"It's War, Then"
Cast :
EXO, BAP, BToB, Super Junior
Cameo :
Kwon Yuri SNSD
Son Na Eun A-Pink
Warning : OOC, misstypo, boyxboy, SuGen, EXOshidae, BToBxAPink, BAPxSecret, dll. Review ditunggu~ Don't like don't read!
Summary :
Mereka semua awalnya adalah satu tim. Yongguk, Suho, Kris, dan Eunkwang adalah empat pilar utama dari grup detektif bernama BtEP (Born to Extraordinary Perfect). Tapi, mereka dibubarkan secara mendadak dan diadu domba hingga saling pecah. Sementara itu, sosok jahat mulai menjalankan rencananya. Dapatkan BtEP kembali bersama dan mengalahkan musuh mereka?
~BtEP GO!~
Na Eun, Ilhoon, dan Minhyuk kini sudah duduk di kamar Na Eun. Labnya sudah ditutup kembali dan—well, Ilhoon sudah berpakaian.
Na Eun masih sangat gugup untuk menatap Ilhoon dan hanya berani lirik-lirik kecil dengan wajah bersemu merah. Ilhoon masih merasa canggung dengan Na Eun setelah tahu selama ini Na Eun melihat tubuhnya full naked. Hanya Minhyuk yang masih santai—bermain-main dengan buah ceri sebagai topping es krimnya.
"Lucu bukan, kita bisa reunian di kamar seorang gadis?" Minhyuk berkata pada Ilhoon.
"Kau membiarkanku dilihat telanjang selama hampir setahun dan masih bisa melucu seperti itu, huh? Kejam sekali." Ilhoon berbaring di rangjang Na Eun, di sebelah Na Eun yang duduk di pinggir ranjang.
"Kau berharap aku akan memasukanmu menggunakan pakaian, huh? Mau masuk angin memangnya? Hehehe..." Minhyuk malah bercanda lagi. Ilhoon sudah terlalu biasa dengan keusilan Minhyuk.
Ilhoon duduk kembali. "Lalu, kenapa kau membuat laboratorium macam itu di rumah Na Eun?" Tanyanya, masih heran.
"Kau tahu kan, dunia mengira kau sudah mati. Semua sudah direncanakan. Hanya di rumah Na Eun yang tersedia saat itu—" Minhyuk melirik Na Eun. Na Eun tau arti pandangan itu dan wajahnya kembali memerah. "—lagipula, ia sepertinya suka, kok! Lihat saja wajahnya. Lucu sekali, bukan?" Minhyuk tersenyum usil dan wajah Na Eun bertambah merah saja.
Ilhoon menengok pada Na Eun dan tersenyum kecil. Kemudian, ia menepuk kepala Na Eun dan mencium kening Na Eun. Yang dicium terperanjat saking terkejutnya dan kemudian menatap mata si pencium dalam-dalam.
"Ku dengar kau menangis setiap hari untukku. Kau pasti sangat mengkhawatirkan aku, iya kan? Aku sangat berterimakasih padamu, Na Eun." Ilhoon berkata lembut. Na Eun ingin pingsan rasanya.
"A-A-Aku t-tidak melakukan a-apapun, k-kok..." Gumam Na Eun malu.
Ilhoon kembali menatap Minhyuk dengan tatapan serius. "Lalu, bagaimana kelanjutan semua ini?" Tanya Ilhoon.
Minhyuk melepas senyum usilnya dan berjalan menuju tasnya di pojok kamar Na Eun. Ia mengeluarkan sebuah map dan melemparkannya kepada Ilhoon.
"Terlalu lama tidur, kau pasti tidak tahu apa-apa. Bang Yongguk kini ada di Heechul's Prison Tower—a.k.a neraka kecil-kecilan di dunia ini." Ucap Minhyuk.
"A-Apa?" Ilhoon menautkan alisnya, tidak percaya dengan ucapan Minhyuk.
"Aku tak bercanda. Seluruh dunia sudah tahu kabar itu." Minhyuk berkata lagi. Ilhoon lanjut membaca isi dokumen dalam map tersebut.
