Disaat semua orang tengah mengalami kepanikan akibat menghilangnya tombol log out di jendela menu mereka, tiba tiba seberkas cahaya menyelimuti mereka dan meneleport semua player ke pusat kota awal.
"Hei apa yang terjadi?"
"Kenapa kita di teleport ke alun alun kota?"
"Hiks hiks hiks aku ingin pulang. Tolong aku!"
"Seseorang harus bertanggung jawab."
Dan bebagai perkataan keluar dengan lancar dari orang orang yang terjebak dalam game Sword Art Online.
MAINTENANCE ALERT
Tiba tiba di langit terdapat tulisan yang merupakan peringatan bagi para player tentang pemeliharaan system.
Naruto menatap heran tulisan itu dan perasaannya menjadi tidak enak karena merasakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Tangan yang terlipat di dadanya semakin mengerat menunjukkan posisi serius dan tenang untuk mencari jalan keluar berbanding terbalik dengan orang orang di sekitarnya yang semakin panik dengan munculnya tulisan tersebut.
"Selamat datang di duniaku. Aku adalah Akihiko Kayaba dan disini aku adalah Tuhan. Tentu kalian menyadari bahwa tombol log out tidak ada namun ini bukanlah error dalam game. Ini merupakan fitur terbaru dalam game ini sehingga kalian tidak bisa meninggalkan game ini. Saat ini aku sedang menyiarkan tentang fitur ini dimana ketika ada seseorang yang memutuskan untuk memutuskan koneksi dengan nervegear secara paksa maka nervegear akan mengirimkan gelombang yang membuat otak kalian meledak."
"NANI...!"
"Saat ini karena keluarga kalian tidak mengidahkan peringatanku maka 213 orang telah meninggal dunia. Aku akan memberikan waktu 2 jam agar keluarga kalian dapat memindahkan kalian ke tempat yang tepat. Kalian harus menyelesaikan game ini dengan mengalahkan semua bos di 100 lantai agar dapat kembali hidup hidup."
"SIALAN KAU." Teriakan hujatan kepada Akihiko Kayaba terdengar disana sini namun tidak di pedulikan olehnya.
"Aku memiliki hadiah untuk kalian di penyimpanan item kalian nah ambil dan gunakan itu."
Semua orang segera membuka jendela menu dan mencari penyimpanan item mereka.
Naruto mengeryitkan dahinya memandang heran item yang dia temukan di penyimpanan itemnya.
Cermin. Untuk apa dia memberikan cermin untuk semua orang.
Dengan perasaan heran Naruto melakukan perintah Akihiko Kayaba dan meggunakan cermin itu. Naruto terkejut ketika avatar yang dia buat berubah menjadi dirinya yang asli di dunia nyata.
Kuso kenapa aku berubah menjadi aku yang asli di dunia nyata padahal aku sudah capek capek mengubah diriku menjadi super tampan di game ini.
"Nah sekarang kalian akan menjadi diri kalian sendiri. Ingatlah jika kalian mati di tempat ini maka kalian akan mati selama lamanya. Semoga beruntung dan selama menikmati dunia baru kalian."
Semua orang yang mendengar perkataan Akihiko Kayaba menjadi drop dan mulai membubarkan diri untuk mencari jalan keluar menurut apa yang mereka yakini.
Kuso! Benar benar brengsek Akihiko Kayaba, game ini telah menjadi game kematian. Aku harus berjuang maksimal agar dapat bertahan hidup, untung aku sudah menyiapkan beberapa program hack untuk menjaga diri. Sekarang waktunya memikirkan bagaimana aku bisa bertahan hidup di dunia virtual ini. Speed dan agilityku meningkat dengan dratis berkat program hack tentu ini menguntungkanku belum lagi program weapon master yang aktif kalau aku bisa mengaktifkan dual blade. Yosh sekarang lebih baik aku menjelajahi dungeon dan meningkatkan level serta statistikku sambil mencari orang orang yang mungkin aku kenal. Semoga keluargaku bisa mengatasi ini di dunia nyata dan mereka tidak nekat untuk masuk game ini ataupun menyusul mengetahui aku terjebak dalam game kematian ini.
