Aku update yee! lama banget dah wkwk... mian soalnya aku selingan update sama ff ku yang satunya lagi. jadi yah gitu dehh.. makasih udah pap dan pol ehh dan ripiuww jugaa dan mian aku gk balas soalnya ak gak tau caranya. lol.

udah ahh bacot.

enjoy the story and sorry for typo wkwkw

.

.

Chapter 3

"Kau sudah siap?"

Su-suara itu? Suara beratnya? Itu suaranya dia. Park Chanyeol.

Aku lalu menoleh ke arah pintu memandangi dia yang sedang bersandar dengan kedua tangannya yang dilipat. Cih apa-apaan gayanya dia itu. Kaos hitam polos dilapisi jaket kulit berwarna coklat tua serta celana jeans biru navi dengan sobekan di lututnya, eih sok keren sekali.

Eheh di berjalan ke arah kami, "Haruskah aku bertanya untuk yang kedua kalinya?"

Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal, "Ahh itu, Aku sudah siap. Tapiㅡ"

Ingin sekali aku berkata bahwa ia tak usah mengantarku pulang, tapi dilihat dari penampilannya yang memang benar-benar sudah siap mengantarku pulang, membuatku memendam kalimat penolakan itu.

"Tapi apa?" Itu Luhan yang sedang memandang ke arahku.

"Tapi apa yah tadi hehe aku lupa, Yasudah kau Chanㅡmaaf Chan siapa tadi?" Dan entah kenapa aku mengatakan itu, yang dapat kulihat Luhan menatapku dengan sedikit mengernyit kan dahi sedangkan makhluk tinggi menjulang ini menatap ku seolah ia menahan tawanya.

Si tinggi berdehem "Yasudah kalau begitu mari kita berkenalan, kau mungkin tak mau diantar pulang oleh orang yang tak mengenalmu bukan" Ia mengarahkan tangannya ke aku, "Aku, PARK. CHANYEOL"

Dapat kudengar ia begitu menekan saat ia mengucapkan namanya, cukup lama aku memandang tangannya yang kurasa besar sekali dan tampak kokoh dari tanganku. Fikirku, tanganku bisa saja remuk dalam satu genggaman saja ditangannya itu.

"Hmm aku. byunbaekhyun" berbeda dengannya aku agak memelankan pada bagian namaku. Aku lalu menjabak tangannya dan ohh yang benar saja tanganku benar-benar tenggelam dalam genggaman nya dan itu membuat sesuatu dalam diriku menghangat, itu nyaman saat tanganku di genggam olehnya. Tapi aku cepat-cepat menarik kembali tanganku saat kurasa jempol tangannya mulai sedikit bergerak.

"Oke, yasudah Baekhyun. Mari biar Park Chanyeol mengantar kau pulang," Dan lagi ia menekankan namanya dengan tegas, "Kutunggu kau di bawah, oke" Lanjutnya, lalu berlalu meninggalkan kamar Luhan.

Aku hanya mengangguk, setelah aku menunggu Luhan mengganti baju seragamnya dengan piyama, aku lalu menuju pintu depanㅡohh sebelumnya Luhan mengambil jaket hoodie warna abu tua miliknya yang tergeletak di samping ranjang.

Katanya, walau aku memakai sweater coklat hadiah ibu, itu akan membuatku tetap dinginㅡdan tanpa banyak tanya walaupun aku cukup bingung sebenarnya aku memakainya saja.

Saat kupakai jaketnya, itu nampak sangat kebesaran buatku. Hingga ujung bawahnya hampir menyentuh lututku, kulirik Luhan yang terkikik melihatku.

"Lu lihat, ini kebesaran. Apakau tak punya yang lain?" Ucapku sambil merentangkan tangan lebar-lebar.

"Kau pakai yang itu saja, kau terlihat imut memakainya"

"Imut? Yak! Apa apaan kau ini, kau sedang mengerjai ku yah?" Aku berkacak pinggang.

