A/n : Yo, minna! Ini dia ending fict ini...mudah-mudahan setelah ini saya dapat inspirasi dan bisa lancar menyelesaikan kelanjutan Konoha Academy biarpun udah mulai masuk school lagi, ammin. Ini hanya Twoshot, jadi gomen kalau kurang greget and feel-nya nggak dapet...soalnya fict saya yang terbagi menjadi beberapa chapter pun belum tentu dapet feel-nya karena saya hanya author newbie.
Naruto : Muki-chan, tolong buat aku berbaikan dengan Sakura-chan ya?
Sakura : Jangan di dengerin, Muki-chan! Aku nggak mau baikan dengan si baka itu. Bayangin aja kalau Muki-chan jadi aku, lihat pacarmu berciuman dengan cewek lain... pasti sakit, kan?
Muki : Omo, Sakura-chan! Perhaps, it's all misunderstanding.
Naruto : That true, Sakura-chan. You came along just like a song, and brigten my day.
Muki : Hihihi, dasar Naruto-kun tukang gombal. Ya udah deh, ceritanya kita mulai okay? Happy reading, mina-san! Jangan lupa REVIEW! And NO FLAME! ^_^
.
.
Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto
Story by me
Tittle : You Are My Love (Side Story With All My Heart)
Genre : Drama, Romance
Rate : T
Pair : NaruSaku
Warning : AU, OOC, gaje, abal, ancur, minim deskriptif, typo(s), dll.
.
.
Summarry: Shinobi Band adalah band yang sedang populer di Jepang. Terdiri dari empat pemuda menarik dan keren. Sasuke Uchiha (gitaris) 18 tahun sebagai leader; cerdas, tampan dan jago nge-rap. Naruto Namikaze (vocalis) 18 tahun; tampan, pandai menciptakan lagu dan memainkan alat-alat musik. Hyuuga Neji (bassis) 19 tahun; tampan, paling jago Martial Art dan pandai nge-dance sampai breakdance. Sebagai drummer adalah Nara Shikamaru, 18 tahun; tampan, jenius, dan memiliki hobi memandangi awan-awan di langit.
Di balik kepopuleran dan gemerlapnya hidup mereka, tidak menjadikannya semua menjadi mudah. Seperti kisah cinta Naruto Namikaze yang penuh dengan cobaan dan dilema. Akankah kisah cintanya dengan Haruno Sakura bertahan selamanya?
.
.
Forget I ever said I love you. Erase the memory buried in your heart. Your eyes are filled with tears that I cannot wipe away for you—Sakura Haruno—
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
Naruto merebahkan tubuhnya ke kasur king size-nya yang empuk. Ia baru saja selesai body building di sauna. Membuat tubuhnya terasa lebih rileks setelah seharian ini jadwal manggung Shinobi Band padat sekali. Biarpun serial drama pertamanya telah usai, jadwal mereka masih saja padat. Hal ini membuatnya semakin sulit untuk bertemu dengan Sakura. Tetapi sepadat apapun jadwal kerja dan latihan Shinobi Band, manajer mereka Lee tetap menyarankan semua members untuk menyempatkan waktu empat kali dalam seminggu berolahraga dan menjaga bentuk tubuh agar tetap ideal dan atletis.
'Benar-benar manajer yang penuh dengan semangat masa muda,' pikir Naruto dalam hati.
Naruto baru saja memejamkan matanya saat ponsel-nya berbunyi tanda ada pesan masuk.
"Naruto, terimakasih bunganya."
Naruto mengangkat alisnya. Ia tidak merasa mengirimkan bunga. Mengapa ada gadis yang mengucapkan terimakasih padanya? Ternyata nama pengirim email itu adalah Shion.
'Gadis itu? Kapan aku mengirimkan bunga untuknya?' tanya Naruto dalam hati terheran-heran.
"Ah, jangan-jangan ini hanya alasan Shion untuk sekedar mengirim email kepadaku. Gadis itu keras kepala sekali!" gerutu Naruto.
Ingatannya kembali kepada Sakura. Gara-gara Shion, gadis itu jadi semakin marah padanya...sampai-sampai ia mengakhiri hubungan mereka yang sudah terjalin hampir dua tahun. Sekarang ia paham, bagaimana perasaan Sakura ketika dulu ia memutuskan hubungan mereka secara sepihak hanya karena penyakitnya yang saat itu semakin parah. Ternyata rasanya sakit sekali.
"Gomennasai, Sakura-chan..."
Ngomong-ngomong tentang Shion, gadis itu seringkali mengganggunya dengan mengirimkan email atau telepon. Bahkan Shion dengan tegas menyatakan sangat mencintainya dan ingin menjadi kekasihnya. Itu mustahil. Ia hanya mencintai Sakura. Gadis musim semi yang selalu menyinari hari-harinya seperti matahari. Sedangkan Shion, sejak dulu ia hanya menganggap gadis itu sebagai teman. Tidak lebih. Ya, ia akui...kini Shion jauh lebih cantik dibanding saat mereka masih sekolah dulu. Namun hatinya sudah terikat sejak lama oleh Sakura, dan hal itu tak akan pernah berubah. Sakura adalah cinta pertamanya. Sakura adalah alasannya untuk tetap hidup. Berkat Sakura, ia selalu bisa bersemangat kembali setiap kali rasa putus asa menghantui dirinya.
"Sakura-chan aku sangat merindukanmu. Bagaimana denganmu?"
Naruto mulai terlelap, tetapi baru beberapa menit ia terpejam ponsel-nya berbunyi nyaring, menyanyikan lagu Hitomi no Jyuunin—L'arc~En~Ciel. Ia pun melihat layar ponselnya. Ia berharap itu Sakura karena biasanya jika jadwal Shinobi Band padat, saat ia akan beristirahat, gadis itu pasti menghubunginya dengan menyatakan bahwa gadis itu mengkhawatirkan dirinya. Sakura memang selalu begitu, gadis itu sepertinya ketularan sikap kedua orang tuanya dan juga kakak sepupunya yang over protective. Sayangnya ternyata itu bukan Sakura.
"Shion! Lagi-lagi Shion!"
Naruto menyesal karena tadi ia tidak mematikan ponsel-nya karena khawatir ibunya atau Sakura akan menghubunginya. Sekarang sudah terlambat. Jika ponsel-nya ia matikan sekarang, Shion pasti akan marah sekali dan menuduhnya sengaja menghindar. Ia memang tak ingin dekat-dekat dengan Shion, tapi bukan berarti ia ingin dimusuhi Shion. Naruto pun terpaksa menerima telepon itu.
"Moshi-moshi?" sapa Naruto dengan sedikit enggan.
