Disclaimer: Persona 3 & Persona 4 © ATLUS


Ia berjalan di tengah barisan pohon yang mengiringinya, dengan jari di tangan kanannya yang tak mau melepaskan tongkat ajaib (ranting pohon) itu.

Hitomi no Kotae


Lantunan merdu merasuki indra pendengaran dengan lembut. Gadis manis yang berdiri tegak di belakang puluhan manusia, dengan indah menggerakan kedua lengannya membentuk suatu pola birama, sambil memegang anggun tongkat dengan jemari tangan kanannya. Pola yang terbentuk membantu tiga barisan yang ada di depan sang gadis, untuk mengontrol tempo suara yang dihasilkan setiap bibir mereka terbuka.

"Merdunya…" Komentar salah seorang pe


ndengar muda dengan bisikan−atau lebih seperti gumaman−, pada gadis di sebelahnya−yang tidak merespon apapun.

Di hadapan pendengar, gadis manis itu memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan mereka. Ia membungkuk hormat, diikuti barisan di belakangnya, dan mereka diberikan suara tepukan tangan berulang kali oleh pendengar. Wajahnya yang terangkat menunjukan senyum kebanggaan, sebelum ia menggerakan langkahnya menuju pintu keluar, diikuti langkah anak-anak yang mengikuti di belakang punggungnya.

Salah seorang pendengar yang adalah pemuda kecil berambut ikal, mendorong tubuhnya untuk berdiri dari duduknya, dan berjalan meniggalkan ruangan dengan senyum kecil diukir bibirnya, diikuti seorang gadis berambut pirang di belakangnya.


-1-

New Circle


Warna coklat susu mengisi setiap helaian rambut yang diikat menjadi dua bagian oleh pita merah. Iris mata yang terpenuhi oleh warna tersebut, tertuju pada orang-orang dewasa yang berbicara manis dengan bibir penuh senyuman, sambil beberapa dari mereka mengelus rambut teman-temannya. Salah seorang dari orang dewasa itu juga ikut mengajak gadis manis yang bisa dianggap menjadi 'guru' mereka, untuk bicara dan memberinya pujian.

Ia hanya mengamati segala pemandangan tersebut dengan suara yang terdiam, sambil merapatkan tubuhnya pada dinding luar aula, sampai indra pendengarannya meresap suara hentakan sepatu pada lantai koridor yang timbul tidak jauh darinya. Biji mata bulatnya−secara refleks−mengalihkan perhatiannya pada naungan suara tersebut, yang mana dimainkan oleh seorang pemuda berambut ikal hitam, dan gadis berambut pirang, dengan pita putih sebagai bandonya.

Semangatnya memuncak, hingga membuat tubuhnya tergerak untuk berlari kecil, dan mendekati dua orang yang kini berada di hadapannya. "Pharos-kun." Senyuman melingkupi bibirnya ketika menyuarakan nama tersebut. Sang pemuda yang disebutkan namanya, membalas dengan senyuman lalu menghentikan langkahnya di depan gadis yang ia tuju, kembali diikuti gadis di belakangnya.

"Lagu yang indah, Nanako-chan." Ucap Pharos pada gadis di hadapannya. Gadis yang bernama Nanako, tertawa kecil dengan rona merah yang samar-samar muncul di pipinya. Pandangan Nanako kemudian teralih pada gadis bergaun ungu dengan pita putih pada gaunnya, dan pita hitam pada lehernya, yang diam berdiri di belakang Pharos.

"Alice-chan juga datang." Ucap Nanako tanpa memudarkan senyumannya. Alice hanya mengangguk kecil tanpa senyuman atau kata lain yang terlontar.

"Ah…, dimana Ken-kun?" Nanako mengalihkan perhatiannya ke sekeliling tanpa memudarkan senyum ataupun semangat besarnya. Sesosok pemuda yang memiliki rambut, dan mata sewarna dengan milik gadis manis yang mencarinya, serta tinggi yang melebihi gadis tersebut, tidak dapat ditemukan oleh sang gadis dari kumpulan manusia dewasa maupun muda yang mulai meramaikan koridor.

Nanako berhenti mengedarkan pandangan pada sekelilingnya, dan mengarahkan kembali pandangannya pada pemuda yang berdiri di hadapan dirinya, sekaligus memberinya sebutir pertanyaan "Ken-kun tidak datang?"

Pharos−maupun Alice−tidak membalas perkataan yang disuarakannya. Nanako tidak mengadahkan wajahnya lagi untuk melihat raut wajah dari kedua orang itu, sebab wajahnya yang tertunduk hanya disuguhkan pemandangan sepatu merah muda yang dikenakan kakinya, sedang meninju kecil lantai koridor dengan ujung sepatunya berulang-ulang.

"…Dia tidak datang." Tampak di hatinya berdiam rasa kecewa, ketika harus mengatakan kalimat tersebut pada dirinya, dengan suara pelan.

Nanako meninju sedikit lebih keras pada lantai tak bersalah, untuk kemudian berhenti, dan tak tampak lagi suara yang terucap dari ketiga anak tersebut, selain suara langkah gadis berambut coklat pada permukaan lantai, beberapa saat kemudian, diikuti kedua anak yang berpaut usia lebih tua dibanding gadis itu di belakangnya.

…Mereka akan sampai pada asrama mereka, sebelum lonceng mengalunkan melodi peringatannya pada semua orang.


Napasnya mengalir dengan terburu-buru. Genggaman tangan kanannya pada tangkai tombak semakin erat, saat tubuh kecil itu berputar dan senjatanya membelah tubuh dua shadow yang mengarah padanya dari belakang. Shadow tersebut terbelah menjadi dua bagian, lalu menghilang.

Kembali shadow lain muncul, dan kali ini ia tak dapat mengelaknya. Tubuhnya terlontar, dan makhluk berwarna hitam itu kembali mengarah padanya, sementara tubuhya yang masih terbaring mencoba meraih tombaknya dan diarahkan pada makhluk tersebut. Namun perkiraannya berbeda.

