Tittle : Spoiled Girl And The Perfect Man

Author : Choi Ryeosomnia

Chapter : 5

( phiphohBie )

Rate : T

Pair : YeWook ( akan muncul sesuai kebutuhan cerita )

Disclaimer : Mereka adalah milik Tuhan YME dan ibu mereka masing-masing, saya hanya pinjam nama. Khusus Ryeowook, dia adalah suami sah saya ^^

Summary :

Gadis manja yang selalu mendapat apa pun yang Ia inginkan, bahkan seorang Pria sempurna pun tak dapat menolak yang ia inginkan. Tapi bagaimana jika sesuatu telah terjadi dan mengancam hubungan keduanya? Akankah mereka sanggup mempertahankan cintanya?

_Choi Ryeosomnia_

.

.

.

Yesung berjalan dibelakang Ryeowook yang sangat bersemangat. Senyum dibibir kissable milik Yesung tak pernah lepas karena melihat tingkah yeojanya yang begitu imut. Yesung bahkan tak percaya bahwa gadis didepannya itu adalah seorang mahasiswa, tingkahnya saja masih seperti anak SD.

Wajah namja tampan bermata sipit itu sesekali memerah saat mengingat kejadian tadi pagi yang mengakibatkan Ryeowook hampir menolak ajakannya untuk kencan. Uh-oh, Yesung masih ingat jelas dengan keadaan Ryeowook tadi pagi.

Tubuhnya...begitu mulus, kulitnya yang putih bersih membuatnya ingin sekali segera mengecup dan memberi tanda disetiap jengkal tubuh ramping dan—

"Yaiisshh! Apa yang kau pikirkan, Kim Jong Woon?" rutuknya sendiri yang mulai sadar akan apa yang sedang ia banyangkan. Hei, ini tidak lucu jika Junior kecilnya akan bangun ditempat umum seperti ini kan? lagi pula juga dirinya tak akan melakukan hal yang begitu-begitu pada Ryeowook-nya.

Umh~ entah sadar atau tidak, sekarang ini yeoja yang berjalan didepannya itu sudah berbalik arah mendekatinya hingga sekarang dihadapannya itu adalah Ryeowook yang sedang memasang ekspresi... umh~ susah untuk dijelaskan.

Yesung yang mulai sadar dengan dunianya itu tampak mengernyit heran. "Hm?"

"Hamm..Hemm..Hamm..Hemm. Dasar namja menyebalkan!" cibirnya dengan mulai beralih disamping Yesung.

" Ada apa? "

" Oppa yang ada apa! Ck, membiarkan seorang yeoja berjalan sendiri didepannya, apa Oppa pikir aku ini pemandu wisata, huh? "

Yesung terkekeh kecil dan mengacak gemas rambut panjang gadisnya yang sekarang ini dikucir menjadi satu dan hanya meninggalkan beberapa helai anak rambut yang ia kriting dibagian kanan dan kirinya. Yeoppoh! Benar-benar imut untuk ukuran seorang mahasiswa yang seharusnya lebih memilih berdandan ala anak-anak kampus.

" Ne~ maafkan, Oppa. Kajja "

Ditariknya lengan kurus Ryeowook dan mengajak sang empunya lengan untuk berjalan memasuki sebuah butik yang menawarkan berbagai gaun.

Ryeowook yang tadi mendadak bad mood justru kini terlihat segar kembali. Ia berlari-lari kecil mendahului Yesung untuk masuk ke butik tersebut.

" Jangan lari-lari, kau mau jatuh seperti waktu itu, eoh? "

Ryeowook tampak mulai memelankan larinya dan hanya berjalan sedikit cepat. Oh~ ia sudah tak mau melanggar apa yang diucapkan oleh Yesung, karena ia tahu bahwa ucapan Yesung itu seolah do'a yang sangat manjur. Kekeke~

Yesung menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa renyah. " Dasar, yeoja. Tak pernah berubah. Begitu mencintai belanja, eh? " katanya dalam hati.

Hn. Semenjak kejadian tadi pagi buta itu—oppss, maksudku juga sejak kejadian semalam tentang acara lamarannya yang tak diketahuinya itu, Ryeowook memanglah kesal pada Yesung. Dia menghiraukan Yesung, tak menggubris segala ucapan Yesung. Ck, dengan berat hati akhirnya Yesung pun berinisiatif untuk menyogok Ryeowook dengan cara seperti ini—mengajaknya Shopping disalah satu butik mahal dengan alasan untuk mencari gaun atau pun dress cantik untuknya. Umh~ padahal untuk Yesung, pakaian dalam dengan corak Strawberry saja sudah cukup membuat seorang Ryeowook-nya terlihat cantik. Uh-oh~ kau memulainya lagi, Kim Jong Woon! Kkk~

.

.

.

Dalam rangka untuk mengubah suasana hati wanita, belanja adalah cara terbaik ^^

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Yesung hanya bisa mengikuti langkah lincah gadisnya yang begitu gesit dalam memilih beberapa baju. Kedua tangan namja itu sudah benar-benar penuh dengan kantong belanja yeojanya yang gila Shopping itu. Hanya helaan nafas berat yang bisa ia lakukan sekarang.

