- 02.00 am
Bokongnya agak sedikit terasa panas, saat ia menyadari bahwa ia sudah sedari tadi berada di sini, di bawah jembatan kota, dengan sungai yang mengalir di bawahnya. Ia akan sepenuhnya dilanda rasa kantuk, jika seandainya pria paruh baya di sebelahnya tidak memanfaatkannya sebagai teman bicara di dini hari.
"Boleh aku pulang, Azazel? Kau harusnya tahu jika ini bukan waktu yang tepat untuk seorang remaja sepertiku"
"Hee ... seperti itu kah?"
Pria di sebelahnya adalah Azazel, pemimpin datenshi.
"Tentu saja bodoh"
"Kurasa tidak hanya itu. Kau pasti mendapat jatah dari gadis heterochromia itu pastinya. Ya, itu pasti. Kalian sudah lama tak bertemu bukan?"
"Apa maksudmu?"
"Oh ayolah. Jangan munafik. Aku tahu kau soal ini" Azazel mengucapkan itu dengan membuat lingkaran dengan jari tangan kirinya, lalu telunjuk tangan kanannya memasuki sisi lingkaran yang ia buat dengan jemarinya. Sontak membuat Naruto menjadi memerah sendiri.
"Hey! kenapa sampai sejauh itu bayanganmu?!"
"Itu faktanya. Kau tahu, sebenarnya, perempuan di saat sedang dalam modenya akan lebih mengerikan dibanding laki-laki. Kau mengerti kan?"
"Idiih ... Entah mengapa aku bisa menebak mengapa kau bisa menjadi seorang datenshi"
"Hahahah. Mau bagaimana lagi? Aku tergoda pada dada besarnya Gabriel"
"Dih!"
.
.
.
.
Disclaimer (c) Masashi Kishimoto, Ichie Ishibumi
Chapter 31 : After – I'll Be Back
.
.
.
.
Malam ini, Naruto menikmati malam hari dengan angin yang menusuk bagai duri. Bersama Azazel, dengan satu gelas kopi hangat yang dibawa oleh bunshinnya yang sebelumnya mampir ke sebuah kafe.
Menatapi riak air yang terlihat menawan di bawah cahaya bulan, sesekali tertawa saat Azazel menggerutu akibat malam ini, ikan-ikan kesayangannya bertambah besar di sungai di depan mereka, yang tentunya belum sempat untuk bisa ia tangkap.
"Maafkan aku, Naruto" Azazel mengatakan itu saat Naruto perlahan meminum kopi hangatnya. Ia melirik Azazel, wajah datenshi itu terlihat agak sedikit masam.
Itu agak sedikit membingungkan bagi Naruto sendiri. Ia jarang mendengar Azazel meminta maaf padanya. Apa yang mereka lakukan tidak lebih sebagai rekan saja, jika seandainya Azazel meminta maaf atas apa yang baru saja terjadi.
"Maaf untuk apa?"
"Untuk segalanya, kurasa"
"Hey hey! Jangan seperti itu. Kau seolah ingin pergi dan tak akan bertemu lagi denganku jika kau berkata seperti itu"
Azazel tertawa hambar saat mendengar respon Naruto.
Azazel sadar, bahwa semuanya telah salah dari awal. Dalam hal ini adalah Naruto. Remaja ini, pemuda pirang yang tengah duduk di sampingnya ini mungkin saja tak akan pernah ada di sini, di sebelahnya jika ia tidak melakukan sesuatu di masa lalu. Menciptakan sacred gear yang berakhir dengan gagal misalnya?
"Tidak. Aku serius"
Naruto seketika terdiam sambil menatapnya.
Azazel tahu. Ini semua karenanya. Hanya karena sacred gear yang gagal itu, membuat ia merusak kehidupan orang lain dan terpisah dari kampung halamannya. Ia tidak tahu, bagaimana dan dunia macam apa yang Naruto tinggali sebelumnya. Namun saat menyadari, jika Naruto adalah manusia dari dunia lain yang datang akibat kesalahan sacred gear ciptaannya yang dicuri oleh Kokabiel, ia benar-benar merasa bahwa terkadang apa yang ia ciptakan membawa keburukan pada orang lain.
"Azazel?"
"Aku mengerti sekarang, apa yang kau maksud dengan mempermainkanku tempo hari. Sungguh, aku benar-benar minta maaf. Kau tahu, bahwa kau akan percuma padaku jika bertanya bagaimana kau menyelesaikan masalah pribadimu"
"Sebentar Azazel. Apa yang kau maksud?"
"Aku berbicara tentang cincin yang membawamu ke dunia ini. Kokabiel menghancurkannya bukan?"
Naruto terkejut awalnya. Namun setelah beberapa detik, ia mengangguk dan membungkukkan kepalanya. Ia mengerti.
"Kau tahu kalau aku bisa menebaknya. Karena jika kau mendapatkannya, maka seharusnya kita tidak bertemu dan membantuku melewati masalah bukan?"
"Hahaha ..."
Tawa itu cukup terasa hambar, keluar dari mulut Naruto.
"Satu hal yang perlu kau tahu Azazel, ketika aku menyadari apa yang kau maksud, aku sudah terlebih dahulu menyerah untuk pulang ke rumahku. Akan lebih bodoh lagi jika aku bertanya padamu soal bagaimana caraku pulang, karena itu tidak ada gunanya. Kau datenshi yang jenius, yang mampu membuat benda menyebalkan seperti cincin itu. Tapi di satu sisi, kau adalah datenshi idiot"
Azazel cukup terkejut saat Naruto mengatakan bahwa ia adalah datenshi idiot. Mungkin bisa saja ia sedikit emosi, namun di satu sisi, ia membenarkan apa yang dikatakan oleh Naruto. Ia memang idiot. Ia mampu membuat benda itu, tapi ia tak mampu membuat penangkalnya.
