Takdir Sakura

Author : Naumi Megumi

Pairing : SasuSaku, NaruHina, and other

Rate : T

Genre: Humor, Romance, Family, Hurt, Angst, Drama

Disclaimmer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning:

OOc banget, suatu saat akan ada Dead Chara, AU, Gaje, Alur berantakan, Typo, miss typo, abal, ide pasaran, minimnya diskrip, pokoknya amburadul! dan silahkan FLAME jika memang fic-ku ini benar-benar memuakkan! ^_^

Summary:

Hinata ditindas oleh Karin dkk lagi. Sakura ditantang bermain basket oleh Sasuke. Jika Sasuke menang, Sakura tidak boleh membolos. Siapa ya yang menang?

Mari bersama sama kita teriak 'Uye!'

Uye! \(o.o)/

Kalau nggak suka, nggak usah baca, ya! Ntar mual lho!

Jangan Lupa RnR-nya, ya!

Balasan Review ada di bawah!

So, Enjoy It!

TAKDIR SAKURA

Chapter 3

Sakura memasuki sebuah rumah sakit besar yang tertulis besar di sana "Konoha Hospital".

"Apa yang sedang ia lakukan di sini?" gumam Sasuke yang berdiri tidak jauh dari Rumah Sakit Konoha. Sasuke hendak melangkahkan kakinya untuk menyusul Sakura, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat ponselnya berbunyi.

Sasuke mengambil ponselnya yang berada di saku celananya dan segera menekan tombol hijau begitu tahu siapa yang menelponnya. "Ya, Kabuto-san?" sahut Sasuke. Jeda beberapa menit saat Kabuto berbicara. "Baiklah, aku akan segera pulang!" Sasuke segera menutup sambungan teleponnya dan menoleh sejenak ke arah rumah sakit Konoha. "Aku akan mencari tahu soal ini, Sakura," gumamnya dengan yakin lalu meninggalkan tempatnya.

-Takdir Sakura-

"Ohayo, kak Sakura~" sapa Hinata yang sudah berada di meja makan, siap untuk menyantap sarapannya.

"Ohayo," jawab Sakura yang berjalan ke meja makan.

"Ehm … kak," panggil Hinata ragu.

"Ya?" sahut Sakura. Ia mulai mengambil nasi goreng dan segera menyantapnya.

"Bo … bolehkah aku membawa bento untuk 2 porsi? Soalnya ada temanku yang suka dengan bento buatan kak Sakura," kata Hinata sambil menatap Sakura dengan sedikit takut.

"Tentu saja. Kau bisa bawa bagianku," jawab Sakura enteng sambil menunjuk meja yang di atasnya terdapat 2 kotak bento, milik Hinata dan Sakura.

"Waaa~ sungguh? Eh, tapi bagaimana dengan kak Sakura nanti?" tanya Hinata khawatir.

Sakura menghentikan acara makannya lalu melihat ke arah Hinata. "Tenang, nanti aku bisa makan di kantin sekolah. Sudah lama aku tidak makan makanan di kantin sekolah. Ah, kangen sekali … " ucapnya dengan wajah yang berseri-seri sambil menerawang.

Seketika wajah Hinata berbinar-binar lalu menghampiri Sakura dan memeluknya. "Makasih, kak. Kak Sakura memang the best!" ucapnya dengan semangat. Sakura hanya tersenyum lembut dan membalas pelukan adiknya tersebut.

"Setiap aku membawa bekal bentoku, Anko selalu minta mencicipinya, tapi aku tidak pernah kasih, kak. Lucu sekali wajahnya kak, waktu melihatku menyantap bekal. Hahaha … " tawa Hinata.

"Jadi namanya Anko?" tanya Sakura. Hinata mengangguk antusias. "Kapan-kapan ajak dia ke rumah, ya!"

"Ok!" jawab Hinata dengan semangat.

"Ohya, gerombolan perempuan setan yang mengganggumu semalam siapa namanya?" tanya Sakura.

"Dia seniorku, namanya Karin dan Tayuya," jawab Hinata.

"Senior macam apa mereke. Pokoknya kalau mereka mengganggumu lagi, lawan saja. Janga takut pada mereka hanya karena mereka itu adalah seniormu!" tegas Sakura.

"Tapi aku takut, kak," ucap Hinata.

"Kalau kau takut, kau bisa menelponku. Ya, atau kau pura-pura berani. Gertak mereka. Atau bertemanlah dengan teman yang bisa berkelahi!" saran Sakura mencarikan solusi yang tepat.

-Takdir Sakura-

"Hey, Sakura. Tumben kau tidak siap-siap untuk membolos," tegur Ino begitu ia memasuki kelas dan melihat Sakura sedang duduk santai di bangkunya sendiri sambil membaca sebuah komik.

