Takdir Sakura Chapter 5
Author : Naumi Megumi
Pairing : SasuSaku, NaruHina, and other
Rate : T
Genre: Angst, Drama, Hurt, Romance, Humor, Family
Disclaimmer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Ide cerita fic ini © Naumi Megumi
Warning:
OOc banget, AU, Gaje, Alur berantakan, Typo, miss typo, abal, ide pasaran, minimnya diskrip, UPDATE Tak Tentu! Pokoknya amburadul! dan silahkan FLAME jika memang fic-ku ini benar-benar memuakkan! ^_^
Summary:
Sakura mendapat surat dari mendiang Ibunya. Tapi, Sakura menangis begitu membacanya. Sebenarnya ada apa ini? Apa isi surat itu? Dan tiba-tiba, sikap Sakura pada Hinata berubah. Apa itu karena surat dari ibunya? Atau karena alasan lain? Sebenarnya ada apa ini? Dan ada kebenaran lain yang membuat Hinata selalu ditindas di sekolahnya. Apa itu? Cepat baca chapter ini untuk mengetahui jawabannya!
Mari bersama sama kita teriak 'Uye!'
Uye! \(o.o)/
Kalau nggak suka, nggak usah baca, ya! Ntar mual lho!
Jangan Lupa RnR-nya, ya!
Balasan Review ada di bawah!
So, Enjoy It!
Chapter Sebelumnya:
Karin membawa teman untuk menindas Hinata kembali. Karin melemparkan tas Hinata ke dalam kolam ikan depan sekolah. Untung saja Naruto membantu Hinata untuk mengambil barang-barangnya yang tenggelam di kolam. Anko begitu cemas melihat Hinata yang terlihat sedikit kacau, namun Hinata tetap saja tidak mau bilang apapun pada Anko.
Sakura mengambil surat pemeriksaannya di Rumah Sakit Konoha. Setelah itu, Sakura mendapat surat dari mendiang Ibunya. Tapi, Sakura menangis begitu membacanya.
TAKDIR SAKURA
Chapter 5
"Hiks! Kenapa?" gumam Sakura dengan nada bergetar. "Kenapa Engkau berikan cobaan yang begitu berat, Kami-sama!?" lanjutnya sedikit berteriak. Saat ini Sakura benar-benar ingin marah, menangis. Ia lelah, lelah dengan kehidupannya ini. Sakura masih saja terus menundukkan kepalanya dengan air mata yang berjatuhan membasahi rok seragam sekolahnya.
Tanpa Sakura sadari, ada seseorang yang berjalan mendekatinya. Seorang pemuda tampan dengan kemeja biru serta celana panjang hitam. Tanpa diperintah, tangan pemuda itu menyentuh pundak Sakura yang bergetar. Sakura tersentak kala bahunya disentuh oleh pemuda tersebut. Ia membuka matanya, dilihatnya ada sepasang kaki dengan sepatu kets hitam.
Sakura tahu bahwa orang yang menyentuh bahunya adalah seorang laki-laki, karena ia bisa merasakan tangan laki-laki itu yang besar. Sakura hendak memprotes tindakan laki-laki tersebut, namun belum sempat ia mengeluarkan protesnya, ia sudah ditarik ke arah pemuda tersebut sehingga kepalanya terbenam di perut sang pemuda yang datar. Seketika pula, aroma maskulin dari tubuh sang pemuda itu menyeruak masuk ke hidung mancung Sakura.
Pemuda yang dengan tidak sopannya menyentuh bahu dan menarik Sakura ke pelukannya itu, justru saat ini malah mulai berani memeluk tubuh kecil skaura.
Dalam hati Sakura mengutuki tindakan pemuda yang tidak sopan ini. Namun entah kenapa, tubuh Sakura tidak sependapat dengan pikirannya. Bahkan, tangan Sakura bergerak sendiri ke belakang tubuh sang pemuda itu dan balas memeluknya. 'Oh Tuhan! Apa yang aku lakukan!?' jerit Sakura dalam hati merutuki tangannya. Dan di luar dugaan, kepala Sakura justru lebih ia tenggelamkan lagi ke perut rata pemuda itu. 'Tapi…' Sakura memejamkan matanya, 'kenapa rasanya nyaman sekali?' sepertinya Sakura mulai menikmatinya.
