Aku berjanji mulai detik ini aku tak akan memikirkannya atau bahkan aku akan menghindarinya jika bertemu nanti.
"HAHAHA HAHAHA!"
"Sttt diam!"
"Upss juosamnidaa" aku lalu membungkuk ke semua orang.
"Kau menganggu penumpang lainnya"
Aku kaget mendapati orang ini seketika mengambil tempat duduk tepat disebelahku. Aku merasakan aura aneh saat bersamanya. Bahkan aku tak sadar aku memeluk tasku lebih erat.
Aku tak cukup bodoh memahami kalau orang ini sedari tadi terus memandangku. Dan aku tak menyukainya. Tampangnya terlihat sangat mesum.
Kulihat bus berhenti di sebuah halte yang jarak dari rumahku masih membutuhkan dua halte lagi hingga tiba. Namun karena aku sudah terlalu risih dengan orang ini. Maka aku dengan pintarnya turun dan lebih memilih berjalan kaki hingga halte selanjutnya.
Smart think!
By ememlight
Creeping In Your Heart
Main Cast:
Baekhyun Chanyeol
Other cast:
Exo members and find it yourself, bertambah seiring jalannya cerita.
Summary:
Berawal dari kenekatan Baekhyun untuk menaiki bus pergi maupun pulang sekolah, membawa dia bertemu Chanyeol yang selama seminggu selalu saja berdiri disampingnya menggenggam pegangan pada langit-langit Bus.
Disclaimer:
Isi cerita seutuhnya hasil pemikiran dan imajinasi author emem, apabila ada kesamaan cerita itu murni ketidak sengajaan, All Cast seutuhnya milik SM dan TYME
Note:
Saya bukan penulis yang baik JUST ENJOY THE STORY, gak suka? It's okay don't read this story. Suka? Please don't be siders tinggalkan vote and comments.
PLEASE DON'T PLAGIAT, DON'T REMAKE, DON'T COPY.
Chapter 4
Karena kelelahan berjalan, aku memilih singgah di seveneleven untuk membeli minuman. Aku tadinya sudah berjalan menuju halte. Namun sialnya. Bus tak lagi beroperasi ke halte yang menuju ke arah halte dekat rumahku. Dan alhasil disinilah aku, mengantri untuk membayar minuman serta peppero rasa strawberry yang tak sengaja aku lihat berada di rak sampingku tadi.
Tak cukup lama aku mengantri, sisa seorang lalu aku dapat membayar dua belanjaanku ini.
Aku melirik orang di depanku yang kulihat hanya membeli sebotol air mineral namun sedari tadi ia terus merogoh seluruh kantong yang ada pada pakaian miliknya.
Kutebak.
Ia.
Pasti.
Tak.
Punya...
"Maaf, apa aku bisa meminjam uangmu? Uangku ketinggalan di mobil, aku akan membayarnya setelah kita keluar dari sini?"
... Uang.
Ia tiba-tiba berbalik, dan itu sedikit membuatku kaget. Tanpa basa-basi aku lalu menghampiri kasir dan mengeluarkan kartu milikku yang isinya cukup atau bisa dibilang sangat pas buat jajanku sebulan, tidak kurang dan tidak lebih.
"Sekalian bayar punya pria ini" Aku menyahut.
Dan si kasir mulai menghitung belanjaan ku dengan barcode dan tak lupa belanjaan pria yang tadi juga.
Setelah sang kasir memasukkan belanjaanku di kantongan, aku mengambil air mineral milik pria tadi lalu memberikannya.
"Wahh terima kasih" aku melihat pria ini menatap takjub air mineral yang kuberikan padanya.
Aku menatapnya danㅡOh aku baru sadar ia juga tinggi dan dari jarak yang dekat seperti ini, ia juga terlihat tampan.
Yah, aku mengenalnya.
Tapi ia tidak. Maybe.
Dia teman segerombolannya Chanyeol, aku sering melihatnya bersama. Dan saat di kantin tadi aku juga melihatnya.
