A/N : Saran, kalau baca fic ini di lap/kom, atur "Story Width" menjadi 3/4 (yang bentuk icon-nya seperti Align Justify) dan klik icon "Story Contrast" (yang bentuknya bulat, warna putih di kiri dan hitam di kanan), biar teksnya jadi putih dengan background hitam. Menurutku lebih nyaman di mata walau tak memakai screen protector dan tidak menggunakan aturan 20-20-20-20, karena fic ini 'sedikit' panjang.

Dan oh, sudah lebih 100 review, padahal fic ini (sangat) gaje, ahaha. Arigatõ~ :D

Bales review ada di bawah.

Enjoy~


Summary : Ulangan semester akan digelar untuk Vocaloid Gakuen, tapi remaja-remaja ajaib ini malah bermain-main sampai H-1. Bagaimana persiapan (GJ) mereka? Baca saja.

Ulangan Semester

.

Disclaimer: I don't own any of these characters, except this story.

Warning : Gaje (sudah pasti), Typo (kalau ada), pendek, aneh, ajaib, bahasa gahol ada disini, ada OC yang gaje kepemilikannya, dll. dst. dsb.

.

.

Don't like? Must Like! Hahahaha...

#gue serius!

.

[ All in normal pov ]

"Ne~ Yuki, kenapa kau tidak memperlihatkan kepada mereka saja?" saran Yuka sambil tersenyum seperti biasa. Yuki terlihat berfikir sebentar lalu mengangguk.

'Memperlihatkan?' batin Len, Rin, dan Miku heran.

"Baiklah. Ide yang sangat 'cemerlang', Yuka." Ucap Yuki sambil menutup kedua matanya lalu membukanya kembali.

"Saigo no Sharingan!" Kedua mata Yuki menampakkan dua sharingan yang berbeda warna, dark violet dan blue sapphire.

Kemudian semuanya menjadi gelap.

-0o0-

"Side Story : Otaku Kepsek a.k.a. Mizuhashi Yuki's Past"

-0o0-

Flashback on

5 tahun yang lalu, siang hari, di sebuah bukit di pinggir kota.

"Ne~ Yuka, kalau kau sudah besar mau jadi apa?" tanya seorang laki-laki berumur 10 tahun yang memiliki dua warna mata berbeda.

"Hmm... aku mau menjadi kecil lagi~." Jawab perempuan yang di panggil Yuka di sebelahnya sambil tersenyum. Yuki hanya sweatdrop. "Kalau Yuki?" lanjutnya sambil menoleh ke arah sahabatnya.

"Aku mau menjadi Guru!" seru Yuki dengan semangat.

"Kenapa?" tanya Yuka heran.

"Agar bisa menghukum para murid dan memeras uang mereka, mwahahahahaha." Jawab Yuki sambil tertawa ala maniak. Sekarang Yuka sweatdrop melihatnya. Ternyata Yuki punya ide yang sangat 'cemerlang' waktu masih berumur 10 tahun.

"Guru adalah profesi yang hebat, kau bisa mengajarkan apa saja yang kuasai kepada murid-murid mu. Asalkan itu benar dan berguna." Lanjut Yuki sambil menerawang ke langit luas. Yuka hanya merespon dengan 'oh...'. Mereka berdua sedang bermain di atas pohon apel.

*set*

Yuki tiba-tiba berdiri, menyebabkan Yuka kaget dan terjatuh dari atas pohon.

*bug*

"Ouch..."

"Suatu hari nanti aku akan mewujudkan impian ku!" ucap Yuki sambil menggenggam erat apel di tangan kanannya sampai hancur. Yuka hanya melihatnya dengan kesal karena dia jatuh dari atas pohon tapi kemudian tersenyum.

"Kalo begitu, ayo kita wujudkan bersama!" ucap Yuka sambil berdiri. Yuki melompat dari atas pohon, dan mendarat di atas Yuka.

"WHA!"

"AH!"

*bruk*

Yuka membuka kedua matanya perlahan kemudian membukanya lebar-lebar karena kaget. Yuki berada di atasnya dengan kedua tangan yang mengunci posisinya. Tak lama kemudian Yuki juga membuka kedua matanya, yang juga kaget karena Yuka sekarang berada di bawahnya. Keduanya saling menatap untuk waktu yang cukup lama.

"Hey..." Yuka mulai memecah keheningan.

"Nani?" tanya Yuki.

"Ini bukan fic romance kan?" tanya Yuka dengan senyum khasnya.

"Memang bukan." Jawab Yuki yang juga tersenyum.

"Lalu kenapa kau di atasku?" tanya Yuka.

"Kan aku loncat dari atas pohon dan mendarat di atas mu." Jawab Yuki santai.

"Lalu kenapa kau tidak bangun?" tanya Yuka lagi. Yuki terlihat berfikir sebentar.

"Karena Author Nova belum mengetik perintah untuk berdiri." Jawab Yuki. Kemudian Yuki mulai berdiri dan mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Yuka berdiri.

"Kenapa gak dari tadi aja?" tanya Yuka lagi sambil memegang tangan Yuki.

"Author baru mengetik perintahnya." Jawab Yuki santai.

"Lalu setelah ini apa?" tanya Yuka (lagi). Yuki terlihat berfikir lagi, dan sebuah lampu petromax muncul di belakang kepalanya.

"Aha! Aku ada ide!" seru Yuki.

"Apa?" Yuka bertanya sambil membersihkan pakaiannya yang terkena debu-debu intan! (Yuki : Cygnus? | Nova : -_- )

"Kita akan membangun sekolah kita sendiri. Disini. Di atas bukit ini!" ucap Yuki dengan semangat.

"Kau ini..." Ucap Yuka sambil menggelengkan kepalanya. "Yosh! Ayo kita bangun sekolah impian kita, dimana murid-muridnya akan patuh dengan kita dan dengan suka rela akan memberikan uangnya kepada kita, mwahahahahahaa." Lanjut Yuka yang ikut tertawa ala maniak. Sekarang giliran Yuki yang sweatdrop.

"Nee Yuki." Ucap Yuka setelah mereka 'tenang' kembali dan duduk di bawah pohon apel.

"Hmm, nani?" tanya Yuki sambil menyandarkan kepalanya di bawah pohon apel.

"Kira-kira, kapan mereka akan kembali kesini?" tanya Yuka. Yuki hanya mengangkat bahu.

"Entahlah. Mungkin bulan depan, mungkin tahun depan, atau mungkin tidak akan." Jawab Yuki.

"Apa kau tidak kangen dengan mereka?" tanya Yuka sambil duduk. Yuki mengangguk.

"Tentu saja. Mereka sudah kuanggap sebagai Kaa-san dan imõto kandung ku sendiri." Jawab Yuki sambil memejamkan mata, mengingat-ingat kembali masa lalunya.

Flashback di dalam flashback on

Seorang anak kecil tengah berlari di tengah malam ke atas bukit.

"Hah... ha... hah..." Dia terus berlari ke puncak bukit meskipun terlihat kelelahan. Keringat membanjiri kepalanya sampai-sampai Gub. Jakarta yang baru kebingungan mengatasi banjir. #plak Oke abaikan.

Sesekali dia melihat ke belakang apakah 'mereka' masih mengejarnya.

BRUK

"Ugh.." Karena dia melihat kebelakang, dia tiak tahu kalau ada pohon di depannya.

SREK SREK

"!" Dia mendengar suara di balik semak-semak, kemudian bangun lagi dan berlari lagi. Tak tentu arah. Tak tentu tujuan. Yang terpenting adalah lari dari mereka. Pikir anak itu. Dia terus berlari hingga sampai di puncak bukit.

"Hah... ha..." Dia jatuh di atas lututnya, tak sanggup lagi berlari. Nafasnya sudah putus-putus akibat berlari tanpa henti. Dia menoleh kebelakang dengan mata setengah terpejam.

Hening. Tidak ada orang.

"Hah...akhirnya." Dia pun duduk dan menghela nafas lega karena mereka sudah tak mengejarnya lagi. Tapi dia salah.

"Sudah tak sanggup berlari lagi, eh?"

"!" Sebuah suara di belakangnya membuatnya membuka kedua matanya lebar-lebar dan membeku di tempat. Dia memberanikan diri untuk menoleh kebelakang, hanya untuk mendapatkan tiga sosok laki-laki dan dua orang perempuan yang masing-masing memakai jaket berwarna hitam.

"Nah, Yuki, kemarilah dengan tangan di atas kepalamu, ku jamin tak akan ada yang terluka." Ucap salah satu laki-laki yang badannya paling besar sambil maju satu langkah dan mengulurkan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya tersembunyi di balik jaketnya.

"BO*piipp*" karena dia terlalu emosi lidahnya terpeleset. Lima orang di depannya hanya bisa facepalm. XD (Yuki : Authoooorrr! *dark aura* | Nova : *gulp*)

"Lihat, kalau kau ikut dengan kami, kau akan mendapatkan apa pun yang kau inginkan." Tawar sosok laki-laki yang lainnya sambil membuka kedua tangannya.

"Termasuk keluarga ku?" tanya Yuki memastikan.

"Termasuk keluargamu." Ucap laki-laki yang pertama sambil tersenyum licik. Yuki terlihat berfikir sebentar kemudian mengangguk. Laki-laki yang bertubuh besar mendekati Yuki dan mengulurkan tangan.

"Ayo." Ucapnya sambil tersenyum licik. Yuki menerima uluran tangan itu tapi sebelum dia sempat bergerak, orang bertubuh besar itu memutar tangan kanannya ke belakang dan mendorong Yuki ke tanah.

"Ugh..." Yuki jatuh ke tanah tak sanggup melawan.

"Tidurlah dulu karena perjalanan ini akan lama." Ucap orang yang menguncinya di atas tanah sambil menyuntikkan sesuatu ke leher Yuki. Yuki hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit akibat obat yang mulai bekerja di tubuhnya.