Ini semua tidak lebih dari perang dingin antara tiga fraksi sebelum Naruto datang ke dunia ini. Semua fraksi waspada dan bersiaga terhadap fraksi lain. Di samping itu, Azazel sebagai pemimpin salah satu fraksi, sebisa mungkin ia membuat banyak sacred gear ciptaannya sendiri untuk antisipasi jika seandainya peperangan pecah lagi.
Ia bahkan tahu, jika rencana membuat banyak sacred gear itu mengorbankan banyak manusia yang memegang sacred gear yang asli, yang diciptakan oleh Tuhan.
Namun untuk sekarang, ia rasa, sudah sepantasnya ia mendapatkan perasaan seperti ini. Ini adalah balasannya atas apa yang ia perbuat.
"Kau benar, aku memang idiot"
Mereka lalu tertawa bersama, meski tawa mereka benar-benar bukan tawa bahagia.
.
.
.
.
"Apa nama cincin itu?"
Pertanyaan itu muncul saat Naruto melempar batu kecil menuju sungai. Azazel meliriknya, melihat Naruto hanya tersenyum simpul dengan tatap netra yang sayu.
"Eh? apa aku pernah mengatakannya padamu?"
"Entahlah …"
"... Ring of Chaos, kurasa. Penamaan yang buruk ya?"
"Tentu saja. Nama yang buruk. Sesuai dengan namanya, mengacaukan kehidupanku"
"Hahahahah"
Tawa itu muncul lagi untuk yang kesekian kalinya. Hanya tawa halus dari Naruto. Sorot matanya sendu saat menangkap ikan yang ada di sungai telah hilang dari penglihatannya.
Ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Azazel sebagai akar dari masalahnya, begitupun menyalahkan Kokabiel. Namun tetap saja, mereka semua salah, dunia juga tentunya salah, sama sepertinya.
Ia bahkan kadang berpikir, apa yang sebenarnya ingin menghajar Kokabiel dulu saat mereka pertama kalo bertemu?
Lebih-lebih, mengapa Kokabiel pergi ke Elemental World?
"Azazel, ada yang ingin kutanyakan padamu"
"Katakan apa itu?"
"Apa yang sebenarnya diinginkan Kokabiel?"
"Kokabiel?"
"Ini tentang cincin itu. Aku penasaran mengapa ia mencuri benda sial itu darimu"
Azazel tersenyum simpul. Entah mengapa ia teringat pada Kokabiel yang dulu pernah menurut padanya.
"Kau tahu, Kokabiel pernah menurut padaku, pada semua yang kukatakan dan kuperintahkan padanya. Meski sebenarnya, aku tak sadar jika ada sesuatu yang ia inginkan dariku"
"Sesuatu yang ia inginkan?"
"Ring of Chaos. Ia mendapatkan itu setelah aku menaruh kepercayaan padanya atas apa yang ia lakukan untukku. Hingga akhirnya aku tahu jika ia mencuri benda itu dariku lalu pergi"
"Lalu sebenarnya untuk apa benda itu? Jika kau membuat benda itu untuk antisipasi dari serangan tiba-tiba dari fraksi lain sebelum aliansi tiga fraksi terbentuk, maka aku sudah menduganya terlebih dahulu. Tapi ini tentang Kokabiel. Apa kau tahu apa yang ada di kepalanya?"
"Dia hanya datenshi yang hidup dengan membawa dendam. Yang ia rencanakan tidak lebih dari berdirinya Great War tahap yang baru, atas tak adanya kemenangan yang diraih dari peperangan sebelumnya"
"Sebentar. Jadi, tak ada yang menang?"
"Tak ada. Yang ada hanya berakhir dengan sengsara dan menurunnya populasi dari tiga fraksi"
"Heh …"
Naruto tersenyum simpul. Jadi, di awal pertemuannya dengan Rias saat itu, Rias berkata jujur. Tak ia sangka. Iblis ternyata baik juga.
Ya, tentu saja. Tak ada satupun yang tahu tentang kebenaran dunia. Iblis pun bisa baik melebihi kebaikan seorang Manusia.
"Kokabiel benci pada itu. Jika aku adalah pribadi yang senang dengan kedamaian, maka Kokabiel adalah kebalikanku. Maka dari itu ia mencuri sacred gear itu sebagai jalan terakhir jika ancaman terbesar akan terjadi padanya"
"Ja-jadi?"
"Kau benar. Puncaknya adalah penyerangan yang terjadi di Kuoh Academy, dengan membunuh Rias Gremory dan Sona Sitri dan menjadikan fraksi datenshi sebagai kambing hitamnya untuk mendirikan peperangan yang baru. Lalu sacred gear itu berguna untuk membuatnya pergi dengan cepat jika ia terdesak. —"
"—Sayangnya itu gagal karena kau dan Vali"
"Sebentar, bagaimana dengan adiknya Kokabiel? Kau tahu jika Vali yang membunuhnya bukan?"
"Aku tak tahu tentang hubungan Kokabiel dengan adiknya. Tapi itu bisa kau lihat bagaimana reaksi Kokabiel saat melihat pedang yang dipegang Vali"
"..."
Naruto tahu. Masalah yang terjadi terbilang cukup sederhana. Namun ia tak menyangka jika akan selebar ini. Entah mengapa ia rasa dendam selalu membawa masalah yang besar, dan itu pernah terjadi di dunianya.
Lebih dari itu, ia bersyukur Kokabiel mati di tangannya, dan aliansi dari tiga fraksi berhasil dibentuk.
Naruto lalu beranjak berdiri, membuat Azazel yang duduk di sebelahnya seketika menoleh dan menatapnya datar. Tak ada suara, hanya senyum tipis, sebelum akhirnya Naruto melempar satu pertanyaan sebelum melenggang pergi.
"Satu hal yang kutanyakan padamu, Azazel"
"Katakanlah …."
"Apa kau bisa mengembalikanku?"
"Kau sudah tahu jawabannya, Naruto"
"Lalu, apa kau akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku?"