Eih~ mengingat kejadian di kantin membuat mood ku tiba-tiba berubah.
Aku cuman mengucapkan, "Sama-sama" setelahnya aku berlalu keluar dari seveneleven dan mulai melanjutkan jalanku ke halte selanjutnya.
Tepat saat aku keluar dari seveneleven aku mengambil ponselku lalu menatap empat angka yang tertera di lockscreenya.
Sudah pukul 16.50
Aku tak sadar menghabiskan waktu kurang lebih sejam berjalan sedari tadi.
Kalau sudah seperti ini, mungkin lebih baik aku mengambil cara alternatif kedua untuk pulang. Pulang dengan menaiki taksi, yahh walau uang jajanku harus kurelakan sedikit.
Tidak apa-apa. Aku tak menyesal turun lebih awal dari bus tadi. Iya. Tidak apa-apa. Toh mana ada orang yang mau duduk di samping pria yang tampangnya sangat mesum terus menatap kearah kita. Yeah it's okay Baek! Walau sebenarnya kau bisa mengambil tempat duduk lain supaya si pria mesum tak memandangmu lagi. Ohh sial, kenapa baru sekarang aku kepikiran. Ini membuatku sedikit menyesal. Dan kenapa berjalan melewati satu halte baru aku rasakan lelahnya. Ahh mau nangis saja rasanya.
Setelah cukup lama menunggu, salah satu taksi akhirnya singgah di depanku.
Tapi sayang.
Baru saja aku ingin membuka pintu taksi, seorang wanita paruh baya dengan wajah kalut menggendong anaknya. Katanya, anaknya sedang demam dan ia harus segera membawa anaknya ke rumah sakit.
Dan dengan kebaikan hatiku, aku luluh dan membiarkannya memakai taksi yang sudah aku tunggu sedari tadi.
Sudah lebih lima belas menit aku menunggu taksi lagi, namun tak satupun yang kunjung singgah di hadapanku. Hari juga sudah semakin sore, pasti tak akan lama lagi Ibu menghubungiku dan mengomeliku karena pulang terlambat. Maka dari itu aku mulai merogoh tasku dan mengambil ponsel milikku bermaksud menghubungi ayah untuk menjemputku segera. Cara pulangku alternatif ketiga.
Tapi sialnya, ponselku mati? What. Se-sejak kapan?
Aku mencoba menekan tombol on/off ponsel milikku terus-menerus namun yang ada layar ponselku cuman menampilkan blank hitam.
Aku kembali melirik ke seven eleven yang jaraknya tak jauh dari tempatku sekarang. Aku bermaksud mencharge ponselku sebentar, lalu menghubungi ayah untuk menjemputku.
Saat aku mulai berjalan menuju seven eleven, di sebuah gang sempit tanpa sengaja mataku melirik seseorang yang masih jelas diingatanku. Dengan cepat aku lalu menoleh kembali seolah-olah tak terjadi apapun.
Oettoke.
Aku takut. Aku dengan sigap mengambil langkah lebar. Namun sebuah tangan menghentikan langkahku terlebih dahulu.
"Hey manis, remember me?"
Aku mencoba melepaskan diri, namun genggaman tangannya sangat kuat dan menimbulkan sakit di pergelangan tanganku "Lepaskan! A-aku tak tau kau siapa"
"Cih, sok jual mahal sekali kau rupanya. Ku ingatkan. Aku adalah pria muda dan tampan yang sejak sedari tadi sedang mengincar mu ..."
Sebenarnya aku jelas ingat sekali wajah mesum pria dihadapanku ini. Kalau kalian berpikiran ini adalah pria yang sama dengan yang di bus tadi. Maka aku akan menjawabㅡ
"... Dan seenaknya kau malah tutun dan tak melirik ke arahku saat aku mencoba mencari perhatian mu di bus tadi"
ㅡYa!
Belum sempat aku mencoba berucap, ia dengan kasarnya menarikku memasuki gang sempit tadi.