"Tidak, aku tidak mau mbolos untuk pelajaran olahraga," jawab Sakura tanpa beralih dari komiknya.

"Sakura kan memang begitu. Setiap ada pelajaran olahraga, ia tidak akan mbolos sekolah," tambah Tenten yang juga sedang duduk di bangkunya sendiri yang berada di seberang kanan tempat duduk Sakura, tentu saja ia juga sedang membaca komik. Dan komik yang Sakura baca adalah komik pinjaman dari Tenten. Ino lalu duduk di bangkunya sendiri, tepat di samping kanan Sakura.

Seperti yang dikatakan Tenten tadi, Sakura tidak akan membolos jika ada pelajaran olahraga. Ia senang saat ada pelajaran olahraga karena ia pasti akan main basket dari awal pelajaran olahraga sampai jam pelajaran berakhir. Padahal kan, olahraga itu pelajarannya tidak hanya basket. Emang dasar Sakuranya saja yang bandel. Lagi pula, ia sengaja libur kerja untuk istirahat dan menikmati pelajatan favoritnya, yaitu olahraga. Begitu pula dengan kerja malam, ia hari ini juga libur.

"Ohya, aku hampir lupa!" pekik Ino tiba-tiba sehingga membuat Sakura dan Tenten sedikit kaget.

"Cks! Kau ini! Bisa tidak berbicara pelan, ha!?" kesal Tenten sambil mendelik ke arah Ino. Sedangkan Ino hanya nyengir kuda sambil memamerkan 2 jarinya yang membentuk huruf 'V'.

"Kemarin, ada guru olahraga baru. Katanya sih, ganteng," ucap Ino dengan mata yang bersinar.

"Ganteng atau tidak, itu tidak penting. Katamu, kau menyukai Sai." Komentar Tenten yang sudah meletakkan komiknya dan mulai memperhatikan si ratu gosip.

"Memangnya kenapa? Lagi pula, kami belum resmi pacaran," jawab Ino enteng. Tenten hanya menggeleng heran pada Ino. Temannya ini benar-benar, yang ada dalam kepala Ino hanya cowok, cowok, dan cowok.

"Lalu, apa pendapatmu, Sakura?" tanya Ino beralih ke Sakura.

Sakura sejenak menurunkan komik yang menutupi wajahnya. "Hn, biasa saja," jawab Sakura seadanya lalu menaikkan kembali komiknya.

"Hanya itu saja?" tanya Ino tidak puas dengan reaksi dan jawaban Sakura.

Sakura kembali menurunkan komiknya yang kesekian kalianya, lalu memandang Ino dengan lekat, "Terus, gue harus bilang 'Wow', gitu?" ucapnya dengan ekspresi pura-pura terkejut tapi terlihat mengejek sehingga Ino menjadi kesal. Sedangkan Tenten, ia menutup mulutnya, menahan tawanya yang akan meledak.

Ino mendelik ke arah Tenten. "Huahahaha…" itulah jawaban Tenten. Ia malah mengeluarkan tawanya yang sudah tidak tertahan. Dan itu membuat Ino semakin kesal. Ino hanya memanyunkan bibirnya kesal.

"Lebih baik kau belajar yang rajin!" nasehat Sakura. "sebentar lagi kan kita ujian akhir," lanjutnya.

Ino memandang Sakura heran. "Lihat dirimu!" serunya sambil menunjuk Sakura dengan lantang. "Kau sendiri malah membaca komik yang tidak penting seperti itu!" serunya.

"Hobi," jawab Sakura singkat.

"Hobi apanya?!" bantah Sakura tidak terima dengan jawaban Sakura barusan. "Kenapa kau selalu pendapat peringkat 1? Padahal kau tidak pernah mengikuti pelajaran!" Ino sedikit mengembungkan kedua pipinya.

"Karena takdir, mungkin," sahut Sakura seadanya.

"Takdir? Menurutku, ini tidak adil!" bantak Ino.

"Semua takdir itu adil," jawab Sakura dengan santai.

"Adil apanya?!" lagi-lagi Ino tidak mau menerima ucapan Sakura. "Kau cantik, pintar, banyak laki-laki yang suka denganmu. Bahkan Hidate sang atlit lari terkeren di sekolah ini saja menyukaimu, dan …" Ino menggantungkan kalimatnya. Sakura menaikkan sebelah alisnya, menunggu kelanjutan kalimat Ino, begitu pula dengan Tenten. Ino menatap Sakura, "… dan kau mendapatkan semua itu tanpa usaha yang berarti. Seperti saat ini, kau dengan santai membaca komik setiap hari dan bolos sekolah, tapi kau selalu menjadapat nilai yang SEMPURNA di setiap UJIAN," lanjut Ino panjang lebar dengan menekankan kata 'sempurna' dan 'ujian'.

