"Maaf Chanyeol-ssi tapi aku benar-benar tidak mengucapkannya tadi, aku harap kau pah_"

"Kau bilang apa?" Ia memplototkan mataku seolah memintaku dengan cepat membalas ucapannya.

"Hah?" Aku bingung. sumpah.

"Kau menyebutkannya barusan. Chanyeol. Park Chanyeol. itu namaku"

Zertt!

Petir kedua mengenaiku lagi. Oh no! dan sekali lagi kenapa aku tak sadar menyebutkannya dan itu sangat nyata dan suaraku yang kurasa cukup didengar oleh para penumpang lainnya tak tau harus mengelak apa lagi.

Ku lihat kesekitaran jendela, dan dewi fortuna sedang berpihak kepadaku. Bus berhenti tepat di halte dekat rumahku. tanpa ku hiraukan Chanyeol. Aku kemudian berdiri dan buru-buru keluar dari bus tersebut.ia sempat menahan tanganku saat ku coba melewatinya.

"Maaf, tapi saya harus turun. Kita bicara lain kali saja okey" Ku lepaskan genggaman tangannya secara perlahan.

Dan lagi, aku mengutuk diriku yang berucap seperti itu, secara tak langsung berarti aku meminta Chanyeol untuk berbincang lagi denganku bukan?

_

.

.

.

By ememlight

Creeping In Your Heart

Main Cast:

Baekhyun Chanyeol

Other cast:

Exo members and find it yourself, bertambah seiring jalannya cerita.

Rate:

T

Summary:

Berawal dari kenekatan Baekhyun untuk menaiki bus pergi maupun pulang sekolah, membawa dia bertemu Chanyeol yang selama seminggu selalu saja berdiri disampingnya menggenggam pegangan pada langit-langit Bus.

Disclaimer:

Isi cerita seutuhnya hasil pemikiran dan imajinasi author emem, apabila ada kesamaan cerita itu murni ketidak sengajaan, All Cast seutuhnya milik SM dan TYME

Note:

Saya bukan penulis yang baik JUST ENJOY THE STORY, gak suka? It's okay don't read this story. Suka? Please don't be siders tinggalkan review.

PLEASE DON'T PLAGIAT, DON'T REMAKE, DON'T COPY.

.

.

.

_

Chapter 2

Pagi sedikit bersahabat, walaupun beberapa hari lagi memasuki musim dingin tak menghiraukan diriku untuk tak berangkat kesekolah, dan disinilah diriku di halte bus dekat rumah, menunggu bus menjadi rutinitas harianku. Aku memakai sweater berwarna coklat hadiah natalku tahun lalu dari ibu, dan sebenarnya Ibu juga yang memaksa ku memakainya tadi pagi. Dipaksa. Dan itu sangat dengan embel-embel ancaman handalannya.

Detik demi detik kuarungi dengan debaran jantungku yang kurasa persis saat aku di bus dua hari lalu bersama dia. Park Chanyeol. Hmm mungkin karena aku tak berani menemuinya. Entahlah.

Beberapa orang pekerja kantoran, pelajar, dan lainnya melirik jamnya masing-masing sama halnya denganku yang sedang menunggu bus tiba tidak lama lagi.

Dan benar, beberapa lama kemudian bus yang kutunggu akhirnya tiba, dan debaran jantungku semakin tak karuan. Kuambil tempat duduk di tempat seperti biasanya.

Biasanya dia. Park Chanyeol. Akan naik ke bus di halte berikutnya. Aku tak tau harus mengatakan apa nantinya jika ia kembali bertanya seperti kemarin. Dan lagi aku merutuki kebodohan yang kulakukan kemarin. Kuakui itu benar-benar bodoh diriku sangatlah bodoh dan bahkan kulakukan dua kali dan kalau aku mengelak kupastikan dia pasti berfikir aku itu orang yang sangat-sangat aneh.

Eih Jinjja.

Tiba-tiba seseorang di belakangku menepuk bahuku, debaran jantungku semakin berdebar tak karuan. Dengan sekuat hati, ku beranikan diriku untuk menoleh.

Kutatap dia yang sedang menempelkan jari telunjuknya di bibir.

"Maaf dek, Jangan membenturkan kepalamu di jendela terus menerus. Bayiku sedang mencoba untuk tidur" ia agak berbisik.

Aku cuman mengangguk, dan sedikit membungkuk kepada seorang wanita yang kuperkirakan berusia 30an lebih dengan anak bayi digendongannya dan anak sekolah dasar disampingnya.