" Oppa~ apa aku cantik menggunakan ini? "

Bertanya sambil memamerkan sebuah dress berwarna merah maroon dengan bagian punggung yang terekspose jelas.

Mata Yesung melotot tak suka. Ia menggeleng denga tegas. Menyebabkan Ryeowook mengerucutkan bibirnya imut. Issh~ padahal dress nya kan benar-benar bagus—kata Ryeowook dalam hati.

Hei, Yesung bertindak seperti itu bukan karena apa, tapi karena ia tak ingin jika orang lain melihat tuguh gadisnya—sekalipun itu hanya bagian punggung. Ck, betapa possessive-nya Dokter Kim muda ini.

Setelah keduanya berbelanja pada bagian baju, kini Ryeowook kembali menarik Yesung untuk melihat-lihat yang lainnya.

Seperti biasa, setiap kali mereka berjalan berdua semua mata selalu memandang kagum terhadap mereka ini—ralat, maksudku selalu memandang kagum pada Yesung.

Ryeowook tampak menggembungkan pipinya lucu ketika dirinya mulai merasakan bahwa gadis-gadis centil itu terlihat mengerling nakal pada namjanya. Dengan perasaan yang kesal, Ryeowook akhirnya mengapit lengan Yesung dengan erat, lalu tersenyum meremehkan pada gadis-gadis centil itu.

Yesung yang merasakan tingkah aneh Ryeowook, akhirnya hanya bisa mengangkat sebelah alisnya lucu. Hn, Yesung memanglah namja tak peka. Dia benar-benar tidak menyadari akan situasi dan kondisi saat ini. Mau tak mau, akhirnya dia pun hanya bisa berjalan seperti biasa seolah tak ada apa-apa.

Tap.

Yesung memandang Ryeowook sebal ketika yeojanya itu dengan seenaknya saja menghentikan langkah keduanya.

" Oppa~ ada boneka Jerapah. Aku mau itu~~ " rengeknya dengan sedikit menarik-narik lengan baju Yesung.

Kembali Yesung menghela nafas berat. " Ne " jawabnya lemah.

Ryeowook bersorak gembira. Dan langsung berlari ke tempat boneka-boneka yang terpajang banyak didalamnya. Ia berjalan mengelilingi tempat itu, dan melihat-lihat boneka mana yang akan ia ambil.

" Bukankah tadi kau ingin boneka Jerapah? Cepat ambil dan kita langsung pulang "

Gadis manja itu melihat nyalang pada Yesung. Issh~ apa-apaan itu? Bukankah tadi dia sendiri yang bilang untuk menemani dan menuruti segala permintaannya? Jadi kenapa sekarang malah marah-marah dan tidak sabaran begitu?

" Oppa! Kenapa Oppa marah-marah sih? Kalau tidak ikhlas ya lebih baik tidak usah " Ryeowook memutar arah dengan berjalan menuju pintu keluar toko Boneka itu. Ia menghentakkan kakinya cukup keras agar namja tak peka itu tahu bahwa dirinya sangat marah saat ini. Sungguh, ia tak habis pikir bahwa Yesung benar-benar orang yang sangat membosankan.

Yesung mengikuti langkah kaki yeojanya itu, ia sedikit melangkah cepat berusaha mengejar Ryeowook.

Grep.

Tangannya mencekal lengan kanan Ryeowook yang bebas karena memang tangan kiri Ryeowook sudah dipenuhi oleh barang belajaannya tadi. Ryeowook menoleh sekilas, dapat Yesung lihat bahwa wajah Ryeowook sudah memerah menahan marah dan juga tangis.

Yesung akhirnya membawa tubuh mungil itu ke-dalam pelukannya. Ia bahkan tak mempedulikan orang-orang yang berlalu-lalang memperhatikan mereka. Para yeoja disana memekik sedikit keras melihat adegan itu. Hei, gadis mana yang tak iri jika memiliki namjacingu yang tampan dan juga mau mengakui kekasihnya didepan umum?

" Jahat "

Yesung tetap memeluk tubuh mungil itu. " Maafkan, Oppa! Oppa hanya terlalu lelah saja " mencoba memperi pengertian meskipun ia tahu bahwa pengertian ini mungkin sedikit tak dianggap oleh Ryeowook. " Kajja kita kembali ke toko itu, kita beli boneka Jerapah yang kau suka "

Kepala mungil dalam dekapannya menggeleng tegas. " Tidak mau? " bertanya dengan mulai menangkupkan wajah manis itu menggunakan kedua tangannya yang mungil. " Aku mau ice cream~ " mata Yesung melebar.

Sudut bibir Yesung berkedut menahan tawa. Wajah manis Ryeowook dengan mata yang berkaca-kaca karena menangis itu terlihat begitu lucu dimata Yesung. Dan lagi bibirnya yang maju beberapa centi kedepan menambah kesan imut untuknya. Demi Tuhan, Yesung benar-benar ingin sekali cepat-cepat memiliki gadis itu sepenuhnya.