"Lalu, apa yang terjadi dengan—"
"Eunkwang?" Minhyuk kembali memotong pertanyaan jika itu tentang Eunkwang. "Dia sudah bukan lagi leader kita. Setidaknya, itulah yang ia ucapkan padaku terakhir kami bertemu."
"E-Eunkwang berkata begitu?" Ilhoon terlihat sangat terpukul.
Minhyuk menghela nafasnya yang berat lalu sedikit menggeleng. "Berat memang mengakuinya—" Minhyuk mengisyaratkan Ilhoon untuk terus membaca dokumen tersebut. Ilhoon kemudian terkejut melihat berkas masuknya Eunkwang di sebuah rumah sakit jiwa.
"—aku sampai kesal dan memanipulasi semua ini. Aku tidak ingin mantan leader kita itu menyandang nama pecundang. Jadi, aku buat saja seakan-akan dia shock dengan pengkhianatan yang dilakukan Yongguk." Minhyuk tersenyum dan memakan buah ceri yang sedari tadi cuma ia main-mainkan.
"A-Apa Eunkwang tahu tentang semua ini?" Tanya Ilhoon tak yakin.
"Kau selalu tahu Eunkwang. Hehehe..." Minhyuk tertawa dan mulai menyendokan es krim ke dalam mulutnya.
Ilhoon menutup map tersebut. "Apa kabar dengan BAP dan EXO?"
"Bubar~" Jawab Minhyuk singkat.
"T-Tidak mungkin..." Ilhoon menganga.
"Tidak, aku bercanda. Aku hanya tak terlalu peduli dengan mereka, jadi aku tak mencari tahu. Yang jelas, hari ini hari kelulusan D.O, Tao, Youngjae, dan Daehyun." Jawab Minhyuk dengan terkekeh.
"Ada satu lagi yang seangkatan dengan mereka, bukan? Ng... Peniel?" Ilhoon agak canggung menyebutkan nama itu. Minhyuk mengerjap beberapa kali dengan sendok masih di dalam mulutnya, masih dijilat-jilat. Minhyuk melepaskan sendok itu dan berkata, ha, sampai—
"—kita simpulkan saja Peniel juga akan kembali dari Amerika dekat-dekat ini." Minhyuk tersenyum lebar.
"A-Amerika?" Tanya Ilhoon.
Di bandara Incheon, Korea, sebuah pesawat baru tiba dan mendarat. Seorang pria pun turun dengan sebuah tangan di dalam genggaman tangannya.
"Si bodoh itu mendapatkan ujian lebih awal dan ia langsung dinyatakan lulus setelah menyelesaikan enam mata ujian dalam waktu tiga setengah jam. Kemudian,"
Shin Dong Geun, nama pria itu. Atau, kawan-kawannya lebih mengenal ia dengan nama Peniel.
"... Ia ke Amerika untuk menjemput gadisnya dan membatalkan pertunangan gadis itu—"
"Watch your step, baby~" Peniel membantu gadis itu menuruni anak tangga dengan perlahan.
Minhyuk tersenyum dan lalu berkata, "—Hong Yookyung. Yah... Peniel sudah tumbuh dewasa sekarang. Hahaha..."
~BtEP GO!~
Himchan saat ini merasa hatinya berbunga-bunga melihat Youngjae makan dengan lahapnya sementara Daehyun meliriknya sinis—sambil memakan sepotong daging sapi panggang juga. Himchan sungguh merindukan momen kebersamaan ia dan dua juniornya itu seperti dulu.
"Kalian berdua, tinggallah bersamaku. Aku rasa, kita perlu menyusun kembali kelompok kita seperti dahulu kala." Usul Himchan.
Youngjae berhenti mengunyah dan menelan dagingnya. "Aku masih dalam proses menyelesaikan GigaMato-ku. Sulit jika aku harus pulang-pergi, kak."
Himchan mengangguk kecil, lalu menatap Daehyun. Daehyun menunduk perlahan dan menjawab, "Aku juga tidak bisa jauh dari Youngjae. Maksudku, kami sudah rekan sejak lama dan jauh lebih aman jika kami bersama-sama."