Di depan penglihatannya, ia tahu jelas monster itu menguap di udara sebelum mencicipi mata tombaknya. Monster tersebut telah terlebih dahulu dimusnahkan oleh kapak yang mendarat sempurna pada tubuh monster yang menyerangnya.

Pandangan matanya yang sedikit terkejut, perlahan luntur, dan berubah menjadi menusuk, sambil tetap tak berkata memandangi kapak yang baru saja merebut mangsa tombaknya. Ia menurunkan tangan yang menggegam senjatanya, dan membuat tombak itu berdiri, untuk membantunya juga ikut berdiri.

Tubuhnya yang mendapat beberapa luka, telah ia arahkan untuk membelakangi kapak tersebut, sebelum seulas suara yang dibencinya mengalun pada gendang telinganya.

"Kembalilah, ini bukan tempat bermain 'anak kecil'."

Pemuda kecil berambut coklat susu tersebut mengangkat wajahnya, dan mempertemukan penglihatannya dengan pintu besi ruang latihan, yang berjarak cukup jauh dari tempatnya berpijak dalam diam. Ia dapat meresap suara gesekan kecil, antara lantai ruangan dengan kapak yang telah dilepaskan ikatannya, setelah tertancap untuk beberapa saat lalu. Hal terakhir yang didapat oleh pendengarannya adalah, benturan pertanda tertutupnya pintu besi lain yang berhadapan dengan punggungnya, setelah hentakan sepatu seorang pemuda yang 'dikenalnya' meninggalkan anak laki-laki itu sendiri dalam ruang latihan.


Garis samar tetuang pada media putih, di saat ujung runcing dengan warna hitam pada tabung yang digenggamnya tergerak. Warna hitam dari sebatang pensil yang erat berada di tangan kanannya, sedang warna putih dari media kertas di tangan kirinya adalah warna yang mengisi objek lukisnya.

Untuk sementara, ia membiarkan bola mata dengan warna air la


ut miliknya memperhatikan setiap detail yang tercipta untuk memenuhi media kertas dari buku di tangan kirinya, sebelum tangan kanan sang gadis yang−masih melekat pada pensil gambarnya−tergerak untuk menutup buku sketsanya, dan bibirnya mengucapkan suatu kalimat: "Selamat datang kembali."

Sebuah pintu hitam telah terbuka sebelum kalimat gadis yang berada di dalam ruang tamu tersebut terlontar. Dua orang gadis kecil dengan seorang pemuda kecil telah masuk bersama, namun tak ada yang menanggapi salam gadis berambut biru tersebut.

Gadis dengan ukuran tubuh yang paling rendah di antara yang lainnya terus menundukan wajahnya, sehingga tiap helai rambut dari poninya dapat menutupi sebagian wajah sedih itu. Langkah dari kaki gadis bersepatu merah muda itu langsung bergerak untuk membawanya ke sebuah koridor, dimana terdapat ruangan pribadinya. Terlihat−sekilas−mulutnya tertutup dengan rapat, seolah ia sedang berusaha menahan aliran air yang berasal dari bola mata coklatnya, juga kedua tangannya yang meremas kuat gaun sweater-nya.

Gadis kedua mengikuti arah gadis berambut coklat−yang sudah tak terlihat−dengan langkah pelan. Sosoknya ikut menghilang, saat diri gadis itu berbelok menuju koridor. Kini tinggallah dua orang anak pada ruang tamu asrama mereka.

"Yukari-san menyimpan makan malam di lemari pendingin." Gadis kecil dengan rambut biru menyuarakan pemberitahuannya pada satu-satunya orang−selain dirinya−yang tertinggal di ruang tamu tersebut. Pemuda itu terdiam sejenak sebelum membawa tubuhnya pada ruang makan yang menjadi satu ruangan dengan ruang tamu, tetapi dibatasi oleh sebuah rak buku lebar.

"Dia memasak kari." Kalimat singkat terlontar oleh gadis berambut biru ketika tangan kanan pemuda dengan rambut gelap sedang berpegangan dengan gagang pintu dari lemari pendingin yang telah terbuka.

Pemuda itu dapat melihat sebuah mangkuk yang berisi makanan dengan sebutan 'kari' pada salah satu rak dan mulai bicara, "kau tidak memakannya, bukan?"

"Tidak." Gadis itu menjawab dengan singkat. Suara benturan kecil berbunyi ketika pintu dari lemari pendingin menutup.

Sang gadis telah menyiapkan diri untuk kembali pada ruangannya, setelah meninggalkan segala perlengkapan menggambar dari tangannya pada permukaan meja kayu di depan sofa yang sebelumnya ia duduki.

Suara langkah sepatu yang dikenakannya mulai mengisi ruangan, sebelum pemuda yang berada di belakangnya mulai bicara kembali. "Kau pandai mengambar," ujar pemuda kecil itu. Namun seakan tak mendengarnya, ia tetap melanjutkan langkah sepatunya.

"Walaupun begitu, gambar ini dapat membuatmu dianggap sebagai 'pemberontak' oleh masyarakat−kau tahu?"

Langkahnya tak dapat mengelak untuk berhenti dan membiarkan wajahnya berhadapan dengan pemuda yang sedang memberi senyum padanya. Tangan pemuda itu telah meraih seluruh alat yang telah ia tinggalkan di atas meja kayu, sebelumnya. Tubuhnya terasa dingin dan kaku begitu langkah pemuda itu mulai mengikuti arahnya, dan wajahnya masih menampilkan ekpresi yang sama.

Pemuda itu berhenti melangkah ketika ia sampai di hadapan sang gadis, dan dengan ekpresi tersebut, tangan pemuda berambut ikal yang mengenggam benda miliknya terjulur padanya. Cukup lama gadis itu mematung dan hanya menatap pemuda yang menggenggam buku sketsa beserta pensil gambar di kedua tangannya, sampai suara milik pemuda itu kembali terangkat.

