Judul : Cinta Kuah Ramen & Sebuah Pensil (Chapter 4)

Rate : T

Naruto © Masashi Kishimoto

Cinta Kuah Ramen & Sebuah Pensil © Sera~Uchiha

WARNING : Gaje, OOC, Alay, Lebay, Typo(s)

EFEK : Mata copot, jantung bochor, kepala lepas sama badan, mati mendadak/? *abaikan, minna._.*

BAHASA INDONESIA

Summary : ["Ah, panas!" kuah ramen itu tumpah tepat dikemeja putihnya - "Bolehkah aku meminjam sebuah pensil milikmu, Nona Jambu?" tanyanya] Kisah dimana seorang lelaki yang bernama Sasuke harus memilih antara cinta kepada kakaknya atau cinta kepada pujaan hatinya.

Sebelumnya, author unyu(?) minta maaf karena ngaret. Maklum, anak kelas 8, banyak tugas *curcol :')

R&R, please! *maksa


Beberapa hari berlalu, duo Uchiha ini tampak saling 'acuh'. Entah apa yang sedang terjadi. Padahal, mereka sama sekali tak bertengkar. Mungkin, mereka lelah(?)

"Itachi."

Sasuke yang tengah memencet-mencet tombol remote televise menyempatkan diri menyapa Itachi yang tengah menggoreskan pensilnya diatas bidang putih. Ia sedang menggambar wajah seseorang, siapa dia? Lupakan. Sasuke khawatir kepada anikinya yang belum makan sejak tadi pagi itu,

"Makan dulu. Baru lanjutin gambar" ujar Sasuke seraya mendekati Itachi

Itachi hanya tersenyum tipis. Tipis sekali, seraya memasang wajah stoic-nya. Hanya diam sejenak, lalu melanjutkan aktivitasnya. Sasuke yang merasa 'dikasih kacang' tak tinggal diam. Ia pergi menuju meja makan untuk mengambil beberapa lembar roti untuk pengiring makan kakaknya. Ia menaruhnya disamping Itachi, namun Itachi sama sekali tidak peduli. Ia malah sibuk menggambar, menggambar, dan menggambar,

"Makan dulu, ih. Nanti kalau sakit gimana? Aku juga kan yang repot?"

"Bagus dong kalau aku sakit, jadi cepat meninggal dan…"

"GILA. Otak tuh dipake napa! Orang masih pengen hidup, masih pengen nikmatin indahnya dunia, LO malah pengen MATI?! Sadar woy sadar, tobat, Tachi!"

Itachi hanya diam. Menunduk. Berhenti menggambar dan mulai mengunyah selembar roti yang ada dihadapannya. Itachi masih terdiam. Matanya memerah, bukan berarti ia adalah vampir. Bukan, salah kaprah itu.

"Maaf aku terlalu kasar. Apa kau sakit?"

Itachi menggeleng. Ia berkata bahwa ia hanya kurang tidur sebagai alibinya. Sasuke pun pergi meninggalkan Itachi menuju kamar mandi. Ingin menyegarkan pikirannya yang sudah penuh akan tingkah Itachi yang semakin aneh dari hari ke hari.

"Perasaanku tidak enak. Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Sasuke

-ooo-

"Sasuke-kun!"

Sasuke membalikkan tubuh tingginya itu dan melihat siapa yang menyebut nama anehnya itu.

Ternyata Sakura. Senyum tipis terukir dibibir Sasuke. "Ada apa?"

Sakura berjalan mendekati Sasuke. Ia melempar senyuman manis. Sasuke hanya bisa menahan hasrat untuk membalas senyuman Sakura yang benar-benar MANIS.

"Ogenki desu?"

"Genki desu" Jawab Sasuke singkat

Suasana kembali hening. Mereka memang suka gugup bila berbicara—seraya bertatapan.

