Takdir Sakura

Chapter 7


Author : Naumi Megumi

Pairing : SasuSaku, NaruHina, and other

Rate : T

Genre: Hurt, Angst, Drama, Humor, Romance, Family

Disclaimmer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning:

OOc banget, AU, Gaje, Alur berantakan, Typo, miss typo, abal, ide pasaran, minimnya diskrip, UPDATE Tak Tentu! Pokoknya amburadul! dan silahkan FLAME jika memang fic-ku ini benar-benar memuakkan! ^_^


Summary:

Temari dan Shikamaru akan pergi ke luar Negeri sehingga mereka mengutus seorang anak SMA untuk mengurusi kedai 'merepotkan'. Pesta perpisahan pun dirayakan di kedai. Di sinilah usia sasuke yang sebenarnya baru diketahui.

Neji yang ingin bertemu dengan sakura untuk meminta penjelasan tentang masalah keluarganya, tiba-tiba di jalan ia mengalami kecelakaan. Lalu, bagaimanakah nasib Neji?


Mari bersama sama kita teriak 'Uye!'

Uye! \(o.o)/

Kalau nggak suka, nggak usah baca, ya! Ntar mual lho!

Jangan Lupa RnR-nya, ya!

Balasan Review ada di bawah, ya

So, Enjoy It!


Chapter Sebelumnya:

Ternyata Hinata dari keluarga Hyuuga. Yang berarti Hinata dalah adik kandung Neji Hyuuga, teman sekolah Sakura. Menurut pengakuan Sakura, orang tua-nya lah yang membawa kabur Hinata saat masih kecil. Apa benar? Dan sekarang, Hinata menjadi benci pada Sakura.


TAKDIR SAKURA

Chapter 7

Sakura mengusap darah yang ada di bibirnya dengan tisu. Tak lama kemudian ponselnya berdering. Sakura segera melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Moshi-moshi, Temari-san," jawabnya begitu ia menekan tombol answer di ponselnya.

"Hey, Sakura," sahut Temari begitu mendengar jawaban Sakura.

"Bukankah tadi—"

"Bukan masalah kerja, kok," potong Temari. Sakura mengernyitkan keningnya. Kalau bukan masalah kerja, lalu masalah apa? "Jadi, aku dan Shikamaru akan ada bisnis di luar negeri. Karena besok kita berangkat, sekarang kita buat pesta perpisahan di kedai," jelas Temari. "Aku ingin kau juga ikut dengan kami. Kau mau datang, kan Sakura?" tanyanya penuh harap.

"Err…" Sakura berfikir sejenak. 'Mungkin saja orang tua Hinata juga sedang menjemputnya, jadi lebih baik aku ke kedai saja,' batinnya. "Baiklah, aku akan segera kesana," jawab Sakura akhirnya.

"Ok! Aku tunggu!" jawab Temari semangat.

Begitu sambungan telepon terputus, Sakura segera melangkahkan kakinya menuju kedai kopi.

-Takdir Sakura-

"Kalian mau pergi begitu saja? Meninggalkan kedai ini?" tanya Sasori tidak terima.

Saat ini semua orang penghuni kedai 'merepotkan' sudah berkumpul, termasuk Sakura yang tadi ditelfon Temari. Mereka di sini untuk mendengarkan alasan yang sesungguhnya kenapa Temari dan Shikamaru akan pergi meninggalkan kedai dan sekaligus untuk perpisahan mereka.

Tapi anehnya, kenapa Sasuke juga ikut dalam rapat ini? Sakura melirik Sasuke yang duduk berseberangan dengannya. 'Dia benar-benar orang yang suka ikut campur urusan orang,' batinya.

"Sebenarnya ini sangat merepotkan, tapi Ayahku menyuruh untuk meneruskan usahanya yang ada di luar Negeri," sahut Shikamaru.

"Lalu kenapa Temari-san juga ikut?" tanya Sakura.

"Kau ini bagaimana, Sakura! Tentu saja Temari ikut, dia kan calon istri Shikamaru. Harus mendampingi sang calon suami, kan?" sahut Sasori. Sedangkan Temari hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Tapi tenang saja. Kedai ini masih tetap berjalan, kok. Nanti adikku yang akan mengawasinya," tambah Temari. "Jika kalian ada sesuatu yang dibutuhkan atau apa, kalian bisa langsung bilang saja padanya. Walaupun dia masih anak SMA, dia orang yang bertanggung jawab, kok," ucap Temari mempromosikan.

Mendengar pernyataan Temari barusan membuat semua orang kaget. Bagaimana bisa mereka dipimpin oleh anak yang lebih muda dengan mereka. Bukan hanya soal umur yang mereka permasalahkan, tapi juga harga diri mereka dipertaruhkan. Mereka, orang dewasa harus tunduk dibawah kekuasaan seorang anak SMA?! Bagaimana bisa?

"Apa kau bercanda? Kau menyuruh seorang anak SMA untuk mengambil alih kedai ini?" tanya Sasori tidak terima.

"Tenanglah Sasori-nii. Mungkin adik Temari-san memang seorang anak SMA seperti aku, tapi siapa tahu dia lebih serius dibandingkan kau?" sindir Sakura sambil tersenyum.

Sasori hanya merengut dan memalingkan wajahnya saat melihat kawan-kawannya yang lain juga tertawa mendengar sindiran Sakura. "Uh!"

"Hahaha… bercanda, Sasori-nii," hibur Sakura. "Tapi kan kita tidak boleh mengukur kemampuan seseorang dari tingkat pendidikannya atau umur, kan?" tanya Sakura mencoba membujuk Sasori.

"Tapi…"

"Kita lihat saja seberapa kemampuannya nanti. Setelah itu, kita baru bicara lagi. Ok?" tawar Sakura mencoba memberi solusi.

Sasori berfikir sejenak. "Baiklah, Sakura-chan." Akhirnya Sasori menyetujui usulan Sakura. Sasori memandang Sakura yang ada di samping kanannya dengan mata yang berbintang. "Kau memang anak SMA yang luar biasa, Sakura," pujinya. Sedangkan Sakura hanya tersenyum aneh, ia malah aneh dengan pujian Sasori tersebut. "Memang tidak salah aku memilihmu sebagai calon istriku~" ucap Sasori dengan nada manja lalu hendak memeluk Sakura. Tapi untung saja Sakura bisa menghindarinya.

Bruk!

Alhasil, Sasori terjerembab ke lantai dengan tidak elitnya. "Hahaha…." Semua orang yang ada di sana pun tertawa melihat tingkah konyol Sasori, tapi ada satu orang yang hanya memasang wajah datarnya.

-Takdir Sakura-

"Selamat datang… " sambut Neji dengan senyum begitu kedua orang tuanya pulang bersama adiknya tersayang.

Hinata sedikit terkejut saat melihat Neji menyambutnya. "Dia adalah Neji, kakakmu," ucap Ikari yang menangkap ekspresi bingung Hinata. Hinata lalu tersenyum pada Neji. "Aku mempunyai seorang kakak laki-laki?" tanyanya.