"Hei, 'mempercayai orang lain,' kalimat yang bagus, bukan?" Bola mata gadis itu kembali terangkat pada wajah pemuda yang untuk beberapa waktu lalu meminta pendapatnya. Nampaknya kali ini ia telah menggenggam kesadarannya secara utuh−yang sebelumnya ia masih terlihat tak yakin, sepertinya.

Tangannya terangkat untuk meraih barang miliknya dari tangan pemuda berkulit pucat itu, sambil memberitahukan pendapatnya. "Terima kasih−tapi kurasa tidak seindah itu. Aku lebih suka mempercayai diri sendiri… dibanding orang lain." Gadis itu segera berjalan membelakangi si pemuda setelah menyelesaikan kalimatnya, dan meneruskan langkahnya yang sempat tertunda, dengan tangan yang telah mendapatkan dua buah alat menggambar.

'Tapi kau percaya padaku, iya 'kan?'

"Apa?−" Dan untuk kedua kalinya, langkahnya kembali terhenti untuk menatap sejenak pemuda itu. Senyum−yang entah mengapa, terasa sedikit berbeda dengan sebelumnya−masih ia sediakan, namun kali ini ia memulai langkahnya untuk mendahului sang gadis dan hanya memberinya sebuah kalimat sederhana.

"Karena itu, segala hal yang langsung diketahui tidak pernah menyenangkan." Ucap Pharos saat melewati si gadis, dan kemudian menghilang sosoknya saat berbelok menuju koridor asrama.

Naoto mengikuti arah menuju koridor dengan menurunkan sedikit wajahnya, sehingga bayang-bayang ujung topinya dapat menutupi mata biru miliknya dari cahaya lampu koridor. Akalnya mengulang terus dua butir pertannyaan pada jiwanya sendiri: Ia tidak yakin kalimat yang mengatakan 'Tapi kau percaya padaku, iya 'kan?' Berasal dari Pharos−yang memang, tidak terdengar dengan sangat jelas. Dan, apa maksud Pharos dengan 'pemberontak', hanya karena sebuah gambar 'pohon'?

Langkahnya terus berlanjut menuju tempat tujuannya, walau nyanyian bel peringatan sedang ditampilkan.


Belaian lembut tangannya ia letakkan pada bulu lembut di punggung hewan bertanduk dua di hadapannya. Wajahnya tersenyum lembut pada hewan itu, seiring langit mengubah cakrawala menjadi jingga mentari senja dengan campuran warna violet dan biru langit malam dari arah timur, yang sebentar lagi akan memenuhi langit.

Wajah hewan dengan bulu coklat itu terangkat, seperti sedang mengendus udara di depan wajah gadis yang memiliki bola mata berwarna hitam penuh. Mata hewan yang biasa dipanggil dengan sebutan rusa itu berkedip sekali, sebelum berpaling pada arah lain, dimana rusa lain yang lebih besar yaitu induknya menanti untuk kembali pada tempat tinggal mereka. Kaki kecilnya segera bergerak untuk mendekati induknya dan ia memandangi sejenak wajah gadis yang melambaikan tangan padanya, sebelum ia kembali ke kerumunan pohon di hutan.

Suara langkah terdengar mengarah pada tempat sang gadis berpijak. Pandangannya teralih untuk menemukan semacam lomba lari, dari seekor anjing dengan pemuda berambut pirang yang menempati posisi kedua. Anjing berbulu putih yang menempati posisi terdepan masih berlari hingga cukup jauh dari si gadis berambut gelap, namun pemuda yang beririskan mata biru terang tampak telah cukup kehabisan tenaga hingga tubuhnya terbaring di hamparan rumput.

"Kumaa~ Koromaru terlalu cepat…" Tubuhnya berbaring dalam posisi terbalik dengan tangan yang ia julurkan ke depan. Anjing yang memiliki bola mata beririskan warna merah terang yaitu Koromaru, telah menghentikan gerakannya dan saat ini sedang duduk dengan lidah terjulur, menatap lawan tandingnya menyerah.

Dari arah lainnya, tampak seorang gadis dengan rambut hijau berpotongan pendek tersenyum pada mereka. "Koro-chan tampak sangat senang" Ucapnya dan disambut oleh Koromaru yang menyalak padanya, seperti pertanda bahwa ia memang menikmatinya.

"Anak pintar. Ini, ambilah." Gadis berambut gelap angkat suara dan mengulurkan tangan kanannya yang telah menggenggam sepotong kue kering, setelah sebelumnya ia mengambilnya dari sekantung kue kering dengan bentuk yang berbeda dari kue yang digenggamnya sedari awal.

Koromaru tampak terkejut sesaat, kemudian merengek kecil sambil menaruh wajahnya ke rumput, dengan kedua kaki depannya tertekuk di depan wajahnya yang terlihat takut dan tak ingin menggigit sebuah 'kue kering' yang mungkin dapat meracuninya. Gadis itu tampak bingung dengan reaksi Koromaru.

"Ada apa? Padahal aku baru membeli kue ini di kota tadi pagi−itu perjalanan yang melelahkan." Gadis itu berkata dengan wajah kecewa, sambil memperhatikan kue kering coklat di tangannya. Namun sepertinya Koromaru telah merubah pendapatnya dengan cepat. Wajahnya terangkat dengan ekspresi bersemangat, dan kembali lidahnya terjulur dengan suara menyalak beberapa kali. Gadis berambut hitam merasa anjing itu menginginkan makanan yang masih digenggamnya, maka dengan senang hati ia bergerak ke arahnya dan membiarkan mulut anjing itu menghabiskan kue di tangannya.

"Itu tidak adil kumaa…! Kuma juga lelah, dan ingin kue dari Yuki-chan!" Pemuda yang masih terbaring di permukaan rumput tersebut tampak tak terima dengan kue yang telah diperoleh oleh Koromaru, sementara Koromaru masih menjilati serpihan kecil dari kue tersebut dari telapak tangan gadis yang pemuda itu panggil dengan sebutan "Yuki-chan".

"Eh? …ouh, baiklah yang dapat kembali pertama, akan mendapatkan seluruh kue ini, bagaimana?" Gadis itu menunjukan sekantung kue plastik di tangannya, membuat anjing dan pemuda itu bersemangat−seakan sebelumnya rasa lelah tak pernah datang berkunjung.

