A/N : Bales review ada di bawah.
Enjoy~
Sebelumnya di Ulangan Semester Ch. 19...
"Rin, sepertinya ini bukan ide yang bagus untuk 'jalan-jalan' di sekolah saat malam hari."
"Lu takut?"
"Hai lagi~."
"HUUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
SWOOOOSSSHHHHHHHHHHHH
Summary : Ulangan semester akan digelar untuk Vocaloid Gakuen, tapi remaja-remaja ajaib ini malah bermain-main sampai H-1. Bagaimana persiapan (GJ) mereka? Baca saja.
Ulangan Semester
.
Disclaimer: I don't own any of these characters, except this story.
Warning : Genre-nya jadi Mistery! Gak ada humor (mungkin), Gaje (sudah pasti), Typo (kalau ada), pendek, aneh, ajaib, bahasa gahol ada disini, dll. dst. dsb.
.
.
Don't like? Must Like! Hahahaha...
#gue serius!
.
[ All in normal pov ]
Vocaloid Gakuen. Bangunan atau lebih tepatnya sekolah yang dibangun oleh seorang Otaku Kepsek dengan segala misteri yang ada. Terdiri atas 3 gedung utama. Batalion X, yang terletak di sebelah barat Vocaloid Gakuen. Membentang dari utara ke selatan dengan panjang 100 meter dan lebar 10 meter. Gedung yang bernuansa putih berlantai 2 yang dijadikan sebagai ruang kelas untuk para junior. Terbagi atas 6 kelas, kelas X-A sampai kelas X-C berada di lantai 1, sedangkan kelas X-D sampai X-F di lantai 2.
Batalion XI, terletak di sebelah utara Vocaloid Gakuen. Membentang dari timur ke barat, selatan ke utara, tak juga~ aku berjum-#plak! (Yuki : bangun BakAuthor! | Nova : uh! Damaree~... zzzz...)
...?
U-uh, Author tidur... ok deh gue yang narasi. Ehem.
*re-take!*
Batalion XI, terletak di sebelah utara Vocaloid Gakuen. Membentang dari timur ke barat sejauh 100 meter dengan lebar 10 meter juga. Gedung yang di tempati para senior ini bernuansa hijau yang gue ragu cat temboknya berbahan dasar 'normal'. Terdiri atas 2 lantai. Dibagi menjadi 6 kelas, kelas XI-G sampai kelas XI-I berada di lantai 1, kelas XI-J sampai kelas XI-L di lantai 2.
Batalion XII, kelasnya para seniornya senior. Gedung bernuansa kuning yang terletak di bagian timur Vocaloid Gakuen. Membentang sejauh 100 meter dari utara ke selatan dengan lebar 10 meter juga. Memiliki 6 ruang kelas. Kelas XII-M sampai kelas XII-O di lantai 1, sedangkan kelas XII-P sampai kelas XII-R di lantai 2.
Di samping kanan tiap-tiap gedung Batalion ada LAB Bahasa/Komputer/Dll. Kantin juga terletak di tiap-tiap gedung Batalion di samping kiri. Jadi para murid tidak perlu berdesak-desakan seperti yang dialami Authorku saat membeli makanan atau minuman. Perpustakaan terletak tepat di bawah kantin di tiap-tiap Batalion.
Untuk bangunan sekolah yang lainnya, ada 'ruang rahasia' milik si Otaku Kepsek dan Game Maniac Wakil Kepsek, yang terletak tepat di bawah ruang Kepsek dan Wakil Kepsek. Pos satpam, yang masing-masing ada di lima tempat berbeda. Dan ruangan-ruangan yang umum dimiliki oleh sekolah normal lainnya.
Semua bangunan di Vocaloid Gakuen terlihat sama dengan bangunan di sekolah-sekolah yang lain dan biasa-biasa saja (kecuali 'ruang rahasia', ruang kelas X-D, dan ruang-ruang gaje lainnya). Tapi... ada 2 bangunan yang masing-masing terletak di belakang gedung Batalion X dan Batalion XII.