Naruto kembali menelusuri kota untuk mencari berbagai peralatan yang sekiranya bisa mendukung untuk bertahan hidup. Setelah berkeliling beberapa saat mengumpulkan apa yang dia perlukan kini Naruto melangkah meninggalkan kota untuk mencari monster monster yang dapat meningkatkan kekuatan dan levelnya.
Sepanjang perjalanan Naruto memikirkan tentang seseorang yang sempat dia lihat ketika menghadiri pesta antara pengusaha pengusaha. Naruto membulatkan tekad untuk dapat keluar dari game kematian ini agar bisa mencari gadis yang mencuri perhatiannya.
Sibuk dengan pikirannya sendiri tanpa sadar tangan kirinya memainkan sebuah dagger dan tangan kanannya memainkan trisula dengan lihai. Perilaku Naruto mendapat perhatian dari beberapa orang yang melihatnya dan mereka menganggap Naruto gila. Tidak heran karena semua orang menggunakan senjata senjata besar dan kuat seperti pedang, rapier, kapak, katana, palu raksasa dan lainnya hanya orang bodoh yang mau menggunakan senjata kecil seperti dagger atau trisula.
Beberapa saat berjalan akhirnya Naruto sadar dari dunianya dan memandang heran mendapati orang orang melihatnya dengan pandangan aneh. Naruto hanya tersenyum sambil tetap memainkan dagger dan trisulanya.
Tidak heran mereka memandangku heran karena pilihan senjata ini. Namun suatu saat akan ku tunjukkan bagaimana aku membuat senjata kecil ini menjadi hal yang mematikan. Hahahaha akhirnya aku bisa mewujudkan impian menjadi ninja walau di dunia game.
Naruto melanjutkan perjalanannya untuk mencari tempat tempat yang verguna untuk leveling dengan cepat dan melatih skill yang dia punya. Beruntung tempat tempat leveling yang di tuju memiliki fitur resurrection dimana monster yang terbunuh akan hidup kembali setelah beberapa hari sehingga Naruto tidak perlu khawatir kehabisan monster.
Dunia Sword Art Online menjadi kacau karena orang orang yang panik melakukan berbagai cara untuk bertahan hidup. Dalam sekejab waktu berdiri guild guild bagi mereka yang memilih bertarung baik itu melawan monster maupun pemain lain. Adapula yang memilih untuk menerima nasib mereka dengan menjadi profesi profesi lain 6 pedagang, blacksmith, penjaga panti asuhan dan gereja serta berbagai profesi non petarung lainnya.
DUNIA REAL
Kediaman Namikaze nampak begitu ramai dengan kesibukan para pelayan yang hilir mundik mengerjakan perintah sedangkan di luar rumah sebuah mobil ambulance sebuah rumah sakit ternama tengah terparkir menanti tugasnya.
Empat orang dewasa terlihat sedang terlibat dalam pembicaraan yang serius di ruang tamu sembari menunggu persiapan yang di lakukan para pelayan selesai.
"Hiks hiks hiks.. Naru-chan!" Seorang wanita dewasa bersurai merah menutup wajahnya dengan tangan sambil terus terisak memanggil Naruto sementara dirinya di peluk pria bersurai pirang dengan jambang membingkai wajahnya.
"Maafkan aku Kushina karena melibatkan putramu sehingga mengalami hal ini." Seorang pria paruh baya bersurai putih panjang menatap sendu Kushina yang masih terus terisak.
"Aku sudah mempersiapkan ruangan terbaik di rumah sakit untuk merawat Naru-chan selagi dirinya terjebak di game itu." Suara lembut dari seorang wanita bersurai pirang pucat membuat Kushina membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya.
"Kaa-san."
"Aku sudah mempersiapkan yang terbaik setelah pengumuman dari Akihiko Kayaba brengsek itu beredar di televisi. Aku juga menyiapkan beberapa ruangan di lantai vip dan perawatan untuk beberapa keluarga kita dan keluarga rekan bisnis Minato yang terjebak dalam game itu."
