Takdir Sakura
Author : Naumi Megumi
Pairing : SasuSaku, NaruHina, and other
Rate : T
Genre: Angst, Drama, Hurt, Romance, Humor, Family
Disclaimmer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Ide cerita fic ini © Naumi Megumi
Warning:
OOc banget, AU, Gaje, Alur berantakan, Typo, miss typo, abal, ide pasaran, minimnya diskrip, UPDATE Tak Tentu! Pokoknya amburadul! dan silahkan FLAME jika memang fic-ku ini benar-benar memuakkan! ^_^
Summary:
Setelah pengakuannya pada Hinata, Sakura berniat mengembalikan Hinata pada keluarganya yang sesungguhnya.
Tiba-tiba Sasuke muncul dengan alasan atas perintah Kepala Sekolah, Sakura harus diawasi ketat oleh Sasuke. Saat mereka bersama, ada banyak kejadian yang tidak terduga. Dan ada getaran aneh pada diri Sakura saat dekat Sasuke. Apa ini artinya Sakura mulai jatuh cinta pada Sasuke?
Mari bersama sama kita teriak 'Uye!'
Uye! \(o.o)/
Kalau nggak suka, nggak usah baca, ya! Ntar mual lho!
Jangan Lupa RnR-nya, ya!
Balasan Review ada di bawah!
So, Enjoy It!
Chapter Sebelumnya:
Ternyata dalang dibalik semua penderitaan Hinata adalah Anko, sahabatnya sendiri. Dan Sakura mengetahui semua itu.
Kenyataan lain yang sulit dipercaya adalah ternyata Hinata bukan adik kandung Sakura. Sakura mengatakan bahwa Ibunyalah yang telah memungut Hinata dari sahabatnya. Apa itu benar? Dan sekarang, Sakura akan mengembalikan Hinata yang ke keluarganya yang sebenarnya, Keluarga Hyuuga. Tapi kenapa sikap Sakura berubah drastis kepada Hinata? Apa maksudnya?
TAKDIR SAKURA
Chapter 6
"Kau pikir buat apa aku bohong padamu? Tidak ada gunanya. Justru aku akan lebih repot lagi jika kau terus menempel padaku!" jawab Sakura dengan kejamnya. Hinata menutup mulutnya. Ini benar-benar sulit dipercaya baginya. Air matanya perlahan mulai menetes. Hatinya benar-benar sakit.
"Besok aku akan menemui keluargamu dan meminta mereka untuk membawamu pergi dari rumah ini. Jadi, segeralah kemasi barang-barangmu!" perintah Sakura lalu pergi ke kamarnya.
Hinata hanya bisa diam, terpaku. Air matanya terus saja menetes. "Hiks! Kenapa? Kenapa semua jadi seperti ini? Hiks!" tangisnya.
_Takdir Sakura_
Pagi ini Sakura sengaja berangkat pagi sekali karena ia menghindari pertemuan dengan Hinata. "Ya, seperti ini lebih baik," gumamnya.
Saat ini Sakura sedang menunggu bus di halte untuk berangkat sekolah seperti biasanya. Dari arah kiri, sebuah bus berhenti tepat di depan halte. Sakura berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati bus tersebut. Satu kaki sudah ia pijakkan di atas pijakan bus. Dan tinggal satu lagi untuk naik ke bus lalu melajulah bus. Itu semua yang harusnya terjadi jika saja sebuah tangan kekar tidak mengamit pinggang Sakura dari belakang dan menariknya menjauhi bus sehingga ia harus berjalan mundur.
Tentu saja Sakura terkejut dengan semua itu. Sebuah pukulan sudah Sakura layangkan di wajah sang pelaku, jika saja sang pelaku tidak menahan tangannya. Sakura segera menoleh ke belakang untuk melihat orang yang sudah berlaku tidak sopan terhadapnya. "K-kau!" pekiknya begitu mengetahui yang menariknya ternyata adalah Sasuke-guru magangnya-
Sedangkan Sasuke hanya menyeringai ambigu pada Sakura sambil terus menahan punggung Sakura agar tidak memberontak dan menariknya mendekati sebuah mobil sport hitam mewahnya.
"Lepaskan aku!" berontak Sakura. Namun Sasuke sama sekali tak bergeming.
"Mulai hari ini, kau dalam pengawasanku," ucap Sasuke dengan entengnya.
Sakura menganga. Apa ini mimpi? Ini benar-benar tidak bisa dipercaya. Hidupnya yang menyebalkan semakin menyebalkan dengan adanya Sasuke. "Kau bercanda?" tanyanya tak percaya.
Sasuke tidak menjawab. Ia melepas cengkramannya lalu membuka pintu mobil. "Masuk!" perintahnya datar sambil menatap Sakura. Namun Sakura hanya diam. melipat kedua tangannya di depan dada dengan kesal. Tiba-tiba dengan gerakan cepat, Sakura melangkahkan kakinya, mencoba kabur dari tempat tersebut. Semua itu akan berjalan dengan mulus kalau saja Sasuke tidak segera merengkuh bahu Sakura dari belakang. "Masuk ke mobil, itu solusi terbaik," bisiknya.
"Cks! Menyebalkan!" umpat Sakura. Sasuke pun melepaskan pelukannya. Dengan terpaksa, Sakura masuk ke dalam mobil Sasuke. Mobilpun mulai melaju.
_Takdir Sakura_
"Sebenarnya mau guru itu apa, sih?" tanya Sakura sambil memandang Sasuke dengan pandangan sebal.
"Aku hanya menjalankan perintah Kepala Sekolah," jawab Sasuke tenang sambil menyetir.
"Cks! Kepala Sekolah itu…" gumam Sakura merutuki Tsunade, sang Kepala Sekolah.
"Lagi pula, kenapa kau tidak menjadi anak yang manis saja? Cobalah rajin masuk sekolah dan belajar yang rajin!" Sasuke mulai menceramahi Sakura lagi. Ini benar-benar menyebalkan bagi Sakura. Sakura hanya memutar bola matanya jengah.