"Iya, aku adalah kakakmu yang paling tampan," ucap Neji dengan bangga.

"Ano… memangnya aku mempunyai kakak laki-laki berapa?" tanya Hinata bingung.

Ikari hanya tersenyum geli. "Hanya Neji kakakmu satu-satunya," sahutnya.

Neji hanya cengar-cengir sendiri. "Hehehe… kau masih tetap cantik seperti terakhir kita bertemu, Hinata," ucap Neji.

"Neji-niisan…" gumam Hinata lalu membaur memeluk kakaknya. Dengan senang hati, Neji pun menerima pelukan dari adiknya tersayang tersebut. "Hiks!" Hinata mulai meneteskan air matanya. Andai saja keluarga Sakura tidak memisahkannya dengan keluarganya, pasti kebahagiaan seperti ini sudah ia rasakan sejak dulu, pikir Hinata. "Aku… bahagia bisa bertemu, nii-san. Hiks!" gumamnya sambil terisak.

Neji hanya tersenyum sambil mengelus rambut panjang Hinata dengan lembut. "Aku juga, Hinata…" balasnya.

"Kak, kenapa Sakura jahat pada keluarga kita?" tanya Hinata.

Neji terdiam. Ia melepaskan pelukannya pada Hinata dan menatapnya dengan dalam. "Percayalah, Sakura tidak jahat pada keluarga kita, Hinata," ucapnya mencoba mematahkan pikiran Hinata tentang Sakura yang jahat pada keluarganya.

"Neji! Kau ini apa-apaan!? Keluarga Sakura itu sudah jahat pada keluarga kita, tapi kenapa kau selalu membelanya?" tanya Ikari yang tidak habis pikir. Jelas-jelas keluarga Sakuralah yang membuat keluarga mereka terpecah dan mereka pula lah yang membuat Hinata hilang ingatan. Bukti apa lagi yang dibutuhkan Neji agar ia bisa mengakui bahwa Sakuralah yang telah menghancurkan keluarganya.

"Benar apa yang dikatakan Ibumu. Dia sendiri sudah mengakuinya," tambah Hisashi yang menambah runyam masalah.

Neji lelah dengan semua keluarganya. Hanya ada sisi negatif yang mereka pandang dari Sakura. Mereka bahkan tidak pernah mengakui bahwa Sakuralah yang selama ini telah merawat Hinata sampai sekarang. "Terserah kalian!" Neji lalu pergi meninggalkan ruang keluarga. Ia lelah berdebat dengan keluarganya yang selalu saja pendiriannya tidak bisa digoyahkan.

-Takdir Sakura-

Sakura memadang orang yang ada di sekitarnya dengan pandangan bosan. Mereka minum wine dan ber sesuka mereka, kecuali Sasuke dan Naruto. Entah kenapa mereka tidak minuman yang digemari oleh orang dewasa tersebut.

Sedangkan Sakura sudah menghabiskan 3 kaleng orange juice. Kini perutnya mulai kembung. Sebenarnya ia juga tidak minat jika ditawari minum minuman beralkohol tersebut, karena ia tahu minuman itu tidak baik untuk kesehatan. Kesehatannya yang rapuh akan menjadi semakin rapuh jika ia meminumnya. "Pesta perpisahan ini sama sekali tidak mengasikkan," ucap Sakura terang-terangan.

"Hehe… kalau gitu bagaimana jika kita adakan permainan?" usul Sasori yang sedikit sudah mabuk.

Semua terlihat bingung. "Ya! Aku setuju!" tiba-tiba Temari berseru menyetujui dengan semangat.

"Baiklah!" ucap Sasori. Sasori lalu mengambil sumpit sejumlah peserta permainan. Ada dirinya, Temari, Shikamaru, Sakura, Naruto, dan Sasuke. Total ada 6 orang. Lalu ia menomori 2 sumpit, no 1 dan nomer 2. Ia mengambil satu gelas gelap, kemudian kembali ke tempat semula.

"Dalam gelas ini ada 2 sumpit yang sudah kuberi nomer 1 dan 2. Dan siapa nanti yang mendapat nomer 2 harus menuruti perintah, pernyataan atau menjawab pertanyaan si pemegang nomer 1. Bagaimana? sudah jelas?" tanya Sasori usai memberikan penjelasan tentang peraturan permainan.

"Baik!" seru semua orang kecuali Sasuke dan Sakura.

"Baiklah, ayo kita mulai. Dalam hitungan ketiga, semua mulai mengambil sumpit satu lalu tunjukkan pada semua orang, siapa yang mendapat nomer 1 dan 2," ucap Sasori mulai bersiap.

"Satu… " semua orang bersiap. Sasori melirik satu persatu peserta pemain. Berbagai ekspresi mereka keluarkan. Dari Shikamaru yang sesekali menguap dan sesekali juga harus mengaduh saat Temari menjitak kepalanya. Lalu Naruto, ia berwajah sangat serius. Seolah-olah takut jika makanan favoritnya diambil orang. Kemudian Sakura, dengan santai ia bertopang dagu sambil bersiap. Sedangkan Sasuke, ia malah senyum-senyum sendiri sambil memandang Sakura.

Sasori yang melihat mereka semua hanya senyum-senyum gaje. "Tiga!" serunya tiba-tiba sehingga membuat peserta kaget. Dengan segera mereka mengambil batang sumpit satu-satu.

Senyum yang dari tadi dipajang Sasori kini luntur saat melihat sumpitnya bernomer 2.

"Aku nomer 1," ucap Shikamaru dengan cuek. Lalu semua orang yang ada di sana saling berpandangan untuk mencari orang yang bernomer 2. Sasori lalu menunjukkan sumpitnya yang bernomer 2. Seketika senyum Shikamaru pun mengembang. Sasori menelan ludah saat melihat senyum Shikamaru yang aneh tersebut.

Perlahan Shikamaru mendekati Sasori. Yang lain hanya memadang Sasori dan Shikamaru dnegan pandangan yang bingung dan penasaran dengan apa yang akan dilakukan boss mereka.

Shikamaru memegang dagu Sasori lalu memandang wajah Sasori dengan intens. "Setelah dilihat-lihat, ternyata kau cantik juga, ya Sasori-chan…" ucap Shikamaru sambil tersenyum. Firasat Sasori benar-benar tidak enak. Apa maksud kata-kata Shikamaru barusan? Jangan-jangan dia gay! Dan dia meminta Sasori jadi pacarnya? Atau yang lebih parah, Shikamaru meminta cium dari Sasori? Itulah segala kemungkinan buruk yang sedang Sasori takutkan.

Sasori mencoba melepaskan diri dari Shikamaru. "Naruto, pegangi Sasori!" perintah Shikamaru yang segera dijalankan oleh Naruto. Naruto berjalan memutari meja dan memegangi Sasori dari belakang.

Sakura yang merasa tempatnya semakin terdesak lalu pindah ke tempat yang kosong, yaitu tempat awal Naruto yang tentu saja di samping Sasuke.

"Tenang, ini tidak akan lama," gumam Shikamaru dengan nada mengerikan di pendengaran Sasori.