"Aku tidak menyangka Kayaba sialan itu akan membuat game kematian seperti ini. Sudah 213 orang mati karena keluarga mereka panik mencabut nervegear dengan sembarangan karena panik. Aku salut kamu bisa tetap rasional walaupun di landa panik Kushina."
"Kau tahu Tou-san jika terjadi apa apa dengan Naru-chan aku tidak akan memaafkanmu." Kushina menatap tajam kepada sosok bersurai putih yang bergidik melihat tatapan seakan hendak membunuhnya itu.
"Aku percaya Naru-chan tidak akan mengalami apa apa karena dia yang terbaik dalam keluarga kita. Otak Namikaze, Uzumaki dan ketahanan tubuh Senju bisa membuatnya bertahan melewati ini." Sosok pirang yang memeluk Kushina menguatkan hati Kushina untuk tegar menghadapi masalah ini. Dirinya sadar jika putranya adalah anak kesayangan istrinya yang pasti berat bagi sang ibu menerima kejadian ini.
"Tak kusangka aku membuat cucuku mengalami ini. Aku akan bekerja lebih keras bersama polisi cyber untuk mengatasinya. Nah Minato aku dengar beberapa ahli IT perusahaanmu juga terjebak."
"Betul Tou-san. Yugao dan Konan terjebak di dalam game itu dan sekarang sudah berada di rumah sakit Kaa-san. Aku harap mereka bisa mengenali Naruto sehingga melindunginya." Perkataan Minato membuat Kushina membulatkan mata mengetahui seorang yang sudah dia anggap keluargan dan sosok kakak angkat Naruto ikut terjebak dalam game kematian itu.
"Pagi tadi mereka sudah di pindahkan ke ruangan yang sudah aku persiapkan setelah mendengar pengumuman Kayaba sialan itu semalam. Saat ini petugas IGD sedang berusaha memindahkan putri keluarga Hyuuga dan Haruno. Adapun beberapa keluarga juga menghubungi rumah sakit untuk meminta merawat keluarga mereka."
"Kau memang selalu tanggap Tsunade. Ah aku juga ingin menitipkan beberapa anggotaku jika kau mengijinkan."
"Jadi apa yang ingin kau lakukan Anata?" Tsunade tersenyum manis namun berbeda dengan aura di belakangnya.
"Ma ma ma aku hanya ingin memasukkan anggotaku ke dalam game sehingga aku bisa melindungi Naruto."
"Kenapa harus melakukan hal itu Tou-san?"
"Aku curiga jika game ini akan menjadi lebih brutal dari yang aku pikirkan. Game kematian tentu tidak sesederhana itu kelihatannya." Jiraiya memegang dadunya sambil menatap Tsunade.
"Jika player mati di game maka dia otomatis meninggal juga di dunia nyata apa itu yang Tou-san pikirkan." Kushina menatap Jiraiya dengan tenang namun tubuhnya bergetar karena pemikiran yang muncul.
"Itu yang aku takutkan. Kayaba hanya memberitahu supaya kita tidak memutuskan hubungan nervegear serta memberi kita waktu untuk memindahkan korban namun..."
"Kayaba tidak memberitahu aturan game kematian itu sehingga ada kemungkinan yang di katakan Kushi-chan dan itu membuat kemungkinan terjadinya pembunuhan di dalam game yang berimbas pada tubuh dunia nyata." Minato memotong perkataan Jiraiya yang di tanggapi dengan anggukan kepala oleh Jiraiya.
Tsunade dan Kushina hanya bisa membulatkan mata dan badan mereka bergetar mendengar kemungkinan itu. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana nasib anak dan cucu kesayangan mereka. Suasana menjadi hening sejenak setelah masing masing orang larut dalam pemikirannya sendiri.
Dering handphone terdengar menyentak semua orang dari lamunannya. Tsunade segera mengambil handphonenya yang berbunyi dan mengangkatnya setelah menjauh dari keluarganya supaya tidak mengganggu. Beberapa saat kemudian Tsunade kembali dengan wajah kusut yang membuat Jiraiya menatap heran.