"Datanglah ke sini besok malam, maka aku akan menjelaskannya padamu tentang informasi yang tak berguna"
Naruto awalnya menoleh ke Azazel, dan mendapati senyum misterius dari petinggi datenshi itu. Tak ada kata yang keluar setelahnya, lalu akhirnya Naruto melenggang pergi dan meninggalkan Azazel sendirian.
"Selamat malam …."
"Ya, kuharap pagi nanti akan jadi menyenangkan"
.
.
.
.
.
.
Naruto tersenyum kecut saat setelah ia meninggalkan Azazel sendirian, ia malah bertemu dengan gadis kecil berpakaian gothic lolita di jalanan sepi.
"Ophis …."
"Bagaimana malammu, Uzuki?"
Ia hanya mendengus saat gadis itu menyapa. Senyumnya bisa jadi memikat pedofil yang selalu menguntit anak TK, namun untuk Naruto, Naruto tak akan tergoda semudah itu. Ia bukan pedofil.
"Apa yang kau inginkan? Aku ngantuk tahu"
"Aku juga tidak ingin berlama-lama di sini"
"Eh?"
Ketika Naruto mencoba memperhatikan Ophis lebih detil lagi, ia sadar, naga loli itu sedang tidak dalam waktu senggang. Naruto tersenyum simpul. Ia tak tahu apa yang terjadi. Namun setidaknya, ini tidak membutuhkan waktu yang lama.
Naruto lalu melangkah mendekat, membuat Ophis hanya mampu menatapnya bingung. Tak ada yang bersuara, sebelum akhirnya Naruto mengelus rambut hitam Ophis dengan telapak tangannya.
"Makasih ya, Ophis"
*Plaak!*
"Eh?"
"Aku datang padamu bukan untuk menunggu kata terima kasih darimu, bego"
Naruto terdiam saat tangannya ditepis Ophis dengan cepat. Ia awalnya kebingungan. Jika Ophis tidak suka diperlakukan seperti itu, maka seharusnya ekspresinya sekarang adalah ekspresi tidak suka. Bukan malah bermain senyum penuh tanya seperti sekarang.
"Lalu untuk apa?"
"Katakan padaku, apa yang kau bicarakan dengan Azazel?"
"Dih. Dasar penguntit"
"A-apa yang kau katakan?! Aku hanya tidak ingin ia memanfaatkanmu lagi dan terjadi hal-hal yang tak diinginkan"
Hal yang tak diinginkan yang dimaksud Ophis adalah hal yang terjadi pada Naruto saat invasi yang terjadi saat pembentukan aliansi tiga fraksi, di mana ia yang awalnya bala bantuan dari pihak Azazel, malah dianggap musuh oleh pihak Iblis.
Mau bagaimanapun itu telah terjadi. Jika seandainya Ophis tak menghentikan mereka, maka Naruto akan terjebak dalam situasi yang merepotkan dan menunggu Azazel datang dan menjelaskan semuanya.
Naruto hanya mampu menatap Ophis dengan pandang lembut. Ia tak menyangka, jika manusia hina sepertinya akan dijaga oleh moefikasi naga yang paling ditakuti. Ya, secara tidak langsung, Ophis memberikan itu pada Naruto.
"Tak ada yang spesial"
"Sungguh?"
"Tentu saja. Mungkin nanti malam aku akan mendatanginya untuk menagih janji darinya"
"Janji?"
"Ia akan memberikan informasi yang tak berguna katanya"
"Aku ikut"
"Ha?"
"Kau hanyalah milikku. Aku tak ingin hak akan kepemilikan seorang Uzumaki Naruto jatuh pada Azazel"
"Kau pikir aku budak atau apa?!"
"Kalau begitu, sampai jumpa, Uzuki"
Lalu setelahnya, Ophis menghilang dengan caranya sendiri, meninggalkan Naruto dalm sunyinya jalan di kota Kuoh ini.
Dasar! Sebenarnya, apa yang diinginkan naga itu?
.
.
.
.
'Kalian lebih baik pulang terlebih dahulu, ada sesuatu yang ingin kulakukan'
Hanya itu yang Naruto ingat, saat ia kini berdiri di apartemennya, apartemen yang telah memberikan banyak kenangan di dalamnya. Tatapnya berubah sendu saat ia melihat seluruh lampu di dalamnya telah redup.
'Kau mau kemana, Naruto?'
'Tenang saja. Aku akan kembali'
Naruto tersenyum sendiri, saat ia mengingat ucapannya beberapa waktu lalu. Ia merasa berdosa sendiri saat seakan ia mengeluarkan kata-kata yang membuatnya seperti ingin pergi lagi dari mereka bertiga; Vali, Rize dan Kurumi.
Hari masih gelap. Mungkin sekitar jam tiga pagi. Naruto tersenyum untuk satu waktu. Melangkah dengan pasti, dalam hati yang meneguh, Naruto perlahan memegang knop pintu.
Ia mencoba memperkirakan apa yang terjadi setelah ia memutar dan mendorong apa yang kini ia pegang, semacam; kejutan? Atau bahkan teriakan 'selamat datang!' dan beberapa piring masakan Rize yang menghiasi meja makan. Naruto sempat berpikir seperti itu. Namun saat ia menyadari bahwa sekarang bukan waktu yang pas untuk melakukan hal seperti itu, Naruto tertawa renyah, lalu membuka pintu.
"Aku pulang …." ucap Naruto lirih. Tak ada niat untuk membangunkan semuanya. Lebih-lebih, kenapa pintu tidak dikunci?
Apa yang ia lihat pertama kali adalah ruangan yang gelap, namun bukan berarti ia tidak bisa melihat seluruh ruangan. Tak ada suara. Keheningan melingkupi apartemen yang telah lama tak ia tinggali ini.
Namun bukan itu yang menjadi keterkejutan Naruto.
"Selamat datang …."
Adalah Tokisaki Kurumi, gadis rambut hitam yang duduk di kursi meja makan. Piyama putih membalut tubuhnya yang putih tanpa noda sedikitpun. Menatap Naruto, menatap sendu seakan apa yang telah lama ia inginkan kini telah ia dapatkan.