"Kuma tidak akan kalah, kuma! Siap! Mulai…!" Tanpa menunggu aba-aba yang benar, pemuda itu segera berlari dengan lebih cepat dari sebelumnya−hingga menyisakan kepulan asap sebagai jejaknya−, meninggalkan kedua gadis di belakangnya, dan anjing putih yang segera berlari menyusulnya.

Kedua gadis di belakangnya hanya dapat memperhatikan mereka, setelah seorang dari mereka yang berambut hijau lumut berkata agar mereka berhati-hati di perjalanan. Terdiam sesaat, gadis berambut hitam memperhatikan sebuah bangunan besar dan tinggi yang berbentuk setengah lingkaran−lebih terlihat menyerupai rumah kaca raksasa−dengan dinding tinggi yang mengelilinginya. Namun yang paling menjadi pusat perhatiannya adalah, sebuah menara kecil yang cukup tinggi, dimana berada pada bagian puncak bangunan tersebut.

Gadis berambut hijau lumut telah mengalihkan perhatiannya pada objek yang sedang diperhatikan gadis di depannya, maka ia bergerak untuk mendekati gadis yang memiliki rambut jauh lebih panjang darinya itu.

"Yukiko-chan…" Gadis berambut hijau lumut bicara pelan sambil ikut memperhatikan menara puncak, dimana sebuah lonceng emas sedang menari dan menyebarkan melodinya pada pendengaran mereka.

"Sayang sekali, padahal melodi yang dihasilkan indah." Gadis yang bernama Yukiko bicara dengan nada sedih, sambil masih menatap bangunan raksasa tersebut.

"Ya…" Gadis di sebelah Yukiko hanya merespon singkat.

"… 'Shinkaeku'. …Kita, 'Okuruitsu', bukanlah 'kanoie' buruk seperti yang semua orang kira." Yukiko bersuara lebih keras dari sebelumnya. Lawan bicara Yukiko berkata pelan, tetapi tetap mendapat jangkauan dari pendengaran Yukiko, "aku tahu."

Mereka terdiam kembali dan memutuskan untuk menikmati lagu indah yang mengalun, sampai kaki mereka memutuskan untuk bergerak kembali ke tempat, di mana mereka tinggal−dan kedua kontestan pelari itu sedang menuggu mereka.

"Fuuka." Yukiko memulai pembicaraan, sambil meneruskan perjalanan mereka menuruni bukit. Fuuka hanya bergumam kecil, memberi tanda pada Yukiko untuk melanjutkan bicaranya. Yukiko tidak bicara untuk sejenak dan berpikir, sebelum akhirnya meminta pendapat. "Kue yang kujanjikan pada Teddie dan Koromaru, adalah pangganganku sendiri. Apa perlu aku memberi tahu mereka?−Takut kalau, mereka mengira kue itu juga sama dengan yang kuberi pada Koromaru."

"Kurasa tidak perlu. Aku juga akan membuat makanan untuk nanti malam. Mau membantu?" Fuuka bicara dengan riang pada Yukiko, dan ditanggapi persetujuan oleh Yukiko.

"Tentu. Bagaiman dengan… Kari?" Yukiko mengusulkan. Fuuka kembali berkata dengan riang, dan bicara bahwa itu ide yang bagus. Maka selama perjalan mereka, topik diisi dengan kari 'lezat', yang akan mereka ramu bersama.


Bola mata birunya memperhatikan pantulan dirinya pada kaca. Dari pantulan kaca tersebut, ia dapat melihat keseluruhan ruangan dari kamar sederhana-nya, termasuk kotak kardus yang diletakkan pada meja belajarnya. Tinta hitam, bertuliskan namanya, 'Shirogane Naoto', tercetak dalam ukuran kecil pada permukaan kardus berwarna coklat tersebut. Seragam, buku pelajaran, dan segala kebutuhan sekolah yang terbungkus dalam kardus tersebut telah disiapkannya.

Kembali ia mengalihkan perhatiannya pada dirinya yang telah mengenakan seragam sekolah barunya. Seragam siswa berupa kemeja putih, tersembunyi dibalik jas sekolahnya yang terlihat lebih mirip dengan jaket musim dinginnya. Jas putih yang memiliki panjang di atas lutut itu, mempunyai sepasang kancing biru gelap berdampingan, dengan keseluruhannya berjumlah empat pasang, dan dikaitkan lebih menyamping ke bagian kanan jasnya. Kerah tinggi, juga lengan panjang yang dilipat ke luar menampilkan pula warna biru gelap. Terdapat garis biru gelap, yang mengitari setiap pinggir jas, dan jas tersebut sedikit terbelah menjadi dua bagian pada bagian belakangnya. Celana biru gelap yang panjangnya melebihi mata kaki, membuat kaus kaki putih yang melingkupi kakinya tertutupi, menyisakan ujung sepatu hitamnya.

Walau seragam yang dikenakannya seharusnya adalah seragam seorang siswi, dan bukanlah seorang siswa. Tetapi mungkin ini adalah keberuntungannya, pemuda dengan rambut perak yang menentukan dan mengurus segala kebutuhannya−baik sekolah, maupun asrama− mungkin menganggapnya sebagai anak laki-laki−dan memang tampak seperti itulah ia. Lagi pula akan lebih baik jika semua orang memang beranggapan hal yang sama.

Tangannya meraih sebuah topi biru gelap yang tergeletak pada permukaan tempat tidurnya. Langkahnya terarahkan pada pintu ruangan, setelah topi di tangannya telah terpasang pada kepalanya, dan tas coklat berisikan perangkat sekolah yang tersandar pada kaki tempat tidurnya telah ia dapatkan. Memori mengenai pemuda berambut perak itu masih jelas terputar pada akalnya.


Bola mata abu-abu milik pemuda itu menatap lurus padanya. Tangan kanannya menggenggam sebuah jaket hitam yang terpikul di pundaknya, sedang pundak kirinya memikul sebuah tas, dan di pelipis kirinya terdapat plester luka.