Tenten dulu beralih melihat Sakura. Ia merasa sependapat dengan Ino, untuk saat ini. Tenten dan Ino memandang Sakura lekat, meminta jawaban.

"Itu karena aku belajar tiap malam," jawab Sakura dengan mudah.

"Tapi kan, kau tidak pernah mengikuti pelajaran. Bagaimana kau bisa belajar sendiri tanpa bantuan?" tanya Tentn yang sekarang berpihak pada Ino.

"Buku paket kan ada. Apa gunanya beli kalau tidak dipakai?" lagi-lagi Sakura bisa menjawabnya dengan mudah. Tapi jawaban itu sama sekali tidak membuat kedua sahabatnya ini puas.

"Baiklah. Aku akan menjawabnya dengan jujur. Berhenti memandangku seperti itu!" ucap Sakura yang mulai risih dipandangi Ino dan Tenten dengan pandangan yang mengintimidasi. Dengar baik-baik!" Sakura memandang Ino dan Tenten secara bergantian. "Ini semua karena …" Sakura menggantungkan kalimatnya sehingga membuat Ino dan Tenten semakin penasaran. " … takdir," lanjutnya singkat lalu kembali membaca komiknya.

Ino dan Tenten saling berpandangan bingung. Sebenarnya apa maksud Sakura? Ini tidak lucu. Semudah itu ia menanggapinya dengan satu kata, yaitu 'Takdir'. Apa ia bercanda?

"Apa kau bercanda? Kita berdua butuh jawaban yang pasti!
protes Ino. Tenten mengangguk.

"Memang itulah jawabannya," jawab Sakura.

"Ok. Kita anggap itu jawabannya. Lalu, kenapa 'Takdir' tidak adil? Padaku, misalnya," tanya Ino menuntut sebuah jawaban yang logis.

"Dan padaku juga!" tambah Tenten cepat. Ia juga merasa 'Takdir' tidak adil padanya, karena Neji sang ketua ekskul karate selalu mengalahkannya dengan mudah walau Tenten sudah sekuat tenaga untuk mengalahkan Neji.

Sekali lagi Sakura menatap kedua sahabatnya dengan lekat. "Percayalah bahwa takdir itu memang adil untuk siapa saja. Untukku, untukmu Ino, dan untukmu Tenten," jelas Sakura lembut.

Sedangkan Ino dan Tenten hanya saling berpandangan tidak mengerti. "Setidaknya kalian anak orang kaya yang tidak perlu susah-susah untuk mencari uang, hn?" ucap Sakura sambil tersenyum lembut. "Sudahlah, kalian tidak perlu memikirkan hal ini seserius itu. Kalian terlihat aneh dengan wajah berfikir seperti itu. Terlihat tidak pantas memikirkan hal-hal berat. Hahaha …" Sakura tertawa renyah. "Nikmatilah hidup kalian yang saat ini sudah ada karena hidup hanya sekali," ucap Sakura kemudian beranjak dari bangkunya sambil membawa komiknya.

"Hey, kau mau kemana!?" tanya Tenten yang melihat Sakura keluar kelas.

"Atap sekolah," jawab Sakura santai.

"Sebentar lagi kan pelajaran guru Kakashi!" Ino mencoba mengingatkan.

"Aku akan kembali saat jam olahraga nanti!" jawab Sakura sedikit keras begitu sudah berada di luar kelas.

-Takdir Sakura-

Sakura membuka sebuah pintu yang menghubungkan langsung ke atap sekolah. Seketika pula angin menerpa wajah cantiknya dan menerbangkan helaian rambut panjangnya yang indah. Sejenak Sakura memejamkan kedua matanya untuk menikmati semilir angin yang mengelus wajah halusnya.

"Takdir benar-benar sangat adil …" gumam Sakura dengan senyum miris. Ia lalu berjalan mendekati pagar pembatas. Lagi-lagi Sakura memejamkan matanya dan dengan perlahan ia menghirup udara pagi yang sejuk. Tapi, tiba-tiba Sakura membalikkan tubuhnya 180 derajat. Ia mendapati seorang pemuda tampan dengan mata onyx-nya yang menawan berdiri sangat dekat di depannya.

"A… apa yang guru Sasuke lakukan di sini?" tanya Sakura gugup karena kepergok telah membolos di pelajaran pertama.

"Kau sendiri sedang apa di sini, hn?" sang guru magang—Sasuke—malah balik bertanya.

"Bukan urusanmu," ucap Sakura dengan wajah datar hendak menghindar dari Sasuke, tapi ada sesuatu yang menghalangi langkahnya. Sasuke menghalangi jalan Sakura dengan berdiri di depannya. "Sebenarnya apa mau guru?" tanya Sakura yang sudah mulai bosan.