Naruto masih terdiam berdiri di sana. Tak ada gerakan. Keterkejutannya membuat tubuhnya kaku sejenak, sebelum akhirnya ia memperlihatkan senyum lembut dengan mata yang sayu. Menutup pintu, melangkah mendekati Kurumi, dan duduk di kursi yang berseberangan.
"Mana mereka berdua?"
"Mereka berdua tidur di kamarnya. Aku terbangun karena suara kasur yang ribut dari kamar mereka sekitar dua jam yang lalu"
"A-apa?"
Naruto berkeringat dingin. Sebentar, apa Kurumi mengetahui tentang itu?
"Sudah kubilang, mereka—"
"Lupakan, lupakan. Jangan ingat lagi"
"Hihihi …."
Naruto terpaku, terkesima saat Kurumi tertawa halus. Telapak tangannya menutupi mulut yang terbuka melepas tawa. Seketika Naruto membuang wajahnya ke arah lain. Sungguh, ia tidak bisa menahan panas yang merambat di kedua pipinya.
"Naruto?"
"I-iya?"
"Mau kubuatkan teh?"
"Aku akan berterima kasih untuk itu"
.
.
.
.
Naruto terdiam, saat hangat akan aroma teh menelusup masuk mengganggu indra penciumannya. Kedua tangannya kini berpegangan pada mug di depannya. Hangat, hangat akan teh seakan menghangatkan tubuhnya yang mendingin.
Naruto menatap Kurumi di hadapannya, terdiam dengan dagu bertopang tangan. Pandang matanya menatap sayu, membuat Naruto terpaku pada mata merahnya yang seakan menyala pada gelapnya hari.
"Kurumi ..."
"Hmm ..."
"Maafkan aku"
Naruto mengatakan itu dengan lirih. Kepalanya tertunduk. Agak sedikit takut saat melihat Kurumi di seberangnya.
Naruto tak pernah berpikir jika pada akhirnya menjadi seperti ini. Mungkin ini semua memang salahnya. Terbawa pada perasaan yang salah, lalu berakhir dengan menjadi salah tingkah yang keterlaluan, dan menghindari mereka bertiga dengan perasaan yang sama sekali salah.
"Maaf untuk?"
"Segala kesalahanku"
"Naruto ..."
Naruto memberanikan diri untuk menatap Kurumi, saat namanya dipanggil begitu saja dengan suara lembut di pagi hari. Naruto mendapati sepasang bola mata yang berbeda yang kini menatap lembut padanya. Naruto tak yakin, namun ia tahu jika itu agak sedikit berkaca-kaca.
"Ku-Kurumi?"
Kurumi menggeleng. Ini tak apa. Biarkan air matanya jatuh ke sisi. Ia berterima kasih pada kebaikan dan kekhawatiran Naruto padanya. Ia tak apa, sungguh. Ini bukan apa-apa.
Di samping itu, Naruto menjadi tak enak hati.
Lalu setelahnya, Kurumi beranjak dari kursinya, membuat Naruto heran sendiri. Berjalan dan mendekati Naruto, lalu menyamakan tinggi badannya dengan Naruto yang sedang duduk di kursi, hangat akan napas di pagi hari terasa menusuk pori-pori saat mereka saling tatap muka dengan jarak yang cukup dekat. Naruto terdiam tanpa ekspresi. Terlebih saat Kurumi tersenyum padanya dalam air mata yang masih jatuh.
Sumpah, Naruto masih tak enak hati.
Naruto tak punya pilihan lain selain memeluknya. Ya, Naruto memeluknya. Melingkarkan kedua lengannya pada punggung Kurumi dan mendekapnya, membawa hangat akan peluk seorang Naruto. Naruto mengelus punggungnya saat Kurumi membalas pelukannya; itu terasa saat kedua lengan gadis itu melingkar di lehernya.
"Maaf, maafkan aku, sayang ..."
"Tak apa, aku memaafkanmu ..."
"Maaf, maaf, maaf atas semuanya ..."
"Hmm ... tak apa ..."
Mereka saling tatap satu sama lain, tenggelam pada manik yang berbeda dengan waktu yang cukup lama.
Naruto menatap Kurumi, terpaku pada manik yang berbeda ...
Naruto menciumnya, menyesap, merasakan lembut bibirnya ...
Tanpa nafsu, tanpa iblis di dalamnya. Hanya ada kasih, kasih dan sayang tentunya ...
Mereka berdua menikmati ciuman singkat itu dengan sepenuh hati sebelum akhirnya Kurumi melepasnya. Mereka menatap satu sama lain. Kurumi tersenyum, sementara Naruto mencoba menghapus air matanya yang masih menetes dan jatuh ke pipi.
"Mau lanjut ke kamar?"
"..."
.
.
.
.
Kurumi terjatuh ke atas kasur, saat Naruto mendorongnya begitu saja. Ia sama sekali tak marah, meski itu benar-benar kesengajaan Naruto padanya. Tubuhnya terbaring terlentang, menatap Naruto yang naik ke atas kasur dan merayap mendekatinya. Ia tersenyum.
"Kurumi ..."
Naruto kini berada di atas tubuhnya, menatap Kurumi dengan begitu lembut. Kedua tangannya yang menjadi penopang tubuhnya berada di sisi kepala Kurumi. Kurumi menatap Naruto dengan sorot mata yang pasrah. Tubuhnya benar-benar lemas, tak ada niat sedikitpun untuk bergerak.
"Apa ini tak apa untukmu? Terlepas dari umur kita yang belum pantas untuk melakukan ini" Naruto mengatakan itu saat kedua tangan Kurumi kini menyentuh pipinya. Naruto sadar, jika ini bukan waktu yang seharusnya melakukan ini dengan Kurumi.
"Tak apa, sungguh"
Naruto mendapati sama sekali tak ada keraguan dalam raut wajah Kurumi. Naruto tersenyum, lalu mendekati wajah gadis di bawahnya itu.
