Takdir Sakura Chapter 2
Author : Naumi Megumi
Pairing : SasuSaku, NaruHina, and other
Rate : T
Genre: Humor, Romance, Family, Hurt, Angst, Drama
Disclaimmer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning:
OOc banget, suatu saat akan ada Dead Chara, AU, Gaje, Alur berantakan, Typo, miss typo, abal, ide pasaran, minimnya diskrip, pokoknya amburadul! dan silahkan FLAME jika memang fic-ku ini benar-benar memuakkan! ^_^
Summary:
Sasuke, guru magang di sekolah Sakura, ternyata adalah teman satu kampus Naruto—teman baru di kedai kopi—/Di tengah jalan, Hinata di jegat lagi oleh seniornya, lalu siapa kali ini yang akan menolongnya?
Mari bersama sama kita teriak 'Uye!'
Uye! \(o.o)/
Kalau nggak suka, nggak usah baca, ya! Ntar mual lho!
Jangan Lupa RnR-nya, ya!
Balasan review ada di bawah!
Hey hey hey, aku kembali dengan fic baru yang sangat amat jelek. Semoga kalian tidak terlalu banyak mual setelah membaca ini. ^_^
So, Enjoy It!
TAKDIR SAKURA chapter 2
Hinata meneteskan air matanya. Ia benar-benar merasakan sakit di kepalanya saat Tayuya menjambak rambutnya dengan kencang. Ia hanya bisa menangis tersedu atas perlakuan kedua seniornya itu terhadap dirinya. Ia harus berbuat apa? Ia bahkan tidak punya keberanian sedikitpun untuk sekedar melihat seniornya itu. Ia hanya bisa memejamkan matanya sambil menangis.
"Apa yang kalian lakukan pada gadis itu!?" seru sebuah suara yang membuat Karin dan Tayuya serta Hinata menoleh ke sumber suara. Suara yang datangnya dari balik belokan koridor.
"Gu… guru…" gumam Karin yang kaget sekaligus takut saat melihat sang guru magang-Naruto-melihatnya dengan pandangan lembut, tapi mematikan.
"Apa kalian di rumah tidak ada kerjaan sehingga mengerjai adik kelas, ha?" tanya Naruto dengan senyum mematikan. Tayuya melepaskan tangannya dari rambut Hinata dan segera pergi sambil menarik tangan Karin. Mereka pergi meninggalkan Hinata.
Sekarang Hinata akhirnya bisa bernafas lega. Ia segera menghapus air matanya dan merapikan rambutnya kembali.
Pluk.
"Lain kali berhati-hatilah," ucap Naruto sambil mengusap pucuk kepala Hinata lembut. Sedangkan Hinata hanya menunduk berusaha menyembunyikan wajanya yang merona.
"Te… terima kasih, guru," ucap Hinata terbata.
-Takdir Sakura-
Sakura berjalan menyusuri trotoar sambil sesekali ia mendongakkan kepalanya untuk melihat langit yang sudah mulai berubah warna menjadi oranye. Sebantar lagi hari akan gelap dan Sakura harus segera bergegas ke suatu tempat.
"Cks! Ini gara-gara aku ketiduran terlalu lama. Sial!" umpat Sakura kemudian ia berlari dengan sekuat tenaga. Karena tadi Sakura tertidur terlalu lama sehingga ketinggalan Bus dan ia harus berjalan kaki ke tempat tujuannya sekarang.
Beberapa menit setelah ia menempuh jarak yang lumayan jauh, akhirnya ia pun sampai ke sebuah Kedai Kopi. Ia berjalan memasuki kedai tersebut.
"Ah, Sakura! Kau sudah datang?" tanya seorang temannya yang mempunyai warna rambut kuning dan dikucir menjadi empat, ia bernama Temari.
"Maaf, aku terlampat," ucap Sakura meminta maaf sambil menundukkan kepalanya.
"Ah, tidak apa-apa, kok. Ini tadi juga baru sedikit yang datang," ucap Temari dengan senyumnya. "tapi, nanti jam 7 ke atas pasti ramai. Jadi, mari kita berusaha dengan keras!" lanjutnya dengan penuh semangat.
