Percikan air yang dingin serasa menusuk kulit jari ketika satu tangan mungil mencoba masuk kedalam air yang mengalir dengan begitu santainya – begitu jernih hingga dasar air pun terlihat dengan begitu jelas dan bersih
Malam ini terasa berbeda dari yang kemarin atau setidaknya hari-hari yang lalu, tepat ketika Naruto – pemuda pirang yang ada disana mengadahkan wajahnya keatas menatap langit berbintang yang begitu mempesona
"Uzuki..."
Naruto terbangun dari lamunannya, saat gadis mungil yang berada dipinggir sungai itu bersuara – mencoba memanggil namanya. Suaranya mengalun merdu dibawa angin malam yang terasa begitu menusuk
Mereka berdua saat ini berada dibawah jembatan. Berdua mungkin pemilihan kata yang salah sih, mengingat ada dua sosok lagi - dua gadis dibelakang mereka yang terbaring diatas hamparan rumput hijau dibidang miring
Mereka - Rize dan Kurumi – tak ada satupun yang mencoba mengeluarkan suara, hanya bisa terpaku dengan apa yang ada didepan mata mereka saat ini
Bukan begitu...
Naruto sebenarnya ingin sekali, ingin sekali berada disebelah mereka. Berbaring dihamparan rumput hijau yang terasa menggelitik dan berbicara tentang bintang yang saat ini mereka lihat bersama-sama
Tapi apa?
Naruto tidak bisa, karena ia punya alasan tersendiri...
"Ada apa Ophis?"
Naruto menoleh, ada sosok Ophis yang sibuk bermain air dipinggir sungai disana
Entah berapa banyak pertanyaan yang ada dikepala Ophis – Naruto tak tahu sama sekali. Ada perasaan yang terasa berbeda ketika ia memilih untuk membawa jelemaan naga itu untuk datang kesini
Naruto tidak mengerti jalan pikiran naga, toh dia juga masih seorang manusia kan?
"Apa kau akan pergi ke –"
"Naruto-kun!"
Rize menyela ucapan Ophis, ada sarat pandangan dengan emosi yang terasa berbeda ketika ia terbangun lalu menatap Naruto
Sebelumnya – ketika Naruto dan Ophis datang tiba disini bertemu dengan Rize dan Kurumi yang dijaga oleh bunshin milik Naruto – pemuda pirang dengan tiga pasang whisker dipipinya itu bercerita jika ada masalah besar yang harus ia selesaikan, dan itu menyangkut tiga fraksi yang saat ini tengah kesusahan di wilayah iblis tepatnya di Kuoh Gakuen
Naruto sebenarnya sadar, jika apa yang lakukan sebenarnya tidak lebih dari mencoba membebaskan Azazel dari tuduhan saja. selebihnya ia tidak mendapatkan keuntungan apapun disini, malah imbasnya sosok Rize dan Kurumi yang dalam bahaya karena pertemuan tiga petinggi itu
Tapi mau bagaimana lagi?
Toh Azazel adalah sosok yang membuat benda yang bisa membawa Naruto ke dunia yang rumit ini. Hanya karena Kokabiel yang saat ini telah mati, ia datang ke dunia ini tanpa ada sedikitpun persiapan sebelumnya dan tak akan pernah menyangka jika perjalanan hidupnya telah berbeda
Jika ingin berandai – mungkin saat ini Naruto tengah tidur di apartemennya di Konoha sana, atau mungkin diberi traktiran ramen oleh Iruka-sensei kan?
"Rize..."
"Kumohon jangan pergi kesana! Aku tak ingin kau pergi lagi!"
Itu egois namanya...
Sejenak Naruto mendapati pandangan Ophis yang menyipit saat Rize berhasil mengatakan apa yang ingin ia utarakan pada Naruto. Ada pandangan sedikit tak suka dari gadis mungil itu karena Ophis tahu jika Rize tidak mengerti bagaimana keadaan Naruto yang sekarang
Rize – gadis itu kini bangkit dari acara bebaringannya dan duduk dihamparan rumput hijau itu bersamaan dengan Kurumi yang mengikuti posenya yang sekarang. Iris matanya serasa bergetar dengan sebab yang sudah diketahui
Rize tahu jika Naruto saat ini dalam keadaan genting. Dikala pemuda pirang itu berhasil menyelamatkan dirinya dan juga Kurumi, ada tanggung jawab lain yang membuat Naruto harus kembali pergi meninggalkannya
Namun yah...
Rasa egois tetaplah menjadi hal yang dibilang negatif, tidak mungkin ia bisa mengikat Naruto agar tidak pergi lagi sama seperti kejadian yang pernah terjadi sebelumnya
"Rize..." ucapan Naruto terasa datar, namun pandangannya serasa sedih ketika menatap Kurumi yang terdiam tanpa suara
Berbeda dengan Ophis yang masih berada dipinggir sungai – ada sedikit rasa tak suka darinya ketika melihat sifat Rize yang seperti itu. Menyadari bahwa Naruto no Baka nya pernah dilukai oleh dua gadis yang saat ini bersamanya saja sudah membuatnya tak tahan!
Naruto bukanlah layang-layang – yang bisa dilepas lalu mengejarnya untuk bisa diambil lagi
"Kumohon Naruto-kun, tolong jangan pergi dari –"
"Naruto..."
Dan...
Entah sudah berapa lama...
Baru kali ini Naruto bisa kembali mendengar suara merdu yang Kurumi miliki...
::
::
::
::
[ New Line! ]
:: Disclaimer :: – [This is purely Fanfiction. Made only to entertain for those who read] ::
:: Rating :: – M for Some Reason ::
:: Genre :: – Adventure, Supernatural, Comedy[?], Romance ::
:: Warning :: – OOC[?], AU, Typo[!], Miss-Typo, EYD yang perlu dibenahi dan lainnya ::
::
::
[ Chapter #30 ]
- Uzumaki Naruto dan Masalahnya –
::
::
::
::
Awalnya Naruto berpikir – apa tak apa jika ia mengkhianati Azazel dengan tidak pergi ke tempat yang sedang terjadi tragedi besar disana?
Ini sebenarnya bukan kemauan yang membuatnya terpaksa untuk menjalani misi semacam ini – ia hanya ingin untuk tidak lebih menjadi lebih akur dengan tiga teman seapartemennya setelah kesalahpahaman yang terjadi malam itu
Itu terasa memalukan bagi Naruto dan terasa sedikit sakit juga sih...
Kurumi – gadis itu kini menatap Naruto dengan pandangan yang pasti. Ada rasa yang berbeda ketika dua pasang mata itu bertemu dalam satu jalur yang cukup dekat namun terasa jauh
Ada perasaan yang mendorong Naruto untuk segera memeluk erat gadis manis itu, mendekapnya mencoba memberikan kehangatan yang hanya dikhususkan untuknya, lalu meminta maaf padanya...
Tapi apa?
"Kurumi..." Naruto menunduk, pandangannya beralih kearah yang lain mencoba berpikir tentang hal yang tidak diketahui "- maafkan aku..."
Kurumi menggeleng pelan, itu bukanlah salah Naruto...
Ketika Naruto lari dimalam itu, entah kenapa Kurumi tidak berpikir untuk mengejarnya walau entah kemana arahnya? Ada rasa bersalah yang serasa ingin ia sampaikan pada pemuda pirang yang belakangan selalu masuk kedalam pikirannya itu namun sayang itu tidak mungkin
Naruto berjalan melangkah, agak terasa berat memang tapi itulah jalan yang ia tempuh tanpa peduli apa reaksi yang ditampilkan Ophis saat ini...
Naruto tidak peduli – mau bagaimanapun Rize juga Kurumi merupakan sosok yang amat berarti baginya dan bukanlah sebuah candaan ataupun luka tersendiri. Amanat Azazel untuk menjaga Rize sudah ia laksanakan, dan Kurumi?
Kurumi bukanlah milik Naruto sepenuhnya – malah bahkan bukan milik Naruto sama sekali dan bukan milik orang lain. Kurumi bukanlah barang yang bisa orang ambil seenaknya, setidaknya gadis bersurai hitam panjang dan dikuncir dua itu mempunyai pilihan tersendiri
"Kurumi..." Naruto tersenyum pilu, tangannya kini terbentang lebar seolah menunggu sosok yang siap untuk menerjangnya dari depan dan mencoba menjelaskan pada Kurumi bahwa kemarilah! Dan peluklah aku
Kurumi sesaat menoleh kearah Rize. Gadis bersurai ungu itu hanya mengangguk kecil dengan satu senyum semangat yang coba ia berikan sebagai penyemangat tersendiri bagi Kurumi
Disisi lain – Ophis yang melihat bingkisan romansa antara manusia itu hanya bisa menggeleng pelan lalu kembali bermain dengan air dipinggir sungai, tak peduli apa yang akan dilakukan Naruto, Rize dan Kurumi selanjutnya
"Kurumi..."
Naruto masih memberi isyarat yang sama...
Namun Kurumi bingung...
Iris mata miliknya yang berbeda warna perlahan bergetar, senyuman Naruto yang terasa sedikit berbeda membuatnya ingin bangkit lalu menghampiri Naruto namun yang saat ini ia bisa hanyalah terduduk disamping Rize yang menunggu apa yang akan dilakukan olehnya
"Kurumi-chan –" Kurumi menoleh kearah Rize, ada pandangan yang terlihat begitu sejuk dari Rize "- kau masih tak yakin?"
Kurumi menggeleng pelan, itu yang ia gunakan sebagai respon...
Kurumi masih terdiam disana, masih dalam posisi yang sama tanpa ada niatan sama sekali untuk menghampiri Naruto sekedar untuk mengeluarkan suara lagi
Hingga pada akhirnya...
Bentangan kedua tangan Naruto turun dengan senyum yang sama, sarat matanya kini tak berani menatap wajah Kurumi secara langsung. Menunduk, menunduk dan menuduk lalu berjalan mundur beberapa langkah
"Ma-Maaf jika aku mengganggumu..."