"Kenapa kau selalu membolos?" tanya Sasuke yang masih menghalangi langkah Sakura.

"Aku sudah bilang, ini bukan urusanmu!" jawab Sakura dingin. "Dan cepat minggir dari hadapanku … guru magang ..." perintah Sakura.

"Ayo kita bertanding!" aju Sasuke tiba-tiba.

Sakura sedikit terkejut sesaat lalu kembali berwajah datar. "Untuk apa?" ia sedikit menyeringai.

"Kita bertanding basket. Jika aku menang, kau tidak boleh membolos lagi. Dan jika kau yang menang, aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi," terang Sasuke.

Sakura terdiam sejenak untuk memikirkan tawaran Sasuke. "Baiklah." Sakura menerima tantangan Sasuke. Sasuke tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya. "Apa?" tanya Sakura yang kurang mengerti maksud uluran tangan Sasuke.

"Sebagai tanda 'deal'," jawab Sasuke.

"Ck!" Sakura hanya berdecih lalu menyambut uluran tangan Sasuke untuk bersalaman.

"Jadi, kita sudah bisa berteman sekarang?" tanya Sasuke dengan senyumnya yang menawan.

Deg!

Tiba-tiba wajah Sakura menjadi memanas saat melihat senyum Sasuke. Dengan cepat Sakura menarik tangannya lalu mengalihkan wajahnya ke samping, mencoba mengalihkan pandangannya dari wajah Sasuke yang saat ini terlihat bersinar-sinar. 'Sial! kenapa wajahnya menjadi bersinar seperti itu!' umpat Sakura dalam hati. Ia menyilangkan kedua tangannnya ke depan dada, "Tidak segampang itu!" jawabnya.

"Ya, sepertinya perjuanganku masih cukup panjang," ucap Sasuke lalu berbalik dan berjalan menjauh dari Sakura sambil memasukkan kedua lengannya ke saku celana. Sasuke berjalan keluar pintu.

Sakura memandang punggung Sasuke dengan sedikit kesal. "Kenapa guru itu sangat menyebalkan?" gumamya. "Tapi aku akan berusaha untuk mengalahkan guru magang itu dan mengakhiri semuanya!" seru Sakura tiba-tiba dengan penuh semangat.

-Takdir Sakura-

"KYAAA ... Guru Sasuke! Semangaaaatt!" teriak semua siswi, teman satu kelas Sakura yang menyaksikan pertandingan Sakura dengan guru olahraganya, Sasuke.

"Guru Sasuke, kalahkan Sakura!" teriak Ino tiba-tiba. Tenten yang berada di sampingya pun mengalihkan pandangannnya pada Ino. Jelas saja, bagaimana ia bisa mendukung gurunya dibanding dengan sahabatnya? Begitu pula dengan Sakura yang saat ini sedang ada di tengah lapangan basket, siap untuk memulai pertandingannnya dengan Sasuke. "Sahabat macam apa dia. Uh, dasar Ino," gumamnya sambil mengembungkan kedua pipinya.

Tenten menyiku Ino, "Apa yang kau lakukan, baka? Seharusnya kau mendukung Sakura bukannya guru Sasuke."

"Memangnya kenapa? Aku masih belum puas dengan jawaban Sakura tadi sehingga aku masih dendam dengannya," jawab Ino.

"Hah~" Tenten hanya menghela nafas maklum. Ino memang kadang suka seperti itu. "Terserah kau sajalah," ucap Tenten akhirnya. Tenten lalu kembali beralih ke arah lapangan. Tapi tiba-tiba wajahnya menjadi memanas saat dilihatnya sebuah pemandangan yang sangat oohh~, romantis.

"Hey, ada apa denganmu?" tanya Ino yang mengetahui perubahan ekspresi wajah Tenten. Ia lalu ikut melihat ke arah lapangan. Seketika pula wajahnya juga menjadi memerah.

Yang benar saja, wajah Ino dan Tenten memerah. Karena saat ini di tengah lapangan basket, Sakura sedang membelalakan matanya saat sesuatu benda yang lembab dan halus menempel di pipi kirinya. Saking syok-nya, ia bahkan tidak bisa bergerak sedikit pun. Sasuke mencium pipi kiri Sakura di depan umum. Untung saja hanya ada teman sekelas Sakura. Ini saja sudah membuatnya malu setengah mati, apalagi jika disaksikan seluruh penghuni sekolah.

Sasuke lalu menjauhkan dirinya dari Sakura setelah dengan tidak sopannya ia mencium pipi Sakura.

Sakura memegang pipi kirinya yang memanas. "A ... apa yang kau lakukan? Dasar guru mesum!" teriak Sakura sambil menunjuk-nunjuk Sasuke dengan tangannya. Beberapa kali Sakura mengusap pipi kirinya, mencoba menghilangkan bekas bibir Sasuke yang menempel.

