipinya hingga membuatnya mundur kebelakang dengan wajah yang terlihat penuh memar merah

Naruto – sang Jinchuuriki dari Kyuubi itu kini telah menghabisi semuanya, dapat dilihat disekitarnya kini setumpukan mayat para penyihir yang terbakar api bahkan ada beberapa yang telah lenyap dimakan api yang Naruto miliki hingga hanya tersisa satu penyihir yang kini menjadi mainannya itu...

*Tap!*

Menarik lengan sang penyihir ketika tubuhnya hampir tumbang, Naruto lalu kembali memberi pukulan telak pada wajah sang penyihir hingga mengeluarkan darah dari lubang hidungnya. Tak peduli meski penyihir ini perempuan – baginya, Rize dan Kurumi adalah prioritas utama. Jika ada yang mengganggunya maka kematianlah yang pantas untuk diterima

*Duaag!*

*Bruuk!*

Lalu kemudian?

Sang penyihir yang sudah babak belur itu terkapar ditanah ketika Naruto menendang dadanya dengan begitu kuat, tangannya membentang luas, ada sedikit noda darah yang keluar dari sudut bibirnya

*Duug!*

Naruto kini menginjak tubuh sang penyihir yang sudah tak berdaya itu, matanya masih begitu amat tajam

"Katakan padaku, siapa yang memerintahkan kalian?"

"..."

"Aku tak akan pernah mengatakannya padamu- Aarrgh!"

Penyihir itu kembali mengerang kesakitan ketika Naruto menginjak perutnya dengan begitu amat kuat tanpa ada sedikitpun rasa belas kasihan, keadaan tubuhnya kini terlihat lebih menghkhawatirkan

"Cepat katakan! Siapa yang memerintahkan kalian?"

"..."

"Diam saja huh?"

*Greep!*

Tanpa ada rasa belas kasihan sedikitpun, Naruto mencengkram leher sang penyihir dengan begitu kuat lalu mengankatnya ke udara hingga membuat penyihir itu sulit untuk sekedar mengambil nafas. Tatapannya kembali menajam – seolah ingin terus mengorek informasi dari musuh yang saat ini tidak berdaya

"Cepat katakan nyet! Siapa yang menyuruh kalian?"

"..."

"A-A...ku... Ti-tidak... A-A-akan..."

*Kreetaak!*

Aduh!

Sayang bagi Naruto – ia telah mematahkan leher penyihir itu sampai mati karena cengkraman lehernya yang begitu kuat

Naruto mendecih kesal, masih tak ia sangka jika para penyihir ini sulit untuk bisa dimintai informasi, padahal jika ia tahu apa yang terjadi sebenarnya? Mungkin ini bisa selesai dengan mudah bukan?

*Bruuk!*

Naruto melepas cengkaraman tanganya, lalu membiarkan mayat penyihir tak berdaya itu jatuh ke tanah...

Sejenak ia menatap langit yang membentang luas jauh diatas sana – tak ada bulan, namun dipenuhi dengan bulan. Angin berdesir dengan cukup kencang seiring dengan chakra oranye yang membalut tubuhnya perlahan pudar menghilang tanpa sisa

Masalah belum berakhir sampai disini saja kan?

Awalnya ia ingin pergi ke tempat Rize dan Kurumi berada sekarang, namun setelahnya? Ia masih bingung ingin pergi kemana. Azazel – satu-satunya sosok yang memberikan informasi penting padanya kini tak lagi menghubunginya sekedar untuk memberitahu apa yang sebenarnya terjadi disana

Ia tidak berpikir negatif tentang Azazel sih. Lagipula mana mungkin Azazel bisa merenggang nyawa disana sedangkan ada petinggi dari fraksi tenshi dan fraksi iblis yang siap siaga disana? Kan bego jika Sirzech dan Michael enggan untuk menolong pihak yang ingin berdamai dengan mereka

Lagipula, disana ada Vali kan...?

Vali kah...?

*Tap!*

"..."

"Ara, kita bertemu lagi Uzuki"

Naruto mendengar suara itu, terdengar begitu familiar baginya seraya memutar leher untuk bisa menoleh kebelakang tepat keasal suara

"O-Ophis?"