"Tolong, jangan cium aku!" mohon Sasori. Tentu saja permohonannya tersebut membuat gelagak tawa semua teman-temannya, termasuk Sakura. Ia benar-benar tertawa. Bahkan perutnya terasa sakit.

"Hahaha…"

Pletak!

"Aw!" pekik Sasori yang mendapat hadiah jitakan dari Shikamaru. "Kau kira aku ini pria apaan mau mencium seorang pria?" kesal Shikamaru.

"Hahaha…. Sasori Sasori… Walaupun tunanganku ini gay, aku tidak akan membiarkannya untuk memilihmu!" tambah Temari bercanda. Shikamaru memandang Temari tajam. "Hehehe… bercanda…" cengir Temari.

Shikamaru lalu kembali fokus pada Sasori. Ia mengeluarkan sebuah lipstik merah yang entah darimana datangnya. "Karena kau sudah mengataiku gay, jadi akan kupertebal lisptiknya," gumamnya horor.

"Kyaa… mmm… mmm…." Jerit Sasori yang mulai dipolesi dengan lipstik.

Begitu Shikamaru selesai melipstiki Sasori, ia pun kembali ke tempat asalnya. "Hey! Jangan dihapus sebelum permainan ini selesai!" cegahnya saat Sasori hendak menghapus lipstiknya.

"Tapi…"

"Yang usul permainan ini kan kau sendiri. Masa kau sendiri yang tidak sportif," ucap Shikamaru menyeringai sedangkan Sasori terus saja menggerutu dan mengutuki boss-nya tersebut.

"Hahahaha… kau sangat cantik, Sasori!" tawa Naruto terbahak-bahak.

"Apa!? Awas kau!" Sasori hendak membalas Naruto tapi Naruto sudah lari terlebih dahulu dan kembali ke tempatnya semula dengan menggeser duduk Sakura, sehingga Sakura semakin dekat dengan Sasuke.

"Hahaha… kawai~" tawa Temari dengan mata berbinar.

"Huh! Kalian! Awas saja. Aku akan membalas kalian!" ancam Sasori.

"Hummpp— kalau kau cantik seperti itu, aku mau jadi adikmu," ucap Sakura sambil tertawa lepas. Seketika Sasuke menoleh ke samping kananya dan melihat Sakura yang tertawa. Ia jarang sekali melihat Sakura tertawa seperti ini.

"Iiih~ Sakura-chan, aku kan ingin jadi suamimu, bukan sekedar kakak~" rajuk Sasori.

"Sudah! Jangan ngawur! Sakura tidak akan mau jadi istrimu. Kau bukan tipenya," ejek Shikamaru.

Sasori langsung memajukan bibirnya beberapa centi, sedangkan Sakura tidak bisa berhenti tertawa karena geli melihat wajah Sasori.

"Kita mulai lagi permainannya!" seru Shikamaru dengan semangat. Sekarang justru yang terlihat semangat malah Shikamaru.

Permainan kembali dimulai. Dan yang mendapat sumpit bernomer 1 adalah Temari, sedangkan bernomer 2 adalah Shikamaru.

Terlihat Temari menyeringai, lalu tiba-tiba ia mencium bibir Shikamaru dengan beraninya. Saat Temari hendak melepaskan ciumannya, Shikamaru justru menahan kepala Temari agar tidak menjauh. Shikamaru semakin memperdalam ciumannya.

Kesalahan besar bagi Temari. Awalnya ia hanya ingin menggoda tunangannya, tapi kini malah ia yang terjebak.

"Waow!" pekik Sasori yang ada di samping Temari dan Shikamaru.

Sedangkan Naruto, ia hanya menganga takjub dan heran melihat adegan dewasa tersebut. Kalau Sakura? ia tidak bisa melihat apa-apa karena matanya sudah ditutup dengan telapak tangan Sasuke. "Anak di bawah umur tidak boleh melihat ini," bisiknya.

"Lepaskan aku, guru ayam!" kesal Sakura yang terus berusaha melepaskan tangan Sasuke, tapi sulit sekali.

"Wait wait wait!" seru Sasori lalu memisahkan sepasang kekasih itu sebelum mereka berbuat lebih. Walaupun sempat kesusahan ia memisahkan 2 orang yang sedang terbakar birahi, tapi akhirnya ia berhasil memisahkan Shikamaru dan Temari dengan bantuan Naruto.

"Kami tahu kalian akan menikah, tapi jangan mengumbar ke'hot'an kalian di depan umum, dong," gerutu Sasori. "Apalagi di depan Sakura-chan yang masih di bawah umur," tambahnya sambil melirik Sakura yang sudah terbebas dari tangan Sasuke.

"Kalian lanjutkan saja permainannya tanpa kami," ucap Shikamaru lalu menggandeng Temari ke lantai 2 kedai.

"Dasar kalian, mentang-mentang mau menikah. Huuu…" cibir Sasori.

Permainan kembali dimulai tanpa Shikamaru dan Temari. Yang mendapat no. 1 adalah Sasuke, no. 2 adalah Sakura. tanpa aba-aba Sasuke mengambil posisi tidur berbantalkan paha Sakura.

"Hey hey hey! Apa-apaan itu?!" protes Sasori.

"Guru ini apa-apaan, sih?" Sakura juga ikut protes.

"Aku minta Sakura jadi bantalku. Apa itu menyalahi aturan?" tanya Sasuke sambil tersenyum ke arah Sakura, sedangkan Sakura hanya melotot ke arahnya.

Sasori menggaruk kepalaya yang tidak gatal. "Tidak juga, sih. Tapi…"

"Ah sudahlah! Cepat kita mulai lagi!" perintah Naruto.

Semua kembali bersiap untuk mengambil sumpit.

"Aha! Aku nomer 1!" seru Sakura girang. Entah sejak kapan Sakura mulai menikmati permainan ini. Ia melihat teman-temannya, siapa yang mendapat nomer 2. "Kau dapat nomer 2, guru?" tanyanya saat melihat sumpit Sasuke. Sasuke hanya mengangguk.

Seketika senyum Sakura mengembang. Ia mempunyai sebuah ide yang sejak dulu ingin sekali ia lakukan. "Aa... sebentar, aku mau ambil sesuatu," ijinnya sambil mengangkat kepala ayam Sasuke untuk menyingkir dari pahanya sebentar. Ia lalu berdiri dan meninggalkan teman-temannya.

Sasori, Naruto dan Sasuke hanya saling berpandangan bingung. Sebenarnya apa yang akan ia lakukan? "Teme, jangan-jangan Sakura-chan mau membunuhmu!" pekik Naruto harap-harap cemas mengambil kesimpulan sendiri. "Selama ini kan kau selalu mengganggu kehidupannya."

Pletak!

"Aw!" Sasuke menjitak kepala Naruto dengan kejamnya. "Jangan sembarangan kalau bicara, ya!" Naruto hanya mengelus kepalanya yang tadi dijitak oleh Sasuke sambil sesekali meringis.

