Tittle : Regret
Author : Biechan
Pairing : YunJae and other
Gendre : Romance,yaoi and angst
Rating : PG-17
WARNING! THIS'S FANFIC YAOI! DON'T LIKE DON'T READ! SR GO AWAY!
Nb: Maaf,kalau masih ada TYPO dan EYD ^^
Enjoy it ^^
.
.
.
.
.
Peristiwa kemarahan besar Yunho tak juga menghilangkan sikap keras dan sewenang-wenang Jaejoong,pria cantik itu semakin menjadi-jadi. Hobi shopping dan sikap glamour Jaejoong tak dapat terkendali,Yunho pun semakin tak suka dengan hobi istrinya. Pria tampan itu semakin kesepian,Presdir Jung corp itu sangat mendambakan saat dia pulang kerja Jaejoong ada dirumah melayaninya selayaknya seorang istri yang berbakti bukannya malah hura-hura dengan teman-temannya dan satu hal yang mengganjal dihati Yunho,dia menginginkan sebuah tawa dan tangisan anak bayi dirumahnya tetapi Jaejoong selalu menghindar saat dia membahas hal itu.
Pagi ini Jaejoong tak ada kegiatan,syuting filmnya sedang break dan Yunho juga tak kekantor sengaja karena ingin berduaan dengan Jaejoong. Keduanya tengah bersantai di kolam renang dihalaman belakang.
"Yunnn..aaahh…"
Mereka tengah bermesraan di pinggir kolam,Yunho tengah berbaring di atas kursi panjang dan Jaejoong duduk diatasnya. Mereka tengah berciuman dengan intens,tak ada yang melihat mereka. Para pembantu tak dizinkan memasuki kawasan disekitar kolam renang.
Jaejoong terlihat sedang mencoba menggoda suaminya dan Yunho terpancing. Kedua tangan kekarnya masuk tanpa izin kedalam celana pendek Jaejoong. Meremas pantat yang tidak terlalu montok itu.
"Aaah~~" jerit Jaejoong kemudian menggigit bibir bawahnya dengan pose menggoda.
"Kau mencoba menggodaku?" tanya Yunho dengan seringai disudut bibirnya.
"Menurutmu tuan Jung" kata Jaejoong sambil mencondongkan dadanya yang telanjang ke wajah suaminya.
Seringai Yunho semakin melebar tanpa menunggu lama dia mengemut benda berwarna pink di depannya dengan lembut. Jaejoong mendesah,bibirnya terbuka lebar dan kedua tangannya beralih meremas rambut coklat Yunho dengan dadanya yang semakin dia condongkan kedepan wajah Yunho.
Dihisapnya dengan tidak sabaran kedua benda pink itu secara bergantian sedangkan kedua tangannya terus meremas pantat Jaejoong dari balik celana pendeknya.
"Akh! Pelan-pelaann…sakit!" keluh Jaejoong saat Yunho menggigit putingnya dengan gemas.
Yunho tak menggubrik keluhan Jaejoong dan malah semakin menjadi-jadi. Istrinya di biarkan menjerit dan mendesah diatas pangkuannya sedangkan dia menikmati kegiatannya sekarang. Dada montok Jaejoong penuh dengan kissmark hingga semakin membuatnya terlihat seksi namun saat Yunho ingin melakukan hal lebih Jaejoong tiba-tiba menghentikannya.
"Wae?" tanya Yunho.
"Aku tidak ingin melakukannya sekarang…"
"Baiklah,terserah padamu" kata Yunho.
"Jangan kesal begitu,kita bisa melakukannya lain kali"
"Tapi aku ingin melakukannya sekarang Boo…"
"Aku ada acara siang ini Yun,aku ada undangan reuni kampusku"
"Kau lebih mementingkan teman-temanmu daripada suamimu sendiri,begitu?" kesal Yunho.
"Aku sudah tidak bertemu mereka selama bertahun-tahun Yun"
"Baiklah terserah padamu,lakukan sesukamu!" marah Yunho kemudian menyingkirkan tubuh istrinya dari atas tubuhnya lalu berjalan meninggalkan Jaejoong.