"Bagaimana kabar Itachi-kun?" Sakura memecah keheningan—dan memecahkan hati Sasuke

"Baik"

"Lalu, kenapa kau dan dia belakangan ini jarang masuk sekolah?" tanya Sakura. "Sebentar lagi ujian, Baka"

Sasuke ber-sweatdrop dan mengangkat sebelah alisnya. Tak lama kemudian, ia tersenyum. "Aku senang ada yang perhatian padaku"

Semburat merah terpampang jelas di wajah gadis berambut merah muda ini. Ia menundukkan kepalanya agar Sasuke tidak mengetahui ekspresi wajahnya sekarang. Sasuke malah menatap Sakura dari bawah sehingga secara spontan, Sakura mendorong Sasuke pelan. "Gomen!"

"Kau ini..." Sasuke menunjuk Sakura

"Hey, kalian!" sapa Itachi yang baru saja tiba disekolah. Ekspresi Sasuke yang tadinya marah—bercampur senang berubah menjadi bosan.

"Itachi-kun! Bagaimana kabarmu? Kau harus tahu, para gadis menanyakanmu!" Sakura tampang sangat riang melihat sosok Itachi—yang merupakan orang yang ia "suka"

"Souka. Gadis disini? Kau juga?" tanya Itachi seraya mengangkat sebelah alisnya

"Errr... Tidak.. begitu.. juga.." jawab Sakura gugup

"Bohong kau!" ujar Sasuke seraya melipat tangannya dan menutup kelopak matanya. "Kau kan suka pada Itachi-niichan"

"Bicara apa kau ini, Teme!"

Itachi hanya tersenyum. Lalu merangkul dua orang yang menurutnya seperti "harta berharga"-nya. "Sudah jangan bertengkar. Ayo masuk kelas!"

-ooo-

Pelajaran dimulai. Kebetulan, Lee sedang tidak masuk sehingga Sasuke duduk sendiri. "Maukah kau mengisi kekosongan bangkuku? Aku tidak suka kesepian"

Sakura bingung. "Tumben."

"Sudahlah!" Sasuke menarik tangan Sakura dan membawanya menuju bangkunya

Sakura hanya pasrah menuruti kemauan Sasuke—walau sebenarnya dia senang~

Sakura mencoret-coret bukunya—tepatnya dibagian belakang halaman. Dia bosan karena semenjak awal pelajaran dimulai, Sasuke mengacuhkannya. Sasuke sibuk memperhatikan penjelasan dari Kakashi-sensei—yang sangat membosankan. Sakura menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya. Dan kembali berposisi seperti seorang siswi yang tertidur dikelas. "Hey, bodoh. Bangun. Jangan tidur!"

"Aku tidak tidur, Teme. Aku sedang berimajinasi" Sakura beralibi

"Sebentar lagi ujian. Perhatikan penjelasan God of Mask ini. Matematika, kan? Pelajaran yang menurutmu paling monster"

"Terima kasih, tapi tidak." Sakura melanjutkan aktivitasnya

-ooo-

Seperti biasanya, Sasuke sibuk mengotak-atik remote televisinya. Mencari acara yang menurutnya srek untuk ditonton. Ia memutuskan untuk menonton lewat DVD—karena tak ada acara televise yang bagus baginya. Ia memilih menonton DVD yang kemarin Itachi beli. Ia mengambil beberapa makanan ringan seraya menunggu film The Hunger Games mulai.

Baru setengah jam film diputar, pikiran Sasuke sudah menjalar kemana-mana. Ia baru sadar, sejak tadi, Itachi tak keluar dari kamarnya. Ia pun mem-pause filmnya dan menuju dapur untuk mengambil makanan untuk kakaknya. Adik yang baik.

Tok tok.

Tok tok.

Sasuke mengetuk pintu kamar Itachi. Daripada ia menunggu lama, ia segera memegang handle pintu dan membuka pintunya. Terlihat, Itachi sedang tidur dimeja belajarnya dengan laptop yang masih dalam keadaan nyala. Sasuke menggeleng lalu menaruh nampan berisi roti bakar dan susu cokelat hangat diatas meja.

"Itachi~"

Sasuke menatap wajah anikinya itu dalam-dalam. Pucat.

Ia menempelkan punggung tangannya ke kening Itachi. Panas.

Sasuke segera membaringkan tubuh Itachi keatas kasur dan bergegas mengambil obat.