"Masukkan dia ke dalam mobil." Ucap laki-laki yang bertubuh besar yang Yuki pikir kalau dia adalah bosnya.

"Baik." Ucap beberapa orang sambil membawa Yuki ke dalam mobil. Sebelum Yuki kehilangan kesadaran dia masih mengingat kejadian sore itu.

Flashback di dalam flashback di dalamnya flashback on (Yuki : What the...?)

Sore hari yang cerah di kediaman Mizuhashi. Dimana para Maid dan pekerja lainnya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Terlihat seorang perempuan berumur 30 tahun tengah membuat origami di bawah pohon apel.

"Kaa-san." Panggil Yuki sambil berlari ke arah Ibunya.

"Nani Yuki?" ucap seorang perempuan berambut honey-blonde bermata blue-sapphire sambil menoleh ke anak kecil yang berlari ke arahnya.

"Kore ha nandesuka?" tanya Yuki sambil memperlihatkan sebuah bunga di kedua tangannya. Di kedua tangannya ada bunga berwarna putih berukuran kecil, sangat menarik. Bertangkai halus tetapi kuat.

"Kore wa Gladiol hanadesu." Jawab perempuan itu sambil mengamati bunga yang dipetik oleh anaknya. Gladiol merupakan tanaman bunga hias berupa tanaman semusim berbentuk herba termasuk dalam famili Iridaceae.

"Gladi...ol?" ulang Yuki walaupun terlihat sulit untuk melafalkannya.

"Hai'. Kirei desho?" ucap perempuan itu tersenyum membuat anaknya juga ikut tersenyum.

"Un! Kirei!" Yuki terus memandangi bunga di tangannya sampai sebuah suara dentuman membuatnya kaget.

BOOM

"!" Ibunya Yuki tiba-tiba berlari ke arah suara. Yuki memutuskan untuk mengikuti Ibunya dari belakang.

Dari dalam ruangan terdengar suara beberapa orang yang berjaket hitam tertawa.

"Hahahahaha, cepat serahkan dia sekarang!" ucap salah seorang diantara mereka.

"Tidak akan! Lebih baik kalian pergi atau kalian akan menyesal!" ancam seseorang yang sepertinya terpojok oleh kelompok misterius di depannya.

"Hoo, mengancam eh?" ucap seseorang yang bertubuh paling besar dan membawa pedang. "Memangnya apa yang bisa kau lakukan dengan tangan kosong, hmm?" lanjut orang itu.

"HENTIKAN!" terdengar teriakan yang berasal dari pintu depan. Kelompok yang berjaket hitam menoleh dan mendapati seorang perempuan yang memegang 2 pedang di tangannya. "Menjauh darinya atau kalian tahu akibatnya." Ancam perempuan itu.

"Huh, hebat kau masih bisa berdiri." Ucap orang yang bertubuh besar dengan santai.

"Apa maksudmu?" tanya perempuan itu.

"Kau belum sadar ya? Semua pelayan dan pekerja disini sudah kuracuni, termasuk kau dan suami mu yang tak berguna ini." Jawab orang itu sambil menunjuk seorang laki-laki yang memakai kemeja putih dengan noda darah di bagian depannya.

"!" perempuan itu kaget dan berlari ke arah suaminya mengabaikan kelompok berjaket hitam. Air mata membasahi pipinya.

"Aoi-kun!" perempuan itu memanggil nama orang di depannya dan memeluknya.

"Maaf." Ucap orang yang bernama Aoi, Mizuhashi Aoi.

"Bodoh!" ucap perempuan itu tapi Aoi hanya tersenyum.

"Oke sudah cukup acara pelukannya karena ini bukan fic romance, sekarang dimana dia!" seru orang yang bertubuh besar sambil mengacungkan pedang di tangan kanannya.

"Tidak akan kami serahkan anak kami kepada kalian! Dan juga ini bukan fic tragedy, kenapa kalian ingin membunuh!" ucap Aoi sambil berdiri dibantu istrinya.

"Entahlah, di script tertulis adegan seperti ini, aku hanya menjalankan peran, sekarang cepat katakan dimana dia!" ucap orang yang bertubuh besar sekali lagi.

"Kau sudah membawa anak kita ke tempat yang aman kan, Ani?" tanya Aoi pada istrinya, Ani. Lengkapnya Ani Sholihah. Yup! Ibunya Yuki berasal dari Indonesia. :)

"Eh... belum." Jawab Ani santai. Aoi facepalm di tempat.

"CEPAT KATAKAN DIMANA DIA!" teriak orang yang bertubuh besar tidak sabar.

BRAK

Terdengar suara pintu di buka paksa oleh seseorang. Mereka yang ada di dalam ruangan menoleh dan tersenyum. Tapi dua orang yang ada di pojok ruangan kaget.

"YUKI!"

"Hoo. Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan ku." Ucap orang yang bertubuh besar tertawa.

"CEPAT LARI!"

"Nah, Yuki ayo ikut kami." Ucap orang yang bertubuh besar sambil membuka dua tangannya.

"Kaa-san, Tou-san, kenapa kalian berpelukan, ini bukan fic romance kan?" tanya Yuki dengan polosnya. Semua orang yang ada di dalam ruang sweatdrop.

"Masa bodoh dengan genre, sekarang cepat ikut kami!" seru orang yang bertubuh besar sekali lagi.

"JANGAN! CEPAT LARI!"

"Tou-san..."

"PERGI!"

Kemudian Yuki berbalik dan berlari ke arah bukit. Meninggalkan kedua orang tuanya yang sepertinya dijadikan tawanan oleh kelompok berjaket hitam.

"Tsk. Kalian berdua tangani mereka. Aku dan tim ku akan mengejar bocah ajaib itu." Ucap orang yang bertubuh besar kemudian berlari menyusul Yuki diikuti timnya.

Flashback di dalam flashback di dalamnya flashback off

"Hoi bangun bocah!" samar-samar Yuki mendengar seseorang mengguncangkan tubuhnya. Perlahan Yuki membuka kedua matanya, tapi menutupnya lagi karena sinar lampu yang terlalu terang. Beberapa saat kemudian Yuki membukanya lagi. Dia melihat sekelilingnya. Banyak peralatan medis dan mesin-mesin yang Yuki tak tahu apa fungsinya, tapi yang jelas dia sekarang berada di atas kasur dengan kedua tangan, kaki, dan tubuhnya yang terikat kuat.

"Bisa kita mulai?" tanya seorang yang dokter yang memakai jas putih serta masker yang juga putih. Kedua tangannya memakai sarung tangan operasi. Laki-laki yang bertubuh besar yang memakai jaket hitam mengangguk dengan tersenyum licik.

"Silahkan." Ucap orang bertubuh besar itu. Yuki mencoba melepaskan diri tapi tidak bisa.

'Terlalu kuat!' batin Yuki panik. Seorang yang Dokter mendekatinya, diikuti beberapa Dokter lainnya. 'Mau apa mereka.' Batin Yuki bingung sambil berusaha melepaskan diri.

"Percuma kalau kau mencoba melepaskan diri. Ikatannya tidak akan bisa dibuka kecuali aku mengatakan "buka"." Ucap si Dokter itu sambil tersenyum. Tidak menyadari kalau dia mengucapkan kata kuncinya.

KLIK

"Terima kasih~." Ucap Yuki sambil melepaskan diri dan melompat dari atas kasur. Namun, begitu dia mendarat di lantai, Yuki seolah kehilangan keseimbangan dan jatuh. Yuki mencoba bangun tapi tetap saja tidak bisa.

"Hahahaha, berapa kali pun kau mencoba tidak akan berhasil. Obat itu ternyata berguna juga ya." Ucap orang yang bertubuh besar. Yuki hanya menatapnya dengan tatapan 'ku-goreng-kau-setelah-ini'. Tapi dia mengurungkan niatnya karena tidak ada penggorengan di sana.

Yuki diangkat kembali ke atas kasurnya dan diikat lagi oleh Dokter yang keceplosan tadi.

"Buka. Buka! BUKA!" ucap Yuki tapi tak berhasil.

"Haha, percuma saja, kata sandinya hanya berfungsi kepada suaraku saja. Sekarang mari kita mulai." Ucap Dokter itu sambil membawa peralatan operasi.

"Mau apa kalian!" seru Yuki panik masih mencoba melepaskan diri.

"Oh, kami hanya ingin mengambil kedua matamu itu saja." Ucap Dokter itu tenang. Yuki hanya bisa kaget dan membelalakkan matanya.

"Ja-jangan mendekat!" ucap Yuki panik. Si Dokter mendekati Yuki sambil tersenyum. (Len : aku heran, di fic ini semua orang suka tersenyum? | Rin : itu kan karena Authornya suka senyum (baca:gila) | Len : ow...)

"Ja-jangan mendekat atau..." Ucap Yuki makin panik. Si Dokter makin mendekat sambil tersenyum licik.

"Atau apa huh?" tanya si Dokter sambil membetulkan posisi sarung tangannya.

"Atau... atau... atau kalian akan merasakan akibatnya!" seru Yuki sambil menutup mata. Suasana sempat hening. 'Mungkin mereka takut.' Pikir Yuki sambil membuka kedua matanya perlahan.

"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!" tawa maniak memenuhi ruangan itu. Yuki makin ketakutan ketika salah seorang Dokter mendekatinya.

"Baiklah sudah cukup bercandanya." Ucap Dokter itu sambil menyalakan peralatannya.

"Tapi ini kan memang fic humor!" seru Yuki membela diri pencak silat(?).

"Masa bodoh dengan genre! Ayo kita mulai!" ucap si Dokter itu kepada anggotanya. Semua anggota mengangguk mantap.