" Baiklah~ kita beli ice cream " putus Yesung pada akhirnya yang tentu saja membuat mata Ryeowook yang ber-air kini berubah menjadi berbinar bahagia. Ryeowook menunjuk sebuah stand penjualan ice cream yang jauhnya tak lebih dari 3m dari tempat mereka berdiri saat ini.

Dengan perasaan yang bahagia Ryeowook mengikuti langkah kaki Yesung yang membawanya ke stand penjualan berbagai ice cream disana. Sampai disana Yesung hanya menyuruh Ryeowook untuk membeli ice cream apa saja yang ia minta, tapi Ryeowook tampak bingung.

" Oppa~ macam-macam ice cream-nya begitu banyak. Aku bingung harus memilih yang mana " katanya dengan wajah yang ditekuk lucu. Yesung yang gemas dan juga sudah lelah sebenarnya kembali mendesah berat. " Kau ambil saja sesukamu "

" Hummb~ " jari telunjuk Ryeowook mengetuk-ngetuk didagunya memberi ekspresi lucu lagi pada wajahnya. Bahkan penjual ice cream disana pun sempat bersemu merah saat melihat wajah manis yeoja mungil itu. " Aku ambil yang cokelat itu saja " menunjuk salah satu ice cream rasa cokelat yang langsung dimabilkan oleh sang penjual.

Ryeowook begitu girang ketika satu cup ice cream yang dimintanya sudah ada ditangannya. Ia langsung membukanya dan mulai memasukkan ice cream itu kedalam mulutnya. Yesung hanya tersenyum kecil melihat wajah manis yeojany aitu. Ugh~ bagaimana bisa ia akan menikahi gadis yang bertingkah layaknya bocah SD ini?

Sang penjual tampak bingung untuk memulai pembicaraan—maksudku adalah—bingung darimana ia harus menagih uang ice cream yang dibeli. Karena pasalnya kedua sejoli itu seperti tak ada tanda-tanda untuk membayarnya. Ryeowook justru asyik dengan cup ice cream ditangannya sedangkan Yesung malah bermain dengan ponselnya.

Merasa tak ada hal yang asyik dilakukan oleh Yesung, akhirnya Yesung memutuskan untuk mengajak Ryeowook pulang. Tapi ketika ia baru saja akan membuka mulut, Yesung menaikkan sedikit alisnya. Ia menatap Ryeowook dan penjual itu secara bergantian. Setelah cukup lama mata sipit Yesung beralih dari Ryeowook lalu ke penjual, akhirnya ia mengerti apa yang membuat penjual itu seolah menatap Ryeowook dengan perasaan tak enak hati.

Hah~ ia kembali membuang nafas berat. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya, yang pasti ia benar-benar lelah hari ini. Lengan Yesung menyenggol lengan Ryeowook pelan hingga sang gadis itu menoleh ke arah Yesung dan memberi isyarat seolah bertanya, 'Ada apa?'.

Yesung melirik sekilas pada sang penjual. Ryeowook yang belum mengerti apa maksudnya akhirnya kembali bertanya dengan memberikan body languange melalui alisnya yang terangkat sebelah. " Cepat bayar " bisiknya sangat pelan.

Ryeowook langsung menoleh pada sang penjual dan tersenyum kikuk. Segera saja ia membuka tas kecil yang tadi ia bawa dan mulai membuka dompetnya. Ryeowook menyerahkan uang-nya pada sang penjual dengan berkata sinis. " Kau tahu, namja yang ada disampingku ini adalah seorang Dokter dan keluarganya pun sangat kaya raya. Tapi...dia begitu pelit " berkata sedikit keras.

Yesung mendelik pada Ryeowook yang tengah tersenyum mengejek padanya. " Bahkan untuk membayar ice cream yang dibeli oleh yeojacingunya saja ia tak mau " lanjutnya yang kontan membuat sang penjual itu tertawa kecil.

Seluruh pengunjung yang disekitarnya dan mendengar perkataan Ryeowook sontak saja tertawa sambil menatapi Yesung yang menjadi objek pembicaraan. Yesung memutar bola mata malas melihat yeojacingunya yang memang sengaja ingin menjatuhkan images-nya. 'Kim Ryeowook. hanya kau satu-satunya orang yang berani menghinaku didepan umum'—batin Yesung.

Grep.

" Kyaaaaaa~ "

Dengan tiba-tiba Yesung menggendong tubuh mungil Ryeowook dengan gaya ala menggendong sebuah karung beras. Ryeowook memekik keras saat diperlakukan seperti itu. Tangannya memukul-mukul punggung Yesung yang tentu saja tak membuat Yesung bereaksi apapun. " Turunkaaann akuuu~ Oppa..turunkaaaann~ jebaaall~ " mohonnya yang masih belum dituruti oleh sang namja.

Yesung masih terus membawa Ryeowook keluar dari tempat itu. Tangannya yang sebelah kanan ia gunakan untuk memegangi berat beban Ryeowook sedangkan yang kiri ia gunakan untuk menenteng tas-tas belanjaan Ryeowook. Namja bermata sipit itu terkadang meringis saat kepalan tangan Ryeowook terlalu keras memukul punggungnya.