Ucap Naruto dalam keheningan, sementara Kurumi yang dipenuhi dengan pikiran yang membingungkan hanya bisa terdiam. Ketika perasaan yang membawanya untuk pergi dan melompat memeluk Naruto bertarung dengan perasaan yang menahan semuanya...
Rize yang berada disebelahnya hanya bisa memasang wajah yang tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, kedua tangannya mencoba membawa Kurumi kedalam dekapannya
"Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk sekedar melepas rindu bukan? namun jujur, aku rindu pada kalian berdua, terlebih padamu, Kurumi..."
Jujur...
Naruto mati-matian menahan malu ketika memberikan pernyataan itu pada Kurumi yang notabene berada dalam dekapan Rize. Senyum bodoh dan tangan yang menggaruk kepala belakang menjadi satu alasan kenapa ia tidak juga pergi dari sini
"Naruto! Aku –"
"Aku tahu kalau itu hanyalah kesalahpahamanku saja bukan? namun sayang aku tidak bisa meluruskan masalah itu disini karena saat ini aku sedang dalam keadaan menyulitkan"
Naruto memotong apa yang baru saja dikatakan Kurumi. Untuk kali ini mereka berdua baru melihat senyum bodoh Naruto yang terlihat agak dipaksakan sedikit dan entah kenapa bisa begitu
Kedua tangannya yang penuh dengan dosa seakan bergetar sedikit, langkah kakinya sedikit terputar kearah belakang mencoba berjalan menuju gadis mungil yang tengah bermain dengan air sungai disana
"Naruto! –" ucapan Kurumi serasa terpotong, namun nada suaranya sedikit bercampur dengan emosi yang terasa berbeda "- Aku akan menunggumu!"
Naruto tersenyum, atau mungkin Cuma itu yang ia bisa lakukan...
Tak lama kemudian Naruto berjalan kearah Ophis. Tangan kanannya mencoba menepuk naga Loli itu sekedar untuk menegurnya "Ophis..." ucapnya lembut ketika tangan mungil itu mencoba memainkan aliran sungai yang terasa dingin
"Uzuki?"
"Gomen ne~ Terkadang aku terlalu bodoh dan membawamu kedalam masalahku sendiri"
"Kenyataannya kau memang bodoh!"
"Ha-Ha'i..." Naruto tertawa pelan, namun sebenarnya bukan itu yang Naruto maksud
"O-Ophis..."
"..."
"Huft... baiklah, kau ingin menyuruhku untuk pergi dari sini kan?"
"Niatanku tidak terlalu kasar seperti apa yang kau ucapkan –" Naruto mencoba memasang senyum. Ia tahu jika saja ia bisa bergantung dengan Ophis saat ini, maka semua masalah akan selesai dengan mudah. Namun keadaan memaksanya untuk melepaskan dan tidak mengikutcampurkan Ophis kedalam masalah ini "- Azazel udah bilang kan? Kau kan naga, setidaknya mencari hiburan lah sedikit, berenang di atmosfer misalnya?"
"Kau bodoh ya?!"
Naruto tertawa pelan, ekspresi Ophis serasa benar-benar ingin ia cubit sekarang juga
Ophis mendesah pasrah, mau bagaimanapun ini masalah Uzuki no Baka-nya dan memang tidak pantas sih jika ia ikut campur sembarangan, meski tindakan Azazel yang cukup mengesalkan ketika berkata Ophis tidak boleh ikut campur – tapi bukan berarti ia tidak boleh membantu Uzuki-nya kan?
"Ophis..."
"Huh, baiklah –" Ophis mendengus, agak sebal sih ketika ia disuruh pergi meski kenyataannya ia merasa diusir "- jaga dirimu Uzuki, aku bisa menemukan dirimu kapan saja karena kau hanya milikku seorang!" ucapnya lalu tubuhnya menghilang tanpa sebab pertanda bahwa ia telah pergi. Sedangkan Naruto hanya bisa sweatdropped ditempat ketika mendengar pengakuan Ophis yang terasa memaksa
Dan sekarang...
Selesai satu dan masih banyak lagi masalah didepanya, langkah kakinya kini mencoba memutar tubuhnya berbalik kearah Rize dan Kurumi berada, ada senyum sedikit ketika matanya mendapati dua gadis itu kini berdiri dengan tatapan yang berbeda
"Naruto-kun, kau janji akan kembali kan?"
Itu pertanyaan bodoh, yang entah Naruto tak tahu jawabannya apa...
"Naruto!"
Giliran Kurumi yang kini mengeluarkan suara, matanya tak kuasa untuk menatap Naruto secara langsung hingga membuatnya mengalihkan perhatiannya kearah lain
"Kau akan pulang kan?"
Naruto tersenyum simpul, entah kenapa rasanya mereka berdua memperlihatkan sifat mereka sendiri yang seolah kehilangan satu yang disayang
Membuat Handseal sederhana, muncul tiga bunshin diantara Naruto dari ketiadaan. Perintahnya untuk menjaga Kurumi dan Rize seakan menjadi satu-satunya perintah bagi bunshin itu sendiri
Setelahnya...
"Bunshinku akan menjaga kalian disini, meski kawasan ini termasuk kawasan yang cukup aman sih –"
"- Kalau begitu aku pergi dulu, ada yang harus kuselesaikan..."
*Pooofftt!*
Naruto menghilang dalam asap putih, meninggalkan tiga bunshinnya yang menjaga Kurumi dan Rize disana yang hanya terpaku tanpa suara
Mau bagaimana lagi?
Mereka khawatir Naruto yang mereka kenal tidak seperti Naruto yang dulu...
.
.
.
'Yah...'
.
.
'Setidaknya itu sedikit meringankan beban hatiku bukan...?'
.
.
.
.
.
[Azazel...]
[Naruto kah? Sekarang kau ada dimana?]
[Aku sudah berada di Anti-Kekkai yang kau bicarakan sebelumnya, jadi? Bagaimana selanjutnya?]
[Sebelumnya sudah kubilang kalau Anti-Kekkai itu telah kusesuaikan dengan tubuhmu bukan? kau bisa masuk dengan menembusnya kedalam, yah... walaupun itu bisa dihancurkan sih]
[Dihancurkan?]
[Ya, kau bisa menghancurkan Anti-Kekkai itu tanpa takut seluruh Kekkai yang melindungi sekolahan ini hancur. Setelah itu pergilah ke Occult Research Club dan bantulah Rias, Sona dan Maou Leviathan yang ada disana]
[Apa katamu?!]
[Cepatlah! Aku sedang berta-]
*Tuuuut~!*
.
.
.
.
.
"Yare-yare... kurasa tubuhku ini sudah tua"
"Cih! Untuk seukuran gubernur gak guna sepertimu, kau ini boleh juga"
"Begitu kah?"
Beralih ke tempat lain atau lebih tepatnya Kuoh Academy – tempat pertarungan yang awalnya menjadi tempat pertemuan petinggi tiga fraksi. Suasananya terlihat sangat kacau, Hakuyuukou yang tengah bertarung dengan puluhan penyihir, Michael yang kini tengah dilindungi oleh Sirzech yang dengan mudahnya membabat habis para penyihir lain juga Rias dan yang lainnya tak kunjung keluar setelah berhasil menghentikan efek Forbiden Valor View
Berfokus pada sosok Azazel – pria paruh baya yang kini tengah dalam balutan Downfall Dragon Another Armor itu terlihat melayang diudara dengan lengan yang memegang bahu kirinya, tak ia sangka jika serangan tongkat penyihir milik Katerea bisa mengenainya meski lukanya tak seberapa bahkan tidak memberikan luka yang amat berarti
Disisi lain, Katerea terlihat sedikit lelah daripada Azazel. Meski Azazel sedari tadi terus menghindari serangannya tanpa ada niatan untuk menyerang balik, namun bukan berarti Azazel hanya diam saja bukan?
"Are? Kelelahan kah?"
"Damare! Orokamono!"
Seketika Katerea langsung melesat cepat kearah Azazel dengan tongkat penyihirnya yang sudah ia acungkan kearah Azazel. Dari ujung tongkat itu – muncul lingkaran sihir kecil namun dapat mengeluarkan puluhan laser aneh yang melesat begitu cepat kearah Azazel
*Sriiiiiing~!*
"Heh! Boleh juga!"
*Swuuuuush~*
Tidak ingin kalah dengan cepat dan membuang harga dirinya sebagai Gubernur Datenshi - Azazel lalu terbang mengangkasa dengan enam pasang sayap yang ia miliki, ada adrenalin yang terasa begitu menegangkan ketika ia meliuk-liuk diudara menghindari laser Katerea yang mengejarnya tanpa henti
*Swuuuuush!*
Hingga akhirnya Azazel berhenti disatu titik dimana ia menunggu puluhan laser itu datang padanya. Tangannya yang memegang sebuah Light Spear berukuran sedang seakan sudah siap untuk menghancurkan serangan Katerea dalam sekejap
*Sriiiiiing~!*
"Saa... akan kutunjukkan bagaimana cara bertarungku setelah usainya Great War pertama"
Dan selanjutnya –
*Zraaaat! Zraaat! Zraaaat~!*
- Puluhan laser yang meluncur dengan begitu cepat kearah Azazel itu terpental kesegala arah saat Azazel memainkan Light Spear yang ia genggam, tebasan demi tebasan Light Spear yang ia gunakan seakan melindungi diri dari laser yang siap menghujaminya
*Zraaaat~!*
Merasa Azazel masih disibukkan dengan serangannya, membuat Katerea mengambil langkah pasti. Sayap iblisnya kini membawanya pada Azazel yang masih terfokus pada laser-laser yang terus menghampirinya seolah tak sadar jika Katerea kini melesat cepat kearahnya dengan tongkat sihir yang ia todongkan kearah Azazel
"Saa... sekarang matilah kau! Azazel!"
"Yare-yare..."
*Ctraaang!*
*Swuuuuush~!*
Dan tepat setelah mementalkan laser yang terakhir. Waktu seakan berjalan lambat ketika Azazel mencoba menghindar kesamping saat tongkat sihir Katerea hampir saja mengenai dan membiarkan Katerea melewatinya – lalu setelahnya waktu berjalan normal. Ada sedikit adrenalin yang terpicu begitu kencang ketika hampir saja ia kehilangan kepala
"Cih!"
