Bruum bruumm

"Baekhyun, ayo naik" Chanyeol tiba-tiba sudah ada disampingku mengendarai moge miliknya.

"Kita mau kemana, kau akan mengantarku pulang kan?"

Chanyeol hanya memberi ku helm "Naik saja, tentu nanti aku akan mengantar mu pulang"

Nanti? Apa maksudnya. Ahh dari pada berfikir negatif aku memilih naik ke moge milik Chanyeol setelah mengenakan helm yang dikasih nya tadi.

"Sudah siap Baek?" Dan aku membalasnya dengan anggukan.

"Pegangan Baek"

Baru saja aku mau protes tapi lagi-lagi Chanyeol sudah melajukan kendaraannya diatas rata-rata kecepatan.

Dan aku hanya bisa mengeratkan kedua tanganku erat di lingkar pinggang milik Chanyeol

.

.

.

By ememlight

CREEPING IN YOUR HEART

Main Cast:

Baekhyun Chanyeol

Other cast:

Exo members and find it yourself, bertambah seiring jalannya cerita.

Summary:

Berawal dari kenekatan Baekhyun untuk menaiki bus pergi maupun pulang sekolah, membawa dia bertemu Chanyeol yang selama seminggu selalu saja berdiri disampingnya menggenggam pegangan pada langit-langit Bus.

Disclaimer:

Isi cerita seutuhnya hasil pemikiran dan imajinasi author emem, apabila ada kesamaan cerita itu murni ketidak sengajaan, All Cast seutuhnya milik SM dan TYME

Note:

Saya bukan penulis yang baik JUST ENJOY THE STORY, gak suka? It's okay don't read this story. Suka? don't be siders and review juceyo~

DON'T PLAGIAT, DON'T REMAKE, DON'T COPY. Sorry for typo in everywhere :)

.

.

.

Chapter 5

Aku sedikit terkejut manakala Chanyeol malah mengambil jalanan lain dan bukan menuju ke rumahku.

Saat kurasa laju moge milik Chanyeol tidak terlalu cepat seperti tadi aku melepaskan pelukanku di pinggang nya. Dan mulai menatap jalanan di sekelilingku. Walau masih nampak beberapa gedung tinggi dan cahaya lampu dimana-mana entahlah aku merasa masih harap-harap cemas. Kemana sebenarnya Chanyeol membawaku sekarang. Ini bahkan bukan menuju arah mansion miliknya.

Aku lalu membuka kaca helm ku "Chan-chanyeol!"

Ohoo tak ada balasan apapun dari Chanyeol, mungkin suaraku kurang keras.

"Chanyeol!!"

Apa karena helmnya jadi Chanyeol tak mendengar ku. Aku mulai menarik-narik jaket miliknya dari belakang. Mengambil napas sebanyak-banyak lalu menghembuskan nya kasar.

"CHANYEOL!!!"

"YAH BERISIK. KAU KENAPA!"

Lampu lalu lintas yang berwarna merah membuat moge milik Chanyeol berhenti bersamaaan dengan teriakan Chanyeol yang cukup membuatku kaget.

Ia lalu menoleh kebelakang dengan kaca helm miliknya yang sudah terbuka.

"Kau kenapa hah?"

"Ka-kau sebenarnya mau membawaku kemana?" Aku bertanya masih dengan was-was.

"Kau tak tau?"

Apa-apaan kok malah dia yang bertanya kembali. Tentunya aku membalasnya dengan gelengan pelan.

"Aku sedang menculikmu, jadi kau duduk manis dan diam saja. Jangan mengangguku"

Setelah berucap begitu, lampu kembali berwarna hijau dan laju moge milik Chanyeol kembali dengan kecepatan rata-rata.

Astaga. Apa yang sedang Chanyeol rencanakan sebenarnya. Tak tau kah dia bahwa sekarang orang yang sedang diboncenginya ini memiliki beberapa pemikiran aneh, salah satunya dengan melompat dari moge miliknya. Yah walaupun terdengar tak mungkin karena yang sekarang sedang dilakukannya hanya memeluk erat pinggang Chanyeol dan merapalkan segala macam doa.