Lagi, Luhan hanya terkikik, "Eih pakai yang itu saja aku tak sanggup mencarikanmu yang lain. Chanyeol hyung sedang menunggumu di bawah danㅡohh pasti Ibu dan ayahmu juga sedang menunggumu di rumah. Jadi pakai saja itu, oke"

Setah kupikir-pikir ucapan Luhan memang ada benarnya. Dan satu hal yang ingin aku beritahu, aku paling tidak suka membuat orang menunggu. Maka dari itu aku membiarkan jaket milik Luhan membungkus tubuhku. Setelahnya ia mengajakku kembali untuk turun dan berlalu ke pintu utama mansion miliknya.

Ku coba memperbaiki letak tasku namun panjangnya lengan jaket luhan agak menghalangiku. Aku kembali melirik Jaket yang Luhan pinjamkan tadi. Sejak kapan Luhan punya baju sebesar ini? Dan kenapa ia meminjamkannya? Kurasa ia punya penghangat di mobil miliknya bukan?

Dan semuanya terjawab saat aku sudah berada di depan mansion milik luhan.

"Chanyeol hyung jaket milikmu yang kupinjam minggu lalu kupinjamkan ke Baekhyun, tidak apa-apakan?"

Pantas saja jaket ini kebesaran, ternyata itu punyanya Chanyeol. Eih sialan si Luhan, kenapa bukan miliknya saja yang ia pinjamkan ke aku. Lihat, Chanyeol sampai melihatku dari ujung atas sampai bawahㅡsempat kulihat ia hampir tertawa. Dan pantas saja Luhan meminjamkanku sebuah jaket padahal aku sudah memakai sweater sebab...

"Tentu saja, Kau sudah siap? Ini helmnya"

... aku akan pulang diboncengi Chanyeol naik motor.

Naik.

Motor?

Aku memandang ke arah luhan menuntut sebuah penjelasan sambil memeluk helm yang tadi Chanyeol kasih ke aku.

Bersyukur Luhan adalah orang yang peka dan paham akan arti tatapanku itu, "Ahh aku lupa memberi tahumu, Chanyeol hyung lebih suka mengendarai motor ketimbang mobil," tiba-tiba Luhan mendekat ke arahku dan berbisik "Ia sedikit trauma mengendarai mobil soalnya"

Chanyeol sedang berdiri disamping moge (motor gede) berwana hitam, sedang ia berusaha memakai helm. helm miliknya dan helm yang kupegang sama-sama berwana hitam.

Luhan yang sedang berdiri disamping ku, terlihat sesekali menggosokkan kedua telapak tangannya, ia kedinginan.

"Lu sebaiknya kau masuk deluan saja, disini sangat dingin dan kau hanya memakai piyama tipis itu. Nanti kau terkena flu lagi dan kau tahu orang pertama yang akan tertular itu aku. Jadi cepatlah masuk" Aku berucap sambil mendorong tubuh luhan memasuki pintu utama.

"Ehhe Baek, tak usah mendorongku aku bisa sendiri kok hehe. Makasih yah kau memang perhatian tau saja kalau aku kedinginan. Dan sumpah ini benar-benar dingin" Luhan memasukkan telapak tangannya ke dalam saku piyama miliknya, "Kalau begitu hati-hati yah Baek. Maaf aku tak bisa mengantarmu sampai ke gerbang"

Aku cuman mengangguk, lalu mengibaskan tanganku menyuruhnya lekas masuk.

"Chanyeol hyung, titip Baekhyun yah. Jaga anak orang baik-baik kasian ibu ayahnya sudah menunggu putra kesangannya pulang sedari tadi heheh"

"Luhan!"

Aku melirik Chanyeol dan ia juga melirik ke arahku setelahnya ia melirik Luhan "Sip!"

Luhan sudah berlalu masuk kedalam mansion kembali, dan tinggallah aku dan juga Chanyeol yang masih berdiri di samping moge miliknya.