Katerea mendengus kesal, laju sayapnya kini terhenti diatas udara saat serangannya gagal membunuh Azazel – atau setidaknya bisa mengenai Azazel. Di detik selanjutnya ia membalikkan tubuhnya dan menatap tajam sosok Azazel yang masih santai dibalik Downfall Dragon Another Armor yang ia kenakan
Disisi lain – Azazel memasang senyum simpul dibalik armor yang ia kenakan. Meski awalnya ia hampir dikalahkan bahkan hampir dibunuh oleh golongan ibllis lama macam Katerea, namun akhirnya ia berhasil menghindarinya dan selamat
"Tidak menyerang heh? –" Azazel kini memutarkan Light spear yang ada digenggaman tangannya tanpa alasan yang pasti, meski armor yang ia kenakan berwajah seperti armor kebanyakan, namun dibaliknya ada senyum kecil yang terasa begitu optimis bahwa semua ini akan berakhir "- kalau begitu sekarang giliranku!" ucapnya lantang saat tubuhnya sudah mengambil posisi untuk menyerang
*Zwuuuuuusshh~!*
"..."
*Craaaaass!*
Katerea membulatkan matanya, dipandangannya saat ini ia menangkap cipratan darah yang terlihat masih segar...
"Aaaaarrggg! Sialan kau Bangsat!" ucapnya murka ketika tubuhnya berbalik dan mendapati Azazel yang telah menyerang sekaligus melewatinya
Katerea tidak menyangka jika Azazel dapat melesat dengan begitu cepat lalu menebaskan Light Spear yang berada digenggamannya ke tubuhnya. Meski yang terluka hanya bahunya saja, namun itu tetap terasa sakit mengingat unsur cahaya merupakan kelemahan dari bangsa iblis
"Heheh! Mengesankan bukan?"
Disamping itu, Azazel kini melukiskan senyum miring yang terpatri indah diwajahnya, genggamannya pada Light Spear itu seakan mengerat ketika berhasil menyerang Katerea meski serangannya tidak memberikan luka yang begitu fatal
Membalikkan badannya kearah Katerea, tangan yang menggenggam sebuah Light Spear kini berayun dengan cukup lihat sekedar untuk bergaya saja. Azazel menatap Katerea yang kini memandangnya dengan tatapan tajam bercampur benci
"Aku tak akan mengampunimu, Datenshi sialan!" murka atas apa yang diperlakukan Azazel padanya, Katerea lalu mengacungkan tongkat sihirnya kearah Azazel untuk kembali mencoba menyerang petinggi fraksi Datenshi itu dengan pola serangan yang sama seperti sebelumnya, disisi lain – Azazel sudah siap untuk kembali menangkis puluhan laser yang akan keluar dari lingkaran sihir itu dengan Light Spear yang berada digenggamannya
*Sriiiiiiiing~!*
"..."
*Ctraaaaang~ Ctraaaaaangg~!*
Bagaikan ilusi, Azazel seakan bisa menangkis semua puluhan laser yang terus menyerangnya itu hanya dengan ayunan Light Spear yang begitu cepat tanpa henti, matanya begitu fokus saat ini
*Ctraaaaang~!*
*Zraaaaaat~!*
.
.
.
.
.
*Braaaakk!*
Beralih di tempat lain, sesaat terlihat sesosok remaja pirang yang mendobrak pintu ruangan bernuansa mewah itu. Suasana yang terasa disana agak mencekam dan tentunya berbeda dengan ketika ia terakhir kali berada disini
Namanya Naruto – wajahnya terlihat menyimpan senyum yang memiliki makna tersendiri. Ada rasa nostalgia ketika ia kembali datang ke ruangan ini meski keadaannya berbeda sekarang. Lagipula ia juga memang pernah tinggal di Occult Research Club ini sih
Naruto melangkahkan kakinya, masih dalam pose siaga jikalau ada serangan tiba-tiba yang langsung mengarah kearahnya. Tatapannya pun menajam seiring dengan langkah kaki yang terus melangkah kedepan
Matanya memerangkap beberapa bagian ruangan yang telah terbakar dimakan api yang menyala, ruangan yang terlihat begitu acak-acakan dengan dihiasi dua buah sofa besar yang patah dan beberapa lainnya
Sejenak Naruto berpikir Apa yang sebenarnya terjadi?
*Kraaak!*
Naruto menginjak patahan kayu yang jatuh dari atap. Agak nyaring terdengar yang membuatnya semakin waspada jika ada serangan secara tiba-tiba
Naruto kembali melangkahkan kakinya, suasana seakan semakin berbeda ketika ia menelusuri tiap-tiap ruangan yang ada di klub yang dulunya pernah ia tinggali itu – yah, meski pada akhirnya ia juga pergi dari sini karena suatu alasan yang tidak ingin ia ingat kembali
*Braaaakkk!*
Naruto mendongakkan kepalanya keatas – ketika suara itu terdengar begitu keras ditelinganya
Bola matanya terbelalak ketika ia mendapati pasukan penyihir yang terbang diatasnya!
"Shimatta!"
*Sriiiiingg~!*
Reflek Naruto melompat kearah sembarang ketika pasukan penyihir yang berkisar tiga sosok itu menyerangnya dengan serangan yang sama seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya – yaitu serangan laser
Naruto menyunggingkan senyum lebar, jadi inikah yang terjadi sebenarnya?
Atap ruangan itu pecah hingga terlihat luarnya – ada tiga sosok penyihir yang penampilannya sama seperti yang pernah ia temui sebelumnya. Jauh dibelakang mereka Naruto mendapati pasukan penyihir yang tengah bertarung dengan sosok yang mengenakan armor putih dengan sayap birunya yang membentang
Naruto menyunggingkan senyum...
"Manusia kah? Ini bukan tempat yang bagus untukmu" ucap salah satu dari tiga sosok penyihir itu, ada senyum yang terasa begitu amat meremehkan sosok Naruto yang ada dibawah mereka saat ini
Disisi lain Naruto tidak mengeluarkan satu patah kata pun sebagai sebuah respon. Matanya tertutup pelan, hembusan nafasnya seakan lebih dingin dari keadaan yang ada disekitarnya ini. Lagipula bukankah api yang tengah membakar beberapa sudut ruangan itu terasa panas?
*Tap!*
Secara tiba-tiba Naruto melompat keatas meski tidak terlalu tinggi, kedua tangannya saling bertautan mencoba merangkai handseal yang cukup rumit diikuti dengan mulut yang mencoba mengambil nafas banyak-banyak
Kemudian –
"Katon :: Gokakyou no Jutsu!"
- tepat setelah Naruto menghembuskan nafasnya melalui mulutnya, muncul bola api yang cukup besar dan melesat kearah tiga penyihir yang terkejut itu. Lantas dengan cepat mereka menghindar ke segala arah membiarkan bola api itu menghantam atap hingga hancur berantakan dengan ledakan yang bisa dibilang cukup besar
Tiga pasang mata yang tertutupi tudung hitam itu menajam kearah Naruto. Rasa kesal dan benci seakan memaksa mereka untuk membuat sebuah lingkaran sihir yang masing-masing mengeluarkan serangan yang berbeda – ada berupa laser, api, dan serangan berupa ledakan
Tak ingin mati diumurnya yang sekarang – memaksa Naruto untuk berlari menghindari tiap-tiap serangan yang terus menerus melesat kearahnya itu, puluhan api dan laser itu seperti terus menyerang Naruto tanpa henti
"Jangan hanya menghindar saja Manusia!" murka salah satu penyihir itu lalu membuat sebuah lingkaran sihir yang cukup besar, dari lingkaran sihir itu muncul puluhan laser yang siap untuk menghujam tubuh Naruto
"Sriiiiiingg~!*
Naruto menatap itu – senyum seakan terpaksa ketika rasa hangat mulai menyusuri sekujur tubuhnya
.
.
.
'Kurama..."
.
.
.
"Kali ini aku kembali meminjam kekuatanmu!"
.
.
.
*Blaaaaassstt!*
Ledakan aura yang berasal dari tubuh Naruto membuat puluhan laser juga api yang melesat kearahnya itu terpental kesembarang arah. Seketika tubuh Naruto dibalut Chakra berwarna kuning oranye yang terlihat begitu kuat. Bahkan saking kuatnya, chakra oranye itu seakan terlihat seperti membakar tubuh Naruto
"Cih! Dia bukan manusia biasa!" decih salah satu penyihir itu ketika memerintahkan dua temannya untuk kabur –
- namun sayang tak semudah itu
Lantai yang kini menjadi pijakan Naruto retak tanpa sebab ketika Naruto memfokuskan tekanan chakranya pada telapak kakinya, selanjutnya ia melompat dengan begitu cepat dan menghajar tiga sosok penyihir itu sekaligus dengan menarik pakaian mereka lalu membantingkannya ke lantai
*Braaaakk!*
Tiga penyihir itu mengerang sedikit agak kesakitan, tulang punggung mereka terasa seperti patah saat menghantam lantai dengan sangat kuatnya hingga membuat lantai yang menjadi alas mereka saat ini retak begitu saja
Didepan mata mereka – tepat diatas udara – ada sosok Naruto yang menatap mereka dengan tatapan tajam tentunya. Ditelapak tangan kanannya kini ada sebuah bola chakra berwarna biru yang begitu khas dan cukup kuat terasa
Tak ada lagi senyum saat ini, yang ada hanyalah kepercayaan bahwa apa yang ia lakukan saat ini bukanlah pilihan yang buruk!
"Rasengan!"