"Dasar bodoh. Sudah kubilang jangan lupa makan, masih saja nakal. Jadinya merepotkanku" dumel Sasuke

Sasuke segera membangunkan Itachi. Menyuruhnya untuk makan lalu meminum obatnya.

.

.

Ting nong. Ting nong.

.

.

Bel rumah berbunyi. Itachi berniat membukakan pintu, namun Sasuke mencegahnya. "Diam saja disini. Biar aku yang membukakannya"

Dengan langkah malas dan bergumam siapa orang bodoh yang bertamu di siang-siang yang panas ini. Ia membuka pintu, dan...

"Sakura-chan?" pekik Sasuke seraya mengamati Sakura dari bawah keatas. Sakura memakau baju lengan pendek berwarna putih dan celana pendek jeans. Membuat paha mulus Sakura terlihat dan mampu membuat Sasuke merasa terhipnotis. Bidadari darimana yang turun disaat cuaca panas seperti ini?

Sakura hanya memasang wajah aneh. "Maaf mengganggumu, tapi.. Bolehkah aku minta kau mengajarkanku Matematika yang diajarkan tadi?"

"Dasar baka. Sudah kubilang, kau jangan tidur. Ngeyel. Jadinya, kau menggangguku 'kan" Sasuke melipat tangan didadanya

"Kau ini! Terserah kalau tidak mau mengajarkanku, aku akan pergi kerumah Neji-kun!"

"Eh, tidak. Aku hanya bercanda, Pink." cegah Sasuke. Sakura tersenyum menang.

"Jadi..., kau tak menyuruhku duduk atau masuk kerumahmu, mungkin? Aku tamu disini, SASUKE-SAN"

"Masuk!" Sasuke menyuruh Sakura masuk. Sakura hanya bisa cengo melihat isi rumah Sasuke dan kakaknya yang cukup besar itu.

"Kau hanya tinggal bersama Itachi?" tanya Sakura

"Ya. Kau kan tahu, keluargaku satu-satunya hanya Itachi" jawab Sasuke seraya mengambil segelas air dingin untuk Sakura.

"Lalu, dimana dia?"

"Dikamarnya. Ia sedang sakit"

"Benarkah? Bo—boleh kau antar aku kekamarnya?"

"Sendiri saja. Aku sibuk. Kau cari saja ruangan yang dipintunya terpampang tulisan 'Psycho Boy's room'. Itu kamarnya—"

"—dan jangan apa-apakan dia." Sambung Sasuke

"Haah, kau ini selalu saja curiga padaku!" Sakura berdiri dan pergi menuju kamar Itachi.

Tidak butuh terlalu lama mencari kamarnya. Rumah duo Uchiha ini hanya berlantai satu—namun luas. "Psycho boy's room" Sakura membaca tulisan yang ada di pintu berwarna cokelat

Tok tok.

"Masuk saja. Tidak dikunci" suara berat Itachi terdengar dari dalam. Sakura membuka pintu Itachi dengan segenap keyakinan(?)

"Itachi-kun, kau kenapa?" tanya Sakura seraya berjalan menuju Itachi yang terbaring membelakanginya

Merasa tak asing dengan suara imut nan cempreng(?) ini, Itachi membalikkan badannya. "Hey, kau. Ada apa kesini?"

"Aku—aku ingin belajar bersama dengan Sasuke. Mengingat 2 bulan lagi kami akan menghadapi ulangan" jawab Sakura seraya duduk di sofa dekat kasur Itachi

"Oh." Bibirnya membulat

"Kau sakit apa?" Sakura mengulang pertanyaannya

"Hanya kelelahan dan telat makan kok. Bukan apa-apa"

"Souka. Lain kali, kau tidak boleh seperti ini, Itachi-kun. Walau bagaimanapun, kesehatanmu itu jauh lebih penting dari apapun" ucap Sakura seraya tersenyum

Sakura melihat sebuah baskom berisi air dan kain diatasnya. Ia segera membuat kompresan dan menaruh kain basah itu di kening Itachi

"Hey, Nona Jambu! Katanya, kau mau belajar bersamaku, kenapa jadi berdua-duaan dengan kakakku?" singgung Sasuke yang berada diambang pintu