"Cho-chotto—ugh!" ucapan Yuki terpotong karena sebuah jarum suntik menembus kulit lehernya. Yuki mulai kehilangan kesadaran dan pingsan akibat pengaruh obat.

-0o0-

5 jam kemudian...

"Nghh..." Yuki mulai sadar dari pengaruh obat dan mencoba membuka kedua matanya. Namun... ada yang salah dengan penglihatan mata kirinya. Hanya mata kanannya saja yang dapat melihat dengan jelas. Yuki mencoba meraba mata kirinya.

"!" Ketika Yuki menyentuh letak mata kirinya dia terkejut. Yuki merasa ada perban yang menutupi mata kirinya dan cairan lengket yang menempel dan mengalir perlahan ke pipi kirinya. Yuki pun mengangkat tangan kirinya ke atas agar bisa terlihat oleh mata kanannya.

"Da-darah..." Ucap Yuki gemetar melihat darah di telapak tangan kirinya.

"Ow, kau sudah bangun rupanya." Yuki menoleh dan mendapati si Dokter tersenyum senang.

"Apa yang kau lakukan pada mata kiri ku!" seru Yuki sambil duduk dari kasurnya.

"Kami mengambilnya." Ucap si Dokter masih dengan senyumnya. "Dan ku kira sekarang saatnya mengambil yang satunya lagi." Lanjut Dokter itu. Beberapa saat kemudian datanglah beberapa orang yang berpakaian sama dengan Dokter tersebut dan juga orang yang memakai jaket hitam. Yuki melirik orang yang bertubuh paling besar berjaket hitam. Mata kirinya di perban juga.

"Oh, Master, bagaimana keadaan anda?" tanya si Dokter pada orang yang bertubuh besar yang di panggilnya Master.

"Hebat, aku merasakan ada kekuatan yang memasuki tubuhku!" seru si Master dengan tersenyum puas. "Walau masih ada sedikit rasa sakit setelah operasi." Lanjut si Master.

"Hmm. Baiklah, tolong buka perban mata kiri anda, saya ingin melihat perkembangannya." Ucap si Dokter. Si Master mengangguk dan mulai melepas perban mata kirinya. Begitu semuanya terlepas, perlahan si Master membuka mata kirinya, menampakkan mata biru safir. Yuki terkejut karena itu adalah mata kirinya.

"Bagaimana?" tanya si Dokter khawatir kalau hasil operasinya gagal.

"Luar biasa!" seru si Master. "Penglihatan ku jauh lebih jelas sekarang. Hmm, apa aku juga bisa menggunakan kekuatan itu ya?" lanjut si Master.

"Tentu saja, cobalah." Jawab si Dokter. Si Master mengangguk lalu menutup kedua matanya dan berkonsentrasi. Yuki memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Perlahan si Master membuka kedua matanya. Mata kirinya yang semula hanya memiliki satu pupil hitam kini berubah menjadi 4 pupil hitam. 3 pupil hitam yang berbentuk seperti koma mengelilingi satu pupil hitam normal di tengah matanya. Terlihat ada garis-garis samar membentuk lingkaran yang menghubungkan antara tiga pupil yang seperti seperti koma tersebut. Yuki dan para Dokter di ruangan itu menampakkan ekspresi kaget.

"Itu..." si Dokter kehabisan kata-kata.

"Ao no Sharingan!" Yuki menambahkan tapi tidak terdengar oleh yang lainnya.

"Hahahaha. Akhirnya aku bisa mendapatkan mata indah ini." Ucap si Master tertawa puas. Tapi tak lama kemudian dia merasakan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Para Dokter pun kaget. Si Master mencoba untuk menghentikan rasa sakitnya dengan cara menutup matanya lagi dan membukanya.

"!" semua orang yang ada disana kecuali si Master kaget. Mata kirinya yang semula berwarna biru safir berubah menjadi merah darah, warna yang sama dengan mata kanannya.

...(ide buntu) #dihajarwarga

-0o0-

Hanya bercanda... :D

'Warna matanya berubah. Itu artinya kekuatan sharingan menurun ke tingkat dasar.' Batin Yuki mengamati perubahan warna mata kiri si Master.

Sharingan memiliki 4 tingkat (di fic ku yang gaje ini). Yaitu tingkat dasar, menengah, spesial, dan langka/unik. Tingkat dasar, warna mata adalah merah darah. Tingkat menengah, warna mata adalah oranye jeruk. Tingkat spesial, warna mata bisa biru atau hijau. Tingkat langka/unik, memiliki warna mata ungu/violet atau putih.

"Apa ada yang aneh?" tanya si Master karena melihat wajah si Dokter yang terkejut.

"Tidak ada, hanya saja..." Si Dokter mengambil sebuah cermin dari dalam laci dan memberikannya kepada si Master. Si Master menerimanya dan melihat bayangan wajahnya di cermin. Warna mata kirinya yang semula biru safir sekarang merah darah, namun masih dalam bentuk sharingan.

"Hmm, warnanya berubah..." Ucap si Master sambil berfikir. "Tidak apa-apa, yang penting aku punya mata ini, segera lanjutkan tahap ke dua!" perintah si Master kepada para Dokter di ruangan itu.

"Baik!" ucap si Dokter tersebut. Si Master kemudian pergi dari ruangan itu. Para Dokter mulai menyiapkan peralatannya lagi dan mendekati Yuki yang masih duduk di kasurnya dan menutupi luka di mata kirinya.

"Ja-jangan mendekat!" seru Yuki panik. Si Dokter tertawa diikuti para Dokter lainnya.

"Kau dengar apa yang dikatakannya, "jangan mendekat", ahahaha." Ucap si Dokter sambil tertawa lagi. Yuki semakin panik. Perlahan si Dokter mendekat.

"Ada permintaan terakhir?" tanya si Dokter tersenyum licik.

"K-kau, siapa nama mu!" tanya Yuki. Si Dokter memandangnya heran lalu menjawab.

"Itu rahasia, tapi kau bisa memanggil ku Dokter X dan sekarang saatnya kau tidur." Jawab si Dokter X sambil mengeluarkan alat suntik untuk membius Yuki. Yuki ingin lari, tapi seluruh tubuhnya tidak bisa di gerakkan. Dia hanya menutup mata kanannya ketakutan, menunggu hal selanjutnya yang tidak ingin dia alami.

PYARRR

Semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke asal suara dan mendapati salah satu Dokter yang tak sengaja menyenggol gelas di meja yang akhirnya jatuh ke lantai dan pecah.

"Maaf, silahkan lanjutkan." Ucap orang itu sambil menggaruk belakang lehernya. Perhatian kembali tertuju ke Yuki.

PRANG

Semua orang menoleh lagi ke asal suara dan mendapati Dokter yang lain yang tak sengaja menyenggol baskom yang ada di meja.

"Maaf, silahkan dilanjutkan." Ucap orang itu tenang. Perhatian kembali tertuju ke arah Yuki yang masih menutup mata kanannya. Para Dokter kembali tersenyum licik.

CTARRR

Perhatian kembali teralihkan. Para Dokter menoleh ke asal suara dengan kesal dan mendapati salah seorang Dokter sedang menyalakan TV.

"Apa? Sekarang waktunya Syahrono konser." Ucap orang yang menyalakan TV santai, tak mengetahui kalau rekan-rekannya sudah naik darah. Perhatian kembali tertuju ke arah Yuki. Yuki mulai membuka mata kanannya akibat mendengar beberapa suara aneh.

"Sudahlah, ayo kita mulai." Ucap si Dokter X mulai bosan. Yuki tidak tahu mau berbuat apa lagi dan menutup mata kanannya erat-erat. Tiba-tiba tak ada angin tak ada hujan dengan gajenya Yuki mendengar sebuah suara di dalam kepalanya.

[...Masuk ke Mindscape Yuki...]

"Yuki, kau dengar?" ucap sebuah suara yang sepertinya laki-laki.

"Siapa?" tanya Yuki.

"Ini aku." Ucap suara itu lagi. Yuki berfikir sebentar lalu menjawab.

"Tou-san." Ucap Yuki ragu.

"Benar, sekarang dengarkan Ayah, kau hanya punya satu kesempatan untuk meloloskan diri dari ruangan itu." Ucap orang itu yang ternyata adalah Mizuhashi Aoi.

"Bagaimana Tou-san tahu kalau aku tertangkap?" tanya Yuki heran.

"Entahlah, hanya menebak." Jawab Aoi yang membuat Yuki sweatdrop. "Yang terpenting, ikuti saja perintahku." Lajut Aoi. Yuki hanya mengangguk walau pun Aoi tak bisa melihatnya.

"Ulangi setelah aku...Chargoggagoggmanchauggagoggchaubunagungamaugg." Ucap Aoi yang membuat Yuki sweatdrop.

"Itu kan nama danau di Massachusetts, Tou-san." Ucap Yuki heran.

"Memang iya, kalau ada waktu, ayo kita memancing disana, skill memancing mu sudah mencapai tingkat Master kan?" tanya Aoi pada anaknya.

"Tentu saja, bahkan..."

Oke kita skip aja pembicaraan antara anak dan Ayah yang sama-sama gaje itu.

"Baiklah sekarang ulangi apa yang Ayah katakan tadi." Ucap Aoi pada akhirnya. Yuki mengangguk lagi walaupun Aoi tak dapat melihatnya.

"Chargoggagoggmanchauggagoggchaubunagungamaugg." Yuki mengulangi apa yang diucapkan oleh Ayahnya.

[...Kembali ke dunia nyata...]

"Chargoggagoggmanchauggagoggchaubunagungamaugg." Para Dokter diam ketika Yuki mengucapkan sesuatu. Tiba-tiba Yuki membuka mata kanannya yang tiba-tiba memiliki 4 pupil, 1 pupil hitam berada di tengah sedang 3 lainnya yang berbentuk seperti koma berputar-putar mengelilingi pupil hitam yang berada di tengah. Oh, rupanya itu adalah sandi untuk mengaktifkan kekuatan Ao no Sharingan dari keluarga Mizuhashi. Aneh...