"Hah, kau ini berisik sekali," ucap seorang laki-laki dengan rambut nanasnya sambil menguap. Dia adalah Shikamaru. Si manager kedai kopi ini, tapi kelakuannya tidak mencerminkan seorang atasan yang terhormat. Dia juga pacar dari Temari. Temari lah yang membantu Shikamaru untuk mengurus kedai kopi yang di wariskan oleh nenek Shikamaru pada cucunya.
"Kenapa kau selalu saja seperti itu? Hiduplah dengan semangat!" ucap Temari sambil memandangi sang pacar dengan pandangan sengit, tapi sayang. "Nenekmu pasti sengsara mempunyai cucu sepertimu!" lanjutnya.
"Tapi kalau aku, aku sangat beruntung mempunyai pacar sepertimu," ucap Shikamaru menoleh ke depan, memandang Temari. Sontak Temari pun merona karena ucapan kekasihnya barusan. Inilah pasangan di kedai kopi 'Merepotkan'. Memang sangat aneh nama kedai ini, tapi kedai ini benar-benar menghilangkan segala sesuatu yang 'merepotkan' di dalam kehidupan kita selama seharian ini.
Sakura memandang sepasang kekasih di depannya dengan senyum miris. Andai saja ia juga dapat merasakan punya kekasih yang begitu cinta dan sayang terhadapnya. Tapi, semua itu sudah tidak mungkin lagi untuk menjadi kenyataan. Setelah sakit hatinya pada Gaara, ia tidak berani untuk jatuh cinta lagi. Selain itu, ia tidak mempunyai waktu untuk memikirkan seorang kekasih. Ia harus memikirkan Hinata, adiknya.
"Aku ganti seragam dulu, ya," pamit Sakura lalu meninggalkan sepasang kekasih itu. Sakura pun menuju kamar ganti pewagai.
Bruk!
"Ah, maaf," ucap Sakura saat tanpa sengaja ia menabrak lengan seseorang, karena orang tersebut lebih tinggi dari Sakura.
"Justru aku yang harusnya minta maaf," sahut orang yang ditabrak Sakura.
Sakura mendongakkan kepalannya untuk melihat orang yang ditabraknya tadi, "Tidak, aku yang salah. Maaf," ulang Sakura.
"Ah, sudahlah. Ohya, perkenalkan namaku Uzumaki Naruto. Pegawai baru di kedai ini," ucap Naruto dengan tawa tiga jarinya sambil mengulurkan tangan.
"Aku Haruno Sakura. Salam kenal," balas Sakura lalu menjabat tangan Naruto.
Sakura dan Naruto berjabat tangan beberapa detik. "Ohya, kulihat dari segarammu, sepertinya ini seragam anak SMA," ucap Naruto.
"Hehehe… ya seperti itulah. Aku masih anak SMA," jawab Sakura sambil nyengir cangung.
"Pasti karena ekonomi," tebak Naruto.
Sebenarnya saat ini kondisi ekonomi Sakura tidak begitu buruk. Bisa dibilang serba kecukupan, hanya saja. Ia harus terus mengumpulkan uang untuk kuliah Hinata kelak. Ia harus mengumpulkan uang sebanyak mungkin selagi ia bisa.
"Hehehe… ya begitulah," jawab Sakura mengiyakan.
"Ya, aku tahu. Aku juga begitu. Bedanya, saat ini aku kuliah dan sekarang sedang magang sebagai guru di salah satu SMA di Konoha," ucap Naruto.
"Hn? SMA berapa?" tanya Sakura.
"SMA 2." Naruto menjawab singkat.
"SMA 2?" Sakura sedikit terkejut. SMA 2 kan tempat Hinata sekolah.
"Ya." Naruto menjawab singkat tak lupa dihiasi dengan senyum khasnya.
"Itu tempat adikku bersekolah," ucap Sakura.
"Adik? Kau punya adik?" tanya Naruto.
"Ya. Namanya Hinaya. Kau mengenalnya?" tanya Sakura.