Tak lama kemudian Sakura kembali dengan membawa sisir dan segelas air putih di kedua tangannya. Semua tentu saja bingung. Apa yang akan Sakura lakukan dengan sisir itu. Sakura kembali duduk di samping Sasuke. "Guru, diam aja, ya!" intruksinya.

Sakura mencelupkan jarinya ke dalam gelas air yang di bawanya tadi. Lalu ia membasahi rambut Sasuke. "Hey! Apa yang kau lakukan dengan rambutku?" protes Sasuke begitu ada firasat yang kurang enak saat rambut ayamnya disentuh oleh Sakura.

"Jujur saja, guru. Aku sebenarnya kurang suka dengan model rambut guru," jawab Sakura terus terang. "Karena itu, aku mau mengubahnya," tambahnya.

Sasuke hendak menghindar, tapi tangan Sakura buru-buru melingkar di leher Sasuke sehingga ia tidak bisa bergerak. "Guru tenang saja, ini tidak akan lama, kok," kata Sakura dengan seringai.

"Cks!" Sasuke hanya bisa berdecih jengkel. Ternyata muridnya ini bisa sangat menyebalkan. Sakura pun mulai menekuni aktivitas barunya.

Naruto dan Sasori hanya saling berpandangan sambil menunggu hasil akhir Sakura. Dan akhirnya setelah beberapa menit Sakura berkutat dengan rambut ayam Sasuke, ia berhasil meluruskan rambut Sasuke, apalagi bagian pantat ayamnya.

Setelah selesai, Sakura memandang Sasuke dari depan. Ia memandang wajah Sasuke dengan teliti. "Ehm.. lumayan. Kalau dilihat-lihat, guru kelihatan masih muda, ya?" katanya sambil tersenyum.

"Hammph—hahaha…." Seketika tawa Naruto pun meledak.

"Hahaha…" Sasori pun ikut tertawa.

Sasuke merasa tidak enak, ia pun segera berdiri dan bercermin. "Kenapa rambutku jadi kayak gini!?" tanyanya syok begitu melihat rambut pantat ayamnya sudah lenyap tak berbekas. Seketika Sasuke melirik Sakura meminta pertanggung jawaban.

Sakura nyengir, "Sekali aja. Kan aku yang menang." Sakura mencoba mencari alasan agar Sasuke tidak marah padanya. "Tapi lumayan lho, beneran, deh. Yah, walau aku baru sadar ternyata lebih gantengan yang awal," gumamnya.

"Hahaha…" tawa Naruto kembali meledak.

"Berani ketawa lagi, aku…" Sasuke siap-siap mendekati Sasuke. Dengan buru-buru Naruto segera menghindar.

"Sebenarnya aku bukan ketawa karena model rambut teme yang sekarang, tapi… aku ketawa karena waktu teme menata rambutnya yang model ayam itu aja sampe sejam, tapi sekarang Sakura-chan malah merubahnya hanya dengan hitungan menit. Hahaha… padahal teme bener-bener frustasi saat menata rambutnya yang tak kunjung berbentuk pantat ayam itu… hahaha…. Aku benar-benar ingin tertawa…hahahaha…!" Naruto tertawa lagi setelah selesai menjelaskan alasan kenapa ia tertawa.

"Coba sekali lagi ketawa!" ancam Sasuke lagi benar-benar mendekati Naruto. "Waaa!" pekik Naruto lari menghindari Sasuke yang hendak membunuhnya.

Ya walaupun Sasuke agak kesal juga sih karena model rambutnya diacak-acak Sakura, tapi ia tidak marah. Bahkan ia sedikit seang karena Sakura mulai bisa menerima keberadaannya yang sebelumnya sikap Sakura benar-benar dingin padanya.

"Hahaha…." Sakura dan Sasori pun ikut tertawa.

Pletak!

"Hey! Kenapa kau menjitakku!" protes Sasori yang kepalanya dijitak Sasuke.

"Karena kau menertawakanku," jawab Sasuke santai seolah tak bersalah.

Dengan adanya Sasori, Naruto untuk sementara bisa selamat. Sasuke kembali duduk di samping Sakura. dan untuk jaga-jaga, Naruto duduk di samping Sasori.

"Ohya satu lagi. Sebenarnya teme itu memang masih muda," ucap Naruto. Semua terdiam, belum mengerti maksud Naruto. "Ya, sebenarnya teme itu masih seumuran denganmu, Sakura-chan. Teme masih berumur 18 tahun," lanjutnya.

"HA!?" pekik Sasori lalu melihat ke arah Sasori.

Sakura melirik Sasuke curiga. Lalu ia mencoba meraih kantong celana Sasuke untuk mengambil dompetnya. "Sini dompetmu!" paksanya. Akhirnya ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Sakura mengambil kartu identitas Sasuke dan membacanya dengan seksama. Tahun kelahirannya sama dengan tahun kelahirannya. "Aha! Sekarang aku tahu! Ternyata kau juga seumuran denganku!" pekiknya sambil melihat Sasuke.

"Jadi, baru saja aku dijitak oleh anak ingusan yang baru berumur 18 tahun!?" pekik Sasori tidak terima karena harga dirinya diinjak-injak oleh orang yang lebih muda darinya.

Sakura menoleh pada Sasori. Ia malah tersenyum sendiri karena melihat ekspresi Sasori yang lucu. "Nggak perlu segitunya kali!" sahut Sakura. Sasori hanya memanyunkan bibirnya.

Walau bagaimanapun Sasori tetap tidak terima. Sasori merangkak di atas meja mendekati Sasuke.

Pletak!

"Hey!" protes Sasuke karena baru saja Sasori menjitak kepalannya.

"Pembalasn dariku. Dasar bocah!" kata Sasori sambil tersenyum puas. Sedangkan Naruto hanya tertawa melihat kejadian itu. Seketika Sasuke melotot ke arah Naruto, sahabat yang mengkhianatinya.

"Ah, iya!" pekik Sakura begitu menyadari urusannya pada Sasuke belum selesai. "Jadi, aku tidak perlu sungkan lagi padamu. Hah~ leganya," ucapnya sambil menghela nafas lega.

"Tapi aku tetap gurumu," kata Sasuke.

"Hanya di sekolah. Weekk!" Sakura menjulurkan lidahnya ke arah Sasuke. malam ini Sakura benar-benar gembira. Segala kesedihannya tadi seolah menguap entah kemana.

-Takdir Sakura-

Dengan pikiran yang penuh dengan pertanyaan, Neji memandang sebuah buku kartu ATM dengan secarik kertas yang berisi tulisan tangan Sakura. "Sebenarnya apa maksud Sakura?" gumam Neji. Di kertas tersebut tertulis ID dan nomer PIN ATM. Sakura juga menuliskan 'itu hak Hinata'. "Apa maksudnya, sih?" Neji benar-benar tidak mengerti maksud Sakura yang sebenarnya. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Sakura, tapi apa?

"Aku harus bertemu dengan Sakura!" Neji hendak berdiri dari kursinya saat pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.

Tok tok tok

"Ya, masuk!" sahut Neji yang duduk di kursi belajarnya. Ia segera membereskan kertas dan kartu dari Sakura dan memasukkannya kedalam dompetnya.