"Ehem bagaimana kalau sekarang aku mengantarmu pulang?" Chanyeol mencoba mencairkan suasananya dan aku membalasnya dengan anggukan.

Chanyeol lalu menaiki moge miliknya dan menyalakan benda tersebut, aku berjalan menghampiri Chanyeol sambil memakai helm yang tadi di kasih nya ke aku.

Aku kesulitan saat memakainya. Dan kulihat Chanyeol menoleh ke arah ku tanpa kutahu ekspresi apa yang sedang ia tunjukkan sekarang sebab wajahnya tertutupi kaca helm yang gelap.

Tidak.

Dia tidak sedang ingin membantuku.

Karena setelahnya ia meng-gas moge miliknya itu. Aku tahu maksudnya. Ia menyuruhku segera memasang helm dengan benar lalu menaiki moge miliknya. Secara tak langsung ia tidak mau menunggu lama.

Setelah aku mengunci rapat-rapat pengait helm, aku kembali berfikir. Bagaimana caraku menaiki moge ini. Aku rasa itu terlalu tinggi untuk kujangkau. Sedangkan diriku yahh begitulah.

Chanyeol kembali menoleh, mungkin karena ia benar-benar sudah tak tahan menunggu ia membuka kaca helmnya.

"Kenapa kau tak naik, kau tak mau pulang?"

"Bu-bukan begitu aku_"

"Kau tak mau kuantar pulang?" Chanyeol memicingkan mata, ucapannya terdengar agak sinis.

"Aku mau"

"Lantas kenapa kaubelum naik juga?"

"Hmm anu, ituㅡ" Aku melirik Chanyeol dan kudapati ia mengernyit "ㅡaku tak tahu caramenaikinya"

Aku menunduk, malu menatap Chanyeol. Setelahnya dapat kudengar hembusan nafasnya kasar.

"Hei-" aku mengangkat wajahku kembali mentapnya "Kau injak yang ini terlebih dahulu setelahnya kau bisa naik" Chanyeol menunjuk stan kaki yang memang terdapat di sebelah moge miliknya.

Aku tak membalas ucapan Chanyeol, aku langsung mencoba hal yang disuruh Chanyeol tadi. Dan alhasil disinilah aku. Aku duduk tepat di belakang Chanyeol yang sedang menjalankan moge miliknya ini.

Kuberitahu satu rahasia.

Bukan rahasia.

Lebih tepatnya aku tak pernah mengalaminya.

Dan sekarang aku mengalaminya.

Ekhem. Ini pertama kalinya aku menaiki sepeda motor dan dengan ukuran yang besar.

Dan dia. Park Chanyeol. Orang yang pertama kali mengajakku naik motor. Bukan mengajak tapi mengantar lebih tepatnya.

Tapi yang pasti dia adalah yang pertama. Selama aku hidup 18 tahun aku baru pertama kali menaikinya. Bukan karena aku orang yang kaya, tapi ayahku memang tak pernah mengajakku naik motor sebab sedari dulu kami memang tak pernah memakai motor.

Rasanya luar biasa, ini sedikit menegangkan. Apa karena Chanyeol melaju dengan kecepatan yang bisa dibilang kencang. Sampai sampai jaket kulit miliknya menjadi sasaranku sebagai pengaman walau sedari tadi ia terus berucap hal yang sama. Dan saat berada di persimpangan lampu merah ia me-rem moge miliknya secara mendadak. Alhasil kepalaku membentur punggung belakangnya.

"Yyak! Pelan-pelan Chanyeol"

Chanyeol menoleh kebelakang lalu membuka kaca helmnya, "Makanya sedari tadi aku menyuruhmu pegangan tapi kau malah menarik jaketku ini terus menerus"

Sontak aku melepaskan pegangan ku pada jaketnya "Lah emang maksud kamu pegangan yang kayak gimana?"