Naruto menciumnya, sekali lagi. Mencium Kurumi saat gadis itu kini mengalungkan lengannya pada leher Naruto. Mereka tenggelam dalam hangat akan kasih yang melingkup menyelimuti tubuh, merasakan nikmat akan cium yang terjalin.
"Mmmhh ..."
Naruto mencoba menelusup masuk ke dalam mulut Kurumi, mencampur liur dan menelusuri tiap sudut di dalamnya. Cukup terasa hambar dan agak sedikit aneh terasa, lebih-lebih saat Kurumi membuka matanya terkejut atas apa yang Naruto lakukan. Tak ada yang Naruto lakukan. Hanya saja, ia mencoba mengelus surai hitam Kurumi atas keterkejutan sang gadis atas apa yang ia lakukan.
Mereka melepas cium setelah beberapa menit terlewati. Mengambil napas untuk beberapa saat, Naruto menatap Kurumi dengan lembut saat gadis itu menatapnya dengan sayu. Bibir gadis itu masih terbuka, membuat Naruto tak tahan untuk menjilatinya dan menyesap liur yang menempel.
"Ah ..."
Menghentikan aksinya, Naruto perlahan mencoba melepas kancing piyama yang Kurumi kenakan dari atas ke bawah. Naruto terpaku sesaat saat seluruh kancing piyama milik Kurumi terlepas seluruhnya, mendapati tubuh putih bersih dengan bra menutupi dada. Naruto menatap Kurumi, gadis itu hanya terdiam dengan satu tangan menutupi wajah.
"Sa-sayang, i-ini memalukan ..."
"Tak apa ..."
Naruto perlahan membuka bra Kurumi secara perlahan, menampilkan satu bentuk yang indah yang mampu membangkitkan nafsu Naruto ke tahap yang lebih tinggi. Manik birunya menatap terkejut, terlebih kini wajah Kurumi benar-benar memerah sempurna.
"Kumohon, pelan-pelan ..."
Naruto menenggelamkan wajahnya pada dada Kurumi, membuat sang gadis hanya tertawa halus atas apa yang dilakukan Naruto pada asetnya itu. Ia mengelus rambu pirang Naruto. Sesekali mendesah tertahan saat Naruto menjilati kulit tubuhnya.
Tangan Naruto mencoba meremas lembut dada Kurumi, menikmati betapa nikmatnya ciptaan Tuhan yang kini tengah ia tiduri. Naruto tersenyum simpul saat Kurumi kembali mendesah. Cukup geli di telinganya.
Naruto lalu naik ke atas, menjilati leher Kurumi dengan lidahnya, mencoba mencari titik sensitif dari seorang Kurumi. Jilatan Naruto pada lehernya membuat Kurumi memejamkan matanya dengan tubuh yang menegang, bahkan ia sedikit melenguh panjang saat Naruto mengigit kulit lehernya secara pelan.
"Uh ... Sayang ... kenapa digigit?"
"Kau suka kan?"
"..."
Pada akhirnya Kurumi tak membalasnya. Naruto tersenyum.
Naruto perlahan turun ke bawah, menjilati tiap inchi tubuh Kurumi dari leher hingga ke pusar, membuat Kurumi merasa geli sendiri atas apa yang dilakukan Naruto padanya. Ia tersenyum. Ia sedikit melirik ke bawah dan mendapati Naruto yang perlahan mencoba menarik celananya.
"Sayang ..."
"Tak apa. Aku akan berhati-hati"
Pada akhirnya Naruto menarik celana Kurumi hingga terlepas. Ia terpaku pada saat Kurumi sama sekali tak memakai celana dalam dibalik celananya. Lantas ia menatap Kurumi. Gadis itu hanya memberikan tatap lembut padanya, dengan sedikit diiringi senyum tipis.
Naruto lalu mendekat pada selangkangan Kurumi, mencoba mengeluarkan lidahnya dan menjilati selangkangan Kurumi yang agak sedikit basah atas apa yang Naruto lakukan sebelumnya. Naruto mengerenyit saat cairan itu terasa di lidahnya, namun ia tak peduli. Yang ia pedulikan kini hanyalah desahan Kurumi saat ia menjilati bagian sensitifnya.
Selanjutnya, Naruto memasukkan satu jarinya ke dalam tubuh Kurumi. Cukup sempit terasa, dan membuat Kurumi agak berteriak kecil akibat sedikit sakit. Naruto segera mencabutnya, lalu meminta maaf pada Kurumi.
"Sebaiknya langsung saja, Sayang ..."
Naruto lalu mengangguk.
.
.
.
.
Naruto menelan ludahnya, saat ia kini berlutut di depan Kurumi yang berbaring, memposisikan dirinya di depan Kurumi. Kedua tangannya kini perlahan mengangkat paha Kurumi agak naik ke atas, sehingga memberi leluasa pada Naruto kecil untuk melakukan aktivitasnya.
Naruto memberi tatap ragu pada Kurumi, namun gadis itu hanya mengangguk kecil mengiyakan. Aku sudah siap untuk ini, Naruto.
Naruto lalu tersenyum simpul. Terima kasih, terima kasih, terima kasih, sayang ...
Naruto lalu mencoba memasukkan dirinya ke dalam tubuh Kurumi. Cukup sempit terasa, dan membuatnya tak tega saat mendapati raut wajah Kurumi yang terlihat mencoba menahan sakit. Naruto menghentikan aktivitasnya. Kurumi kembali tersenyum. Lanjutkan saja.
Naruto ragu, namun saat Kurumi mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Naruto, Naruto menjadi yakin.
Pemuda pirang itu kembali mencoba menusuk lebih dalam lagi ke dalam tubuh Kurumi. Benar-benar sempit dan cukup sulit untuk menariknya kembali. Naruto terus mendorongnya dengan sedikit tenaga, lalu akhirnya Naruto berhasil memasukkan dirinya sepenuhnya di dalam tubuh Kurumi setelah berhasil memecahkan selaput daranya.