Itu sedikit membuatku lega, aku kira itu adalah Dia. Park Chanyeol. Aku bilang sedikit kan dan selebihnya lagi menahan malu, pasalnya beberapa pasang mata di bus sedang menatap ke arahku, mungkinkah mereka memandangku sedari tadi. Aku tak merasa terlalu membuat kebisingan sedari tadi. Eih entahlah ini sangat memalukan.

Ini sudah ketiga kalinya bus berhenti, namun dia. Park Chanyeol. belum juga terlihat dari eksistensiku. Dan satu pemberhentian lagi maka aku akan tiba di sekolah.

Yeah hatiku sungguh lega dan akupun merasa senang. Harusnya. Tapi yang kurasakan sekarang sesuatu yang lain. Khawatir mungkin.

Ayolah, aku merasa aneh karena kali pertamanya aku di bus dan aku tak mendapati sosoknya di sampingku bergelantungan di pegangan bus, itu aneh. Dan aku rasa aku tak suka. But why?

Seharusnya aku senang bukan, soalnya tak ada pertanyaan darinya yang dapat membuatku kikuk dan nampak bodoh, namun itu berbanding terbalik dengan apa yang perasaanku coba lontarkan, mungkin kecewa karena tak mendapati sosoknya selama 2 hari ini.

[CIYH]

Perpustakaan nampak lenggang, hanya ada beberapa orang dengan sesuatu yang membingkai matanya.

Aku yang baru saja memasuki kelas, seketika ditarik Luhan untuk mengembalikan buku yang ia pinjam.

Menolak? Aku sudah mencobanya. Tapi apalah gunanya telinga Luhan, ia tak mendengar satupun penolakanku. Dengan berat hati akupun menemaninya.

Ini pertama kalinya aku memasuki perpustakaan, eh perpustakaan sekolah ini maksudku kalau perpustakaan lainnya aku sering berkunjung pastinya. Sama dengan perpustakaan lainnya, ruangan ini dipenuhi buku dengan rak-rak yang tersusun rapi.

"Baek kau tunggu sebentar yah, aku mau meminjam beberapa buku lagi. Awas kalau kau kabur. Ingat, ini juga ada kaitannya sama tugas yang kemarin" Luhan berbicara dengan jari telunjuk yang mengacung terus kearahku.

Aku lalu mengatupkan jari telunjuknya,

"Iya Luhan-ssi" dan tersenyum sepaksa mungkin.

Aku berjalan memasuki lorong-lorong rak buku, eksistensiku mendapati seorang pria yang sedang duduk dan terlihat sibuk dengan beberapa buku di depannya serta seorang perempuan yang aku sangat ingat jelas wajahnya itu sedang berdiri disampingnya. Dia perempuan yang bersama Chanyeol kemarin.

Aku lalu menarik satu buku dan membacanya ditempat. Pura-pura lebih tepatnya.

"Kalau sudah selesai antarkan ini ke kelasku yah, hmm maukan?" Perempuan itu berucap manja

Aku menunggu si pria kembali berucap,

"I-iyah Seulgi-ssi"

Aku sempat berfikir itu adalah dia. Park Chanyeol. Tapi itu hanya terjadi seperkian detik karena aku masih mengingat dengan sangat jelas gaya pria tersebut.

Ada perasaan lega saat kutau ternyata itu bukan dia sedang bersama perempuan itu di sudut perpustakaan ini.

"Oke kalau gitu aku tunggu yah manis" perempuan tadi menepuk pundak si lelaki. Dapat kulihat si lelaki tersenyum bahagia, mungkin karena diberlakukan lembut dengan perempuan itu, kuakui perempuan itu memang cantik dengan mata kucing serta rambut hitam panjangnya yang terurai, sebagian pria disekolah pasti menyukainya. Sebagian karena aku juga seorang pria namun aku tak menyukainya.

Aku sempat melirik perempuan tadi yang berlalu dihadapanku, dapat kulihat ia mengusap tangannya pada roknya yang sangat pendek itu dan berdecih pelan.

"Baek?"

Aku menoleh dan mendapati luhan dengan beberapa buku di tangannya.

"Eh iya, kau sudah selesai Lu"

"Hmm iya. kau, mau meminjam buku itu juga" ia menunjuk kearah buku yang sedang ku pegang "Buku tentang.. Pembuahan pada rahim?"