Lampu sudah kembali hijau, dan beberapa kendaraan di belakang mulai membunyikan klakson masing-masing kendaraannya.

Dan kau tahu apa selanjutnya?

Chanyeol menarik tanganku yang satu melingkar ke perutnya dan ia lalu menarik tanganku yang satunya lagi, sehingga aku benar benar melingkari perutnya dengan tanganku iniㅡOhh aku memeluknya. Memeluknya dari belakang.

Aku tak sempat protes, sebab Chanyeol langsung melajukan motornya. Aku mencoba melepaskan tanganku yang melingkari perutnya, namun Chanyeol sudah lebih dulu menahan tanganku dengan tangan kirinya.

Ehhe, Dia mengendarai motornya satu tangan dengan kecapatan yang kurasa lebih cepat dari sebelumnya.

Aku rasa dia. Park Chanyeol. Ingin membunuhku.

Help me.

Dibilang takut. Aku takut sampai-sampai aku tak sadar kalau aku menutup mata dan menyandarkan kepalaku di punggungnya. Dan pastinya dengan tangan yang masih melingkari perutnya bahkan lebih erat.

"Baekhyun sudah sampai, ehe kau tertidur? buka matamu ayoo"

Aku bisa merasakan Chanyeol mengguncang pundakku.

Aku sampai dirumah masih tanpa kusadari, rasanya sangat cepat dan ku rasa tak sampai 10 menit aku tiba. Apa mungkin tadi aku pingsan di jalan makanya aku bisa sampai dengan cepat. Ahh aku rasa tidak. Setelah ku ingat tingkat kecepatan laju moge milik Chanyeol tadi. Itu jadi mungkin.

Aku lalu membuka mataku hal pertama kulihat adalah dia. Park Chanyeol. Karena aku sedikit kaget aku mencoba melirik ke arah lain.

Hmm tempat ini terasa tidak asing, dan tampak sunyi.

Ehe.

Tunggu dulu.

Ini bukan rumahku.

Ini...

"Chanyeol kenapa kau mengantarku ke halte bus?" Aku berkata masih dengan melihat ke sekitaran.

"Jangan bersikap berlebihan, kau terlihat seperti aku sedang ingin menculikmu saja"

Dan sekarang aku menatapnya yang masih setiah menoleh kebelakang, "Lalu kenapa?"

Chanyeol mendekatkan dirinya ke aku, sontak aku juga menjauhkan diri darinya "Aku hanya ingat halte ini saat kau turun dari bus. Dan ku ingatkan. Kau tak pernah mengucapkan alamat mu tadi. Dan kurasa rumahmu dekat dari sini. Makanya aku mengantarmu kesini. Jadi sekarang aku harus mengantarmu ke arah mana?"

Aku tersentak dan melepaskan lilitan tanganku dari perutnya.

Aku malu.

Benar juga.

Tapi juga salah.

Kenapa ia tak bertanya alamat ku sebelumnya dan langsung melajukan mogenya.

Iya. Tak sepenuhnya aku salah.

"Kau tak bertanya dari ta_"

"Sstt sebut saja ke arah mana. Tanpa cerewet"

Sial. Dia. Park Chanyeol. Menyebalkan.

Aku manangkup wajahnya yang tertutupi helm lalu mengahadapkannya ke depan.

"Nyalakan motornya, kita hanya perlu berbelok ke sana dan setelahnya kita akan tiba di rumahku"

Dan Chanyeol pun langsung menghidupkan mesin moge miliknya dan mulai melaju seperti yang aku arahkan. Setelah berbelok memasuki gang yang tidak terlalu luas Chanyeol memelankan laju mogenya.

"Rumah yang pagar nya berwarna hijau toska itu adalah rumahku. Yahh yahh disini. Stoopp"

Aku dengan cepat turun dari atas moge milik Chanyeol dan melepas helmnya tepat setelah ia menghentikannya.