"Putri keluarga Yuki juga terjebak di game itu Jiraiya. Saat ini mereka dalam perjalanan ke rumah sakit."
"APA?" Jiraiya tanpa sadar berteriak membuat semua orang yang ada di ruangan men deathglare dirinya.
"Kenapa Tou-san berteriak dan apa hubungan keluarga Yuki dengan hal ini?" Minato menatap Jiraiya seakan berkata kau harus jelaskan ini sekarang.
"Kamu tentu mengenal Keluarga Yuki sebagai rekan bisnisnya namun aku rasa kamu belum mengenal putri mereka Asuna Yuki. Gomen Minato Kushina karena kami sudah menjodohkan Naruto dengan Asuna."
"Apa?" Kushina menunjuk nunjuk Tsunade dengan tatapan marah. "Kamu keterlaluan Kaa-san. Naruto putraku jadi jangan seenaknya menjodohkan dia dengan orang lain."
"Menjodohkan Naruto dan Asuna akan menguntungkan kedua belah pihak Kushina. Dan tentunya aku tidak memberikan gadis sembarangan kepada Naruto. Aku yakin Asuna akan menjadi pasangan yang tepat untuk Naruto." Jiraiya menatap Kushina sambil memasang seringai di wajahnya.
"Aku tidak menyetujui permainan kalian dattebane." Kushina memalingkan mukanya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kalian membuat suasana semakin rumit Kaa-san Tou-san."
"Apa maksudmu Minato?"
"Kushina berniat menjodohkan Naruto dengan anak sahabatnya Mebuki."
"Eh! Mebuki? Mebuki Haruno istri Kizashi Haruno?" Tsunade menatap tidak percaya ke arah Kushina yang mengembungkan pipinya.
"Ha'i." Minato mengangguk.
"Hahahaha." Jiraiya tertawa mendengar kepastian dari Minato.
"Kushi-chan kamu belum menyadari sesuatu tentang Naru-chan ya?" Tsunade mendekati Kushina dan mengelus kepalanya sehingga membuat Kushina merona diperlakukan layaknya seorang gadis olen Kaa-sannya.
"Naru-chan menyukai Asuna saat pertama kali dia melihatnya di pesta yang di adakan keluarga Haruno. Kalian mungkin tidak menyadarinya karena kalian tidak melihatnya tapi aku dan Jiraiya melihatnya terpukau menatap Asuna seakan Asuna hanya miliknya seorang walaupun mereka belum saling mengenal." Tsunade tersenyum teduh menatap Kushina.
"Sebenarnya aku ingin mengenalkan mereka secara resmi dan membahas perjodohan ini dengan keluarga Yuki namun ternyata mereka terjebak dalam dunia game." Jiraiya menambahkan perkataan Tsunade.
Minato dan Kushina hanya saling menatap mencoba mencerna perkataan Tsunade dan Jiraiya. Tangan Minato terulur menggenggam tangan Kushina seolah menenangkan pergumulan batin yang di alami istrinya.
Tsunade segera menyingkir dari suasana yang tiba tiba canggung karena masalah perjodohan itu untuk melihat persiapan
pemindahan tubuh Naruto ke rumah sakit. Para pelayan tengah membereskan beberapa perangkat yang akan di bawa ke rumah sakit guna menopang nervegear Naruto ke dalam ambulance sebelum memasukkan Naruto.
Setelah semua beres beberapa pria mulai membawa tubuh Naruto dan memasukkan ke ambulance untuk segera di bawa ke rumah sakit. Setelah semua beres dan ambulance berangkat ke rumah sakit, Tsunade kembali menemui keluarganya di ruang tamu dimana Kushina sedang di peluk Minato dan Jiraiya menelepon seseorang.
"Naruto sudah dipindahkan ke rumah sakit. Kalian tidak perlu khawatir dengannya aku akan menyuruh Karin merawatnya dan Asuna secara khusus."
"Kaa-san kau benar benar serius masalah Naruto dan Asuna?" Kushina menarik ujung baju Tsunade dan hal itu membuat Tsunade menghela nafas.
"Ya. Apa yang kamu pikirkan Kushi-chan?"