Masih dengan mode 'memeluk pinggang Chanyeol dengan erat' entah apa yang sedang ku lakukan mataku terlalu berat akibat tertiup angin sore menjelang malam dan perlahan membuat mataku tertutup dan ohh dengan reflek aku juga menyandarkan kepala berhelmku di punggung milik Chanyeol dengan lilitan tanganku yang tambah mengerat di pinggangnya.

Aku rasa aku tertidur.

.

.

.

"Baek! Baekhyun!"

Aku merasa ada sesuatu yang sedang mencoel-coel pipiku dan aku sungguh tak menyukainya. Aku lalu menghentak sesuatu itu.

Beberapa detik kemudian sesuatu itu kembali mencoel-coel pipiku. Eish aku sungguh tak suka! Aku kembali menghentak sesuatu itu dan mulai menumpukkan kedua tanganku ke pipiku agar tak dicoel-coel lagi.

Dan benar, tak ada lagi yang mencoel-coel pipiku.

He he he

Ehe?

Shit. Aku langsung membuka kedua mata ku dan disambut mata bulat yang mengarah tajam kearahku.

"Kau tertidur?"

Aku tak membalasnya, aku lalu mengalihkan pandanganku kesekitar.

"Bagaimana bisa kau tertidur diatas motor?"

Disekeliling hanya terlihat banyak kendaraan yang sedang terparkir rapi. Dimana sebenarnya aku ini, nampaknya ini tak asing.

"Chanyeol dimana kita sekarang?" Aku bercicit mengucapkannya dan ragu menatap matanya.

"BAGAIMANA KALAU KAU JATUH!"

"Hah?" Ke-kenapa Chanyeol tiba-tiba marah.

Aku mendengar helaan nafas berat keluar dari bibirnya, setelahnya ia lalu menarik daguku untuk menatap kearahnya "Kalaupun kau sedang mengantuk, kau bisa mengatakannya kepadaku. Kau bisa saja jatuh tadi"

Aku rasa pipiku sudah mulai bersemu merah, apa dia. Park Chanyeol. Sekarang sedang mengkhawatirkan ku? Ahh jinjja. He he he

"Tapi tidak kan"

"Ehh kau benar-benar! Sudah, sekarang kau harus membuatku berubah menjadi seorang pembohong"

"Hah, maksudnya?"

"Kau harus menemaniku membeli sepatu Baek"

Huft~

Ada rasa tenang yang kurasa, mungkin tadi memang aku yang terlalu parno menanggapi tingkah Chanyeol. Tapi mungkin juga aku terlalu parno karena kejadian beberapa jam yang lalu. Itu benar-benar nyaris terjadi.

Untung ada Chanyeol.

Aku rasa Chanyeol memang yang terbaik yang pernah kutemui. Mungkin dengan membelikannya sepatu dengan uang sakuku dapat membalas budi kebaikannya.

Aku lalu turun dari moge milik Chanyeol dan memberinya helm yang ku pakai tadi.

"Oke. Let's go!"

Aku berjalan mendahuluinya.

"Hei! Kau mau kemana"

"Membeli sepatu tentunya" hmm aku berjalan dengan agak sombong.

"Tapi bukan ke arah sana"

Oke. Aku malu. Aku lalu memutar haluan dan mencoba tak menatap Chanyeol yang aku rasa sedang tertawa mengejekku sekarang.

.

.

.

Aku rasa aku dan Chanyeol sudah memasuki toko ini. Tapi Chanyeol tetap nekad masuk kedalam toko ini lagi. Katanya ia suka dengan sepatu yang memang pertama kali di jumpainya sewaktu berjalan memasuki mall tadi.

Ia bahkan tadi memarahiku karena kami sudah memasuki beberapa toko dan tak membeli apapun. Kata Chanyeol ia malu. Kenapa harus malu coba dan kupikir tadi kami baru memasuki sepuluh toko bukan seratus.

"Aku akan mengambil yang ini Baek" Ku liat Chanyeol sedang membolak-balikkan sepatu olahraga berwarna hitam dengan campuran abu dan coklat.

Sepatu itu memang bagus. Bagus sekali. Begitupun harganya. Sanggup membuat saldo tabungan ku selama sebulan menjadi minus. Harganya saja bahkan lebih banyak daripada saldo uang sakuku selama sebulan ini.