Himchan tersenyum kecil. Ya, memang dua anak itu lebih spesial saat berdampingan, pikir Himchan. Kemudian, Himchan mengambil sepotong daging dan menyantapnya dengan mata tertutup.
"Ya, aku harap kau tidak marah, senior. Habisnya aku sudah menghabiskan waktuku setahun belakangan untuk menyusun robot-robot yang—huh, sayangnya—aku tak tahu untuk siapa dan apa tujuannya lagi membuat mereka." Youngjae mendesah pelan. "GigaMato adalah proyek terakhirku."
Himchan mengangguk. "Aku mengerti."
Youngjae mendesah lagi. "Tapi, setidaknya aku ingin sekali bisa menunjukan GigaMato-ku saat sudah seratus persen selesai pada kalian. Jongup akan heboh dan Zelo akan berkata, ah, aku lebih baik. Daehyun akan menjadi tester, kau yang merusuh, dan.. Ketua Yongguk... Ia..." Youngjae menahan airmatanya untuk keluar. Daehyun menepuk-nepuk punggung Youngjae, juga merasa prihatin.
Himchan mendesah. Bukan untuk hal ini ia mengajak Youngjae dan Daehyun makan bersama. Sebenarnya, Himchan tak ingin membuat dua anak yang baru lulus SMA-nya itu masuk dalam misinya. Tapi, ia harus. Lagipula, Youngjae dan Daehyun adalah anak yang cerdas. Jika mereka mau, mereka akan mendapat informasi yang mereka mau dengan mudah.
Himchan memberikan alat untuk dipasangkan pada daun telinga Youngjae dan Daehyun. Itu adalah alat khusus yang bisa membuat pemakainya mendengar suara bisikan dari orang yang mengirim sinyal melalui sebuah mikro-mic, jadi mereka tidak akan kelihatan seperti sedang bercakap-cakap dan sulit menyadap pembicaraan mereka. Youngjae dan Daehyun tahu, ada hal yang amat penting yang akan disampaikan Himchan. Mereka pun memasang alat itu. Himchan pun tahu yang harus ia lakukan adalah menatap keluar jendela dan berakting seolah-olah melihat orang lain di luar sana. Ia pun mulai menyampaikan informasi yang ia punya.
"Dengar, ini sebuah rahasia besar yang bahkan dunia pun belum tahu. Sebuah organisasi besar yang di pimpin oleh Park Jung Soo sudah merencanakan semua ini. BtEP pun dibubarkan karena akal bulus organisasi itu. Identitas anggota mereka masih buram. Yang jelas, kita semua keliru. Bang Yongguk tidak bersalah sama sekali."
Youngjae dan Daehyun ternganga. Tapi, mereka berdua dengan cepat menyikapi keterkejutan mereka agar tak mencurigakan. Daehyun meminum the hijaunya dan Youngjae sok-sok sibuk membulak-balik daging sapi di piring kecap.
"Yongguk masuk ke penjara itu sengaja dijebloskan oleh Kris. Kita semua mengira bahwa itu adalah karena Kris terperdaya. Nyatanya, itu adalah persetujuan Kris dan Yongguk. Aku tak mengerti apa yang akan terjadi sebenarnya, hanya satu. Kita harus meloloskan Yongguk dari Heechul's Prison Tower. Dengan itu, semuanya jadi jelas, meskipun—"
Youngjae memakan dagingnya dan Daehyun menaruh sedotannya kembali. Himchan tersenyum menatap Youngjae dan Daehyun.
"—itu artinya kita menyatakan perang pada mereka." Ucap Himchan pelan. Terlihat jelas, sebutir airmata ada di pelupuk mata Himchan. Ia tak mau lagi berperang, tapi ia harus.
Youngjae melepas alatnya dan menyandarkan tubuhnya—kepalanya mendongak ke atas, ke langit-langit. Daehyun pun jadi bimbang juga. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan dan menatap ke luar jendela. Himchan tahu, inilah yang akan terjadi jika ia menceritakannya sekarang.