"Entahlah Kaa-san. Jujur aku tak ingin mengecewakan Mebuki karena janji kami ketika kuliah dulu."
"Kita lihat saja nanti bagaimana Naruto mengatasi masalah ini. Aku yakin cepat atau lambat mereka akan menemui masalah ini."
"Apapun jalan yang di pilih Naru-chan kita hanya bisa mengarahkan dan mendukungnya." Minato menatap penuh keyakinan kepada Kushina.
"Aku harap Naru-chan memilih jalan harem. Hal ini akan bagus untuk peneliti.."
DUAKH DUAKH
Belum sempat menyelesaikan perkataannya dua buah sepatu melayang menghantam wajah Jiraiya yang sukses membuat Jiraiya terjungkal jatuh ke belakang. Menatap pelaku pelemparan sepatu itu mendadak raut muka Jiraiya menjadi pucat paci.
"Kau ingin merasakan kasih sayangku ne Jiraiya-kun." Tsunade tersenyum sangat manis namun Jiraiya melihatnya sebagai senyuman malaikat kematian dan membuatnya merinding.
"Tou-san kau benar benar ingin menjadikan Naru-chan bahan penelitian idemu." Rambut Kushina berkibar dan melambai lambai membuat kesan horor semakin pekat dalam diri Kushina.
"Dasar Mesum" teriak duo ibu dan anak.
DUAKH DUAKH BUGH
Dan dimulailah penyiksaan duo ibu dan anak terhadap sosok Jiraiya serta jeritan yang terdengar merdu mengalun indah membuat para pelayan mengambil posisi sembahyang dan bergumam semoga anda di terima di sisinya dan dosa dosa anda di ampuni Jiraiya-sama sementara Minato hanya bisa sweetdrop melihat tingkah keluarganya.
DUNIA SWORD ART ONLINE
Hari demi hari berganti seperti dunia nyata karena game sword art online di setting semirip mungkin dengan dunia nyata. Orang orang yang terjebak di dalamnya beraktivitas dengan normal sambil terus mencari cara untuk keluar dari game ini. Para petarung terus berusaha mencari di mana bos berada untuk mengalahkannya demi mencapai lantai di atasnya. Orang orang semakin berusaha menyamankan diri sesuai pemikiran yang sesuai dengan diri mereka sehingga membuat beberapa orang benar menguasai game ini.
Menghabiskan banyak waktu memburu monster untuk leveling dan mengumpulkan item item yang bisa di perjual belikan sambil mencari tempat bos membuat sosok pemuda bersurai pirang dengan iris biru safir yang saat ini memakai battle kimono berwarna merah dengan bawahan berwarna putih terlihat berantakan akibat banyak pertarungan.
Pemuda ini tengah memasuki kota starting untuk menukarkan item item yang dia kumpulkan selama perburuannya. Berkeliling kota memasuki toko demi toko akhirnya Naruto berhasil menjual item yang tidak di butuhkan dan kini dia memasuki sebuah toko pakaian karena baju yang dia pakai sekarang sudah tidak nyaman di pakai. Setelah membeli beberapa baju kini Naruto keluar toko dan tanpa di sadarinya suasana di luar toko yang tadinya ramai mendadak menjadi hening sejenak. Naruto mengangkat sebelah alisnya tanda heran dengan perubahan tersebut kemudian terdengar jeritan histeris dari beberapa gadis yang berhasil membuat Naruto jawdrop dan mengambil langkah seribu sebelum tenggelam dalam gerombolan gadis gadis.
Hampir saja aku tenggelam dalam gerombolan gadis itu. Lebih baik aku pergi dari tempat ini dan mencari sesuatu yang menarik sembari beristirahat beberapa hari. Entah sudah berapa lama aku meninggalkan mereka kini aku merindukan mereka.
