A/N : Bales review ada di bawah.
Enjoy~
Sebelumnya di Ulangan Semester Ch. 20...
"Riiinnn... Mikuuuu... dimana kaliaaann?"
"Disini~."
"...!"
"Tolong aku..."
SWOOOOSSSHHHHHHHHHHHH
Summary : Ulangan semester akan digelar untuk Vocaloid Gakuen, tapi remaja-remaja ajaib ini malah bermain-main sampai H-1. Bagaimana persiapan (GJ) mereka? Baca saja.
Ulangan Semester
.
Disclaimer: I don't own any of these characters, except this story.
Warning : Gaje (sudah pasti), Typo (kalau ada), pendek, aneh, ajaib, bahasa gahol ada disini, dll. dst. dsb.
.
.
Don't like? Must Like! Hahahaha...
#gue serius!
.
[ All in normal pov ]
Di sebuah ruangan penyimpanan tua terdapat sebuah piano (gaje) yang menyimpan berbagai misteri (yang juga gaje). Si Otaku Kepsek, melarang para muridnya untuk menyentuh piano itu dengan alasan bisa menyebabkan kanker (kantong kering), serangan negara api, gangguan jiwa, dan gangguan makhluk gaib. Tapi, di sinilah mereka, 3 karakter yang membawa kedamaian bagi murid-murid kelas X-D beberapa jam yang lalu setelah pengumuman Remidi Ulses dibagikan.
Mereka bertiga di hukum untuk membersihkan wc, atap sekolah, aula, gedung olah raga dan lapangan setelah pulang sekolah, hingga saat malam hari tiba, mereka mendengar nada-nada indah dari sebuah piano di ruang penyimpanan di "Art. Room". Mereka adalah Kagamine Len, Kagamine Rin, dan Hatsune Miku yang baru-baru ini di juluki teman sekelasnya dengan nama "The Three Must-be-sacrificed-no-matter-what-happen!". Julukan yang aneh...
Any way, mereka bertiga sedang menghadapi Fans beratnya Len yaitu Mbak Kunti di "Art. Room". Kira-kira apa yang akan terjadi... well let's see what will happen.
-0o0-
"Chapter Spesial : Night at Vocaloid Gakuen ft. Mbak Kunti – The Turning!"
-0o0-
"Tolong aku..."
Dua kata yang diucapkan oleh 'dia' membuat 3 orang di depan 'nya' diam mematung. Antara kaget, takut, dan heran. 5 menit sudah berlalu tapi masih belum ada yang memulai pembicaraan. Len, Rin, dan Miku terlalu takut untuk memberi jawaban sedangkan 'dia' masih menunggu dengan sabar jawaban dari 3 orang di depannya.
"Tolong aku." Ucap 'nya' lagi. Len, Rin, dan Miku tersentak sesaat. Len menoleh ke arah kakaknya dan memberikan tatapan 'g-gimana-nih?' yang dijawab dengan tatapan 'mana-gue-tahu' oleh Rin. Len menoleh ke Miku memberikan tatapan yang sama tapi Miku menjawabnya dengan tatapan 'terserah-lu-deh-gue-takut'.
Len menoleh ke arah sosok yang masih duduk di kursi di depan piano tua dengan sabar. 'Dia' hanya menatap Len dengan pandangan kosong, tapi Len tau kalau 'dia' membutuhkan sesuatu.
"T-tolong?" jawab Len akhirnya dengan ketakutan. 'Dia' hanya mengangguk. "Apa?" lanjut Len penasaran dan ketakutan di saat yang sama.
"Permohonan..." Ucap sosok itu.
"Permohonan?" ulang Len bingung walau masih ada rasa takut. 'Dia' mengangguk lagi. Rin dan Miku mulai tenang dan mendengarkan apa yang diucapkan 'Dia', si Mbak Kunti di depannya.
"Aku..." Mbak Kunti menjeda kalimatnya, membuat Len, Rin, dan Miku semakin penasaran.
"...lupa." Lanjut 'nya' sambil tertawa kecil. Len, Rin, dan Miku sweatdrop.