"Beaar-aahh~~" panggil Jaejoong manja lalu pergi mengejar Yunho masuk kedalam rumah.
Jaejoong mengikuti Yunho masuk kedalam kamar mereka, pria tampan itu terlihat sangat kesal. Yunho mengambil bajunya dan memakainya dengan kesal membuat Jaejoong merasa bersalah kepada suaminya itu.
"Beaarr~~" panggil Jaejoong.
"Kau boleh pergi…" kata Yunho.
"Benarkah?" tanya Jaejoong.
"Hm…" sahut Yunho.
"Terus bear mau kemana?" tanya Jaejoong yang membantu Yunho mengancing kemejanya
"Aku mau keluar…" jawab Yunho.
"Dengan Ahra?" tanya Jaejoong.
"Bukan Boo,aku ingin keluar saja" kata Yunho.
"Bear tidak ingin ikut denganku?"
"Aku tidak suka pesta dan kau tahu itu…"
"Baiklah,aku mau siap-siap dulu…"
"Eum,aku juga mau berangkat"
Yunho berjalan keluar meninggalkan kamarnya tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Jaejoong juga telah masuk kedalam kamar mandi. Hari ini Yunho akan berkunjung kerumah ummanya dan dia sengaja tidak memberitahu Jaejoong.
…
Gemerlap lampu yang berwarna-warni menghiasi ruangan yang cukup besar itu, musik yang cukup keras, terlihat banyak minuman alkohol dan beberapa tamu yang menarik gila-gilaan disana tak terlihat seperti acara reuni kampus yang biasanya.
"Hyung, kau di izinkan kesinikan oleh suamimu?" tanya Junsu.
"Hm…dia mengizinkanku" jawab Jaejoong yang tengah berdiri sambil meminum wine di gelasnya sesekali.
"Kau tak bilang jika acaranya seperti ini bukan?" tanya Lee U.
"Mana mungkin aku memberitahunya,aku bisa tidak di izinkan olehnya…kau tahukan suamiku itu sangat membenci hal seperti ini."
"Yah,terlihat dari wajahnya kami sudah tahu…" kata Lee U.
"Hyung bukankah itu Jung Eun Jae? Kenapa dia ada di sini? Dia melihat kearah kita" kata Junsu.
Junsu menunjuk kearah seorang namja yang tengah mengamati mereka lebih tepatnya mengamati Jaejoong dengan segelas wine di tangannya hingga namja itu berjalan mendekatinya dan mengulurkan tangannya untuk berdansa dengan namja cantik itu. Jaejoong meletakkan gelas winenya lalu tersenyum kemudian menerima tangan namja tersebut sementara kedua sahabatnya hanya menyeringai nakal melihat kelakukan sahabat sekaligus hyung mereka.
"Lama tidak jumpa Jae…" kata Eun Jae.
"Aku kira kau sudah melupakan aku." kata Jaejoong yang kini tengah berdansa dengan Eun Jae itu.
"Tidak mungkin melupakan namja cantik sepertimu."
"Hahaha….benarkah? kau sungguh gombal." kata Jaejoong.
"Aku dengar kau sudah menikah? Benarkah?" tanya Eun Jae.
"Eum! Aku sudah menikah." jawab Jaejoong.
"Sayang sekali,aku baru saja ingin melamarmu" kata Eun Jae.
"Kau harus melangkahi mayat suamiku dulu hahaha…" tawa Jaejoong.
"Benarkah? Akan ku lakukan jika itu bisa membuatmu menjadi milikku." tanya Eun Jae dengan raut wajah serius.
Jaejoong menghentikan tawanya dan kembali menatap wajah namja itu didepannya.
"Jangan bercanda,candaanmu menyeramkan." kata Jaejoong.
"Yah,bisa sajakan…" kata Eun Jae.
"Jangan mengkhayal!" kata Jaejoong.
"Kau tidak pernah berubah,tetap cantik dan mempesona." puji Eun Jae.
"Tentu saja." kata Jaejoong bangga.
Keduanya tetap berdansa bersama tanpa mengetahui ada tiga kamera paparazzi tengah memotret mereka dari jauh.