" Jangan bergerak atau kau mau ku jatuhkan, huh? " ancamnya dengan nada datar ciri khas seorang Kim Yesung. Ryeowook langsung diam dan tak memberontak. Tapi...sungguh, ia benar-benar malu sekali. Issh~ bagaimana bisa Yesung melakukan ini padanya.

Tap.

Kaki Ryeowook sudah menapaki tanah aspal yang ada di-area parkiran. Ryeowook menggembungkan pipinya lucu dengan menatap sebal Yesung. " Apa mau-mu? Hm? " Yesung bertanya dengan nada rendahnya yang terdengar merdu. Ryeowook membuang muka. " Ingin menjatuhkan images Oppa didepan Umum, eoh? "

Ryeowook langsung menoleh menghadap namja didepannya. " Kalau 'iya' kenapa? " tantangnya dengan nada kesal. Yesung diam memperhatikan berbagai perubahan wajah Ryeowook yang menurutnya sangat menyenangkan itu. " Toh images Oppa akan tetap baik. Sekalipun aku menghina Oppa dan mengatai Oppa adalah seorang namja miskin tapi sok kaya dan playboy, pasti gadis-gadis diluar sana akan tetap mau pada Oppa "

Setelah melontarkan beberapa kalimat itu Ryeowook langsung masuk kedalam mobil tanpa melihat wajah Yesung yang tersenyum samar. Gadis itu sebenarnya memang berniat menjelekkan Yesung dihadapa Umum supaya tak ada yang mau dengannya. Tapi...yah seperti yang dikatakannya tadi, itu percuma. Karena bagaimanapun juga Yesung tetaplah Yesung. Namja dengan jiwa karismatik-nya yang begitu memikat para gadis.

Ryeowook benar-benar benci mengakui ini. Mengakui kalau Yesung memang selalu menjadi obyek tatapan para yeoja diluar sana— yang mungikin—lebih cantik darinya. Memikirkan tentang hal itu selalu membuat rasa kepercayaan diri Ryeowook luntur.

Gadis manis itu sadar bahwa ia jauh dari kata cantik. Ia banyak kekurangan. Saat ia berkaca, Ryeowook merasa bahwa ia memanglah sangat pendek, tubuhnya yang masuk kategori kurus, dada-nya terkesan rata, pantatnya juga tidak besar. Dan lagi wajahnya itu...seperti terlihat anak yang masih SMP. Ia mendesah frustasi saat menyadari—betapa TIDAK SEKSI-nya dirinya itu.

Buk.

Pintu mobil yang tertutup membuyarkan lamunannya. Ternyata Yesung sudah siap sedia dibelakang kemudinya. Ryeowook membuang muka kesamping. Ia tak mau melihat wajah tampan Yesung. Karena itu membuatnya sangat minder. Well, ia akan minder memang jika sudah mengingat tentang beberapa kekurangannya itu.

" Jangan lakukan itu lagi "

Mendegar sesuatu yang terdengar seperti perintah tersebut membuat Ryeowook mau tak mau menatap Yesung yang sedang menjalankan mobilnya. " Kenapa? Oppa takut tidak laku, eh? " berkata jengkel dengan nada sinis diakhir kalimatnya. " Aniya~ Oppa tidak masalah jika tidak laku. Toh, masih ada kau yang mau pada Oppa "

Blusshh~

Kedua pipi Ryeowook langsung bertransformasi menjadi semerah tomat. Ia menundukkan kepalanya menyembunyikan rona merah tomat dikedua pipinya. Ia merutukki dirinya yang begitu mudah terbuai dengan kata-kata sang Dokter muda tersebut.

Ryeowook bersumpah bahwa Yesung itu bukanlah namja romantis dan pandai menggombal. Tapi...dia sendiri juga tidak tahu bahwa terkadang Yesung itu suka sekali melontarkan kalimat yang begitu membuatnya melambung tinggi—sekalipun Yesung tak bermaksud seperti itu.

" Seharusnya kau tidak perlu melakukan hal-hal bodoh seprti itu. Karena itu tak akan mempengaruhi para gadis-gadis centil itu untuk melirik, Oppa "

Ryeowook mengerutkan keningnya. Ia merasa bahwa ucapan Yesung kali ini seolah dirinya sedang membanggakan dirinya sendiri. Yayaya~ Ryeowook juga sadar sih kalau tentang itu. Dia bahkan juga terkadang merasa pusing sendiri mencari cara agar gadis-gadis yang ditemui Yesung dijalan tidak melirik namjacingunya itu sendiri. Tapi tetap saja hasilnya nihil.

" Memang apa salahnya? Toh oppa benar kalau itu tak akan mempengaruhi karisma Oppa. Aku kan hanya ingin mencoba untuk membuat Oppa merasakan berada di-posisiku "

" Posisimu? " berujar dengan pandangan yang masih lurus kedepan.