"Habisnya aku gemas melihat pipimu yang mengembung seperti tadi, sehingga tanpa sadar aku menciummu," jawab Sasuke dengan santainya dan dengan wajah yang dibuat cool.

"Aaaaaarrggghhh!" teriak Sakura keras yang masih memegang pipinya, seolah-olah ia baru saja mendapat kutukan 7 turunan. Sedangkan Sasuke hanya memasang wajah tanpa dosanya.

"Kyaaaa!" seru seluruh siswa dan siswi yang menyaksikan moment romantis SasuSaku tersebut.

"Lihat saja! Aku akan mengalahkanmu, GURU MESUM!" seru Sakura sambil menunjuk hidung Sasuke dengan jarinya tanpa takut sedikitpun.

Sasuke hanya tersenyum tipis. "Baiklah. Aku tunggu itu ... " jeda Sasuke sambil tersenyum, " … seratus tahun lagi. Hn?" lanjutnya dengan nada mengejek.

Seketika Sakura menjadi jengkel dengan jawaban Sasuke barusan. 'Sial! Dia meremehkanku. Baiklah! Aku akan memenangkan pertandingan ini dan mengakhiri semua ini!' batin Sakura dengan penuh keyakinan.

Pertandingan pun dimulai.

-Takdir Sakura-

Hinata berjalan memasuki gerbang sekolah sambil bersenandung riang. Hatinya sangat senang pagi ini. Ia sudah tidak sabar untuk menyerahkan bento bagian Anko.

"Wah wah wah! Pagi ini kau terlihat senang sekali, ya?" sebuah suara dan sebuah gerombolan senior membuat Hinata menghentikan langkahnya. Hinata pun menegakkan kepalanya untuk melihat orang yang ada dihadapannya itu. Dan ternyata orang-orang tersebut adalah Karin dan Tayuya dengan 2 orang laki-laki yang tidak begitu Hinata kenal.

"Kalian mau apa?" tanya Hinata berusaha untuk memberanikan dirinya. Walaupun suaranya masih terdengar bergetar.

"Sepertinya kau sudah mulai berani melawanku, ya?" ucap Karin dengan seringai. "Sepertinya aku harus memberi pelajaran yang lebih 'membekas' agar kau jera," lanjutnya sambil melirik teman-temannya.

Hinata mulai merasakan firasat yang tidak enak. Ia menelan ludahnya sendiri, saat Karin dan kawan-kawannya memandanginya dengan seringai iblis mereka.

"Kita lihat, siapa yang berkuasa di sini!" bisik Karin yang mulai mendekati Hinata.

"J ... jangan harap aku takut dengan kalian!" seru Hinata mencoba menggertak Karin.

Karin menyunggingkan senyum iblisnya, "Jadi, kau tidak takut denganku, hm?" Karin melirik ketiga temannya, "Tayuya, Jugo, cepat pegangi dia!" perintahnya.

Dan dengan cepat, Tayuya dan seorang pemuda berambut orange jabrik—Jugo—langsung berlari ke arah Hinata kemudian mencengkeram tangan Hinata sebelum Hinata sempat kabur.

Bruk!

Tas yang dibawa Hinata pun terjatuh ke tanah. Ia mencoba meronta, tapi tenaga Tayuya dan Jugo lebih besar darinya. Kedua tangannya benar-benar terkunci dan tidak bisa bergerak. "Uukgh! Dasar kalian beraninya keroyokan!" seru Hinata yang masih terus meronta.

Plak!

Karin geram dengan ucapan Hinata baru saja sehingga Hinata mendapat tamparan yang begitu keras di pipi kirinya. "Ternyata kakakmu yang monster itu sudah mengajarimu untuk membangkang, ya!" serunya.

"Kak Sakura bukan monster! Yang monster itu kau!" balas Hinata yang tidak terima dengan hinaan Karin terhadap Sakura.

Amarah Karin mulai naik lagi, tapi ia mencoba untuk menahannya. "Baiklah, kau tadi menyebutku monster?" tanyanya yang tidak mendapat respon dari Hinata. "Sekarang akan kubuktikan seberapa kejam dan menyeramkannya aku sebagai monster!" seru Karin.

Hinata hanya diam, ia mulai merasakan firasat yang buruk lagi. Sekarang siapa yang akan menolongnya lagi? Apa ia akan selalu bergantung pada orang lain seperti kemarin-kemarin? Hinata berkali-kali merutuki dirinya sendiri yang tidak mempunyai keberanian sebesar kakaknya.

