Warning! Cerita hanyalah fiksi dan tidak tidak bertujuan untuk menyesatkan para pembaca
.
The Deal with The Devil
By
.
.
Chapter 2. Begin
.
.
.
Semua bermula dari suatu kesalahan fatal, jika kau tidak dapat memperbaikinya maka kau akan membuat kesalahan - kesalahan lain yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai gantinya, suatu hukuman yang akan kau tebus saat semua kewajiban yang kau pikul terlalaikan.
Sang Bijak tentu memiliki aturan dan hukum yang berlaku agar semua ciptaan-Nya dapat seimbang dan peraturan tersebut harus ditaati oleh semua makhluk ciptaan-Nya, tidak terkecuali. Termasuk para malaikat, manusia, satan maupun iblis.
Lucifer, malaikat yang dijatuhkan dari singgah sana Sang Bijak karena suatu kesalahan itu. Ia tak lagi sempurna, jika kau berpikir malaikat memiliki sepasang sayap, maka jawabannya adalah iya, mereka memilikinya. Namun hanya dengan satu kesalahan fatal, Sang Bijak menjatuhi hukuman mutlak untuknya dengan menurunkan derajat malaikat itu. Dari malaikat hingga menjadi raja tempat keji bernama neraka. Mematahkan sepasang sayap indah milik makhluk itu dan menjatuhkan kedalam jurang api tersebut.
Dan kejadian itu terputar lagi dalam ingatannya, suara yang terngiang kembali pada telinganya, kalimat yang membuatnya menjadi makhluk begis seperti sekarang.
.
.
"V, kau tahu apa kesalahanmu?" Tanya Sang Bijak.
"A-ayah.. maafkan aku, aku salah, aku tak akan mengulanginya kembali, aku berjanji" ucap makhluk rupawan bernama V itu.
"Tidak! Kesalahanmu sangat berat! Aku bahkan tidak bisa memaafkanmu karena kau telah merugikan banyak makhluk lainnya. Kau dengan sengaja mempermainkan kematian, jika sudah waktunya manusia itu mati itu artinya ia cukup hidup sampai disitu. DAN KAU-" Tunjuk Sang Bijak pada wajahnya.
"-Mengundur kematiannya dengan mempermainkan buku kematian itu" lanjutnya.
Malaikat itu pun merendahkan tubuhnya, bersujud didepan Sang Bijak.
"Tolong maafkan aku untuk kali ini saja" ucapnya.
"Maaf anakku, tidak untuk kali ini"
"Hukumanmu atas perbuatanmu kali ini..."
Gelap.
Jika sedari awal kau hidup didunia putih dan tiba - tiba Tuhan menghukummu dengan menjatuhkanmu kedunia hitam, dunia itu seakan - akan mencekikmu. Hidup tidak bisa mau mati pun mustahil.
Sepi.
Tak ada sapaan hangat disana, hanya ada siksaan - siksaan pedih dan teriakan - teriakan mencengkam dan merusak telinga. Entah sejak kapan, entah sampai kapan, ia pun tak tahu kapan berakhirnya itu semua. Kesepian? Oh, kau akan beradaptasi dengan semua itu.
Setelah malaikat itu dijatuhi hukuman oleh Sang Bijak, ia mendapatkan tugas, bisa dibilang kesempatan terakhir untuk menebus kesalahannya dan kembali keatas, dunia putih.
.
.
"Jika kau bisa menyelesaikan tugas yang aku berikan, kau bisa naik keatas lagi, ke tempatku, dunia putih" Makhluk itu mengangguk mengerti.
"Setelah kau bisa menyelesaikan tugas di Neraka, kau bisa naik ke dunia fana.. jika kau bisa menyelesaikan tugas keduamu.. dunia putih imbalannya. Jika kau gagal didunia fana, kau akan kembali ke dunia hitam dan tidak dapat keluar lagi dari sana selamanya" ucap Sang Bijak.
.
.
Ia hanya diberi dua tugas untuk di dunia gelap dan di dunia fana. Tugasnya di Neraka adalah untuk menyiksa setiap makhluk keji yang disebut sebagai manusia yang bahkan memiliki perbuatan yang lebih mengerikan dibandingkan dengan satan maupun iblis.
Oh, jangan tanya termasuk apa dia sekarang, tentu saja ia iblis, namun tidak seluruhnya iblis karena separuh jiwanya masih berhatikan malaikat. Tidak ada satan maupun iblis yang dapat membantahnya walaupun mereka sama kuatnya, tidak ada yang dapat menandinginya.