Aku sudah mendengarkan gosip nya dari Luhan tentang dirinya ini. Nanti akan kujelaskan siapa pria ini, tapi sebelumnya aku harus berusaha melepaskan diri terlebih dahulu.
"Lepashhkan, kumohon" aku masih dengan sekuat tenaga mencoba melepaskan kukungan dari pria ini.
Saat punggungku menabrak sesuatu yang keras dan datar, barulah aku sadar kalau pria ini menggiringku ke dinding yang berada di ujung gang sempit ini.
Aku mulai ketakutan.
Apalagi saat kepalanya mulai menyusup ke dalam leherku.
Ia menciuminya.
Dan aku tak bisa untuk tak menangis.
Dengan kasar ia memaksa kepalaku mendongak keatas yang secara langsung membuatku menatap awan kelabu pertanda hujan akan turun.
Dalam hati aku terus merapalkan nama Ibu dan Ayahku. Baru semalam aku di nasehati Ibu dan berjanji akan menjaga diri, dan ke esokan harinya aku malah mengingkarinya.
"Hiks eomma hiks hiks"
Ia menghentikan kegiatannya, lalu menatap ke arahku. Kembali dengan kasarnya, ia menarik daguku untuk menatap kearahnya juga.
"Sssttthhh jangan menangis, wajahmu benar-benar terlihat menggairahkan dengan wajah yang memerah seperti itu"
Aku menoleh, tak sudi menatap pria bajingan ini "Hiks hiks dasar mesum, hiks hiks lepaskan aku. Aku tak sudi kau sentuh hiks..."
"Ohho, sudah kubilang kau jangan menangis. Kau memang sedang memancing nafsuku rupanya. Baiklah kalau itu memang kemauanmu"
"Ah ti-tidak jangaaaan hiks"
Ia menyusupkan tangannya lebih ke dalam baju seragam milikku dan ia mulai meraba-raba sekitar punggungku. Tiba-tiba ia menarik daguku agar aku memberinya akses ke bibirku ia mulai mencari bibirku namun dengan sekuat tenaga aku mengatupkannya.
Tidak.
Aku tidak akan membiarkannya.
Aku terus menangis dan masih berusaha melepaskan diri.
Eommaaa eotokkeee ...
Tidak, aku tidak boleh menyerah dan berpasrah diri.
Saat kurasa ia sibuk dengan meraba raba pinggangku aku dengan cepat menendang selangkangannya. Dan itu sukses membuatnya jatuh tersungkur, sambil merintih kesakitan. Melihatnya yang seperti itu aku dengan cepat berlari keluar dari gang sempit ini.
"Akhhh JANGAN LARI KAU"
Aku menoleh kebelakang, ia sudah mulai bangkit dan mengejarku.
"Hikss eommㅡ"
Bruk!
Aku merasakan sesuatu yang hangat sedang menempel nyaman di pipiku serta sebuah tangan kokoh melingkari sekitar pinggangku erat. Aku tak tau siapa yang sedang memelukku seerat ini, yang kutahu tanpa merasa takut sedikitpun aku hanya semakin menyusupkan kepalaku ke dadanya karena kurasa bau dan hangatnya terasa familiar.
Setelah beberapa lama, ia melepaskan pelukannya dan menyuruhku agar tetap di tempatku menunggunya dan tak kemana-mana.
Aku hanya mengangguk. Setelah ia melepas pelukannya aku tak sanggup untuk sekedar berdiri tegak makanya aku hanya jongkok dan terus memegangi kedua lututku sambil menyusupkan kepalaku diselanya.
Aku masih terisak, walau isakan ku terbilang keras tapi aku masih bisa mendengar dengan jelas dibelakangku, dua orang ini sedang bertarung terbukti dari bunyi yang terdengar gaduh dan segala macam cacian serta umpatan yang keluar dari mulut keduanya.
Aku tak sanggup untuk sekedar menoleh menyaksikan keduanya. Aku masih setia dalam posisiku, dan terus merapalkan nama ibuku di dalam hati dengan isakan ku yang keras tak mau berhenti.