"Sepertinya," jawab Naruto sambil mencoba mengingat-ngingatnya. "Ah iya. Aku ingat. Dia mempunyai rambut indigo yang indah, kan?" tanyanya setelah mengingat Hinata dengan jelas.
Sakura menaikkan sebelah alisnya. "Aku tidak pernah berpikir bahwa Hinata mempunyai rambut yang indah seperti yang kau sebutkan," ucapnya.
Mendengar ucapan Sakura, Naruto menjadi salah tingkah sendiri. "Hehe…" ia hanya nyengir.
"Baiklah! Mari kita mulai bekerja!" seru Sakura lalu meninggalkan Naruto dan pergi ke kamar ganti. "Aku sudah menemukan orang yang tepat untuk menjagamu, Hinata," gumamnya sambil tersenyum.
-Takdir Sakura-
Jam 9 lewat 30 menit malam. Saatnya untuk pulang. Sakura segera membereskan barang-barangnya. Tapi, tiba-tiba kepalanya terasa berat dan pandangannya terasa buram. Semuanya seolah seperti berputar-putar. Ia berjalan keluar kamar ganti dengan merambat di dinding agar ia tidak terjatuh.
"Hey, Sakura!" seru Naruto begitu melihat Sakura keluar.
Sakura hanya bisa menjawabnya dengan sebuah senyuman. Ia berjalan ke arah Naruto, mencoba berjalan senormal mungkin.
"Aku mau mengenalkanmu dengan seseorang. Teman kuliah sekaligus sabahatku," ucap Naruto. "Tapi, dia sedikit terlambat datang," lanjutnya dengan wajah cemberut. "Kau mau menunggunya sebentar?" tanya Naruto sedikit cemas, takut Sakura tidak bisa menunggu.
Maaf, Naruto. Sepertinya aku tidak bisa bertemu dengan temanmu. Mungkin lain kali," jawab Sakura mencoba memasang senyum senormal mungkin.
"Yah~" ucap Naruto lesu.
"Sudahlah, jangan sedh seperti itu." Sakura tersenyum melihat wajah Naruto yang cemberut.
"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa besok!" seru Naruto lalu melambaikan tangan ke arah Sakura yang sudah keluar dari kedai kopi.
-Takdir Sakura-
"Uh, kenapa kak Sakura belum pulang juga? Padahal kan ini sudah larut malam. Kenapa dia selalu pulang malam begini, sih?" gumam seorang gadis indigo di jalan, Hinata. Ia baru saja pulang dari belanja di supermarket. Karena mini market di dekat rumahnya sudah tutup semua, jadi ia harus ke supermarket yang letaknya jauh dari rumahnya.
"Hah~" Hinata menghela nafas panjang. Ia berjalan sambil menundukkan kepalanya. Tapi tiba-tiba, ia melihat dua pasang kaki yang menghalangi jalannya. Ia mendongakkan kepalanya untuk mengetahui si pemilik kaki tersebut. "Ka… kak Karin…" gumamnya begitu mengetahui bahwa yang menghalangi jalannya adalah Karin dan Tayuya.
"Hey, kita bertemu lahi, Hinata," ucap Karin dengan seringai licik.
"Ka… kalian mau apa?" tanya Hinata dengan gugup. Ia sangat takut. Bahkan tubuhnya bergetar. Hinata tidak tahu harus bagaimana. Kalau ia lari, pasti mereka bisa mengejarnya. Tadi siang keberuntungan Hinata sehingga ia bisa lolos dari Karin Tayuya karena ada Naruto yang menolongnya. Tapi sekarang, di tempat ini sangat sepi, siapa yang akan menjadi dewa penolong untuk Hinata lagi?
"Kenapa? Kau takut? Di sini, kau tidak akan bisa kabur lagi. Karena guru Naruto tidak akan mungkin ada di sini," ucap Karin dengan nada yang menyeramkan, sedangkan Tayuya yang ada di sampingnya hanya menyeringai licik.
"Aku mohon, kak. Jangan sakiti aku," ucap Hinata memohon. Air matanya lagi-lagi tumpah.
"Jangan harap kami akan memaafkanmu, ya!" seru Karin murka. "Tayuya, pegangi dia!" perintah Karin pada Tayuya.