Dan setelah tugasnya di dunia hitam telah selesai, Sang Bijak memberikan kekuasaan padanya untuk masuk ke dunia fana. Tempat dimana manusia hidup membanting tulang untuk kelangsungan hidup maupun hanya untuk bersenang - senang.
.
.
Lalu, pasti kau bertanya - tanya apa tugas yang diberikan Sang Bijak. Aku kembalikan pada kalian sebuah pertanyaan.
Untuk apa Sang Bijak mengutus seorang iblis ke dunia?
Jawabannya adalah untuk menyesatkan manusia.
Lalu untuk apa Sang Bijak menciptakan manusia jika mengutus para makhluk bengis itu untuk menyesatkan mereka?
Jawabannya adalah untuk menguji makhluk fana itu.
Agar Sang Bijak tahu, siapa yang benar - benar taat kepada-Nya. Karena manusia itu bagaikan dua sisi mata koin, mereka berada diantara dunia putih dan dunia hitam. Dan ketika cobaan itu datang kepada mereka, akan lebih kemana manusia itu berpihak. Dunia putih? Atau dunia hitam?
.
.
Sebuah ketentuan itu dibuat. Lucifer, malaikat jatuh dari surga itu akan datang pada jiwa - jiwa manusia yang tidak percaya akan adanya Sang Bijak, mereka yang putus asa dalam berdoa, mereka yang goyah akan keyakinannya dan mereka yang tidak sabar lalu mengambil jalan pintas yaitu meminta pertolongan pada makhluk cacat itu dan ia akan menyesatkan manusia itu hingga menemukan kesesatan paling dalam.
Dan jika perjanjian itu dibuat dengan tidak adanya paksaan, maka manusia tersebut menggadaikan jiwanya pada makhluk itu. Jiwa mereka tidak akan masuk ke Surga maupun Neraka. Karena jiwa yang mereka taruhkan itu akan disantap oleh makhluk yang membuat perjanjian itu. Keuntungan makhluk tersebut? Untuk menyelesaikan tugasnya dan kembali ketempat asalnya, dunia putih.
.
.
Namun seorang laki - laki itu memanggilnya dengan suara yang berbeda. Suaranya cukup dibilang lembut dan sangat nyaman untuk didengar. Suara yang biasa makhluk keji itu dengar dari tempat - tempat dengan orang - orang yang percaya dan Taat kepada Sang Bijak didalamnya. Apakah mungkin? Namun jika didengar sekali lagi, suara itu tidak memancarkan aura yang biasa ia rasakan, keangkuhan, ketamakan, maupun kebencian. Ia merasakan aura ketakutan dalam suara itu.
'Siapapun.. tolong aku, siapapun tolong aku.. selamatkan aku! Siapapun.. siapa saja boleh, tolong aku, aku akan membayarnya semua! Aku akan melakukan apapun jika aku selamat'
Makhluk itu menghentikan waktu, salah satu hadiah yang diberikan Sang Bijak ketika dirinya telah menyelesaikan tugasnya di Neraka. Ia memutuskan untuk meletakkan gelas minuman yang ia minum tadi dimeja depannya.
Melangkahkan kakinya keluar dari tempat yang penuh dentumam musik yang kuat itu, Club malam. Meraih kunci mobil disaku celana yang ia gunakan, lalu mengendarai mobil tersebut kearah sumber suara yang ia dengar tadi. Dengan sejentik jari ia sudah berhenti disalah satu halaman rumah yang bisa dibilanh sangat mewah.
Ia langkahkan kakinya menuju suara itu, walaupun sayapnya tidak ada lagi, namun ia tetap bisa melayang diudara seperti sekarang untuk menggapai ruangan yang ia yakin pasti orang yang memanggilnya ada didalam.
= V POV =
Aku memecahkan jendela yang menghalangi jalanku, berjalan menuju kearahnya. Tubuhnya, kulitnya, wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya, ah.. semuanya terlihat sempurna dimataku. Aku mendekati anak itu, bisa ku lihat tubuhnya bergetar hebat.
.
.
"Jadi.. anak bocah sepertimu yang memanggilku?" Ucapku.
"S-siapa k-kau?" Tanya bocah itu.
"Lucifer" Jawabku singkat.