"Kau tidak membalas email-ku, Naruto!" sahut Shion dengan suara agak keras.
"Shion, aku lelah sekali. Seharian ini kami ada jadwal manggung dan syuting iklan, baru saja aku sampai dorm kami. Aku belum sempat membaca satu pun email yang masuk," kata Naruto berusaha tetap sabar menghadapi Shion.
"Aku hanya ingin bersikap sopan padamu dengan mengucapkan terimakasih, tetapi ternyata tetap saja tak ada artinya bagimu."
"Untuk apa kau berterima kasih padaku?" kali ini suara Naruto kembali ketus seperti biasa.
"Came on, kenapa kau semakin mirip dengan Gaara sih? Kau benar-benar berbeda dengan Naruto yang aku kenal dulu..."
"..."
"Tentu saja aku berterima kasih karena kau telah mengirimkan buket bunga mawar merah sebagai ucapan ulang tahun untukku. Tadi siang aku sudah menerimanya, tapi baru malam ini aku ingat untuk berterimakasih padamu," lanjut Shion.
Naruto semakin heran mendengar jawaban Shion. Buket bunga mawar sebagai ucapan selamat ulang tahun? Kapan ulang tahun Shion saja ia tidak ingat. Tak mungkin ia mengirimkan buket bunga untuk Shion, apalagi red rose yang menggambarkan 'I Love You'. Bahkan jika itu hanya dalam mimpi, ia tak mau melakukannya. Ini aneh sekali, siapa yang mengirimkan bunga itu atas namanya?
"Kau yakin ada namaku tertulis di kartunya?"
Naruto nekad bertanya seperti itu karena ia sugguh penasaran, siapa yang telah seenaknya menyalah-gunakan namanya? Tak terdengar jawaban dari Shion. Gadis itu pasti sedang kesal sekali.
"Maksudmu bukan kau yang mengirim buket bunga ini untukku, Naruto? Kau tidak ingat kapan ulang tahunku? Sahabat macam apa kau ini? Kau benar-benar telah berubah!" sahut Shion dengan nada suara kembali tinggi setelah hampir satu menit kemudian.
Naruto sudah menduga akan seperti ini reaksi Shion. Ia tak tahu harus menjawab apa. Pikirannya sudah dipenuhi oleh Sakura dan tugas-tugas dari pihak manajemen yang harus mereka selesaikan. Rasanya ia tak punya waktu untuk menghadapi Shion yang emosional seperti masa-masa sekolah dulu. Teryata Shion tak berubah. Ia tetap seorang gadis yang egois, egosentris, dan emosional.
"Dengar, aku tidak pernah mengirimkan buket bunga untukmu. Tapi karena sekarang kau sudah mengingatkanku bahwa kau hari ini berulang tahun, aku ucapkan; Happy Birthday, Shion!"
Naruto memutuskan sudah saatnya ia bersikap tegas pada gadis itu. Ia tak mau diganggu oleh Shion lagi. Gadis itu keterlaluan sekali. Memang benar kalau semasa Junior High School dulu mereka cukup dekat, tetapi Shion tetap saja bersikap posesif bahkan kepada seseorang yang bukan miliknya sekali pun.
Lama tak terdengar suara balasan dari Shion. Naruto sampai megira Shion telah memutuskan sambungan telepon. Hampir saja ia mematikan ponsel-nya saat kemudian akhirnya terdengar lagi suara Shion.
"Naruto, kau sombong sekali! Mentang-mentang sekarang kau sudah menjadi artis top, bahkan ulang tahunku pun kau tak ingat. Aku benar-benar sudah tak ada artinya lagi bagimu. Padahal dulu kita lumayan akrab," ucap Shion, suaranya terdengar sedikit gemetar.
Naruto tertegun mendengar ucapan Shion itu. Shion menyebutnya sombong?
"Gomen ne, Shion. Setiap orang bisa saja berubah. Sejak dulu aku hanya menganggapmu sebagai teman dan tidak pernah lebih dari itu. Kalau pun aku lupa dengan hari ulang tahunmu, itu karena pikiranku sudah dipenuhi banyak tugas dan pekerjaan. Aku harus melakukan tour konser bersama teman-temanku, fanmeeting, harus menghapal dialog untuk syuting iklan kami, harus mulai membuat lagu dan macam-macam lagi. Kuharap kau bisa mengerti, Shion!" ucap Naruto panjang lebar dan tegas,
"Kenapa? Kenapa kau hanya memikirkan gadis itu, padahal dibandingkan denganku dia hanya baru mengenalmu selama beberapa tahun bahkan dulu dia bukan siapa-siapa?! Hanya seorang artis yang kau idolakan. Dia berbeda dengan kita yang sudah lama saling kenal, saling memahami. Okay, mencintai dirinya adalah hak-mu tapi setidaknya kau mengingat ulang tahunku jika kau benar-benar menganggapku teman!"
"Gomen Shion, aku lelah! Oyasumi!"
Naruto sedikit merasa kejam karena langsung menutup sambungan telepon, tapi ia tak punya pilihan lain. Ia harus berkata seperti itu agar Shion tidak lagi berharap banyak mengenai dirinya. Tiba-tiba saja Naruto mendapat ide untuk menulis sebuah lagu. No Refrain. Ia tak menyangka, Shion yang menyebalkan itu bisa menjadi sumber ide baginya menciptakan sebuah lagu untuk Shinobi Band. Naruto berharap semoga jika lagu ini sudah diperdengarkan, Shion sadar bahwa lagu ini menceritakan tentang penolakan dirinya pada Shion karena dihatinya hanya ada Sakura seorang.
.
.
"Nomor yang ada tuju sedang sibuk atau berada di luar jangkauan!"
Sakura menghela nafas untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi hanya jawaban dari operator yang biasa ia dengar. Sebenarnya Naruto itu sedang berbicara dengan siapa? Ini sudah kesekian kalinya ia tak bisa menghubungi Naruto, padahal ia sangat khawatir karena hari ini jadwal Shinobi Band sangat padat. Ia memang sudah memutuskan hubungannya dengan Naruto, tetapi ia ingat kalau besok adalah jadwal Naruto untuk check up rutin ke Rumah Sakit. Memang benar Naruto sudah sembuh, tetapi rupanya Tsunade-sama juga sama over protective-nya dengan MinaKushi dan juga Karin sampai-sampai Naruto masih diharuskan untuk check up setiap bulan.
"Naruto, apa kau benar-benar sudah melupakanku? Apa kau sungguh-sungguh tidak punya perasaan apa-apa lagi padaku?" gumam Sakura dengan mata berkaca-kaca,
"Tidak. Aku harus berhasil menghubunginya!" tegas Sakura yang kembali menekan tombol panggilan untuk Naruto.