"Terima kasih sudah mengantarku Chanyeol," aku berkata seperti itu sambil memberikan helm yang tadi kupake ke dia.

Dan tanpa kuduga Chanyeol juga ikut turun dari moge miliknya, mengambil helmku sekilas dan menaruhnya di kaca spion mogenya. Lalu membuka helmnya juga dan merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jari tangannya. Setelahnya ia berbungkuk.

Berbungkuk hormat.

Kearahku.

Ke belakang lebih tepatnya.

Ke arah Ayah dan Ibuku yang entah sejak kapan berdiri di depan rumahku.

"Annyeonghaseyo" ucap Chanyeol.

Aku dan Chanyeol lalu berjalan ke arah Ayah dan Ibuku. Aku baru saja mau menyapa ibuku tapi...

"Ohh jadi kau supirnya Luhan?" Ibu menatap Chanyeol intens, "Tapi, kenapa kau sangat tinggiㅡ"

Ibu menoleh kearahku sekilas lalu kembali menatap Chanyeol, "ㅡdan sangat tampan?"

Ku lihat Chanyeol hanya menunduk dan tersenyum sampil menggaruk tengkuknya.

"Ahh bukan Bu!" Aku menyelahnya cepat dan Ibu hanya mengangguk.

"Apakauㅡ" dan Ayahku yang kini berucap, ia menatap Chanyeol dari atas sampai bawah.

Aku merasa tidak enak, dan Chanyeol pasti lebih merasa tidak enak di perhatikan seperti itu "ㅡKekasihnya Baekhyun?!"

Aku dan Chanyeol saling pandang dan sama-sama tetkejut.

Tak kusangka Ayah akan akan mengatakan itu.

Chanyeol kembali berbungkuk, "Perkenalkan paman dan bibi aku Park Chanyeol, aku sepupunya Luhan. Karena supir kami sedang ada urusan jadi aku yang mengantar Baekhyun pulang."

Dia. Park Chanyeol. Dilihat dari gayanya. Ternyata bisa bersikap sopan juga ke orang tua. Terlebih itu adalah orang tuaku.

"Aduh pasti Baekkie sudah banyak merepotkanmu nak, terimakasih yah sudah mengantar Baekkie pulang"

"Baekkie?" Chanyeol menatap kerahku, dan aku dengan cepat menghindari tatapannya.

"Ibu sudah aku bilang jangan memanggilku seperti itu terlebih di depan orang lain" Ibuku ini benar-benar tak tahu tempat kalau sudah memanggilku dengan embel-embel kesayangannya.

"Kenapa? Itu kan lucu bukan begitu Chanyeol"

Aku melihat Chanyeol yang mengangguk canggung.

"Yasudah paman dan bibi sebaiknya kalian masuk, di sini terasa dingin"

"Kau sudah mengantar Baekhyun pulang. Kau tak ingin singgah terlebih dahulu Chanyeol?"

"Makasih atas tawarannya paman, tapi ada tempat yang harus aku pergi sekarang ini. Mungkin lain kali aku akan singgah"

Chanyeol berucap sambil tersenyum.

Dan sialnya.

Senyumnya manis sekali.

[CIYH]

'Aku pergi dulu Baekhyun'

Ia sempat mengucapkan itu sebelum pergi tadi. Aku, Ayah, dan Ibuku juga tadi langsung masuk saja ke dalam rumah tanpa memberiku beberapa pertanyaan.

Dan sekarang aku merebahkan diriku di kasur kesayanganku setelah membersihkan diri terlebih dahulu.

Baru saja aku mulai menutup mataku, terdengar ketukan di pintu dan suara pintu terbuka.

Aku menoleh ke arah pintu dan mendapati Ibuku yang datang sambil membawa nampan berisi dua gelas.

"Baekkie kau sudah tidur?"

Aku bergumam lalu setelahnya membawa diriku bersandar pada sandaran kasurku.