"S-satan?" Aku menggeleng, tidak, aku tidak ingin disamakan dengan bawahanku. Hell! Aku tak sudi.
"Bukan dear, aku raja iblis" Ia mwnwlan ludahnya kasar dan masih dapat ku dengar.
"Jadi... tadi kau memanggilku, kau membutuhkanku?" Tanyaku.
"T-tolong aku" ucapnya memberanikan diri.
"Dari?" Ia melirik sekelompok orang disekitarnya. Aku pun mengikuti arah pandangannya. Ah.. bisa ku tebak, pembantaian?
"Ah.. pasti ayahku tidak mendengar doamu ya?" Tanyaku lagi.
"Ayahmu?"
"Sang Bijak, TuhanMu" Ia menggeleng, sasaran empuk.
"Jadi.. kau mau aku membunuh mereka?"
"Mereka sudah membunuh seluruh keluargaku dan pekerja dirumah ini tanpa sisa, jadi YA! Aku ingin membunuh mereka" ucapnya mantap. Seakan lupa jika ada luka ditubuhnya itu.
"Tapi kau tahu semua itu pasti tidak gratis kan dear?"
"A-aku akan memberikanmu uang yang banyak jika kau membantuku"
"Ck.. ck.. ck.." Aku menggelengkan kepala. Cih, sudah abad keberapa ini? Masih saja tawanannya sama.
"Bukan itu, uang? Perhiasan? Tidak berharga bagiku dear.." lanjutku.
"Lalu apa maumu?"
"Biasanya mereka yang meminta bantuanku akan membayarnya dengan jiwa mereka" ucapnya santai.
"A-aapa maksudmu?"
"Mereka akan menjual jiwa mereka untuk aku makan dan sebagai gantinya aku akan memberikan apapun yang mereka inginkan"
"Memakan?"
"Ya, setelah mereka puas dengan apa yang mereka dapatkan, aku akan membunuh mereka dan memakan jiwanya sebelum ditentukan mereka akan ke surga atau neraka. Jadi, jika kau buat perjanjian itu denganku, jiwamu tak akan masuk surga maupun neraka.. karena aku akan memakanmu dan kau akan menghilang begitu saja"
"J-jadi.. apa yang bisa aku lakukan?"
"Kau tetap ingin melakukannya?" Aku melihatnya mengangguk walaupun ada rasa ragu disana yang tak biaa ia tutupi.
Aku mendekatkan diriku padanya, mengapit dagunya dengan kedua jariku dan aku menarik wajah itu agar mendekat dan bisa ku teliti.
"Kau.. laki - laki?" Ia mengangguk cepat.
"Cantik sekali, aku suka matamu"
"Bagaimana jika aku menawarimu perjanjian lain?"
"Perjanjian lain?" Ia mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Perjanjiannya adalah.. aku akan memberikan semua yang kau mau dan kau membayarku dengan hidup bersamaku selamanya?"
"A-apa maksudmu?"
"Menjadi milikku, kekasih.. ah.. tidak, istriku mungkin?" Dan aku pun tidak bisa untuk tidak teraenyum.
"Jika kau menolak, aku tidak bisa membantumu untuk mencapai tujuanmu" ucapku.
"Ah.. dimana sopan santunku, pertama - tama, kenalkan, Namaku V, Lucifer, atau kau bisa memanggilku Taehyung, Kim Taehyung namaku didunia ini dan kau pasti seorang earl.. aku akan melayanimu dengan baik" ucapku.
"Baiklah, aku akan menjadi milikmu" Sungguh, rasanya senang sekali. Selama aku dihukum oleh ayah, dalam seribu tahun, ini peetama kalinya aku merasa sangat senang. Entah mengapa.
Aku memberikan aku sebuah pisau kecil berukirkan patung kecil itu padanya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya pria itu.
"Robek telapak tanganmu sebelah kiri sampai lewat pergelangan tangan, pastikan darahnya keluar" ucapnya.
"Bukankah itu sama saja bunuh diri?"
"Jika pisau biasa dapat ku pastikan kau mati, tapj pisau itu berbeda" ucapnya.
Dengan mantap ia arahkan mata pisau itu menusuk kulit telapak tangannya dan ditarik kearah pergelangan tangan, tempat nadi beristirahat, sampai mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Aku mendekatkan diri kearah pria itu, menyentuh cairan berwarna merah yang ada ditelapaknya dengan tanganku.