.
.
Naruto memijat keningnya yang terasa semakin pening gara-gara Shion saat ponsel-nya kembali berbunyi. Sebenarnya kepala Shion itu terbuat dari apa sih? Namun karena ia sedikit merasa tidak enak pada gadis itu, ia mengangkat ponsel itu walau dengan malas-malasan.
"Moshi-moshi?"
"Kenapa suaramu terdengar lemas sekali? Kau tidak sedang sakit, kan?"
'Astaga, apa aku sudah gila? Kenapa suara Shion kali ini terdengar seperti Sakura-chan?' pikir Naruto dalam hati.
"Sebenarnya aku masih sakit hati tetapi ternyata aku...aku..."
'Kami-sama, sepertinya aku benar-benar sudah gila! Shion, bahkan suara gadis menyebalkan itu semakin mirip dengan suara Sakura-chan.'
"Yah, aku hanya ingin mengingatkan. Besok kau harus check up, Naruto!"
Masih setengah tak percaya, ia pun melihat ke layar ponsel-nya. Naruto membelalakkan matanya saat ia menyadari kalau itu memang Sakura bukan Shion. Naruto tersenyum, ternyata gadis itu masih perhatian padanya. Kalau begitu kesempatannya untuk berbaikan dengan Sakura semakin besar. Rasanya ia ingin sekali berteriak kegirangan karena ternyata Sakura masih peduli padanya.
'Baiklah, bagaimana jika aku menjahilimu sedikit?' pikir Naruto pula,
"Naruto kau tidak apa-apa, kan? Naruto, hey..." suara Sakura terdengar mulai panik.
"Aku tidak apa-apa, Sakura-chan. Hanya sedikit lelah..." ucapnya dengan suara sepelan mungkin walau sebenarnya bibirnya mengukir senyum sejak tadi.
"Biasanya kalau kau berkata begitu, kau sedang berbohong! Aku akan meminta Ino untuk melihat keadaanmu," balas Sakura yang kemudian mematikan sambungan telepon.
"Hey, Sakura-chan! Sakura-chan, hallo?"
Senyum Naruto langsung lenyap saat itu juga,
"Kuso! Kali ini rencanaku gagal!" gerutu Naruto.
'Tok! Tok! Tok!'
Suara ketukan pintu yang semakin lama semakin keras terdengar setelah beberapa menit kemudian,
"Siapa itu?" teriaknya,
"Ini Ino. Sakura bilang suaramu terdengar aneh. Apa kau baik-baik saja?" teriak gadis itu di balik pintu,
"Aku tidak baik-baik saja. Aku sedang sakit!" balas Naruto agak kesal karena bukan Sakura yang ada di balik pintu.
"APA? Katakan padaku bagian mana yang sakit! Kita ke Rumah Sakit sekarang juga!" suara Ino terdengar semakin keras,
"Tentu saja hatiku yang sakit. Sakura-chan, dia benar-benar masih marah padaku. Dia bahkan tidak mau menemuiku lagi. Menurutmu apa yang harus aku lakukan, Ino?"
"KAU INI! PADAHAL AKU KHAWATIR SEKALI PADAMU!" kini suara Ino jauh lebih keras dari sebelumnya.
"Baka! Kenapa kau menanyakan hal itu pada kekasihku? Kau sendiri yang memulai masalah ini, jadi kau juga yang harus bisa menyelesaikannya? Kami tidak akan membantumu sedikit pun!" kini suara Shikamaru yang terdengar. Sepertinya sahabatnya itu masih kesal pada dirinya semenjak insiden ciuman dengan Shion itu.
"Ya, kau benar Shika! Aku sendiri yang harus meluruskan kesalah pahaman ini!" balasnya masih enggan untuk beranjak dari kasur untuk membukakan pintu.
"Sebelum itu, kau harus check up besok! Aku sendiri yang akan menyeretmu ke Rumah Sakit!"
"EHH? Kenapa kau selalu memperlakukanku seperti itu sih? Tidak usah! Aku bisa pergi sendiri!" tegasnya,
"Pokoknya aku tetap akan menyeretmu ke sana! Ayo Ino, kita pergi!"
Kini suara ShikaIno benar-benar sudah menghilang dari balik pintu. Naruto pun menghela nafas sembari menatap layar ponsel-nya kembali.
"Yah, setidaknya malam ini aku bisa mendengar suaramu Sakura-chan," gumamnya yang kemudian mencoba untuk tidur lagi.
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
"Inilah alasannya aku tidak setuju putera dan cucuku menjadi artis. Kalian benar-benar mengabaikan kesehatan kalian sendiri," ucap sembari membaca hasil pemeriksaan Naruto.
Naruto masih terdiam tanpa menatap langsung neneknya yang saat ini sedang duduk di hadapannya. Ia malah lebih tertarik menatap lantai di bawah kakinya.
"Kau tidur berapa jam dalam sehari?"
"Hmm, entahlah Baa-chan. Mungkin sekitar 2-3 jam saja. Kami benar-benar sibuk," jawab Naruto yang kali ini menatap langsung pada kedua mata Tsunade.
"Sepertinya kau juga stres. Apa ada sesuatu hal yang mengganggu pikiranmu?"
"Mmm, ini tentang Sakura-chan. Sudah sebulan ini dia selalu menghindariku."
"Kalian berdua bertengkar?"
"Hn."
"Doushite?"
"Sakura-chan hanya salah paham, tapi setiap kali aku ingin meluruskan kesalah pahaman ini...dia malah menghindariku terus."
"Cinta segitiga? Apa hal-hal seperti itu?"
"Hn."
"Dasar anak muda," ucap Tsunade sambil tertawa kecil.
"Apa aku sudah boleh pulang?" tanya Naruto,
"Sebenarnya aku ingin kau istirahat total selama beberapa hari tapi aku sudah bisa menebaknya. Kau pasti akan menolaknya, bukan?"
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"...karena sejak dulu Minato juga seperti itu."
"Hn?"
"Fans dan karier kalian itu, memang jauh lebih penting dari kondisi kesehatan kalian sendiri ya?" tanya Tsunade dengan nada menyindir,
"Bukan begitu..."
"Lupakan! Aku sudah bisa menebaknya. Jawabanmu pasti tidak akan berbeda jauh dari ayahmu. Kasihan sekali Kushina," potong Tsunade.
Tsunade meyerahkan sebuah resep pada pasien sekaligus cucunya itu. Naruto tampak sedikit enggan menerimanya. Hal itu membuat Tsunade tersenyum,
"Aku mengerti. Kau sudah bosan meminum obat seumur hidupmu, bukan? Tapi kau tidak bisa menolak, di sana juga ada obat anemia dan suplemen vitamin. Kau harus menebus dan meminum semuanya kalau tidak ingin sakit!"