Sebuah bangunan dengan papan nama "Art. Room" berdiri kokoh di belakang gedung Batalion XII. Walau terlihat seperti gedung yang baru dibangun, sebenarnya gedung itu sudah lama, pembangunannya dilakukan setelah 'ruang rahasia' selesai.
Di belakang gedung Batalion X, adalah bangunan misterius yang entah ke berapa yang ada di area Vocaloid Gakuen. Dengan papan nama yang terbuat dari kayu jati yang masih (dengan gajenya) terlihat masih baru dan berdaun lebat dengan kata lain kayu itu tumbuh di tembok yang tak lain dan tak bukan adalah "WC".
Menurut penjaga siskamling desa yang (tak sengaja) melewati area Vocaloid Gakuen saat malam hari, dia mengatakan sering mendengar suara-suara aneh dari dalam ruangan "Art. Room", ketika dia ditanya suara seperti apa itu, dia hanya menjawab, "Aneh." Ada yang mengatakan kalau suara itu adalah suara dari penghuni "Art. Room".
Narasumber yang lain mengatakan kalau dia sering melihat penampakan di sekitar area sekolah, khususnya di "Art. Room" dan "WC". Mulai dari bayangan putih yang terbang dari lantai 2 Batalion XII menuju ke "Art. Room", sesosok hewan yang sering berkeliaran di tengah lapangan, sesosok makhluk bertubuh kekar yang sering berjalan di koridor Batalion X di tengah malam, hingga suara-suara misterius lain seperti tangisan dan suara piano yang tiba-tiba terdengar dari "Art. Room".
"Hihihihihihihihi..."
Nah itu juga salah satu suara yang sering terdengar di area Vocaloid Gakuen saat malam hari.
...!
A-ah... langsung ke TKP aja... *kabur*
-0o0-
"Chapter Spesial : Night at Vocaloid Gakuen ft. Mbak Kunti – The Running!"
-0o0-
Berdiri di tengah lapangan Vocaloid Gakuen, adalah sosok misterius berambut honey-blonde yang terlihat bingung, gelisah, dan ketakutan. 5 detik kemudian sosok itu duduk dan menekuk lututnya. Sesekali menoleh ke kanan-depan-kiri untuk memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dingin, itu lah yang sosok itu rasakan sekarang. Sosok itu-(Len : Woi! Gue punya nama!) a-adalah Kagamine Len. Tapi rasa dingin yang menyerangnya adalah faktor ke dua yang membuat tubuhnya bergetar, faktor pertama adalah bahwa Len terpisah dari Miku dan kakaknya saat menghindari kejaran 'Fans' terberatnya ditambah sekelilingnya yang mulai berkabut tipis. Menambah kesan misterius di Vocaloid Gakuen.
"Riiinnn... Mikuuuu... dimana kaliaaann?" Len terus 'bernyanyi' sendirian di tengah lapangan dengan 'merdu'-nya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri berharap menemukan 2 sosok berambut hijau dan kuning. Tapi sayang sekali tak ada jawaban maupun tanda-tanda 2 sosok yang di tunggunya.
"Disini~." Sebuah suara mengagetkan Len yang terus memanggil 2 nama sahabatnya. Len pun menoleh ke belakang dan mendapati 'Fans' beratnya berdiri di belakangnya dengan senyum yang tak pernah hilang.
"..."
"Dõshite? Len–sama?" tanya sosok di belakang Len yang ternyata adalah Ms. Kunti.
"Na-na-nanimonAAAAAIIIIII!" dengan tergesa-gesa Len pun berdiri dan melarikan diri dari kejaran 'Fans' beratnya. Meninggalkan si Kunti dengan ekspresi bingung.
"Are?"
-0o0-
Di lain tempat di waktu yang sama sebelum Len bertemu dengan 'Fans' beratnya. 2 sosok berambut honey-blonde dan tosca sedang berkeliling di bagian barat Vocaloid Gakuen.