Apa?! kucoba membalik buku, membaca sampulnya dan pantas saja sedari tadi aku memandang isi gambar buku ini dengan tatapan aneh ternyata judulnya begitu. Eih dengan cepat aku menaruhnya lagi di rak buku. Aku dapat melihat Luhan yang sedang terkikik di sampingku

"Tidak! yasudah kalau sudah selesai ayo kembali ke kelas" aku memperbaiki letak tasku yang masih bertengger dipunggungku lalu berlalu melewati Luhan. Aku menahan malu kalau ingin tahu.

"Yyak tunggu Baek" ia berhasil mensejajarkan langkahnya denganku. "hmm.. tak kusangka kau ternyata suka... baca hmm yang begitu-begitu Baek. Hahahah"

Eih sialan si Luhan ini! Setelah mengatai dan menertawakanku ia berlalu meninggalkan ku dengan wajah merona sempurna. Aku tak tau ternyata Luhan sebaik itu.

[CIYH]

Mansion Luhan ternyata lebih besar dari perkiraanku, lebih besar dan bagus dari rumahku pastinya. Aku memandangi takjub seisi rumahnya dengan warna gradasi putih dan krem, itu tampak sangat mewah. Tak kusangka Luhan yang notabennya sangat menyebalkan punya mansion seluas ini.

Aku memasuki kamar luhan yang juga jauh lebih luas dan bagus dari kamarku, Setelah menyuruhku untuk menunggunya karena Luhan ada keperluan sebentar, aku memilih duduk di kasur Luhan yang pastinya sudah diperbolehkan oleh sang empunya, aku cuman mengangguk dan menyuruhnya agar tak terlalalu lama.

Menunggu Luhan membuatku sadar, ternyata mobil yang mengantar Luhan selalu dan mengantar kami berdua tadi adalah mobil Maserati granturismo yang harganya entah mencapai berapa. Aku lalu mengambil ponselku di dalam tas lalu mulai men-searching harga dari mobil tersebut. Dan wow yang bener saja, itu sempat membuatku termenung cukup lama menghitung digit angka pada harganya. Aku masih tak menyangka ternyata Luhan itu orang kaya, dan kuyakini sudah memiliki harta warisannya sendiri.

Dari pada memikirkan harta kekayaan Luhan, aku hampir saja lupa mengabari ibuku. Dengan cepat aku mengirimi ibuku pesan.

'Ibuku sayang, pulang sekolah tadi aku langsung kerumah Luhan untuk mengerjakan tugas sekolah. Jadi jangan mencemaskanku yah heheh'

Luhan kembali dengan seorang maid dibelakangnya yang membawa sebuah nampan berisi soda dan makanan ringan. Setelah maid itu menaruh bawaanya, ia lalu pergi dan menutup pintu.

"Ya sudah Baek, ayo kita mulai tugasnya"

Aku cuman mengangguk, lalu menghampiri Luhan yang sudah duduk di karpet berbulu halus bewarna hitam itu.

"Lu, tak kusangka ternyata kau adalah orang kaya" Aku mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasku.

Luhan sedikit terkikik "Memangnya kau menyangkaku sebagai apa Baek?"

"Yaah orang yang biasa, yang sekiranya sepantaran sama aku mungkin. Hehehe" aku tertawa canggung.

"Sudahlah tak usah kau fikirkan, aku harap dengan kau tau tak mebuatmu canggung untuk berteman denganku Baek"

"Okede"

Kami lalu melanjutkan apa tujuan sebenarnya kami kesini, yaitu belajar dan mengerjakan tugas bersama. Sesekali aku akan bertanya kepada Luhan sesuatu yang tak kupahami dan sebaliknya aku juga menjawab pertanyaan Luhan selama aku mengetahui jawabannya.

Mungkin karena aku dan Luhan terlalu lelah setelah pulang dari sekolah dan lanjut belajar, tanpa sadar aku dan Luhan tertidur diatas karpet dengan beberapa buku berserakan.

Ponselku bergetar, membuatku tersadar dari tidurku. Ku lirik ke arah Luhan, ia masih terlelap. Setelahnya ku ambil ponselku yang tak jauh dariku, dan betapa terkejutnya aku saat menatap jam yang terpampang nyata di ponselku.

Astaga sudah lewat jam 10 malam pantas saja terdapat 21 panggilan tak terjawab dan 4 pesan masuk, aku merenung sejenak lalu membuka notifikasi dari Ibu oh dan ada dari Ayahku juga.

'Baekkie kenapa kau belum pulang?''

'Baek sudah jam berapa ini kenapa kau belum pulang juga?!'

'Baek ayahmu sudah pulang, dan kenapa kau tidak mengangkat telepon ibu dan ayah?!!'

'Tuan Byun, ibu dan ayahmu sedang mencemaskanmu sekarang. Cepatlah pulang!'