"Aku mengerti. Arigatou, Baa-chan."
"Ya, kau boleh pulang sekarang!"
Naruto mengangguk kemudian undur diri dari hadapan Tsunade. Setelah Naruto menghilang dari ruangannya, wanita itu pun menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Yah, setidaknya kondisi jantungmu yang sekarang masih baik gaki!" gumamnya yang kemudian menggerakkan tangannya untuk menghubungi Kushina.
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
"Apa? Sakura-chan, pergi ke Korea katamu?" kaget Naruto, saat ia menanyakan tentang Sakura pada Ino.
"Ya, kudengar dia ada fanmeeting di sana. Sakura pernah bilang...kalau jadwal-nya sedang kosong, ia ingin berlibur ke Nami Island bersamamu. Sayangnya kalian malah bertengkar dan putus. Naruto kau harus bisa baikan lagi dengan Sakura, kalau tidak...dia bisa dimiliki orang lain!"
"Aku akan kesana kalau begitu."
"EHH? Tapi Naruto jadwal Shinobi Band padat sekali lho, bagaimana kalau Akira-sama marah?"
"Katakan saja padanya, aku sakit. Dia pasti mengerti."
"Lalu kalau dia bertanya kau di rawat di Rumah Sakit mana, aku harus jawab apa? Atau kalau misalnya dia menyelidikimu, kau bisa habis Naruto. Tidak bukan hanya kau, bahkan members lainnya juga akan kena masalah..."
"Ino apa kau lupa siapa nenekku? Kau tenang saja, aku bisa meminta bantuannya!"
"Hmm, benar juga...Tsunade-sama itu kan dokter pribadimu."
"Kau dan Shikamaru tolong bantu aku! Jangan sampai ketahuan kalau aku akan menyusul Sakura-chan ke Korea! Aku juga akan meminta bantuan Karin-neechan untuk mengurus tiket dan lain sebagainya."
"Hmm, aku mengerti. Semoga kau berhasil berbaikan dengan Sakura di sana."
"Arigatou, Ino. Nanti aku akan membicarakan hal ini dengan Sasuke teme. Kuharap dia mengijinkanku pergi untuk menyusul Sakura-chan."
"Sasuke-kun pasti akan mengijinkanmu, kau kan calon adik ipar-nya."
"EHH? Maksudmu Sasuke teme akan menikah dengan Karin-nee, begitu?"
"Yup, tentu saja."
"Akan buruk jika dia menjadi kakak ipar-ku. Kami bisa bertengkar setiap hari," ujar Naruto yang hanya di balas Ino dengan tawa.
.
.
.
Naruto merapatkan jaket kulit hitamnya dan menekan topi petnya dalam-dalam, hingga poni rambutnya yang agak panjang menutupi sebagian wajahnya. Kacamata hitam besar juga menutupi mata sapphire-nya. Ia berjalan perlahan mencoba tampil tidak mencolok. Tidak di Jepang, tidak di Korea...semuanya sama saja. Namun ia tersenyum tipis, yakin kali ini telah berhasil menyembunyikan identitasnya dengan baik. Tetapi ternyata perkiraannya salah...
"Namikaze Naruto! Hey, itu kan Naruto oppa (kak Naruto)!" teriak seorang gadis kepadanya.
Untuk kesekian kalinya, Naruto merasakan de javu. Segera saja keempat gadis lain yang bersama gadis itu segera menoleh kearahnya.
"A, majayo (Ah, benar)! Itu Naruto oppa! Naruto oppa...!" teriak satu gadis lainnya,
'Aish, aku bukan orang Korea. Kenapa mereka memanggilku dengan sebutan 'oppa' segala?' pikir Naruto mencoba bersikap cuek agar gadis-gadis itu tidak mencurigainya lagi.
Gadis-gadis itu setengah berlari menghampiri Naruto. Naruto tampak panik dan segera menjauh secepat mungkin. Saat ini ia sedang berada di Lotte Departement Store. Niatnya ingin membeli beberapa kaos baru selama di Korea sepertinya harus batal. Padahal dulu walaupun ia sering bolak-balik ke pertokoan semacam ini tidak ada yang peduli padanya, kecuali murid-murid Konoha High School yang mengenalnya dan sangat mengidolakan Shinobi Band. Tapi sekarang, kemana pun ia pergi, sepertinya hampir semua orang mengenalinya. Walau pun ia sudah berusaha menyembunyikan wajahnya dengan topi dan kacamata hitam besar.
Naruto masuk ke tempat penjualan pakaian wanita. Sepertinya ia salah masuk, tetapi sudah terlanjur; gadis-gadis yang mengejarnya semakin banyak. Ia mencari area fitting room. Untunglah ia menemukan sederetan kamar pas yang masih sepi. Hanya ada seorang gadis berambut cokelat kemerahan mengenakan kemeja berwarna kuning gading dan rok cokelat tua selutut, dan juga kaca mata besar dan tebal menutupi wajahnya yang tanpa make up. Saat ia berpapasan dengan gadis itu, gadis itu memandangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Heran, kaget, atau apa Naruto sama sekali tidak mengerti. Dari balik lensa bening itu, Naruto bisa melihat warana mata hazel nan indah. Namun entah kenapa garis wajah dan postur tubuh wanita itu terlihat begitu familiar? Mungkin ia adalah gadis yang bertugas menjaga salah satu stand pakaian. Naruto berniat menyelinap ke salah satu kamar pas. Saat matanya bertemu pandang dengan mata gadis itu, Naruto nampak salah tingkah karena khawatir gadis itu mengenalinya juga.
"Apa anda tidak salah masuk?" tanya gadis itu dengan bahasa inggris. Sepertinya gadis itu mengira dirinya sebagai orang barat karena rambutnya yang berwarna pirang. Lagi-lagi ia jadi teringat dengan suara lembut Sakura.
"Jeosonghamnida (mohon maaf), ini keadaan mendesak agassi (nona), tolong bantu saya. Izinkan bersembunyi di sini," jawab Naruto.
"English please!" ucap gadis itu,
"Ah, I'm sorry. Can't you help me! I just hidding here..."
"Bersembunyi? Bersembunyi dari apa? Apakah kau buronan? Kau sedang di kejar polisi ya? Aku tidak akan membantumu bersembunyi. Jika ada polisi yang mencarimu, aku akan bilang kalau kau ada di sini," sahut gadis itu.