"Lalu bagaimana caranya kita bisa membantu?" tanya Len bingung. Dia sudah tidak takut... sedikit.
"Itu..." 'Dia' bingung mau menjawab apa hingga mereka mendengar suara pintu di belakang Len, Rin, dan Miku tertutup atau lebih tepatnya ditutup oleh seseorang. Len, Rin, dan Miku menoleh dan membelalakkan matanya kaget. Si Otaku Kepsek ada di di belakang mereka!
"Mungkin aku bisa membantu mu." Ucap si Otaku Kepsek dengan santai sambil menyalakan lampu ruangan.
"Ah!" 'Dia' terlihat kaget dan senang dengan kehadiran si Otaku Kepsek. Ada garis-garis pink di pipi 'nya'.
"Kau memang suka usil ya, Yuka." Ucap si Otaku Kepsek pada sosok perempuan berambut hitam panjang di depannya. Len, Rin, dan Miku saling bertatapan heran.
'Yuka?' batin mereka bertiga.
"Hisashiburi ne, Yuki." Respon Mbak Kunti yang ternyata namanya adalah Yuka dengan senyum khasnya. Kemudian diikuti suara *poff*, Yuka berubah ke wujud aslinya, berambut light-blonde dengan mata biru safir. Pakaian masih sama seperti yang ia pakai waktu menyamar sebagai Mbak Kunti.
"Huh... kita kan baru berpisah 2 jam yang lalu." Ucap Yuki sambil menyilangkan kedua tangannya di dada dan tersenyum.
1 detik...
2 detik...
3 detik...
"AAPAAAAAA!" teriak Len dan Rin kompak. Miku menutup kedua telinganya.
"Kau bukan hantu?" tanya Miku dengan wajah datar kepada Yuka. Yuka hanya menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku manusia sama seperti kalian. Bahkan kita seumuran." Ucap Yuka sambil tersenyum seperti biasa.
"K-kau Yuki?" tanya Len tidak percaya sambil menunjuk wajah si Otaku Kepsek. Si Otaku Kepsek yang diketahui bernama Yuki hanya mengangguk mantap.
"B-bukannya Yuki ada di rumah kami, dan dia kan seumuran dengan kita." Ucap Len kaget.
"Yang di rumah kalian itu kage bunshin milikku. Dan yup, aku seumuran dengan kalian." Jawab Yuki sambil tersenyum sama seperti Yuka.
"Bohong!" Ucap Kagamine Twins kompak. Yuki hanya menghela nafas dan menggaruk belakang kepalanya. Kemudian Yuki mengangkat kedua tangannya dan membuat Ram Hand Seal.
*PUFF*
"Wha...!" Kali ini Kagamine Twins dan Miku kaget dengan mulut menganga lebar. Si Otaku Kepsek berubah menjadi remaja yang seumuran mereka, memiliki rambut yang sama seperti Len dengan heterochromia eyes.
"MIZUHASHI YUKI!" koor Len, Rin, dan Miku kaget.
"Yup." Respon Yuki sambil tersenyum dan mengacungkan jempol kanan.
BLAZEEEEE
"E-eh..." Yuki sweatdrop melihat background api yang berkobar-kobar dengan liar di belakang Len, Rin, dan Miku. Mata mereka menyala merah darah tanda sesuatu yang buruk akan terjadi. Yuka hanya tertawa kecil.
"MIZUHASHI YUKI!" koor Len, Rin, dan Miku sambil menekan tiap kata.
"T-tenang dulu, biar ku jelaskan semuanya... hehe..." Yuki mulai berkeringat dingin karena suhu udara di "Art. Room" mulai panas. #lho?
"Sebaiknya lu punya penjelasan yang bagus Yuki, atau gue akan..." Ucap Rin dengan nada mengancam sambil menyiapkan kamehameha-nya.
"I-iya... gue jelasin semuanya." Yuki berjalan mundur ke belakang tapi sayangnya ada pintu.
*gulp*
"KAMEHAMEHAAAAAA!"