*Blaaaarr!*
Seketika lantai hancur menjadi kawah yang cukup luas ketika Naruto menghantamkannya ke salah satu penyihir yang berada ditengah mereka – tentu saja dua yang lainnya terkena efek dari Rasengan yang terasa mencabik-cabik tubuh mereka tanpa henti. Sedangkan Naruto sendiri melompat keatas udara menyaksikan tiga sosok penyihir yang tengah dalam keadaan sengsara
Beberapa saat kemudian, efek dari rasengan terhenti. Menyisakan tiga mayat penyihir yang tak lagi bernyawa, sebuah kawah yang cukup luas dan ruangan yang sudah benar-benar acak-acakan sekarang
Naruto menghela nafas pelan, sepasang mata yang tak lagi berwarna biru itu kini menatap kedua telapak tangannya yang berbalut chakra berwarna oranye. Entah kenapa kekuatan yang ia rasakan kali ini lebih besar dari yang sebelumnya
Kurama terbangun dari tidurnya kah?
Naruto tak tahu sama sekali...
Sejenak Naruto menatap keatas – tepat kearah langit yang kini tak lagi tertutupi oleh atap ruangan mengingat atap ruangan itu sendiri telah hancur. Mendapati sesosok remaja berlapis armor berwarna putih saja sudah membuatnya menampilkan senyum yang sama seperti sebelumnya
Disana ada Vali – setidaknya itulah keadaan yang ia ketahui sekarang. Lagipula Azazel itu cukup pintar kalau ia tidak mungkin hanya bergantung pada pasukannya saja, karena itulah ia memaksa Vali untuk menjadi wakil dari pertemuan ini –
- dan lihatlah! Bukankah Vali terlihat seperti bisa diandalkan?
*Blaaaarr!*
Naruto terkejut sesaat, terdengar ledakan yang cukup kuat dari arah yang tidak ia ketahui namun dapat dipastikan bahwa ledakan itu terjadi di klub yang dulunya pernah ia tinggali ini. Lantas ia langsung berlari menyusuri ruangan klub mencoba mencari keberadaan Rias dkk, Sona dan sang Maou Leviathan itu
Ini bukan karena keinginan hati sih, Azazel sebelumnya menyuruhnya untuk menjaga tiga iblis itu kan?
.
.
.
.
.
*Zraaaat!*
Beralih disisi lain bertepatan dengan Naruto yang mencari asal dari sumber ledakan. Berfokus pada Azazel dan Katerea yang masih bertarung dengan sengiitnya diatas udara. Maa... Azazel terlihat santai sih jadi apa bisa dibilang sengit?
Satu tebasan Light Spear dari Azazel baru saja mengenai lengan kanan Katerea hingga mengeluarkan cipratan darah diiringi dengan asap yang timbul – sedikit erangan rasa sakit menjadi pertanda
Hendak menyerang balik dengan tongkat sihirnya, Azazel lebih dahulu menghindar dengan melesat kebelakang menghindari serangan yang ingin dikeluakan Katerea padanya. Tatapan benci itu seakan tak pernah ada habisnya
"Yare-yare, ini hanyalah pertarungan biasa, kenapa kau sampai menatapku seperti itu?" ucap Azazel diiringi dengan tawa kecil
Yah... mau bagaimanapun ia tidak pernah serius dalam bertarung kecuali ketika saat ia bertarung dalam Great War dulu. Satu-satunya tombak cahaya yang ada digenggamannya pun perlahan lenyap menjadi pendaran cahaya bersamaan dengan armor emas gelapnya yang hilang seketika –
- atau dengan kata lain, Azazel tidak dalam mode Balance Breaker lagi
Sebuah belati pendek dengan ujung yang berbentuk kerucut itu secara tiba-tiba berada ditangan Azazel. Sejenak Azazel menatap Sacred Gearnya itu dengan lembut dan berpikir bahwa masih banyak yang perlu ia tingkatkan lagi
"Azazel bangsat!"
Mengabaikan Azazel yang senyum sendiri. Katerea kini terlihat begitu amat murka dengan tangan kirinya yang memegang lengan kanannya yang terus mengeluarkan darah – itu bukan luka yang amat fatal sh namun rasa nyerinya masihlah terasa
"Are? Kau masih berdiri disana Katerea?"
"Damare! Aku akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu sekarang juga Azazel –"
"- andai Shalba dan Cruserey ikut bersamaku, kau akan mati disini sekarang juga!"
"Shalba dan Cruserey?"
*Swuuuush~!*
Mendadak Katerea melemparkan tongkat sihirnya kearah Azazel membuat pria paruh baya itu buru-buru menyembunyikan Sacred Gear yang ia miliki kedalam saku pakaian yang ia kenakan lalu menghindar kesamping
Tidak sampai disitu saja. Katerea melesat kearah Azazel yang kini tengah menghindar kesamping membiarkan darah dilengannya yang bercucuran. Sambil menunggu tongkat sihirnya yang saat ini berputar dan melesat kearahnya bagaikan bumerang yang bisa balik kembali, Katerea memberikan senyum miring pada Azazel
*Tap!*
Tongkar sihir itu benar-benar kembali ditangannya! Seringai Katerea serasa semakin tajam ketika dirinya kini mendekati Azazel yang tak berjarak dua meter saja
Disisi lain, Azazel menghela nafas. Inilah kenapa ia tidak terlalu suka dengan iblis yang arogan...
"Sekarang giliranku untuk membalasmu Datenshi –"
*Buuuaaggg~!*
Azazel memutar bola matanya bosan, ketika Vali datang...
Hakuryuukou yang katanya terkuat sepanjang masa itu tiba-tiba saja datang dari arah lain dan langsung memberikan tendangan telak kepada Katerea hingga membuat iblis wanita itu terpental dan menghantam tanah dengan kuatnya
"Azazel, apa kau mau mati muda?"
Azazel tertawa pelan, entah baru kali ini ia melihat sifat Vali yang seperti itu. "Aku ini sudah hidup dengan cukup lama, jadi wajar jika aku ingin tahu bagaimana rasanya mati" ucapnya dengan nada tertawa
Vali Lucifer – mungkin itulah kenyataan yang Azazel ketahui tentang manusia setengah iblis yang baru saja menyelamatkannya ini, ketika dirinya baru saja diselamatkan muridnya sendiri. Entah kenapa rasanya agak sedikit aneh bagi Azazel karena tidak biasanya Vali seperti ini
Lagipula tentang dirinya yang seorang iblis – Sirzech bahkan tidak tahu jika gelar yang ia miliki seharusnya dimiliki oleh remaja berambut perak didepannya ini. Tapi yah... Azazel sendiri tidak begitu peduli sih
Fokus pada Katerea – iblis yang berhasil mengacaukan pertemuan antara tiga petinggi Fraksi itu mendecih kesal dengan rasa nyeri pada punggungnya ketika tubuhnya menghantam tanah dengan begitu kerasnya akibat ulah Vali
Katerea perlahan bangkit berdiri dengan bantuan tongkat sihirnya. Ada tatapan benci yang dikeluakan Katera ketika mendapati sosok Vali yang kini berbalut zirah putih itu menatapnya
"Vali! Dasar pengkhianat!" ucapnya murka
"..."
Vali tetap diam, tak ada respon yang keluar sebagai balasan. Armor yang ia kenakan seolah menutupi ekspresi apa yang ia pasang saat ini
Vali mengacungkan jari telunjuknya kearah Katerea. Entah apa yang akan ia lakukan pada Katerea orang lain tak tahu bahkan Katerea sendiri
*Zuuuuiiiiing~!*
*Craaaatt!*
Katerea kembali membulatkan matanya. Ketika darahnya kembali bercucuran dengan lengan yang tak lagi dalam kendali tubuhnya
"..."
"Kau sadis juga ya Vali? Meski awalnya aku waspada padamu mengingat kau seharusnya berada dipihak Katera untuk membela hakmu, tapi Maa... untuk sekarang sih tidak lagi"
"Kau berlebihan Azazel, kau percaya pada Naruto, tapi kau tidak percaya padaku?"
Azazel tertawa renyah, matanya sedikit melirik kearah Katerea...
Mau bagaimana lagi? Katerea yang kini ia lihat hanya bisa mengerang kesakitan ketika lengan kanannya terputus begitu saja dengan darah yang bersimbah begitu banyaknya akibat serangan laser berwarna biru milik Vali
"Vali! Bangsat!"
"Hinalah aku sepuasmu Katerea! Itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa aku tak akan pernah berpihak padamu dan dua yang lainnya" Ucap Vali dengan cukup lantang, Azazel yang berada disebelahnya pun hanya bisa tersenyum simpul
Katerea murka! Entah kenapa sekarang rasanya ia ingin membunuh dua sosok yang melayang diudara itu!
Meski kini ia tak mempunya lengan kanan – namun lengan kirinya masih bisa untuk digerakan, ujung jari telunjuk yang mengacung kearah Vali juga Azazel serta bibir yang bergetar hebat seolah ingin mengucapkan suatu mantra sihir
"I-Itu?!"
"Mereka menggunakan ular yang diberikan Ophis, bukankah itu sudah cukup buruk?" ucap Vali datar ketika menyadari ada lingkaran sihir ungu bermotif ular diujung jari Katerea. Azazel yang berada disebelahnya pun mengangguk pelan pertanda setuju dengan apa yang barusan dikatakan oleh muridnya itu
"Ngomong-ngomong, bukankah kau juga bawahan Ophis dulunya? Apa itu? Khaos Brigade?"
"..."
"Kau berisik seperti biasanya ya Azazel? Apa kau sampai sebegitunya mencari masa laluku hanya karena kau waspada padaku?"
Azazel tertawa renyah. Mau bagaimana lagi?Ia tidak bisa berbohong jika Ophis adalah sosok yang bahkan jauh lebih lebih kuat dan bahkan mustahil untuk ia kalahkan. Jadi, wajar bukan jika mencurigai mantan anggota bawahan Ophis? "Berterima kasihlah pada Shemhaza karena info yang ia dapatkan!"
"Urusai!"