-0o0-

'Apa ini?' batin Yuki heran karena semua orang di depannya diam saja. Tidak ada yang bergerak bahkan berkedip sekalipun. Yuki kemudian memanfaatkan kesempatan ini untuk lari. Dia mencoba untuk bangun dari kasurnya, yang dengan ajaibnya dia sudah bisa bergerak. Sebenarnya tidak ajaib sih, hanya pengaruh obatnya saja yang mulai hilang.

Yuki turun dari atas kasur dengan lemas, rupanya sisa pengaruh obat ajaib itu masih ada. Dengan susah payah, Yuki mulai berjalan ke arah pintu keluar melewati para Dokter yang seolah membeku di kutub utara.

Yuki melihat ke kanan dan kiri mencari petunjuk jalan keluar dari ruangan itu.

"EXIT." Yuki membaca papan yang tertulis di atas sebuah pintu di ujung lorong. Tak mau berlama-lama lagi, Yuki segera menuju ke pintu itu.

BWOSSHHHH

'Siapapun yang mendesain bangunan ini dia punya ide yang sangat 'cemerlang'.' Batin Yuki senang karena dia sekarang sudah bebas dari ruangan yang memenjaranya selama 6 jam. Yuki hendak berlari lagi namun berhenti ketika sebuah suara terdengar lagi di dalam kepalanya.

[...Masuk ke Mindscape Yuki...]

"Sepertinya kau berhasil lolos, Good Job!" seru Aoi dari tempat yang Yuki tak tau dimana.

"Tou-san sekarang dimana?" tanya Yuki.

"Aku dimana itu tidak penting, sekarang sebaiknya kau cepat lari sebelum-*cough* *cough* sebelum mereka menangkap mu lagi." Perintah Aoi.

"Tidak akan!." Seru Yuki protes.

"Turuti perintah Ayahmu bocah!" seru Aoi protes juga.

"Tidak akan!" Yuki protes lagi.

"Dasar sampah!" ucap Aoi.

"Aku memang sampah, tapi anak yang mengabaikan keselamatan Ayahnya lebih buruk daripada sampah!" seru Yuki dengan nada marah. Aoi terdiam mendengarkan pengakuan anaknya lalu tersenyum bangga.

"Hmm, baiklah kalau kau tetap memaksa. Aku ada di ruangan 13 00 M. Jika kau berlari 5 meter ke arah kanan kau akan menemukan pintu berwarna hitam. Jangan dibuka! Kau harus masuk ke pintu yang berwarna hijau." Ucap Aoi.

"Lalu?" ucap Yuki.

"Kemudian, kau harus menuruni tangga yang ada di samping kiri dan turun ke lantai 5." Ucap Aoi.

"Kenapa tidak pakai lift saja?" tanya Yuki heran.

"Bodoh, kalau pakai lift, semuanya akan menjadi terlalu mudah, aku ingin kau menghadapi tantangan yang akan mengancam keselamatanmu, hehehe." Jawab Aoi dengan gajenya. Yuki makin sweatdrop.

"Terus?" tanya Yuki lagi.

"Setelah itu kau harus mencari pintu yang berwarna hitam, nomer dua dari kanan, aku dan Kaa-san mu dikurung disini." Jawab Aoi.

"Okeh." Yuki akan berlari lagi namun di hentikan oleh Ayahnya.

"Kau hanya punya waktu 10 menit sebelum bom di ruangan kami meledak." Ucap Aoi tenang. Yuki diam mematung.

"KENAPA TIDAK KAU KATAKAN DARI TADI!" Yuki berteriak kesal di Mindscapenya. Aoi hanya tertawa gaje.

[...Kembali ke dunia nyata...]

Yuki berlari ke arah yang disebutkan Ayahnya tadi dan menemukan pintu berwarna hijau.

'Kode!' batin Yuki panik karena pintu itu menggunakan kode sebagai kuncinya. Yuki pun memasukkan kode dengan asal.

KLIK

Pintu pun terbuka. Yuki cengo di tempat.

'1234? Benar-benar sandi yang 'cemerlang'.' Batin Yuki sweatdrop. Kemudian Yuki menuruni tangga yang ada di samping kiri dan turun ke lantai 5.

'Pintu warna hitam, nomer 2 dari kanan.' Batin Yuki sambil mengingat-ingat petunjuk gaje dari Ayahnya. 'Aha! Itu dia.'

Yuki berjalan ke arah pintu hitam itu, kemudian dia berhenti lagi.

"Masukkan kata kuncinya..." Yuki membaca kalimat yang tertulis di sebuah Digital Lock di sebelah pintu hitam itu.

"Hmm... 1234." Ucap Yuki sambil memasukkan kata kuncinya ke alat itu.

"Password Error." Ucap Yuki ketika alat itu memunculkan kalimat error.

"Hmm... Error." Ucap Yuki sambil mengetik kata error ke alat itu.

KLIK

Dan pintu pun terbuka.

'Benar-benar 'cemerlang'.' Batin Yuki sweatdrop lagi. Yuki membuka pintu itu.

"Tou-san, Kaa-san ayo kita ka-" Yuki membelalakkan mata kanannya melihat keadaan Ayah dan Ibunya yang memprihatinkan. Mereka berdua dirantai dan diikat ke tembok dengan tangan di atas kepala mereka.

"TOU-SAN! KAA-SAN!" Yuki berteriak dan berlari menuju Orang Tuanya dan berusaha melepas rantai yang mengikat mereka, namun usahanya sia-sia.

'Terlalu kuat.' Batin Yuki panik.

"Yuki, dengar, kau harus lari sekarang juga." Ucap Aoi ditengah kesadarannya yang mulai hilang. Namun Yuki tak mendengarkannya dan tetap berusaha menyelamatkan kedua Orang Tuanya.

"Yuki, kau harus lari." Ucap Ani yang juga mulai kehilangan kesadarannya.

"TIDAK AKAN!" teriak Yuki protes.

"Tidak ada waktu lagi, kau harus menyelamatkan diri, hanya kau yang tersisa dari klan Mizuhashi." Ucap Aoi yang membuat Yuki menghentikan aktivitasnya.

"Apa maksud Tou-san?" tanya Yuki bingung.

"Semua anggota keluarga kita sudah dihabisi oleh Master X." Jawab Aoi lemah.

'Master X?' batin Yuki bertanya.

"Orang berjaket hitam yang bertubuh paling besar yang mengejar mu." Lanjut Aoi yang mengerti pikiran anaknya.

"Ta-tapi-" Yuki ingin protes lagi tapi Ibunya memotong.

"CEPAT LARI!" teriak Ani yang membuat Aoi di sampingnya mengalami gejala tuli sesaat.

"Tapi aku ingin menyelamatkan kalian berdua!" seru Yuki tak mau kalah.

"Kalau kau ingin menyelamatkan kami, kau harus lari sekarang juga!" ucap Aoi sambil membuka kedua matanya yang menampakkan Ao no Sharingan miliknya.

"Tou-san mu benar, pergilah, kami bisa jaga diri." Ucap Ani sambil tersenyum. Yuki hendak protes namun tidak bisa. Akhirnya dia berlari ke arah pintu, namun sebelum dia keluar, Yuki berbalik dan mengatakan...

"Kalau kalian berdua tidak bisa keluar dari sini, kalian akan merasakan akibatnya." Ucap Yuki sambil mengepalkan tangan kanannya dan tersenyum. Ani hanya menatapnya dengan tatapan 'Ayah-dan-anak-sama-saja'. Kemudian Yuki berlari dengan air mata yang membasahi mata kanannya.

...(ide buntu lagi) #dihajarmassa

-0o0-

Hanya bercanda. :D

Yuki terus berlari hingga dia sampai di pintu berwarna hijau. Yuki membukanya dan menghirup udara segar.

KRESEK

"!" Yuki menoleh dan mendapati Master X dan timnya tersenyum licik di depan Yuki.

"Mau kemana kau bocah." Ucap Master X santai.

"Aku? Mau kabur." Jawab Yuki jujur. 5 orang berjaket hitam di depannya sweatdrop.

'Dia ini polos atau baka...' Batin ke lima orang itu.

"Karena kau sudah diluar, bagaimana kalau kau kembali ke dalam dan kita lanjutkan acara kita yang sempat tertunda, hmm?" ajak Master X kepada Yuki dengan senyum yang aneh.

"TIDAK AKAN!" teriak Yuki sambil memegang letak mata kirinya yang diperban.

"Ho, kalau begitu aku akan memaksa mu." Ucap Master X sambil membuka eye-patch mata kirinya. "Aka no Sharingan." Lanjut Master X sambil membuka mata kirinya, menampakkan sharingan tingkat dasar.

"!"

"Kalau kau ikut kami, kau akan mendapatkan apa pun yang kau inginkan." Ucap Master X dengan membuka lebar kedua mata merahnya. Sharingan di mata kirinya berputar-putar. Mata kanannya masih normal.

"Omae ra..." Yuki menunduk sambil mengucapkan sesuatu.

"Hmm?" Master X membuat ekspresi bingung.

"Omae ra..." Yuki kembali bergumam. Master X dan timnya mulai merasakan aura yang aneh di sekitar Yuki.

"KIERUUU!" Yuki mengangkat wajahnya, menampakkan Ao no Sharingan yang berputar-putar dengan liar. Darah mengalir seiring perputarannya. Master X dan timnya mundur satu langkah akibat tekanan atmosfer yang tiba-tiba berubah. Sharingan milik Master X ber-resonansi dengan miliknya Yuki (karena memang itu milik Yuki).