"Kau tampak lebih sehat dari saat kita terakhir bertemu." Ucap pemuda itu padanya.

Suasana sepi mengisi salah satu koridor rumah sakit yang mereka berdua singgahi. Ia membungkukkan dirinya di hadapan pemuda itu, setelah sebelumnya ia terduduk di salah satu kursi yang berbaris membelakangi tembok putih di belakangnya.

"Terima kasih telah menolongku." Wajahnya terangkat seusai sepatah kalimat diucapkannya. "Salah seorang suster mengatakan saat itu aku mengalami luka berat, dan yang membawaku kemari−serta mengurus semua biaya administrasi-nya− adalah kau." Kalimatnya terlanjut.

Pemuda yang berdiri di hadapan gadis kecil itu tidak membalas. Gadis kecil dengan rambut biru pendek tersebut, kembali membangkikan pembicaraan mereka. "Apa kau mengetahui sesuatu? …maksudku, aku tidak mengingat apa pun. Ketika aku bangun, yang ku tahu aku telah berada di rumah sakit ini, dan para suster tidak mengetahui apa pun, selain tentang kau yang menolongku." Gadis itu terdiam cukup lama, dan menunggu dengan harap pemuda itu kali ini membalas.

Pemuda itu mendesah pelan sambil menutup matanya, sebelum mengeluarkan segala yang diketahuinya, sesuai dengan yang gadis itu inginkan. "Prajuritku menemukanmu terluka, dan tak sadarkan diri di dalam hutan." Pemuda itu menghentikan gerak mulutnya, dan menunggu reaksi gadis di hadapannya.

Gadis itu tetap menatap sang pemuda, dan bersuara pelan "Lalu… kau membawaku ke sini. Apa yang terjadi?"

Pemuda itu melanjutkan kembali, "kami sedang melakukan penyeledikan sekaligus evakuasi, pada kota kecil yang baru saja musnah."

Bola matanya mengecil, dan matanya terbuka lebar, dengan bibir yang sedikit terbuka, menunjukan ke terkejutannya. Setetes peluh mengalir di wajahnya yang telah ber-ekspresi kaku, sedang kedua tangan mengepal kuat.

Pemuda itu tidak mengubah ekspresi yang ditunjukannya, dan tetap melanjutkan pembicaraan. "Kami masih menyelidiki penyebabnya." Ia kembali menghentikan pembicaraannya.

Gadis kecil itu masih bertahan dengan ekspresinya, dan pemuda itu merasa gadis kecil di hadapannya mengerti arah pembicaraan yang akan ia sampaikan. Pandangan bola mata abu-abunya tetap terarah pada gadis kecil bermata biru itu, dan suaranya kembali teralunkan. "…Mungkin, kau satu-satunya penduduk yang selamat dari musibah tersebut, karena hutan tempat kami menemukanmu berjarak tak jauh dari kota kecil itu. Tetapi kemungkinan tersebut masih lima puluh banding lima puluh, sebab kami tidak menemukan petunjuk atau tanda pengenal apa pun, yang dapat menunjukan secara pasti bahwa kau memang penduduk dari kota tersebut."

Gadis kecil itu menundukan wajahnya untuk menatap lantai koridor ketika pemuda itu memberi segala informasi yang diketahui olehnya. Pemuda itu mempertahankan dirinya untuk tetap diam, namun gadis itu tak dapat berpikir untuk merespon apa. Yang dapat dilakukan gadis itu saat ini hanya diam menjadi patung bisu, hingga ia menyadari bahwa pemuda berambut perak itu kini telah berlutut, dengan kaki kanannya menyentuh permukaan lantai yang dingin, dan kaki kirinya tertekuk untuk menopang lengan kirinya, sedang tangan kanan tangannya tetap menggenggam jaket hitam di pundaknya.

"Kau mengingat sesuatu?" Pemuda itu bicara.

"…Em." Gadis kecil yang malang itu mengerakan kepalanya ke kanan, dan ke kiri, tanda bahwa tidak ada satu pun memori yang diingatnya. Gadis kecil itu masih tak dapat mengangkat wajahnya untuk bertatapan dengan pemuda yang berusaha mengsejajarkan tingginya dengan tinggi gadis itu.

"…Jika kau mau, kami dapat membantumu." Wajah pemuda itu masih menunjukan ekspresi serius ketika gadis kecil di hadapannya secara refleks mengangkat wajahnya begitu mendengar pernyataan sang pemuda. Gadis itu seperti akan bicara sesuat namun niat terurungkan, sehingga bibir yang sedikit terbuka itu kembali ia rapatkan.

Jari telunjuk dan jari tengah terangkat, sedang tiga jari lainnya dari tangan kiri pemuda itu terlipat. Gadis itu memperhatikan gerak tangan dari pemuda tersebut. "Kau memilki dua pilihan. Pertama, berusaha mengingat semua ingatanmu." Jari tengah pemuda itu terlipat, dan menyisakan jari telunjuk yang berdiri sendiri. Gadis itu masih terus memperhatikan. "Kedua, melupakan semua ingatanmu, dan mulai segalanya dari awal."

Tangan pemuda itu telah turun, dan bertopang kembali pada kaki kirinya, tetapi sang gadis masih tak mengatakan apa pilihannya, perannya sebagai patung bisu masih berjalan. Cukup lama hingga pemuda itu memutuskan untuk kembali berdiri dan pandangan si gadis terangkat untuk memperhatikan wajah sang pemuda dengan ekrpresi serius.

"Pilihan apa pun yang kau pilih, itu urusanmu, tapi kami dapat membiarkanmu tetap tinggal di kota kami jika kau mau." Pemuda itu segera melangkahkan sepatunya untuk meninggalkan koridor tersebut, dan gadis itu mengerti bahwa ia harus mengikutinya.

Gadis itu hendak mengucapkan sesuatu, namun kembali niatnya terurungkan ketika pemuda itu mulai bicara lagi. "Jika kau bertanya 'kenapa?', jawabannya mungkin karena itu tanggung jawab kami untuk membantu orang-orang sepertimu."