"Aku hanya mengompresnya, Pantat Ayam!" jawab Sakura

"Kalian ini.. Seperti sepasang kekasih yang benar-benar jodoh. Tidak ada akurnya" ujar Itachi seraya meraih laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya

"MAKSUDMU?!" ketus Sakura dan Sasuke dengan deathglare-nya

"Tak apa." Ujar Itachi dengan stoic face-nya

"Bisakah kalian keluar dari kamarku? Aku ingin menyelesaikan tulisanku tanpa keributan" ucap Itachi dengan wajah yang benar-benar datar dan tetap fokus dengan laptopnya

"B—baiklah"

Sasuke dan Sakura pun keluar dari kamar Itachi. "Cih, baka otouto" gumam Sakura

"Apa kau bilang?"

"Ada lalat dihidungmu!~" -_-

"TERSERAH! Ayolah, jangan membuang waktu berlianku!" Sasuke segera menarik tangan Sakura menuju ruang tamu

Sudah satu jam lebih, Sasuke dan Sakura belajar dengan serius, seakan-akan mereka memang tidak bermusuhan. Sakura tampak benar-benar memperhatikan apa yang diajarkan Sasuke, begitupula Sasuke, dengan senang hati membantu Sakura. Sesekali mereka beradu tatapan, namun, tidak lama. Orang yang saling suka biasanya sulit untuk menatap 'doi'-nya.

"Sudah!" Sasuke merebahkan tubuhnya ke sofa seraya memijat-mijat keningnya yang berdenyut. Tanda sudah lelah. Walaupun hanya mengajarkan dua materi kepada gadis pink ini, rasanya ia benar-benar harus ekstra sabar. Sakura, walaupun ia tidak bisa memahami dengan cepat, ia selalu menyanggah apa yang diajarkan Sasuke. Pfftt.

"Huh. Lumayan sulit ya Matematika itu.." ujar Sakura seraya duduk disamping Sasuke

"Hey, kau. Apa kau tidak punya baju lain?" tanya Sasuke tanpa menatap Sakura sedikitpun

Sakura mengangkat sebelah alisnya dan menatap Sasuke bingung. "Apa ada yang salah?"

"Jelas. Bajumu itu seperti kekurangan bahan. Apalagi celana yang kau pakai, terlalu memamerkan tubuhmu, ya aku tahu kalau pahamu itu mulus, tapi tidak seharusnya kau umbar seperti itu, apalagi dihadapan lawan jenis. Terkesan—ehm, lebih murah daripada paha ayam" Sasuke mengomel

Sakura segera mengambil bantal dan menutupi pahanya. Ia menunduk malu, "Ternyata masih ada orang yang peduli terhadap diriku"

"Walau bagaimanapun, wanita itu ibarat satu dari sekian tulang rusuk yang ada ditubuhku. Artinya, aku harus benar-benar menjaganya. Termasuk kau, Jambu"

"Aku senang kau bicara seperti itu"

.

- Di ruangan lain –

.

Itachi masih enggan beranjak dari kasurnya. Ya, dia masih lemah. Penyakit apa ini? Mengapa begitu menyiksaku?. Tidak biasanya bila sakit Itachi selemah ini. Dada dan perutnya terasa seperti ditusuk oleh jutaan jarum. Bukan Maag. Dia yakin, karena bila kadar asam lambungnya itu meningkat, ia tak akan selemah ini. Itachi membenamkan kepalanya kebawah bantal.

Itachi menyemangati dirinya sendiri. Tulisannya itu tinggal beberapa alinea lagi. Ia tak ingin menyia-nyiakan kerja kerasnya selama kurang lebih 6 bulan untuk mengarang sebuah novel. "Ganbatte-ne!"

Dan disaat-saat terakhirnya itu, sang kakak masih menyanyikan sebuah lagu yang ia buat khusus untuk adiknya, Taka. Taka pun terbawa kealam mimpinya.

"Tidurlah, adikku. Tidur yang nyenyak" bisik sang kakak tepat ditelinga adik kesayangannya yang terbaring di sofa ruang ICU

"Tenshi.." dengan perlahan, Ara memanggil nama gadis yang menemaninya sejak tadi

"Ada apa, Ara-kun?"