"Ugh..." Master X menutup mata kirinya dengan tangan kanannya. Kesakitan akibat darah yang tiba-tiba mengalir. "A-apa yang kau lakukan?" tanya Master X sambil menahan rasa sakit di mata kirinya. Namun Yuki tidak menjawab, hanya menatap Master X dan timnya dengan Ao no Sharingan yang sudah berhenti berputar.

-0o0-

Di lain tempat, tepatnya di dalam ruangan operasi, seorang Dokter wanita dengan sebuah eye-patch di mata kirinya diam-diam menyelinap dan mengambil sebuah... tabung? Entahlah. Dokter itu kemudian pergi ke lantai dasar tingkat 5 dimana Orang tuanya Yuki disekap.

KLIK

Pintu terbuka menampakkan pemandangan dua orang yang dirantai di tembok dengan tangan di atas. Dokter itu mendekat dan membisikkan sesuatu diantara kedua orang yang dirantai itu.

"Aku akan menyelamatkan anak kalian, ini sebagai balas budi atas pertolongan kalian dulu." Ucap Dokter itu, namun tidak ada jawaban dari dua orang di depannya. Dokter itu pun berbalik dan menuju pintu keluar untuk mencari seseorang.

"Ku harap aku tidak terlambat..."

-0o0-

Master X dan timnya tidak bergerak sedikit pun, begitu pula Yuki yang masih menatap mereka.

"Hebat..." Ucap Master X pelan.

"HEBAT! HEBAT! HAHAHAHAHAHAHAHAHA!" teriak Master X lalu tertawa. 4 orang timnya memandangnya dengan heran. "KAU SUDAH BERHASIL MENGAKTIFKAN SHARINGAN MU! DAN SEKARANG AKAN KU AMBIL!" lanjut Master X sambil mencabut pedang yang ada di pinggangnya. Yuki hanya menatapnya datar.

"RAAAAAA!" Master X berlari ke arah Yuki dengan pedang di tangan kanannya. 4 orang di belakang si Master tersenyum licik.

SLAH

Master X mengayunkan pedangnya dari bawah kanan ke kiri atas. Si Master tersenyum senang karena berhasil mengenai tergetnya, namun perlahan senyum itu hilang karena targetnya tiba-tiba lenyap dengan senyum yang terdapat di wajahnya.

Master X diam sambil melihat kanan dan kiri untuk mencari keberadaan Yuki yang tiba-tiba hilang seperti kabut.

"Di belakangmu." Ucap sebuah suara di belakang Master X. Si Master membalikkan tubuhnya, menatap Yuki dengan kesal.

"Kau sudah bisa bermain trik kecil rupanya." Ucap Master X sambil memasukkan kembali pedang di tangan kanannya ke sarungnya. Yuki diam tidak menjawab.

"Kalau begitu..." Si Master mulai membuat hand seal dengan kecepatan yang luar biasa. "Genjutsu : Sakura no Sekai." Lanjut Master X. Beberapa saat kemudian, banyak bunga sakura yang berjatuhan dari langit dan membentuk ribuan pedang. Yuki hanya memperhatikan tidak bergerak.

"Hahaha. Akhirnya setelah menunggu selama 2 tahun aku bisa menyempurnakan teknik ini." Ucap Master X bangga dan menatap Yuki yang masih tidak bergerak. "Kalau kau mau menyerah, sekarang lah saatnya, sebelum pedang-pedangku akan memotong tubuhmu." Lanjut Master X dengan sambil tertawa.

"Kotowaru." Jawab Yuki cepat, membuat Master X menatapnya tajam.

"Dengar, kalau kau menyerah sekarang, Orang tua mu akan-"

"Kotowaru." Ucap Yuki memotong kalimat Master X, membuatnya semakin marah.

"Baiklah, kalau kau keras kepala..." Master X mengangkat tangan kanannya ke atas, sedetik kemudian seluruh pedang yang terbuat dari sakura bergerak dan mengelilingi Yuki.

"Chizakura no Ken!" ucap Master X sambil menggerakkan tangan kanannya ke bawah. Seluruh pedang yang terbuat dari bunga sakura melesat ke arah Yuki dari berbagai arah, namun Yuki masih diam tidak bergerak.

"Kawarimi no Jutsu." Ucap Yuki pelan.

ZRASS

Seluruh tim Master X terlihat tersenyum senang karena serangan Master mereka tepat sasaran, namun lagi-lagi senyum itu terpaksa harus digantikan dengan ekspresi shock. Di tempat dimana Yuki seharusnya berdiri adalah Master mereka.

"MASTER!" ucap 4 orang itu bersama. Kaget. Kemudian berlari dan mengecek keadaan Master mereka.

"Jangan khawatir, dia masih hidup." Ucap Yuki yang tiba-tiba ada di belakang ke empat orang itu. "Selain itu, ini hanyalah dunia ilusi yang kubuat, jadi Master mu tidak terluka sedikitpun secara fisik. Namun mentalnya akan drop begitu aku menghilangkan ilusi ini." Setelah Yuki berkata seperti itu, langit seolah pecah dan hancur seperti kaca yang di lempar batu.

Begitu semuanya kembali normal, Master X langsung jatuh ke tanah tak sadarkan diri. Anggota timnya bergegas menolong Master mereka sedangkan Yuki sudah hilang dari tempat itu.

Di atas pohon terlihat seseorang berpakaian putih dengan eye-patch sedang mengamati Master X dan timnya dengan tenang, kemudian dia pergi lagi.

-0o0-

TUK

Yuki menghempaskan tubuhnya ke arah pohon di atas bukit dengan nafas berat. Menggunakan sharingan melebihi kekuatan tubuhnya benar-benar menguras tenaga. Perlahan Ao no Sharingan miliknya kembali normal, biru safir dengan satu pupil.

"Ketemu kau." Ucap sebuah suara. Yuki membuka matanya perlahan. Menatap seseorang yang berpakaian putih di depannya, tapi Yuki terlalu lelah bahkan untuk melihat siapa yang datang. Pandangannya mulai kabur hingga hal terakhir yang diingatnya adalah orang itu mengatakan, "Tidurlah." setelah itu dia jatuh ke alam bawah sadarnya.

-0o0-

Sinar matahari membangunkan Yuki dari tidurnya. Perlahan Yuki membuka matanya dan hal pertama yang dia lihat adalah...

"Kucing?" ucap Yuki tidak yakin. Seekor kucing dengan bulu putih salju duduk di atasnya dengan ekor yang bergerak kanan-kiri.

"Nyaa~." Jawab kucing itu seolah mengerti apa yang diucapkan Yuki. Yuki bangun dari tempat tidurnya dan mengamati sekeliling. Ruangan bercat putih, sebuah lemari pakaian, satu tempat tidur yang dia tempati, jendela dengan gorden hijau yang menghadap ke arah matahari dan ada sebuah sofa di dekatnya, lantai marmer yang juga putih, sebuah kotak kaca dengan berbagai obat di dalamnya dan sebuah meja rias. Tunggu dulu...

"Dimana ini?" tanya Yuki pada dirinya sendiri.

"Nyaa~." Jawab si Kucing. Yuki sweatdrop.

SREK

Pintu ruangan terbuka menampakkan seorang perempuan yang kira-kira berumur 30 tahun, berambut hijau tosca dengan mata yang senada dengan warna rambutnya. Memakai pakaian serba putih dengan sebuah stetoscope di lehernya.

"Ara, kau sudah bangun rupanya." Ucap perempuan itu sambil mendekati Yuki.

"Kau siapa?" tanya Yuki menatap perempuan di depannya dengan waspada. Sedetik kemudian ingatan malam itu kembali. "Omae wa..." Ucap Yuki menatap perempuan itu tajam.

"Ah, tenang saja, aku di pihak mu." Ucap perempuan itu sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. "Namaku Hatsune Misha." Lanjut perempuan itu yang bernama Hatsune Misha.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Yuki waspada, mengingat bahwa perempuan di depannya adalah tim Dokter yang mengambil mata kirinya. "Mengambil mata ku yang lain kah? Kalau iya, kau akan menyesal." Lanjut Yuki. Kemudian Yuki menyadari kalau mata kiri Misha juga di perban. "Kenapa dengan mata kirimu?" tanya Yuki penasaran. Misha hanya tertawa pelan.

"Apa yang lucu." Ucap Yuki.

"Tidak, untuk seorang anak kecil bicara mu kasar juga." Ucap Misha tenang. Yuki hanya menatapnya dalam.

"Aku ingin membantu mu. Kalau soal mata kiri ku, adalah hal yang juga terjadi padamu kemarin malam." Lanjut Misha. Yuki menatapnya heran.

"Apa kau-" Yuki hendak bertanya tapi Misha memotongnya.

"Aku memiliki Shokugan no Shisen." Ucap Misha.

'The Eyes of Eclipse!' batin Yuki kaget. Ibunya sering menceritakan kalau ada sebuah komunitas yang memiliki kekuatan mata yang melebihi sharingan dan geass. Namun itu hanya legenda. Tak disangka perempuan di depannya adalah legenda itu.

"Namun aku tak bisa menggunakannya lagi. Ketika Master X mengambil mata kiri ku, kekuatan shokugan di mata kananku tiba-tiba hilang, hal yang sama juga terjadi pada mata kiri ku yang diambil Master X." Lanjut Misha. Yuki hanya mendengarkan.

"Ketika Master X mendengar ada seorang anak yang memiliki kekuatan yang hampir sama dengan Shokugan no Shisen, dengan kata lain, Ao no Sharingan milik mu, Master X memutuskan untuk menculik mu dan mengambil mata mu. Tidak seperti shokugan, ketika sebelah mata diambil, kekuatan sharingan masih ada dan bisa digunakan. Master X merencanakan untuk mengambil mata dari Orang Tua mu, namun seorang Dokter yang kau kenal dengan nama Dokter X menyarankan agar mengambil mata dari generasi yang masih muda dengan alasan lebih mudah untuk di ambil dan beradaptasi lebih cepat setelah di transplantasikan ke orang lain." Ucap Misha menjelaskan. Yuki mengangguk paham.