Aku bergidik ngeri membaca pesan ibu, tak menunggu waktu lama aku lalu menekan gambar telepon berwarna hijau pada kontak Ibu. Dering beberapa kali sampai..

"Yyak Baekkie dimana kau sekarang!" Aku sempat menjauhkan ponselku dari telinga, tak kusangka akan mendengar teriakan ibu yang membuatku sedikit terlonjak dari tempatku duduk.

Dapat kulihat, Luhan mulai menggeliat dan terbangun dari tidurnya.

"Eih ibu membuatku kaget, aku masih dirumah Luhan bu,"

Luhan sedang menatap kearahku dan memberi gestur bibir seolah 'siapa yang menelpon?' Dan ku jawab pula dengan gaya yang sama 'ibuku' Luhan hanya manggut-manggut.

"Kau yang membuat Ayah dan ibumu kaget, yasudah sekarang kau cepat pulang. Ayahmu akan menjemputmu sebut saja alamat rumah temanmu itu"

Aku sedikit menjauhkan ponselku, "Lu, alamat rumahmu ini apa?"

"Kenapa memangnya Baek?"

"Ibuku yang memintanya, Ayahku akan datang menjemputku sekarang"

"Wh-what? Ehe tak usah Baek biar supirku saja yang mengantarmu pulang, aku tak ingin merepotkan ayamu"

"Tapi Ayahku pastinya yang tak mau direpotkan olehmu"

"Eih kau benar-benar, kemarikan ponselmu biar aku yang berbicara ke ibumu"

Aku lalu memberi luhan ponselku, ia benar-benar sedang berbicara dengan ibuku. Setelah di bujuk oleh Luhan akhirnya Ayah dan Ibuku mengiyakan tawarannya itu.

"Tunggu sebentar yah Baek, aku mau menemui tuan Choi dan memberitahunya"

Tuan Choi adalah Sopir pribadinya Luhan, ia yang selalu mengantar dan menjemput Luhan kemanapun ia pergi.

"Ehh Lu?"

Luhan yang berada di ambang pintu lalu menoleh kearahku.

"Ya ada apa Baek?"

Aku lalu berjalan menghampiriku Luhan, "Hmm toiletmu dimana? Aku kebelet pipis hehe"

"Eih aku kira ada apa. hmm berhubung toilet ku sedang di perbaiki, kau bisa menggunakan toilet diujung sudut itu" Luhan menunjuk pintu putih yang ada di sudut, aku lalu mengangguk.

Luhan sedang menuruni tangga, sedangkan aku menuju ke arah toilet dengan sedikit berlari.

Aku mulai membuka knop pintunya, tapi.. oh apa yang salah dengan pintu ini, kenapa pintunya tak mau terbuka? Eih sial, padahal aku sudah kebelet sekali. Aku lalu membuka knopnya dengan agak keras. Apa mungkin pintunya terkunci? Aku lalu mengedor-ngedor pintu toilet itu.

"Haloo? Apa ada orang didalam?" Aku menempelkan telingaku dipintu, namun tak ada sahutan yang kudengar.

Eiihh aku lalu berbalik, memandang kearah tangga, memikirkan toilet lain yang ada di mansion Luhan yang luas ini. Tapi aku putus asa, mana mungkin aku berkeliaran di mansion Luhan, di sangkanya nanti aku maling lagi.

Aku benar-benar sudah tak dapat menahan lagi, kemudian aku berbalik lagi dan..

*bruk

Awkk! Kepalaku menabrak pintu toilet. Itu sedikit sakit. tapi eih.. sejak kapan pintu toiletnya jadi sedekat ini? Dan aku tak tau ternyata pintu toilet Luhan agak hangat dan... harum? Eheh?!

Aku tak tau kenapa seketika yang muncul di pikiranku adalah dada bidang? Apa mungkin? Dan bagaimana bisa?

Aku lalu mendongak ke atas, dan sapuan pandanganku pertama kali ke wajah tampan luar biasa serta rambut yang masih meneteskan beberapa air.

I-iit itu DIA! PARK CHANYEOL!

Ta-tapii bagaimana bisa ia disini? Di mansion Luhan? Di depan toilet Luhan? Di depanku dengan dada bidang telanjang dengan beberapa ototnya yang nampak dan agak basah, kulirik ke arah bawah, ohh aku merasa lega ia melilitkan handuk di sekitar pinggangnya.

Aku kembali mendongak menatap matanya, membuktikan kalau itu adalah Dia, dan benar saja itu memang dia. Park Chanyeol.