Ryeowook mengangguk antusias. " Ne. Oppa selalu saja mempermalukanku. Mengataiku bodoh dihadapan Siwonnie Oppa dan Kibummie, lalu mencelaku jelek dihadapan gadis-gadis yang tadi ada di Mall, memarahiku di-cafe Sungmin Eonnie, dan yang terakhir Oppa menggendong-ku bagaikan karung beras " gadis manis itu mencurahkan segala kekesalannya pada Yesung hanya dengan menggunakan satu tarikan nafas.

Yesung terperangah dengan kecepatan bicara Ryeowook yang diatas rata-rata. " Jadi kau balas dendam, eh? "

" Ya~ kalau Oppa menganggap seperti itu juga bisa " ujarnya dengan santai. " Oppa~ aku mengantuk. Aku tidur dulu, ne? Nanti bangunkan aku "

Yesung mendengus melihat Ryeowook yang mengerlingkan sebelah matanya. Bukannya terlihat menawan seperti bintang idola yang ada dilayar kaca TV-nya diapartment, Yesung justru melihat wajah Ryeowook seperti seorang anak kucing yang menggoda majikannya. Kekeke~

" Tidurlah~ " katanya lembut.

.

.

.

Harusnya tidak perlu merendahkan diri dihadapanku

Kau bahkan seribu kali lebih cantik dari gadis-gadis centil diluar sana

Aku...menyukai segala yang ada dalam diri kamu ^^

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Aku menghabiskan waktu yang cukup lama hanya dengan memandangnya tanpa bisa melakukan apa-apa.

Kalau aku ingat tentang itu, sampai sekarang pun hatiku masih sesak. Aku tak sempat mengatakan perasaanku padanya.

Sekarang aku sadar bahwa tidak ada rasa sakit yang lebih ditakuti diri ini dibanding tidak dapat mengutarakan perasaan yang tulus.

Tangan lembut itu menengadah mencoba menunggu guguran daun yang sudah gugur dari pohonnya. Matanya menatap nanar pada selembar daun kering yang hinggap ditelapak tangannya. Bibirnya tersenyum kecil dengan tiba-tiba.

Gadis kelinci ini...dia sudah mengambil keputusan beberapa hari yang lalu. Mungkin keputusannya akan menyakitkan, tapi ia percaya bahwa jika ia mengambil langkah ini, pasti ia bebas dari kesakitan hatinya.

" Hah~ semoga semua akan baik-baik saja " ujarnya pada dirinya sendiri.

" Eonnie~ "

Kepala Sungmin menoleh pada sesosok gadis mungil yang berlari kecil menghampirinya. Sungmin tersenyum manis dari tempatnya duduk saat ini. Tangannya melambai dan memberi intruksi pada gadis itu untuk mendekat. " Lelah? "

" Anio~ hanya berlari beberapa meter tidak akan membuatku lelah, Eonnie " jawabnya sambil tersenyum dan mendudukkan dirinya disamping Sungmin. " Apa yang ingin Eonnie bicarakan? "

Yeoja mungil—Ryeowook—bertanya dan memandang Sungmin dengan seksama. Gadis itu tidak menyadari sama sekali bagaimana ekspresi wajah Sungmin yang mendadak keruh. Mata Caramelnya mengerjap-ngerjap lucu membuat Sungmin yang sudah sedikit sedih justru terkekeh kecil.

Sungmin merapatkan tubuhnya mendekat pada Ryeowook. Ryeowook hanya tersenyum saja, karena jujur ia senang sekali bisa dekat dengan Sungmin, gadis ini sudah menganggap bahwa Sungmin adalah Eonnie-nya sendiri.

Tangan lembut Sungmin menggenggam jemari Ryeowook. mata keduanya bertemu. " Wookie~ Eonnie akan melanjutkan kuliah Eonnie ke Amerika "

A-apa?

Oh..NO! katakan ini hanya mimpi. Apa yang kau katakan Sungmin-ssi? Apa kau serius?

Mata Ryeowook melebar sempurna, sudah ada titik-titik air yang menggenang di pelupuk matanya. Entah kenapa Ryeowook merasakan sebuah paku tertanam sempurna di ulu hatinya. ia tidak percaya ini. Bagaimana bisa? Dan bagaimana mungkin Sungmin berbicara begitu.

Ryeowook bungkam tidak membalas ucapan Sungmin. Gadis Caramel ini berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi di siang bolong, dan ia tidak akan pernah mendengarkan perkataan Sungmin tadi. "Jangan bilang bahwa aku 'jahat', karena ini semua adalah keinginan kedua orang tua ku" jelasnya lagi saat dilihatnya Ryeowook yang akan memprotes.

" Kenapa mendadak sekali? " bertanya sambil menyeka air mata yang sudah tiba-tiba saja jatuh membasahi pipi putihnya. Sungmin mendesah berat. Akh~rasanya begitu sulit memberi pengertian pada yeoja disampignya ini.

"Sebenarnya tidak mendadak sih karena rencana ini sudah dibuat sekitar satu bulan yang lalu"

"Apa? Lalu kenapa Eonnie baru memberitahuku sekarang? " bertanya dengan sedikit keras. Jujur, sekarang ini ia benar-benar kecewa dengan Sungmin. Bagaimana bisa ia memberitahunya sekarang, padahal beberapa minggu ini Sungmin seperti menghindarinya.

" Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kau bersedih "

" Itu percuma. Pada akhirnya kau tetap saja membuatku bersedih " tuturnya cepat sambil berlari pergi meninggalkan Sungmin. Ryeowook tidak mau mendengarkan lebih jauh lagi. Ia tidak bisa dengan rela-nya melepas kepergian Sungmin.

Hey, jangan katakan ia 'lebay' karena bagaimana pun juga jika kita di posisinya pastilah kita juga kecewa. Akan ditinggalkan oleh seorang sahabat yang teramat berarti bagi kita dan parahnya lagi sahabat kita memberitahu kita pada detik-detik ia akan pergi.

Ryeowook berlari sekuat tenaga, kaki mungilnya berlari tak tentu arah. Ia hanya mengikuti nalurinya. Dan tanpa sadar yeoja mungil itu berlari menuju tempat dimana sang Tunangan bekerja. Yaps, Rumah Sakit.

Ryeowook berhenti sejenak dan menyeka air matanya. Ia tidak mungkin kan datang dengan tiba-tiba di ruangan Yesung dan terlebih dengan keadaan yang menangis. Demi Tuhan, Yesung pasti akan langsung mengomelinya layaknya Bapak-bapak yang mengkhawatirkan anak perempuannya.

Saat ia mengusap air matanya menggunakan kedua lengannya yang tertutupi pakaian yang ia pakai—lengan panjang—seseorang menarik lengannya. Ryeowook hampir saja akan berteriak nyaring pada siapapun itu yang dengan seenaknya saja memegangnya jika tidak lebih dulu mengetahui siapa gerangan yang ada didepannya.

" Oppa~ hukz.."

Ck!

Gadis ini memang sangat sulit sekali mengendalikan perasaannya. Dia ini juga tidak bisa menyembunyikan masalahnya pada laki-laki yang berdiri didepannya.

Sang namja hanya melotot kesal pada Ryeowook. jas ala Dokter yang ia gunakan sedikit berkibar saat angin siang ini berhembus pelan. Tangannya merogoh saku celananya dan menyerahkan sebuah sapu tangan untuk gadis-NYA.

" Hentikan acara menangis konyol-mu itu. Jangan sampai seluruh penghuni Rumah Sakit melihatmu menangis disepanjang jalan menuju ruanganku " ucapnya tegas.

Ryeowook hanya menerima sapu tangan itu lemas dan menjalankan apa yang baru saja diperintahkan Yesung padanya. " Kau mau berdiri disitu seterusnya? Huh? "

Suara Yesung mengembalikannya pada dunia nyata. Ryeowook dengan cepat mengikuti langkah panjang Yesung. " jalannya jangan cepat-cepat~ " rengeknya dari arah belakang Yesung.

Namja itu mendengus. " Kau yang lelet " cibirnya.

Ryeowook mengerucutkan bibirnya kedepan. yeoja ini sedikit mengernyit saat sadar bahwa Yesung tidak khawatir melihatnya menangis. Biasanya...biasanya kan namja yang kelewat Over Protective itu akan dengan hebohnya memberondongnya dengan berbagai pertanyaan ketika ia menangis.

Ryeowook yang sibuk memikirkannya tidak menyadari bahwa Yesung sudah lebih dulu masuk ke-ruangannya dan membiarkan pintu bercat coklat itu tertutup hingga...

Duagh~~!

" Aww..appoo..hukz "

Yesung berjengit kaget mendegar pekikan sakit yeoja manja-nya. Dengan cepat ia membuka pintu itu dan betapa kagetnya ia melihat hidung Ryeowook yang sudah dipenuhi dengan berceceran darah—mimisan.

" Wook-wookie " katanya terbatah dan membawa gadisnya masuk kedalam ruangannya. Yesung mengambilkan tissue untuk mengelap darah-darah segar itu. " Mendongaklah "

Tak mau membantah Ryeowook hanya bisa kembali menuruti kemauan Yesung. " Ya!Ya! uljima eoh, uljima " kata Yesung yang semakin tak tahan melihat Ryeowook mengeluarkan air matanya.

Hah~ Yesung menghembuskan nafasnya lega saat darah segar itu sudah berhenti.

" Oppa~~ " memanggil manja dengan bibir yang mengerucut kedepan. matanya sudah kembali berkaca-kaca.

Grep~~

Yesung memeluk tubuh mungil itu dan membenamkan wajah manis Ryeowook di dada bidangnya. Namja ini bersikap cuek bukan karena sudah bosan, malas atau kesal dengan tingkah Ryeowook yang cengeng, hanya saja ia memang sudah tahu apa yang membuat Ryeowook menangis.

Well, Sungmin sudah menghubunginya perihal masalah ini dan menceritakan semuanya padanya. Yesung yang saat itu sudah khawatir setengah mati mendengar bahwa Ryeowook lari begitu saja membuatnya mau tak mau memutuskan untuk mencari Ryeowook.

Tapi, Tuhan begitu menyayanginya sepertinya. Hingga sebelum ia benar-benar keluar dari Rumah Sakit, yeoja yang berhasil membuatnya kelabakan sudah berdiri di depan gedung utama Rumah Sakit.