Tayuya lalu berjalan ke belakang Hinata dan memegangi kedua lengan Hinata.
Bruk!
Belanjaan Hinata jatuh dari tangannya dan ia hanya bisa memejamkan matanya sambil menangis. Inilah akhir hidupnya. Ia tidak berani menghadapi kedua seniornya yang selalu menindasnya itu.
Karin mulai mengulurkan tangannya. Mungkin ingin menjambak rambut indah Hinata lagi.
"Aarkk!" jerit Hinata. Benar saja, Karin lagi-lagi menjambak rambut panjang Hinata.
"Kalau rambutmu ini kupotong, apa kau masih berani mendekati guru Naruto, hm?" ucap Karin dengan nada mengancam.
"Ja…jangan, kak. Aku mohon. Hiks!" Hinata terus memohon sambil menangis.
Karin tidak peduli dengan rengekan Hinata. Ia mengeluarkan sebuah gunting dari dalam sakunya.
"Ja… jangan…" mohon Hinata bergetar.
Lagi-lagi Karin mengacuhkan permohonan Hinata. Ia mengacungkan gunting tersebut ke rambut Hinata. Sedangkan Hinata hanya bisa menangis dan memejamkan matanya. Ia hanya bisa pasrah. Tidak mungkin ia bisa lolos dari seniornya ini untuk yang kedua kalinya, pikir Hinata.
Greb!
Tangan Karin yang memegang gunting yang berniat untuk memangkas rambut Hinata pun ditangkis oleh seseorang. Karin dan Tayuya hanya bisa membelalakkan matanya. 'Siapa dia? Berani-beraninya menghalangiku. Sial!' umpat Karin dalam hati.
"Mau kau apakan adikku?" tanya sang penalong Hinata dengan mata yang menatap Karin tajam, yang ternyata adalah Sakura.
Hinata yang mendengar suara kakaknya itupun langsung membuka matanya. "Kakak…" gumamnya terkejut.
"Kakak?" gumam Karin dan Tayuya terkejut secara bersamaan.
'Sepertinya ia seumuran denganku. Jadi, tak perlu khawatir untuk menghadapinya,' batin Karin sambil menyeringai.
"Adikmu ini sudah berani melawan kita, seniornya," ucap Karin dengan senyum yang mengejek dan merendahkan.
"Lalu?" tanya Sakura dengan nada datar, seolah berniat menantang Karin.
"Apa maksudmu? Tentu kita harus memberi pelajaran untuknya," jawab Karin dengan seringai angkuhnya.
"Kau ini kakak kelas atau preman, ha? Bukannya mengajari yang baik-baik, malah menindasnya seperti ini," ucap Sakura dengan nada tenang, mencoba mengatur emosinya.
"Apa urusanmu!? Dia ini junior di sekolahku. Jadi, dia harus tunduk padaku!" seru Karin.
"Kata siapa adikku harus tunduk denganmu, ha! KATA SIAPA!?" seru Sakura dengan keras dan mulai melangkah mendekati Karin. "Dia itu adikku. Yang boleh memukulnya itu cuma aku. Kau hanya kakak kelas, bukan kakak kandung! jadi, jangan sekali-kali kau menyentuh adikku dengan tanganmu yang kotor itu! Kalau tidak, aku akan membuatmu menyesal telah dilahirkan di dunia ini!" serunya lagi masih terus melangkah maju.
Karin pun mulai ketakutan karena teriakan Sakura yang mengerikan itu. Ya, walaupun ia memegang gunting di tangannya, tetap saja ia tidak berani menggunakannya untuk sekedar mengancam Sakura, karena tubuhnya sekarang mulai gemetaran. Begitu pula dengan Tayuya yang masih memegangi lengan Hinata.
Sakura berbalik dengan cepatnya dan menatap Tayuya dengan tatapan mematikan, seketika pula, Tayuya melepaskan cengkramannya pada lengan Hinata.
"Kalian mau mati di tanganku atau pergi dari hadapanku sekarang!?" ancam Sakura. Karin dan Tayuya tidak bisa bergerak saking takutnya. "Ha!?" teriak Sakura dengan menghentakkan kaki kanannya ke tanah. Dan seketika pula, Karin dan Tayuya ngacir ketakutan dengan cepatnya.