Sebenarnya sepatu-sepatu itu terbuat dari apa? Kenapa harganya mahal sekali.

"Kau ingin yang itu? Kau tak ingin mencari yang lebih bagus lagi?" Chanyeol sekilas menatapku lalu setelahnya ia kembali mengecek sepatu itu.

"Hmm"

"Ahh Chanyeol aku rasa aku tadi melihat Sepatu yang lebih bagus lagi di toko sebelah sana kau tak ingin melihatnya"

"Haruskah aku mengingatkanmu, kita sudah memasuki sepuluh toko Baek. Sudah. Aku ambil yang ini saja" Chanyeol setelahnya memberiku sepatu itu.

Haruskah sepatu yang ini? Seandainya aku tahu. Lebih baik sepatu yang di toko sebelah tadi walaupun harganya masih mahal namun itu masih cukup di saldo milik ku.

Aku lalu berjalan menuju kasir dan memberikan sepatu pilihan Chanyeol ke kasir wanita di depanku.

"Hmm permisi"

"Yah ada yang bisa saya bantu" Kasir wanita itu sedang menghitung harga sepatu dan measukkannya ke dalam kantungan.

Aku melirik Chanyeol yang sedang sibuk melihat beberapa sepatu di toko ini. "Hmm begini... apa disini sepatunya itu... ehh itu"

"Yahh ada apa dengan sepatunya?"

Aku kembali melirik Chanyeol yang masih melakukan hal serupa lalu setelahnya aku mendekat ke arah kasir wanita dan berbisik "apa sepatunya tidak bisa di cic-"

"Sudah?"

"Eh Chanyeol kau sedang apa?" Kulihat Chanyeol sedang mengeluarkan kartu dalam dompet di saku jaket miliknya.

"Bayar pakai ini saja" lalu setelahnya memberi si kasir wanita tadi dengan kartu berwarna hitam.

The hell.

The blackcard?

Itu punya Chanyeol?

Astaga. Aku tak habis pikir dia. Park Chanyeol benar benar kaya.

Setelah membayar sepatu tadi, kantungan belanjaannya aku yang pegang. Aku dan Chanyeol sedang menuju ke arah parkir ngomong-ngomong.

"Chanyeol kenapa kau yang membayarnya?"

"Membayar apa?"

"Ini!" Aku lalu mengangkat tinggi-tinggi kantungan yang kubawa.

"Lalu siapa yang harus membayarnya, kau?"

"Aku kira kau tadi menyuruhku membelikanmu sepatu"

Chanyeol tiba-tiba berhenti membuat aku juga ikut berhenti. "Ahh jadi kau mengira aku menyuruhmu membelikanku sepatu, pantas saja sedari tadi kau membawaku ke berbagai macam toko"

"Lah memangnya bukan? Aku kira kau menyuruhku membelikanmu sepatu kan tadi kau sudah menolongku"

"Jadi kau kira karena aku sudah menolongmu aku meminta imbalan?" Chanyeol kembali berjalan mendahului ku.

"Bu-bukan begitu, yak tunggu!:aku kan hanya ingin berterima kasih"

bruk

Dan kembali Chanyeol tiba-tiba berhenti, membuat kepalaku membentur punggungnya.

"Aw sakit!" Aku meringis namun sebenarnya tidak terlalu sakit. Aku cuman melebih lebihkan.

"Kau ingin berterima kasih?" Aku cuman membalasnya anggukan dengan tanganku yang masih mengelus puncak kepalaku sendiri.

"Hmm kalo begitu mungkin lusa kau bisa ke pertandingan basket ku untuk membayar rasa terima kasihmu"

"Pertandingan basket?"

"Yup"

"Oke. Kul!" Dan kembali aku berjalan melewatinya melupakan sakit kepalaku yang tidak terlalu sakit.

"Hey kau mau kemana?"

"Pulang!"

"Tapi arahnya bukan kesitu"

Eish, aku pun kembali memutar haluan.

"Itu juga bukan"

Eis jinja, aku kembali memutar haluan.

"Kau baru saja berjalan kesana"

Eis jinjja memalukan! "Lalu aku harus berjalan kearah mana!"