"Waw!" seru Miku memecah keheningan diantara mereka berdua.
"Perpustakaannya keren!" seru Rin setelah mengamati sekelilingnya. Mereka berdua ada di perpustakaan Batalion XII. Entah bagaimana caranya mereka bisa menemukan kunci yang tersembunyi di sela-sela tanaman di depan perpustakaan.
"Lu gak pernah ke perpustakaan?" tanya Miku heran karena melihat wajah Rin yang berkilau karena efek lampu senter. Oh mereka berdua menemukan lampu senter di atas meja pengawas perpustakaan dan meminjamnya.
"Gue kira perpustakaan itu tempat yang membosankan." Ucap Rin sambil membaca sebuah buku yang dia ambil dari salah satu rak di sana.
"Apa'an nih?" Ucap Miku sambil membungkuk untuk melihat lebih jelas sesuatu yang ada di lantai perpustakaan. Rin pun mengembalikan buku yang ia baca ke rak buku sambil menoleh ke arah Miku. Kalau saja Rin menoleh ke arah rak bukunya, ia akan melihat bayangan putih yang tersenyum di sela-sela rak buku.
-0o0-
Kembali ke tempat Len. Dia masih berlari hingga tanpa sadar ia sudah berada di depan Ruang Kepsek dan Wakil Kepsek.
"Hah...ha..." Len bernafas berat sambil menyandarkan tubuhnya di tembok.
GLODAK
"!" secara sinting-#plak (Len : gue bantai lu! | Yuki : gomen~) maksud gue, secara insting, Len langsung memasang posisi bertahan dengan kedua tangan di depan. Karena tak ada suara lagi Len menurunkan lengannya dan mengamati apa yang ada di depannya sekarang.
Ruang Kepsek yang sepi dan angker, menurutnya. Len dengan isengnya membuka pintu ruang Kepsek.
KLEK
'Terbuka!' batin Len kaget.
Len membuka perlahan pintu tersebut lalu masuk. Di amatinya ruangan si Otaku Kepsek. Di tembok ada poster anime yang berukuran 4x6 meter. Masuk lebih dalam ke ruangan Kepsek dia menemukan sebuah meja yang tak lain adalah mejanya si Otaku Kepsek.
"Uwaw!" Len kaget dengan apa yang dilihatnya. Di atas meja si Otaku Kepsek ada peralatan yang umumnya dimiliki oleh semua mangaka. Len juga menemukan sebuah lampu senter yang diletakkan di tepi meja.
"Hah? Ini kan..." Len mengambil sebuah benda di atas meja yang tak lain adalah dirinya sendiri versi chibi. Len juga mendapati ada tiruan Miku dan kakaknya serta teman sekelasnya.
"...!" tiba-tiba Len merasakan ada yang mengawasinya dari belakang.
"Siapa disana?" tanya Len dengan 'berani'.
-0o0-
Di perpustakaan...
"Ada apa Miku?" tanya Rin setelah membungkuk dan mengamati apa pun itu yang ada di lantai.
"Nih." Jawab Miku sambil menunjuk sesuatu yang ada di lantai. Rin (yang punya kebiasaan mencolek) pun mencolek sesuatu yang ada di lantai tersebut lalu menjilatinya.
"Rasa yang sama saat kita ada di Batalion X saat mau naik tangga." Ucap Rin setelah berhasil mengenali sesuatu yang ada di lantai.
"Da-darah?" tanya Miku ketakutan. Rin hanya mengangguk. Kemudian mereka melihat dari mana darah itu berasal.
"Asalnya dari sana. Ayo!" ucap Rin sambil menarik Miku yang sudah ketakutan ke arah rak buku yang lebih jauh dan gelap.
Tap Tap Tap
"Riinn..." Miku mulai memeluk Rin dari samping karena dia mendengar langkah kaki di belakang mereka berdua. Rin tetap diam saja sambil terus berjalan lurus mengikuti jejak di lantai perpustakaan. Akhirnya mereka sampai di area paling pojok perpustakaan tapi jejak misterius itu seakan menembus dinding. Rin membungkuk dan mengamati sesuatu.