Sakura tersenyum menang. "Hahahaha! Rasakan itu! Dasar tukang onar!" seru Sakura menahan tawanya.
"Te… terima kasih," gumam Hinata pelan, tapi masih bisa didengar oleh Sakura.
Sakura berjalan mendekati Hinata yang masih berdiri di tempat semula. Ia berhenti tepat di hadapan Hinata.
Bug!
Hinata memeluk Sakura dengan eratnya sambil menangis. Sedangkan Sakura, ia membalas pelukan adiknya. Tangan Sakura mengelus kepala Hinata pelan. "Belajarlah untuk melindungi dirimu sendiri, Hinata," gumam Sakura pelan, Hinata hanya dapat mendengarnya samar-samar.
-Takdir Sakura-
"Kau lihat, Teme? Sakura itu sangat hebat," ucap seorang pemuda jabrik pada temannya yang ada di sampingnya dengan nada bangga. Mereka sedang melihat dua orang gadis kakak beradik yang sedang berpelukan di pinggir jalan.
"Hn. Aku sudah tahu itu," jawab pemuda bermabut raven—teman jabrik—singkat.
Pemuda jabrik hanya mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan maksud temannya ini.
Pemuda raven itu lalu berjalan mendekati kakak beradik tersebut dengan diikuti pemuda jabrik di belakangnya.
"Pemandangan yang mengharukan," ucap pemuda raven begitu jaraknya dengan kakak beradik tersebut sudah dekat.
Kedua kakak beradik tersebut pun melepas pelukan mereka dan menoleh ke sumber suara.
"Hey, Sakura! Hey, Hinata!" sapa pemuda jabrik dengan semangat dan senyum yang menawan.
"Gu… guru Naruto?" gumam gadis indigo—Hinata—terkejut, sekaligus senang bisa melihat guru idamannya tersebut. Sedangkan si kakak—Sakura—hanya memandang pemuda raven—Sasuke—dengan pandangan datar.
"Kita bertemu lagi, Nona," ucap Sasuke sambil tersenyum ke arah Sakura. Sedangkan Sakura hanya membuang mukanya.
"Sakura, Hinata, perkenalkan, ini adalah Sasuke. Teman satu kampusku sekaligus sahabatku," ucap Naruto memperkenalkan Sasuke dengan Sakura dan Hinata.
"Saya Hinata," ucap Hinata menyebutkan namanya sambil menjabat tangan Sasuke.
"Sasuke," jawab Sasuke.
"Naruto, tolong antar Hinata pulang! Nanti aku akan menyusul," pinta Sakura pada Naruto yang mengacuhkan tangan perkenalan Sasuke.
"Er… baiklah," jawab Naruto menyetujui sambil melirik sahabatnya yang sepertinya kabarnya kurang baik.
Sasuke yang merasa tangannya dicuekin oleh Sakura pun menarik tangannya kembali dengan sedikit cangung. Baru pertama ada gadis yang mengacuhkannya seperti ini.
"Ayo, Hinata!" ajak Naruto lalu menuntun Hinata.
"Aku pulang dulu, ya Sasuke-senpai, Kak Sakura," pamit Hinata lalu mengikuti Naruto.
Setelah Hinata dan Naruto pergi sudah tidak terlihat, Sakura beralih memandang Sasuke dengan ekspresi yang sulit dimengerti. "Sebaiknya guru pulang sana!" usirnya. Saat ini keadaan sakura kurang membaik, jadi ia tidak berminat untuk berbasa-basi dengan guru magangnya ini. Sakura lalu berjalan meninggalkan sasuke begitu saja.
Aoi aoi ano sora...
Tba-tiba Sakura mendengar ringtone ponselnya yang ada di dalam tasnya berbunyi. Sakura segera mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya lalu menekan tombol hijau. "Ya, Shizune-sama?" sahutnya.
"Kau ada dimana sekarang? Kenapa belum datang juga?" tanya orang yang ada diseberang telpon yang disebut Sakura sebagai Shizune itu.