"Tapi kenapa kau disini?" tanya Jaejoong yang kini melepaskan tubuhnya dari rengkuhan Eun Jae karena musik telah berhenti.
"Aku diundang sekaligus aku ingin melihatmu…"
"Aku sudah menikah jadi berhentilah berharap…"
"Menikah tidak menikah kau tetap sama dimataku…"
"Baiklah terserah padamu…"
"Bagaimana kehidupanmu setelah menikah? Kau bahagia?"tanya Eun Jae
"Bahagia? Tentu saja tapi aku sedikit tidak suka dengan keluarga suamiku, mereka meminta anak dariku setelah tahu aku bisa hamil dari ummaku. Hal itu sungguh mengangguku…kau tahukan aku sekarang bekerja didunia artis dan jika aku hamil hingga anak kami lahir, suamiku juga keluarganya akan menyuruhku berhenti bekerja."
"Bukankah suamimu kaya raya? "
"Aku tahu tapi….kau tahukan aku sangat suka kemewahan, uang suamiku tidak cukup untukku."kata Jaejoong sebelum meneguk wine di tangannya.
"Bagaimana jika kau ceraikan suamimu dan menikah denganku? Bukankah kita akan sangat terlihat serasi sama seperti saat masih kuliah dulu…tentunya aku punya segalanya,yah tidak jauhlah dengan harta suamimu dan aku tidak akan memaksamu memerikanku anak."
Jaejoong tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya dan sejenak mengingat masa kuliahnya, dimana dia dan Eun Jae sempat berpacaran tetapi putus saat Eun Jae lulus lebih dulu.
"Jangan bercanda,sekarang sudah berbeda…"
"Aku serius Jae…"
"Aku sudah menikah,lihat cincin ini!"
Jaejoong memperlihatkan cincin berlian dengan batu permata berwarna merah ditengahnya kepada Eun Jae. Eun Jae tersenyum lalu mengamit tangan Jaejoong kemudian mencium tangan.
"Eun Jae! Apa yang kau lakukan! Bagaimana jika ada paparazzi disini!" kata Jaejoong kesal.
"Tidak mungkin…" kata Eun Jae sambil melihat disekitarnya.
"Sebaiknya aku bergabung dengan temanku, senang bertemu denganmu…" kata Jaejoong.
"Jae! Besok bolehkah aku datang kerumahmu?" tanya Eun Jae sebelum Jaejoong benar-benar menjauh darinya.
"Untuk apa? Pertemuan kita hari ini hanyalah pertemuan reuni dan bukan yang lain…"
"Aku ingin berkenalan dengan suamimu"
"Yunho tidak akan ramah kepadamu, dia tidak suka seorang namja asing baginya datang menemuiku…sebaiknya lupakan pertemuan ini Eun Jae."
Jaejoong berjalan dengan cepat menghampiri kedua sahabatnya yang tengah bercengkrama dengan yang lainnya. Sementara itu Eun Jae tampak menyeringai disana sebelum akhirnya dia berjalan menuju pintu keluar.
Pesta reuni itu berlangsung hingga malam tiba, Jaejoong melirik jam tangannya. Jarum jam sudah menunjuk angka 8.
"Junsu! Lee U! aku pulang duluan…Yunho pasti sudah pulang. Aku tidak ingin dia marah…"
"Kok pulang? Inti acaranya belum mulai hyung…" kata Junsu.
"Aku harus pulang." kata Jaejoong.
"Baiklah,hati-hati dijalan." kata Lee U.
"Hati-hati hyung." kata Junsu lagi.
…
"Nyonya sudah pulang?" tanya Yunho kepada salah satu pembantunya.
"Belum tuan."
"Yah,sudah panaskan makanan ini…"
"Baik tuan…"
Yunho berjalan menuju ruang tengah sambil mencoba menelpon Jaejoong. Tetapi bunyi kendaraan di halaman rumah membuat Yunho mematikan ponselnya dan menanti orang yang dicarinya masuk.
"Kenapa baru pulang?" tanya Yunho.
"Bear,kau sudah tiba?" tanya Jaejoong yang baru masuk dan bertemu dengan suaminya.
"Aku baru sampai, kenapa baru pulang?"