"Lalu, kau mau apa sekarang, Hatsune-san?" tanya Yuki yang tanpa sadar mengelus kucing yang tidur di pangkuannya.

"Panggil saja Misha. Kalau kau mau, aku akan memperbaiki penglihatan mata kiri mu." Ucap Misha tersenyum. Yuki menatapnya heran. Yuki ingin bertanya tapi sebuah suara menghentikannya.

"Kaa-san, doko ni?" terdengar suara anak kecil yang sepertinya memanggil Ibunya. Beberapa saat kemudian pintu terbuka, menampakkan seorang cewek manis yang berumur 10 tahun, memiliki rambut berwarna ijo... mantapp... hot... (Miku : betapa aku inging menggoreng mu Author... *dark aura* | Nova : ehehehe... ) sebahu. Mata hijau turquoise, yang memancarkan keindahan pemiliknya. (Nova : masih mau menggoreng ku? | Miku : ehehehe... ^^ )

"Ara, Miku-chan. Dõshita no?" tanya Misha pada anak perempuan di depannya. Anak perempuan yang bernama Miku mendekat dan duduk di pangkuan Misha sambil tersenyum.

"Iie, nani mo nai." Ucap Miku tersenyum ke arah Misha. Misha hanya mengusap kepala Miku dengan lembut. Yuki hanya diam memperhatikan.

"Oh, kenalkan, ini anak ku, Hatsune Miku. Miku ini Mizuhashi Yuki." Ucap Misha memperkenalkan mereka berdua. Miku turun dari pangkuan Misha, Ibunya, dan mendekati Yuki.

"Hatsune Miku, Yoroshiku onegai shimasu." Ucap Miku memperkenalkan diri kepada Yuki dengan mengulurkan tangan kanannya yang di sambut Yuki dengan tersenyum.

"Mizuhashi Yuki. Yoroshiku." Ucap Yuki.

"Nyaa~." Keduanya dikagetkan dengan suara kucing yang bangun dari pangkuan Yuki.

"Dan dia Yuki. Ehehe, mirip dengan nama mu ya." Ucap Miku sambil menggendong kucingnya. Yuki sweatdrop.

"Kenapa dengan mata kiri mu, Mizuhashi-san?" tanya Miku penasaran. Yuki melirik Misha sebentar dan mengangguk.

"Oh, tadi malam terluka dan Kaa-san mu mau menyembuhkannya." Jawab Yuki. Miku hanya ber-oh saja.

"Nyaa~." 'Yuki' ber-nyaa-ria.

"Kalau kau sudah siap, panggil saja aku atau Miku." Ucap Misha hendak pergi, namun Yuki menghentikannya.

"Aku siap." Ucap Yuki serius.

"Sungguh?" tanya Misha tidak yakin. Yuki mengangguk.

"Kau akan mengalami rasa sakit yang luar biasa melebihi hal-hal gaje yang pernah kau alami baru-baru ini." Ucap Misha dengan nada menyeramkan. Yuki hanya mengangguk.

"Baiklah, ikut aku." Kemudian mereka bertiga plus 'Yuki' pergi ke ruangan yang bertuliskan "Ruang Gaje".

-0o0-

"Tidurlah disana." Perintah Misha sambil menunjuk ke sebuah alat penyiksa-ehem... alat operasi. Yuki mengangguk. (Yuki : firasat ku buruk... | Nova : :D)

"Kaa-san." Ucap Miku yang duduk di kursi dekat pintu. Sedangkan Misha sibuk menyiapkan peralatannya.

"Nani?" tanya Misha.

"Apa Mizuhashi-san akan sembuh?" tanya Miku khawatir. Misha hanya tersenyum.

"Tentu saja." Jawab Misha singkat.

"Aku ingin membantu, boleh?" tanya Miku sambil berdiri dari tempat duduknya. Misha berfikir sebentar lalu mengangguk.

"Tapi nanti setelah Kaa-san selesai ya, Miku boleh membantu membersihkan peralatannya." Ucap Misha. Miku mengangguk.

"Nyaa~." Bahkan 'Yuki' setuju. Kemudian semuanya tertawa.

"Kau siap?" tanya Misha memastikan. Yuki mengangguk mantap.

"Kalau begitu kita mulai." Ucap Misha sambil tersenyum dan mengeluarkan alat suntik dari saku jaketnya. Yuki mulai berkeringat dingin.

"Huh? Kau takut dengan ini?" tanya Misha.

"Senyum mu lebih mengerikan dari alat suntik itu." Ucap Yuki. Senyum di wajah Misha langsung hilang digantikan ekspresi kesal.

*twitch*

*gulp*

Misha mulai mendekati Yuki yang makin berkeringat dingin sambil menundukkan wajahnya.

"Nah, ayo kita mulai." Ucap Misha sambil 'tersenyum'. Entah itu halusinasi atau bukan tapi Yuki bisa melihat dark aura disekitar Misha.

"Cho-choto-ugh..." Dan Yuki pun memasuki alam bawah sadarnya.

-0o0-

Another 5 hours of torture...

"Ugh..." Yuki perlahan membuka matanya dan mengerjapkannya beberapa kali. Samar-samar Yuki melihat bayangan di depan matanya.

"Nyaa~." 'Yuki' yang duduk manis di atas tubuhnya menyapa.

"Ohayõ." Ucap Yuki pada 'Yuki'.

"Nyaa~." Respon 'Yuki'. Terdengar suara pintu dibuka, menampakkan seorang perempuan dan anak kecil di sampingnya.

"Oh, kau sudah bangun, bagaimana keadaan mu?" tanya Misha yang baru saja masuk ke ruangan tempat Yuki beristirahat. Miku mengikuti Ibunya dari samping.

"Tak pernah lebih baik dari ini." Jawab Yuki sarkastik sambil menatap kucing putih di atas tubuhnya.

"Ahaha, gomen. Aku terbawa suasana saat itu." Ucap Misha sambil tertawa. Yuki hanya mendengus.

"Mizuhashi-san, bagaimana keadaanmu?" tanya Miku khawatir. Yuki bangun dari kasurnya.

"Aku tidak apa-apa, dan panggil saja Yuki, kita kan seumuran, Miku." Jawab Yuki menoleh ke arah Miku. Miku hanya mengangguk.

"Bagaimana keadaan mata kirimu, apa masih sakit?" tanya Misha memastikan kalau operasinya berjalan lancar. Yuki meraba perban di mata kirinya.

"Masih sedikit sakit hanya saja-!" Yuki kaget dengan apa yang diucapkan Misha. Yuki menatap Misha sesaat sebelum bertanya.

"Aku... merasakan sesuatu di mata kiri ku." Ucap Yuki masih meraba perban di mata kirinya.

"Tentu saja. Operasinya berjalan 'lancar'. Dan jangan di tekan-tekan seperti itu kalau kau tak mau kesakitan." Ucap Misha begitu melihat Yuki menekan mata kirinya. Yuki menatap Misha curiga dengan kata 'lancar'.

"Aku memberikan mata yang baru untukmu." Ucap Misha seolah mengerti apa yang akan ditanyakan Yuki. "Walau pun berbeda warna, tapi terlihat cocok kok dengan mu." Lanjut Misha tersenyum.

"Boleh aku membukanya?" tanya Yuki.

"Tidak boleh. Paling tidak sampai besok kau tidak boleh membukanya. Agar mata baru mu itu bisa menyesuaikan dengan kondisi tubuhmu." Jawab Misha. Yuki mengangguk.

"Ne~ Yuki, rumahmu dimana?" tanya Miku.

Yuki terdiam.

Rumah...

Keluarga...

Tou-san...

Kaa-san...

"Ukh..." Yuki tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya. Misha terlihat panik, tapi kemudian kembali rileks melihat Yuki yang perlahan mulai kembali normal.

"Yuki daijõbu?" tanya Miku khawatir. Terlihat sedikit air mata di ujung mata kecilnya. Yuki hanya tersenyum.

"Daijõbu dayo." Jawab Yuki tersenyum berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.

"Sebaiknya kau istirahat lebih banyak. Keadaan mu masih belum sepenuhnya pulih setelah operasi." Ucap Misha. Yuki mengangguk pelan kemudian berbaring lagi di kasurnya.

"Kalau kau butuh sesuatu, aku ada di ruangan sebelah. Ada anak kecil seumuran mu yang butuh pertolongan." Ucap Misha sambil membuka pintu.

"Siapa?" tanya Yuki bangun dari tidurnya.

"Aku tidak tahu. Aku menemukannya tergeletak di jalan dan berlumuran darah, tapi tidak separah dirimu waktu aku menolongmu." Jawab Misha.

"Boleh aku ikut?" tanya Yuki lagi.

"Hmm... ok, tapi jangan berisik." Jawab Misha. Yuki mengangguk kemudian turun dari kasurnya dibantu Miku.

-0o0-

Di sebuah ruangan yang hampir sama dengan ruangan tempat dimana Yuki dirawat, seorang anak perempuan tertidur dengan pulasnya di atas kasur putih. Rambutnya berwarna light-blonde yang panjangnya mencapai punggungnya.

KLIK

Seorang perempuan berjaket putih dan memiliki eye-patch di mata kirinya memasuki ruangan itu diikuti dua anak kecil berambut honey-blonde dan tosca di belakangnya. Perempuan itu mengamati keadaan seseorang yang tertidur di depannya sebelum menyuruh dua anak kecil di belakangnya untuk masuk ke dalam ruangan.

"Aku menemukannya di atas jembatan "The Bridge That Never Was"." Ucap Misha sambil mengamati anak perempuan yang masih tidur di depannya.