Mengabaikan Azazel dan Vali yang sibuk mengobrol ria. Katerea sudah siap dengan seluruh kekuatannya untuk menyerang Vali dan Azazel yang melayang diudara – bahkan tatapannya seolah lebih mengerikan dari aura yang saat ini ia keluarkan
Namun sayang –
*Zraaaaasss~!*
- Katerea terlambat, setidaknya darah yang bercipratan dimana-mana bisa menjadi jawaban atas apa yang terjadi pada tubuhnya saat ini
Katerea menatapi tubuhnya saat ini. Ia bahkan tidak merasa jika sebuah aura mengerikan berwarna merah gelap telah menyelubunginya bagaikan selimut dan perlahan tapi pasti membuat tubuhnya hancur menjadi berkeping-keping
Seketika ia menoleh kearah lain – mendapati sosok lain selain Azazel dan Vali yang sudah ia benci sebelumnya
"Sirzech kampang!"
Itulah yang ia ucapkan. Agak kasar namun ia memang tidak bisa melakukan apapun selain itu sih...
Sirzech Lucifer juga Michael – sebelumnya katerea tidak menyangka jika dua sosok itu akhirnya akan mengganggu pertarungannya dengan Azazel seperti apa yang Vali lakukan. Ia benar-benar mengutuk apa yang dilakukan Sirzech padanya
"Katerea, perbuatanmu ini tidak bisa kumaafkan sebagai seorang Maou Lucifer!"
"Maou Lucifer katamu?! Hey Vali! Apa kau mendengarnya?" ucap Katerea dengan suara yang begitu lantang memanggil Vali dan tidak peduli dengan tubuhnya yang perlahan hancur. Sementara Vali yang berada diatas udara hanya mendecih kesal dengan wajah yang berkerut
"Apa maksudmu Katerea?"
"Kau mungkin tidak tahu kenyataannya Sirzech! Tapi aku akan mengatakannya sekarang bahwa Vali adalah –"
*Zuuuuuiiiinng~!*
Ucapan Katerea berhenti, ketika kepalanya terputus dari tubuhnya yang perlahan hancur akibat serangan Vali yang begitu mendadak. Lalu setelahnya iblis golongan lama itu benar-benar hancur dan lenyap tanpa tersisa
Lantas Sirzech menoleh kearah Vali yang berada diatas sana diikuti dengan Michael. Sementara Azazel hanya bisa mendekatinya sembari berbisik "Are? Apa kau malu memperkenalkan jati dirimu yang sebenarnya?"
"Diamlah Azazel, aku punya alasan tersendiri untuk itu"
"Begitu ya..."
.
.
.
"Jadi, sebenarnya apa yang ingin dikatakan Katerea yang sebenarnya, Hakuryuukou?"
Untuk saat ini, Vali, Azazel, Michael juga Sirzech tengah berdiri diatas tanah dengan keadaan disekitar yang cukup berantakan – setidaknya mereka bisa sedikit merasa aman disiini tanpa khawatir penyihir yang lain menyerang mereka secara mendadak mengingat masih ada sisa pasukan dari tiga fraksi yang masih setia menjaga mereka
Pertanyaan itu keluar secara khusus dari Sirzech yang tertuju pada Vali. Ada pertanyaan yang berujung pada sebuah reaksi yang membuatnya bingung dengan apa yang dikatakan Katerea sebenarnya
"..."
Vali terdiam tanpa ada niatan untuk menjawab. Berbeda dengan Michael yang menatapnya dengan tatapan penasaran juga Azazel yang terlihat acuh
Lain dengan mereka bertiga, Sirzech malah semakin tambah penasaran dengan apa yang sebenarnya ingin dikatakan Katerea. Auranya seakan naik seolah ia benar-benar waspada dengan Hakuryuukou yang satu ini
"Cepat katakan Hakuryuukou, apa yang Katerea katakan bukan berarti kau berada dipihak musuh yang menyerang pertemuan besar ini bukan?"
*Set!*
"Tunggu dulu Sirzech! Kau mengacungkan jarimu bukan berarti kau ingin memecah perjanjian ini bukan? "
Seketika Azazel berdiri didepan Vali yang kini tak lagi dalam mode Balance Breaker nya ketika Sirzech tiba-tiba mengacungkan jari telunjuknya kearah Vali. Keadaan jadi sedikit lebih tegang dari sebelumnya dan bahkan Michael selaku pemimpin dari fraksi Tenshi hanya bisa mencoba menenangkan Sirzech yang masih merasa waspada dengan sosok Vali
"kau tidak paham apa yang aku inginkan Azazel, aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya dikatakan Katerea. Kau pasti tahu apa yang dia katakan kan? Hakuryuukou?"
"Sirzech –"
"Sudahlah Azazel..."
Alis mata Azazel terangkat sebelah saat bahunya disentuh pelan oleh Vali mencoba melerai keadaan yang terjadi. Surai peraknya seakan terbawa angin ketika dirinya mencoba merubah keadaan sekaligus menghilangkan rasa penasaran Sirzech yang sebenarnya
Lagipula, mau bagaimana lagi?
Toh kelamaan sosok dirinya pasti akan ketahuan...
"Sirzech Lucifer..."
"..." Sirzech masih terdiam berdiri dengan penuh wibawa
"Kau penasaran apa yang dikatakan Katerea bukan? dan alasan kenapa Katerea dan aku bisa saling kenal?"
"..."
"Itu karena aku adalah iblis Lucifer..."
"Lu-Lucifer?!"
"Ya, aku adalah Vali Lucifer, manusia setengah iblis yang memegang Vanishing Dragon. Kau terkejut? yang sebenarnya ingin Katerea katakan adalah untuk menyindirku, bahwa gelar yang kau miliki itu seharusnya berada ditanganku, Sirzech Gremory"
Sirzech menelan ludahnya dengan kasar meski wajahnya terlihat datar. Yang ada dikepalanya saat ini adalah ini kenyataan bukan?!
Serafall Leviathan, Ajuka Beelzebub, Falbium Osmodeus, dan dirinya hanyalah raja iblis yang mengambil gelar dari iblis golongan lama yang menjadi pemberontak. Bahkan ketika peperangan iblis dengan iblis golongan lama dulu – ia tidak pernah mengetahui dan tidak pernah tahu jika ada sosok keturunan Lucifer di peperangan itu. Pertanyaaannya adalah apa keturunan Lucifer memang ikut peperangan itu? Pasalnya ia tidak pernah bertemu dengan sosok Vali pada saat itu
Dan sekarang? Keturunan Lucifer yang sebenarnya berada didepan matanya?
"K-Kau –"
"Tenanglah, aku bukan pemberontak macam Katerea, Shalba dan Cruzerey. Bisa dibilang aku tidak suka dengan mereka bertiga"
"Benar apa yang dikatakannya Azazel, lagipula untuk apa ia menurut padaku jika ia menjadi pemberontak?" ucap Azazel mencoba ikut nimbrung dan hanya bisa tertawa pelan ketika mendapati tatapan tajam dari Vali yang berada dibelakangnya
"Lu-Lucifer –"
"Sirzech-dono, kau bisa kesampingkan masalah itu nanti, yang kita hadapi saat ini adalah bagaimana cara kita menyelesaikan masalah ini" kini giliran Michael untuk berbicara, meski agak pendiam namun auranya yang begitu berwibawa begitu kentara
Sejenak Azazel, Sirzech dan juga Vali menoleh ke langit – perang antara pasukan tiga fraksi yang menipis serta pasukan penyihir masih berlanjut meski pemimpin mereka yaitu Katerea kini tak lagi ada bersama mereka
Terlihat Vali tiba-tiba melompat keudara dan tubuhnya kembali dibalut armor berwarna putih menandakan bahwa ia kembali masuk kedalam mode Balance Breakernya "Biar aku yang mengurus mereka semua" ucap Vali lalu melesat cepat kearah pasukan penyihir itu bagaikan peluru
Sementara Azazel, Michael dan Sirzech? – mereka mengangguk dan melesat dengan sayap mereka masing-masing menuju suatu tempat, setidaknya mereka masih ada rasa khawatir pada salah satu petinggi yang seharusnya bersama mereka
.
.
.
'Naruto...'
.
.
.
'Apa yang terjadi pada anak itu...?'
.
.
.
.
"Uzumaki Naruto! Bangsat!"
Disisi lain – tepat di halaman belakang gedung ruang klub Occult Research Club yang dipimpin oleh Rias Gremory. begitu terlihat jelas bekas pertarungan sengit disana,tanah yang berserakan dan beberapa kawah kecil bekas ledakan serta pepohonan yang beberapa roboh
Disana terlihat sosok Naruto yang mencoba bertahan dari serangan Issei yang terlihat membabi buta, dibelakang Issei ada Kiba dan Koneko yang bersiaga sedangkan Rias, Akeno, Sona, Tsubaki dan sang Maou Leviathan, yaitu Serafall hanya bisa berdiri terdiam mengamati saja
Naruto sendiri tidak menyangka jika semuanya akan berakhir seperti ini, ketika sebelumnya ia berhasil menemukan kawanan Rias halaman belakang gedung ORC yang tengah bertarung menghabisi pasukan penyihir yang tersisa dan ikut membantunya, ia malah tiba-tiba diserang seperti ini seolah dia dicurigai sebagai musuh
Padahal ia sudah bilang kalau dia bukanlah musuh mereka!
*Blaaarr!*
Kembali ledakan terjadi dan membuahkan kawah kecil disana ketika Issei menyerang Naruto dengan Dragon Shotnya yang entah keberapa kalinya namun gagal mengenai sang target. Kiba Yuuto sang Knight dari Rias pun tidak bisa diam saja ketika serangan sahabatnya itu gagal mengenai sang musuh dan berinisiatif untuk maju diikuti dengan Koneko yang berada dibelakangnya
*Swuuuush!*
*Tap!*
Melihat Naruto yang berlari dengan begitu cepat ke sisi kiri, membuat Yuuto berhenti secara tiba-tiba dan menyentuhkan tangannya ke tanah mencoba mengeluarkan kemampuan yang ia miliki yaitu Sword Birth
"Gawat!"