"…" Gadis itu mengikuti punggung pemuda berambut abu-abu di hadapannya, dan menunggu pemuda itu untuk kembali bicara.

"Selamat datang di kanoie kami, Shinkaeku."

"…Sekali lagi, terima kasih."


"Prajurit?" Tangannya yang sedikit mengepal untuk menopang dagungnya menurun, dan wajah yang sebelumnya tertunduk menjadi terangkat, begitu ia menyadari sesuatu. Langkahnya kembali berlanjut setelah terhenti sejenak. Tangan yang menopang dagu kembali ia ulangi, serta segala spekulasi lain yang dirancang oleh dirinya, kini sedang bermain dengan pikirannya.

Tubuh yang sedang berjalan secara tak sadar itu seakan sedang bergerak dengan dikendalikan jiwa lain. Pharos hanya diam memperhatikan gadis yang telah berlalu melewatinya, tanpa membalas senyum yang dilemparkannya ketika mereka bertemu di tikungan koridor untuk menuju ruang makan. Nanako dan Alice sedang terduduk di salah satu sofa yang tersedia di ruang tamu ketika gadis berseragam siswa itu berjalan melewati tempat mereka.

"Pagi, Naoto-kun." Nanako menyapa ramah padanya, namun seperti yang dilakukannya pada Pharos, ia mengabaikannya. Nanako masih memperhatikan gadis yang telah mencapai ruang tamu itu, dan sekarang mengarah pada pintu asrama mereka. Nanako memperhatikannya dengan posisi mendudukan lututnya di sofa dan tubuhnya menghadap punggung sofa, sedang Alice tetap duduk diam dan membaca buku yang ada di tangannya tanpa mempedulikan siapa pun. Pharos baru saja sampai pada tempat dimana ketiga gadis itu berkumpul, dan seperti yang dilakukan Nanako, ia hanya bisa diam memperhatikan.

Nanako merasa tidak baik jika ia hanya berdiam diri, karena itu ia mencoba bicara sekali lagi. "…Naoto-kun?" Panggilnya, tepat setelah bunyi bel pintu berdentang.

'Dia bilang prajuritnya yang menemukanku, itu berarti ia adalah seseorang dengan kedudukan yang cukup tinggi, atau setidaknya dihormati−" Pikirannya tersadar ketika bel pintu sedang berdentang dan suara seorang perempuan terdengar dengan sangat jelas−dan keras−di balik pintu asrama.

"Pagi!"

"Ough…!" Beruntunglah ia dapat menghindari hantaman keras dari pintu yang terbuka secara mendadak itu, namun kesimbangannya menghilang ketika harus menghindar, hingga ia jatuh dalam posisi terduduk. Rintihan kecil ia suarakan ketika merasakan tubuhnya terbentur dengan permukaan lantai yang keras.

"Ah−…! Ma-maaf! Kau baik-baik saja 'kan?" Seorang gadis dengan rambut coklat susu−yang ia yakini sebagai pelaku pembukaan pintu secara kasar tadi−duduk di hadapannya. Gadis itu, Naoto, masih memejamkan mata kirinya, tetapi mata kanannya mulai terbuka untuk melihat wajah gadis yang tengah berekspresi gelisah itu.

"Ehng… iya−kurasa. Itu kesalahanku tadi, maaf." Naoto menggerakan tubuhnya untuk berdiri dengan bantuan dari tangan gadis berambut coklat susu itu. Naoto merapikan sedikit posisi topi birunya, dan baru menyadari bahwa gadis lain sedang berdiri di sebelah gadis berambut coklat susu yang kini juga telah berdiri.

"Eh… Hei, pagi." Gadis dengan rambut berwarna sama dengan gadis di sebelahnya tetapi tampak sedikit lebih panjang menyapa. Gadis itu tampak bingung dan ragu, entah apa yang dipikirkannya.

"Em, selamat pagi, Yukari-san." Naoto menganggukkan sedikit kepalanya pada gadis berambut coklat itu, Yukari, sebagai tanda hormat. Yukari masih tersenyum, dan sedikit merasa gembira, mendengar anak itu masih mengingat namanya.

"Ehm… Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Kau kenal anak ini Yukari?" Gadis dengan model rambut yang lebih pendek dari Yukari mengarahkan telunjuknya pada Naoto sambil menatap Yukari.

"Yeah… dia anak baru yang akan tinggal di asrama ini. Akihiko-san yang membawanya." Jawab Yukari sambil menatap lawan bicaranya, dengan tangan kanan yang menggenggam lengan kiri di belakang punggungnya.

"Akihiko-sama? Tampak aneh baginya untuk mengurusi hal seperti ini." Lawan bicara Yukari meletakkan kedua tangannya di pinggang, dan menaikkan sebelah alisnya dengan ekpresi bingung. Yukari juga menampilkan ekspresi tak percaya dengan menaikan satu bahunya.

Mereka berdua tampaknya telah melupakan keempat anak yang masih menunggu dalam ruangan yang sama dengan mereka; ruang tamu. "Eh… maaf, tadi kau mengatakan 'Akihiko-sama' apa itu nama orang yang membawaku?" Naoto mengambil perhatian dua orang yang jauh lebih tua darinya.

"Oh…? ah… maaf mengabaikanmu. Ehm… ya itu namanya. Sanada Akihiko." Yukari memberikan perhatiannya kembali pada gadis kecil yang kira-kira berusia sepuluh tahun itu. "Dia salah satu petinggi penting di kota ini. Ia kepala Jendral angkatan darat di Kanoie ini; Shinkaeku." Kini giliran gadis di sebelah Yukari yang memberi sebuah informasi, dan hal itu cukup untuk membuat kedua alis Naoto terangkat dengan wajah tak percaya.