"Aku bertemu banyak teman jadi aku lupa waktu, maafkan aku ne?"
"Aku membeli makanan kesukaanmu sedang dipanaskan oleh pembantu."
Jaejoong tersenyum lalu berjalan mendekati Yunho kemudian menubruk tubuh Yunho yang lebih besar darinya.
"Bear…"panggil Jaejoong.
"Hum,kenapa?"
"Maafkan aku ne? aku lupa waktu…"
"Apa aku terlihat sedang marah?" tanya Yunho sembari mengelus pipi mulus istrinya.
"Kau memang yang terbaik" kata Jaejoong sambil mengerat pelukannya di tubuh Yunho.
"Boo, umma ingin kau menelponnya…" kata Yunho.
Jaejoong melepaskan pelukannya lalu menatap Yunho, Yunho tersenyum dan mengelus rambut milik istrinya dengan lembut.
"Dia tidak akan memarahimu, dia ingin membicarakan sesuatu denganmu"
"Kapan aku harus menelpon umma?" tanya Jaejoong.
"Malam ini, setelah kita makan kau baru menelpon umma…"
"Bear…" panggil Jaejoong.
"Kenapa?"
"Apakah umma ingin membicarakan soal anak? Kau tahukan aku…. belum mau hamil,kita bisa mengadopsi bayi di panti asuhan dan pekerjaanku tidak akan terganggu. Ada banyak tawaran film dan aku tidak mungkin menolaknya…."
Raut wajah Yunho berubah mendengar ucapan Jaejoong, namja tampan itu menundukkan kepalanya lalu berjalan pergi meninggalkan Jaejoong yang berdiri ditempatnya. Jaejoong menghela nafas kesal.
"Kenapa aku harus punya rahim!" kesal Jaejoong.
Sementara itu Yunho tengah duduk sendiri diperpustakaan rumahnya, tangan kekarnya memegang sebuah sarung tangan bayi berwarna biru. Bibir hatinya tersenyum getir, ucapan Jaejoong terngiang-ngiang dikepalanya. Hatinya selalu dibuat kecewa oleh istrinya sendiri.
"Semakin hari… dia terasa berbeda, rumah ini terasa hampa." kata Yunho
Perlahan dia mengingat semua nasehat ummanya saat berkunjung tadi.
Flashback
"Yunho, umma sudah menganggapmu dewasa tapi umma sungguh… sungguh sedih melihat keadaanmu seperti ini. Umma tidak ingin menyalahkan Jaejoong lebih jauh lagi, yang sekarang umma ingin tahu adalah apakah benar dia mencintaimu seperti kau mencintainya?"
"Mengapa umma menanyakan hal itu? Jaejoong tidak akan bersamaku jika dia tidak mencintaiku"
"Begini… dunia ini banyak macam cinta, cinta kepada keluarga, cinta kepada saudara, teman, cinta sepasang kekasih atau suami istri atau cinta kepada harta. Sekarang umma ingin kau memikirkan dan memilih, selama kau bersama Jaejoong dia berada diposisi cinta yang mana?"
Flashback end
Yunho menutup wajahnya dengan kedua tangan kekarnya, dia terlihat sangat menyedihkan saat ini. Namja yang begitu mencintai seseorang yang kini tak dikenalnya lagi atau bahkan dia memang tak mengenalnya dari dulu.
"Bear…"
Suara lembut memanggil nama namja tampan itu, dia menyadari siapa orang tersebut tetapi tak ada tenaga untuk melihat orang tersebut saat ini. Jaejoong yang datang menemui suaminya dengan secangkir kopi, sepertinya dia menyesal mengatakan hal tadi.
"Bear sedang apa disini?" tanya Jaejoong sambil mengusap bahu suaminya.
"Aku hanya sedang mengecek file kantor, kenapa belum tidur? Makanan tadi sudah kau makan?" tanya Yunho yang kini berpura-pura membuka file diatas mejanya.
"Sudah,gomawo Bear-ah….makanannya sangat lezat! Beli dimana?"
"Di restoran favoritmu…" kata Yunho.
"Bear, maafkan atas ucapanku tadi…"
"Aku sudah sering mendengarnya jadi tak perlu meminta maaf, kau tidak lelah? Pergilah tidur…aku masih banyak pekerjaan" kata Yunho dingin.