Aku tak tau harus bagaimana lagi sekarang dengan posisi seperti ini dan tatapannya yang juga terlihat kaget dan heran, membuatku membatu.

Aku mengalihkan pandanganku dari matanya dan beralih kearah benda putih yang sedang terbuka. Dengan cepat aku berlalu meninggalkan dia yang masih berdiam diri dan berlari cepat memasuki toilet lalu menguncinya.

Persetan dengan terkagetnya aku tadi, aku harus menuntaskan sesuatu terlebih dahulu sebelum aku ngompol di celana.

Aku memandangi pantulan diriku di cermin, Eih apa-apaan dengan wajahku ini dan oh tunggu sebentar apa ini berwarna putih diujung mataku? Aku menyingkirkan lalu mengamatinya sebentar dan aku baru sadar tentang apa yang terjadi barusan.

Tiiidaaaak! Jangan bilang tadi aku bertatapan mata dengan dia seperti ini. Memalukan. Memalukan. Memaluukaaaaaaaan!.

*tok tok tok

"Baek? Kau sudah selesai?" Itu Luhan.

Aku lalu keluar memandang kepenjuru arah dan hanya mendapati luhan, ahh mungkin tadi aku hanya berkhayal efek-efek bangun tidur mungkin? Tapi itu sangat nyata bodoh! Eih sudahlah. Lupakan.

"A-ada apa Lu?" Aku dan Luhan kembali berjalan kearah kamarnya.

"Baek, Pak Choi sedang keluar ia ada urusan hmm kayaknya ia tak bisa mengantarmu pulang deh Baek"

Aku membereskan semua buku-buku dan peralatan lainnya ke dalam tasku. "Ohh begituyah.. hmm tak apa berikan saja alamatmu biar aku menyuruh Ayahku menjemputku"

"Eih mau ditaruh dimana mukaku, aku tadi sudah meminta izin ke orang tuamu. Aku mengingatkan kalau kau lupa"

"Ya sudah biar aku naik bus saja," aku melirik jam tanganku "masih ada bus yang berarah kerumahku, sekitar lima belas menit lagi"

"Kau gila Baek, mana mungkin aku membiarkanmu naik bus malam-malam begini"

"Lah terus aku harus pulang bagaimana? Apa kau menyuruhku bermalam hari ini, aku menjawab tidak Lu!"

Luhan sedikit terkikik "Hehe maunya sih begitu Baek, tapi aku sudah janji ke orantuamu akan mengantarkan anak kesayangannya pulang dengan selamat sentosa"

Aku sedikit bingung, "Lalu? Jangan bilang kau yang akan mwngantarku? Kau kan tidak tau mengendarai mobil Lu?"

"Hehe Bukan aku, tapi Chanyeol hyung yang akan mengantarmu"

Wh-what!

"C-chanyeol? Hyuung?!"

Luhan sedikit mengernyit, kayaknya dia sedikit heran dengan ekspresi terkejutku. "Ia Chanyeol hyung, Baek. Kau ingat aku kan pernah mengatakan kepadamu tentang sepupuku. Nah Chanyeol itu sepupuku, memangnya kau tak berpapasan dengannya? aku lihat tadi ia berdiri di depan toilet"

Aku membola tak percaya, mana aku tahu sepupu yang dimaksud Luhan adalah dia. Park Chanyeol.

Luhan seharian ini benar-benar membuatku terkejut dengan beberapa kejutannya.

"Baek, halooo~"

"Ehh iya ada apa?"

"Sebaiknya kau siap-siap baek, Chanyeol hyung juga sedang bersiap-siap"

"A-apa? Hehe aku rasa kau tak perlu mengantarku Lu, biar aku naik tak-"

"Kau sudah siap?"

Su-suara itu? Suara beratnya? Itu suaranya dia. Park Chanyeol.

So.. apa yang harus aku lakukan sekarang, diantar Chanyeol pulang? Bisa-bisa aku mati kutu menahan gugup. Inginku berteleportasi sekarang juga!!!.

Help me now!!

Entah aku meminta pertolongan kepada siapa, Tuhan? mungkin tidak, karena pertolongan apa yang akan diberikananya padaku, menghilang? aku harap sih. Namun bagaimana dengan kedua orang ini? kupastikan ia akan pingsan ditempat, kaget mengira diriku adalah hantu. Eih jinjja!

.

.

.

CREEPING

IN

YOUR

HEART

.

.

.

[TBC]

bacot:

thanks for fav, foll, and revieww:")

thalangheoo smwanyaa hehehhe~