"Sudah berapa lama dia tidur?" tanya Yuki.

"Dua hari." Jawab Misha. "Aku tidak tahu kapan dia akan bangun." Lanjut Misha. Yuki terlihat berfikir sebentar kemudian mengambil 'Yuki' yang dari tadi terus menggosokkan bulunya yang lembut ke kakinya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Miku heran. Yuki hanya tersenyum. Kemudian meletakkan kucing itu di atas anak perempuan yang masih tidur di depannya dengan pelan-pelan.

"Lihat saja." Ucap Yuki. Misha dan Miku menatapnya heran.

"Ugh..." Anak perempuan yang terlelap itu mulai bergerak dan membuka kedua matanya perlahan, menampakkan iris biru safir sama seperti mata kanannya Yuki.

"Kucing?" ucap anak perempuan itu setengah sadar.

"Nyaa~." Jawab 'Yuki'. Anak perempuan itu kemudian bangun dan menoleh ke kanan dan mendapati 3 sosok manusia, satu perempuan yang kira-kira berumur 30 tahun, disamping kirinya ada anak perempuan yang rambutnya sama dengan orang itu, disamping kanannya ada anak laki-laki dengan perban di mata kirinya.

"Dimana aku?" lanjutnya setelah sepenuhnya sadar.

"Kau ada di rumahku. Aku menemukan mu tergeletak di atas jembatan "The Bridge That Never Was". Apa yang terjadi?" tanya Misha penasaran.

"Aku... tidak tahu." Jawab anak perempuan itu menggelengkan kepalanya.

"Namamu siapa?" tanya Yuki.

"Namaku... mmm... Yuka... Mizuhashi Yuka. Itulah namaku." Ucap anak perempuan itu.

'Mizuhashi!'

"Apa kau saudaranya Yuki?" tanya Miku sambil menunjuk Yuki di samping Ibunya dan mengambil kembali kucingnya. Yuka hanya menggeleng.

"Tidak. Aku anak tunggal." Jawab Yuka.

"Apa kau dari komunitas Mizuhashi?" tanya Yuki penasaran. Sekali lagi Yuka menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Aku lahir di komunitas Kagene. Tapi Kaa-san ku punya marga Mizuhashi." Jawab Yuka. Yuki mengangguk paham.

"Apa kau masih merasa sakit?" tanya Misha.

"Sedikit, tapi tenang saja, nanti juga hilang." Jawab Yuka sambil tersenyum manis, membuat jantung Yuki berdetak lebih cepat.

'Ini bukan fic romance. Ini bukan fic romance. Ini bukan fic romance. Ini-' Yuki membatin gaje.

"Syukurlah, kalau begitu aku akan ke ruangan ku. Kalau butuh sesuatu, panggil saja aku atau anakku." Ucap Misha. Yuka mengangguk paham. Sedetik kemudian Yuka menyadari sesuatu, dia belum tahu nama mereka!

"A-ano..." Seolah membaca pikiran Yuka, Yuki menjawab.

"Namaku Mizuhashi Yuki, Perempuan yang tinggi itu, Hatsune Misha. Anak perempuan yang menggendong kucing namanya Hatsune Miku." Ucap Yuki. Yuka mengangguk paham.

"Aku ada di lantai 2, kalau butuh sesuatu naik saja ke atas, oh atau kalau kau ingin bermain dengan Yuki, dia ada di kamar sebelah." Ucap Misha sambil tersenyum aneh. Yuki sweatdrop melihatnya. Yuka hanya mengangguk.

"Ayo Miku. Kau masih harus belajar." Ucap Misha menggandeng anaknya menuju lantai kedua. Miku mengangguk.

"Hai'. Ja ne~." Ucap Miku kemudian pergi mengikuti Ibunya. Tinggal Yuki dan Yuka berdua.

"Kalau begitu aku ke ruangan ku juga." Yuki melangkah pergi namun Yuka menarik lengan bajunya. Yuki menoleh.

"Ada apa?" tanya Yuki heran.

"Kau dari komunitas Mizuhashi kan?" tanya Yuka. Yuki mengangguk. "Apa kau tahu dimana Kaa-san ku berada?" lanjut Yuka.

"Siapa namanya?" tanya Yuki lagi.

"Mizuhashi Yui." Jawab Yuka. Yuki berfikir sebentar lalu menggeleng.

"Ma'af. Aku tidak tahu." Jawab Yuki.

Kemudian hening.

"Kalau begitu aku kembali ke kamar ku." Ucap Yuki hendak pergi namun Yuka kembali menarik lengan bajunya. Yuki menoleh lagi.

"Tetaplah disini." Ucap Yuka serius. Yuki menatapnya heran, lalu menjawab.

"Baiklah. Kau istirahatlah, aku akan duduk di sana." Ucap Yuki sambil menunjuk ke sofa yang ada di dekat jendela. Yuki mau melangkah tapi Yuka kembali menarik lengan bajunya.

"Disini saja." Ucap Yuka sambil tersenyum.

"Hah..." Yuki menghela nafas pasrah lalu duduk di samping tempat tidur Yuka. Yuka kemudian berbaring dan memakai selimutnya.

"Oyasumi." Ucap Yuka.

"Oyasumi." Balas Yuki.

-0o0-

Skip time, 2 hari kemudian.

"Apa aku boleh membukanya sekarang?" tanya Yuki semangat. Dua hari sudah berlalu setelah operasi yang lebih mirip disebut penyiksaan oleh Misha pada mata kirinya. Misha mengangguk. Perlahan Yuki membuka perban di mata kirinya kemudian meletakkannya di atas meja.

"Buka perlahan agar bisa menyesuaikan dengan cahaya di luar." Saran Misha. Yuki mengangguk. Kemudian perlahan Yuki membuka mata kirinya.

Awalnya hanya tampak bayangan yang agak samar namun setelah itu semuanya menjadi jelas.

"Bagaimana?" tanya Misha mengamati mata kiri Yuki yang baru.

"Aku bisa melihat dengan jelas dengan mata kiri ku." Jawab Yuki senang. Misha juga ikut senang. Miku yang ada disamping Ibunya menatap Yuki dengan heran.

"Kaa-san, kenapa warna mata Yuki berbeda?" tanya Miku. Yuki yang mendengarnya juga heran lalu mendekat ke arah cermin.

"Dark violet..." Ucap Yuki setelah melihat bayangannya di cermin. Mata kanannya blue sapphire sedangkan mata kirinya dark violet.

"Oh, itu. Saat aku mentransplantasikan mata kirinya Yuki, tiba-tiba saja warna matanya berubah, padahal warna aslinya juga biru safir. Aneh." Jawab Misha.

"Tidak apa-apa." Ucap Yuki tersenyum.

"Lagi pula terlihat cocok dengan mu." Ucap Yuka yang dari tadi memperhatikan mata kiri Yuki.

"Apa kau masih bisa menggunakan kekuatan mu?" bisik Misha pelan tak ingin anaknya atau Yuka mendengarkan.

"Biar ku coba." Ucap Yuki lalu menutup kedua matanya dan berkonsentrasi, kemudian membukanya lagi. Mata kanannya sekarang memiliki 4 pupil, 1 di tengah dan 3 lainnya mengelilingi dan dihubungkan oleh garis tipis yang membentuk lingkaran. Ao no Sharingan.

"Sepertinya aku masih bisa menggunakannya." Ucap Yuki pelan. Misha mengangguk.

"Wow, kau memiliki mata yang sama denganku." Ucap Yuka yang tiba-tiba saja ada di depannya Yuki dan Misha. Yuki terlihat kaget. Miku menatap mereka heran.

"Apa maksudmu?" tanya Yuki.

"Lihat." Jawab Yuka sambil menutup kedua matanya lalu membukanya lagi. Yuki dan Misha kaget untuk yang kedua kalinya.

"Kau juga memiliki sharingan, dan bukan sharingan biasa. Ao no Sharingan." Ucap Yuki kaget.

"Ao no Sharingan?" ucap Yuka heran.

"Itu adalah nama dari mata yang kau miliki." Jelas Yuki. Miku yang melihat perubahan bentuk mata Yuka hanya terkagum-kagum.

"Aku juga ingin punya mata seperti itu." Ucap Miku semangat.

"Hehe, kau sebenarnya punya Miku, namun belum saatnya kau untuk menggunakannya." Ucap Yuki yang membuat Misha kaget.

"Apa maksudmu?" tanya Misha.

"Saat aku melihat mata Miku, aku bisa merasakan kalau ada kekuatan yang tersembunyi, dan mengingat Misha-san pernah memiliki mata itu, kemungkinan besar Miku memilikinya juga." Jawab Yuki. Misha mengangguk paham. Yuka dan Miku yang tidak mengerti hanya saling pandang.

"Apa itu?" tanya Miku penasaran.

"Kau akan tau nanti kalau sudah saatnya." Ucap Yuki sambil tersenyum aneh sama seperti Misha.

"Hmph!" Miku menggembungkan kedua pipinya, namun malah membuat semuanya tertawa.

-0o0-

Minggu pagi yang tenang di kediaman Hatsune...

"APA?"

...mungkin juga tidak. Para Mizuhashi sekarang berteriak kompak.

Yuki dan Yuka berada di teras rumah. Di depan mereka berdiri Misha dan Miku yang membawa 2 koper tas tas ransel. Dua minggu sudah berlalu, dan sekarang Misha bersama anaknya harus pindah ke luar kota karena pekerjaannya.

"Kami akan pindah ke luar kota, mungkin selama sebulan, setahun, atau mungkin selamanya." Ucap Miku sedih. Dia tidak ingin terpisah dengan dua sahabat dekatnya. Namun pekerjaan Ibunya memaksanya untuk pindah dan Miku juga tak ingin terpisah dengan Ibunya.