" Sudahlah~ jangan menangis terus "

" Ughh~ bagaimana bisa aku tidak boleh menangis kalau Sungmin Eonnie akan pergi jauh " katanya melas dan memukul lengan Yesung keras. Tangan mungil Yesung mengelus rambut secoklat madu milik Ryeowook.

" Ini keputusannya. Kau tidak boleh egois, kalau kau sahabatnya seharusnya kau mendukung segala keputusannya, 'kan?. bukannya mengatakan padanya bahwa ia menyakitimu "

"..."

" Apa kau tidak pernah berfikir bahwa ia melakukan ini karena ia juga memikirkan perasaanmu? "

" Apa? Itu mustahil. Sudah jelas-jelas ia memikirkan perasaannya sendiri. Sungmin Eonnie baru memberitahuku sekarang saat ia akan berangkat. Jika ia memikirkan ku seharusnya ia memberitahuku jauh-jauh hari "

Terlihat sekali rasa kesal, kecewa, dan marah disetiap ucapannya.

Yesung kembali menghela nafas berat. Oke, sepertinya ia harus lebih banyak bersabar. Yesung memegang kedua pipi Ryeowook dan memaksa sang empunya untuk mendongakkan kepalanya menghadapnya. Ryeowook menatap kesal pada Yesung.

Cup!

" Kau ini benar-benar berpikiran polos sekali "

Ryeowook mendengus kesal dan melepaskan kedua telapak tanga Yesung dari pipinya. Ia menggembungkan pipinya sebal. Ryeowook tidak mengerti apa maksud Yesung. " Berbicaralah dengan menggunakan bahasa yang mudah aku mengerti, Tuan pintar "

Yesung tertawa pelan mendengar julukan baru yang disematkan sang calon istrinya saat ini. Jinja...Ryeowook bahkan sudah hampir memberinya 20 nama aneh yang diberikannya padanya. Kepala besar Yesung menggeleng-geleng frustasi memandang wajah Ryeowook yang polos itu.

" Dengarkan, Oppa! Selama ini Sungmin tidak membertahukannya padamu karena ia tidak ingin kau bersedih. Ia ingin kau terus tersenyum selama ia masih bisa dekat denganmu—"

"—tapi itu tetap saja tidak adil namanya—Tuing!—aww~sakit "

Yesung menyentil kening Ryeowook keras menyebabkan ucapan Ryeowook terhenti seketika. "Jangan memotong omongan orang" titahnya tegas sambil mendekatkan wajahnya pada Ryeowook. "Arasseo" katanya pasrah.

Yesung kembali melanjutkan ucapannya. " Sungmin hanya tidak mau kau terbebani dengan dirinya yang akan pergi ke Amerika, jadi ia memutuskan untuk menyembunyikannya darimu. Tapi yang jelas, ia benar-benar menyayangimu sama hal-nya ia sudah menganggapmu Dongsaeng-nya sendiri " jelasnya panjang lebar.

Ryeowook mendengarkannya dengan seksama. " Jeongmal? "

Obsidian Yesung merotasi jengah lalu memilih berdiri berpindah tempat duduk di kursi kedudukannya. " Itu yang ia katakan pada Oppa "

Ryeowook ikut berdiri dari tempat duduknya dan mendekat pada Yesung. Alis Yesung terangkat sempurna melihat tingkah laku Ryeowook. " Apa? "

" Aku mau duduk "

" Itu ada dua kursi, kenapa kesini? "

Ryeowook tidak menjawab dan justru mengangkat tangan Yesung yang tadi tergeletak dipahanya dan menaruhnya diatas meja, sedangkan dirinya sudah lebuh dulu duduk dipangkuan Yesung. "Lebih enak disini" ujarnya dan menyenderkan punggungnya didada bidang Yesung.

Lengan Yesung lebih memilih memeluk pinggang langsing sang yeoja. " Jadi..."

" Hng? "

" Sudah tidak marah pada Sungmin? "

Ryeowook tampak membutuhkan waktu sedikit lama untuk berfikir. " Sebenarnya aku masih marah..tapi setelah mengetahui alasannya yang sesungguhnya aku jadi mengerti dan sudah sedikit tidak marah " katanya dan menolehkan kepalanya pada Yesung.

Yesung tersenyum senang. " Baguslah, jadi sekarang kau tidak perlu menangis tersedu-sedu di ruangan Oppa "

Gyuut~

" Aww~ Yak! " membentak sedikit keras setelah mendapat cubitan gratis dari yeoja di pangkuannya. " Dasar tidak punya hati. Seharusnya Oppa memanjakanku agar aku tidak bersedih lagi, tapi justru mengeluarkan kalimat menyebalkan seperti itu " aduhnya sinis yang ditanggapi santai-santai saja oleh Yesung.

.

.

.