BLAAAAARRRRRR
-0o0-
"Ugh..." Yuki mulai membuka matanya. Rasa sakit mulai menjalar di tubuhnya dan ketika ia bangun, dia sudah terikat di kursi dengan tali tambang. Len, Rin, dan Miku menatapnya sambil tersenyum puas. Yuka duduk di atas piano dengan senyum khasnya.
"Oh, akhirnya lu bangun juga OTAKU KEPSEK." Ucap Rin dengan smirk-nya. Len mengambil kursi untuk Miku dan kakaknya. Kemudian mereka duduk. "Sekarang gue ingin mendengar 'pidato' mu, Yuki no Gakuenchõ." Lanjut Rin.
"Hah..." Yuki hanya menghela nafas lalu mula ber-'pidato'. " Jadi apa yang ingin kalian tanyakan?" lanjut Yuki.
"Semuanya." Ucap Len, Rin, dan Miku bersama.
'Ini akan memakan waktu yang lama. Troublesome.' Batin Yuki.
Somewhere in Konohagakure no Sato...
"Hachhuiiii!" seorang laki-laki dengan gaya rambut yang seperti buah nanas tiba-tiba bersin yang menyebabkan semua bidak shogi di depannya berhamburan. Orang di depannya hanya sweatdrop.
"Kau sakit Shika?" tanya orang di depannya.
"Tidak. Sepertinya ada yang menggunakan kalimat ku. So troublesome." Ucap Shikamaru sambil menggosok hidungnya.
Back to Vocaloid Gakuen...
"Pertama dan yang terpenting, sebenarnya kalian itu siapa dan bagaimana kalian bisa saling kenal?" tanya Rin memulai pembicaraan.
"Aku Mizuhashi Yuki." Jawab Yuki santai.
"Aku Mizuhashi Yuka." Lanjut Yuka tersenyum.
"Dan kami OC-nya Author." Ucap mereka berdua. Len, Rin, dan Miku sweatdrop.
"Kalau bagaimana kita saling kenal, nanti saja aku jelaskan." Ucap Yuki.
"O-okeh." Ucap Len masih sweatdrop.
"Ada lagi yang ingin kalian tanyakan?" tanya Yuki.
"Apa kalian kembar?" tanya Miku. Len dan Rin mengangguk.
"Tentu saja." Jawab Yuka dengan senyumnya.
"Tapi di fic ini, kami berperan bukan sebagai kembar." Ucap Yuki.
"Hanya teman dekat... saja." Lanjut Yuka menambahkan dan berbisik di akhir kalimat, tapi Len berhasil mendengarnya.
"Kenapa kau menyamar menjadi si Otaku Kepsek?" tanya Len penasaran sambil menoleh ke arah Yuki.
"Heh, aku tidak menyamar. Itu memang pekerjaan ku." Jawab Yuki tenang.
"Jadi kau mau bilang kalau lu adalah kepala sekolah di Vocaloid Gakuen?" tanya Rin tidak percaya. Yuki hanya mengangguk lagi.
BLAZEEEE
"Eh..." Yuki sweatdrop lagi melihat background api yang berkobar-kobar di belakang Len, Rin, dan Miku.
"KEMBALIKAN UANG KAMI." Ucap Len, Rin, dan Miku kompak. Yuki mulai berkeringat dingin. Yuka hanya tersenyum.
"Te-tenang saja, nanti ku kembalikan... hehe..." Jawab Yuki tertawa paksa.
"Lalu, apa maksud mu menghukum kami bertiga, kami kan tidak salah apa pun." Ucap Miku.
"Kau yakin? Coba lihat ini." Ucap Yuki sambil menyalakan sebuah TV yang entah darimana datangnya dengan remote control yang entah dari mana datangnya juga.
KLIK
"...*static voice*..." TV itu mengeluarkan suara aneh, beberapa saat kemudian muncul video yang menyebabkan Len, Rin, dan Miku kaget.