Naruto menatap langit sembari berbaring di hamparan rumput yang terletak di sebuah taman kecil di suduk Starting City. Hembusan angin membelai wajah sang pemuda Namikaze yang terlihat sarat dengan keletihan. Naruto meneteskan air mata ketika mengingat keluarga yang di cintainya, Naruto berharap mereka baik baik saja ketika dirinya terjebak disini. Tak jauh dari tempat berbaring Naruto nampak dua orang gadis bersurai ungu dan biru sedang menatap intens keberadaan Naruto. Mata mereka meneliti setiap detail tubuh avatar Naruto mencoba mengenali sosok yang ada di depan mereka.
"Apa kau yakin dia adalah tuan muda Namikaze ne Yugao?" Tanya seorang gadis bersurai biru kepada temannya.
"Ketika Akihiko Kayaba membuat tampilan kita menjadi asli maka semua akan seperti aslinya Konan. Aku bisa menemukanmu beberapa hari setelah peristiwa itu berkat tampilan aslimu. Hiasan Origami di kepalamu itu mencolok mata dan membuatmu di kenali dengan mudah."
"Lalu?" Konan menatap penuh tanya ke arah Yogao yang sontak membuat Yogau menepuk dahinya.
"Astaga Konan. Coba kau perhatikan pemuda itu bukankah dia mirip sekali dengan Minato-sama. Mengingat Minato-sama bukan maniak game hanya ada satu kemungkinan." Sambil memegang kepala Konan dan mengarahkan pandangan Konan ke arah Naruto, Yugao menjelaskan maksudnya.
"Betul juga Yugao. Tapi kita harus memastikan terlebih dahulu karena bisa jadi dia hanya mirip Namikaze-sama."
"Mudah mudahan dia memakai nama aslinya sehingga kita tidak kesulitan."
"Mengingat soal nama aku merasa kita bodoh ne Konan. Memakai nama asli kita untuk avatar game sementara mayoritas player memakai nama samaran."
"Hehehe. Sudahlah kita coba dekati dia."
Konan menarik tangan Yugao dan menyeretnya mendekati Naruto sambil tersenyum senang sementara Yugao sedikit merona mengingat ini kesempatan yang baik untuk menggoda Naruto.
Naruto terlelap dalam mimpi indahnya tentang gadis yang beberapa kali hadir dalam mimpinya namun tidak mengingat dengan pasti wajahnya ketika Konan dan Yugao duduk di sebelah kanannya. Yugao menatap Naruto dan mengelus lembut pipi pemuda pirang itu sehingga membuat Konan mengerucutkan bibirnya karena merasa di dahului.
Perlakuan Yugao membuat mimpi Naruto harus terhenti ketika wajah sang bidadari mulai terlihat jelas akibat Naruto terbangun. Sambil menatap heran kedua gadis di kanan dan kirinya Naruto berusaha mengenalinya. Sementara Yugao semakin yakin jika di depannya adalah orang yang telah di anggapnya sebagai adik sendiri.
"Akhirnya kau bangun juga Naruto." Yugao tersenyum manis sementara tangannya masih mengelus pipi Naruto dan sontak hal itu memunculkan rona kemerahan di pipi Naruto.
Sialan kau kakek mesum, kau sudah menularkan penyakit mesummu padaku. Aku tidak mesum aku tidak mesum.
"Darimana kau tahu namaku?" Naruto memasang sikap waspada walaupun rona kemerahan di pipinya jelas terlihat akibat kelakuan Yugao yang semakin terkekeh dan semakin menggoda Naruto dengan tingkahnya.
BLETAK
Sebuah jitakan bersarang di kepala Yugao berhasil membuat godaan yang di terima Naruto menghilang.
"Hentikan tingkahmu itu. Kau membuatku malu saja dan hormatlah pada tuan muda Namikaze."
"Habis menggoda Naruto menyenangkan."
Melihat interaksi dua gadis di depannya membuat insting Naruto siaga dan refleknya membuat Naruto meloncat kebelakang dan dua trisula tergenggam tangannya. Yugao dan Konan melihat reaksi Naruto terkejut dengan kejadian itu.
"Siapa kalian dan darimana kalian tahu namaku?" Naruto mengarahkan trisulanya ke arah Yugao dan Konan.
"Jadi kau benar Naruto Namikaze?" Konan menunjuk ke arah Naruto dan di balas anggukan oleh Naruto.