Kemudian masuklah seorang gadis yang bermata sama dengan Neji. "Kak Neji, aku ganggu nggak?" tanya Hinata saat kepalanya menyembul masuk kamar.

Neji tersenyum pada adiknya tersebut. Walaupun ia sedikit kesal dengan sikap Hinata yang menyalahkan Sakura, tapi tetap saja ini semua bukan salah Hinata. Ia hilang ingatan, jadi ia juga tidak ingat apa yang terjadi 8 tahun yang lalu. "Tidak, ada apa?" tanyanya lembut.

Hinata berjalan mendekati Neji dan duduk di tepi ranjang kakaknya tersebut. "Aku seneng bisa bertemu kembali dengan kak Neji. Walaupun aku masih belum ingat, aku benar-benar senang mempunyai sebuah keluarga yang hangat seperti ini," ujarnya pelan dengan mata yang berkaca-kaca. Ia juga belum pernah merasakan hangatnya kasih sayang seorang ayah.

Neji mendekati Hinata dan ikut duduk disamping Hinata. Ia memeluk adiknya tersebut dengan lembut. "Aku juga senang. Aku sangat senang keluarga kita bisa utuh kembali," gumamnya.

"Aku sayang pada kak Sakura, tapi kenapa mereka tega pada keluarga kita, kak?" tanya Hinata.

Neji mengendurkan pelukannya pada Hinata. Neji benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Hinata. Ia harus berapa kali bilang padanya bahwa Sakura tidak sejahat yang ia pikirkan. "Hinata, aku tahu kau belum bisa menerima semua ini. tapi kumohon, jangan menyebut Sakura jahat," pintanya.

Hinata mengusap air matanya. Ia sekarang mulai jengah dengan kakaknya ini. Bagaimana ia masih menganggap Sakura baik setelah apa yang sudah Sakura perbuat pada keluarganya? "Baiklah. Baiklah. Terserah kak Neji saja. Tapi, aku akan membuktikan bahwa Sakura memang jahat," kata Hinata lalu pergi meninggalkan kamar Neji.

Neji terlihat bimbang. Beberapa kali ia menghela nafas dan beberapa kali pula ia memijat pelipisnya. Ini semua membuat kepalanya pusing. Ia harus menemui Sakura untuk meminta penjelasan. "Ya, aku harus menemui Sakura!" ujarnya mantap lalu keluar dari kamar.

-Takdir Sakura-

Sakura melangkahkan kakinya pelan menuju rumahnya dengan didampingi Sasuke. Sedangkan Naruto, ia dapat jatah mengantar Sasori yang mabuk berat dengan mobil Sasuke.

"Lalu kenapa kau mengikutiku?" tanya Sakura melirik Sasuke yang ada di sampingnya.

"Terlalu berbahaya seorang gadis pulang sendiri. Apalagi ini sudah larut malam," jawab Sasuke cuek sambil terus membenahi rambutnya agar kembali ke bentuk pantat ayam lagi seperti semula.

Sakura sedikit tersinggung dengan ucapan Sasuke yang secara tidak langsung memandang kaum perempuan adalah mahkluk lemah. "Aku bisa jaga diriku sendiri!" ucap Sakura dengan ketus.

"Aku tahu kau perempuan yang kuat." Kata-kata Sasuke yang ini susah dipahami Sakura. "Ehm… sebenarnya ini masalah harga diri seorang laki-laki," bisiknya kemudian. Lagi-lagi Sakura tidak mengerti. Ia hanya menaikkan sebelah alisnya bingung. "Ya, jika ada seorang laki-laki membiarkan seorang perempuan pulang sendiri di malam hari, harga diri laki-laki itu akan jatuh. Kau mengerti?" tanya Sasuke usai menjelaskan.

Sakura tersenyum. Ternyata Sasuke tidak seperti yang ia pikirkan. Ia sudah salah paham rupanya. Ia mengira Sasuke meremehkannya. "Ya, aku akan membantumu untuk menjaga harga dirimu," candanya.

"Ohya, kau tidak marah padaku?" tanya Sasuke.

Sakura menaikkan sebelah alisnya bingung. "Marah kenapa?" tanyanya yang tidak mengerti maksud Sasuke.

"Soal umurku," jawab Sasuke singkat.

Sakura tersenyum sejenak. "Buat apa marah? Lagipula, itu kan hakmu mau mengatakan usiamu atau tidak. Dan aku juga tidak pernah bertanya soal umurmu, kan? Jadi, aku tidak merasa dibohongi. Tapi aku justru merasa lega," kata Sakura sambil tersenyum ke arah Sasuke.

"Kenapa?" tanya Sasuke bingung.

"Karena aku bisa melakukan ini pada orang yang seumuran denganku!" Dengan cepat Sakura mengacak rambut Sasuke yang sudah susah payah ddibentuk Sasuke ke bentuk pantat ayam seperti semula dan karena ulah Sakura, rambut Sasuke menjadi sedikit acak-acakan. Walaupun itu justru menambah ke-cool-an Sasuke.

"Hey!" protes Sasuke. Sakura sudah berlari terlebih dahulu sebelum Sasuke sempat balas dendam padanya. Sasuke tak mengejarnya, tapi hanya tersenyum. Lalu di bibirnya terbentuk sebuah seringai.

"Sakura!" teriak Sasuke keras sehingga orang-orang yang ada di sekitar memperhatikannya. Tentu saja Sakura juga ikut memperhatikannya. Bahkan Sakura sedikit kaget dan malu. Kenapa harus namanya?

Sakura masih terdiam di tempatnya. "Sakura, aku suka padamu!" teriak Sasuke tiba-tiba. Sakura membelalakkan matanya. Apa yang dilakukan guru magangnya ini? Apa Sasuke sudah mulai gila?

Semua orang menatap ke arah Sasuke dan seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari Sasuke. Mereka pasti berfikir itulah perempuan yang bernama Sakura. seketika semua mata memperhatikan Sakura. Karena malu, Sakura hanya bisa memasang senyum canggungnya pada orang-orang yang terus melihat ke arahnya.

"Sakura, aku sayang padamu!" teriak Sasuke lagi. Ia sempat sedikit kesal karena tidak mendapat tanggapan dari Sakura.

Entah kenapa wajah Sakura terasa panas. Ini efek dari orang-orang yang memperhatikannya atau karena ucapan Sasuke padanya? Bahkan sekarang detak jantung Sakura terasa cepat sekali.

Dengan buru-buru Sakura melangkah mendekati Sasuke. "Saku—hamp—" Saat Sasuke hendak berteriak lagi, Sakura segera membungkam mulut Sasuke dengan tangannya.

"Apa kau sudah gila?" bisik Sakura masih belum melepaskan tangannya. Sakura masih memesang senyum canggungnya pada orang-orang yamng masih memperhatikan mereka berdua. "Hehe… maaf," ucapnya sambil menundukkan kepalanya. Sakura dapat merasakan dari telapak tangannya bahwa Sasuke saat ini sedang tersenyum. Sebenarnya apa yang sedang direncanakan Sasuke? Sakura menatap Sasuke dengan curiga.