"Ah iya. Ini aku akan segera ke sana," jawab Sakura.
"Baiklah. Tapi, jangan lama-lama. Ku tunggu 1 jam lagi," kata Shizune.
"Terima kasih, Shizune-sama," ucap Sakura mengakhiri panggilannya.
Sakura segera menyimpan kembali ponselnya ke dalam tasnya. Ia hendak melangkahkan kakinya, tapi tiba-tiba kepalanya kembali meraskan pusing yang sangat amat. Sakura sejenak terdiam, mencoba menghilangkan rasa pusingnya dengan mengibas-ngibaskan kepalanya pelan. Ia melihat sekelilinya menjadi perputar-putar. "Sial! Kenapa harus saat ini!" umpat Sakura pelan.
Sakura mulai merasakan kedua kakinya tidak mampu lagi menahan berat badannya. Badannya semakin condong dan...
Greb.
Sebuah tangan kekar meraih pinggang ramping sakura saat sakura mulai kehilangan keseimbangannya.
Sakura melihat orang yang tengah menahan berat badannya itu. Mendapati sasuke yang tengah menopangnya, sakutra segera bangkit dan mendorong tubuh sasuke untuk menjauh. "Menjauh dariku," desisnya.
"Jangan memaksakan diri," ucap Sasuke mencoba meraih Sakura kembali saat tubuh Sakura kembali terhuyung.
Plak!
Dengan segera, Sakura menepis tangan Sasuke dengan kasar. "Aku bilang, menjauh dariku!" desinya dengan kasar. Sakura lalu melangkahkan kakinya kembali dengan langkah yang sedikit terhuyung. Sedangkan sasuke hanya terdiam di tempat melihat punggung Sakura yang mulai menjauh.
-Takdir Sakura-
Sakura melangkahkan kakinya memasuki sebuah rumah sakit besar. "Konoha Hospital" itulah yang tertulis di atasgedung mewah tersebut. Dan tanpa Sakura sadari, sepasang mata onyx tengah mengawasinya dari seberang jalan. "Apa yang dia lakukan di Rumah Sakit ini?" gumamnya penuh tanda tanya besar.
.
.
.
.
Apa yang Sakura lakukan di Konoha Hospital? Apa ia sedang sakit? Atau apa?
Cari tahu di chapter selanjutnya!
-TBC-
Celoteh Author!
Hos! Chapter kedua update! Tapi, kenapa pendek dan jelek? Aah, sudahlah! Mohon concrit dan sarannya.
Balasan review chapter 1:
Seiya Kenshin: makasih reviewnya…
: hehe…soalnya aku kuranmg seka dengan tayuya..hehe…ah, soal satu tahun itu, mungkin besok di chapter selanjutnya dan selanjutnya pasti akan terungkap kok…hehe. Makasih dah review. ^_^
Kurousa Hime: hehe..udah aku revisi jadi 'Tin' soalnya aku juga tdk bgtu tahu suara klakson #plak. Udah aku ganti 'Konan'. Terima ksih bgt dah ngingetin..hehe. dan makasih sdh review. Makash juga infonya. Ok. Aku akan coba menominasikan author dan fic favoritku…^_^
Momo Haruyuki: makasih dah review. Silahkan di fave. Aku malah seneng.
Kuromi no Sora: hehe..aku kug menghayati soal yng adegan jahat-jahat…makasih udah review senpai…^_^
Hikaru No Yukita: ah, tidak kok. Review dan saranmu sangat membantuku. Makasih udah mau review. ^_^
Chisa Hanakawa: makasih reviewnya ^_^
UchihaJess SicaChu: makasih udah review ^_^
Cha KriMofe Doujinshi: hehe…maaf ya Icha-nee, chapter ini sangt pendek. Ntar ndak malah bosen #padahal males. Hehe makasih udah review ^_^
Thanks juga yang udah favo n follow ficq ^_^:
Cha KriMoFe Doujinshi, Kuromi no Sora, Momo Haruyuki, , Momo Haruyuki, UchihaJess SicaChu
Review, Please!
Terima kasih untuk semua pembaca! ^_^
N
KEEP SMILE!