"Secepat ini kah?" tanya Yuka sambil menyembunyikan kesedihannya. Misha hanya mengangguk.

"Kami mengerti." Ucap Yuki.

"Kalian tidak sedih?" tanya Miku kecewa.

"Tentu saja kami sedih, tapi kalau kami bersedih, kau akan semakin berat untuk meninggalkan kami. Dan kami tidak ingin hal itu terjadi." Ucap Yuki sambil mengusap puncak kepala Miku. Wajah Miku sedikit memerah akibat perlakuan Yuki.

"Kalian bisa menjaga rumah ini selama kami pergi kan?" tanya Misha. Yuki dan Yuka mengangguk.

"Serahkan saja kepada kami!" seru Yuki dan Yuka semangat.

"Kalau begitu kami pergi dulu. Sampai ketemu lagi, Yuki, Yuka."

"Hm! Sampai ketemu lagi, Misha-san." Ucap Yuka.

"Sampai ketemu lagi, Misha-san." Ucap Yuki.

"Hmph!" Miku menggembungkan pipinya.

"Kau juga Miku." Ucap Yuki dan Yuka kompak. Miku tersenyum dan memeluk mereka.

Flashback di dalam flashback off

"...ki. Yuki... YUKI!" Teriakan Yuka membangunkan Yuki dari tidurnya.

"Nani?" tanya Yuki malas.

"Ini sudah malam, apa kau mau tidur disini?" tanya Yuka sedikit marah karena dari tadi dia sudah memanggilnya berkali-kali, namun tak ada jawaban dari Yuki. Yuki menatapnya heran, selama itukah ia tidur?

"Yosh!" Yuki berdiri tiba-tiba, membuat Yuka kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah... lagi.

"Besok saat matahari terbit, ayo kita membangun sekolah impian kita, sekolah dimana fasilitasnya akan melebihi sekolah yang lain, sekolah dengan teknologi tercanggih (baca:gaje) yang pernah ada, sekolah dengan top secret yang akan melegenda, sekolah yang akan terkenal di seluruh dunia akan ke-'jenius'-an para murid-muridnya, sekolah yang akan menjadi impian para murid dan guru, sekolah yang-hmph!" 'pidato' Yuki terpotong karena mulutnya dibungkam oleh Yuka dengan telapak tangan kanannya.

"Ya ya ya, dan semua hal gaje lainnya. Sebaiknya kita pulang sekarang, atau kau ku seret sampai rumah." Ucap Yuka dengan nada mengancam. Yuki berkeringat dingin mengingat terakhir kali dia membantah Yuka, dia harus berbaring di kamarnya selama seminggu akibat 'mental crash'. Rupanya Yuka juga memiliki sharingan spesial sama seperti Yuki di mata kanannya. Pada awalnya Yuki heran bagaimana ia mendapatkannya, hingga Yuka menjawab kalau dia mendapatkan mata itu dari Yui, Ibunya dan mendapat marga Mizuhashi.

"Ha-hai'." Ucap Yuki menuruti Yuka.

-0o0-

Keesokan harinya, Yuki dan Yuka memulai rencana 'cemerlang' mereka. Membangun sekolah yang nantinya menjadi sekolah terajaib, tergaje, dan ter ter yang lainnya. Mereka mulai merencanakan bangunan apa saja yang nanti diperlukan kemudian dengan teknik-teknik gaje mereka, sekolah itu dibangun sesuai dengan yang aku jelaskan di chapter 18-20. Lupa? Silahkan baca ulang, hahaha. #dihajarwarga

Bahkan mereka berdua tidak menghitung berapa biaya yang akan diperlukan! Aneh...

Flashback off

Len, Rin, dan Miku terdiam di kursi masing-masing, kaget dengan apa yang di-'perlihatkan' oleh Yuki.

"Kalian yang waktu itu." Ucap Miku pelan sambil menatap Yuki dan Yuka. Kemudian melompat kearah mereka berdua dengan tangan terbuka.

"Aku rindu dengan kalian... hiks." Ucap Miku sambil memeluk Yuki dan Yuka. Len dan Rin masih berusaha menyimpulkan apa yang baru saja mereka 'lihat'.

"Hisashiburi, Miku." Ucap Yuki dan Yuka kompak. Miku makin mengeratkan pelukannya.

"Jadi seperti itu." Ucap Rin setelah mengerti semuanya.

"Oh, ya Miku. Kenapa kau tidak memberi tahu kami kalau kalian sudah kembali ke sini?" tanya Yuka. "Dan kenapa kalian tinggal di tempat lain?" sambung Yuki.

Miku mengangkat wajahnya yang masih basah.

"Hehehe, Kaa-san memutuskan untuk membeli rumah lagi dekat Vocaloid Gakuen, dan rumah yang lama..." Miku menjeda kalimatnya, membuat Yuki, Yuka, Len dan Rin penasaran.

"Rumah yang lama diberikan kepada kalian berdua." Lanjut Miku. Yuki dan Yuka kaget.

"Be-benarkah?" tanya Yuka hampir menangis. Miku mengangguk mantap. Yuka memeluk Miku lebih erat.

"Arigatõ, Miku." Ucap Yuka sambil menangis.

"Arigatõ Miku." Len juga ikut menangis. Rin menatap adiknya heran.

"Napa lu nangis juga?" tanya Rin heran.

"Dengan begini kita tidak perlu menampung orang gaje lagi." Ucap Len bahagia. Rin sweatdrop.

"Lalu bagai mana dengan Ulsesnya? Apa kami lulus?" tanya Rin.

Yuki dan Yuka tertawa.

"Apa yang lucu?" tanya Rin heran.

"Kalian ingin tahu?" tanya Yuki. Len, Rin, dan Miku mengangguk.

"Kalian sebenarnya sudah lulus dari kemarin, hahaha." Ucap Yuki disela-sela tawanya.

"Kami hanya mengerjai kalian saja, ahaha." Sambung Yuka ikut tertawa.

"HAAA!" Len, Rin, dan Miku kaget.

BLAZEEEE

"E-Eh..!" Yuki sweatdrop melihat background api di belakang ketiga muridnya.

"MIZUHASHI YUKI!" koor Len, Rin, dan Miku.

"Hahahaha." Yuki dan Yuka berlari keluar ruangan. Len, Rin, dan Miku mengejar mereka.

Akhirnya fic gaje ini berakhir dengan gajenya.


Time Line

2050
Mizuhashi Yuki, Mizuhashi Yuka, Kagamine Rin, Kagamine Len dan Hatsune Miku lahir.

2060
Keluarga Mizuhashi Yuki diserang oleh kelompok berjaket hitam.
Mizuhashi Yuki dirawat oleh Hatsune Misha.
Pertemuan antara Mizuhashi Yuki dengan Hatsune Miku.
Pertemuan antara Mizuhashi Yuki dengan Mizuhashi Yuka.
Perpisahan antara Keluarga Hatsune dengan Mizuhashi Yuki dan Mizuhashi Yuka.
Mizuhashi Yuki dan Mizuhashi Yuka merencanakan untuk membangun sekolah mereka.

2061
Vocaloid Gakuen resmi dibuka dengan Mizuhashi Yuki sebagai Kepala Sekolah dibantu oleh Mizuhashi Yuka.

2065
Kagamine Len, Kagamine Rin dan Hatsune Miku mulai masuk ke Vocaloid Gakuen.
Ulangan Semester.
Mizuhashi Yuki dan Mizuhashi Yuka bertemu kembali dengan Hatsune Miku.


~The End~

.

.

.

Review boleh, gak review gak boleh. :D

#gue duarius!

.

Semua kritik diterima disini.

#gue tigarius!

.

.

.

Preview Chapter 24 :

"Omake part 1"

'Apa tidak ada yang peduli dengan ku... hiks'

.

.


A/N : Bales review...

To Berliana-Arnetta03 :

Hehe, semoga sekarang lebih panjang.

Arigatõ~

-0o0-

To Shiroi Karen :

Nova : ahahaha, lu dikira bapak-bapak tua. :D
Yuki : damare!
Yuka : hahahaha. :D
Yuki : Ugh... *pundung*

Sudah update.

Arigatõ~

-0o0-

To UsamiNekoBaaka :

Entahlah. #plak!
Mungkin juga. :)

Sudah update.

Arigatõ~

-0o0-

To Michi nichi-chi / akanemori :

Ya, bisa lha itu buktinya. *nunjuk ke atas* #dihajar

Arigatõ~

-0o0-

To CoreFiraga :

Nova : hahaha, lu dikira bapak-bapak gendut tua...
Yuki : damare!
Yuka : wkwkwkwkw. XD

Arigatõ~

-0o0-

To Flippy :

Yup, hebat kan. :)

Len tertipu matang-matang, hahaha. :D (mentah-mentah udah mainstream)

Arigatõ~

-0o0-

To Alfianonymous22 :

Rinnegan udah mainstream. :D

Itu lagu favorit ku. :D

Sudah update.

Arigatõ~

-0o0-

To Shanvira :

Thank you. :)

Sudah update.

Arigatõ~

-0o0-

To Minami no Hikari Kagamine :

Yuka pake jurus henge no jutsu (transformation) biar bisa mengikuti Len. :)
Len : *merinding*

Arigatõ~

-0o0-

To rikascarlet37:

Yup, mereka OC (gaje) ku.
Yuka : ada yang mau kenalan tuh.
Yuki : Mizuhashi Yuki desu. Yoroshiku ne, Rin-san.
Yuka : Atashi wa Mizuhashi Yuka, Yoro-
Yuki : gak ada yang mau kenalan sama kakak. -_-
Yuka : apa kau bilang? *smile* *bawa 2 pedang*
Yuki : *gulp* na-nani mo nai.
Nova : -_-

Hai'. Ganbatte!

Arigatõ~