Kemudian ada seorang nenek-nenek berjalan mendekati Sakura dan Sasuke. Ia tersenyum pada Sakura dan Sasuke. Buru-buru Sakura melepaskan tangannya dari Sasuke. Mereka berdua pun ikut membalas senyuman sang nenek. Sakura dan Sasuke menundukkan kepalanya pada sang nenek. "Maafkan temanku, nek," ucap Sakura.

"Hahaha…" Nenek itu tertawa dengan suara seraknya. "Tidak apa-apa. Pacarmu itu sangat romatis sekali. Aku jadi ingat saat dulu aku masih muda. Hahaha…" ucap sang nenek lalu disusul dengan tawa khasnya. Sasuke dan Sakura saling berpandangan tak mengerti. Nenek tersebut meraih tangan Sakura dan tangan Sasuke. Ia menautkan tangan mereka berdua untuk bergandengan. "Kalian berdua harus rukun-rukun, ya," pesan nenek. Sang nenek beralih melihat ke arah Sasuke yang tinggi sehingga ia harus mendongkkan kepalanya. "Kau harus jaga pacarmu baik-baik," pesannya pada Sasuke.

Sasuke tersenyum senang. "Pasti, Nek. Aku akan—aw!" tiba-tiba kaki Sasuke diinjak Sakura.

"Tapi kami bukan sepasang kekasih, nek!" Sakura mencoba mengklarifikasi semuanya.

"Ahahaha…" sang nenek kembali tertawa. "Aku tahu, dulu aku juga malu saat mengakui kekasihku di depan umum," ucap sang nenek mengambil kesimpulan sendiri.

Kening Sakura penuh dengan kerutan. Ia benar-benar pusing bicara dengan sang nenek. "Tapi—"

"Ah, kau tampan sekali seperti suamiku dulu saat masih muda," ucap sang nenek sambil menyentuh dagu Sasuke. "Dan kau cantik sekali seperti nenek waktu nenek masih muda," ucapnya beralih pada Sakura dan menyentuh pipi Sakura dengan lembut. Sakura dan Sasuke hanya bisa tersenyum lembut pada nenek itu.

"Terima kasih, nek. Do'akan kami agar cepat menikah," celetuk Sasuke sambil tersenyum tanpa dosa. Sedangkan Sakura menatap Sasuke dengan pandangan mematikan.

"Iya, tentu saja," jawab sang nenek. "Kau harus lebih lembut lagi pada calon suamimu, nak," nasehat nenek pada Sakura.

Sakura hanya tersenyum nyengir. "Hehe… iya, nek. Tentu saja aku akan lembut dengannya…" jawabnya sambil memasang senyum paksaan. Sedangkan Sasuke hanya tersenyum puas.

"Baiklah, nenek pergi dulu, ya!" pamit nenek tersebut lalu meninggalkan Sakura dan Sasuke setelah sebelumnya sempat menepuk pelan tautan tangan mereka.

Dengan kejadian barusan, Sakura bertambah malu. Sakura segera menarik tangan Sasuke untuk segera meniggalkan tempat tersebut.

-Takdir Sakura-

Ciit… ciit… ciitt…

Suara gesekan besi berkarat antara engsel ayunan yang dinaiki Sakura pun menghiasi kesunyian malam ini.

Sakura dan Sasuke saat ini sedang ada di taman Konoha. Tidak ada obrolan yang mereka keluarkan. Bahkan Sakura sibuk sendiri dengan mengayun ayunannya. Sudah lama ia tidak naik ayunan seperti ini. Rasanya masih menyenangkan sejak terakhir ia naik. Sedangkan Sasuke hanya terdiam di atas kursi ayunannya. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini.

Suasana seperti ini membuat Sakura canggung. Ia mengingat kembali pernyataan Sasuke padanya tadi. Tadi ia berteriak menyatakan perasaannya pada Sakura, tapi kenapa sekarang ia hanya diam saja saat sedang berdua seperti ini? semua itu membuat bingung Sakura. Bahkan tadi Sasuke mengakui pada nenek di jalan tadi bahwa Sakura adalah kekasihnya. Walau Sakura sedikit jengkel, tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia tidak bisa memungkiri kesenangan yang merasuk ke dalam kalbunya.

Sakura menolehkan kepalanya ke arah Sasuke yang ada di samping kanannya. Untuk pertama kalinya, ada laki-laki yang dapat menggoyahkan hatinya selain Gaara.

"Sepertinya kau mulai menyukaiku." Sebuah suara bariton membuyarkan lamunan Sakura saat ia memandangi wajah sempurna Sasuke.

Sakura tersentak saat kepergok melamun sambil memandangi wajah Sasuke. Ia benar-benar malu. Dengan cepat Sakura memalingkan wajahnya. "A-apa?" Sahutya gugup. Karena kegagapannya itu, Sakura sempat merutuki kebodohannya sendiri.

Sasuke bangkit dari ayunannya dan menghampiri Sakura. "Kau pernah ke taman hiburan?" tanyanya. Sakura sempat mengerutkan keningnya kemudian ia menggelengkan kepalanya. Sasuke meraih tangan Sakura, mengenggamnya lalu menarik Sakura dengan lembut agar ia berdiri dan mengikutinya.

Sakura hanya diam dan menurut saat Sasuke menggandeng tangannya. Tangan besar Sasuke menggenggam erat tangan Sakura. Jari-jari mereka saling bertautan. Bolehkah Sakura egois untuk saat ini? bolehkah Sakura minta waktu berhenti untuk sekedar merasakan genggaman tangan Sasuke yang hangat itu lebih lama lagi? Ingin rasanya Sakura meminta pada Sasuke agar tidak melepaskan tangannya, tapi siapa dirinya dan siapa Sasuke?

Sakura kembali menggelengkan kepalanya untuk menepis semua harapannya pada Sasuke. Ia tak berhak mengharapkan semua itu.

Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel milik Sakura yang membangunkan Sakura dari lamunannya dan membuat Sasuke menghentikan langkahnya. Sasuke menoleh pada Sasuke. "Sebentar," ucap Sakura melepas genggaman Sasuke dengan enggan.

Sakura menaikkan sebelah alisnya begitu melihat nomer yang tidak dikenal tertera di layar ponselnya. Dengan segera ia menekan tombol answer. "Moshi-moshi…" jawabnya.

-Takdir Sakura-

Burrrmmm… burrmmm… burrmmm….

"Sakura, ini aku Neji!" jawab Neji begitu Sakura menjawab teleponnya. "Sakura, tunggu!" pekiknya saat terdengar tanda-tanda Sakura akan memutuskan sambungan teleponnya.

"Aku mohon, Sakura. Kita harus bicara. Kita bertemu sekarang!" pintanya sedikit memaksa pada Sakura. "Aku mohon, Sakura." Sepertinya Sakura menolak permintaannya sehingga ia harus memohon pada Sakura. "Hanya sebentar. Kau dimana?" tanyanya. "Baiklah. Aku akan kesana sekarang!" Walaupun sepertinya Sakura menolak permintaan Neji, tapi Neji tetap keras kepala ingin menghampiri di tempat Sakura sekarang.