Tangan pemuda itu mulai membelai rambut merah muda Sakura yang panjang itu. Belaiannya begitu lembut dengan tangannya yang besar. 'Tangannya besar dan hangat,' gumam Sakura dalam hati. Pemuda tersebut melirik surat yang tergeletak di samping Sakura. Ia mencoba curi baca surat tersebut, namun sepertinya tulisan tangan Ibu Sakura tidak mudah untuk dibaca. Pemuda itu benar-benar penasaran dengan surat tersebut. Karena tadi ia melihat Sakura menangis setelah membacanya. "Sebenarnya apa isi surat itu?" ba –ah! Sepertinya pemuda itu kelepasan. Sasuke tak sadar menyuarakan isi hatinya.
Seketika Sakura membuka matanya. Apalagi suara yang jelas sekali ia dengar itu adalah suara yang ia kenal. Perlahan Sakura mendongakkan kepalanya dan mendapati guru magangnya—Sasuke—memasang senyum anehnya. "A… apa yang guru lakukan di sini?!" seru Sakura lalu menarik dirinya dari pelukan Sasuke.
Sasuke memasukkan kedua lengannya ke dalam saku celana. "Aku hanya kebetulan lewat," jawabnya dengan santai. "Kenapa kau menangis? Apa karena surat itu?" tanya Sasuke memnunjuk sebuah kertas yang ada di samping Sakura.
"Itu bukan urusan guru!" kata Sakura lalu membereskan surat dari ibunya dan memasukkanya ke dalam tas.
"Baiklah, baiklah," Sasuke mengambil posisi duduk di samping Sakura, namun sebaliknya, Sakura justru beranjak dari kursi.
"Aku mau pulang," kata Sakura singkat.
"Biar kuantar," tawar Sasuke yang kemudian bangun dari duduknya juga.
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri," tolak Sakura lalu melangkahkan kakinya menjauhi Sasuke.
Tap tap tap
Sakura mendengar suara langkah yang mulai mendekatinya dari belakang. Dengan perlahan ia menolehkan kepalanya ke belakang. Sakura mendapati orang yang tidak lama ia temui tadi—Sasuke—tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Sakura memutar bola matanya. "Jangan mengikutiku!" Sakura berucap sambil memandang tajam ke arah Sasuke.
"Aku juga pergi ke arah sana," jawab Sasuke santai sambil menunjuk ke depan. Sakura hanya berdecih pelan. Guru magangnya ini memang mempunyai banyak alasan.
Sakura kembali berjalan mencoba mengacuhkan keberadaan Sasuke yang terus saja mengikutinya dari jauh. Sakura berjalan menyusuri toko-toko tepi jalan dengan santai.
"Sebenarnya kami mulai bosan mengerjai si gadis cengeng Hinata itu." Langkah Sakura mendadak terhenti kala telinganya mendengar ada yang menyebut nama Hinata. Ia kembali mundur dan mendapati segerombolan anak SMA yang masih berseragam sedang berkumpul di gang sempit yang tadi ia lewati.
"Ya, dia terlalu cengeng dan terlalu pasrah dengan apa yang kita lakukan padanya. Itu membuat kami bosan," tambah seorang gadis berambut merah muda terang.
Sakura memicingkan matanya untuk melihat wajah mereka lebih jelas. Kening Sakura seketika berkerut begitu mengenali orang-orang tersebut. Dua diantaranya pernah bertatap muka dengannya, namun ada 3 orang lagi yang belum pernah ia lihat. "Mereka berbuat apa lagi pada Hinata?" gumamnya geram. Tangannya menggenggam erat siap untuk menghajar mereka, namun langkahnya terhenti saat ia mendengar mereka menyebut nama yang tak asing lagi di telinganya.
"Jadi, kita tidak mau bekerja lagi denganmu, Anko!" ucap seorang gadis berambut merah cerah-Karin.
"Sial!" geram Sakura merapatkan kepalan tangannya. Amarahnya meletup begitu mengetahui siapa dalang di balik semua ini. "Dasar munafik!" desisnya. Sahabat yang sudah dianggap sebagai saudara oleh Hinata, ternyata orang yang membuat kehidupan Hinata menjadi neraka.
"Apa yang kalian katakan?" tanya Karin cemas. "Berapa pun uang yang kalian mau, akan aku berikan!" Anko mencoba membujuk Karin dan teman-temannya.
"Tapi tenang saja," ucap Karin dengan seringai licik. "Aku sudah menyiapkan 2 orang yang akan menggantikan kami," lanjutnya lalu melirik 2 pemuda yang berdiri di sampingnya.
Dua pemuda tersebut adalah orang yang sama dengan orang yang ikut mengerjai Hinata tadi pagi. Nama mereka adalah Suigetsu dan Juugo.
Sakura semakin mengeratkan kepalan tangannya. Ia sudah tidak tahan dengan mereka semua. Ingin sekali Sakura mencabik-cabik wajah mereka.
