Hello First Love Chapter 5
Cast: HunKai!
Sehun Chanyeol Luhan (20 tahun)
Jongin, Baekhyun (16 tahun)
Hunkai
Getaran handphone mengalihkan pandangan Sehun, itu milik kai.
Xiaolu oppa
Sehun belum pernah mendengar nama itu, belum lagi panggilan oppa yang disematkan Jongin semakin membuat Sehun penasaran.
Tanpa babibu, Sehun mengangkat panggilan itu. Ia yakin Jongin tak akan marah hanya karena ia mengangkat telponnya.
"Halo sayang, bagaimana ciuman oppa tadi?"
Ciuman?!
Oh Sehun mengepalkan tangganya. Ia butuh penjelasan.
Hunkai
Di dapur, Jongin membuka pintu kulkas, ia mengedarkan pandangannya, melihat seluruh isi kulkas yang hampir dipenuhi minuman dingin. Akhirnya ia mengeluarkan dua kotak susu coklat kesukaannya. Setelah menutup pintu kulkas, Ia langsung menghabiskan salah satunya, ia masih masa pertumbuhan jadi harus rajin minum susu kata mommynya.
Ia membawa satu kotak lagi ke kamarnya. Ia harus melewati ruang tamu dan menaiki 20 anak tangga untuk sampai di kamarnya. Jongin tersenyum, sangat yakin kalau daddynya akan mengizinkan Sehun menginap. Entah kenapa, Jongin rasanya ingin memeluk Sehun terus padahal beberapa jam yang lalu ia terus mengutuk kekasih tampannya itu.
Jongin harus memastikan Sehunnya selalu di sampingnya.
Masih membawa kotak susu itu, Jongin membuka pintu kamarnya. Ia melihat Sehun duduk di kursi belajarnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Jongin kemudian menutup pintu dan berjalan ke arah Sehun. Gadis berkulit Tan itu meletakkan susu coklat tadi di atas meja, ia sekarang berdiri tepat di hadapan Sehun. Rencananya memberikan kotak susu kepada Sehun urung.
"Siapa itu Xiaolu oppa?" tanya Sehun, masih dengan raut wajahnya yang terlihat dingin di mata Jongin.
"Oppa tau dari mana tentang Luhan oppa?" tanya Jongin ambigu.
Jongin heran, darimana Sehun tau tentang Luhan. Ia sangat merahasiakan hubungan mereka, kalau tidak begitu dia pasti hidupnya akan terganggu. Fans Luhan itu bukan main banyaknya.
Telinga Sehun berdenyut mendengar Jongin memanggil pria lain dengan panggilan itu. Selama dua tahun hubungan mereka, Sehun tak pernah menunjukkan sikap cemburunya. Kisah percintaan mereka selalu berjalan mulus.
"Luhan oppa katamu?" Sehun berdiri, kemudian memojokkan Jongin ke meja belajarnya. Tak ada celah untuk Jongin pergi karena Sehun mengunci pergerakannya.
"O-oppa ada apa denganmu?" Jongin gugup, juga takut dengan Sehun sekarang. Sehun yang dikenalnya tak pernah menunjukkan wajah dingin padanya. Sehunnya selalu menyayanginya.
"Kau berciuman dengannya" itu bukan pertanyaan, itu penyataan. Sedangkan Jongin membeku. Pikirannya blank, ia tidak tau harus mengatakan apa. Itu tidak seperti bayangan Sehun.
"Jawab Jongin!" Jongin memejamkan matanya,
Sehun membentaknya.
"Hiks..hiks"
Jongin memeluk Sehun erat. Jongin tidak suka Sehun oppanya marah seperti ini, tapi mulutnya tidak bisa mengatakan apapun. Sehun membuatnya takut.
Hunkai
Sedangkan Kim Yunho masih berada di ruangan kerjanya, memandangi monitor yang sedang memutar CCTV kamar Jongin. Ia tak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya sejak Sehun masuk ke kamar Putri semata wayangnya.
Ia melihat semuanya. Tapi sayangnya CCTV itu belum dilengkapi suara, jadi ia hanya bisa melihat apa yang terjadi.
Ia merasa marah melihat Jongin menangis dipelukan Sehun. Dulu, ialah tempat Jongin mengadu apapun maslahnya. Tapi sekarang tempatnya begitu cepat digantikan. Jangan salah paham, Yunho sangat menyukai Sehun dan berharap Sehun menjadi menantunya. Tapi Yunho juga membencinya, Setelah ada Sehun, Jonginnya lebih sering menghabiskan waktunya untuk Sehun.