Naruto tertegun. Gadis itu tak mengenalinya? Keterlaluan! Bukankah dia dan members Shinobi Band lainnya, sekarang ini sudah populer sekali di negara-negara Asia termasuk Korea Selatan ini?
"No! Look at me!" kata Naruto, lalu ia membuka kacamata hitamnya.
Untuk sesaat gadis itu membelalakkan matanya. Entah kenapa dia terlihat begitu kaget? Namun gadis itu segera memasang ekspresi datarnya kembali, tampak tidak terkesan sedikit pun.
"You don't know me?" tanya Naruto heran saat melihat gadis itu tidak bereaksi.
Kosentrasi Naruto mendadak buyar saat ia mendengar keributan gadis-gadis yang tadi mengejarnya. Sepertinya mereka sudah ada di sekitar situ.
"Bukan polisi yang mengejarku, tetapi gadis-gadis itu. Aku sedang tidak sanggup menghadapi mereka karena itu aku harus bersembunyi. Tolong jangan katakan kalau aku ada di salah satu kamar pas ini, okay?" kata Naruto pada gadis itu yang masih saja memandangnya heran.
Tiba-tiba saja gadis itu mendorongnya masuk ke salah satu kamar pas. Suara gadis-gadis yang mengejar Naruto terdengar semakin dekat. Bahkan beberapa sudah sampai di kamar pas itu. Gadis penjaga stand itu menoleh ke arah gadis-gadis yang sedang mencari Naruto itu. De javu. Dua orang gadis berjalan menuju kamar pas. Gadis penjaga stand itu segera masuk ke dalam kamar pas yang di dalamnya sudah ada Naruto. Lalu ia segera mengunci pintunya.
Naruto tercengang. Ia tak menyangka gadis penjaga stand itu akan ikut masuk ke dalam kamar pas itu bersamanya. Ia jadi terbayang wajah marah Sakura lagi. Jika gadis itu tau bahwa dirinya sedang berduan dengan seorang gadis tak di kenal di kamar pas ini, bagaimana reaksi Sakura? Naruto tersenyum tipis saat mengira gadis tak di kenal ini sama saja dengan gadis lainnya, juga ingin mendekatinya.
'Ah, pura-pura tidak mengenalku, ternyata ia malah memanfaatkan kesempatan,' batin Naruto.
Naruto tampak seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi gadis penjaga stand itu menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibir Naruto, sambil memberi kode untuk diam, jangan bicara. Dalam jarak sedekat itu ia bisa merasakan jantungnya berdebar jauh lebih cepat dari biasanya entah karena efek kelelahan setelah berlari atau apa? Ia sama sekali tidak mengerti.
'Apa kondisi jantungku memburuk lagi, ya? Kenapa tiba-tiba jantungku berdegup kencang padahal aku sama sekali tidak kenal dengan gadis ini?' pikirnya dalam hati.
Di luar tampak suara-suara semakin ribut. Untunglah bentuk kamar pas ini tertutup, sehingga dari luar tak dapat diduga ada berapa orang di dalam kamar pas ini.
"Kemana tadi Naruto? Coba periksa kamar-kamar itu, jangan-jangan ia bersembunyi di situ!" terdengar suara salah satu gadis yang lain.
Lalu terdengar satu persatu pintu kamar pas itu di buka. Hingga sampai di pintu kamar di mana ada Naruto dan gadis penjaga stand itu. Terdengar suara pintu itu didorong, tapi pintu itu tak terbuka karena sudah dikunci oleh gadis yang bersama Naruto.
"Sepertinya ada orang di dalam," terdengar lagi suara salah seorang gadis.
"Jangan-jangan Naruto oppa bersembunyi di kamar itu!" ujar gadis yang lain,
"Tidak, aku tadi melihat seorang gadis yang masuk ke dalam kamar pas itu," sahut gadis lainnya lagi.
'Fans Korea benar-benar lebih menyeramkan daripada para fans-ku di Jepang,' pikir Naruto pula.
"Annyeonghaseyo, An e, nuguseyo?" tanya salah satu gadis, dari suaranya, sepertinya itu gadis yang pertama bicara.
"Hey, gadis itu bilang apa?" tanya gadis penjaga stand,
"Baiklah karena kau terlihat seperti orang Jepang, kita berbicara dengan bahasa Jepang saja. Gadis itu bertanya, siapakah di dalam sini..." bisik Naruto, gadis itu mengangguk.
"Err...apa bahasa Koreanya, aku sedang mencoba pakaian?" tanya gadis itu pula, dan Naruto langsung memberitahu gadis itu...
"Aku, sedang mencoba pakaian," jawab gadis penjaga stand yang sedang berada di dalam kamar pas itu bersama Naruto.
Gadis itu membuka kunci pintu. Naruto terkejut. Ia ingin mencegah gadis itu membuka pintu, tetapi gadis itu malah menarik Naruto agar berdiri di belakangnya. Naruto panik. Ia mencari posisi yang tepat agar bayangan tubuhnya tidak terpantul di cermin yang terpasang di dua sisi dinding kamar pas itu. Gadis yang bersamanya membuka pintu sedikit, lalu menampakkan sebagian wajahnya ke arah luar dan kembali berbicara dengan bahasa inggris:
"Ada apa? Mengapa kalian ribut sekali? Antri dong kalau ingin mencoba pakaian juga," katanya yang kemudian cepat-cepat menutup pintu kembali.
Gadis-gadis yang berkerumun di depan kamar pas itu hanya saling berpandangan.
"Naruto tidak ada di sini. Pergi kemana dia?" suara salah seorang gadis.
"Molla (Tidak tahu). Ah, sombong banget sih. Masa dia tak mau bertemu fans-nya. Menyebalkan sekali!" ujar gadis yang lain.
Kemudian terdengar suara banyak sepatu melangkah menjauh. Sepertinya gadis-gadis itu sudah pergi menjauhi area fitting room. Naruto menghela nafas lega. Gadis penjaga stand yang sedang bersamanya itu bergerak seperti ingin membuka pintu. Tetapi Naruto segera meraih lengan gadis itu untuk berterimakasih terlebih dulu. Saat kulitnya bersentuhan dengan gadis itu, ia akhirnya menyadari sesuatu. Perasaan ini. Getaran yang ada di hatinya, dan darahnya yang tiba-tiba saja berdesir tidak mungkin salah. Gadis ini pasti...
"Sakura-chan? Kau Sakura-chan, kan?"
"Yah, apa boleh buat aku sudah ketahuan. Awalnya kupikir kau tidak mungkin adalah Naruto, makanya aku kaget sekali karena kau tiba-tiba ada di sini...dan sudah seharusya aku menolongmu, jadi kau tidak perlu berterimakasih!" ujarnya yang kemudian melepas rambut cokelat kemerahan sepanjang pinggang yang ternyata adalah wig, juga kacamata ala Betty Lafhea-nya...