"Kalian!" seru Sakura begitu keluar dari persembunyiannya. Seketika Karin, Anko dan yang lain pun menoleh ke arah Sakura. Karin dan Tayuya membelalakkan matanya saat melihat Sakura. Sedangkan Anko, Sui dan Juugo hanya mengernyitkan keningnya bingung. Anko mendekat ke arah Karin dan berbisik, "Siapa cewek ini?"
"Eh?" Karin kaget dengan pertanyaan Anko. Masa ia belum pernah melihat Sakura? "Kau ini bagaimana? Dia itu kakaknya Hinata. Masa kau belum pernah bertemu dengannya sama sekali?" tanyanya dengan berbisik pula.
"A-apa?" Anko terlihat syok sekali. Ia benar-benar takut jika kedoknya terbongkar. "Aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya," jawab Anko. "Pokoknya kalian urus dia. Nanti aku akan transfer bayarannya!" perintah Anko pada Karin dengan berbisik. Anko berniat melarikan diri. Ia pun berjalan mundur.
"Woi! Mau kemana kau!?" seru Sakura begitu Anko berlari ke belakang gang. Sakura pun berniat mengejarnya, namun langkahnya di halangi oleh Karin.
Sakura menatap tajam Karin. "Kau mau mati, ha!?" tanyanya penuh dengan penekanan. Karin sedikit tergoyah, tapi kemudian posisinya digantikan oleh Suigetsu.
"Jika kau ingin mengejarnya, hadapi dulu aku!" tantang Suigetsu pada Sakura dengan berani.
"Ka...u..." geram Sakura kemudian melayangkan kepalan tangannya ke arah wajah Suigetsu.
Pluk!
Namun tangan Sakura terhenti saat ada sesuatu yang menghalangi jalan tinju tangannya sehingga tidak bisa mengenai wajah memuakkan Suigetsu.
Suigetsu menelan ludahnya sendiri sambil menatap kepalan tangan Sakura. Kepalan yang terlihat penuh dengan tenaga itu hampir saja mengenai wajahnya jika saja tidak ada seorang pemuda yang menahan tangan Sakura.
Semua mata tertuju pada sesosok pemuda tersebut, termasuk Sakura. Bahkan Sakura memasang deathglare pada si pemuda tersebut. Namun di sisi lain seorang gadis berkaca mata—Karin—memandang sang pemuda dengan pandangan yang memuja. 'Oh~ betapa keren dan tampannya orang itu!' jeritnya dalam hati.
"Lepaskan!" perintah Sakura dengan penekanan. Mood Sakura saat ini benar-benar sedang buruk.
"Kita harus pergi!" titah pemuda tersebut lalu menurunkan tangan Sakura lalu menggandeng kemudian menariknya agar pergi dari tempat itu.
"Lepaskan aku, guru! Hey!" berontak Sakura sambil berusaha melepaskan cengkraman Sasuke.
"Tunggu!" cegah Karin tiba-tiba.
Sakura dan Sasuke pun berhenti dan menoleh pada Karin.
"Si-siapa namamu?" tanya Karin gugup dan terlihat ada semburat merah di wajahnya.
"Sakura, Haruno Sakura!" jawab Sakura tegas.
"Bukan kau bodoh!" kata Karin jengkel. "Tapi pemuda tampan itu! Si-siapa namamu?" tanya Karin lagi sambil menunjuk ke arah Sasuke.
"Aku?" tanya Sasuke. Karin mengangguk antusias. "Namaku Sasuke," jawab Sasuke.
"Jadi namamu Sasuke~" ucap Karin dengan tidak warasnya.
"Hey, dia itu guruku," bisik Sakura mencoba menyadarkan Karin dari ketidak warasannya. "Biar saja. Yang penting dia keren dan bujang," jawab Karin yang tidak terpengaruh sama sekali.
"Tapi dia sudah beristri dan beranak satu!" bisik Sakura lagi.
"Ha!? Mana mungkin! Jangan bercanda, rambut gulali!" Karin tidak percaya dengan perkataan Sakura.
"Apa kau bilang!? Kau menyebutku rambut gulali!?" tanya Sakura dengan emosi.
Glek.
Karin menelan ludahnya sendiri saking takutnya. "Kau memang sudah bosan hidup, ya? Awas kau!" seru Sakura lalu maju untuk mencabik-cabik Karin, namun lagi-lagi Sasuke menghalanginya. Kedua tangan Sakura ditahan Sasuke di belakang."Lepaskan aku! Akan kubunuh nenek sihir itu!" serunya Sakura sambil memberontak.