Tidak ada niatan untuk mengakhiri nyawanya lebih cepat, Naruto melompat keatas udara ketika puluhan pedang hasil dari kekuatan Yuuto muncul secara tiba-tiba dari tanah dan hampir menusuknya. Namun sebelum itu ia harus berhadapan dengan Koneko yang kini melayang diudara melesat kearahnya dengan tinju yang begitu menantang
"Hyaa~"
*Buuuugg!*
Naruto terpental kebelakang ketika Koneko berhasil memukul Naruto dengan sekuat tenaga meski Naruto masih menahannya dengan kedua tangan yang disilangkan sebelumnya. Debu-debu tanah berserakan menutupi pandangan ketika kaki Naruto menghantam tanah dan terseret kebelakang
Tidak sampai disitu saja! melihat debu-debu yang menutupi mata bukan berarti sebuah halangan bagi seorang Knight seperti Yuuto. Secepat mungkin ia melesat dengan kecepatan Knightnya kearah dimana terakhir ia melihat Naruto
*Swuuuuuush~!*
"Sekarang saatnya kau menyerah, Uzumaki Naruto –"
"Doton : Doryuuheki!"
*Braaakk!*
Kiba Yuuto membulatkan matanya, ketika telinganya yang tidak bisa berbohong mendengar suara yang begitu terasa berbeda di telinga...
Yang saat ini terjadi adalah Yuuto yang gagal menebas Naruto dengan pedangnya karena Naruto berhasil menahan pedang Yuuto dengan dindingtanah yang muncul didepannya sebagai pertahanan dengan jutsu Doton : Doryuuheki nya
"Sial!"
Chakra oranye yang membalut tubuh Naruto itu seakan berkumpul pada kepalan tangannya ketika menyadari bahwa pedang Yuuto tidak hanya sekedar berhasil ia tahan tetapi juga menancap pada dinding tanah yang ia buat. Di detik selanjutnya Naruto langsung menghantamkan kepalan tangannya tepat di tengah-tengah dinding tanah itu hingga membuat Yuuto terpental kebelakang akibat efek yang dihasilkan dari tinju Naruto yang begitu kuat
"Cih! Seranganku gagal!"
Yuuto berhasil menahan tubuhnya agar tidak jatuh akibat kuatnya hempasan yang berasal dari tinju Naruto yangbahkan mampu menghapus debu-debu yang menutupi penglihatan mereka semua. Kini – Naruto hanya bisa berdiri menatapi sekumpulan iblis yang menatapnya dengan pandangan yang sama
Rias dan semua peeragenya, Sona dan Tsubaki serta Serafall Leviathan menatapnya dengan tatapan yang membuatnya tidak bisa berbuat banyak disini!
"Kalian semua! Dengarkan aku dulu –"
"Berhenti omong kosong sialan!"
Naruto kembali memasang pose siaga ketika Issei – mantan manusia yang memegang gelar Sekiryuutei itu kini berlari kearahnya dengan raut muka yang begitu berbeda dari yang sebelumnya. Dari tatapan matanya ada sarat kemarahan yang mendalam saat matanya menatap sosok Naruto
*Boost! Boost! Boost!*
*Tap!*
Issei melompat keudara, lengan yang berbalut gauntlet itu mengarah pada Naruto sembari mengeluarkan aura yang cukup besar
"Sekarang katakan apa tujuanmu sialan! –"
"- Dragon Shot!"
*Blast!*
Sebuah bola energi yang begitu besar itu berhasil dilayangkan oleh Issei dengan bantuan dari Sacred Gearnya, melesat dengan begitu cepat kearah Naruto yang tidak bergerak satu inchi pun meski chakra oranye yang membalut tubuhnya sedari tadi berkobar tanpa henti
"..."
"Dasar iblis keras kepala..."
"..."
*Kraaaaak!*
Tanah yang Naruto pijak kini retak tak beraturan, bahkan angin serasa menghempaskan semua yang berada disekitar Naruto. Dan ketika Dragon Shot milik Issei sudah hampir mendekatinya – Naruto melakukan gestur memukul kearah serangan Issei hingga bola energi itu hancur berantakan
"Sekarang! Kiba!"
Dan disaat itulah, Naruto tidak menyadari jika Kiba Yuuto sudah melesat cepat kearahnya dari sisi samping dan berniat untuk menyerangnya dengan sebuah pedang yang ia genggam dengan cukup kuat. Satu atau dua tebasan setidaknya bisa melukai Naruto bukan?
Namun sayang –
*Slash!*
Naruto berhasil menghindar dengan melompat ke belakang– atau setidaknya ia bisa selamat dari maut yang mengancamnya lewat sebilah pedang yang mengarah ke lehernya itu saat Yuuto gagal menyerangnya. Namun tidak sampai disitu saja!
Yuuto segera menempelkan telapak tangannya ditanah sembari mengeluarkan kekuatannya itu Sword Birth – seketika gelombang cahaya muncul dari dalam tanah dan merambat kearah tempat Naruto berada, dari gelombang cahaya itu munculah puluhan pedang dari tanah yang siap menusuk siapa saja yang berada diatasnya
'Cih! Knight Rias membuatku serasa jengkel' batin Naruto saat puluhan pedang itu bermunculan dari cahaya yang kini merambat ke tanah yang ia pijak. Tak lama kemudian Naruto melompat keatas mencoba menghindari pedang-pedang yang muncul secara tiba-tiba dari tanah itu
"Akeno!"
Sial! Naruto bahkan tidak tahu jika Rias juga memberi komando pada peeragenya, padahal awalnya ia pikir semua peeragenya bergerak atas apa yang mereka lakukan sendiri!
Sesuai perintah Rias – Akeno terbang diudara menggunakan sepasang sayap iblis yang ia miliki, kedua tangannya kini terulur keatas mencoba memanggil kilatan petir atas kehendaknya
"Saa... sekarang menyerahlah Naruto-kun!"
*Bzzzzzztttt~!*
Sambaran petir itu seakan menggelegar dari awan, melesat begitu cepat dan mengarah kearah Naruto yang kini masih berada diudara dengan pandangan mata yang seolah tidak percaya. Seketika Naruto membuat satu bunshin yang muncul dibawahnya lalu melompat keatas dengan bunshinnya sebagai pijakan kaki
*Tap!*
Rencana Naruto membuahkan hasil! Meski caranya menghindar cukup buruk namun setidaknya bunshinnya tadi rela menjadi korban dari serangan Akeno. Namun sayang –
"Rias-tan! Sekarang giliranku membantu kalian!"
"Begitu juga denganku!"
Jauh disana, Serafall mencoba membuat lingkaran sihir yang cukup lebar begitu juga dengan apa yang dilakukan Sona yang berada didekatnya, dari lingkaran sihir Serafall muncul ratusan jarum-jarum es yang melesat begitu cepat dan bergabung dengan derasnya air yang keluar dari lingkaran sihir Sona hingga membuat ukuran jarum-jarum es itu bertambah besar – melesat dengan begitu cepat kearah Naruto
Sementara Naruto sendiri? Yang masih melayang diudara dan menatap ratusan jarum-jarum es yang melesat cepat kearahnya dengan kecepatan yang begitu memukau mata?
.
.
.
'Dasar Azazel...'
.
.
'Entah kenapa aku membencinya sekarang, dia tidak sedang mencoba menjebakku dengan keadaan seperti ini bukan? apa Azazel tidak bilang jika aku adalah sekutunya juga lalu membungkam iblis bodoh ini?'
.
.
'Lagipula...'
.
.
'Ini belum berakhir bukan?'
.
.
.
*Pyaaaaar~!*
Seketika Kekkai yang menutupi seluruh ruang lingkup sekolah itu pecah berkeping-keping tanpa sebab – bahkan membuat Rias, Sona, Serafall yang berdiri terdiam disana hanya bisa terperanjat kaget atas apa yang terjadi, begitu juga dengan Azazel, Sirzech dan Michael yang sudah tiba ditempat Naruto dan kelompok Rias bertarung dan memasang ekspresi yang tidak terduga
*Swuuuuush~!*
*Craaaakkss!*
Apa yang mereka lihat saat ini mungkin seperti sebuah kebohongan! Namun mata tidak pernah bisa berbohong bukan?
Ophis – sang Ouroboros Dragon yang paling ditakuti kini sudah berada didepan Naruto dan menahan jarum-jarum es milik Serafall dan Sona dengan lingkaran sihir yang ia miliki!
"Dasar Uzuki, padahal kau berani menantang Red-chan saat itu, tapi apa kau bisa lemah hanya karena ulah sekelompok iblis?"
"O-Ophis?! Kenapa kau berada disini?! Bukankah sudah kubilang sebelumnya?!"
Naruto membulatkan matanya. Pasalnya, kenapa Ophis bisa berada disini secara tiba-tiba? Bukankah ia sebelumnya sudah memberi saran pada naga imut itu untuk berenang di atmosfer?
"Apa yang kau pikirkan bodoh? Aku tak mungkin membiarkanmu terluka parah karena mereka! –" ucap Ophis sambil menatap kelompok Rias yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya "- yang pantas melukaimu hanya aku saja!"
"Hah?! Apaan itu?!Kau pikir aku masokis apa?"
Mengabaikan ucapan konyol yang keluar dari bibir manis Ophis. Berfokus pada kelompok Rias yang kini Peeragenya sudah berada disekitarnya, matanya tak lepas dari sosok Ophis yang kini perlahan mendarat di tanah dengan jemari tangan yang bertautan dengan jemari tangan Naruto yang kini berada disebelahnya – membulat tak percaya atas apa yang ia lihat saat ini
Yang ada dikepalanya saat ini adalah itu Ophis kan?! Sang Ouroboros Dragon itu?! Serta pertanyaan retoris lainnya. Bahkan Sona dan Tsubaki yang berada disebelahnya memasang ekspresi yang serupa
Berbeda dengan Serafall Leviathan – Maou bergender perempuan itu masih memasang ekspresi datar meski keringat dingin serasa membasahi dahinya ketika menyadari sosok overpowered berada didepan matanya. Ia akui – jika sosok didepannya jauh lebih kuat darinya, namun kemunculannya bukan berarti sebuah pertanda yang buruk kan?
"Ophis!"