"Ini...kontak lens," lanjutnya sambil menunjuk pada mata hazel miliknya.
"Sakura-chan, aku sangat merindukanmu. Benar-benar merindukanmu," ucap Naruto sembari menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya.
'Aku juga. Aku juga begitu merindukanmu seakan-akan aku hampir gila, makanya saat aku pertama kali bertatapan denganmu tadi, aku pikir kau adalah orang lain...otakku saja yang sudah dipenuhi olehmu, makanya orang itu terlihat seperti dirimu. Tapi ternyata setelah kau melepas kaca mata hitam besarmu tadi, terbukti sudah kalau kau benar-benar Naruto,' sahut Sakura dalam hati. Air mata semakin banyak mengalir dari pelupuk matanya.
Dengan kasar Sakura terus berontak agar dia bisa segera terlepas dari dekapan hangat Naruto. Setelah ia berhasil lepas dari dekapan Naruto, ia pun segera melangkah untuk keluar dari kamar pas agar bisa segera menghilang dari hadapan Naruto. Namun Naruto menarik lengan kanannya dan menyeretnya masuk ke dalam kamar pas lagi.
Naruto benar-benar sudah tidak tahan lagi. Sampai kapan gadis itu akan menghindarinya. Dengan kilatan emosi yang terpancar jelas dari sorot matanya, ia memegang kedua pipi Sakura dan mencium bibir gadis itu secara paksa. Sakura sendiri terus menerus memukul-mukul dada Naruto dengan air mata yang semakin banyak keluar. Ia benar-benar kesal pada Naruto. Selama ini mantan kekasihnya itu tidak pernah menciumnya dengan cara seperti itu. Namun di sisi lain ia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, kalau dirinya masih mencintai Naruto.
Naruto benar-benar tidak peduli biarpun Sakura terus-menurus menolak ciumannya. Ia hanya ingin gadis itu tahu, bahwa dirinya masih sangat mencintai gadis itu. Ia juga tidak peduli biarpun gadis itu terus berontak dengan memukul-mukul dadanya. Ia malah semakin memperdalam ciumannya bahkan mengigit bibir Sakura hingga akhirnya mereka kehabisan nafas. Naruto pun melepas ciuman itu dan Sakura semakin terisak.
"Jangan pernah menghindariku lagi Sakura-chan, kumohon! Kau salah paham, aku dan Shion sama sekali tidak ada hubungan apa-apa. Saat itu dia yang memaksaku untuk menciumnya. Bahkan dia mengancamku dengan mengatakan akan menciumku di depanmu jika aku tidak mau menurutinya. Sakura-chan, kumohon percayalah padaku. Sejak dulu aku hanya menganggapnya teman dan hal itu tidak akan pernah berubah karena aku hanya mencintaimu seorang Sakura-chan. Hanya kau!" tegas Naruto panjang lebar.
Sakura akhirnya menyerah. Ia tidak ingin menyakiti diri sendiri lagi apalagi menyakiti hati laki-laki yang sangat dicintainya. Cinta memang selalu membuatnya menjadi bodoh. Namun ia juga tidak yakin bisa hidup tanpa Naruto. Setelah puas menangis dan menumpahkan semua emosinya, akhirnya gadis itu membalas ucapan Naruto walau nada suaranya masih terdengar gemetar...
"Ya, aku sudah mendengarnya dari Shikamaru. Ino juga menunjukkan padaku syair lagu yang baru saja kau ciptakan untuk Shinobi Band. Lagu itu menceritakan tentang perasaanmu pada Shion dan aku, bukan?"
"Yeah, kau benar Sakura-chan. Jadi kau sudah tidak marah lagi, bukan?"
"Hmm, ternyata aku tidak bisa terlalu lama marah padamu. Tapi sejujurnya aku masih sedikit ragu, kau hanya berbohong ataukah..."
"Pasti akan aku buktikan padamu kalau semua yang aku katakan ini adalah jujur," potong Naruto yang semakin erat memeluk Sakura. Beberapa menit kemudian, ia mengecup dahi Sakura dengan lembut. Sakura bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari ciuman itu. Ia pun tersenyum.
oooOOcherryblossomOOooo
.
.
.
Minggu pagi ini cuaca cukup cerah. Sakura mematut dirinya di depan cermin dan memoles ringan wajahnya dengan kosmetik. Membuat kecantikannya semakin kentara. Ia sudah berdandan rapi. Kini ia tampil dengan gaun terusan sebatas bawah lutut berwarna turquise. Membuat penampilannya lebih cerah. Gaunnya ini cukup sopan. Dengan potongan leher berbentuk 'v line' yang tidak rendah dan lengan sepanjang tiga perempat. Sakura merasa penampilannya masih cukup elegan. Ia menambah penampilannya dengan outwear mantel cokelat agak terang yang cukup tebal sepanjang betis dan sepatu boot cokelat tua menutupi mata kaki berhak setinggi empat sentimeter. Sakura melilitkan syal dari bahan wool lembut berwarna cokelat tua untuk menghangatkan lehernya yang ramping dan jenjang.
Tidak puas dengan penampilannya ia melepas gaun terusan sebatas bawah lutut yang tadi dipilihnya itu dan menggantinya dengan kaos berkerah berlengan panjang warna putih yang dipadukan dengan celana blue jeans. Ia menambah penampilannya dengan jacket berwarna hijau tosca. Tak lupa ia mengganti sepatu boot miliknya dengan sepatu ket.
"Nah, kalau ini baru cocok. Hihi, masa aku mau ke Pulau Nami dengan pakaian seperti tadi seperti mau pergi dinner saja!" gumam Sakura yang kemudian memoles bibirnya dengan lipstik berwarna pink,
Hari ini kebetulan jadwalnya sedang kosong. Naruto mengajaknya kencan di Namiseum dan Sakura ingin segala sesuatunya berjalan sempurna. Ia berencana akan mengajak Naruto balapan sepeda saat kencan nanti, kemudian menyewa sepeda couple sambil mengelilingi Pulau Nami, makanya ia tidak jadi memakai pakaian yang mungkin akan membatasi geraknya. Setelah dirasa sempurna, Sakura segera menyambar tas slempangnya.
Naruto sendiri sudah siap. Ia bahkan sedang menunggu Sakura di luar sambil menyenderkan punggungnya di body mobil. Ia menyunggingkan senyum manisnya saat mendapati sosok Sakura sudah ada di hadapannya.