"Baek ..." Ku dengar suara beratnya memenuhi seisi pendengaranku. Aku lalu mengangkat wajahku memandangnya yang juga sedang jongkok menyamakan tingginya denganku.
Aku menatap sorot matanya senduh, ia lalu membawa tangannya mengusap lembut helaian rambutku. Ia seperti itu, tak sadar membawa diriku untuk berada dalam pelukannya. Aku langsung mengalungkan tanganku ke pinggangnya dan menyembunyikan wajahku di dadanya yang bidang.
Aku tak tau mengapa aku seperti ini, hanya saja ini membuatku sedikit merasa tenang walau tak dipungkiri aku masih terisak. Sempat kurasa tadi ia menegang, aku kira ia akan melepaskan pelukanku namun setelahnya ia malah mengelus punggungku.
Dan tepat saat itu juga, aku merasa sesuatu yang aneh merayap dihatiku. Dan itu karena diaㅡ
"Hiks Chan-chanyeol hiks .."
ㅡPark Chanyeol
"Ne.. aku di sini, sudahlah jangan menangis. Aku ada bersamamu" Ia berucap dengan suara berat miliknya tanpa menghentikan elusan di punggungku.
[CIYH]
"Baek.. mungkin sekarang lebih baik kau menghubungi orang tuamu"
Baek? Dia memanggiku Baek? Bahkan dia belum terlalu dekat denganku untuk memanggilku seperti itu. Aku malu mengatakannya, tapi aku benar-benar suka dipanggil begitu olehnya.
"Haruskah?" Aku kembali bertanya dan tentunya Chanyeol menanggapinya dengan menganggukan kepalanya.
"Oke, kau tunggu sebentar. Aku ambil ponselmu dahulu" dan kubalasnya dengan anggukan.
Aku sudah sedikit tenang akan kejadian beberapa menit yang lalu, dan aku sangat bersyukur karena dia. Park Chanyeol, yang datang menolongku. Kata Chanyeol, pria mesum tadi sudah ia laporkan ke pihak berwajib.
Aku tak tahu bagaimana jadinya aku kalau Chanyeol saat itu juga tak datang menolongku, mungkin aku akan sangat menyesal dan sedih karena tak menepati janji Ibuku.
Aku melirik Chanyeol yang sedang berbincang dengan salah satu pegawai di kafe ini, ia sedang meminta ponselku yang tadi ia charger.
Setelah memeluk dan menenangkanku tadi, Chanyeol menawarkan diri menggendongku. Aku yang tadi tak bisa berfikir apa-apa dan masih shock langsung saja mengiyakan tawarannya. Setelahnya ia lalu menggendongku di punggungnya yang lebar dan kokoh itu tanpa menghiraukan beberapa pasang mata yang melihat kamiㅡAhh atau hanya aku karena aku terlihat sangat yahh kacau sekali, mungkin beberapa dari mereka menanggapinya aku adalah korban yang baru saja di lecehkan. Dan sialnya itu memang benar adanya.
"Nah.. sekarang kau hubungi orangtuamu Baek" ucap Chanyeol yang sudah berada disampingku lalu menyerahkan ponselku.
Aku mengambilnya secara perlahan, aku gugup aku tak tau alasan apa yang harus keberikan untuk memberitahu keadaanku sekarang ke Ibu. Pasti sekarang ia sangat cemas memikirkanku yang tak kunjung pulang juga.
"A-aku tak tahu harus berkata apa ke Ibuku Chanyeol"
Mungkin Chanyeol geram melihat aku hanya diam menatap ponselku yang masih mati, karena ia langsung menarik kembali ponsel ku itu.
"Biar aku saja" Chanyeol menekan tombol power di samping ponsel milikku, setelah ponsel milikku aktif beberapa notifikasi muncul pada layar ponsel milikku.