"Saranghae…" kata Jaejoong.
Yunho berhenti membolak balik file ditangannya saat mendengar ucapan Jaejoong tetapi dia berpura-pura mengabaikannya dan kembali membuka file ditangannya.
"Ara, aku akan tidur duluan…minumlah kopi ini" kata Jaejoong.
"Hum…" sahut Yunho.
Jaejoong masih berdiri ditempatnya menunggu Yunho menegurnya namun yang dilihatnya Yunho malah beranjak menuju lemari yang menyimpan buku-buku tanpa memperdulikan dirinya. Namja cantik itu pun menangis melihat Yunho mengabaikannya hingga dia memutuskan meninggalkan tempat itu.
Yunho marah sambil membanting buku yang dipegangnya kelantai saat Jaejoong tak berada disana lagi. Sementara itu Jaejoong berlari kecil menuju kamarnya sambil menghapus airmatanya, dia merasa sedih diabaikan oleh Yunho tetapi dia sadar ini karena kesalahannya.
Jaejoong menghapus airmatanya dengan cepat saat melihat Yunho masuk kedalam kamarnya dengan membawa sebuah buku dan kacamata. Jaejoong menatap suaminya yang kini berjalan disisi ranjang hingga ranjang bergerak saat dia naik dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang mereka.
"Bear…" panggil Jaejoong.
"Tidurlah, ini sudah malam…" kata Yunho.
"Aku hanya ingin bilang, tadi aku sudah menelpon umma…"
"Hum, baguslah…"
"Bear, maafkan aku. Jangan mengabaikan aku seperti ini…"
"Aku tidak mengabaikanmu, aku hanya sibuk membaca buku…" kata Yunho.
"Baiklah,kalau begitu aku tidur duluan…."
Jaejoong menarik selimut menutupi tubuhnya, tubuhnya berbaring membelakangi Yunho. Sedangkan Yunho masih mengabaikan Jaejoong hingga dua jam berlalu. Udara menjadi sangat dingin ditambah AC kamar yang menyala, diluar juga sedang hujan lebat. Yunho menutup bukunya dan melepas kacamatanya sesaat dia merenggangkan tubuhnya. Dilihatnya wajah Jaejoong telah terlelap, timbul rasa bersalah telah mengabaikan istrinya. Rasa kecewa dan kesalnya terlalu menguasai dirinya hingga mengabaikan semua yang Jaejoong lakukan untuk mendapat maaf darinya.
Yunho mengela nafas sejenak lalu mematikan lampu dan AC, dia menarik selimut menutupi tubuhnya dan berbaring dengan membalikkan tubuhnya dari Jaejoong. Tetapi suara parau membuat matanya yang terpejam kembali terbuka, dibalikkan tubuhnya melihat punggung Jaejoong.
"Bear…"
"Boo?"
"Maafkan aku…"
"Boojae? kau kenapa sayang?"
Jaejoong mengingau, dia sungguh merasa bersalah hingga terbawa mimpi. Yunho menarik tubuh istrinya yang dingin. Tubuh kecilnya terlalu dingin, kemarahan Yunho membuatnya lupa diluar hujan begitu deras dan Jaejoong sedang kedinginan.
"Boojae,sayang…"kata Yunho saat memeluk tubuh Jaejoong yang sedikit menggigil.
"Bear…."
"Aku disini sayang, maafkan aku…kau kedinginan eum?"
Jaejoong tidak menjawab karena sekarang dia tengah bermimpi, Yunho memeluk erat tubuh Jaejoong memperbaiki letak selimut istrinya. Yunho meletakkan tangannya dipipi Jaejoong, pipi pink itu bahkan menjadi dingin. Kembali Yunho yang merasa dirinya terlalu kejam, seharusnya dia menerima maaf Jaejoong dan tidak membuat istrinya seperti ini karena pada akhirnya dialah yang menyesal.
"Aku disini sayang…"
"Mianhae…hiks.." igau Jaejoong, kini terdengar sebuah isakan.