Dengan segera Sasuke segera menarik Sakura mundur dan membawanya pergi dari tempat itu.
-Takdir Sakura-
Sakura berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal. Tangannya ia lipat di depan dada sambil mengerucutkan bibirnya. "Kenapa guru menghalangiku? Mereka itu memang pantas mandapat pelajaran!" gerutunya di tengah perjalanan.
"Kalau kalian bertengkar, nanti akan jadi panjang masalahnya," jawab Sasuke santai.
"Lalu, kenapa guru selalu mengikutiku?" tanya Sakura dengan pandangan menyelidik.
"Jangan terlalu percaya diri," bantah Sasuke dengan seringai. "aku hanya kebetulan lewat saja," jawabnya kemjudian.
"Selalu saja jawaban itu," komentar Sakura lalu mengalihkan pandangannya ke depan. Sedangkan Sasuke hanya tersenyum tipis.
-Takdir Sakura-
Sakura memasuki kamarnya yang begitu luas. Ia rebahkan tubuhnya di atas ranjang sempitnya. Matanya menatap langit-langit kamar dengan tenang.
"Aku tadi pasti salah baca," gumamnya sendiri. Lalu Sakura meraih tasnya yang tidak jauh dari tubuhnya. Ia mengambil sebuah amplop coklat besar. Sakura mengambil isi dalam amplop tersebut. Ia yakin sekali bahwa ia tadi hanya salah baca. Oleh karena itu, ia akan membaca ulang surat dari ibunya tersebut. Sakura mengambil posisi duduk. Ia mencoba mengalihkan semua perhatiannya pada surat tersebut.
Setelah berkali-kali Sakura mebacanya, tapi hasilnya tetap tidak berubah. Keadaan tidak berubah. Semua yang dibacanya adalah kebenarannya yang tidak bisa lagi Sakura pungkiri. "Baiklah. Aku akan mulai melakukannya sekarang," gumamnya dengan tekat yang kuat.
Sakura beranjak dari tempat tidurnya. Memasukkan surat Ibunya kembali ke dalam amplop. Ia mengambil sebuah berkas lain di dalam amplop tersebut. Ternyata berkas tersebut adalah sebuah foto copy Akta kelahiran Hinata yang asli.
"Hinata Hyuuga?" gumamnya seolah nama marga 'Hyuuga' tidak asing lagi di telinganya. Ia lalu membaca nama orang tua Hinata.
"Hizashi Hyuuga? Sepertinya aku pernah mendengar nama marga ini sebelumnya," gumamnya sambil mencoba mengingat-ingat kembali. Mata Sakura lalu beralih pada tulisan yang menerangkan alamat tempat tinggal keluarga Hyuuga. "Jl. Byakugan gang 1 no. 1…" bacanya.
"Aku pulang!" seru sebuah suara yang Sakura kenal. Seketika Sakura segera memberesi semua berkas penting dari Ibunya tersebut.
Sakura segera keluar dan menghampiri Hinata. "Darimana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Sakura dengan dingin.
"Ta-tadi aku jalan-jalan dengan Anko," jawab Hinata dengan gugup karena takut. Tidak biasanya Sakura marah padanya.
"Dan kenapa ponselmu tidak aktif, ha?" tanya Sakura lagi dengan nada yang sangat dingin.
"Ponselku… ta-tadi ponselku terjatuh ke kolam. Ja-jadi ponselnya mati," jawab Hinata dusta. Dan ia juga takut jika ia mengatakan yang sejujurnya, masalah akan menjadi lebih buruk. "Maaf…" gumamnya meminta maaf dengan menundukkan kepala. Ia tidak berani memandang Sakura yang seperti ini.
"Tidak berguna," gumam Sakura tertahan. "Dasar kau! Kau benar-benar tidak berguna!" Sakura mulai mengeraskan suaranya.
Deg!
Hati Hinata terasa teriris rasanya. Benar-benar sakit saat kakaknya—Sakura—menyebutnya seperti itu. Matanya mulai berkaca-kaca. "Maaf~"
"Dari dulu kau memang seperti itu! Berbuat salah lalu dengan mudahnya minta maaf. Sudah berapa banyak kau membuat masalah!? Aku lelah!" teriak Sakura. Perih. Itulah yang Hinata rasakan saat ini. Hatinya benar-benar sakit. "Dengar, ya anak tidak berguna!" desis Sakura mendekati Hinata. "Kau ini hanya anak pungut yang tidak berguna!"
Seketika mata Hinata terbelalak. Ia terkejut dan syok. "A-apa yang kak Sakura katakan?" tanyanya meminta jawaban yang lebih jelas.