"Lama tak jumpa Uzuki! Kupikir kau mau saja dimanfaatkan oleh Datenshi gak guna itu lalu datang ke pertemuan tiga fraksi" ucap Ophis yang terdengar sedikit sarkastik

Ophis – sang naga Loli berjulukan Mugen no Ryuujin yang ditakuti semua makhluk kini secara tiba-tiba datang dan berada dibelakang Naruto dan memaksa pemuda pirang itu berjalan kearahnya. Ada senyum tipis yang terlihat lebih menawan dari biasanya

Padahal sih, sebelumnya ia jarang menunjukkan sifat itu pada Naruto. Bukan berarti dia rindu pada Uzuki-nya itu kan?!

*Pluk!*

"Ahaha... entah kenapa dikala aku sedang bingung seperti ini, kau selalu datang tepat waktuseolah kau tahu jika aku sedang membutuhkanmu"

"Lepaskan tanganmu baka, aku datang secara tak sengaja tahu!"

"Itu lagi! Kau tidak sedang rindu padaku kan? Ophis~"

Ada semburat merah tipis diwajah Ophis dikala Naruto mencoba menggodanya sambil mengelus lembut surai hitamnya, disisi lain Ophis terlihat begitu manis ketika menundukkan kepalanya sambil menggeleng-gelengkan kepala seolah menentang apa yang baru saja dikatakan Naruto sembari menolak elusan yang Naruto berikan dipuncak kepalanya

"A-Aku tidak rindu padamu bego! Lagipula siapa yang rindu pada kuning jelek sepertimu?"

"Sebegitunya? Aku rindu padamu lho! Ophis"

Ophis tersenyum miring, entah ia seperti mengejek apa yang barusan Naruto katakan

"Oh!"

"Gitu doang?!"

"Ya mau gimana lagi huh?!"

"Ya... setidaknya kau bisa memelukku bukan? berlari kearahku sambil berkata Uzuki-chan~ aku datang~ begitu"

Oke! Naruto terlihat begitu menjijikkan ketika mencoba memeragakan nada dari apa yang baru saja ia ucapkan

"Dih bego! Ya tentu saja aku tidak mau!"

"Ophis~"

"Lepaskan tanganmu Uzuki!"

"Enggak mau! Sebelum kau mengatakan apa yang baru saja kuucapkan!"

"Aku gak mau bego! Jangan dipaksa!"

*Duaag!*

Yah... mereka ini cukup akrab bukan?

.

.

.

.

Untuk sekarang mungkin keadaannya lebih tenang dari yang sebelumnya. Angin malam serasa beralun lebih kencang dari biasanya ketika Naruto melompati tiap-tiap atap rumah yang ia lewati sembari menggendong tubuh Ophis dipunggungnya

Maa... Naruto sendiri tak tahu apa yang diingikan naga Loli itu. Sebelumnya perdebatan mereka berakhir dengan Naruto yang mendapatkan jitakan keras dari Ophis lalu kabur darinya

Namun apa daya? Naruto yang awalnya berniat kabur malah diikuti oleh Ophis dan memaksa Naruto untuk menggendongnya, mau bagaimana lagi?

Saat ini mereka menuju sebuah tempat yang dimana Kurumi dan Rize berada – tempat yang biasanya ia gunakan bersama Azazel untuk bertemu atau sekedar mengobrolkan sesuatu yang tak penting sama sekali

"Uzuki..." nada suara Ophis terdengar menggantung, kedua tangannya yang mengalung dileher Naruto perlahan mengerat "- kita sebenarnya ingin pergi kemana?"

Naruto menghela nafas, sudah ia duga kalau Ophis Cuma mau mengekor saja, atau entah mungkin saja Ophis-sama nya ini tengah kesepian hingga rela meluangkan waktunya untuk menemuinya

"Haaah... tentu saja aku pergi ke tempat Rize dan Kurumi, kau mau ikut?"

"Rize? Kurumi? Dua gadis yang kau lihat ketika kita pergi dari dimensi lain dan datang ke dunia ini saat malam itu bukan?"

Itu lagi...

Ingatan tentang malam yang memalukan itu seakan kembali berputar dikepala Naruto tanpa henti. Sebuah kesalahpahaman yang entah ia tak akan tahu bagaimana ujungnya nanti – ketika sang cinta memeluk Vali ditengah malam tepat dimatanya sendiri, bahkan ada sosok Rize disana yang kenyataannya pernah ditusuk oleh Vali dalam artian berbeda, mengerti bukan?

Oke! Naruto akui dia memang salah waktu itu. Itu adalah malam pertamanya datang ke dunia lagi ketika masalah besar selesai dengan membunuh Kokabiel sebagai akar dari masalahnya. Namun pergi dari teman separtemennya sendiri itu adalah tindakan yang buruk bukan?