"I-ini..." Rin yang kaget tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Di depan mereka sekarang adalah reka ulang kejadian saat Remidi Ulses dimana Miku dkk. menyerang si Otaku Kepsek a.k.a. Yuki yang saat itu menjadi pengawas dengan ide 'cemerlang' mereka.
"Sudah tahu alasan kenapa aku menghukum kalian?" tanya Yuki dengan smirk-nya. Len, Rin, dan Miku mengangguk pelan. Yuka tersenyum.
"Terus kenapa ada boneka yang mirip dengan kami di ruangan pribadi mu?" tanya Len yang ingat akan keberadaan boneka-boneka kecil yang mirip dengannya dan teman sekelasnya di meja si Otaku Kepsek.
"Simpel. Aku nge-fans sama kalian, begitu pula dengan Yuka disana." Ucap Yuki sambil menunjuk Yuka yang tersenyum dan melambaikan tangan kanannya. Len merasa déjà vudan merinding seketika.
Yuka turun dari atas piano lalu ikut duduk di samping Yuki.
"Begitu aku lihat foto kalian di Data Bank sekolah, aku jadi nge-fans sama kalian bertiga." Ucap Yuka masih tersenyum. "Kemudian aku mencari cara agar aku bisa mendekati kalian terutama cowok shota itu." Lanjut Yuka sambil menunjuk Len di akhir kalimatnya.
"GUE GAK SHOTA!" seru Len protes.
"Aku mencari alamat kalian di Data Bank, ternyata alamat rumah kalian tak jauh dari tempat tinggalnya Yuki." Ucap Yuka tidak mempedulikan teriakan protes dari Len.
'Bukan tidak jauh lagi, tapi dia memang tinggal di rumah kami.' Batin Len dan Rin kompak.
"Lalu saat aku mendengar Miku-san akan mengadakan Uji Nyali dimana Len-chan sebagai kor-ehem... peserta, aku mendapat ide 'cemerlang'." Ucap Yuka. Len sweatdrop mendengar kalimat yang tidak jadi diucapkan Yuka.
"Akhirnya aku menyamar sebagai Mbak Kunti, dengan begitu aku bisa mengikuti Len kemana pun juga." Lanjut Yuka senang.
"Ke-kemana pun?" tanya Len shock.
"Kecuali ke tempat pribadi mu Len, oh atau kau ingin aku mengikutimu kemana pun juga?" tanya Yuka dengan smirk-nya. Len meneguk ludah dan menggelengkan kepalanya. Yuki tertawa.
"Kemudian aku dapat ide 'cemerlang' lagi. Aku menyuruh Yuki untuk menghukum kalian. Kebetulan kalian saat itu juga melakukan 'sesuatu' saat Remidi Ulses, jadi, ya begitulah, hehe." Ucap Yuka.
"Ada lagi yang ingin kalian tanya kan?" lanjut Yuka.
"Kau tinggal dimana?" tanya Rin pada Yuka.
"Aku tinggal di 'ruang rahasia'." Jawab Yuka sambil tersenyum.
"Bukannya hanya si Otaku Kepsek dan Game Maniac Wakil Kepsek yang tahu 'ruang rahasia' itu dan cara memasukinya?" tanya Len heran.
"Len-chan, apa kau tahu siapa yang membangun sekolah ini?" tanya Yuka.
"Si Otaku Kepsek bersama para penyanyi Indonesia?" tebak Len asal. Yuka menggeleng. "Lalu?" lanjut Len.
"Itu Aku dan Yuki yang membangunnya." Jawab Yuka dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. "Dan tentu saja aku tahu bagaimana caranya masuk ke 'ruang rahasia' itu." Lanjut Yuka.
"Ha-hanya kalian berdua!" ucap Rin shock. Yuki dan Yuka mengangguk.
"Bagaimana caranya?" tanya Miku penasaran.
"Nanti saja ku jelaskan bersamaan bagaimana aku dan Yuki bisa saling kenal... dan saling suka." Ucap Yuka sambil tersenyum dan membisikkan kalimat terakhir sehingga tak ada yang mendengarnya.