"Rin, sebaiknya kita pergi dari sini..." Ucap Miku ketakutan. Yang hanya di respon 'ssstt!' oleh Rin. Rin tetap mengamati di setiap sudut ruangan tapi tak ada apapun di sana yang bisa dijadikan tombol rahasia yang mungkin kerjaan si Otaku Kepsek.
"Hiks... hiks..." Rin menoleh ke arah Miku dengan tatapan 'lu-nangis?' yang dijawab gelengan kepala oleh Miku.
"Terus?" tanya Rin heran. Miku menggeleng lagi. Rin pun berfikir kalau itu hanya imajinasinya saja.
"Hiks..." Suara itu terdengar lagi. Kali ini Miku yang memberi tatapan 'lu-nangis?' ke arah Rin yang mendapat respon tonjokan di perut oleh Rin.
"Mana mungkin!" seru Rin protes.
"Terus siapa yang menangis?" tanya Miku yang mulai ketakutan. Mereka berdua pun menoleh ke arah belakang. Perlahan lampu senter mereka menangkap bayangan putih dari bawah. Mereka pun menyinari bayangan itu sampai ke atas.
"..." Rin dan Miku diam dengan wajah putih.
Dilihatnya sesosok cewek berambut hitam panjang yang wajahnya menunduk dan menangis. Tapi bukan itu yang membuat Miku dan Rin diam. Sosok di depannya mengeluarkan cairan berwarna merah dari kedua matanya dan yang terpenting, DIA TIDAK MENYENTUH LANTAI!
"Hiks...tolong aku..."
"Rin kurasa kita harus..." Tanpa aba-aba lagi mereka berdua langsung lari ke arah pintu keluar perpustakaan.
"HWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
-0o0-
"!" Len terkejut dengan suara teriakan yang sudah tak asing lagi baginya.
'Rin! Miku!' batinnya gugup, lalu berlari keluar ruangan Kepsek dan mencari sumber suara.
BLAM
Pintu ruang Kepsek tiba-tiba tertutup dari dalam, menampakkan sosok yang selama ini bersembunyi di balik pintu dan mengamati Len.
"Fyuhh... hampir saja ketahuan." Ucap sosok itu yang ternyata adalah si Otaku Kepsek. Kemudian si Otaku Kepsek berjalan ke mejanya dan mengamati benda yang diambil Len tadi. Sebuah senyum gaje terukir di wajahnya.
"Riinnn... Mikuuu..." Len berteriak sambil terus berlari menuju sumber suara.
-0o0-
Rin dan Miku terus berlari hingga sampai di Batalion XI. Mereka berdua mendengar suara yang memanggil nama mereka. Namun... entah karena efek ketakutan yang berlebihan atau karena ada distorsi molekul di udara, suara yang memanggil nama mereka terdengar seperti seorang yang sudah tua dan meminta tolong.
"!" Rin dan Miku pun berlari ke arah kantin Batalion XI sambil mematikan senter mereka agar apa pun itu yang mengejar mereka tidak mengikuti lagi. Begitu mereka berdua sudah sampai di kantin Batalion XI, Len datang ke tempat Rin dan Miku berdiri sebelumnya.
"Tadi sepertinya ada cahaya di sini." Ucap Len sambil mengamati sekitarnya. "Apa jangan-jangan..." Len mulai merinding lagi dan berlari ke arah yang sama dengan Rin dan Miku, tapi Len terus berlari sampai ke belakang gedung Batalion X. Oh Len, kalau lu berbelok ke arah kantin Batalion XI, lu pasti bertemu dengan Rin dan Miku.
-0o0-
"Apa suara itu masih terdengar... hah...?" tanya Rin sambil duduk di salah satu meja kantin sambil bernafas berat, begitu pula Miku.
"Hah... hah... entahlah, gue gak dengar." Jawab Miku.