Sakura terkejut dengan penampilan Naruto hari ini. Ia tak menyangka Naruto memakai pakaian yang senada dengan pakaiannya. Sungguh, hari ini mereka sama sekali tidak janjian. Ia pun tersenyum lebar.
'Kita pasti berjodoh...' pikir Sakura dalam hati.
Naruto membukakan pintu mobil untuk Sakura,
"Kau saja yang masuk Naruto, biar aku yang menyetir!"
"Hah? Doushite?"
"...karena aku sedang ingin menyetir. Itu saja!" tegas Sakura,
"Tidak. Kau istirahat saja Sakura-chan, bukankah beberapa hari yang lalu jadwalmu sangat padat? Kau pasti lelah, iya kan?"
"Mmm, baiklah."
Mobil yang dikendarai Naruto melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ia tidak mau perjalanan mereka menuju Pulau Nami tersendat. Mereka harus segera tiba di tempat tujuan sebelum siang hari. Ia takut jalanan keburu macet karena mungkin akan banyak orang yang menghabiskan akhir pekan di pulau itu.
"Baka! Pelankan sedikit laju mobilnya toh ini kan masih pagi," protes Sakura.
"Ini musim gugur, Sakura-chan. Di musim seperti ini Nami Island biasanya sangat ramai."
Sakura memalingkan wajahnya ke jendela. Memandang pepohonan yang daun-daunnya berwarna-warni; hijau, kuning, orange, merah, bahkan ada juga yang berwarna cokelat. Daun-daun maple yang turun ke bumi terlihat menawan. Sebentar lagi mereka akan sampai di tempat tujuan. Tiba-tiba Sakura teringat sesuatu, ia pun kembali menoleh pada Naruto...
"Naruto, setelah kita berkunjung ke Nami Island, bagaimana kalau kita pergi ke Chuncheon lagi untuk menikmati Okgwa...okgwa... Ah, aku tidak ingat apa namanya?"
"Maksudmu Okgwangsan Jimjilbang?" tanya Naruto, di sampingnya Sakura menganggukkan kepalanya sambil tersenyum malu. Naruto tertawa kecil saat menatap Sakura yang sedang blushing.
"Baiklah, sepulangnya kita dari Nami Island, kita akan pergi ke sana untuk mengistirahatkan dulu tubuh kita. Pasti akan membuatmu merasa lebih segar," lanjut Naruto.
Sakura mengangguk setuju.
Okgwangsan Jimjilbang adalah rumah sauna batu giok khas Korea yang terletak di Wolhong-ri, Dong-myeon, Kota Chuncheon. Jimjilbang ini merupakan satu-satunya lokasi penghasil batu giok di Korea. Berbeda dengan Jimjilnbang lainnya, di sana para pelanggan dapat merasakan khasiat dari batu giok yang mengaktifkan sel-sel tubuh dan melancarkan peredaran darah.
"Ngomomong-ngomong Naruto, fans Korea ternyata lebih ganas ya? Kalau saat kencan nanti kita bertemu dengan beberapa fans-mu aku bisa di bully habis-habisan oleh mereka! Dicintai olehmu rasanya seperti mimpi...apa kata fans-mu nanti? Rasanya aku tidak siap punya lebih banyak anti-fans," ucap Sakura.
Naruto tersenyum lebar.
"Jangan mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu, Sakura-chan. Fans-ku di sini akan baik-baik saja. Hanya saja bagaimana dengan fans-mu, hmm? Bahkan di Jepang fanboys-mu sepertinya tidak menyukaiku?"
"Tidak usah pedulikan mereka. Lagipula yang sedang kubicarakan sekarang adalah fangirls-mu. Ah, aku punya ide yang lebih baik. Aku akan menyuruh Ino untuk sengaja meriasmu menjadi jelek agar kau tidak punya fans lagi dan tersisisa hanya aku seorang yang menjadi penggemarmu," kata Sakura, ia tersenyum jahil.
Naruto bahagia sekali melihat Sakura tersenyum. Sakura-nya yang selama ini terus menghindarinya akhirya kembali padanya lagi.
"Kau tahu Sakura-chan? Kau harus sering-sering tersenyum. Senyummu itu indah sekali. Bisa menghangatkan musim dingin, melelehkan es, dan membuat bunga-bunga bermekaran."
"Huek! Rayuanmu itu norak sekali, Naruto," sahut Sakura, lalu tersenyum geli.
"Sakura-chan, mengapa susah sekali membuatmu terkesan padaku?" tanya Naruto dengan wajah cemburut yang justru membuatnya terlihat lebih imut.
Kali ini Sakura bukan hanya tersenyum geli tapi tertawa geli.
"Kau tak perlu bersusah payah membuatku terkesan padamu, Naruto. Aku sudah cukup terkesan dengan semua lagu ciptaanmu itu," ucap Sakura.
"Hey, kita sudah sampai!" Naruto malah mengalihkan pembicaraan dan sukses membuat Sakura sedikit kesal,
"Naruto, tidak bisakah kau membalas ucapanku tadi terlebih dahulu?"
"Lihat Sakura-chan! Kita sudah sampai di Dermaga Gapyeong," potong Naruto yang kemudian diam-diam tersenyum jahil.
Sakura menghela nafas. Ia mengerti saat ini Naruto mungkin sedang mengerjainya untuk membuatnya marah. Akhirnya ia mengalah dan memandang ke luar jendela. Semua kendaraan yang ingin menyebrang ke Pulau Nami masuk ke dalam kapal ferry yang berukuran sangat besar. Perjalanan menyebrang ke pulau berbentuk bulan sabit itu hanya memakan waktu sekitar 5 menit.
"Yah, terserah kau-lah Naruto...yang penting kau bahagia!" ketus Sakura.
"Kalau kau ngambek begini patung puteri duyung itu jadi terlihat lebih cantik darimu Sakura-chan," goda Naruto seraya menunjuk patung yang ia maksud.
"Hah? Enak saja!" protes Sakura,
Di pelabuhan tersebut mereka disambut plang bertuliskan "Naminara Republic" dan tak jauh dari situ terlihat loket imigrasi dengan keterangan entry visa. Ini merupakan strategi marketing pariwisata Korea untuk membuat Nami Island seakan-akan merupakan sebuah negara. Naminara Republic sendiri merupakan Nami Island, loket imigrasi adalah loket tiket, dan visa entry yang dimaksud adalah tiket masuk. Seorang wanita yang menjaga di pintu masuk mengeluarkan sebuah tiket masuk dan Sakura mengambil tiket itu seraya mengucapkan terimakasih. Setelah membeli tiket, mereka menyebrang ke Nami Island dengan menggunakan kapal.