-Takdir Sakura-

"Hey! Sudah kubilang aku akan segera per-!" Sambungan terputus begitu saja sebelum Sakura menyelesaikan kalimatnya.

"Cks! Kenapa sih tu anak!" keluh Sakura. Perkataan Neji yang akan datang menemuinya membuat ia tidak tenang, apalagi malam semakin larut.

Sasuke memandang Sakura seolah bertanya 'Bagaimana? atau 'Dari siapa?', atau bahkan 'Kenapa?". Entahlah. Sakura benar-benar tak mengerti maksud pandangan Sasuke padanya. "Kau pulang saja dulu! Aku masih ada urusan yang harus kuselesaikan," ucap Sakura akhirnya mengambil keputusan.

Sasuke hanya diam tak beranjak dari tempatnya. "Apa?" tanya Sakura bingung.

"Katamu kau mau ikut menjaga harga diriku, tapi kenapa sekarang kau menyuruhku pulang sendirian dengan meninggalkan kau sendiri?" tanya Sasuke meminta penjelasan. Sakura benar-benar pusing. Sasuke masih saja menjaga harga dirinya.

-Takdir Sakura-

"Hah~ aku jadi pulang kemalam nih gara-gara Tou-san pergi ke luar kota, aku harus mengurus Doujo Tou-san," keluh Tenten yang sedang menyetir mobil jeep milih ayahnya menuju rumah.

Ayah Tenten yang mempunyai Doujo harus ke luar kota karena urusan bisnis. Dan Tenten dimintai untuk mengurus Doujo-nya agar tidak terlantar. Awalnya ia tidak mau, apalagi sebentar lagi ia ada pertandingan karate dengan sekolah dari Suna. Tapi ayah Tenten berhasil membujuknya dengan cara Ayahnya akan meminjmkan mobil pada Tenten. Ya, lalu di sinilah Tenten, duduk di atas kursi kemudi mobil jeeb ayahnya menuju rumah tercinta setelah seharian mengurusi Doujo ayahnya yang lumayan membuatnya repot.

"Ah iya, si cantik Neji tadi minta nomer ponsel Sakura untuk apa, ya?" gumam Tenten yang masih memegang setirnya. Tenten mencoba tidak memikirkannya, tapi semakin ia membuang rasa keingintahuannya, ia malah semakin penasaran. Apalagi ini meyangkut Neji. Tenten tidak bisa menghentikan keingintahuannya tentang laki-laki itu.

"Ah, lebih baik aku tanya Sakura langsung saja!" serunya kemudian mencoba meraih tasnya yang ada di jok belakang. Sepertinya Tenten sedikit kesulitan saat meraih tasnya. Kemudian Tenten kembali ke posisi awal sebelum tasnya berhasil ia ambil. Ia mencoba menyeimbangkan setirnya terlebih dahulu.

Setelah yakin keseimbangan setirnya sudah sesuai, Tenten merangkak ke jok belakang, namun tanpa sadar kakinya menyenggol setir mobil sehingga keseimbangan setir menjadi goyah.

Mobil Tenten oleng dan membuat Tenten jatuh ke jok belakang. Mobilnya bergerak tidak terkendali, apalagi saat ini jalannya menurun sehingga membuat laju mobilnya semakin kencang.

Tenten berusaha bangkit untuk kembali ke bangku setir hingga ia melihat sebuah motor dari arah berlawanan yang melaju dengan kencang. Pikiran Tenten kacau dan panik. Ia bahkan tidak bisa bergerak saat ini. Motor tersebut semakin semakin mendekat dengan cepatnya.

Buurrmm… burrmm… burrmm…

Brak! Bruk! Brak!

Sebuah hantaman keras mengenai mobil jeep Tenten saat mobilnya melaju tak terkendali. Mobil Tenten bertabrakan dengan motor yang tadi dilihat Tenten dari arah berlawanan yang juga melaju kencang.

Saat-saat terakhir, Tenten masih bisa mengenali sekelebatan orang yang sempat membentur kaca depan mobilnya sebelum mobilnya menabrak sebuah pohon besar yang ada di pinggir jalan, yang kemudian Tenten pingsan di tempat.

-Takdir Sakura-

Sakura menatap heran orang yang masih ada di sampingnya. "Aku kan sudah menyuruhmu untuk pulang, tapi kenapa kau masih di sini, sih?" keluhnya.

Sakura hendak membuka mulutnya saat Sasuke mendahuluinya, "Apa kau akan mengijinkanku tetap di sampingmu, jika aku bilang ingin melindungi orang yang kusayang?" tanya Sasuke.

Sakura benar-benar dibuat membelalakkan matanya dengan ucapan Sasuke. Untuk kedua kalinya, Sasuke menyatakan perasaannya pada Sakura. Tapi apa Sasuke sungguh-sungguh dengan ucapannya? Sakura benar-benar bimbang. Ada rasa senang di hatinya, tapi pikirannya mencoba menolak semua itu. 'Sasuke pasti hanya main-main seperti laki-laki lain pada umumnya,' gumam Sakura dalam hati mencoba menepis perasaannya.

Kesunyian kembali tercipta di antara mereka sehingga suara dering ponsel Sakura kembali berbunyi dan membangunkan Sakura dari lamunannya. Dengan segera Sakura menjawab panggilannya begitu mengetahui siapa yang meneleponnya.

"Moshi-moshi!" jawab Sakura. Tidak ada sahutan dari seberang telepon, tapi Sakura mendengar suara isakan tangis. "Tenten… ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Sakura mulai cemas. Ia benar-benar cemas, sebelumnya Sakura tidak pernah mendengar atau melihat temannya yang jago karate ini menangis, apalagi tangisannya terdengar berat. Tiba-tiba Sakura merasakan perasaannya menjadi tidak enak.

Di seberang telepon, Tenten masih menangis. Sasuke melihat ke arah Sakura dengan penasaran. Wajah Sakura berubah. Bahkan keningnya sekarang berkerut. Tapi Sasuke mencoba bersabar untuk menunda pertanyaannya tersebut.

"Tenten, dengarkan aku!" bisik Sakura lembut. "Tenangkan dulu dirimu!" Sakura mencoba memberi pengarahan pada Tenten yang terdengar masih menangis dengan panik. "Tarik nafas dalam-dalam, lalu keluarkan dengan perlahan. Tarik… keluar. Tarik… keluar!" Seiring Sakura memberikan pengarahan menenangkan diri, Tenten mulai tenang walaupun ia masih menangis.

"Sekarang katakan padaku. Sebenarnya kau kenapa?" tanya Sakura lembut.

"Sakura… hiks!" tangis Tenten. Sakura diam, masih setia menunggu kata-kata dari Tenten. "Neji… Ne-Neji… A-aku… me-menabrak Neji!" aku Tenten susah payah dengan diselingi tangis.