"Sui, ambil tas anak itu!" perintah Karin pada pemuda yang satunya. Dengan segera pemuda itu menuruti perintahnya Karin. "Kita lihat, bagaimana reaksimu jika tasmu dan seisinya kurendam di dalam kolam ikan itu," ucap Karin sambil menunjuk pada kolam ikan yang berada tepat di samping kanan gerbang masuk.

Mata Hinata membulat. Hinata sangat khawatir jika Karin benar-beanr melakukan aksi liciknya tersebut. Pasalnya, di dalam tasnya ada bento untuk Anko dan juga untuk dirinya serta alat tulis. Bahkan, ponselnya juga ada di dalam tasnya tersebut. Ponsel sederhana yang Sakura belikan untuknya beberapa minggu yang lalu saat ia mulai masuk ke SMA. "Ja ... jangan, kak," mohon Hinata agar Karin membatalkan niatnya.

"Aku suka dengan permohonanmu tersebut," ucap Karin, "tapi sayang, aku tidak berniat untuk mengabulkannya." Karin berjalan mendekati kolam ikan.

"Jangan!" seru Hinata mencoba menghentikan Karin. Tapi Karin tetap saja meneruskan aksinya.

Karin mengangkat tas Hinata tepat di atas kolam. "Kau lihat ini? Aku sangat senang melihatmu seperti ini," ucap Karin tanpa perasaan. Satu per satu jarinya mulai melepaskan tas tersebut.

"JANGAANNNN!"

Byuur!

Tas Hinata jatuh ke dalam air. Dan secara perlahan, tasnya tenggelam ke dasar kolam yang kedalammnya mencapai 75 centimeter tersebut.

"Hiks!" Hinata mulai meneteskan air matanya. Kenapa Karin dan teman-temannya tega melakukan ini padanya? Kenapa ia harus mendapat penindasan seperti ini? Dan yang paling ia sesali adalah, kenapa dirinya sangat lemah? Kaki Hinata menjadi lemas sehingga tidak mampu lagi menopang badannya. Cengkraman tangan Tayuya dan Suigetsu pun sudah lepas dari tangan Hinata.

Brug!

Hinata jatuh bertulut dengan air mata yang mengalir deras melewati kedua pipinya ke dagu lalu jatuh ke tanah. Kedua tangannya juga ia letakkan di atas tanah untuk menopang badanya yang semakin lemas. "Hiks! Kenapa?" gumanya dengan suara serak karena tercampur dengan tangis.

"Apa? Tadi kau bilang apa?" tanya Karin dengan nada meledek.

"Kenapa? Kenapa kalian lakukan ini padaku?!" ulang Hinata masih dengan suara paraunya tapi lebih keras dari yang pertama.

"Hahahaha ... !" gelagak tawa Karin dan teman-temannya.

"Kau sungguh ingin mengetahuinya?" tanya Karin sambil menghampiri Hinata.

"Aaksh!" pekik Hinata ketika telapak tangannya diinjak dengan kejam oleh Karin. Hinata hanya bisa menangis sambil memegang tangannya yang masih diinjak Karin.

"Itu karena aku membencimu ... " desis Karin dengan nada yang penuh kebencian sambil menandaskan injakannya. "Sangat membencimu!" lanjutnya.

Hinata mencoba menahan teriakan dan rasa sakitnya dengan menggigit bibir bawahnya.

"Ayo kita pergi!" ucap Karin pada kawan-kawannya. Kemudian mereka pun pergi meninggalkan Hinata dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Walaupun begitu, tapi tidak ada satupun teman-temannya yang berani menolong Hinata. Mereka tidak mau berurusan dengan gank Karin.

Hinata masih berdiam diri di tempat sambil menangis. Ia begitu membenci dirinya sendiri yang begitu lemah. Yang hanya bisa menyusahkan orang lain.

-Takdir Sakura-

Tetot!

Pertandinganpun akhirnya berakhir. Nafas para pemain pun terlihat tidak beraturan, termasuk Sakura. Penonton bersorak penuh dengan semangat mengoraki sang 'Pemenang'.

"Guru Sasukeee … ! Yee … !" ya, begitulah kira-kira sang guru olahragalah yang akhirnya memenangkan pertandingan ini.

Dengan senyum penuh kemenangan serta senyum yang mengejek, Sasuke melirik Sakura yang masih berusaha mengatur nafasnya. Sakura tidak menyangka bahwa gurunya ini benar-benar hebat. Padahal Sakura juga tergolong jago dalam basket. Predikat guru olahraga yang disandang Sasuke memang bukan omong kosong belaka.

"See?" Sasuke melirik Sakura yang sedang memandangnya dengan kesal. "Kau ka-lah," ucapnya dengan mengeja kata 'kalah' untuk memperjelasnya.