"Oh, iya, ngomong-ngomong soal 'ruang rahasia', sebenarnya itu ruangan seperti apa?" tanya Miku semangat karena belum ada satu murid pun yang pernah masuk ke 'ruang rahasia' bahkan guru-guru sekali pun. Hanya Kepsek dan wakilnya saja yang tahu tempat itu.
"Itu ruangan yang ra-ha-si-a." Jawab Yuka sambil mengeja kata rahasia.
"Boleh kami lihat?" tanya Len, Rin, dan Miku kompak. Yuka tampak berfikir sebentar lalu menoleh ke arah Yuki. Len, Rin, dan Miku menoleh juga. Melihat ekspresi Yuki yang sepertinya akan menolak, Len dan Rin mengaktifkan sharingan dan geass nya. Yuki sweatdrop.
"Huh... iya-iya." Ucap Yuki tidak semangat. Len dan Rin bersorak senang, Miku tersenyum, Yuka tertawa.
-0o0-
Di depan Ruang Kepsek...
"Jangan bilang ke murid yang lain, atau aku akan..." Ucap Yuki sambil menoleh ke arah Len, Rin, dan Miku dengan Ao to Murasaki no Sharingan miliknya. Mereka bertiga entah kenapa merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Mereka bertiga hanya mengangguk sebagai jawaban. Di chapter 15 sudah aku sebutkan kalau si Otaku Kepsek a.k.a. Yuki juga memiliki sharingan tapi belum bisa menggunakannya, tapi 2 hari yang lalu Yuki sudah menguasai keduanya.
"Good, and now..." Ucap Yuki sambil menekan sebuah tombol yang cukup tersembunyi dan terkamuflase dengan baik di permukaan tembok. Terdengar bunyi suara benda bergeser diikuti suara ular lalu babi lalu kambing kemudian kelinci diikuti suara anjing, lalu tikus kemudian burung kemudian kuda dan terakhir ular.
'Sh-shiki Fūjin!' batin Len kaget mendengar suara (yang tentunya sudah tak asing di telinganya) yang mirip dengan salah satu jurus segel terlarang.
Beberapa saat kemudian sebuah pintu berwarna biru terbentuk di permukaan tembok.
"Ayo masuk." Ucap Yuki sambil membuka pintu ajaib tersebut. Len di belakang Yuki, diikuti Rin dan Miku. Yuka terakhir.
"Whaaa..." Len, Rin, dan Miku terkagum-kagum dengan pemandangan di depannya. Seperti yang sudah ku jelaskan di chapter sebelumnya, 'ruang rahasia' ini luasnya sama dengan luas Vocaloid Gakuen. Dinding ruangan dilapisi cat hijau emas. Atapnya berwarna putih dan lantainya karpet dengan lukisan Zebra dan motif batik yang bermacam-macam.
"Kalian bisa duduk di sana, aku akan ambil makanan." Ucap Yuki lalu menghilang ke salah satu ruangan.
"Uh, aku akan mengambil minuman untuk kalian." Ucap Yuka lalu mengikuti Yuki dari belakang.
"Len, apa kau punya pikiran yang sama dengan ku?" tanya Rin dengan suara pelan. Len hanya mengangguk pelan.
"Ayo kita berkeliling!" ucap Len sambil berdiri, diikuti Rin dan Miku. Namun sebelum Len melangkahkan kaki, Yuki dan Yuka datang membawa makanan dan minuman.
"Kalau kalian berpikir ingin berkeliling ruangan ini, sebaiknya kalian mengajak salah satu diantara kami." Ucap Yuki sambil meletakkan nampan yang berisi biskuit rasa batu dan kerikil. Biskuit yang aneh...
"Kenapa?" Miku bertanya heran.
"Kalian bisa tersesat, dan tak bisa kembali." Ucap Yuka melanjutkan larangan Yuki. Miku hanya ber-'oh'-ria.
"Nah, apa ada yang ingin kalian tanyakan lagi?" ucap Yuki sambil duduk di sofa. Yuka duduk di sampingnya. Rin dan Miku duduk bersebelahan di sofa yang menghadap ke TV 49". Len duduk di sofa yang masih kosong.