"Maaf. Aku tak bermaksud membuat hari kelulusan kalian jadi tak enak seperti ini. Aku harusnya tak menceritakan ini pada kalian." Himchan menundukkan kepalanya.
Youngjae melihat kepada seniornya itu yang kini matanya mulai berkaca-kaca. Ia menghela nafasnya, merasa punya tanggung jawab juga akan hal ini.
"Aku akan ikut. Akhirnya, aku akan kembali membuat robot-robotku jadi bahagia lagi. Hehehe..." Youngjae tersenyum lebar. Himchan mengangkat kepalanya dan memasang wajah tak percaya.
"Aku juga, deh. Biar bagaimanapun, Youngjae akan kalut jika tidak bersamaku." Daehyun mengulum senyumnya, tapi malah dapat tatapan sinis dari Youngjae.
"Jaga ucapanmu, ya, Jung Daehyun. Kau yang butuh aku, aku hanya seperdelapannya." Youngjae menjulurkan lidahnya.
"K-kau setengah, aku seperempat butuh!" Bantah Daehyun.
"Aku setengah, kau benar-benar membutuhkan aku! Jangan mengelak lagi!" Youngjae mencolok-colok pipi Daehyun dengan sumpitnya.
"Aish! Ini kotor, bodoh!" Omel Daehyun.
"Ah, kau ini... Rasakan, rasakan, rasakan!" Youngjae kini mencolokkan sumpitnya ke berbagai bagian tubuh Daehyun.
"Hentikan!" Daehyun mengelak dan mengambil sebuah sumpit lain untuk perang sumpit melawan Youngjae.
Himchan—lagi-lagi—hanya bisa tertawa melihat kedua juniornya itu. Sekaligus, perasaannya sungguh bahagia karena setidaknya sudah dua rekannya kembali lagi. Hanya tinggal Jongup dan Zelo, baru mencari anggota BToB dan juga EXO. Selanjutnya menyelamatkan Yongguk dan sekali lagi berperang bersama.
~BtEP GO!~
Tao dan Yuri berada di sebuah restoran China saat ini. Tao bilang ia tak mau kelulusannya dirayakan terlalu mewah, jadi ia hanya ingin makan berdua dengan Yuri, itu saja.
"Nah, Tao, sudahkah kau berpikir rencana ke depanmu seperti apa?" Tanya Yuri.
Tao menggeleng. "Tidak ada. Aku mungkin akan kembali ke China?" Tao mengangkat alisnya.
"Dan meninggalkanku?" Yuri mem-pout-kan bibirnya. Tao tertawa kecil dan berkata, "aku tahu kau akan bilang begitu. Hahaha..."
Yuri mencubit lengan Tao. "Ish, jahat!"
Tao tertawa lagi. Kemudian, sesaat hening menyapa mereka.
Tiba-tiba Tao berkata, "Mungkin memang aku harusnya kembali ke BtEP. Mungkin... Kris masih hidup."
Yuri menaruh sumpitnya dan menggenggam tangan Tao dengan kedua tangannya. "Sudah ku bilang, Tao. Hentikan. Kau tak perlu lagi mengenal mereka dan membahayakan hidupmu. Tinggallah bersamaku." Kali ini tatapan Yuri pure sedih.
"Kris masih hidup. Itu satu yang aku yakini. Tapi, jika harus memilih antara BtEP dan kau—" Tao terdiam sejenak.
"Seorang ksatria—saat ia harus memilih untuk tidak melanjutkan perjuangannya—disitulah ia akan memulai kehidupan damainya. Tapi, ksatria yang sesungguhnya mencari damai bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk seluruh umat manusia."
"—aku akan memilih kau, Yuri." Tao tersenyum kecut. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri yang telah berbohong pada kekasihnya itu.
Yuri menyentuh pipi Tao dan memberikan sebuah kecupan mesra yang singkat di bibir Tao. "Aku pun tak akan mengecewakanmu dan akan terus memberikan yang terbaik untukmu, Tao." Yuri tersenyum.