SREK
"!" mereka berdua spontan menoleh ke arah suara.
Hening~
SREK SREK
"!" Rin berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati ke asal suara. Miku mengikuti dari belakang.
SREK
Dengan ketakutan dan nyali yang tinggal 1/4, Rin memberanikan diri untuk melihat ke dalam ruangan asal sumber suara. Ruangan itu terletak di bagian dalam kantin, tempat bagi para koki untuk memasak dan membuat pesanan para murid di Vocaloid Gakuen. Lampu senter yang di pegang Rin tiba-tiba mati, membuat si pemilik senter ketakutan seketika dan bersembunyi di belakang Miku.
"Miku, lu yang lihat aja deh." Bisik Rin di telinga Miku. Miku hanya mengangguk pasrah karena dia merasakan ada logam dingin yang menempel di lehernya.
"I-Iya, tapi jangan tempelkan pisau itu ke leher ku dong." Bisik Miku ketakutan. Rupanya Miku lebih takut dengan Rin daripada hantu. Rin memasukkan kembali pisau itu ke dalam sakunya.
Miku menyinari seluruh ruangan itu, tapi ia tak menemukan siapa pun yang membuat suara tadi.
"Gak ada siapa-siapa disi-" Miku menghentikan kalimatnya ketika lampu senternya menangkap sesosok bayangan putih di tempat cuci piring. Bayangan itu menoleh ke arah Rin dan Miku dengan senyum khasnya.
"Hai~." Ucap bayangan itu. Miku mulai gemetaran sedangkan Rin memeluk Miku makin erat dari samping, membuat Miku kehabisan nafas.
BRAK
Miku mulai berlari menyeret Rin, tapi sayangnya pintu ruangan itu tiba-tiba terkunci.
-0o0-
Di lain tempat, Len masih berlari hingga ia berhenti.
"Ugh... gue pengen ke WC nih." Ucap Len sambil berlari ke arah WC di belakang gedung Batalion X.
KRIET
Len membuka pintu WC dan berlari ke arah salah satu bilik di sana. Yang tak dia sadari adalah, dia masuk ke bilik nomer lima. Kalau Len masih ingat kejadian di chapter sebelumnya, mungkin dia akan ke bilik yang lain.
"Ah... leganya." Ucap Len setelah selesai dengan 'urusan'-nya. Dia hendak keluar dari WC, namun dia berhenti ketika ia melewati cermin besar yang ada di WC sekolah. Len mundur dua langkah untuk melihat cermin itu lagi.
"Tidak ada apa pun, perasaan tadi ada bayangan putih deh." Ucap Len heran. Lalu dia membasuh mukanya di wastafel dan melihat cermin sekali lagi.
"!" Betapa terkejutnya Len saat mendapati bayangan putih di belakangnya yang tersenyum ceria. Len memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.
"!" Len kembali terkejut karena tidak ada siapa pun di belakangnya. Len kembali menengok ke arah cermin hanya untuk di kejutkan dengan 'Fans' beratnya yang tiba-tiba muncul di dalam cermin.
"HWAAAAAAAAAAAAA!" Len berteriak ketakutan kemudian berlari meninggalkan ruangan ajaib itu a.k.a. WC sekolah.
"KYAAAAAAAAAAAAA!" sosok yang diketahui adalah 'Fans' beratnya Len juga ikut berteriak, karena ketika Len menoleh ke arahnya, dia melihat ehemresletingehem celana Len yang belum di naikkan. Menampakkan ehemcelanadalamehem bergambar hello kitty.
'Kawaii~.' Batin Mbak Kunti sambil nosebleed lagi.
-0o0-
Rin dan Miku mulai terpojok dan bayangan putih itu semakin mendekat.
"Hihihihi, kalian tidak bisa kabur~." Ucap bayangan putih itu semakin mendekat. Miku makin panik. Tiba-tiba Miku mendapat ide 'cemerlang', dia mengangkat tubuh Rin secara mendatar dengan kedua tangannya dan bersiap dengan kekuatan yang entah darimana ia dapatkan.