Naruto tidak bisa berpikir jernih lagi saat itu. Ketika Kurumi yang tengah dalam pelukan Vali seakan memberinya senyum tersendiri. Dikala ia rindu dengan sifat Kurumi, kelakuan mengesalkan Vali dan sifat dewasa Rize, ia malah mendapatkan sebuah event yang begitu memalukan untuk kembali diingat

Kurumi, Rize, Vali...

Yang ada dipikirannya saat itu : mereka tidak sedang dalam cinta segitiga bukan? atau Vali yang berniat untuk memiliki mini-harem karena ia lebih tampan?

"..."

"Ara? Kau diam saja Uzuki? Apa kau masih terbayang rasa sakit dihatimu yang serasa ditusuk jarum itu?"

"Oi!"

Ophis tertawa pelan. Setidaknya itu cukup menghibur baginya...

Ophis adalah Ouroboros Dragon, Mugen no Ryuujin dan segala julukan yang membuatnya seperti kehadiran yang paling ditakuti. Jadi? Untuk mengetahui apa yang orang lain rasakan adalah hal yang mudah baginya

Naruto mungkin tetaplah bodoh dimatanya. Andai si pirang bego yang tengah menggendongnya ini tidak lari pada malam itu – mungkin saja masalah kecil itu bisa selesai, namun yah... Ophis terkadang tidak mengerti apa yang ada dipikiran manusia

Lagipula mau ia lari atau tidaknya – Uzuki no Bakanya tetaplah miliknya!

"Kau masih memikirkannya, Uzuki?"

"Urusai, lagipula kenapa kau mengikutiku sih? Aku tidak sedang dalam waktu yang luang tahu"

"..."

"Aku kesepian disini, Red-chan mungkin sedang berenang di dimensi lain, sedangkan aku disini hanya punya Uzuki saja..."

Ini sedikit memalukan bagi Ophis, satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah menyembunyikan wajahnya dipunggung Naruto dengan kedua tangannya yang mengalung dileher Naruto lebih erat

"Hee~? Lalu kenapa kau tidak kembali pulang dan bermain bersama Great Red?"

"..."

"Uzuki..."

"Hihi~ Gomen... kalau begitu peluklah aku selagi itu bisa membuatmu tak lagi merasa kesepian..." Ucap Naruto dan Ophis menurut, lengannya yang mengalung pada leher Naruto serasa erat dengan tubuh yang begitu hangat, wajah imut serta surai hitamnya tenggelam dalam punggung Naruto

Yah... mau bagaimanapun Naruto paham dengan apa yang Ophis rasakan, karena ketika ia kecil dulu tak lebih dari apa yang saat ini Ophis rasakan – rasa kesepian yang menderita

Lagipula Ophis masih bisa dibilang mendingan ketimbang dirinya dimasa lalu. Ophis masih memilki Great Red dan dirinya yang sudah sepantasnya untuk ia percayai, atau setidaknya Azazel yang berpandangan berbeda tentang dirinya

Dan jika memang ada yang mengganggu Ophis disuatu hari nanti, setidaknya Naruto bisa mengatasinya bukan?

Naruto dimasa lalu adalah pribadi yang bisa dibilang memilukan. Yatim piatu, dibenci hanya karena sesosok iblis berekor sembilan didalam tubuhnya. Jangankan untuk memiliki satu teman, satu orang yang setidaknya bisa ia ajak bicara saja tidak punya

Jujur, Naruto benci untuk kembali mengingatnya namun mau bagaimana lagi? Setidaknya itu bisa sedikit menjadi pembelajaran hidupnya dan masa lalunya yang menyedihkan tidak terjadi pada orang lain – itu saja sudah cukup bagi Naruto

Karena itulah...

Ophis...

"Uzuki..."

"Um?"

"Kau tidak pergi kemana-mana kan?"

"Kau khawatir padaku?"

"Bukan begitu..."

"..."

"Kalau begitu ikutlah denganku, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian kok!"

Dan setelahnya...?

Naruto mempercepat lompatannya untuk sampai lebih cepat ke tempat yang dituju, senyumnya mengembang sempurna seiring dengan eratnya lengan Ophis yang mengalung di lehernya. Tak lupa untuk menyuruh Ophis untuk memeluknya lebih erat dari belakang karena ia tahu –

- masa lalu mereka kurang lebih sama...

.

.

.

.

.

.

.