"Sebut namaku, dan sebutkan keinginanmu saat aku meminum darahmu" ucapnya.
Aku mendekatkan bibirku ke telapaknya, menghisap cairan merah itu dengan nikmat.
"Aku.. Jeon Jungkook dengan sadar membuat perjanjian ini, perjanjian yang aku bayar dengan menjadi milik V, selamanya, dan sebagai gantinya.. bunuh semua orang yang membunuh keluargaku tanpa terkecuali.. termasuk otak dibalik semua ini" ucapnya.
"Perjanjian dibuat" ucapku dan setelah itu waktu berputar kembali.
"Siapa kau?!" Ucap pria tua itu.
"Jungkook, ku mohon tutup matamu, jangan membuka matamu sebelum aku menyuruhmu membuka matamu" ucapku.
'DOORR!"
Sial, pria tua itu menembakku! Tidak aku tidak akan mati karena hal seperti ini. Tapi jas yang ku kenakan baru saja ku beli dari butik ternama di negara ini. Sepertinya aku akan membeli beberapa stel tuxedo lagi.
"Jungkook, tutup matamu.. ucapkan namaku"
"Kim Taehyung, cepat selesaikan semuanya"
"Baiklah.. Jungkook"
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membersihkan hama - hama ini. Tidak ada yang bisa menandingiku selain Sang Bijak sekarang. Aku mendekatkan diri kearahnya.
"Apa kau perlu melihat hasil kerjaku untuk pertamakali sebagai bukti?" Ucapku dan dijawab dengan sebuah anggukkan.
"Ah.. bukan salahku ya, kau yang mau.. aku hanya menawarkan" ucapku.
"Ku pikir.. kau tidak akan tinggal disini lagi melibat kondisi rumah ini yang mengenaskan, jadi.. apa kau mau tinggal ditempatku?" Tawarku.
"Kita belum selesai, apakah sudah mau ke neraka?"
"Hahahahaa.. tidak, aku juga punya tempat tinggal di dunia, kau tahu? Aku iblis modern" Ia mengangguk setuju.
"Lalu.. bagaimana dengan rumah ini?" Tanyaku.
"Keluarkan aku dari rumah ini, kuburkan tubuh orang tuaku dengan layak, setelah itu... bakar rumah ini" ucanya tegas.
"Baiklah.. Jungkook, tapi sebelum itu.. selesaikan perjanjian kita dahulu"
"Belum selesaikah?"
Aku membuka selimut yang tadi aku pasangkan ditubuhnya, memposisikan tubuhku memunggunginya. Ritual terakhir dalam perjanjian ini.
Memberi tandaku pada tubuhnya, agar makhluk lain tahu.. pria ini milikku.
"AKKKKHHH!"
Ah, aku pasti sudah gila dengan membuat perjanjian bodoh seperti ini. Untuk kali ini, akankah ayah membiarkan ku saja.. untuk kali ini, karena manusia didepanku ini sangat menarik untuk dijadikan peliharaan.
.
.
= Author POV =
V, malaikat yang jatuh itu mendudukan pria yang mengikrarkan perjanjian bodohnya tersebut di sofa apartemennya. Ironi bukan? Sesosok iblis dapat hidup didunia manusia dan berbaur dengan mereka tanpa ada yang tahu identitasnya.
Pria yang sedari tadi digendongnya tertidur dengan sangat lelap, mungkin karena kejadian malam ini yang membuat energinya terkuras habis. Kematian kedua orang tuanya dan keluarganya yang lain mengingat malam ini ada pesta keluarga dirumahnya.
Pemusnahan, mungkin kalimat itu yang cocok untuk menggambarkan kondisi keluarganya. Mereka dibunuh dengan cara yang tidak manusiawi, semua pembunuh malam ini sungguh tidak ada yang cukup waras. Hanya beberapa yang menggunakan pistol, lainnya memegang senjata tajam yang tidak masuk diakal, seperti kapak, sabit, dan lainnya.
Ya, setidaknya ia harus hidup untuk membalaskan dendam untuk keluarganya, sebagai Earl, penerus keturunan Jeon.