'Ichi... ni... san!' Miku menghitung dalam hati dan pada hitungan ke tiga, dia berlari ke arah pintu dengan Rin yang sekarang berfungsi sebagai 'pembersih rintangan'.
BRAK
Pintu kantin pun terbuka. Miku berhasil keluar dengan tangis bahagia, sedangkan Rin keluar dengan tangis kesakitan di kepalanya.
"Sekarang ayo kita cari Len!" ajak Miku semangat yang dijawab anggukan lemah plus deathglare dari Kagamine Rin. Mereka berdua berlari ke arah lapangan.
-0o0-
"HWAAAA-" Len masih berlari tanpa melihat ke depan hingga ia menabrak sesuatu.
BRUK
"Auuhh..." Sosok yang ditabrak Len jatuh ke tanah.
"Ughh..." Len juga ikut jatuh.
"Rin! Miku!" Len berseru senang ketika ia sadar kalau yang ditabraknya itu adalah Rin dan Miku. Len langsung memeluk mereka berdua dengan gembira, hingga ia melepaskan pelukannya karena ia merasa ada yang mengamatinya dengan rasa cemburu yang bisa membunuhnya.
"Kau dari mana saja Len!" seru Rin yang juga senang karena mereka berkumpul lagi.
"Gue-" belum sempat Len bercerita, mereka bertiga mendengar suara dentingan piano yang merdu.
"Lu dengar itu?" tanya Miku sambil bersembunyi di belakang Rin. Rin hanya mengangguk pelan. Tak yakin dengan apa yang di dengarnya.
"Gu-gue rasa apa yang dikatakan oleh penjaga siskamling desa itu benar." Ucap Len ketakutan.
"Kita cek yuk." Ucap Rin yang mendapat respon keras oleh 2 orang di sampingnya.
"Kalian ingin aku menggunakan ini?" tanya Rin sambil memperlihatkan kedua Geass-nya kepada Len dan Miku.
*gulp*
"Ba-baiklah..." Ucap Len dan Miku bersamaan. Len dan Miku tahu kalau Geass-nya Rin tidak akan terkalahkan di saat malam hari. Kebalikannya dengan Len, sharingan-nya Len tidak bisa dikalahkan di siang hari. Len bangkit dengan Matahari, Rin bangkit dengan Bulan, dan Miku bangkit dengan Gerhana. Oh iya. Belum ada yang tahu tentang kekuatan yang dimiliki Miku ya? Hmm... nanti aja deh, hehehe.
Mereka bertiga berjalan ke arah sumber suara, ke arah gedung Batalion XII. Suara piano masih terdengar dengan jelas, sehingga Len, Rin, dan Miku tidak terlalu sulit untuk menemukan sumber suara tersebut.
-0o0-
Mereka bertiga membeku di tempat masing-masing ketika menyadari bahwa sumber dari suara piano itu adalah di "Art. Room".
"Ka-kalian cek deh." Ucap Rin yang mulai ketakutan. Len dan Miku hanya meneguk ludah masing-masing. Kemudian mereka berdua berjalan pelan-pelan ke arah "Art. Room" diikuti Rin.
Sampai di depan pintu "Art. Room" mereka masih bisa mendengar suara piano yang makin jelas.
*gulp*
Len dengan tangan yang bergetar mencoba membuka pintu "Art. Room".
KRIET
Pintu pun terbuka tapi permainan piano masih bisa di dengar oleh mereka. Len dan Miku berjalan duluan diikuti Rin menuju ke arah ruangan selanjutnya, ruangan tempat penyimpanan alat-alat musik yang sudah tua termasuk piano misterius itu.
Tiba pada pintu selanjutnya, kali ini giliran Miku yang membukanya.
KLEK
KRIET
Pintu terbuka dengan perlahan. Miku mengarahkan lampu senternya ke arah piano yang ada di sana.