Kulihat Chanyeol terkekeh, "Lebih baik kau ikuti aku saja, biar aku yang memimpin"

Dan setelahnya Chanyeol kembali berlalu meninggalkan ku. Dan jangan lupa kekehan mengejek nya yang dapat aku dengar samar.

Sialan.

.

.

.

"Ini!," Aku memberi Chanyeol kantungan sepatu miliknya, kemudian melepas helmku dan juga kembali memberinya.

"Terima kasih sudah mengantarku pulang" aku lalu membungkuk sembilan puluh derajat ke arahnya lalu berlari masuk ke dalam halaman rumah setelahnya.

Ehe aku melupakan sesuatu. Aku kembali berbalik. Untung saja Chanyeol masih ditempatnya.

"Chanyeol!"

Ia pun menoleh kearah ku.

"Terima kasih juga karena sudah menolongku tadi"

Dan tindakan selanjutnya, ia membuat jantungku seketika berhenti berdetak.

Ia tersenyum ke arahku mempertontonkan ku lesung pipinya yang nampak, Sambil menyuruhku masuk dengan isyarat tangannya.

Daripada aku mati karena serangan jantung. Mungkin lebih baik aku berbalik dan masuk kerumah sekarang.

Namun nyatanya yang aku lakukan hanya melambaikan tanganku ke Chanyeol.

Dan itu berhasil membuat senyumnya melebar dengan deretan giginya yang putih itu terlihat. serta lagi. Sekali lagi. Ia membuat jantungku tak berfungsi dengan baik.

Ahh aku pun berbalik ke halaman rumah dengan cepat namun dengan cepat pula aku kembali berbalik menghadap Chanyeol yang sudah siap menancap gas moge miliknya.

"Tunggu!" Aku hampir melupakan sesuatu.

Dan kulihat Chanyeol membuka kaca helm miliknya. "Ada apa lagi, sekarang kau masuklah"

"Hmm itu... bagaimana bisa kau menemukan ku tadi dan menolongku? Aku fikir kau sudah pulang?"

"Aku memang sudah pulang"

"Lalu kenapa kau bisa ada di dekat gang tadi, aku bukannya tidak bersyukur kau datang. Aku bersyukur. Sekali. Namun aku hanya penasaran. Yah seperti itu"

Kedengar helaan nafasnya kasar berhembus, "Tadi itu akuㅡ"

"Oh kau sudah pulang rupanya, Ehh ada Chanyeol. Tidak ingin mampir dulu nak" dan suara wanita yang melahirkanku memotong kalimat Chanyeol begitu saja.

"Sekali lagi maaf bibi, lain kali aku akan mampir. Aku ada urusan sebentar"

Kulihat ibuku hanya mengangguk maklum, ia lalu mengucapkan terima kasih ke Chanyeol karena telah mengantar anaknya yang tampan ini pulang serta menyuruh Chanyeol agar berhati-hati mengemudi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Cuaca hari ini semakin dingin, dan membuatku mau tak mau harus menambah lapisan pakaianku agar tak membuat angin musim dingin berhembus mengenai kulitku.

Kembali aku menunggu bus yang akan mengantarku tiba di sekolah sambil memangku jaket milik Chanyeol yang pernah aku pinjam waktu ke mansion milik Luhan dulu. Aku beriinisiatif mengembalikannya. Dan kuharap Chanyeol akan menaiki bus juga agar aku dapat dengan mudah mengembalikannya.

Dan walaupun Chanyeol tak ada di bus, mungkin aku akan memberikannya saja ke Luhan. Walaupun tidak sopan, namun lebih tidak sopan lagi kalau aku tak mengembalikannya bukan.

Aku tak cukup berani untuk menghampiri dia. Park Chanyeol. Hanya untuk mengembalikan jaket milik nya ini.

Oiya mengenai kemarin, walaupun masih sedikit membekas di ingatan, aku bersyukur karena untuk beberapa hari kedepan dan kuharap selamanya aku tak akan melihat wajah pria mesum itu di sekolah.

Semalam pria mesum itu sempat mengirimiku pesan yang entah bagaimana ia mendapatkan nomor ponsel milikku.