"Ku-Kurumi, kau tak apa? Ma-maafkan aku ..."
"Tak apa, sayang. Kau tak perlu minta maaf padaku"
Lantas Naruto menyambar bibir Kurumi dan menyesapnya dengan lembut, membuat sang gadis terpejam dan tenggelam dalam kasih yang diberikan Naruto. Di sisi lain, Naruto sembari menusuk Kurumi lebih dalam lagi di bawah sana.
Naruto melakukannya secara perlahan agar Kurumi tak lagi merasa sakit atas apa yang ia lakukan. Ia benar-benar tak kuasa melihat Kurumi merasa sakit karena dirinya. Setidaknya, ia harus memperlakukan Kurumi sebagaimana seharusnya setelah Kurumi merelakan tubuhnya pada Naruto.
"A-aah …."
Kurumi melepas cium dari Naruto, lalu mendesah pelan saat Naruto benar-benar mencapai ujung dari lubang depannya. Masih terasa agak ngilu, namun kali ini ia bisa sedikit menikmati apa yang Naruto lakukan padanya.
Naruto sendiri memejamkan matanya dengan nafas terburu saat dirinya mencapai titik ujung dari tubuh Kurumi. Ia mendapati darah yang menetes dari selangkangan Kurumi. Buru-buru ia menatap Kurumi lagi, takut akan Kurumi yang tersakiti lagi.
Namun tak ia sangka, gadis itu menikmati apa yang ia lakukan.
"Ah … Sayang …."
"Kurumi ... tak apa?"
"Lakukanlah ..."
Naruto melakukan itu lagi, menusuk Kurumi lebih dalam lalu mundur kembali, memompa dirinya dalam tubuh Kurumi. Sesekali tangannya meremas dada Kurumi yang putingnya agak sedikit mengeras.
Naruto mencium Kurumi dengan lembut saat hentakannya pada Kurumi semakin kuat, membuat sang gadis yang berada di bawahnya hanya bisa pasrah pada desir hangat yang mengalir dalam tubuhnya. Ia benar-benar menikmati hubungan ini. Lebih dari itu, Naruto memperlakukannya dengan lembut.
"Mmmhh— ah ... Ah ... Ah ... Naruto, aku hampir sampai ... Ah ..."
Kurumi memberi tanda bahwa ia hampir mencapai puncaknya, kala Naruto terus menusuk Kurumi lebih dalam lagi. Rangsangan yang diberikan Naruto membuat Kurumi menegang, bahkan tangan Naruto yang kini meremas dadanya sedikit lebih kuat dari yang sebelumnya.
Lalu, beberapa detik kemudian, Kurumi mencapai puncaknya. Tubuhnya langsung lemas seketika dan membuat Naruto berhenti memajumundurkan dirinya di dalam Kurumi. Agak sedikit terasa hangat di selangkangan Naruto. Saat ia melihatnya, miliknya kini telah dibasahi oleh cairan Kurumi.
"Ah ..."
"Satu kali lagi ya, Kurumi?"
Kurumi hanya mengangguk setuju.
.
.
.
.
Naruto menelan ludahnya, saat Kurumi kini menungging membelakanginya. Memperlihatkan dua lubang yang membuat Naruto kembali menegang. Kurumi menoleh ke arahnya, memberi senyum penuh arti.
"Pilih sesukamu, sayang ..."
Naruto benar-benar menelan ludahnya, lagi.
Memposisikan tubuhnya di depan Kurumi, Naruto lalu menusuknya secara perlahan. Memasuki lubang senggama Kurumi dengan pelan-pelan namun pasti. Kedua tangan Naruto bertumpu pada punggung Kurumi, sesekali ia mencoba meremas kedua dada Kurumi yang menggantung indah.
Naruto memompa dirinya sedikit lebih cepat saat di dalam tubuh Kurumi sudah benar-benar licin setelah ronde pertam terlewati. Desahan Kurumi seakan menjadi lagu pembawa dosa di pagi buta. Naruto menatap ke bawah, mendapati kejantanannya masuk, lalu keluar, lalu masuk lagi di lubang Kurumi.
"Uh ... Naruto ... pelan-pelan, sayang ..."
Naruto menghiraukan apa yang dikatakan Kurumi padanya. Ia terus mencoba mempercepat geraknya hingga membuat Kurumi sedikit kewalahan mengikuti tempo yang dimainkan Naruto. Bahkan, membuat Naruto sesekali menyentuh ujung dari lubang Kurumi. Naruto mengigit bibirnya menahan nikmat yang dirasa, begitupun Kurumi yang tak mampu untuk tidak mengeluarkan desahannya.
"Na-Naruto ... Uh ... aku hampir sampai ..."
"Aku juga ..."
Naruto mempercepat lajunya saat tubuhnya menegang, memompa dirinya di dalam tubuh Kurumi lebih cepat dan lebih cepat lagi, membuat sang gadis yang tak lagi dapat menahannya hingga akhirnya mencapai puncaknya. Di dalam sana Naruto merasa hangat saat kembali dibasahi oleh cairan hangat. Kurumi perlahan terjatuh.
Sementara Naruto yang masih belum mencapai klimaksnya kini kembali memompa lebih cepat lagi, meski Kurumi sudah benar-benar lelah meladeninya. Puncaknya, Naruto meremas dada Kurumi sebagai rangsangannya lalu menekan tubuhnya ke dalam tubuh Kurumi, dan mengeluarkan cairannya di dalam sana.
"Ah ... sial ..."
"Kau keluar terlalu banyak, Naruto ..."
"Hehe, maaf. Dan juga ... terima kasih, sayang"
"Sama-sama ..."
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi hari tiba tanpa terasa. Sebagian bumi menanti cahaya sang mentari timbul dari ujung bumi, menunggu perannya yang membawa cerita baru di hari yang ia lewati.
"Vali-kun, cepat cuci muka sana!"