"Ada apa bu? Wah boleh aku minta satu" Ibu hanya terkikik lalu memberi segelas susu coklat ke aku.

"Tadi ibu dan ayahmu sedang berbicara" Ibu duduk di pinggiran kasurku.

Aku menyeruput susu coklatku "Lantas?"

Aku dapat mendengar ibuku menghela nafas, karena kurasa pembicaraan ibu kayaknya penting aku menaruh gelasku di nakas dekat kasur.

"Ibu~ ada apa? Ibu berbicara apa dengan ayah?"

Ibu mengambil kedua tanganku lalu tersenyum lebar dan itu sangat cantik, Ibu mulai menceritakan sesuatu yang baru aku ketahui selama ini.

Walau awalnya aku terkejut, itu tak berlangsung lama. Aku kembali memandang Ibuku. Ia terus berucap agar aku menjaga diriku dengan baik.

Aku tak tahu kalau selama ini ibuku sangat mengkhawatirkan ku, terlihat bagaimana mata indahnya yang sekarang mulai terisi genangan air. Aku hanya membawa ibuku ke dalam pelukan dan mengelus punggungnya sambil terus berucap, "Gwenchana"

Setelah aku menghabiskan susu coklatku, Ibu lalu membawa gelas serta nampan dan berlalu pergi dari kamarku. Diambang pintu ibu sudah tak lagi menangis, sekarang ibu malah tersenyum dan mengucapkan selamat tidur.

Aku tak menyangka hari ini aku lewati dengan banyak sekali keterkejutan yang mana salah satunya membuat entah apa yang ada di dalam tubuhku itu menghangat dan satunya lagi membawaku ke pelukan Ibuku yang sudah lama tak kurasakan.

Aku suka.

Aku suka hari ini.

Aku dengan cepat mengambil ponselku lalu membuka tanggal, menandai hari ini.

'Special day 1'

[CIYH]

Pagi seperti biasa.

Ibu kembali berteriak membuat penghuni rumahnya terbangun.

Tak ada yang berubah, walau aku dan ibu beberapa hari yang lalu membahas sesuatu yang mengejutkan. Semuanya tampak sama.

Aku juga masih menaiki bus berangkat maupun pulang sekolah, walaupun yang ini suasananya sudah berbeda.

Sudah dua hari berlalu sejak kejadian aku diantar dia. Park Chanyeol. Pulang naik moge miliknya. Dan aku tak pernah bertemu lagi dengannya sejak hari itu.

Aku pernah nekat ingin bertanya ke Luhan tentang Chanyeol. Namun urung, dan alasannya aku malu. Nanti di tanya yang aneh-aneh lagi sama Luhan. Jadi kurasa memendamnya adalah hal baik.

Oke simpelnya.

Aku.

Merindunya.

Rindu dia.

Park Chanyeol.

Entah apa alasannya.

Setelah turun dari bus aku melenggang masuk ke dalam sekolah.

Aku memperbaiki letak tasku dan mataku langung berbinar saat kudapati Chanyeol sedang memarkir moge miliknya di parkiran.

Aku baru saja ingin mengampiri Chanyeol, namun langkahku terhenti saat kulihat tangannya malah mengelus rambut seseorang, dan kulihat orang itu tersenyum Chanyeol pun ikut tersenyum.

Iya, dia Seulgi.

Kenapa aku tak sadar kalau perempuan itu ternyata juga sudah ada sejak tadi di situ.

Aku kesal entah kenapa.

Aku berlalu cepat meninggalkan mereka berdua.

Chanyeol jahat, dia jahat dan aku masih tak tahu apa alasannya.

Aku padahal ingin berterima kasih karena sudah mengantarku waktu itu, tapi apa yang kudapatkan. Ia sedang bermesraan sama seseorang.

Dan aku merasa bersyukur karena aku tak jadi menanyakan bagaimana kabarnya ke Luhan.

Eih dia membuat mood pagiku rusak.