Awalnya aku kaget setengah mati, mungkin sejam baru aku mengecek isi pesan masuk darinya. Ia mengucapkan maaf ke aku katanya ia khilaf dan berharap agar aku memaafkanya. Ia juga bilang kalau ia tak akan mengangguku lagi karena ia sudah berhenti dari sekolah, untuk yang ini aku tak tau mungkin yang benar nya ia pindah sekolah karena yang kutau ia sudah memasuki tahun terakhir.

Aku tak membalas pesannya, aku lebih memilih menghapus pesannya itu.

Ngomong-ngomong dengan pria mesum itu, ia adalah kakak kelasku. Aku pernah berpapasan dengannya sekali saat aku dan Luhan sedang berjalan menuju kantin.

Ia tersenyum ke arahku.

Setelah tiba dikantin Luhan langsung membawaku ke pembicaraan yang serius katanya

'Baek kau jangan berdekatan atau berurusan dengannya, Kris itu terkenal karena playboy dan sering mengganggu anak perempuan dengan maksud yang berbeda. Kau terlihat sedikit imut dan yahh polos jadi aku rasa kau adalah incarannya yang pas, kau harus berhati-hati oke'

Padahal aku baru saja ingin memberitahu namanya, tapi tertahan karena aku tak suka menyebutkan namanya. Untungnya percakapanku dan Luhan mengungkapkan namanya itu.

Ah bus ku sudah tiba.

Sebelum menaiki bus aku menyampirkan jaket milik Chanyeol di kursi halte terlebih dahulu, aku tak ingin mengotorinya sebab aku sedang sibuk membantu seorang nenek yang sedang kesusahan mengangkat sebuah rantang yang cukup besar agar tak menyulitkanku juga.

Ini benar-benar besar dan juga sangat berat. Apa sebenarnya isi rantang ini. Aku memang tidaklah bertubuh besar tapi melihat nenek ini yang kurasa dari rumahnya mengangkat rantang tersebut tak membuatku putus asa.

Setelah mengangkat rantang besar itu ke bus, aku lalu menaiki bus sambil menuntun si nenek duduk di satu bangku yang kosong. Baru kali ini aku naik bus dan tek mendapat tempat duduk. Makanya yang aku lakukan memegang gantungan di langit-langit saat kurasa bus sudah mulai berjalan.

Ohh jadi begini rasanya saat dia. Park Chanyeol memegang pegangan di langit-langit bus.

Agak tak nyaman sebenarnya.

Ehe. Tunggu dulu.

Chan-Chanyeol.

Jaket Chanyeol?

Oh tidaaaaaaak.

Aku dengan sigap menekan tombol di dinding bus dan menyuruh supir untuk berhenti segera "Ahjussi, turun kan aku disini"

Aku berlarian kembali menuju halte, dari kejauhan aku bisa melihat banyak orang yang sedang berada di halte tersebut. berharap jaket milik Chanyeol masih ada disana.

Aih cerobohnya aku.

Bus sudah tiba, orang-orang yang berada dihalte tadi menaiki bus. Akupun dengan gesit mencari cari jaket milik Chanyeol dan sangat-sangat bersyukur saat berhasil menemukannya tergeletak di bawak kursi halte.

Aku lalu mengambilnya, menepuk nepuk beberapa pasir dan debu yang melengket.

Eih jaketnya kotor. Tak mungkin kan aku mengembalikannya dalam keadaan kotor.

Sial.

Dan angka yang menunjukkan pukul setengah tujuh membuatku kembali menghela nafas berat.

Double sial.

.

.

..

TBC

..

.

.

The Bacot :

Yoa! Aku update lebih cepat dari biasanya wkwkwk. Maaf kalau ff aku itu membosankan dan bikin bingung. Konflik belum ada tapi pastinya akan ada. Dan aku always stay di 2k saja.

Ada yang gak suka sama cara penulisanku? Atau jalan ceritanya? Atau ada yang mau kasih emem saran? Monggo silahkan dijamah the kolom of review kasih saran ataupun masukan untuk author newbie ini tapi eitssss saran dan masukan yang membangun yah gaes jangan yang menjatuhkan.

Udah gitu aja bacotnya.

Terima kasih sudah Review di Chapter sebelumnya.

Milkybaek, khakikira, ChanBaek09, byunniebee, hunhanshin, narin.s, nurfadillah, Park louiyeol, riskibyunee, chalienB04, byulicious.

I cinta you.

Emem.