Sakura semakin kesal saja dengan guru magangnya ini. Ia berani mengejek Sakura. 'Sial!' umpat Sakura dalam hati. "Iya," sahut Sakura pelan. Tentu saja ia malu mengatakannya. Sakura si ratu mbolos, si anak bandel dan jago basket kalah telak dengan guru magangnya, Sasuke. Mau ditaruh mana mukannya?

"Apa? Aku tidak dengar. Coba ulangi sekali lagi!" pinta Sasuke yang sengaja mempermainan Sakura.

"Iya, aku kalah ... " ulang Sakura sedikit menambah volume suaranya dari yang pertama. Ingat, hanya sedikit.

"Yang ke-ras!" pinta Sasuke lagi.

Sakura benar-benar kesal dengan Sasuke. "Iya! Aku mengaku kalah!" seru Sakura akhirnya dengan suara keras sehingga penonton pertandingan itupun dapat mendengar dengan jelas. Sedangkan Sasuke memasang seringai yang sangat meneybalkan bagi Sakura.

"Kyaaa ... guru Sasuke ganteng! Keren!" teriak para siswi lagi dengan semangatnya.

Sakura lalu mengalihkan pandangannya dari Sasuke yang semakin membuatnya kesal itu. Ia lalu berjalan ke tepi lapangan dan duduk di sana. Sakura istirahat sejenak dan mengatur nafasnya.

"Sakura!" panggil Tenten dan Ino yang sedang berlari ke arah Sakura.

Sakura hanya tersenyum ke arah dua sahabatnya itu.

"Nih!" Tenten menyodorkan sebuah botol minuman dingin yang yang sengaja ia beli untuk Sakura. Sakura pun segera mengambilnya dan sejenak tersenyum pada Tenten. "Kenapa kau bisa kalah?" tanya Tenten.

"Tentu saja Sakura kalah. Lawannya kan Guru Sasu—aw!" pikik Ino saat pinggangnya disiku oleh Tenten. "Kenapa, sih?!" kesal Ino. "Maksudku, karena guru Sasuke kan memang guru olahraga. Jadi, wajar saja kalau Sakura sedikit susah mengalahkannya," koreksi Ino.

"Walaupun begitu, tapi ada yang berbeda dari Sakura. Sepertinya kemampuannya menurun dari yang kemarin-kemarin," komentar Tenten.

Sakura yang mendengar perkataan Tenten pun kaget. "Ah, mungkin karena aku terlalu capek. Akhir-akhir ini aku sedang banyak kerjaan," ucap Sakura sambil menggaruk tengkuknya dengan tawa aneh.

"Owwhh~" ucap Tenten sera Ino secara bersamaan.

"Ehem!" tiba-tiba ada suara yang tidak diundang menginterubt percakapan Sakura dengan kawan-kawannya. "Sebagai perayaan kemenanganku, bagaimana kalau kalian aku traktir makan di kantin?" tawar Sasuke tak lupa dengan senyum menawannya.

"Waaa~ boleh juga itu, guru!" ucap Ino kegirangan. Sedangkan Sakura dan Tenten hanya memandang jengah dengan tingkah Ino yang begitu memalukan.

Tanpa komentar sama sekali, Sakura lalu berdiri dari duduknya.

Buk!

Grep!

Tiba-tiba Sakura kehilangan keseimbangan, botol yang ia pegang pun jatuh. Untung saja pingang Sakura segera diraih Sasuke sehingga badannya tidak membentur lapangan basket yang keras.

"Sakura, kau tidak apa-apa?" tanya Ino dan Tenten cemas.

"Aku baik-baik saja," jawab Sakura. "Tolong lepaskan aku, guru!" pintanya.

Sasuke dengan enggan melepas pinggang Sakura. Ia merasa ada yang tidak beres dengan tubuh Sakura.

"Sakura!" pekik Ino dan Tenten bersamaan ketika badan Sakura kembali tidak seimbang dan akan jatuh jika saja Sasuke tidak meraih Sakura seperti tadi.

"Biar aku antar ke UKS!" ucap Sasuke dengan nada memaksa.

"Aku bilang aku tidak apa-apa," bantah Sakura mencoba melepaskan tangan Sasuke.

"Jangan egois, Sakura! Biar aku mengantarmu ke UKS!" Sasuke tetap memaksa untuk mengantar Sakura ke UKS.

" ... " Sakura kali ini hanya diam saja.

"Sakura ... " gumam Ino dan Tenten cemas.

"Kalian pergi saja dulu ke kantin, nanti kami akan menyusul!" perintah Sasuke.

"Baik, guru!" patuh Ino dan Tenten. Kemudian dengan sedikit enggan, Tenten dan Ino pun pergi ke kantin terlebih dahulu. Mereka sedikit lega karena ada Sasuke yang akan menjaga Sakura.