Tao menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ah, bicara apa aku ini? A-Aku tak seharusnya bicara sok-sokan seperti itu! Hahahaha..."
Yuri hanya tersenyum melihat tingkah bodoh calon suaminya kelak itu.
Tiba-tiba saja—
"Jangan main-main, anak kecil." Seorang lelaki masuk ke restoran itu dan dengan cepat menyergap Yuri. Saat Tao akan mengejar, lelaki berkacamata hitam itu menodongkan sebuah pistol di pelipis Yuri. Ia mundur perlahan.
Tapi, Tao tak kehabisan akal. Ia adalah petarung kungfu yang hebat. Dengan cepat, ia melemparkan sebuah pukulan tenaga dalam ke tangan yang memegang pistol.
"Ku bilang, jangan main-main." Lelaki itu menekankan ucapannya setelah dengan sangat mudah memecah arah tembakan tenaga dalam milik Tao ke dua arah berbeda.
Yuri berhasil sedikit meronta dan meneriakkan sebuah nama, "Kim Jong Woo—!"
Lelaki itu tersenyum menatap Yuri dan kembali berjalan mundur sampai ia masuk ke sebuah limosin hitam. Tao mengejar sampai depan pintu, tapi tak dapat berbuat banyak. Dan ternyata, penderitaan Tao tak berhenti sampai di situ.
"Belajarlah lagi."
Kaca jendela terbuka dan sebuah peluru timah dimuntahkan dari sebuah pistol. Karena masih shock, Tao tak sempat menghindar dan terkena di bagian dadanya sebanyak tiga kali dan langsung ambruk di depan restoran.
Dan hal yang terakhir Tao dengar adalah,
"Yesung... Ia sudah kembali rupanya..."
~BtEP GO!~
Sebuah pengejaran terjadi antara Kai dan seorang lelaki berjubah hitam yang larinya sangat cepat. Setiap menitnya, jarak di antara Kai dan lelaki itu makin melebar saking cepatnya lari lelaki itu. Tapi, Kai tak mau menyerah. Ia tahu siapa sosok dibalik jubah hitam itu sebenarnya.
"Kau tak akan ku biarkan lolos!" Kai menggunakan kemampuannya untuk melompat jauh dan sangat cepat hingga ia bisa berada di depan lelaki itu dalam hitungan detik saja.
"Ha! Kau hanya bisa melompat, tapi setelah itu tak bisa langsung mengontrol tubuhmu, bukan?" Lelaki itu langsung menghentikan larinya sejenak dan menendang wajah Kai dengan sangat kencang sampai Kai terpental dan menabrak tumpukan kardus di depan sebuah pabrik.
Kai masih tak mau menyerah setelah susah payah ia mengejar sosok lelaki itu sejauh ini.
"Lee Donghae!" Kai mengacungkan telunjuknya kepada lelaki itu.
"Hahaha... Anak yang cerdas sekali kau." Lelaki itu membuka jubahnya dan benar saja. Lee Donghae-lah sosok berjubah tersebut. Dan Donghae langsung menerjang tubuh Kai yang masih sempoyongan dan kembali menendangnya hingga tubuh Kai terhempas ke dinding pabrik dan membuat retakan. Kai memuntahkan darah dari mulutnya.
Tak cukup sampai disitu, Donghae berjalan menuju Kai dan menjambak rambutnya. Donghae mengangkat kepala Kai dan menodongkan sebuah pistol ke pelipis Kai.
"Berhubung kau sudah melihatku dan mengejarku sampai ke sini, kau harus mati, anak manis~" ucap Donghae dan—
Dor!
To Be Continued...
.
.
.
Oke, akhirnya masuk ke chapter dua berhubung emang ini fic udah ditulis lumayan lama dan baru jadi 2 chapter. Makasih banget buat yg udah review, jeongmal jeongmal gomawo! Hahaha... Dukung terus fic ini, ya? Berhubung author masih baru di fandom screenplay ini hahaha ^^ Bye~!