Suara itu terdengar begitu lantang dari atas udara, membuat Ophis dan Naruto yang berada disebelahnya menoleh ke tempat dimana suara itu berasal
Ophis tersenyum simpul, ketika sorot matanya mendapati sosok tiga petinggi fraksi yang melayang diudara. Terlebih pada sosok Azazel yang cukup kaget akan keberadaannya yang datang secara tiba-tiba disini
"Azazel kah?"
"O-Ophis?!"
Disisi lain Azazel pun merasa cukup terkejut atas kedatangan Ophis yang secara tidak terduga, meski ia tahu motif apa yang Ophis punya hingga rela datang kesini. Namun bukan berarti ia melanggar apa yang ia katakan sebelumnya bukan?
Azazel bilang bahwa Ophis tidak perlu ikut campur dalam masalah ini, namun apa? Bukankah jika masuk kesini hingga menghancurkan Kekkai utama yang melindungi tempat ini sama saja dengan ikut campur?
"Jadi, dia Ophis si Ouroboros Dragon itu?"
"Kau benar Michael-dono" Sirzech sendiri cukup terkejut atas apa yang terjadi disini, melihat adik kesayangannya yang awalnya tengah bertarung dengan sosok yang bernama Naruto itu saja sudah cukup. lalu ini? Ophis?
"Ophis! Bukankah sudah kubilang sebelumnya agar kau tidak ikut campur dalam urusan ini?" sarat nada yang Azazel keluarkan agak meninggi agar terdengar oleh Ophis juga Naruto yang berada dibawah sana
Ophis tersenyum miring seolah mengejek apa yang dibicarakan Azazel beberapa detik yang lalu "Kau pikir aku tak perlu ikut campur begitu? Uzuki hanya milikku dan dia sedang dalam bahaya! Itu sudah termasuk alasan yang besar mengapa aku datang ketempat menyebalkan seperti ini!" ucapnya dengan lantang sambil menatap Azazel yang masih berada diatas udara bersama Sirzech dan Michael disampingnya
"Tapi yang kau katakan waktu itu –"
"Kau hanya memanfaatkan Uzuki-ku Azazel!"
"Itu tidak seperti yang kau pikir –"
"Lalu kenapa kau menempatkan Uzuki kedalam keadaaan yang seperti ini? Uzuki-ku tengah diserang iblis rendahan yang tak tahu diri? Dan kau meminta bantuan pada Uzuki untuk menjaga pertemuan bodoh seperti ini namun sekutumu sendiri menyerang Uzuki yang kau pinjam bantuannya? Kau pikir aku bodoh apa?! –"
"- sejak awal aku memang curiga, karena itulah aku datang kesini menjamin keselamatan Uzuki-ku!"
"A-Apa?"
Seketika Serafall Leviathan membulatkan matanya bersamaan dengan Tsubaki dan Sona yang memasang ekspresi yang sama terkejutnya dengan sang Maou Leviathan. Ucapan yang baru saja dikatakan Ophis terasa begitu mengejutkan mengingat mereka merupakan iblis yang dimaksud Ophis
Dan lebih dari itu – Uzumaki Naruto yang awalnya mereka curigai itu adalah bala bantuan dari pihak Azazel? Yang nyawanya dijamin oleh seorang naga yang paling ditakuti?!
Ini terdengar sedikit agak gila!
Disamping itu kawanan Rias hanya memasang ekspresi yang berbeda – Issei dengan keringat dinginnya ketika merasakan hawa yang berbeda dari Ophis yang tentunya berbeda dibanding Hakuryuukou sang Rival abadi, Yuuto dan Koneko yang memasang wajah serius ditambah keringat dingin yang mengucur dari pelipis, juga Akeno dan Rias yang memasang wajah tak percaya jika yang ada didepan mereka itu adalah Ophis sang Mugen no Ryuujin
"Ophis... kau hanya salah sangka, aku Cuma hanya ingin memberitahu mereka bahwa aku ini bala bantuan dari pihak Azazel"
"Aku bisa melihatmu Uzuki no baka! Apa yang dikatakan naga merah palsu itu serasa membuat telingaku panas mendengarnya, naga merah yang kukenal hanyalah Red-chan saja"
Naruto terdiam, ketika Ophis menyebut nama Great Red dengan nada yang berbeda. Lagipula nama Great Red sendiri terdengar begitu sensitif di telinga banyak orang, tak terkecuali Naruto sendiri
Keadaan semakin mencekam ketika tak ada satupun yang berniat untuk mengeluarkan suara sekedar untuk memecah keheningan. Rias hanya bisa menyuruh peeragenya untuk mundur perlahan dan menjauhi Naruto yang sebelumnya mereka serang dan berlindung didekat Serafall dan Sona. Disamping itu tatapan Ophis yang menajam kearah Azazel yang berada diatas udara serasa tak berhenti
"Sekarang apa yang kau inginkan Ophis? Kau tidak bermaksud membunuh iblis yang kau maksud dengan ular-ularmu bukan?" Azazel mencoba merentangkan keenam pasang sayap hitamnya sembari mengeluarkan belati kecil dari sakunya
"Kau menantangku Azazel? Kau pikir Fafnir bisa mengalahkanku?"
"Aku tidak bilang begitu, namun aku punya berbagai cara untuk bisa menghentikanmu!" belati yang dipegang Azazel mengeluarkan pendaran cahaya yang begitu terang hingga membuat tubuhnya kini dibalut armor emas kehitaman ditambah enam pasang sayap yang mengembang dibelakangnya. Sirzech dan Michael yang berada disekitarnya hanya bisa mundur kebelakang
Disisi lain, Naruto tidak menyangka jika semua akan berakhir seperti ini hanya karena dirinya! Azazel ingin bertarung dengan Ophis?
*Zwuuuuush~!*
.
.
.
*Zwuuuuush~!*
*Braaaak~!*
Semua pasang mata kini menatap tak percaya atas apa yang terjadi pada Azazel saat ini...
Bagaimana tidak? Vali sang Hakuryuukou tiba-tiba muncul dari arah lain dan melesat dengan kecepatan tinggi dan menabrakkan dirinya kearah Azazel yang berniat menyerang Ophis hingga keduanya jatuh ke tanah dengan begitu amat kuat
*Divide! Divide! Divide!*
Dengungan suara yang berulang kali terdengar ditelinga itu seakan menyerap kekuatan Azazel hingga membuat Armor yang dikenakan Azazel lenyap menjadi pecahan cahaya dan kembali pada perawakan aslinya
"V-Vali, kau tidak sedang menggangguku bukan?"
"Jangan bodoh, sehebat apapun dirimu kau tidak akan pernah bisa mengalahkan Ophis. Atau setidaknya kau bisa menganggap aku sedang menyelamatkanmu"
Apa yang saat ini dilakukan oleh Vali tak ada satupun yang mau mengomentari atau sekedar mengeluarkan suara sedikitpun. Dua petinggi fraksi yang berada diatas udara maupun Serafall, Sona dan Rias tak ada yang berani mengeluarkan suara dan hanya menatapnya dengan tatapan berat
Azazel kini terlentang diatas tanah dengan tubuh yang tak lagi berbalut armor dari Sacred Gear yang ia miliki yaitu belati kecil yang kini berada ditangannya. Meski tidak mengalami luka yang begitu berat akibat tabrakan yang sangat kuat, namun tubuhnya terasa sulit untuk bangun mengingat Vali menghisap kekuatannya dengan Divine Dividing yang ia miliki
Sementara Vali sendiri? Tubuh yang berlapis armor putih itu kini menghadap kearah Ophis dan Naruto berada, entah ekspresi apa yang saat ini ia tampilkan namun kedua tangannya bisa dipastikan terkepal erat
"Ophis, kurasa sudah bukan urusanmu jika ikut campur dalam hal seperti ini"
"Vali kah? Lama tak bertemu semenjak kau meninggalkanku saat itu. Kau kembali muncul didepanku bukan berarti kau mencoba mengambil kepercayaanku kan? Hakuryuukou?"
Apa yang dibicarakan antara Vali dan Ophis membuat Naruto tidak mengerti sama sekali, sekilas mereka berdua terlihat seperti pernah sebelumnya
Naruto sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya diam dan mendengarkan saja apa yang ada didepan matanya
Sejenak matanya bertatapan langsung dengan Vali. Entah seperti ada perasaan yang terasa begitu berbeda?
"Vali!"
"..."
Tak ada tanggapan atau atensi yang dikeluarkan Vali saat ini, namun tangannya kini terasa bergetar entah karena sesuatu yang Naruto tidak ketahui
"Vali..."
"..."
"Ophis!" Helmet dari armor yang dikenakan Vali perlahan terbuka menampilkan wajah aslinya saat ini, tatapannya seakan begitu menajam pada Ophis yang berada disamping Naruto "Katakan padaku! Apa yang kau lakukan disini dan apa maumu?"
"Nada suaramu terdengar marah, apa kau masih dendam pada gadis yang aku bunuh saat itu?"
"Cih!"
Vali mendecih kesal, ekspresi yang ia tampilkan saat ini terasa berbeda
"Lupakan tentang itu. Aku tahu jika empat petinggi fraksi yang ada disini belum tentu bisa mengalahkanmu dengan mudah, jadi katakan apa yang membuatmu datang kesini dan apa maumu?"
"..."
"Aku datang kesini hanya membela Uzuki saja –"
"- lagipula aku tidak rela jika Uzuki dimanfaatkan Azazel dengan seenaknya!"
Mendengar namanya terpanggil, membuat Azazel yang kini terduduk ditanah mencoba membela diri "Sudah kubilang itu tidak seperti yang kau pikirkan –"
"Lalu kenapa kau menempatkan Uzuki dalam keadaan seperti tadi? Kau meminta bantuan pada Naruto tapi kenapa kau tidak bilang jika Naruto adalah bala bantuanmu?"
"Tunggu dulu! –" Vali mencoba membuka suara, dikepalanya kini ada banyak pertanyaan yang siap ditujukan pada Azazel "- apa maksudmu Azazel?"
Azazel mendesah pelan...
"padahal ini hanya kesalahan kecil, namun aku tak menyangka jika bisa menjadi besar seperti ini –"
"- sebelumnya maafkan aku, aku akan menjelaskannya sekarang!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan sekarang...