"Jadi kau tak mengenali diriku ne Tuan muda." Yugao menyeringai tipis.
Naruto menatap intens meneliti dari ujung rambut sampai ujung kaki mencoba mengenali dua gadis itu.
"Kau masih tidak mengenaliku heh." Yugao mendekati Naruto perlahan yang membuat Naruto semakin waspada dan secepat yang bisa di lakukan Yugao mencabut pedangnya dan menyerang Naruto.
Naruto segera meladeni Yugao beradu skill pedang bahkan peringatan yang muncul di jendela menu di abaikannya karena gadis bersurai ungu di depannya tidak memberi kesempatan untuk melakukan hal lain selain menangkis tebasan pedang. Naruto terus berusaha mencari celah agar dia bisa menjatuhkan lawannya dengan efisien namun Yugao tidak memberikan ruang. Gerakan demi gerakan yang di lakukan Yugao mulai meresap di dalam memori Naruto dan mengingatkan dirinya pada seseorang. Orang yang telah mengajarinya dasar dasar ilmu pedang sehingga dirinya bersemangat ketika Sword Art Online muncul. Melemparkan satu trisulanya ke arah Konan dengan cepat sembari menahan tebasan pedang Yugao membuat Naruto memiliki celah untuk membuat jarak ketika dirinya menghilang dalam kilatan kuning dan muncul memegang trisula yang hampir mengenai Konan. Konan dan Yugao terkejut melihat skill Naruto yang mampu berpindah tempat dengan cepat.
"Hah. Kau membuatku repot Yugao-nee." Naruto menghela nafas sambil memasukkan dua trisulanya ke jendela menunya.
"Otakmu sudah lemah sehingga kau lambat mengenali seseorang ne Naruto-kun." Yugao menyeringai sambil memasukkan pedang ke sarungnya.
"Gomenne Nee-chan. Aku mengira kau adalah orang lain yang terjebak di game ini. Aku tidak menyangka nee-chan akan ikut terjebak dalam game ini."
"Syukurlah kamu baik baik saja Naru. Beruntung aku bisa menemukanmu secepat ini." Yugao memeluk erat Narugo seakan akan tidak rela Naruto pergi dari sisinya yang di balas pelukan juga oleh Naruto.
"Ehmm." Sebuah deheman sontak menghancurkan moment antara Naruto dan Yugao membuat dua insan itu salah tingkah karena melupakan satu orang lagi di tempat itu.
"Gomen Konan. Nah Naru kenalkan ini sahabat Nee-chan namanya Konan dan dia pegawai baru di perusahaan satu divisi denganku. Dan Konan ini Naruto putra Minato-sama dan otoutouku yang paling manis."
"Senang mengenal anda Namikaze-sama. Dan Yugao apa maksudmu dengan perkataanmu?"
"Senang mengenalmu Konan-nee dan jangan formal kepadaku panggil saja aku Naruto seperti Yugao-nee memanggilku. Yugao bisa di bilang seperti kakak bagiku karena Ibuku sangat dekat dengannya."
"Eh." Konan terkejut karena hubungan antara Yugao dan Naruto.
Hari telah beranjak petang ketika Naruto menyelesaikan kisahnya selama terjebak di dunia Sword Art Online sehingga Yugao mengajak Naruto ke penginapan tempat Yugao dan Konan beristirahat untuk melanjutkan perbincangan dan beristirahat. Perjalanan ke penginapan membuat Naruto di tatap tajam pria yang iri karena Naruto di gandeng oleh dua gadis cantik.
Setelah beristirahat selama beberapa hari dan menghabiskan waktu bersama Yugao dan Konan akhirnya Naruto memutuskan untuk memulai lagi pencarian tempat bos berada sambil leveling sebanyak mungkin. Nampak di gerbang kota berdiri seorang pemuda pirang dengan memakai kaos biru berlengan panjang dengan rompi hijau yang terdapat beberapa kantong untuk perlengkapan, celana militer berwarna hitam dan sepatu semi boot menghiasi kakinya tidak lupa hoodie putih yang berkibar membuat penampilannya semakin gagah sedang di tatap dua orang gadis yang seolah merajuk dalam tatapan mata.