Terlihat sekali ekspresi wajah Sakura berubah terkejut dan matanya mulai berkaca-kaca. Sakura ingin sekali mengingkari kenyataan ini, tapi bukan saatnya untuk itu. Walaupun Sakura terkejut dan hatinya terasa seperti teriiris, tapi masih ada orang yang sangat menderita dalam situasi ini. Jadi, Sakura mencoba menguatkan hatinya, demi sahabatnya.

"Baiklah. Kau tenang dulu. Kau tidak perlu merasa bersalah. Ini semua hanya kecelakaan. Kau dengar? Ini bukan salahmu," ucap Sakura mencoba memberi semangat dan meyakinkan Tenten bahwa ini semua bukan salahnya.

"Ta-tapi Sakura, ak-aku takut, hiks!" isak Tenten.

Sakura melihat jam digital pada layar ponselnya. Waktu menunjukkan pukul 11 malam. "Tenten, kau tidak perlu takut. Kau cukup bertanggung jawab dengan membawa Neji ke rumah sakit terdekat!" ucap Sakura. Tidak ada jawaban dari Tenten. "Tenten! Kau dengar aku?" panggil Sakura.

"I-iya, Sakura. baik, aku akan membawanya ke rumah sakit," jawab Tenten yang sudah mulai tenang.

"Sekarang kalian ada dimana?" tanya Sakura.

"Ka-kami ada di jl. Konoha," jawab Tenten.

"Kau bawa Neji langsung ke Konoha Hospital, selain dekat dari situ, rumah sakit itu juga buka 24 jam," perintah Sakura. "Nanti aku akan menyusulmu," tambahnya.

"Ba-baik," jawab Tenten kemudian sambungan pun putus.

"Ada apa?" tanya Sasuke begitu Sakura menjauhka ponselnya dari telinganya dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

"Neji kecelakaan. Dan aku harus cepat ke Konoha Hospital," jawab Sakura cepat kemudian ia hendak beranjak dari tempatnya, tapi sebuah tangan kekar menahan lengannya. Sakura melirik si pemilik tangan yang menahan tangannya. "Ada apa, sih? aku harus pergi!"

"Aku ikut!" pinta Sasuke tegas. Sakura memandang Sasuke dengan bingung. "Aku juga ingin melihat muridku," ucap Sasuke kemudian.

"Baiklah," jawab Sakura. Tanpa diduga, ia menggandeng tangan Sasuke.

Karena tempat Sasuke dan Sakura sekarang lumayan jauh dari rumah sakit, jadi mereka harus naik kereta. Dalam hati, mereka tak henti-hentinya berdoa pada Kami-sama agar menyelamatkan Neji.

-Takdir Sakura-

"Neji, bertahanlah!" gumam Tenten yang mencoba mengangkat Neji dengan sekuat tenaganya. "Hiks! Maafkan aku, Neji. Kumohon, bertahanlah…" gumamnya kembali menangis.

Ini benar-benar sulit bagi Tenten. Hatinya kacau. Ia bahkan serasa ingin menangis terus. Tapi, ia mencoba menguatkan dirinya untuk menyelamatkan Neji.

Dengan hati-hati dan perlahan, Tenten sedikit menyeret tubuh Neji ke mobilnya. Begitu ia berhasil memasukkan Neji ke mobilnya, Tenten segera mentstarter mobilnya. Beberapa kali Tenten gagal menyalakan mobilnya tersebut.

"Kami-sama, aku mohon. Bantulah aku…" gumam Tenten penuh harap. Ia kembali menstarter mobilnya kembali, tapi lagi-lagi ia gagal. Air mata Tenten kembali mengalir membasahi pipinya.

"Uhuk! Uhuk!" terdengar suara Neji yang terbatuk-batuk mengeluarkan darah.

Tenten melihat Neji dengan cemas. "Neji, bertahanlah.. hiks!" pintanya. Tenten memejamkan matanya dan menautkan jari-jari tangannya. "Kami-sama, kumohon… hiks! Aku berjanji setelah ini, aku siap menerima segala konsekuensi dari-Mu, hiks! Aku mohon, selamatkan Neji. Aku rela jika nyawaku harus ditukar dengan nyawanya, Kami-sama… aku sangat menyayanginya. Aku mohon…Kami-sama…" gumam Tenten terus berdoa bercampur dengan isakan tangis.

Lalu, apakah doa Tenten akan terkabul? Apa Neji bisa bertahan? Tenten terus berdoa tak henti-hentinya sambil menangis. Terus memohon dan terus memoho pada Kami-sama agar Neji dapat selamat. Hati Tenten benar-benar sakit saat melihat orang yang dicintainya menderita di depan mata kepalannya sendiri, bahkan semua ini disebabkan olehnya.

-TBC-


Celoteh Author!

Halo semuanya! #dilempar sendal tetangga

Maaf karena terlalu lama update-nya… hehe #nyengir

Bagaimana chapter ini? kurang panjang kah? SasuSaku-nya kurang? Aku suka NejiTen juga, jadi aku ingin menyelipinya dengan NejiTen. Lalu kurang menyedihkan kah?

Dan maaf di chapter ini banyak kesalahan kata dan kurang sesuai dengan harapn. Aku mengakui semua itu, jadi mohon saran dan kritiknya

Terimakasih untuk semua yang sudah membaca dan mereview ficku yang tidak bermutu ini.


Satu kata review dari Anda, sangat berrati untuk saya ^-^

Terima kasih untuk semua pembaca! ^_^

N

KEEP SMILE!


Balasan Review:

Sami Haruchi: soal hubungan antara keluarga sakura dan keluarga sakura, itu kayaknya masih lama terkuaknya. Hehe…jadi ditunggu aja ya makasih udah mau baca n review :)

AkasunaAnggi: sakura bukan sakit kanker kok,,, yang pasti ini penyakit langka, sebenarnya penyakit ini gk begitu mematikan dalam waktu singkat. Hanya berlarut-larut tapi dalam jangka panjang jika beruntung . Salam kenal juga Anggi makasih udah mau baca n review :)

Raditiya: Hey Radit, maskaih udah baca and review :) … yah, sebenarnya keluarga hinata bukannya jahat, hanya salah paham saja kok. Kan hinata hilang ingatan jadi gk bisa mengetahui kebenarnnya. Tapi suatu saat kebenaran akan terkuak kok

Fiyui: maaf ya gk bisa update kilat makasih udah mau baca n review :)

International Playgirl: alasan diculik ya? Sebenarnya bukan diculik. Masalah ini nanti ada pembahasan di chapter tertentu kok jadi ditunggu aja, ya penyakit ada, tapi masih dirahasikan makasih udah mau baca n review :)

Hanazono Yuri: maaf telat makasih udah mau baca n review :)

MaFylin: ini udah update. makasih udah mau baca n review :)

Desypramitha2: sakura gk menderita kok hanya menurutku ia terlalu memaksakan kemampuannya untuk membuat semua orang yang ada di sekitarnya untuk lebih bahagia aku juga suka sifat sakura yang ini. makasih udah mau baca n review :)

Beauty-rose: hehe… iya, semakin sini semakin mengharukan n dramatis. Gimana yang ini? SasuSaku-nya udh cukup belum? makasih udah mau baca n review :)

klaten, 19 Mei 2013, 8.55 AM