"Itu membosankan," komentar Sakura.
"Lagi pula, kemarin kau sudah sepakat kau tidak akan membolos sekolah lagi," kata Sasuke mengingatkan. Sakura sedikit terkejut karena hampir saja ia lupa dengan pertandingan basket kemarin. "Apa kau mencoba ingkar janji?" tuduh Sasuke.
"Maaf ya, Guru Sasuke yang terhormat sepanjang masa. Aku masih bisa memegang perkataanku. Ingat itu baik-baik!" bantah Sakura tidak terima degan tuduhan Sasuke.
"Iya, iya. Aku tahu kau bukan orang yang seperti itu. Jadi, sekolahlah dengan tenang. Dan jadilah gadis manis." Sasuke tersenyum ke arah Sakura.
"Huh! Buat apa sekolah? Untuk apa aku lakukan itu semua? Tidak ada gunanya," gumam Sakura saat mengalihkan wajahnya ke luar jendela mobil. "Kalau akhirnya aku juga akan mati," bisiknya pelan.
_Takdir Sakura_
Mobil Sasuke memasuki halaman sekolah. Semua mata tertuju pada mereka berdua. Apalagi Sasuke datang dengan Sakura. Itu menambah perhatian para penghuni SMA 1 Konoha.
Sakura segera keluar begitu mobil Sasuke berhenti di parkiran. "Tunggu!" cegah Sasuke. Sasuke segera turun dari mobilnya dan menghampiri Sakura. "Mana ponselmu?" tanyanya menengadahkan tangannya meminta ponsel Sakura.
Sakura benar-benar tidak habis pikir. Guru magangnya ini mulai suka mengatur segala sesuatu tentangnya dan semakin kurang ajar. Bahkan tingkahnya bukan seperti guru, malah cenderung seperti pacar. Pacar? Apa yang baru saja Sakura pikirkan? Oh~ jangan sampai Sakura mempunyai pacar seperti dia. Terlalu overprotektif. Ah, sekarang Sakura benar-benar memikirkan Sasuke sebagai pacarnya. Kacau. Sakura hanya diam dan mengerutkan keningnya menanggapi perintah Sasuke.
"Pinjam sebentar," kata Sasuke begitu tahu arti tatapan bertanya Sakura. Sakura lalu mengambil ponsel dari tasnya dan menyerahkan pada Sasuke. Sasuke menekan beberapa tombol pada ponsel Sakura.
"Hey! Apa yang guru lakukan?" tanya Sakura penasaran sambil mencondongkan tubuhnya untuk menengok ponselnya.
Gruduk gruduk gruduk!
Bruk!
Segerombolan siswa melewati tempat Sasuke dan Sakura dengan urakannya dan dengan cueknya setelah mereka menubruk badan Sakura, mereka tanpa merasa berdosa sama sekali pergi begitu saja. Mari kita lihat keadaan Sakura saat ini sebagai korban tabrak lari.
Awalnya Sakura memang mencondongkan tubuhnya ke depan, ke arah ponselnya—ke arah Sasuke juga. Dan karena terdorong oleh siswa-siswa yang lewat, Sakura jatuh ke depan karena tidak bisa menyeimbangkan badannya. Sekarang badanya menabrak badan Sasuke. Badan mereka berdempetan dengan punggung Sasuke yang tertahan oleh mobilnya. Bahkan kepala Sakura sampai melesak di antara leher dan bahu lebar Sasuke. Sakura juga tidak sempat menahan tubuhnya sehingga dadanya dan dada bidang Sasuke bersentuhan.
Deg!
"Kyaaa~!" jerit para siswi yang kebetulan melihat kondisi Sakura dan Sasuke yang membuat mereka hanya bisa gigit jari.
Tapi anehnya, Sakura merasa jantungnya berdetak cepat sekali. Darahnya terasa mendesir lebih cepat. Dan ia merasakan wajahnya memanas. Tuhuhnya juga menjadi lemas sehingga ia tidak bisa bergerak. 'Ada apa ini?' tanyanya dalam hati heran dengan badannya yang mendadak bereaksi aneh.
"Sakura…" bisik Sasuke tepat di depan telinganya.
Deg!
Mendadak badanya menjadi merinding karena pengaruh bisikan Sasuke yang sangat amat dekat dengan telinganya. Jantungnya sekarang malah berdetak semakin cepat. Sakura belum pernah merasakan sensasi yang sebesar ini. Memang sih, sedikit banyak Sakura sudah mengetahui penyebabnya, tapi ini tidak mungkin. Ia sudah bertekad dalam hatinya sendiri bahwa ia tidak akan jatuh cinta lagi.
Sementara Sasuke yang tak kunjung mendapat respon dari Sakura menjadi khawatir. "Sakura, kau tidak apa-apa?" tanyanya kemudian menggenggam bahu Sakura.
Seketika Sakura tersentak setelah mendapat sentuhan di bahunya. Sontak ia pun berdiri dan segera menjauh dari Sasuke. "A-apa tadi yang akan guru lakukan?" tanyanya sedikit gugup.
"Memangnya apa? Aku hanya mencoba menyadarkanmu yang terlalu keasyikan menimpa tubuhku," rutuk Sasuke lalu bangkit dari mobilnya.
Sakura beralih melihat orang-orang yang memandanginya dengan pandangan mengintimidasi. "Apa lihat-lihat!? Bubar!" bentaknya galak. Sakura kembali beralih pada Sasuke, ia melihat Sasuke kembali mengotak-atik ponselnya. Sakura buru-buru mendekati Sasuke kembali untuk meminta ponselnya, namun sebelum ia mendekatinya, terdengar suara dering ponsel Sasuke. "Ka-kau!" Sakura menuding Sasuke dengan telunjuknya dengan tidak sopan.
"Untuk jaga-jaga," sahut Sasuke. "Jika kau butuh sesuatu, segera hubungi aku!" lanjutnya kemudian mengembalikan ponsel Sakura dengan melemparnya.
Puk!