Sakura tersenyum menyeringai. "Kau pikir kenapa Ibu selalu lebih memperhatikanku dibandingkan denganmu? Itu karena kau hanya anak pungut Ibu. Ibu memungutmu dari temannya. Dan apa? Ibu sama sekali tidak pernah mendapat sesuatu yang berguna. Malah nasibnya sial karena harus mengurusmu sampai besar," jelas Sakura dengan tatapan benci.
Hinata menatap Sakura. ia memberanikan diri untuk menatap mata Sakura, mencoba mencari kebenaran di matanya. Tapi, ia tidak menemukan kebohongan. Semua yang dikatakan Sakura sebuah kebenaran, itulah yang ia dapat. Hinata memundurkan langkahnya. "Ng-nggak. Nggak mungkin. Kakak bohong, kan?" tanyanya.
"Kau pikir buat apa aku bohong padamu? Tidak ada gunanya. Justru aku akan lebih repot lagi jika kau terus menempel padaku!" jawab Sakura dengan kejamnya. Hinata menutup mulutnya. Ini benar-benar sulit dipercaya baginya. Air matanya perlahan mulai menetes. Hatinya benar-benar sakit.
"Besok aku akan menemui keluargamu dan meminta mereka untuk membawamu pergi dari rumah ini. Jadi, segeralah kemasi barang-barangmu!" perintah Sakura lalu pergi ke kamarnya.
Hinata hanya bisa diam, terpaku. Air matanya terus saja menetes. "Hiks! Kenapa? Kenapa semua jadi seperti ini? Hiks!" tangisnya.
_TBC_
Celoteh Author!
Hehe… aku datang kembali!
Maaf lamaaaaaaaaaaa sekali..
Maaf pendek. Soalnya aku pas-in dengan jalan dan kemisteriannya… #apalah
Karena lebih cocok jika dipotong di bagian ini… hehe…
Kalau penasaran, jangan lewatkan chapter selanjutnya ya
Tulisannya emang banyak yang amburadul sih… tapi aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi! Ganbate! Jadi, tolong kritik da sarannya
Satu kata dari Anda, sangat berarti bagi saya
Balasan Review:
Dian-chan: hehe… maaf ya jika update-nya lama . dan maaf kali ini pendek banget. Soalnya…. Ah, tapi aku usahan chapter selanjutnya akan lebih cepet…#moga aja. Hehe… makasih udah mau baca n review
Aika Yuki-chan: maaf lama ya. Makasih udah mau baca n review
Mako-chan: yups! Itu emang Gaara, tp chapter ini juga belum dibahas. makasih udah mau baca n review
Chibiusa: hehe…ini udah update, tapi maaf kalo kelewat lama, pendek pula . Isi suratnya indtinya udah tau kan #nunjuk atas.. tapi, masih ada rahasia lain di dalam surat itu… xixixi… makasih udah mau baca n review
Kakaru S.S: Helo nia (O.O)/ maaf update-nya lama, soal penyakit sakura juga belum terungkap di chapter ini,,,kayaknya masih lama jadi jangan ampe kelinggalan yah,,,hehe makasih udah mau baca n review
Nadja Violyn: semoga saja happy ending… soal death chara, aku masih mikir siapa yang aka kubuat mati #kejamnya. Sakura terkena penyakit yang tidak mematikan, tapi lumayan repot sih punya penyakit ini. ya begitulah kira-kira. Ini penyakit langka. Hahaha… makasih udah mau baca n review
Beauty-rose: isi surat masih belum diketahu detailnya, ini hanya intinya saja. Ntar ada chapter lain yang mbahas isi detailnya kok.. makasih udah mau baca n review
Hanna-Aiko: wah, maaf ya karena lama banget nih…hehe tapi makasih udah mau baca n review
Guest: kok gk di kasih nama sih maaf lama update-nya. Sepertiny masih panjang perjalanannya… padahal aku juga pengen cepet-cepet namatin, tapi ntar malah amburadul kalo kecepetan tapi makasih udah mau baca n review
Hanazono Yuri: maaf ya update-nya lama benget dan SasuSaku di sini masih nanggung,,, soalnya ntr ada chapter sendiri yang akan mbhas merek, jadi sabar ya . makasih udah mau baca n review
Koibito Cherry: helo aswati. Aku inget kok maaf lama anget yang update ya maaf ya kalo SasuSaku-nya dikit, ntr ada bangian tersendiri kok yang full SasuSaku. jadi sabar ya… makasih udah mau baca n review
Terima kasih untuk semua pembaca! ^_^
N
KEEP SMILE!
Klaten, 04 April 3013, 10.00
Naumi Megumi