"Dimana Pak Wakil Kepsek? Katanya dia 'tidur' akibat bermain game SAO rasa coklat kan?" tanya Len penasaran dengan keberadaan si Game Maniac Wakil Kepek mereka. Miku dan Rin mengangguk.
"Oh, dia sedang dirawat di RS. pribadi kami, jadi kalian tidak perlu khawatir." Jawab Yuki tenang yang lainnya mengangguk. "Ada lagi?" lanjut Yuki.
"Itu, bagaimana kalian berdua bisa saling kenal?" tanya Rin yang ingat dengan pertanyaan pertamanya.
"Itu..." Yuki terlihat bingung bagaimana menjelaskannya. Yuka memperhatikan sikap Yuki yang sepertinya kebingungan, kemudian memutuskan untuk memberi ide 'cemerlang'.
"Nee Yuki, kenapa kau tidak memperlihatkan kepada mereka saja?" saran Yuka sambil tersenyum seperti biasa. Yuki terlihat berfikir sebentar lalu mengangguk.
'Memperlihatkan?' batin Len, Rin, dan Miku heran.
"Baiklah. Ide yang sangat 'cemerlang', Yuka." Ucap Yuki sambil menutup kedua matanya lalu membukanya kembali.
"Saigo no Sharingan!" Kedua mata Yuki menampakkan dua sharingan yang berbeda warna, dark violet dan blue sapphire.
Kemudian semuanya menjadi gelap.
T~B~C
.
Review boleh, gak review gak boleh. :D
#gue duarius!
.
Semua kritik diterima disini.
#gue tigarius!
.
Preview Chapter 23 :
Masa lalu~ biarlah masa la~lu
Jangan kau u~ngkit jangan ingatkan a~ku
Mas-#plak! #dor!
Len : abaikan lagu di atas!
Rin : chapter depan, masa lalu Yuki dan Yuka.
"Tou-san..."
"PERGI!"
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
"Side Story : Otaku Kepsek a.k.a. Mizuhashi Yuki's Past"
.
A/N : Bales review...
To UsamiNekoBaaka :
Kalau begitu siapkan obat sakit perut sebelum membaca fic saya. :D
Pertanyaan anda sudah terjawab diatas.
Arigatõ~
-0o0-
To akanemori :
Merinding? Haha. :D
Mbak Kuntinya suka curhat.
Arigatõ~
-0o0-
To Shiroi Karen :
Bukan sakti, tapi gaje, wkwkwk.
Sudah update.
Arigatõ~
-0o0-
To CoreFiraga :
Len dkk. Sudah ketemu sama si Otaku Kepsek.
Rin : *ambil obat* arigatõ.
Arigatõ~
-0o0-
To lili.flippy :
Wokeh. :D
Len : -_-
Nova : sabar Len, sabar. :D
Arigatõ~
-0o0-
To Alfianonymous22 :
Gpp kok.
Bukan, Mbak Kunti itu manusia. *nunjuk ke atas*
Sudah update.
Arigatõ~
-0o0-
To rikascarlet37 :
Pertanyaan anda sudah terjawab, dan semoga makin penasaran. :D
Sudah update.
Arigatõ~
-0o0-
To Netta mls login :
Sudah update tanpa asap, hehehe.
Arigatõ~
-0o0-
To nekonekoyosh:
Geass itu... ya geass, hahaha. :D
Kalau di Anime Code Geass, itu kekuatan mata yang bervariasi. Bisa membuat orang menuruti kemauan kita, membaca pikiran, dll.
Kalau di Anime Mondaiji-tachi, itu adalah scroll untuk aturan permaian.
Yang dipegang Len itu boneka yang mirip dengannya.
Arigatõ~
-0o0-
To Hijiki Hanazono :
Thank you. :)
Fav? Boleh, silahkan, go ahead, dll. dst. dsb. :D
Sudah lanjut.
Arigatõ~