Naruto menggandeng tangan Sakura seperti pasangan lain yang tiba lebih dulu dari mereka. Lalu ia menunjuk tulisan 'Welcome to Nami Island' yang tertulis di batu besar berbentuk buku yang terbuka dengan riang.
"Ayo, kita berfoto di sana?"
"Memangnya siapa yang mau memotret kita?" Sakura balik tanya dengan muka jutex,
"Ya Tuhan, sudah dong marahnya kita kan mau kencan Sakura-chan!"
"Habisnya..."
"Apa, hayo?"
'Kau menyebalkan karena tidak menanggapi perkataanku tadi,' jawab Sakura dalam hati.
"Tolong jangan rusak kencan kita!" suara Naruto terdengar seperti memohon,
Sakura menatap wajah Naruto beberapa menit. Akhirnya ia memutuskan untuk menuruti mau Naruto karena ia ingin kencannya bersama Naruto kali ini menyenangkan. Ia pun tersenyum pada Naruto,
"Okay, aku tidak akan marah lagi deh."
Sesaat kemudian Sakura teringat sesuatu,
"Kita minta tolong orang lain saja ya? Sepertinya turis yang berada di sana bisa membantu kita," lanjutnya.
"Baiklah. AYO!"
"...tapi Naruto, kau saja yang minta tolong!"
"Hah? Doushite?"
"Anu, bahasa inggrisku belepotan. Kalau turisnya orang Jepang sih aku tidak akan merepotkanmu seperti ini,"
"Hahaha, kau ada-ada saja Sakura-chan."
Naruto bergegas menghampiri turis asing tadi dan mulai berbincang-bincang. Tidak lebih dari lima menit ia sudah kembali bersama turis asing tersebut. Mereka berdua pun mulai memasang gaya paling mesra.
"Three, two, one..." teriak turis itu,
Setelah turis tadi mengambil foto mereka berkali-kali Naruto dan Sakura mengucapkan terimakasih dan turis itu pun kembali menikmati liburannya bersama seorang wanita yang sepertinya adalah istrinya. Naruto dan Sakura melanjutkan perjalanan menuju dua patung yang menjadi pusat perhatian banyak pasangan muda. Patung itu bertuliskan 'First kiss' dan menunjuk sebuah bangku dengan patung yang sama dalam ukuran lebih kecil di atas mejanya.
"Lihat, mereka berciuman!" teriak Naruto yang dengan sengaja berbicara bahasa Korea, membuat orang-orang di sekitar mereka mendadak terdiam.
"Kau bilang apa barusan?" tanya Sakura dengan suara pelan karena tiba-tiba orang-orang disekitar mereka, mengalihkan pandangannya pada mereka berdua.
Kini keduanya menjadi pusat perhatian dan Naruto tidak ingin kesempatan seperti ini disia-siakan. Secepat kilat ia mendekap Sakura dan mencium bibirnya dengan lembut. Biarpun sempat kaget, Sakura akhirnya membalas ciuman itu hingga ciuman mereka berlangsung cukup lama dan mesra. Suara tepuk tangan orang-orang yang memperhatikan mereka berdua membuat wajah keduanya merah padam.
.
.
Salah satu spot terkenal di Nami Island adalah deretan pohon yang membentuk lorong panjang. Lokasi ini merupakan adegan memorable tempat pasangan tokoh utama dalam drama Winter Sonata sering menghabiskan waktu bersama. Saat musim gugur seperti sekarang ini, pemandangan di sini semakin indah. Dipenuhi warna-warni dedaunan yang berubah warna menjadi kuning keemasan bercampur jingga dan merah tembaga. Naruto dan Sakura berjalan sambil saling berpegangan tangan menyusuri lorong itu. Beberapa daun warna-warni itu berguguran bagai hujan daun menyirami keduanya.
Menjelang siang hari, Naruto dan Sakura menyewa sepeda dan mengelilingi Pulau Nami sampai senja. Keduanya bergantian mengendarai sepeda setiap mereka merasa lelah. Sepanjang perjalalanan mereka terus bercanda dan tertawa. Bagi mereka ini adalah hari yang sangat menyenangkan.
"Saranghaeyo," bisik Naruto setelah mengembalikan sepeda tersebut ke tempat semula.
"Nado saranghae," balas Sakura.
"Jadi bahasa Korea yang kau bisa hanya 'Na do saranghae' saja, Sakura-chan?" goda Naruto lagi.
"Tau ah," sahut Sakura.
Naruto hanya tersenyum,
"Sakura-chan, tiba-tiba saja aku mendapat inspirasi untuk sebuah lagu baru. Kau dan pemandangan Pulai Nami yang indah ini adalah sumber inspirasi yang tak terkira. Lagu baru ciptaanku nanti adalah ungkapan perasaanku padamu," ucap Naruto sambil mempererat genggaman tangannya.
"Apa judul lagu itu, Naruto?"
"You Are My Love," jawab Naruto seraya tersenyum hangat, lalu menjentik ujung hidung Sakura yang mungil tetapi mancung.
Sakura tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Ia tersenyum lebar, kemudian merangkul erat lengan kanan Naruto.
Dedaunan beraneka warna masih saja berjatuhan, menambah semarak hati keduanya.
.
.
_FIN_
.
.
Yosh! Full Romance NaruSaku in this chapter. Semoga endingnya tidak mengecewakan. Mina-san, Mind To REVIEW? ^_^
.
.
Dan ini balasan untuk review yang nggak Log In :
Ishida: Yang kemarin itu bukan prolog, Ishida-san. Fict ini hanya Twoshot dari sequel With All My Heart, dan inilah endingnya...
Ini udah di lanjut, bagi saya review itu penting karena review kalian bisa mendorong saya pribadi untuk lebih bersemangat dalam menulis cerita selanjutnya. Arigatou. ^^
Nagasaki: Arigatou. Ya, saya pikir juga begitu tapi saya hanya ingin mendapat review yang jauh lebih banyak dari fict oneshot SasuKarin saya yang berjudul Rose, habisnya fict itu yang ngasi review cuma dua orang aja padahal saya lumayan berusaha keras untuk membuatnya #curhat ^_^
Yukii chaa: Yup, benar sekali Yukii-chan...Shion emang penganggu di fict ini, padahal hati Naru kan cuma untuk Saku, hehehe. Ini udah upadate, ya. Arigatou. ^^
Guest1, Namenamikaze, Uye, Rey, Guest2, and Diarra: Arigatou. Ini udah update, ya? ^^
Bumble Bee: Hahaha. Iya Shion kasian banget. Arigatou ne, ^^
Guest3: Gimana? Adegan kissing-nya lumayan banyak, kan? *Guest-san: apaan? cuma dua kali juga* hahaha. Arigatou untuk sarannya. ^^