"Sudahlah Yun, Sehun anak yang baik. Dia pasti menjaga Jongin, kau tidak perlu sampai seperti ini. Kau juga perlu istirahat sayang" Suara Jaejoong menyadarkannya, hampir saja Yunho menangis karena terbawa suasana.
Jaejoong memeluk leher suaminya dari belakang, mengecup leher pria bermata musang itu.
"Sebaiknya kita tidur, besok pagi-pagi sekali kita harus ke bandara"
Yunho mengecup punggung tangan sang istri yang masih melingkar manis di lehernya. Kemudian ayah satu anak itu mematikan monitornya.
"Ayo"
Hunkai
"Hiks.. Ke-kenapa oppa membentakku" Jongin masih menenggelamkan wajahnya di pelukan Sehun. Pelukan yang selalu mau mebuatnya merasa aman. Sehun memejamkan matanya. Amarahnya perlahan menghilang, digantikan rasa bersalah telah membuat gadis yang sangat dicintainya menangis.
"Apa aku melakukan sesuatu yang salah?" Jongin mendongakkan wajahnya, melihat langsung ke manik mata Sehun.
Sehun melihatnya, mata Indah yang selalu memancarkan senyum manis itu kini tertutup linangan air mata. Anehnya, Jongin selalu semakin cantik semakin Sehun melihatnya.
Wajahnya, matanya, hidungnya, dan bibir Jonginnya yang entah kenapa menjadi perpaduan yang sempurnya di mata Sehun.
Mata Jongin membulat lucu, Oh Sehun menciumnya lagi!
Sedangkan Sehun menutup matanya, menyesap lembut bibir plum yang terus-menerus mengganggu pikiran warasnya. Ia mengangkat tubuh mungil kekasihnya itu ke atas meja belajarnya. Jongin entah sadar atau tidak langsung melingkarkan lengannya di leher sang kekasih, menutup matanya dan terhanyut dalam ciuman Sehun yang semakin menuntut.
Bibir keduanya saling memagut, semakin panas dan menuntut. Seolah ciuman mereka saling menyalurkan perasaan masing-masing.
Jongin yang lebih dulu melepaskan ciuman itu, tangannya masih melingkar di leher Sehun. Sedang nafasnya terengah. Matanya masih tertutup rapat, ia takut Sehun masih marah dan akan membentaknya lagi.
Sehun yang menyadari itu langsung membawa Jongin ke dekapannya, menciumi pucuk kepala kekasih manisnya itu. Ia ingin Jongin merasa nyaman di sampingnya.
"Maafkan aku baby, aku tidak bisa berpikir jernih mendengar seseorang bernama Luhan mengatakan sesuatu tentang ciuman kalian." ujar Sehun jujur. Ia cemburu.
"Luhan oppa itu sepupuku" cicit Jongin yang untungnya masih bisa di dengar Sehun. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Sehun.
Astaga.
Sepupunya.
Sehun memejamkan matanya, rasa bersalah pada Jongin semakin besar. Tidak seharusnya ia membentak gadis cantik itu, harusnya ia sadar Jonginnya tidak mungkin menghianatinya.
"Oppa... Um.. Gendong aku, aku megantuk" Suara Jongin menyadarkan Sehun dari lamunannya. Suara itu, suara yang ingin Sehun dengar selamanya.
Sehun langsung menggendong Jongin, mana mungkin dia bisa mengabaikan tatapan jongin yang memohon seperti itu. Ia mengecup lagi bibir kekasihnya itu sebelum membaringkannya di atas kasur.
"Kau yakin ingin aku tidur di sini? Aku bisa tidur di kamar sebelah Jongin."
"Aku ingin dipeluk. Sekarang."
Dan Sehun menurutinya, tidak ada yang bisa Sehun tolak jika Jongin menginginkannya.
Hunkai
"Oppa harus memukulnya kalau bertemu luhan oppa, dia sangat menyebalkan. Bisa-bisanya dia menciumku di depan stand club dance. Gara-gara dia sekarang banyak yang menitipkan coklat untuknya. Aku tau dia sengaja melakukannya. Menyebalkan." Sejak tadi Sehun fokus mendengarkan celotehan Jongin tentang Luhan yang menyebalkan.
Jongin yang cerewet itu sangat menggemaskan di mata Sehun. Ah, Jongin selalu menggemaskan di matanya.
"Aku jadi ingin bertemu dengannya nanti"
"Mungkin besok pagi dia ke sini, dia sekarang sedang syuting variety show. Aku tidak sabar memukuli wajahnya besok" ucap Jongin bersemangat. Membayangkan wajah tampan sepupunya babak beluk menjadi imajinasinya sekarang.