Tanpa basi basi, Sasuke segera menggendong Sakura dengan bridal style. Sakura sontak terkejut dengan apa yang dilakukan guru magangnya ini padanya. Ia mencoba melawan, tapi entah kenapa tubuhnya susah bergerak. Jadi ia hanya bisa diam di dalam gendongan Sasuke.

Sedang para penonton yang masih tersisa berseru 'ooh' seperti sedang menonton drama romansa. Dengan gaya yang cool, Sasuke berjalan sambil menggendong Sakura menuju ke UKS.

-Takdir Sakura-

Sudah hampir 5 menit Sakura dan Sasuke saling diam di ruang UKS. Sakura terbaring di atas ranjang yang tersedia di dalam UKS, sedangkan Sasuke duduk di kursi dekat jendela yang tidak begitu jauh dengan ranjang Sakura. Sakura tidak mengeluarkan sepatah katapun, begitu pula dengan Sasuke. Tapi, jauh di lubuk hati Sasuke, banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Sakura. Ia mencoba menahannya dan menunggu keadaan Sakura hingga membaik terlebih dsahulu.

10 menit sudah berlalu. Sasuke melirik ke arah Sakura, sepertinya Sakura sudah sedikit lebih baik sekarang. Sasuke menghampiri ranjang Sakura. "Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Sasuke to the point.

Sakura sedikit kaget dengan pertanyaan Sasuke, tapi segera Sakura menutupi wajah terkejutnya. "Maksud guru apa?" tanyanya pura-pura tidak mengerti.

"Jangan pura-pura tidak mengerti maksudku. Aku menyadarinya, ada yang tidak beres dengan tubuhmu. Walaupun sedikit, aku tahu mana tubuh yang normal dengan tubuh yang tidak normal. Aku ini guru olahraga, bukan guru kesenian!" tegas Sasuke.

"Lalu kenapa?" tanya Sakura cuek, mencoba tidak terpancing dengan omongan Sasuke.

"Baiklah, jika kau tidak mau memberitahuku, aku akan cari tahu sendiri," ucap Sasuke sambil melihat ke Sakura, mencoba mencari tahu apa yang sedang Sakura sembunyikan darinya.

"Apa urusanmu?" gumam Sakura lalu mendudukkan dirinya. "Kenapa kau selalu ingin tahu urusan orang?! Kau pikir kau siapa?!" bentak Sakura yang tidak tahan dengan sikap ingin tahu Sasuke. "Apa aku harus beritahu padamu semua masalah pribadiku?! Kau pikir kau siapa?!" teriaknya, "tiba-tiba datang ke dalam kehidupanku dan mengacaukan semua hidupku! Kau pikir kau siapa, ha?!"

" ... " Sasuke hanya diam, tidak membalas perkataan Sakura. Ia memasukkan kedua lengannya ke dalam saku, lalu keluar UKS begitu saja, meninggalkan Sakura yang terduduk di ranjang.

-TBC-

Celoteh Author!

Hah, akhirnya selesai juga. Molor lama banget deh. Hehe... maaf ya.

Tolong review-dan concritnya,,,,saran n masukan, saya buka dengan kedua tangan saya yang pendek, karena aku orangnya juga pendek...hehehe...

Balasan Review:

Nina317Elf: hehe... nanti NaruHina juga ada halangan tersendiri kok... ^^ agak susah sih. Mksih udah review ^^

Kakaru niachinaha: hey ru, maaf ru update...telat banget ya...hiks... makasih udah mau review ^^

Ayano Futabatei: maksih udah review ^^

Ucucubi: maksih udah review ^^

CINTA DAMAI: maksih udah review ^^

Momo Haruyuki: hehe... klo yang ini mash kurang? Makasih dah review ^^

Hakuya Cherry Uchiha Blossom: klo yang ini udh nyambung belum? Hehe.. maksih udah review ^^

akasuna no ei-chan: klo sekarang gimana? Udah kerasa belum feelnya? Maklum, baru belajar .mksih dh mau review ^^

Ra-chan: enggak ,,,hinata SMA konoha 2, sengkn sakura Konoha 1, jaraknya lumayan jauh. Mksih udh mau RnR ^^

Sami haruchi: gpp kok, yang penting ningglin jejak..hehe mksih udh mau review ^^

Thanks for:

Ayano Futabatei, Momo Haruyuki , Sami haruchi , UchihaJess SicaChu, Cha KriMoFe Doujinshi , Kuromi no Sora , Yoshida Ayano , , yaahaa

Terima kasih untuk semua pembaca! ^_^

N

KEEP SMILE!

Klaten, 18 Nopember 2012, 02:44

Naumi Megumi

emua reader fanfict-q yang belum sempet. wong ng menang?n. hehe ;(imana sasuke pingsan.a membuat jalanan ma_

]