"...!" matanya terbuka lebar dengan apa yang dilihatnya. Perasaan kaget, takut, dan heran menghampiri Miku. Rin dan Len yang penasaran di belakang Miku karena Miku tidak bergerak memutuskan untuk membuka pintu yang hanya terbuka separuh itu. Secara spontan, Len dan Rin juga menampakkan ekspresi yang sama dengan Miku. Kaget, takut, dan heran.
Kaget, karena sosok yang memainkan piano itu adalah si 'Fans' beratnya Len.
Takut, karena sosok itu memandang mereka dengan tatapan minta tolong.
Heran, karena sosok itu ternyata menangis layaknya manusia normal. Mengeluarkan air mata sebening berlian karena terkena cahaya Bulan yang menyinarinya. Untuk beberapa saat suasana di ruang itu hening karena sosok itu sudah tak memainkan piano itu lagi. Hingga sosok itu memulai pembicaraan yang membuat Len, Rin, dan Miku kaget.
"Tolong aku..."
CUT!
Bersambung ke chapter selanjutnya. :D #dikroyokwarga
-0o0-
Kesimpulan :
Hantu juga bisa cemburu!
Hahaha... :D
T~B~C
.
.
.
Review boleh, gak review gak boleh. :D
#gue duarius!
.
Semua kritik diterima disini.
#gue tigarius!
.
.
.
Preview Chapter 21 :
Identitas 'Fans' beratnya Len akhirnya terungkap!
Siapa sebenarnya 'dia'?
Apa hubungan 'dia' dengan si Otaku Kepsek?
Curhat gaje di "Art. Room"!
"Aku..."
"Chapter Spesial : Night at Vocaloid Gakuen ft. Mbak Kunti – The Turning!"
.
.
A/N : Bales review...
To nekonekoyosh :
Tenang aja, mereka udah punya ijin untuk menginap di sekolah kok.
Kan si Otaku Kepsek yang menghukum mereka. :)
Arigatõ~
-0o0-
To Karen White :
Hehehe, aku juga mikir gitu, tapi ya apa boleh buat, di chapter depan nan-hmph!
Yuki : No Spoiler!
Nova : *ngangguk*
Sudah update.
Arigatõ~
-0o0-
To UsamiNekoBaaka :
Haha, Len disini gak tersiksa kok... *lihat ke atas*mungkin... hehehe. :D
Nova : Pak Wakepsek, anda dapat salam dari Neko-san.
Wakil Kepsek : ...
Nova : ...
Sudah update.
Arigatõ~
-0o0-
To Alfianonymous22 :
Oh, tidak, mereka gak suka kok sama Len, hanya itu... pertama kali mereka berpegangan tangan dengan Len (di fic saya).
Sudah update.
Arigatõ~
-0o0-
To Dark Kuroi :
Iya. Humornya memang kurang, malah chapter ini gak ada humornya sama sekali.
Sudah update.
Arigatõ~
-0o0-
To liveless-snow :
Semoga, hahahaha. :D
Arigatõ~
-0o0-
To Minami no Hikari Kagamine :
Semua murid di Vocaloid Gakuen itu aneh, makanya kelas bisa seperti itu. :D
Sudah update.
Arigatõ~
-0o0-
To rikascarlet37 :
Semoga anda makin penasaran dengan chapter selanjutnya. :D
Sudah update.
Arigatõ~
-0o0-
To CoreFiraga :
Hehehe, ini kan chapter spesial ft. Mbak Kunti. :D
Len, tenang aja, dia baik-baik aja kok. :D
Arigatõ~
-0o0-
To lili.flippy :
Sõ ka?
Baru tau saya. :)
Arigatõ~
-0o0-
To Mikan chanX3 :
Silahkan. :D
Resiko di tanggung penumpang. XD
Sudah update.
Arigatõ~
-0o0-
To akanemori :
Hehe, gomen~. Tapi aku maunya Kunti, biar Indonesia banget. XD
Sudah lanjuuuuut.
Arigatõ~