"Tapi kenapa aku belum pernah tau kau punya sepupu Xi Luhan itu?" ujar Sehun penasaran, masalahnya dia sudah mengenal hampir seluruh keluarga Jongin, kecuali Luhan.
"Oppa sudah pernah bertemu mamanya Luhan Oppa kok, Yoona auntie itu adiknya mommy, mereka tinggal di china tapi tahun lalu baru menetap di sini. Kalau Luhan oppa sih sudah di korea sejak empat tahun lalu, tapi dia tinggal di asrama dan jarang ke sini"
"Kenapa belum pernah cerita tentang Luhan padahal dia terkenal?" ucap pria berkulit pucat itu sembari mengelus rambut panjang Jongin. Sehun sebenarnya masih penasaran dengan Luhan yang sudah berani mencium kekasihnya di tempat umum ini btw.
"umm.. sebenarnya aku lupa kalau ada Luhan oppa di sini, habisnya di selalu sibuk di asrama. Tapi sekarang dia sangat keren," Sehun takjub sendiri melihat binar di mata Jongin ketika menceritakan Luhan. Jongin pasti sangat menyayangi Luhan, batinnya.
"Baiklah baiklah, sekarang saatnya kita tidur baby". Jongin mengerucutkan bibirnya, ia belum mau tidur. Ia ingin menghabiskan malam dengan sehun, tanpa tidur.
"Aku belum mau tidur oppa."
"Ini sudah jam 12 baby, aku tidak mau ada mata panda di sini besok pagi" ujar Sehun yang kemudian mengecup kedua matanya. Dia tidak bisa mengabulkan keinginan Jongin untuk kali ini.
Dan Jongin tersenyum. Perlakukan Sehun membuat Jongin semakin merindukannya.
"Baiklah, tapi oppa jangan pergi kalau aku tidur. Janji?"
Jongin mengacungkan jari kelingkingnya.
Sehun mengangguk, menyambut acungan hari kelingking Jongin.
"Selamat malam bear"
"Selamat malam oppa"
CUP
Jongin mengecup bibir Sehun kemudian menyamankan posisi di dada Sehun, memeluk Sehunnya dengan erat.
Hunkai
Sehun yang bangun lebih dulu, jam di dinding masih menunjukkan pukul 03.00 A.M. Perlahan ia melepaskan pelukan Jongin pada pingangnya, setelah memastikan Jongin masih terlelap ia beranjak dari kasur. Membuka pintu dengan perlahan kemudian berjalan menuju dapur.
Sayup-sayup ia mendengar suara bising dari luar rumah, sepertinya suara mesin mobil dan percakapan pikir Sehun. Ia membuka lebih lebar pintu rumah Jongin dan menemukan kedua orangtua Jongin yang tengah sibuk memasukkan koper-koper besar ke mobil. Tanpa pikir panjang, Sehun ikut mengangkat koper-koper itu ke bagasi.
"Kami akan pergi ke China selama satu minggu, ada beberapa pekerjaan di sana. katakan pada Jongin untuk mengajak Luhan atau Baekhun menginap selama kami pergi," ucap kepala keluarga Kim itu.
"Ne, Ahjussi," angguk sehun cepat. Sehun sebenarnya ingin memanggil ayah kekasihnya itu dengan sebutan Daddy seperti yang biasa diucapkan Jongin. Tapi Sehun sadar mereka belum sedekat itu.
"Mommy titip Jongin Hun, ini sangat darurat tapi Jongin harus tetap sekolah. Mommy sudah menelpon Luhan untuk menjaga Jongin selama kami pergi, tolong jaga Jongin ya,"
Raut khawatir jelas terpancar dari mata Kim Jaejoong. Sehun sebenarnya tidak paham apa yang terjadi tapi dia akan menjaga Jongin. Sehun menutup pintu gerbang setelah memastikan mobil BMW hitam itu tak terlihat lagi.
Hunkai
Jongin mengerjapkan matanya, mencoba membiasakan dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar kamarnya. Angin musim semi membuat Jongin kembali bergelung dengan selimutnya, sampai pintu kamarnya terbuka lebar, di sana Sehun berdiri masih dengan pakaian yang digunakannya semalam, tapi wajahnya lebih segar.
Sehun melangkah menuju gumpalan selimut di depannya. Sehun menggelengkan kepalanya, sangat hapal dengan kebiasaan Jonginnya yang sangat mencintai tidur itu. Tanpa permisi Sehun menyibak selimut itu dengan cepat, menunjukkan wajah cemberut Jongin.