Untung saja ketangkasan tangan Sakura masih berfungsi untuk saat ini. "Jangan berharap!" ketus Sakura lalu pergi dengan memasang wajah kesal.
_Takdir Sakura_
Sakura berjalan menyusuri lorong kelas. Namun ada yang aneh. Semua mata memperthatikan Sakura. Sakura merapikan penampilannya. "Apa penampilanku hari ini aneh?" gumamnya heran.
"Sakura…!" seru Ino begitu Sakura memasuki ruang kelas. Dengan tidak sabarnya, ia menarik Sakura dan mendudukkannya. Ini seperti dihadapkan pada situasi sidang. "Kau punya hubungan apa dengan guru Sasuke? Sejak kapan kalian menjadi dekat? Bukankah kemarin kau bilang tidak tertarik dengannya?" serocos Ino yang membanjiri Sakura dengan segudang pertanyaan yang tidak penting.
Sakura hanya memutar bola matanya malas. Tanpa memperdulikan Ino yang terus mengomel karena pertanyaannya tak kunjung dijawab, Sakura menggulirkan penglihatannnya kesamping. Keningnya mengerut kala mendapati salah seorang sahabatnya terlihat tidak bersemangat pagi ini.
"He, Sakura! Kau men—"
"Sst! Diamlah, Ino!" potong Sakura sebelum Ino lebih mencerocos. Ino hanya memanyunkan bibirnya kesal. "Kau tahu Tenten kenapa?" tanya Sakura yang masih memperhatikan Tenten.
"Entahlah." Ino hanya mengedikkan bahunya. "Sejak tadi pagi, Tenten terus saja seperti itu," tambahnya.
"Ayo!" ajak Sakura pada Ino untuk menghampiri Tenten. Sakura pun duduk di samping Tenten, sedangkan Ino berdiri di sampingnya. "Kau kenapa, Tenten?" tanyanya sambil menepuk pelan pundak Tenten.
"Aku kesal! Kesal sekali pada Neji. Masa' di pertandingan umum karate, aku tidak boleh ikut mewakili sekolah. Itu sangat menyebalkan! Katanya seorang perempuan tidak boleh ikut pertandingan campuran, karena lawannya pasti laki-laki. Lalu kenapa!? Dia takut sekolah kita kalah karena wakilnya seorang perempuan? Apa dia kira perempuan tidak akan bisa menang melawan laki-laki!? Cih! Menyebalkan!" oceh Tenten panjang lebar dengan amarah yang meluap-luap.
"Ya ampun Tenten! Jadi dari tadi tampangmu kusut hanya karena Neji tidak memasukkanmu di pertandingan campuran?" tanya Ino tidak percaya dengan penyebab yang sebenarnya atas kekusutan wajah Tenten pagi ini. Ini terlalu kekanak-kanakan menurutnya.
"Memang bagi kalian ini hanya masalah yang sepele. Tapi bagiku, ini adalah antara hidup dan matiku," jawab Tenten sambil memandang Sakura dan Ino dengan inten. "Seperti hal-nya jika maskara-mu yang mahal dipakai oleh ibumu, Ino," ucap Tenten mencoba menjelaskan permasalahannya dengan mengambil sudut pandang Ino.
"Err.. t-tentu saja aku tidak terima itu!" jawab Ino.
"Nah! Begitulah perasaanku saat ini. Kau bisa memahamiku kan sekarang, Ino?" tanya Tenten meminta pengertian Ino.
Sakura tersenyum tipis lalu menepuk bahu Tenten sekali lagi. "Lagi pula, kau kan sudah dipercaya untuk mewakili tim perempuan," hiburnya.
"Iya, sih. Tapi aku ingin sekali tanding di pertandingan campuran," keluh Tenten.
"Tenanglah. Kalau sudah waktunya, kau juga akan ikut," ucap Sakura mencoba menenangkan. Dirinya dan Neji tahu bahwa kemampuan Tenten tidak diragukan lagi, tapi keputusan Neji mungkin mempunyai alasan lain. Yang pasti untuk kebaikan Tenten.
"Kapan? Ini kan tahun terakhir aku mengikuti kompetisi ini! pokoknya nanti aku akan membicarakan masalah ini lagi dengan Neji!" tegas Tenten tetap bersi kukuh dengan kemauannya. Ino hanya memutar bola matanya malas, sedangkan Sakura hanya tersenyum. Ia senang bisa melihat semangat Tenten lagi. Dan hingga saat ini, ia masih bisa merasakan kebahagiaan saat bersama sahabat-sahabatnya. Entah kapan saatnya, saat semua itu akan hilang dari kehidupannya. Sakura tak berani membayangkannya. Yang ia pikirkan sekarang hanya ingin menyenangkan teman-temannya, orang yang ada di sekitarnya dan dirinya sendiri.
_Takdir Sakura_
Sakura mulai mengendap-endap ke belakang sekolah. "Lho? Kenapa tangganya tidak ada? Pasti diumpetin, nih!" gerutunya. Sakura memasang pose berpikir untuk mencari cara agar dirinya bisa keluar dari sekolah ini.
"Ehem! Mau coba kabur lagi?" tegur sebuah suara bariton yang akhir-akhir ini selalu mengusik hidup Sakura yang tenang. Dengan malas Sakura menoleh ke sumber suara. "Tenang saja, tangganya sudah dipindahkan, kok," ejek Sasuke.
Sakura tersenyum palsu. "Guru juga tenang saja, aku juga masih punya cara lain untuk kabur, kok," balasnya.
Dengan cepat Sakura mencoba berlari menghindar dari Sasuke, namun ada tangan yang menahannya. Sasuke tersenyum tipis. "Guru magangmu ini juga masih punya cara lain untuk mengatasi kebandelanmu yang lain," ucapnya dengan seringai.
Ceklek.
Mata Sakura terbelalak begitu tangan kirinya dilingkari dengan sebuah gelang besi—alias borgol. "Apa-apaan ini? Memangnya aku seorang penjahat?" protes Sakura tidak terima.