[Naruto?]

[Azazel kah? Sekarang apa lagi? Aku sedang menuju ke tempat Rize dan Kurumi berada bersama Ophis]

[Ophis?]

[Ya! Ophis, iya kan? Ophis?]

[Umu!]

[...]

[Haah... sudahlah, mau bagaimana lagi...]

[Jadi, apa yang terjadi disana?]

[aku hanya ingin kau cepat datang kesini melalui celah kekkai yang sudah kuberitahu sebelumnya, keadaan disini semakin runyam -]

[- dan satu lagi, jangan bawa Ophis kemari!]

[Hee? Memangnya –]

[Kau membenciku ya? Azazel?]

[Ophis... bukankah kau sudah kubilang untuk tidak ikut campur dalam masalah ini? Jika kau datang kesini maka suasana akan menjadi tambah aneh!]

[...]

[Lalu? Bagaimana selanjutnya?]

[Intinya cepatlah datang kesini setelah urusanmu selesai, masih banyak masalah yang perlu kita selesaikan bersama!]

*Tuuuuut~!*

.

.

.

.

.

.

.

:: [ To Be Continued? ] ::

[A/N] :: Anyway, ini sudah rentang waktu seminggu setelah update kemarin [kan?] jadi kupikir aku tidak terlalu lama untuk melanjutkan kisah gaje dari Narutod ini ~.~/

Yo! Hana Natsuki disini bersama kalian~ ada yang kangen gak? #Innocent

Langsung ke pembahasan aja deh! Aku lagi gak mood untuk ngomong banyak-banyak #DiTampol

Oke! Naruto kembali menggunakan Bijuu Mode dan Sage Mode disini, terakhir kali kuingat ia menggunakannya adalah ketika arc Kokabiel kan? Begitu juga Vali yang menggunakan Balance Breakernya disini, btw apa ada yang merasa Vali seperti tokoh sampingan?

Jalannya Arc yang satu ini bisa dibilang sama dengan yang ada di Animu, namun tentunya aku membuat sedikit improvisasi agar lebih menarik atau setidaknya ada yang mau membaca

Soal kesalahpahaman antara empat chara yang tinggal satu apartemen [Dahulunya itu] kupikir akan selesai di chapter yang selanjutnya sekaligus akhir dari Arc pertemuan tiga fraksi. Apa itu terlalu terburu-buru bagi kalian selaku reader? Masalahnya aku sedang tidak dalam keadaan prima untuk menulis sih ~.~

Btw apa ada yang suka sifat Ophis disini? Entah kenapa setiap aku mencoba membuat karakter Ophis, selalu kepikiran yang manis-manis sih #Haha, awalnya kupikir lebih bagus jika MC ada Chara pendamping yang kadang dibutuhkan macam Oshino Shinobu bagi Araragi Koyomi dari Monogatari Series [Recomended Animu nih! Tapi siap-siap ngantuk kalo gak tahan dengan alur ceritanya]

- Review Replies

[Fayl Ackerman] :: Sip gan! Dan semoga terhibur untuk chapter kali ini

[The Rev no Hakuryuukou] :: Yah? Untuk updatean kemarin sih memang terlalu lama karena kesibukanku dan beberapa proyek fanfiksi yang lain. Gak lama kok! Ini Cuma rentang seminggu doang kek nya #Innocent

[Erostrator] :: untuk Arc ini peran Vali dkk emang enggak terlalu banyak sih, masih fokus ke Naruto ama Azazel dan kadang Ophis :v btw jangan ungkit-ungkit soal Pair ya!

[Namefans] :: penjelasannya udah kujelasin di note atas kok!

[Tsukasa] :: wait for next chapter atau mungkin itu yang pantas kukatakan? Di chapter ini masih belum selesai sih dan lebih banyak scene battle ketimbang ngelurusin masalah si Narutod yang entah kayak mana ujungnya nanti :v

[Ayub L Lawliet] :: Ciee~ yang nungguin #plak. Ini udah update kok! Happy Reading ya pret! :v

Mungkin cuma itu saja review yang bisa kubalas, mohon maaf untuk review lainnya yang tidak bisa kubalas karena alasan tertentu [namun bukan berarti itu negatif lho] Sankyuu atas review kalian~!

Dan sebagai ucapan terakhir, salam dan sampai jumpa di Chapter berikutnya~! Doaku menyertai kalian semua selaku Reader setiaku!

.

Bye Bee~

.

- Sign :: Hana Natsuki