"Sekarang jam 6 sayang, kau harus bangun,"
"Ah, ini hari jumat," Jongin mendesah, kemudian menenggelamkan kepalanya di bantal, masih enggan beranjak dari singgasananya.
Sehun tersenyum melihat bagaimana kegiatan Jongin di pagi hari.
"Orang tuamu tadi pagi berangkat ke China, katanya mereka di sana selama satu minggu dan Luhan akan datang ke sini," ujar Sehun singkat, padat dan jelas.
Jongin mendengus sebal, orangtuanya pergi untuk menghadiri pernikahan anak sahabatnya, dan Jongin pastikan setelah itu mereka akan pergi liburan.
"Luhan Oppa akan ke sini?" Jongin bangun dari posisi tidurnya, duduk sila di depan Sehun yang menatap curiga karena respon Jongin yang kelewat bersemangat-menurutnya.
"Hn. Sekarang cepat mandi, aku harus mengantarkanmu ke sekolah sayang,"
"huhh.. iya iyaa, aku mandi sekarang,"
Jongin beranjak dari temapt tidurnya dengan malas, kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mandi yang berada di pojok kamarnya.
Satu jam kemudian, Jongin dan Sehun sudah selesai sarapan. Walaupun hanya nasi goreng dan omelet yang dibuat Sehun tapi setidaknya mereka tidak kelaparan. Dengan membawa tas ransel Jongin, Sehun berjalan menuju mobil Audi R8 miliknya yang terparkir rapi di depan gerbang kediaman Kim.
Sehun meletakkan tas itu di kursi samping kemudi. Ia melihat ke belakang, di mana Jongin belum beranjak dari tempatnya tadi, di depan mobil Sehun.
"Oppa, aku bolos sekolah hari ini saja, ya?" cicit jongin. "Aku ingin ikut oppa ke kampus hari ini, boleh yaa?" ujar Jongin memelas. Ia penasaran juga dengan gadis yang dekat dengan putra tunggal Oh Siwon itu. Jongin juga ingin mengklaim kalau Sehun itu miliknya tau.
"Masuk ke mobil sekarang atau aku akan menciummu di sini," ucap Sehun asal. Ayolah, dia juga harus berangkat kuliah pagi ini, kalau Jongin terus seperti ini mereka berdua bisa terlambat. Belum lagi dia harus pulang ke rumah untuk mengganti pakaian. Sedangkan jarak dari rumahnya ke kampus bisa memakan waktu cukup lama.
Sedangkan Jongin masih diam di tempatnya.
"Kita bisa terlambat baby," Sehun berjalan mendekati Jongin. Ia genggam tangan mungil itu dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Sehun berusaha sabar mengahadapi sikap kekasihnya yang kekanakan ini.
"Aku lebih ingin dicium di sini daripada sekolah, aku ingin ke kampus oppa sekarang". Jongin melepaskan pegangan tangan Sehun. Sehun menghela napas, sebentar lagi Jongin bisa terlambat kalau mereka terus berdebat.
Tanpa aba-aba, sehun menyandarkan tubuh berbalut seragam kekasihnya itu di kap mobilnya. Kemudian mencium bibir penuh itu. Bukan ciuman lembut seperti biasanya. Bibir Sehun meraup rakus bibir jongin yang selalu menantangnya. Ia terus melumat bibir tebal kekasihnya itu. Jongin yang belum siap hanya mematung menerima ciuman Sehun.
Jongin kemudian membalas ciuman itu tak kalah bersemangat, ia meremat bagian depan kemeja Sehun. Sehun semakin bersemangat mencium Jongin, lidahnya mulai mengabsen isi mulut Jongin. Sebelum tangannya merambat ke pinggang Jongin, Sehun mendapatkan tendangan di pinggangnya.
Sehun tersungkur ke aspal. Jongin yang melihat itu langsung berlari ke arah Sehun.
"Oppa baik-baik saja kan," Jongin panik melihat Sehun yang tiba-tiba tersungkur.
"Yak! Apa yang kau lakukan?!" teriak Jongin pada pria yang masih berdiri tegak setelah menendang pinggang kekasihnya tadi.
TBC
Haloo...
Makin ke sini aku kok ngerasa ff ini jalan ceritanya makin aneh hehe tapi aku harap kalian suka.
Maaf kalo masih kurang panjang.
Jangan lupa Review yaaa, review kalian yang bikin aku semangat lanjutin ff gaje ini kkk~
Buat author hunkai yang lainnya aku nungguin ff kalian semuanyaaaa.