Ceklek.
Sakura tidak menjawab jawaban, tapi malah ia dikejutkan lagi dengan pasangan borgol tersebut yang dipasangkan di pergelangan tangan kanan Sasuke. "Apa lagi ini? jangan bercanda, guru magang ayam!" protes Sakura yang benar-benar tidak terima dengan perlakuan Sasuke padanya.
"Bukankah kau tadi bilang tidak akan mengingkari janjimu sendiri?" sindir Sasuke. "Aku baru akan melepaskannya setelah usai sekolah," ucap Sasuke datar lalu menarik Sakura, lebih tepatnya menyeret Sakura kembali ke ruang kelas.
_Takdir Sakura_
"Sakura, mau ikut ke kantin?" tanya Ino sambil melirik Sasuke yang ada di samping Sakura dengan tangan yang masih terborgol.
"Aku tidak nafsu makan," jawab Sakura datar lalu meletakkan kepalanya di atas meja dengan lemas.
"Ya sudah kalau gitu." Ino lalu beralih ke Tenten yang beranjak dari kursi. "Ayo, Tenten!" ajaknya.
"Maaf, Ino. Aku ada perlu dengan Neji," jawab Tenten menolak ajakan Ino.
"Ehm, baiklah. Aku juga sudah ada janji dengan Sai-kun," ucap Ino dengan nada manja.
"Hah~ ya sudahlah. Cepat pergi sana! Kepalaku pusing," usir Sakura. Ino dan Tenten pun kemudian pergi. Sakura memegang pelipisnya dengan tangan kanannya. Sakura benar-benar tidak habis pikir. Kenapa Kepala Sekolah sampai bertindak sejauh ini.
Sakura lalu melihat kesekitarnya. Terlihat masih banyak siswa dan siswi yang masih ada di dalam kelas. Tidak biasanya mereka begini. 'Ini kan sudah jam istirahat, kenapa mereka masih di dalam kelas?' herannya. Namun kemudian pandangannya bergulir melihat Sasuke. 'Ah~ aku lupa kalau di sini ada guru ini. Dialah yang menjadi akar masalahnya," gumamnya dalam hati.
"Kau tidak keluar?" tanya sebuah suara di samping Sakura.
"Tidak," jawab Sakura singkat. Lalu ia meletakkan kepalanya di atas meja kembali hingga sebuah suara berisik mengusik ketenangannya. Sakura menegakkan kepalannya.
Sakura menggulirkan penglihatannya ke penjuru kelas hingga pandangannya berhenti tepat di pintu masuk kelas, karena di sana terlihat banyak siswa yang berkerumunan. Sakura lagi-lagi harus menghela nafas. Kepopuleran guru magangnya ini benar-benar tidak bisa diragukan. Tapi kenapa Sasuke terlihat cuek-cuek saja? Biasanya di depan Sakura ia terlihat banyak bicara.
"Sakuraa!" lamunan Sakura seketika buyar saat mendengar ada yang menyerukan namanya. Mendadak seorang siswa berkuncir masuk ke kelas. "Hidate?" gumam Sakura. Ia hanya heran, untuk apa Hidate datang ke kelasnya?
Dengan nafas yang tidak beraturan, Hidate menghampiri Sakura. Sejenak ia melirik Sasuke, namun kemudian ia kembali memandang Sakura dengan pandangan inten. "Sakura, apa benar kau pacaran dengan guru Sasuke?" tanyanya to the point.
'Bagaimana anak ini mendapat gosip murahan seperti itu?' tanya Sakura dalam hati. Namun tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah, sepertinya Sakura baru saja mendapat pencerahan. Sakura melihat Hidate. Hidate masih setia menunggu jawaban Sakura. "Ya," jawab Sakura dengan tegas.
Semua seisi kelas terkejut dengan pernyataan Sakura. Begitu pula dengan Sasuke. Sedangkan Hidate, ia benar-benar syok. "Jadi ... gosip itu benar? Kau benar-benar pacaran dengan guru Sasuke?" tanya Hidate lagi untuk memastikan.
"Aku harus bilang berapa kali, ha?" tanya balik Sakura dengan malas.
"Tapi Sakura ... aku menyukaimu ..." ucap Hidate dengan wajah memelas.
Sakura sempat melirik Sasuke sejenak, namun tidak ada respon sama sekali. 'Uh! Kenapa dia diam saja?' tanya Sakura dalam hati.
Hidate meraih tangan Sakura lalu menggenggemnya dengan erat. "Kumohon, Sakura ... jadilah pacarku," mohonnya.
Sakura yang melihat wajah Hidate pun jadi tidak tega. Tapi biasanya ia lebih dulu menghindar sebelum Hidate memasang wajah sedihnya. Sakura terlambat untuk pergi. Seharusnya tadi ia menghindari Hidate sebelum semua ini terjadi. "Tapi, Hidate ..." sebelum meneruskan kalimatnya, ia merasakan borgol yang melingkar di pergelangan tangannya bergerak.
Sakura menoleh pada Sasuke yang sudah bangun dari duduknya dan menatapnya seolah-olah bertanya, 'Ada apa, sih?' "Aku lupa ada janji dengan Kepala Sekolah," ucap Sasuke datar. Tanpa basa basi lagi, Sasuke menyeret Sakura untuk mengikutinya dan pergi meninggalkan Hidate yang masih menunggu jawaban Sakura.
"Eh?" Sakura melirik Hidate yang melihatnya pergi. "Maaf, Hidate. Aku tidak bisa," serunya kemudian sebelum ia keluar kelas.
_Takdir Sakura_
Sakura kini dapat bernafas lega. Setelah melewati jam pelajaran yang kurang bebas, akhirnya jam sekolah pun berakhir. Bagaimana bisa bebas? Jika Sasuke terus berada di dekatnya. Bahkan saat pelajaran berlangsung, Sasuke diperbolehkan masuk kelas dan duduk di samping Sakura. Tentu saja, karena tangan mereka masih diborgol bersama. Tidak lupa juga semua teman Sakura satu kelas menjadi gempar dan rusuh.