"Iya, iya. Kau tidak seperti biasanya, Rize"
—Dan tentunya apartemen Naruto kini dimeriahkan kembali dengan keributan penghuninya. Naruto yang kini duduk di kursi meja makan hanya tertawa kecil menatapi Rize yang tengah menuntun Vali yang setengah sadar menuju wastafel, lalu menyuruhnya untuk mencuci muka dan gosok gigi. Rize sempat menyadari bahwa Naruto kini tengah menatapnya. Ia lalu menoleh ke arah Naruto, dan mendapati senyum lembut yang Naruto berikan padanya.
"Ngomong-ngomong, Kurumi-chan mana, Naruto-kun?"
"Ia masih tertidur di kamarnya" Naruto mengatakan itu sambil menatap Vali yang sibuk mencuci muka. Entah mengapa, sudah lama rasanya ia tidak bercanda dan bertengkar dengan hakuryuukou itu.
"Ne, Vali. Apa kau akan pergi ke sekolah hari ini?"
Vali yang kini sedang menggosok gigi di wastafel terpaksa menoleh ke arah Naruto, saat pertanyaan itu keluar dari sosok yang pernah kabur karena kesalahpahaman itu. Mengingat itu, Vali menjadi geli sendiri pada Naruto. Vali lalu mengambil air, kumur-kumur, lalu membuangnya ke wastafel.
"Kurasa aku tidak akan sekolah dulu hari ini. Kau tahu sendiri lah. Semalam merupakan malam yang panjang, dan cukup membuatku merasa pegal-pegal"
"Heeh? Aku kurang yakin jika kau pegal-pegal karena bertarung. Kau tidak sedang itu kan dengan Rize?"
Apa yang dikatakan Naruto membuat Rize dan Vali seketika menoleh padanya, melempar tatap tajam yang cukup menusuk. Naruto tertawa.
"Ya, ya, ya. Terserah kalian. Setidaknya, biarkan aku dapat bertemu dengan keponakanku yang jauh berbeda sifatnya dengan Vali di masa depan nanti"
"Masih lama, goblok!"
"Dih ngegas. Lalu apa gunanya kau nganu semalam?"
Seketika Vali terdiam dengan wajah memerah, sementara Rize sendiri pura-pura tak mendengar pembicaraan mereka dan fokus pada masakannya. Meski sebenarnya, wajahnya kini benar-benar mirip seperti kepiting rebus.
"I-itu bukan urusanmu, dasar cowok cemburuan!"
"Hah, Apa katamu?!"
"Sudah sudah. Vali-kun, Naruto-kun"
Pada akhirnya, perdebatan keduanya dilerai oleh Rize yang mengangkat satu persatu lauk untuk sarapan pagi mereka. Naruto pun ikut membantu Rize mengangkatnya.
"Eh ngomong-ngomong, Kurumi-chan beneran belum bangun?"
"Dia semalam tidur kemalaman. Jadi, maklum—"
Belum sempat Naruto mengakhiri kalimatnya, pintu kamar terbuka. Memperlihatkan Kurumi yang masih dalam pakaian tidurnya, rambut hitam dengan diikat dua dan dibiarkan tergerai melewati kedua bahunya, serta wajah polosnya yang baru bangun pagi. Naruto menatapnya lembut, begitupun Vali yang tersenyum melihat Kurumi. Namun berbeda dengan Rize.
"Ku-Kurumi-chan, kenapa cara berjalanmu agak sedikit aneh?"
By the way, Kurumi berjalan dengan agak memperlebar kedua kakinya, dan berjalan perlahan-lahan seolah ia tak bisa berjalan normal seperti biasa.
Mendapati pertanyaan dari Rize, membuat Kurumi tersenyum padanya.
"Tak apa kok, Rize-chan. Iya kan, Naruto?" ucapnya pada Rize dan memberi satu kedipan mata pada Naruto lalu melenggang pergi masuk ke dalam toilet. Melihat itu, Rize dan Vali menjadi sweatdropped.
"..."
"Naruto-kun ..."
"Iya? Eh Hah?! Sebentar Rize! Jangan lempar!"
*Ctaaaang!*
"AAAAA!"
"Makanya jangan keras-keras, goblok!"
—Dan Naruto terjungkal ke belakang saat Rize melempar sendok stainless ke kepalanya.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto tersenyum simpul saat kembali mengingat apa yang terjadi di apartemen, kala ia beranjak untuk pergi meninggalkan mereka bertiga.
'Kau mau kemana, Naruto?'
'Tenang saja. Aku pasti akan pulang'
Entah mengapa ia merasa seperti menyimpan dosa saat memberi khawatir pada mereka, terlebih pada Kurumi. Mengingat insiden yang lalu, yang membuat mereka pernah kehilangan Naruto di sisi. Naruto tersenyum sendiri membayangkan raut wajah mereka yang khawatir padanya. Ia tidak akan bertindak seperti anak kecil lagi.
Naruto memejamkan matanya, kala ia menikmati deru angin menyapa pagi yang cerah, menikmati sejuk rimbun daun pohon yang melindunginya dari kontak dengan cahaya sang mentari. Sungguh, menatap kota Kuoh dari bukit memang menyenangkan.
Setidaknya, untuk saat ini, ia bisa sedikit mengambil waktu luang untuk menenangkan diri. Ya, bersantai di sebuah bukit dan menatapi indahnya kota Kuoh memang cukup menyenangkan. Ia juga tidak perlu khawatir pada kondiri apartemen. Ia akan sangat berterima kasih pada Vali yang rela—Sebenarnya, Naruto tahu jika Vali benar-benar enggan untuk menuruti—pergi ke swalayan untuk membeli persediaan makanan, sementara Rize, yang menyuruh Vali, bersantai ria bersama gadisnya, Kurumi di apartemen.
"Apa yang kau lakukan di sini, Uzuki?"