Keadaan sedikit lebih tenang dari yang sebelumnya. Penyerangan para penyihir yang didalangi oleh Katerea Leviathan pun berakhir dengan selesai, meski memakan kerusakan yang cukup besar dan pasukan dari tiga fraksi yang hanya tersisa beberapa lagi – namun itu dirasa lebih dari cukup
Dan soal Naruto pun bisa diselesaikan atas penjelasan Azazel yang cukup memakan waktu, meski awalnya ia menyayangkan sikap Rias, Sona dan Serafall yang tiba-tiba menyerang Naruto dan menuduhnya sebagai salah satu dari penyerangan pertemuan ini – namun nyatanya apa yang mereka duga berakhir dengan sebuah kesalahan
Azazel menjelaskan pada mereka semua bahwa Naruto adalah bala bantuannya yang awalnya menjaga dari luar lalu menyuruhnya masuk ke dalam untuk membantu Rias dan yang lainnya – namun ia tidak menyangka jika Naruto dicurigai sebagai musuh hingga diserang dengan alasan yang tidak jelas
Ketika Azazel mengatakan bahwa para penyihir juga tidak hanya berada didalam kekkai namun juga berada diluar kekkai, awalnya Sirzech dan Michael tidak menyangka jika diluar kekkai pun masih ada beberapa penyihir yang berjaga-jaga, namun mereka bisa lega ketika mendengar bahwa Naruto yang mengatasinya
Dan untuk Ophis sendiri? Berterima kasihlah pada Naruto karena pemuda pirang itu bisa menenangkan sang Mugen no Ryuujin yang awalnya berniat untuk memusnahkan Rias serta anak-anaknya yang seenaknya menyerang Naruto
Pertemuan tiga fraksi ini pun berakhir. Atas persetujuan langsung dari tiga petinggi fraksi, perjanjian damai pun berhasil dilakukan dan mulai berlaku
"Ophis..."
Berfokus pada gedung atap sekolah, nada suara yang memanggil itu mengalun pelan, memaksa sang Ouroboros Dragon yang notabene tengah berdiri dipinggir pagar pembatas menoleh keasal suara
Uzumaki Naruto – pemuda itu tak lagi dipenuhi dengan chakra oranye, hanya ada pakaian yang lusuh saja
"Boleh aku tanya satu hal padamu..."
"Boleh saja, selagi aku bisa menjawabnya"
Ini kesempatan bagus bagi Naruto. Sebenarnya ada sebuah pertanyaan yang terus berputar dikepalanya tanpa henti – pertanyaan tentang apa sebenarnya hubungan Vali dengan gadis loli itu
"Aku pernah diceritakan Great Red sebelumnya, Vali itu bukan sosok yang pernah meninggalkanmu tanpa alasan itu bukan?"
"..."
"Sebenarnya sih bukan meninggalkan tanpa alasan, tapi pergi dan mengkhianatiku –"
"- Cih! Red-chan cerewet juga ternyata!"
"Tunggu dulu! Sebenarnya apa hubunganmu dengan Vali" Naruto mulai maju selangkah, rasa penasarannya benar-benar membuatnya tak tahan untuk bertanya sekarang
Ophis membalikkan tubuhnya menghadap kearah Naruto berada sekarang, pandangan matanya enggan untuk melihat Naruto secara langsung dan memilih menatap langit yang tak lagi dilindungi dengan sebuah kekkai besar "Dia itu membenciku, ketika teman-temannya berkhianat dan hanya memanfaatkan kekuatanku saja, aku membunuh mereka didepan mata Vali, namun aku tak menyangka jika salah satu temannya itu ada sosok yang pernah ia cintai sebelumnya"
"Ophis?"
Tubuh Ophis mulai melayang diatas udara, untuk kali ini mata mereka berdua saling bertatapan sebelum Ophis pergi entah kemana "Lain kali jangan tanyakan soal gadis yang bernama Kuroka padanya. Dan ingatlah, dimanapun kau berada maka aku pasti akan tahu dimana dirimu, Uzuki" setelah mengakhiri ucapannya, Ophis lalu pergi menghilang entah kemana
Naruto terdiam untuk beberapa saat, sejenak langkah kakinya membawanya ke pagar pembatas dan menatap ke bawah – tiga petinggi fraksi yang bercengkrama serta Rias dan Sona serta peerage mereka
Naruto tersenyum simpul. Mau bagaimanapun, ia terlepas dari fitnah yang awalnya melingkarinya. Lagipula bukankah berlebihan jika dirinya dianggap sebagai musuh yang membantu para penyihir? Sedangkan dirinya sendiri sudah membunuh banyak penyihir?
Tanpa sadar pintu atap sekolah terbuka, menampilkan sosok Vali yang memasang ekspresi datar dan langkah yang mendekat kearah Naruto yang masih belum menyadari kehadirannya
"Naruto" nada pelan itu memaksa Naruto untuk menoleh kebelakang, mendapati sosok Vali yang menatapnya dengan pandangan datar
"..."
"Sebelumnya maafkan aku atas semua yang pernah kulakukan, seperti apa yang kulakukan pada Kurumi malam itu"
Naruto tersenyum masam, entah kenapa gambaran tentang malam dimana ia kembali datang ke dunia ini untuk yang kedua kalinya berputar dikepalanya "Yang itu...?" ucapnya datar
"Percayalah! Itu hanya kesalahpahamanmu saja! itu bukan berarti aku mau mencoba memiliki mini-harem hanya karena aku sudah memiliki Rize –"
"- Dan kumohon, kembalilah ke rumah. Aku tak tega melihat Kurumi selalu murung dikamarnya..."
Itu yang dikatakan Vali – ucapan maaf yang sebenarnya tidaklah berguna. Semua yang terjadi hanyalah kesalahpahaman Naruto yang tidak tahu bagaimana duduk permasalahannya di malam itu hingga berakhir menjadi seperti ini
Disisi lain, Naruto membalikkan badannya menghadap kearah Vali. Ada sedikit senyum optimis pada wajahnya yang cukup rupawan "Entah aku bingung ingin mengatakan apa, namun kurasa aku telah berlebihan pada kalian" Naruto tertawa pelan sambil menggaruk kepala belakangnya diikuti Vali yang tersenyum
"Ngomong-ngomong soal mereka berdua –"
"- ada yang ingin kukatakan padamu, soal Kurumi dan Rize"
.
.
.
.
.
Dan sekarang mereka berdua berada di bawah jembatan – tempat dimana Naruto membawa Rize dan Kurumi ke tempat yang ia rasa aman dari ancaman apapun
Sejenak Naruto tersenyum ketika Vali disambut dengan pelukan dari Rize. Wajar jika gadis bersurai ungu itu khawatir, mengingat ia tidak tahu bagaimana keadaan Vali selama berada di pertemuan itu sementara dirinya dan Kurumi ditinggalkan di apartemen
Sebelumnya Naruto menjelaskan pada Vali bahwa para penyihir yang menyerang pertemuan tiga petinggi fraksi itu juga menyerang Rize dan Kurumi, mereka tahu jika Kurumi mempunyai kekuatan yang hampir sama dengan salah satu peerage Rias yang membuatnya dapat bebas menghentikan aliran waktu. Dan saat ia bilang pada Vali bahwa apartemen mereka hancur karena ulah penyihir – Vali cukup terkejut dan sedikit agak marah walau akhirnya Naruto dapat menenangkannya
Dan sekarang?
*Hug!*
Naruto berdiri terdiam ketika sosok gadis manis bersurai hitam panjang dikuncir dua memeluknya dengan begitu erat, seolah tak ingin sosok yang ia peluk pergi lagi. Tokisaki Kurumi – entah ekspresi apa yang ada pada wajah manisnya saat ini karena ia menyembunyikannya pada dada bidang Naruto, namun Naruto bisa merasakan basahnya baju yang ia kenakan dimana Kurumi menyembunyikan wajahnya
Naruto mengelus lembut punggung Kurumi. Entah rasanya seperti lama sekali ia tak merasakan hal seperti ini semenjak ia pergi dari dunia ini hanya untuk membunuh sosok Kokabiel di dimensi lain
"Aku tak akan pergi lagi kok! Aku janji"
"Janji"
"Um!"
Janji kecil itu seakan mengerakkan niat Kurumi untuk menggerakkan kepalanya menghadap kearah Naruto. Mata mereka berdua berpandangan cukup lama sebelum wajah mereka semakin dekat dan hawa dari deru nafas masing-masing begitu terasa satu sama lain
"Naruto~ cium aku..."
"A-Are? Vali dan Rize sedang melihat kita loh!" sejenak Naruto bisa merasakan sosok Vali dan Rize yang tengah menatap mereka dengan senyum yang mencoba menggoda mereka berdua
"Aku tidak peduli!"
Bibir mereka semakin terasa begitu dekat satu sama lain, wajah Naruto yang memerah sementara Kurumi yang memejamkan matanya dengan bibirnya yang telah basah karena liurnya sendiri
*Cup!*
"Va-Vali-kun?! Me-Mereka ciuman!"
"Boleh juga si Naruto, tapi aku tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukannya sih"
Dan begitulah...
Satu malam yang panjang untuk menyelesaikan berbagai masalah yang bisa dibilang cukup membuat pusing kepala, juga kesalahpahaman antara empat sosok yang berada dibawah jembatan itu – Naruto, Vali, Kurumi dan Rize – yang juga berujung dengan selesai. Toh lagipula memang Naruto yang terlalu keras kepala
Jadi, apa masalah selanjutnya?
::
::
::
::
[ To Be Continued... ]
::
::
::
::
[ A/N ] :: masih perlu banyak kritikan! Chapter yang buruk untuk seorang Hana Natsuki – kurasa...? [Maaf jika tidak bisa membalas review sebelumnya, balasan review akan muncul di Chapter selanjutnya yang entah kapan bakalan update] [Aku benar-benar meminta maaf atas semuanya...]
.
Bye Bee~
.
- Sign :: Hana Natsuki