"Ini sudah pulang sekolah. Lepaskan borgolnya!" perintah Sakura dengan tidak sopannya.
"Iya, iya," jawab Sasuke lalu mengeluarkan sebuah kunci kecil dari saku celananya dan membuka borgol yang menggabungkan tangan Sakura dengan tangannya.
Sakura sedikit merasakan perih dipergelangan tangannya. Tanpa memperdulikan gurunya lagi, Sakura pergi begitu saja.
_Takdir Sakura_
"Sakura! Akhirnya kau datang juga!" seru Shion saat Sakura memasuki dapur.
"Maaf, aku terlambat," ucapnya membungkukkan badanya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya khawatir denganmu. Tidak terjadi apa-apa, kan?" tanya Shion sambil menyiapkan pesanan untuk para pengunjung.
"Aku tidak apa-apa, kok," jawab Sakura sambil tersenyum. "Bagaimana hari ini? Pengunjung banyak?" tanyanya.
"Awalnya sih memang agak sepi, tapi lihat!" Shion menunjuk meja pengunjung yang penuh tanpa ada satu mejapun yang kosong. Pengunjung sebagian besar didominasi oleh remaja perempuan. "Semua pengunjung akhirnya mulai berdatangan saat ada 2 pemuda tampan masuk ke café kita!" ujar Shion dengan semangat.
Sakura mengikuti arah pandang Shion. Apa yang dikatakan Shion memang benar. Ada 2 orang pemuda tampan yang menjadi pusat perhatian. Tapi tunggu dulu! Sepertinya Sakura mengenal mereka. Sakura memicingkan matanya untuk memperjelas penglihatannya.
Seorang pemuda berambut kuning jabrik dengan senyum tiga jarinya mencoba bersikap ramah pada gadis-gadis yang ada di sekitarnya. Seorang lagi, pemuda berkulit putih dengan rambut raven hitamnya, namun wajahnya terpasang begitu datarnya. Seolah-olah menganggp tidak ada orang di sekitarnya. Bahkan melempar senyum pun tidak.
"Tapi, Sakura. Aku kurang suka dengan orang—"
"Mereka ..." gumam Sakura yang membuat Shion tidak melanjutkan kalimatnya.
"Eh?" Shion bingung dengan reaksi Sakura. "Kau ... mengenal mereka, Sakura?" tanyanya.
"Ha? Ah, iya. Aku kenal dengan mereka berdua," jawab Sakura lalu beranjak dari samping Shion untuk bersiap-siap.
"Ohya, Sakura!" panggil Shion sebelum Sakura masuk ke ruang staff.
"Ya?" sahut Sakura singkat sambil menolehkan kepalanya.
Shion beralih memandang 2 orang pemuda yang menjadi pusat perhatian di cafe 'Rainbow' tersebut, tapi matanya hanya tertuju pada seorang saja. Seorang yang mempunyai tawa yang begitu lepas dan berambut kuning. "Cowok ceria itu ... siapa namanya?" tanyanya tanpa melepas pandangannya dari cowok jabrik kuning.
Sakura melihat ke arah Shion. Ia terkejut begitu melihat wajah Shion yang berseri saat menatap Naruto. Seketika hatinya mengalami kegundahan. "Naruto. Namanya Naruto," jawabnya lalu berlalu ke ruang staff.
_Takdir Sakura_
"Sakura-chan!" seru Naruto begitu melihat Sakura keluar untuk mengantar pesanan. Sebenarnya ini sangat menyebalkan baginya, tapi mau bagaimana lagi. Pesanan yang harus ia antar adalah pesanan meja Naruto dan Sasuke.
Dengan lincah Sakura mengayunkan kakinya yang mengenakan sepatu roda menuju meja Sasuke dan Naruto.
Kenapa kalian kemari?" tanya Sakura to the point kemudian meletakkan pesanan Naruto dan Sasuke di atas meja mereka.
"Kami hanya berkunjung. Sasuke ingin tahu aktivitasmu sehari-hari," jawab Naruto lalu menyendok es cream pesanannya.
Seketika Sakura beralih memandang Sasuke, namun Sasuke hanya diam. Seolah-olah tidak mendengar apa-apa. "Sebenarnya mau guru apa, sih? Ini kan sudah di luar jam sekolah," katanya yang tidak terima karena aktivitasnya diawasi terus seperti ini.
"Aku hanya menjalankan perintah dari Kepala Sekolah," jawab Sasuke santai lalu menyeruput Cofee mocca-nya.
Sakura hanya bisa menghela nafas. Kepala Sekolahnya saja sudah menyebalkan, sekarang mengutus anak buahnya yang lebih menyebalkan. Sakura lalu beralih pada Naruto, "Naruto, nanti kau shift malam di kedai, kan?"
"Ya, seperti biasa," jawab Naruto tidak lepas dari es cream-nya.
"Ehm ... bisakah kau menemuiku nanti jam 5, setelah aku selesai bekerja?" tanya Sakura pada Naruto.
Naruto sejenak bingung namun akhirnya menyetujuinya. "Ya, tentu!" jawabnya sambil mengangguk. Kemudian tanpa basa-basi lagi, Sakura kembali bekerja meninggalkan Sasuke dan Naruto.
"He, Dobe!" gumam Sasuke memanggil Naruto.
"Hmm?" sahut Naruto yang masih asik memakan es cream-nya.
"Kau tidak ada hubungan khusus dengan Sakura, kan?" tanya Sasuke curiga.
Naruto menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyendok es-nya kembali. "Apa maksudmu, Teme?" tanyanya tak mengerti.
"Apa kau menyukai Sakura?" ulang Sasuke dengan lebih jelas.