Taehyung, setidaknya itu nama yang disebutkan oleh makhluk bengis itu didunia manusia, mendekatkan wajahnya pada wajah pria yang terlihat lebih muda darinya. Meneliti seluruh bagian wajah pria itu. Cantik dan terkesan imut dalam waktu yang bersamaan, dan matanya yang masih tertutup bahkan bisa tampak cantik. Dan jangan lupakan bibir kecil agak sedikit tebal itu, berwarna merekah, 'bagaimana jika ia memakannya nanti? Oh pasti sangat nikmat' pikir Taehyung yang tanpa sadar sudah menjilat bibirnya sendiri.
.
.
Wangi khas masakan tercium oleh indera penciumannya, membuat abdomennya berteriak meminta jatah makan yang terlewat. Mengusik si mungil yang sedang terlelap disoffa empuk diruang tamu.
Jungkook mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya dan bangun dari tidurnya, mengusak matanya yang terasa amat gatal. Ah, ia baru sadar kenapa matanya terasa gatal, kemarin ia menangis hebat karena pembunuhan orang yang biadab kepada keluarganya, orang tuanya.
Seperti mimpi memang, baru kemarin orang tuanya dengan terpaksa meninggalkan dirinya sebatang kara hidup didunia. Ada sesuatu yang ia lupakan, ia mencoba mengingat sesuatu yang penting itu. Kemudian pria tegap dengan mata berwarna merah itu menghampirinya.
"Sudah bangun eum?" Ucapnya.
1 detik...
2 detik...
3 detik...
Sial, ia baru ingat jika semalam ia melakukan transaksi ilegal bersama iblis yang keji dan sialnya lagi mempunyai wajah sangat tampan.
"E-eumm" suaranya serak. Masih mengumpulkan sebagian jiwanya yang belum juga terbangun.
"Ayo makan, aku sudah membuatkan omelet untuk kita sarapan" ucap yang lebih tinggi. Jungkook hanya mengangguk sebagai jawaban, namun masih setia tak bergerak dari tempatnya.
Taehyung tak sabar, ingat dia iblis sekarang? Dan salah satu sifatnya adalah ia tidak memiliki kesabaran pada dirinya. Mungkin pernah, namun sudah dibuang jauh - jauh mengingat statusnyabpun berubah.
Ia menggendong si mungil dengan bridal style membuat yang ada dirangkulannya terlonjak kaget dengan perlakuan yang tiba - tiba. Jungkook mengalungkan tangannya dileher Taehyung takut gendongan itu akan terlepas dan membuat dirinya jatuh keatas lantai.
Tak lama untuk sampai ke dapur apartemen milik Taehyung, pria tinggi itu langsung mendudukan Jungkook pada kursi makan tersebut. Lalu mengambil beberapa piring dan masakan yang telah ia masak dari kitchen set nya.
"Makanlah.. pasti perutmu sudah memberontak minta diisi" pria mungil itu tak menjawab dan langsung menyantap makanannya.
"Masakanmu lumayan" ucap Jungkook. Membuat aktifitas makan Taehyung terhenti dan menatap pria dihadapannya.
"Baru kali ini ada orang yang memuji masakan sederhanaku, aku tersanjung.. terimakasih Jungkook" Pria berkulit sedikit lebih gelap dari Jungkook itu memperlihatkan senyum kotaknya.
Tak membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskan sarapan mereka masing - masing karena memang makanannya pun tidak terlalu berat dan embicaraan mereka hanya sekedar basa - basi. Taehyung membereskan piring bekas pakai dan mencucinya didapur. Sedangkan Jungkook masih setia menanti ditempat duduknya sedari awal.
Setelah Taehyung selesai dengan pekerjaannya, ia melangkahkan kakinya untuk mendekat ketempat Jungkook berada dan duduk disamping pemuda manis itu.
"Lalu.. setelah ini, apa yang akan kau lakukan? Aku akan melakukan semuanya untukmu karena kita sudah terikat.. dan aku akan menagih imbalannya setelah aku berhasil membuatmu mencapai apa yang kau tuju" Tanya Taenyung.
"Cari dalang dari pembantaian keluargaku.. jangan menghabisinya dulu. Aku ingin sedikit bermain dengan mereka" ucap Jungkook disertai seringaian yang tidak cocok untuk diperlihatkan dari wajah manisnya.
Taehyung menyeringai, bukan kah ia benar? Terkadang manusia jauh lebih memiliki sifat iblis daripada iblis itu sendiri. Dan dengan melihat Jungkook ia bertambah yakin, bahwa makhluk bernama manusia hanyalah makhluk yang sok suci dihadapan Tuhan.
.
.
.
T.B.C
.
Vlienart