"A-aku yang hmm yang akan menelpon Ibumu" Aku melihat Chanyeol tampak ragu untuk menelpon Ibuku. Tapi selanjutnya ia benar-benar menghubungi nya.
Terdengar sapaan dari sana setelah dering keempat berbunyi.
Chanyeol membalasnya dengan semangat "Anyeonghaseyo Bi, Aku Chanyeol sepupunya Luhan"
"Ahh nee, yang mengantar Baek pulang dulu" Chanyeol menggaruk tengkuknya yang aku yakini tak gatal itu.
"Dia sedang bersamaku, tadi aku mengajaknya menemaniku ehhm itu membelii ..."
Chanyeol lalu menatapku akupun membalasnya bingung dengan gerakan mulut tanpa suara 'membeli?'
"Ahh membeli sepatu Bi, haha iya dan aku tak tau kalau ternyata Baekhyun belum meminta izin ke Bibi sebelum ponselnya mati"
"Oke Bi, aku akan mengantar Baekhyun pulang"
"Nee pasti, anyeonghaseyo"
Chanyeol lalu menggeser gambar gagang telpon berwarna merah yang tampil dilayar ponselku lalu setelahnya menghembuskan nafas kasar.
"Wahh kau membuatku berbohong Baek" Aku menahan tawaku melihat Chanyeol yang memegang dadanya dan mengelap keringatnya yang nampak di jidat yang tertutupi poni itu.
"Aku tidak, aku kan tidak menyuruhmu"
"Yasudah kalau begitu kau harus membayar"
"A-apa? Aku tak punya uang Chanyeol"
"Aku tak menyuruhmu membayarku dengan uang"
"Lah terus aku harus membayar mu apa?"
Ohh tidak, mungkinkah mebayar dengan... seketika aku berpikiran negatif dan berangsur bergeser dari tempatku, "Chan, terima kasih karena menolongku tadi, walaupun mungkin kau minta imbalan aku tak bisa memberimu, kalau begitu terima kasih Chanyeol aku pergi dulu" Dengan cepat aku mengambil ponselku ditangannya dan beranjak pergi meninggalkan Chanyeol yang masih terdiam di dalam kafe.
Hufftt.. apa-apaan Chanyeol itu, mana mungkin aku memberinya. Apa mungkin ia tak ikhlas menolongku.
Aku lalu memperbaiki kembali letak tas ku dan mulai berjalan, wait.. sekarang bagaimana aku harus pulang? Aku tak mau berjalan kaki lagi aku masih trauma dengan kejadian tadi.
Haruskah aku menelpon Ayah? Oke harus, karena itu satu-satunya cara agar aku bisa pulang.
Aku lalu mengambil ponselku dan terdengar bunyi.
Bruum bruumm
"Baekhyun, ayo naik" Chanyeol tiba-tiba sudah ada disampingku mengendarai moge miliknya.
"Kita mau kemana, kau akan mengantarku pulang kan?"
Chanyeol hanya memberi ku helm "Naik saja, tentu nanti aku akan mengantar mu pulang"
Nanti? Apa maksudnya. Ahh dari pada berfikir negatif aku memilih naik ke moge milik Chanyeol setelah mengenakan helm yang dikasih nya tadi.
"Sudah siap Baek?" Dan aku membalasnya dengan anggukan.
"Pegangan Baek"
Baru saja aku mau protes tapi lagi-lagi Chanyeol sudah melajukan kendaraannya diatas rata-rata kecepatan.
Dan aku hanya bisa mengeratkan kedua tanganku erat di lingkar pinggang milik Chanyeol.
[TBC]
hanya 2k saja yeorobun wkwk. btw Itu yang minta dibayarin siapa hayolo. itu yang nyentuh nyentuh aset park ceye siapa hayolo. itu Baek mau dibawa kemana hayolo.
wagelaseh hayololololololo.
terima kasih sudah
review chapter sebelumnya :
hunhanshin, chalienB04, kahi19, milkybaek, khakikira, dan dobbydobdob
for fast update please review :)