Jika kau benar-benar sahabat yang baik untuknya, pasti kau akan selalu bisa memahami keputusan yang ia ambil

Hei, sahabat yang baik itu adalah sahabat yang mau mendengarkan alasan dari sahabat yang lainnya

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

Sungmin tersenyum manis ketika matanya baru saja selesai membaca deretan tulisan manis dilayar ponselnya. Ia menghela nafas lega sekarang. "Syukurlah~ akhirnya kau bisa mengerti juga" lirihnya yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.

Sungmin memasang kaca mata hitam guna menyembunyikan matanya yang memerah. Gadis kelinci ini sudah akan terbang menuju Amerika. Katakan ia pengecut karena pada akhirnya ia memilih pergi dan mencari takdir baru untuknya.

Lagi pula ia juga sadar kalau mungkin ia memang tak akan pernah bisa menang dari Ryeowook. hubungan Yesung dan Ryeowook benar-benar seperti saling melengkapi satu sama lain. Akan sangat sulit sekali untuknya memutuskan benang merah yang tersambung diantara keduanya.

"Selamat tinggal" kaki mungilnya berjalan cepat menyeret koper besar yang ia bawa.

.

.

.

Dengan memilih pergi dan menyerah bukan berarti anda seorang pengecut, melainkan karena anda sadar bahwa akan ada takdir yang lebih indah setelah ini^^

[[ Choi Ryeosomnia ]]

.

.

.

"Oppa~ lusa Kibum dan Siwon Oppa sudah akan menikah dan aku belum mempersiapkan dress apa yang akan aku pakai" rajuknya dengan memotong buah apel menjadi bagian kecil-kecil lalu menyuapkannya pada mulut Yesung. "Dress mu 'kan sudah banyak, Baby~. Ambillah salah satu Dress yang menurutmu pantas digunakan"

Ryeowook mendengus kesal dan mengunyah apel dimulutnya cepat. Tangannya yang awalnya memegang pisau ia letakkan dan berganti meraih sebuah majalah yang mana isinya dalah gaun-gaun indah. Mata Caramelnya mendadak berbinar.

Dengan semangat ia membolak-balikkan setiap lembar majalah itu. Setiap lembar yang ia buka membuat mata dan mulutnya tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

Yesung yang melihatnya hanya mampu memutar bola mata bosan. Ia sudah hafal sekali peringai gadis cilik itu. Sebentar lagi sudah pasti ia akan merengek minta dibelikan dan akan bersikeras sampai mendepatkannya. Ugh~ Yesung tiba-tiba saja mengurut pelipisnya memikirkannya.

"Oppa~"

Nah, benar 'kan?

"Hm?"

Ryeowook merapatkan tubuhnya pada Yesung. "Gaun ini bagus, ne?" katanya dengan menunjukkan salah satu lembaran dimana disana terdapat salah satu gaun berwarna merah redup dengan bagian bahu terbuka dan juga terdapat pita kecil bagian depannya.

"Jelek"

"Ya!" teriak Ryeowook sambil melempar majalahnya pada Yesung. "Aigoo~ apa yang kau lakukan, Baby~"

"Oppa bilang itu jelek karena Oppa takut aku minta belikan itu padamu, ne? Issh~ dasar namja pelit"

Yesung mengangkat bahunya acuh. "Terserah" menjawab dengan santai dan memusatkan perhatiannya pada layar televisi didepannya.

"Pokoknya belikan aku gaun itu" rengeknya dengan manja. Tangannya mengatup rapat dan juga matanya sudah menampilkan jurus puppy eyes yang teramat imut. "Ne, Oppa~?" ujarnya dengan mendekatkan wajahnya pada Yesung.

Namja berkepala besar itu menghela nafas. "Baiklah~" putusnya pada akhirnya. Ryeowook tampak senang dan langsung menghambur memeluk Yesung. "Gomawo Oppa~" ucapnya dengan imut sambil mendaratkan kecupan-kecupan manis diwajah baby face calon suaminya itu.

"Hn, sudah. Cepat tidur" suruhnya ketus. Ryeowook mengangguk kecil. Ryeowook membaringkan kepalanya pada paha Yesung menjadikannya bantal untuknya. Yesung terperanjat. "Ya! tidur dikamarmu"

"Anio~ aku mau tidur disini saja, nanti kalau aku sudah tidur baru Oppa pidahkan ke kamarku"

Yesung kembali menghela nafas berat. "Tidurlah~" berkata lembut sembari mengelus sayang surai coklat madu indah milik sang yeoja. "Kau manja sekali sih" cibirnya saat merasakan tangan Ryeowook yang memeluk pinggangnya dengan erat. "Jalja"

.

.

.

TBC

Author Note :

Uwwoo\(o*_*o)/ adakah yang mengingat ff ini? Pasti udah pada lupa *nangis dipojokan*

Maafkan saya pemilsah karena sudah lama menelantarkan ff ini, dan terimakasih untuk semua reader yang selalu mengingatkan saya untuk melanjutkan ff ini *terharu* ternyata masih ada yang peduli sama nih ff abal-abal. Kkk~

Pendek banget ya? mian~ masih belum nemu inspirasi lagi nih [[-,-]]

Nah, tinggalkan jejak kalian dibawah kolom review sana ya~~^^/

.

.

.

Ryeowook's Wife