"Uhuk! Uhuk!" Naruto tersedak begitu mendengar pertanyaan dari sahabatnya tersebut. Naruto tahu betul apa yang dimaksud Sasuke dengan kata 'suka' tersebut. Naruto mencoba menenangkan diri sebelum menjawab pertanyaan Sasuke. Apa yang dipikirkan sahabatnya ini? Kenapa Sasuke bisa mengambil kesimpulan seperti itu? "Kau ini bicara apa? Mana mungkin aku menyukai Sakura-chan? Ya, walaupun aku juga tidak membencinya. Tapi aku juga menyukainya, sih. Yah, lebih tepatnya, aku menyukainya sebagai sahabat," jawab Naruto panjang lebar. "Kau puas?" tanya Naruto balik.
Sasuke hanya diam, tak menjawab. Naruto bingung sendiri dengan sahabatnya ini. kemudian seringai kecil muncul di bibirnya.
_Takdir Sakura_
"Sampai bertemu besok," pamit para karyawan café dengan karyawan yang lain. Mereka mulai berhamburan untuk pulang.
"Eh?" pekik Sakura begitu melihat Pein yang masih berdiri di sampingnya. "Kau belum pulang?" tanyanya.
"Sebenarnya aku ingin mengantarmu pulang," jawab Pein.
Sakura tersenyum. "Makasih atas niat baikmu, tapi aku masih ada urusan," tolak Sakura secara halus. Setelah ini ia juga harus mencari alamat keluarga Hyuuga, jadi ia tidak mau merepotkan Pein.
Pein tersenyum lalu menepuk kepala Sakura pelan. "Baiklah. Hati-hati di jalan, ya!" pesannya lalu berjalan meninggalkan Sakura.
"Tentu!" seru saura sebelum Pein berbeluk.
"Wah, ternyata penggemarmu banyak juga, ya?" tegur Sasuke saat berjalan mendekati Sakura dan melihat pemandangan yang sedikit merusak matanya.
Sakura sontak membalikkan badanya. Ia melihat Naruto bersama Sasuke. "Aku kan menyuruh kau kesini, Naruto. Tapi kenapa dia juga ikut?" tanya Sakura heran.
"Hehe … maaf, aku takut jika ia kutinggal nanti dia menangis—Aw!" pekik Naruto saat siku runcing Sasuke menusuk perutnya. Tak hanya itu, ia juga mendapat deadghlare dari Sasuke.
"Ya sudahlah. Kalau begitu aku minta nmer ponselmu saja. Nanti aku akan kirimi lewat pesan," kata Sakura.
_Takdir Sakura_
"Anko! Hiks!" tangis Hinata begitu dirinya dan Anko sampai di rumah Hinata. Hinata memeluk Anko dengan erat.
Sebenarnya Anko tidak berani ke rumah Hinata, tapi karena ia terus dipaksa Hinata, jadi ia mengikuti mau Hinata. Lagipula, pagi ini tidak ada perubahan sikap Hinata padanya, itu berarti Sakura belum mengatakan apa-apa tentang dirinya pada Hinata.
"Hey, ada apa, Hinata?" tanya Anko kaget karena tiba-tiba dipeluk Hinata. Apalagi saat ini Hinata menangis dengan kencang di bahunya. 'Aish! Bajuku pasti basah, nih!' keluhnya dalam hati.
"Hiks! Kak … kak Sakura … hiks!" Hinata terus saja menangis dan belum menjawab pertanyaan Anko.
Anko mencoba menenangkan Hinata. Ia memegang bahu Hinata dan segera menjauhkannya dari dirinya sebelum seragamnya dipenuhi dengan ingus anak manja ini. "Tenangkan dulu dirimu! Lalu ceritakan padaku pelan-pelan!" ucap Anko memberi pengarahan. 'Sial! Ini seperti menenangkan seorang anak kecil yang baru ditinggal mati oleh kelincinya!' umpatnya dalam hati.
Perlahan Hinata mulai tenang. Anko menghapus jejak air mata Hinata yang ada di pipi. "Kak Sakura …" gumam ginata mengawali ceritanya. "Katanya … aku ini hanya anak pungut Ibunya," ucapnya.
Anko terkejut, keningnya mengerut. Ini benar-benar tidak bisa dipercaya, tapi kemudian wajah Anko mendadak menjadi sedikit sumringah. "Tunggu! Maksudmu … kau bukan adik kandug Sa-ah, maksudku kak Sakura?" tanyanya meyakinkan.
"Iya," jawab Hinata mengangguk lemas. "Dan kak Sakura bilang bahwa aku hanya menyusahkannya. Hiks!" Hinata kembali menangis.
Tanpa Hinata sadari, Anko tersenyum menyeringai. 'Jadi karena itu, si gulali itu belum bilang yang sebenarnya pada Hinata? Ini benar-benar menguntungkanku!' batinnya gembira.
Hinata kembali memeluk Anko dengan air mata yagn mengalir deras. Dengan terpaksa, Anko mengelus punggung Hinata. "Sudahlah, itu bukan masalah besar. Jika kak Sakura tidak menerimamu, aku masih mau jadi sahabatmu. Sampai kapanpun. Jadi, kau jangan sedih. Jangan memikirkan sesuatu yang tidak penting," nasehat Anko. Ia lalu menyeringai di balik punggung Hinata.
Tak lama kemudian datanglah sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan rumah Sakura. Anko dan Hinata saling berpandangan dengan wajah bingung. "Siapa?" tanya Anko.
Hinata hanya mengedikkan bahunya, tanda tak tahu. Ia sendiri juga tidak tahu siapa di balik mobil mewah tersebut. "Mungkin …" gumamnya tiba-tiba.
Keluarlah sepasang suami istri dari dalam mobil. Seorang wanita anggun dengan mata lavender dan rambut indigo panjang seperti milik Hinata. Di samping wanita anggun tersebut berdiri seorang pria dewasa yang perperawakan gagah dengan mata lavender. "Hin … nata?" panggil wanita itu lirih begitu melihat Hinata.
Wanita itu pun lalu memeluk Hinata. Melepaskannya sejenak untuk melihat wajah Hinata lalu memelukna kembali. "Ya Tuhan! Ini benar-benar kau, Hinata!" pekiknya senang, benar-benar senang. Lalu ia mengeluarkan air mata haru dari pelupuk matanya.