'Kepala Jendral angkatan darat?' Jika bisa, batinnya sangat ingin meneriakan hal tersebut. "Itu−"

"Ah ya… kita belum berkenalan. Namaku Satonaka Chie, salam kenal" Gadis itu berlutut dan memberikan ekspresi senyum bersahabat padanya sambil mengulurkan tangan kanannya di depan wajah Naoto. Naoto mengulurkan tangannya dengan ragu, namun sebelum ia sampai pada tangan gadis yang bernama Chie itu, tangan Chie dengan cepat menangkap tangan kecil Naoto−seolah seekor harimau yang berhasil menangkap rusa−dan menjabatnya dengan kencang−ia yakin Chie tidak bermaksud buruk seperti berusaha mematahkan setiap tulang-tulang kecil dari jari tangannya, dan yang dilakukannya hanyalah salam jabat tangan yang terlalu sangat bersahabat, dan amat bersemangat.

"Eh… em… Shirogane Naoto. Maaf…, bi-bisa kau… melepaskan tanganku…" Naoto berucap dengan terbata-bata, sebelum ia tidak dapat merasakan kembali tangan kanannya.

"Tentu, salam kenal Naoto-kun." Chie melepaskan genggaman tangannya, dan Naoto segera menarik tangannya kembali menuju ke belakang punggunnya untuk melakukan beberapa pijatan di sekitar pergelangan, telapak, dan jari tangannya. Chie masih memberi senyum manisnya, sedang Naoto tampak memberi senyum kaku. Ia tidak menyadari Yukari sedang mengamatinya.

"Lebih baik kita cepat menyiapkan sarapan, lalu membuat mereka pergi ke sekolah secepat mungkin, atau mereka harus menyelinap masuk di upacara tahun ajaran baru." Yukari berjalan cepat menuju dapur saat bicara dengan Chie yang baru mendirikan tubuhnya. Naoto memperhatikan Yukari yang telah siap dengan celemeknya di depan meja dapur, diikuti Chie, dan Pharos sedang berdiri di sebelah sofa yang diduduki Nanako dan Alice. Naoto memutuskan untuk menuju tempat anak-anak yang seumuran dengannya−kecuali Nanako yang berusia tujuh tahun−berada.

"Apa mereka berdua selalu datang ke sini?" Naoto bertanya ketika ia sudah berada di belakan Pharos.

"Eng," Nanako menganggukkan kepalanya pada Naoto sebagai pernyataan benar. "Chie-san dan Yukari-san selalu datang untuk menyiapkan sarapan pagi, dan sore, tetapi terkadang mereka juga datang bergantian. Sekolah juga selalu menyiapkan makan siang." Nanako memberi penjelasan pada Naoto yang membalasnya dengan anggukan mengerti.

Naoto tampak memperhatikan sejenak seragam yang dikenakan Nanako−dan tentu saja sama dengan Alice. Seragam jasnya sama persis dengan yang dikenakannya, hanya saja ia mengenakan rok selutut berwarna biru gelap.

"Chie-san adalah kolonel dari pasukan angkatan darat, sedang Yukari-san adalah kepala perawat pasukan perang, dan perawat kepercayaan dari beberapa petinggi Kanoie ini." Pharos ikut bicara sambil memperhatikan dua orang gadis yang sedang mereka bicarakan.

'Apa semua orang yang akan ku kenal adalah orang-orang penting nanti? …Terlalu banyak yang tidak kumengerti." Naoto kembali berucap dengan batinnya.

Pada akhirnya, pagi itu mereka isi dengan melakukan lari pagi menuju sekolah yang berjarak cukup jauh dari asrama mereka, dikarenakan suatu insiden dimana panggangan roti asrama yang mengeluarkan asap hitam, sertatidak tersedianya waktu untuk mengisi pencernaan anak-anak malang tersebut dengan sesuatu yang dapat dimakan−untuk 'kari' yang tertinggal di lemari pendingin tadi malam, rasanya hal tersebut termasuk sesuatu yang tak dapat dimakan.


'Sejujurnya, saat pertama kali bertemu dengan Naoto-kun, yang ada dipikiranku adalah bahwa ia anak perempuan.' Yukari masih dapat mengingat wajah Naoto saat pertama kali bertemu dengannya. Saat itu Naoto datang dengan Akihiko tanpa topi biru di kepalanya.


Pemuda berambut perak itu membawanya ke sebuah gedung bertingkat satu yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Tangan pemuda yang mengenakan sarung hitam itu mengetuk permukaan pintu kayu dari asrama tersebut, dan seorang gadis berambut coklat muncul untuk membukakan pintu beberapa saat kemudian.

Gadis itu berambut pendek dengan warna coklat susu di setiap helaiannya, dan wajahnya tertunduk ketika melihat siapa tamunya. Pemuda di samping gadis kecil itu mulai bicara sebelum gadis berambut coklat itu mulai bicara.

"Kurasa masih ada ruang kosong di asrama ini bukan, Yukari?" Pemuda itu bertanya pada gadis yang ia panggil Yukari.

Gadis itu mengangguk pelan. "Ehng… tentu," Yukari menatap seorang gadis kecil dengan tinggi yang jauh berbeda dengan pemuda yang bertanya padanya. "Untuk anak ini?" Yukari berbalik bertanya.

"Seperti yang kau lihat." Pemuda itu mengalihkan pandangannya pada gadis kecil di sebelahnya, dan Yukari juga melihat padanya. Ia terlihat agak bingung, sehingga yang ia dapat pikirkan untuk dilakukan adalah menundukan kepala sebagai salam hormat.

"Namanya Takeba Yukari." Pemuda itu berkata sambil mengistirahatkan tubuhnya pada dinding di belakangnya. Gadis kecil itu mengalihkan pandanganya pada Yukari yang sedang tersenyum padanya sambil menyapa, "hai."

"Senang bertemu denganmu, Takeba-san." Gadis kecil itu sekali lagi menundukan wajahnya untuk membalas salam Yukari. Yukari memandang sejenak gadis itu setelah menurunkan tangan yang sebelumnya ia lambaikan, lalu berkata, "Yukari-san saja cukup."

"Ehm, baik." Gadis kecil itu kembali bicara.