"Huusshh…aku memaafkanmu sayang." Kata Yunho yang mencoba menenangkan istrinya yang mengigau.
…
Suasana kembali membaik, Jaejoong nampak membantu Yunho mengancing kemejanya dan memasangkan dasinya. Sesekali mereka saling menggoda hingga berakhir Jaejoong yang menjadi kesal.
"Hari ini kau tidak kerja sayang?" tanya Yunho.
"Nanti siang Junsu akan datang membawa jadwalku, hanya syuting iklan produk kecantikan saja mungkin memakan waktu tiga jam…"
"Aku sangat senang jika setiap pagi kau bisa melayaniku seperti ini…"kata Yunho dengan senyuman manisnya.
"Aku ingin tapi kau tahukan bagaimana pekerjaanku, hari ini karena pekerjaanku siang jadi aku bisa menyiapkan semua yang kau butuhkan…"
"Bagaimana jika berhentilah bekerja Boo, aku sangat membutuhkanmu dirumah…aku ingin melihatmu dirumah saat aku pulang." Kata Yunho membuat Jaejoong berhenti memasang dasi dilehernya.
"Kalau itu aku tidak bisa Bear, pekerjaan ini sudah mendarah daging untukku…" kata Jaejoong.
"Baiklah, aku akan bersabar…aku sangat mahir bersabar! Jinjja!" kata Yunho dengan nada bicaranya yang terkesan imut.
Jaejoong hanya tersenyum melihat tingkah suaminya sebelum memberikan sepasang sepatu kerja Yunho. Sementara Yunho memakai sepatunya, Jaejoong menyendokkan bubur yang dibuatkan untuk Yunho sebagai sarapannya. Yunho lebih suka bubur sumsum dipagi hari.
"Boo, apa kau tidak ingin berlibur?" tanya Yunho dengan mulutnya yang penuh dan sesekali Jaejoong membersihkan bubur yang blepotan dipinggir bibirnya.
"Bear mau mengajakku berlibur?" tanya Jaejoong balik.
"Minggu dengan aku libur, kita bisa berlibur ke luar negeri atau di sekitar korea saja…"
"Aku ingin ke Paris, bukankah kita bulan madu di Paris dulu dan aku ingin mengulangnya lagi Bear…"kata Jaejoong dengan semangat.
"Euumm, baiklah…"
"Gomawo bear-ah…"
"Iya sayang…"
Setelah menghabiskan sarapannya, Yunho beranjak meninggalkan kamarnya bersama Jaejoong yang menggandeng tangannya sampai mobilnya.
"Masuklah, diluar mendung…" kata Yunho.
"Bear, jangan terlalu khawatir…" kata Jaejoong.
"Yah sudah, aku berangkat yah…"
Yunho mengecup seluruh wajah istrinya dan dibalas hal yang sama oleh Jaejoong, sebuah ritual saat Yunho ingin berangkat kerja. Setelah memastikan semua tak yang terlupakan, Yunho beranjak meninggalkan halaman rumahnya dengan mobil mewah miliknya.
Jaejoong melangkah masuk kedalam rumah dengan senang namun ponselnya tiba-tiba berdering. Sebuah pesan singkat diterimanya.
Boo, aku mencintaimu sayang….
Ternyata sebuah pesan dari suaminya, Jaejoong tersenyum malu-malu sambil membalas pesan tersebut tetapi ponselnya kembali berdering dan kembali menerima sebuah pesan.
"Nomor baru?"
Pagi cantik…suamimu sudah berangkat kerja? Bagaimana kalau kita keluar? Pertemuan kita kemarin belum cukup untukku…
"Eun Jae? Darimana dia menemukan nomorku? Aku harus menghapusnya, Bear akan marah besar…"
Setelah menghapus pesan Eun Jae masuk pesan lain dengan nomor yang sama hingga membuat Jaejoong kesal.
Aku masih mencintaimu…
"Namja ini!" kesal Jaejoong sambil melepas baterai ponselnya lalu berjalan menuju kamarnya.
Tbc…
Lama banget ngga lanjutin ini yah…
Oh, iya part satu memang alurnya terlalu cepat dan itu sengaja ;p
Oke! Yang nunggu ff ini, review please or delete :/