"Tunggu! Anda siapa?" tanya Hinata mencoba melepaskan pelukan wanita itu.
"Ini aku. Ibumu. Apa kau tidak ingat?" tanya ibu Hinata—Ikari. Hinata hanya menggeleng lemah. "Apa yang telah dilakukan keluarga Haruno padamu, Hinata? Hiks!" tanya Ikari lalu menangis, miris dengan nasib putrinya itu. Ia kembali memeluk Hinata dengan erat.
"Kaa-san …" panggil Hinata lirih. Dari kedua matanya keluarlah air mata, air mata kebahagiaan. Setelah sekian lama ia terpisah dengan keluarganya, akhirnya saat ini mereka dipertemukan. Walaupun Hinata tidak bisa mengingat semuanya, namun hatinya terasa lega sekali dan senang. Ia pun membalas pelukan Ikari.
"Aku tidak akan memaafkan mereka …" gumam Ikari geram.
Hinata melepaskan pelukan Ibunya. HIkari tidak paham dengan maksud Ikari, siapa yang dimaksud ibunya dengan 'mereka'? "Ma-maksud Kaa-san siapa?" tanyanya.
"Keluarga Haruno. Aku akan membalasnya. Mereka sudah membawamu kabur dan membuatmu jadi seperti ini. aku tidak terima semua ini!" geram Ikari.
"Maksud Kaa-san apa?" tanya Hinata masih belum mengerti.
"Mebuki, Kizashi—orang tua Sakura. mereka sudah merebutmu dari kami. Aku tidak tahu pasti apa alasan mereka, tapi aku tetap saja tidak bisa membiarkan mereka begitu saja. Mereka sudah memisahkan kita. Dan kini, tinggal Sakura. aku akan menghancurkannya," ucap Ikari penuh dengan kebencian.
"Tapi—" Hinata hendak menghalangi niat ibunya tersebut tapi Ikari berkata bahwa dirinya tidak boleh lemah.
"Ingat, Hinata! Mereka adalah orang jahat. Jadi, jangan pernah merasa kasihan dengan mereka. Jika mereka sudah membuat keluarga kita terpecah, mereka akan mendapat penderitaan yang lebih dari semua yang telah kita alami!"
"Ohya, Kaa-san. Apa tadi kak Sakura benar-benar ke rumah Kaa-san?" tanya Hinata.
"Jangan lagi sebut ia kakak, Hinata!" perintah Ikari. "Ya, bahkan aku sudah memberinya hadiah pembukaan!" jawab Ikari dengan seringai. "Ya sudahlah. Ayo cepat bereskan barang-barangmu dan kita pergi dari rumah jelek ini!" ajak Ikari.
"Iya, Kaa-san," jawab Hinata.
_Takdir Sakura_
Flashback On
"Ne-Neji!?" pekik Sakura terkejut kala pintu di depannya dibuka dan berdirilah seorang laki-laki yang ia kenal, yaitu Neji Hyuuga.
Tentu saja ini membuat Sakura kaget dan bingung. Ia hanya mengikuti alamat yang tertera di akta lahir Hinata. Bagaimana bisa Neji ada di dalam rumah ini? yang kemungkinan besar adalah rumah keluarga Hinata yang sebenarnya.
Sakura melangkah mundur dan melihat nomer rumah, hanya untuk memastikan. Tapi tidak ada kesalahan. Ini benar kediaman Hyuuga. "Ini benar rumahnya, tapi kenapa …" Sakura kembali beralih pada Neji.
"Sakura, kenapa kau bisa tahu rumahku?" tanya Neji. "Dan ada perlu apa sehingga kau mau repot-repot datang kemari?" tanyanya lagi.
Sakura semakin tidak mengerti. Bahkan kerutan di keningnya semakin bertambah. Kalau Neji tinggal di rumah ini, berarti … "Neji Hyuuga?" gumam Sakura menunjuk Neji. Neji tidak mengerti maksud Sakura. ia hanya mengangguk bingung.
"Neji, siapa yang datang?" tanya sebuah suara wanita dari dalam rumah.
"Teman Neji, Kaa-san!" jawab Neji sambil menengok ke belakang sejenak.
"Suruh masuk, dong! Masa' dibiarin di luar gitu!" perintah Ibu Neji.
"Ahya! Ayo masuk, Sakura!" Neji kemudian mempersilahkan Sakura masuk.
Sakura mengangguk lalu ia pun masuk. Sakura berdecak kagum dalam hati saat melihat rumah besar nan mewah milik keluarga Hyuuga. Ini lebih pantas disebut istana. Begitu ia masuk, ia berpapasan dengan Ikari—ibu Neji—yang sudah rapi untuk pergi.
"Kaa-san mau kemana?" tanya Neji yang melihat ibunya.
"Kaa-san mau meeting dulu," jawab Ikari. "Ohya, bawa temanmu masuk dan buatkan minuman. Perlakukan dengan baik, ok?" tambah Ikari sambil tersenyum.
"Ok!" jawab Neji mengacungkan jempolnya.
"Anggap saja rumah sendiri," ucap Ikari pada Sakura. "Maaf, tidak bisa menemanimu berbincang," tambahnya dengan senyum ramahnya. Ikari lalu berjalan melewati Sakura.
"Tunggu, Bibi Ikari!" cegah Sakura sebelum Ikari melangkah lebih jauh. Ia membalikkan badanya menghadap Ikari. Begitu pula dengan Ikari. "Saya, Haruno Sakura!" akunya dengan tegas.
Sontak Ikari pun terkejut. 'Haruno', marga yang sangat ia kenal, yang juga ia benci. Ikari lalu berjalan mendekati Sakura.
Plak!
"Kaa-san!" seru Neji kaget dengan apa yang telah ibunya lakukan pada Sakura. Ikari menampar pipi Sakura dengan kerasnya hingga pipi putih Sakura memerah dan terasa panas. "Apa yang Kaa-san lakukan?" tanya Neji bingung.