Bukan.

Ia membuat mood ku seharian menjadi rusak.

Bagaimana tidak, di kantin tadi saat Luhan sedang memesan makanan. Entah Seulgi sengaja atau tidak ia menumpahkan jusnya, alhasil itu membuat roknya yang sangat pendek itu jadi basah.

Dan tebak siapa penolongnya.

Iyaps. Itu Chanyeol. Padahal ada beberapa temannya yang lain yang berada di mejanya juga. Tapi hanya Chanyeol yang dengan sigap menggambil beberapa tisu di meja. Dan memberinya ke Seulgi bahkan tadi sempat aku lihat Chanyeol hampir saja melapnya sendiri. Melap rok pendeknya seulgi.

Dan Seulgi, ia sedari tadi cuman menatap dan tersenyum terus ke Chanyeol sambil melap roknya itu. Lalu setelahnya ia dan teman-temannya beranjak dari kantin. Dan tangan Seulgi ia menaruhnya di lengan Chanyeol. Ia menggandeng Chanyeol.

Dan saat pulang sekolah tadi, aku sedang menunggu bus di halte dan Chanyeol tiba-tiba lewat ia mengendarai moge miliknya ituㅡOhh dan ada Seulgi yang sedang di bonceng di belakangnya.

Dan sialnya, karena kendaraan sedang macet, ia berhenti tepat di depanku. Aku melihat tangan Seulgi yang melingkari sempurna perut Chanyeol. Saat aku memandang ke Chanyeol rupanya ia sedang menoleh ke arahku juga, entah aku yang dia lihat atau apa. Aku tak tahu, karena wajahnya tertutupi kaca helm.

Aku dengan cepat membuang pandangan ke tempat lain, walau keadaan masih sedikit macet busku pun akhirnya tiba. Aku tak lagi menoleh kearah Chanyeol entah dia masih berada disana atau bagaimana aku tak mau tahu. Aku hanya berjalan dan menaiki bus setelahnya mengambil tempat duduk favoritku.

Aku benar-benar kesal, aku merogoh tasku mencoba mencari headset milikku namun tak kunjung kudapatkan.

Namun seketika aku mengingat satu hal.

"Eih sial. Headsetku pasti ada sama dia"

Hufft!

Aku menyandarkan kepalaku di kaca bus, memandang hiruk pikuk kota.

Aku coba merenungkan kejadian seharian ini yang membuat moodku luar biasa buruk. Dan itu semua gara-gara dia. Park Chanyeol.

But? Why?

Kenapa aku hanya bisa memirkan dia terus menerus dengan beberapa kejadiannya dengan perempuan cantik bermata kucing itu.

Itu hanya membuatku kesal.

Eh?

Tapi kenapa aku kesal terhadapnya? kita bahkan bukan seorang teman. Kita memang selalu bertemu dulu tapi itu cuman di bus dan tak ada suara diantara kita saat itu. Walau aku dan dia. Park Chanyeol. Mulai berkenalan bahkan ia mengantarku pulang. Tapi itu bukan sesuatu hal yang bisa membuatku kesal terhadap sikap perhatian terhadap orang lain. Kita hanya orang asing yang cuman berkenalan sekali.

Eih bodohnya aku! Kenapa aku bisa sekesal itu padanya? Aku bukan kekasihnya yang bisa kesal setiap ia melakukan perhatian ke perempuan.

Ohh tidak! Apa aku baru saja mengatakan kekasih. Aku tak sadar mengucapkan kata itu. Lupakan saat aku mengucapkannya tadi.

Aku berjanji mulai detik ini aku tak akan memikirkannya lagi dan bahkan aku akan menghindarinya jika bertemu dengannya lain kali.

"HAHAHA HAHAHA!"

"Sttt diam!"

"Upss joesongmnidaa" aku lalu membungkuk ke semua orang.

"Kau menganggu penumpang lainnya"

[tbc]