Naruto terdiam saat satu nada feminim itu menelusup masuk melalui lubang telinganya, memaksanya untuk menoleh dan mendapati satu sosok gadis kecil dengan seragam gothic lolita berdiri di sampingnya. Naruto memasang ekspresi datar. Hanya seorang Ophis, rupanya.
"Seharusnya, aku yang bertanya itu padamu. Adalah hal yang aneh jika sosok yang ditakuti seperti dirimu malah berkeliaran"
"Aku? Aku hanya mencari angin saja"
"Kalau begitu, aku juga sama"
Sadar bahwa Naruto tidak sedang bersemangat, lantas membuat Ophis tiba-tiba bergerak dan duduk di depan Naruto. Menyandarkan punggungnya pada dada bidang Naruto hingga membuat Naruto menjadi kaget sendiri.
"O-Ophis, apa yang kau lakukan?!"
"Berisik! Aku sedang ingin seperti ini"
"Hah?!"
"Tanganmu ..."
"Apa lagi?"
"Sini tanganmu!"
Ophis menarik kedua lengan Naruto, dan memaksa pemuda pirang itu untuk melingkarkan kedua tangannya pada perut Ophis, hingga terlihat seperti Naruto memeluknya. Naruto menghela napas. Ia hanya menurut saja. Meski, ini agak sedikit menjengkelkan.
"Peluk aku lebih erat!"
"Iya, iya, cerewet!"
Tanpa Naruto sadari, Ophis terkikik geli saat mengetahui respon Naruto.
"Sebenarnya, ada apa denganmu?"
"Tidak. Hanya saja, aku ingin diperlakukan seperti ini. Aku tak ingin Uzuki pergi. Uzuki hanya milikku selamanya"
"Kau pikir aku budakmu atau apa?"
"Hihihi ..."
Naruto tersenyum saat ia mendengar tawa geli dari Ophis. Yah, setidaknya biarkan moefikasi naga ini bahagia karenanya. Toh, Ophis telah berjasa baginya. Atau bahkan bisa dikata, berhutang nyawa?
Mengingat hal itu, membuat Naruto berpikir tentang pertemuan petinggi tiga fraksi yang terjadi semalam yang berakhir dengan diserukannya perdamaian dari ketiga pihak. Naruto merasa ada yang kurang dari perdamaian itu. Semacam, firasat buruk?
Dengan didirikannya perdamaian tiga fraksi, memungkinkan tiga pihak untuk mampu bekerja sama dan melupakan luka yang telah lalu. Namun di satu sisi, mereka tidak akan bisa menebak ancaman apa yang akan terjadi ke depannya.
"Ophis ..."
"Ya?"
"Apa menurutmu, keputusan tiga fraksi itu benar-benar baik?"
"... Entahlah. Aku tidak bisa memberi pandangan soal itu. Hanya saja, pasti akan ada suatu pihak yang tidak setuju dengan itu. Mau bagaimanapun, Great War memberikan mimpi yang buruk dan pedih yang menyakitkan"
"Great War ya? Aku hanya bisa membayangkan betapa mengerikannya perang itu"
"Namun, jika suatu saat ada ancaman yang mengancam tiga fraksi, mau tak mau kau harus ikut, Uzuki. Secara tidak langsung, kau terikat dengan mereka karena kau dianggap sebagai bala bantuan dari kubu Azazel semalam"
Naruto tersenyum simpul atas apa yang dikatakan Ophis padanya. Ya, itu memang benar. Ia memang sudah terikat pada ikatan yang telah terjalin ini. Toh dari awal ia datang ke sini pun, memang sudah terjalin. Berawal dari Rias, menuju Azazel, lalu bertemu dengan gadis yang kini tengah dalam peluknya itu.
Di sisi lain, Naruto tak menyangka jika Ouroboros Dragon yang paling ditakuti ternyata benar-benar lengket padanya. Bahkan nyawanya telah dijamin oleh Ophis atas apa yang gadis itu katakan di malam invasi pertemuan tiga fraksi. Sekali lagi, Naruto berhutang nyawa pada Ophis.
"Ya, aku tahu itu. Kau juga tak akan membiarkanku terancam bukan?"
"Tentu saja! Uzuki hanya milikku. Aku akan menghajar mereka yang berani menyakitimu"
"Hahah ... kau berlebihan, Ophis—"
"—Terima kasih, Ophis"
Naruto mengelus surai hitam Ophis dengan lembut sembari tersenyum. Ya, dia benar-benar merasa terikat dengan Ophis.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
- To Be Continued
Note : Unpopular opinion, fanfiksi bertema adventure (Eh? Ini Adventure kan ya?) kalo gak ada 'SkiDisKiDiFLasHpApNgeUeToD', serasa ada yang kurang rasanya. Pada akhirnya, saya menempatkannya di chapter ini /hahah.
Chapter yang membosankan?
Halo~ Nhana Natsuki di sini. Maaf jika saya banyak dosa.
Jika kamu bertanya tentang mengapa fanfiksi ini kembali berlanjut, maka kamu berhak menyalahkan rasa bersalah dan berdosa saya saat membaca ulang seri yang satu ini. Ya, berterima kasihlah pada hati saya yang masih seutuhnya bersifat manusiawi.
Well, mungkin ke depannya, fanfiksi ini akan saya tamatkan sesegera mungkin. Alasan utamanya adalah, saya telah menyiapkan sketsa untuk 'Final Arc' yang akan datang. Saya tidak bisa memberi bocoran. Namun kamu bisa memastikan bahwa fanfiksi ini akan berlanjut hingga tamat meski saya tak akan bisa konsisten soal update dan tanggal.
Hal lain, jika nantinya terjadi ketidaksamaan jumlah word dengan chapter sebelum atau sesudahnya, maka harap dimaklumi. Saya akan menulis berdasarkan apa yang telah saya rangkai. Saya sudah lelah untuk menulis dengan angka yang gila.
Kayaknya itu aja deh. Gak ada tambahan. Maka dari itu, maaf jika saya banyak dosa. Semoga chapter depan gak terlalu lama munculnya.
Bye Bee~