"Kau … Mana Hinata!? Kalian sembunyikan dimana anakku, ha!?" jerit Ikari dengan emosi.
"Hinata?" gumam Neji bingung. 'Apa hubungan Sakura dengan Hinata?' tanyanya dalam hati. Ia benar-benar tidak mengerti dengan situasi ini. "Sakura, apa maksud semua ini? Lalu, apa hubunganmu dengan Hinata-adikku?" tanya Neji tidak sabaran.
Sakura beralih memandang Neji. "Aku adalah anak dari Mebuki dan Kizashi. Orang yang telah membawa kabur Hinata saat ia masih kecil," jawab Sakura dengan seringai.
"Sakura …" Neji terlihat begitu terkejut. Ini benar-benar sulit dipercaya. Sakura yang ia kenal bukan orang yang seperti ini.
"Kau kemanakan putriku!?" teriak Ikari yang hendak mendekati Sakura untuk menamparnya lagi, namun Neji mencoba menahan ibunya tersebut.
Sakura lagi-lagi menyeringai. "Tenang, Nyonya Hyuuga! Putri Anda masih sehat," ucapnya mendekati Ikari. "Hanya saja ia tidak mengingat kalian semua, keluarganya yang sebenarnya …" Sakura mencoba memancing emosi Ikari dan Neji.
"KAU APAKAN HINATA!?" teriak Ikari murka. Ingin rasanya ia mencabik-cabik wajah Sakura, namun tindakannya lagi-lagi dihalangi oleh Neji.
Set.
PLAAK!
Tiba-tiba ada orang yang menarik Sakura dari belakang lalu menampar pipi kiri Sakura, pipi yang tadi juga ditampar oleh Ikari. Pipi Sakura semakin panas, bahkan Sakura merasakan nyeri di sudut bibirnya saking kuatnya tamparan orang tersebut.
"Tou-san!" Neji begitu terkejut. Ternyata yang menampar Sakura adalah ayahnya, Hisashi Hyuuga.
"Kalian keluarga iblis!" geram Hisashi menahan amarahnya.
Sedangkan Sakura malah menyeringai. Ia bahkan tidak terlihat kesakitan sedikitpun, ia malah menjilat darah yang keluar dari tepi bibirnya. "Tapi kalian tenang saja. Karena sekarang saya sudah tidak membutuhkan Hinata lagi. Jadi, saya akan mengembalikan putri kalian yang tidak berguna itu," ucapnya.
Hisashi dan Ikari hendak memberi pelajaran lagi pada Sakura, tapi Neji segera melindunginya. "Sebaiknya kau cepat pergi dari sini, Sakura!" bisiknya menyuruh Sakura segera pergi sebelum kedua orang tuanya berbuat lebih jauh dari ini.
"Neji! Apa yang kau lakukan!? Keluarganya sudah menculik Hinata!" seru Ikari.
"Tapi Kaa-san tidak boleh berbuat seperti ini padanya!" kata Neji membela Sakura. "Ayo, Sakura. kau harus cepat pergi!" bujuk Neji lagi.
"Tenang. Aku juga akan segera pergi, kok. Aku hanya ingin menyerahkan ini," ujar Sakura lalu menyerahkan secarik kertas yang bertuliskan alamat Sakura. "Cepat jemput parasit itu! Sebelum dia lebih merepotkanku!" perintahnya.
"Iblis!" maki Ikari hendak menyerang Sakura, namun ditahan Neji.
Sakura hanya menyeringai kemudian keluar dari rumah mewah Hyuuga.
"Orang tuamu mana, ha!? Mereka pengecut! Hanya menyuruhmu untuk menghadapi kami!" seru Ikari dengan nada mengejek.
Sakura menghentikan langkahnya. "Mereka … sudah ada di surga, istirahat dengan tenang," jawabnya dengan seringai ... ah bukan! Ini sebuah senyum, senyuman bangga.
"Surga?" kekeh Ikari. "Orang seperti kalian tidak akan bisa masuk surga! Kalian hanya pantas di neraka!" maki Ikari.
"Jadi mereka sudah mati?" tanya Hisashi dengan nada senang. "Baguslah. Kami ikut bersuka cita," ejeknya.
Sakura tidak memperdulikan kata-kata Ikari dan Hisashi dan segera melangkahkan kakinya segera pergi dari tempat itu. 'Maafkan putrimu ini yang sudah mengotori nama baik kalian, Ayah … Ibu,' gumam Sakura dalam hati.
Flashback Off
_TBC_
Celoteh Author!
Ya lumayan lama lah… hehe… maaf ya #nunduk
Soalnya baru asyik baca komik #plak dan juga belanja komik online….hahaha
Ternyata asyik juga ya, tapi kadang ada yang gk sesuai harapan sih T.T
#malah curhat
Chapter ini aku buat panjang untuk menebus segala ketelatan dan kependekan chapter-chapter sebelumnya. Semoga tidak tambah mal ya…hehe
Chapter ini juga ada SasuSaku-nya. Bagaimana menurut kalian? Kurang kah? Sudah lumayan romantis belum?
Akhir kata, mohon review-nya
Satu kata dari Anda, sangat berarti bagi saya
Balasan Review:
Dian-chan: ini kurang panjang belum..hehe.. maskih atas review-nya
Kakaru S.S: ini udah update… makasih udah review
Sami haruchi: iya ini udah panjang…kurg gk? Makaish udah mau baca n review
Hayama Ayumu: ini udah update secepat mungkin dan sepanjang mungkin.. kurang kah? Makasih udah mau baca n review
Hanna Aiko: ah bukan disuruh ibunya kok, itu kemauannya sendiri… mau tau alesannya? Ikuti terus chapter2 selanjutnya.. #promosi. Makasih udah mau baca n review
Rya Kurogane: udah update… makaish udah mau baca n review
Terima kasih untuk semua pembaca! ^_^
N
KEEP SMILE!
Klaten, 17 April 2013, 10.15
_Naumi Megumi__