"Gomenne Yugao-nee dan Konan-nee aku tidak bisa membawa kalian kali ini. Aku tidak ingin terjadi apa apa dengan kalian sebab aku akan pergi ke dungeon di batas utara lantai ini." Perkataan Naruto sukses membuat dua gadis itu membulatkan mata.
"Tidak. Kamu tidak boleh kesana Naruto. Tempat itu berbahaya dan rumor mengatakan belum ada yang mampu melewati dungeon itu. Bahkan ketika baru masuk banyak yang sudah mundur karena sangat berbahaya." Yugao menarik tangan Naruto dan berusaha mencegah Naruto untuk pergi.
"Tapi aku harus melakukan ini Nee-chan." Seringaian muncul di wajah Naruto membuat Yugao dan Konan bingung dengan sikap Naruto. "Tampaknya rumor itu harus di perbaiki."
"Maksudmu?"
"Aku pernah memasuki dungeon itu hingga pertengahan dungeon tapi aku terpaksa tidak melanjutkan karena persediaan perlengkapanku habis dan aku tidak mau ambil resiko yang merepotkan."
"Astaga." Yugao menggelengkan kepala mendengar pernyataan Naruto.
"Ne Yugao-nee aku akan memperlihatkan ststistikku dan ku harap kau merahasiakannya." Naruto memainkan jendela menunya dan menampilkan statistiknya kepada Yugao dan Konan dan membuat dua gadis itu semakin terkejut dan mulut mereka seperti ikan yang sedang bernafas.
"Mustahil."
"Kau seorang cheater Naru-kun." Konan menutup mulutnya akibat shock bahkan tanpa sadar menambahkan suffix -kun pada nama Naruto.
"Kita berpisah disini Yugao-nee Konan-nee. Aku harap kalian segera meningkatkan level kalian dan menguatkan statistik kalian agar bisa menjadi lebih kuat. Dan jika ada yang mengajak kalian bergabung dalam guild terima saja karena menjadi solo player itu merepotkan. Aku akan menemui kalian kelak setelah berlatih agar lebih kuat sehingga aku bisa menyelamatkan kalian."
Naruto tersenyum dan meninggalkan kota setelah memeluk Yugao dan Konan serta meminta mereka berhati hati dan meningkatkan level mereka secepat mungkin. Yugao memandang Konan yang masih menatap punggung Naruto dan menepuk bahunya.
"Tak kusangka dia cheater dan statistik seperti itu dia pasti bisa mengatasi dungeon dengan baik." Konan masih tidak percaya.
"Aku yakin pasti ada hubungan dengan Jiraiya-sama. Dan aku tidak habis pikir kenapa selama bersama kita dia selalu bertingkah seperti orang lemah."
"Kamu betul Yugao. Entah apa yang di pikirannya. Ah aku jadi ingat perkataannya soal guild. Bagaimana kalau kita membuat guild."
"Baiklah dengan adanya guild kita bisa saling menolong dalam segala hal. Untuk itu kita harus mencari beberapa anggota terlebih dahulu dan kelak Naruto kita paksa untuk ada di guild kita. Sekarang biarkan dia bermain solo."
Yugao dan Konan saling memberikan senyum terbaiknya kemudian meninggalkan tempat itu untuk melaksanakan rencana mereka.
TBCMaaf kalau updatenya lama di karenakan sekarang saya berada di daerah yang sinyal internetnya susah banget. sehingga untuk update membutuhkan usaha yang keras dan sabar.
trima kasih untuk dukungan dan reviewnya untuk fic yang jauh dari sempurna. mohon maaf belum bisa membalas pertanyaan dari readers. saran kritik di terima dengan terbuka dan bila sesuai dengan plan akan diusahakan. sedangkan untuk pairing saya belum bisa menentukan apakah single atau mini harem untuk fic ini karena jujur saya menyukai mini harem di fic naruto namun sepertinya susah menerapkan di SAO lagipula saya tidak memiliki pandangan siapa siapa
yang jadi pasangan kelak.