"Aku sudah memilihkan sekolah untukmu. Perlengkapan lainnya akan ku kirim secepat aku bisa−kurasa dua hari kau sudah dapat menerimanya." Pemuda itu mengambil alih pembicaraan, dan setelah memberi tahu informasi yang harus diucapkannya, ia segera pergi. Gadis itu masih melihat sang pemuda yang sedang menuruni beberapa anak tangga dari asrama tempatnya akan tinggal, dan di anak tangga terakhir pemuda itu berhenti.

"Ada satu hal yang hampir kulupa." Pemuda itu membalikan tubuhnya untuk melihat gadis itu lagi, dan melanjutkan informasi yang ia lupakan, "Kami menemukan topi ini bersamamu saat itu, kurasa ini milikmu." Tangan pemuda itu menggengam sebuah topi biru gelap, setelah ia mengeluarkannya dari tas di pundak kirinya. Sang gadis membuat beberapa langkah mendekati pemuda bermata abu-abu itu, dan tangannya ikut untuk meraih benda miliknya, "terima kasih."

Pemuda itu segera membalikan kembali tubuhnya untuk, namun sekali lagi langkahnya menjadi berhenti karena seorang gadis kecil bertubuh pendek meneriakkan kata, "tunggu!"

"… Kau tahu… namaku? Aku juga tidak mengingat hal itu." Gadis itu agak menundukan kepalanya dan tangannya menggengam kuat topi biru yang ada di tangannya. Yukari hanya menatap gadis itu, sama halnya dengan pemuda itu, tetapi untuk beberapa saat kemudian, pemuda itu mulai bicara.

"Mungkin ada di topi itu." Pemuda itu hanya bereaksi singkat, dan langkahnya berlanjut hingga ia hilang ketika semakin jauh. Tangan gadis kecil itu mengangkat topi di tangannya, dan ia dapat melihat sebuah tulisan kecil yang cukup samar di bagian dalamnya, tetapi masih dapat ia lihat dengan jelas. Dua buah kata terukir di dalamnya.

白鐘 直斗
Shirogane Naoto.


Gadis berambut biru gelap itu berdiri tegap di hadapan meja, dengan seorang gadis berambut merah gelap sedang duduk di belakang meja tersebut. Gadis berambut merah itu memperhatikan setiap detail data yang tercetak pada kertas yang ada di tangannya. Mata merah gelapnya beralih pada gadis yang berpakaian resmi di hadapannya.

"Kerjamu bagus seperti biasa, Shirogane." Gadis itu bicara dengan lenkungan sedikit terbentuk pada ujung bibirnya, dan sebagai rasa hormatnya, gadis berambut biru menundukan kepalanya sambil berkata, "Terima kasih, Mitsuru-sama."

Gadis berambut merah menutup map yang menyimpan dokumen itu, dan menaruhnya pada tumpukan dokumen lain di mejanya. "Kau boleh pergi sekarang." Gadis berambut biru sekali lagi menundukan wajahnya sebelum pergi meninggalkan gadis yang dihormatinya dalam ruangannya yang besar.

Mitsuru masih memperhatikan pintu ruangannya setelah gadis berambut biru itu pergi, dan tidak lama kemudian suara ketukan pintu tersuarakan. "Masuklah," Mitsuru bicara singkat, dan pintu ruangannya terbuka untuk menampakan seorang pemuda berambut perak yang segera berjalan ke hadapan meja kerjanya.

"Ada apa?" Mitsuru bicara singkat pada pemuda itu.

"Hari ini anak itu sudah mulai memasuki sekolah, aku sudah mengirim segala perlengkapannya." Pemuda itu bicara dan Mitsuru menopangkan dagunya dengan kedua tangannya yang ia lipat.

"Secara DNA, gadis itu memang benar dia." Mitsuru bicara pada lawan bicaranya dan pemuda itu mengangguk sambil berkata, "aku tahu. Aku akan terus mengawasinya." Mitsuru mengangguk singkat.

"Aku mempercayai segala tugas ini padamu, Akihiko."

"Kau tidak perlu mengingatkanku." Akihiko segera membuat langkahnya untuk pergi meninggalkan ruangan Mitsuru.


Ruangan itu sangat gelap dan tanpa fentilasi satu pun, tetapi ia masih dapat merasakan tangannya. Entah sudah berapa lama ia di dalam ruangan ini.

Sistem pendengarannya dapat menangkap suara pintu yang terbuka, dan dengan sistemya ia juga dapat melihat jendela kecil pada pintu itu terbuka. Sebuah nampan besi yang usang masuk melalui jendela kecil itu. Nampan itu membawa semangkuk makanan serta minum, tetapi ia tahu ada hal lain di dalamnya.

Tangannya meraih mangkuk tersebut dan memeriksa sesuatu yang ada di dalam mangkuk tersebut selain makanan. Tangannya dapat merasakan sebuah benda ber-material besi, dan ia meletakan mangkuk tersebut di lantai. Ia menggerakkan tubuhnya ke sudut lain dari ruangan tersebut dan meraih alat lainnya.

Tangannya mulai bekerja untuk menyatukan segala alat tersebut dengan tangan besinya, hingga membentuk suatu senjata.

"Esok, aku akan bebas."


'Kanoie' adalah bangunan seperti rumah kaca, tetapi dalam bentuk raksasa, dan ditinggali oleh masyarakat (Bayangin aja sebuah kota dalam rumah kaca).


Tambah lebih gaje? Memang, haha…−author mulai gila. Saya juga ngerasa cerita ini bener-bener kacau… hah…

Ehm… sedikit penjelasan, jadi di sini Naoto ada dua. Yang satu umurnya sepuluh tahun, dan yang satu lagi enam belas tahun. Kenapa? Silahkan imajinasi anda menebak sendiri−dibuang. Lalu… Di sini saya juga masukin Alice, si persona 'Die for Me!', juga Pharos, sebagai anak sekolah.

Jika anda berkenan silahkan mengisi kolom review, dan saya juga mohon bantuannya jika ada kesalahan di fanfic ga jelas ini.

Terakhir…, arigatou.