"Bisakah kau duduk disampingku sebelum aku benar-benar tertidur. Tidur dimana aku tidak akan terbangun lagi?"

Tenshi tak sanggup membendung air matanya. Berkali-kali, Tenshi memperingatkan Ara agar tidak berpikiran gila seperti itu. Berkali-kali pula, ia menyemangati Ara agar tetap semangat dikala melawan penyakitnya.

"Aku mohon, ini yang terakhir, Tenshi-chan. Beri aku kebahagiaan untuk yang terakhir kalinya. Kebahagiaan dimana aku bisa merasakan hangatnya rasa cinta dari seorang wanita—selain ibuku. Bisakah kau buat aku tenang sebelum sang malaikat kematian datang kemari dan membawaku bersamanya?" lirih Ara dengan senyuman manis—yang juga menyakitkan

"Ugh!" Itachi menaruh laptop itu disampingnya dan berlari menuju ke kamar mandi

Ia lari secepat kilat. Sadar bahwa mulutnya itu akan mengeluarkan cairan kental berwarna merah pekat, ia segera menuju ke washtafle. "Uhuk!" Itachi memuntahkan semua cairan yang ada dimulutnya. Ya, darah.

"Ada apa dengan diriku ini?!" Itachi berjalan menjauhi washtafle. Ia terjatuh saat itu juga. Ia menjenggut-jenggut rambut lurus yang ia ikat ponytail.

"Itachi-oniichan, ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja?!" teriak Sasuke dari kejauhan

Itachi segera memutar keran dan membiarkan darah—beserta airnya masuk kedalam lubang washtafle.

"Aku tidak apa-apa! Tak usah pedulikan aku!" balas Itachi

Sepuluh menit kemudian Itachi keluar dari kamar mandi. Ia tak sengaja melewati ruang tamu—tujuan awalnya ke dapur—dan tidak sengaja melihat Sakura dan Sasuke sedang bercengkerama berdua. Senyuman manis pun terukir jelas dibibir sang Uchiha sulung ini. "Aku senang bisa melihat kau bersamanya, Sasuke"

.

Back to SasuSaku

.

"Sudah hentikan, Sakura. Aku—perutku sakit, AHAHAHA!"

Sakura dan Sasuke masih tertawa terbahak-bahak saat mendengar cerita masa kecil mereka. Dimulai dari Sasuke yang pernah tercebur ke selokan karena menutup wajahnya dengan kresek bekas belanjaan ibunya, dan Sakura yang pernah menghisap jempol kaki ibunya. Yah, masa kecil yang sangat absurd.

"Gara-gara kau, aku jadi hendak buang air. Tunggu disini ya" Sasuke beranjak menuju toilet

Sudah sekitar 10 menit, Sasuke belum keluar dari toilet. Karena bosan, Sakura pun berjalan-jalan didalam rumah ini. Perhatiannya tertuju pada ruang tidur dengan pintu yang masih terbuka. Sakura pun memasuki kamar itu. Sepertinya ini kamar Sasuke. Betapa joroknya bocah ini. Beda jauh dengan kamar anikinya.

Ia melihat-lihat meja gambar Sasuke yang bertumpukkan buku-buku komik. Ia kembali bergumam saat melihat kertas post-it hijau berserakan dimeja belajarnya. Ia berniat membereskan, namun disalah satu kertas itu, ia merasa tak asing—merasa pernah melihat sebelumnya.

"Seperti tulisan yang aku baca bersama bingkisan saat aku sakit. Apakah Sasuke—"

Jeritan kesakitan terdengar dari kamar seberang. Ia segera menghampiri sumber bunyi tersebut, ia segera memasuki ruangan itu. "Itachi-kun!"

"Sa... ku... ra.."

Sakura menatap Itachi yang tengah terbaring tak berdaya dipangkuannya. Wajahnya pucat dan tubuhnya mendingin. Itachi tak sadarkan diri.

TO BE CONTINUED


Hai, minna! Maaf telat post ya. Ini ceritanya masih fresh loh, baru diketik(?) Lupakan ._. R&R yaaa!

Btw, quiz kemarin, jawabannya gak ada yang bener XD

Dan chapter 5 besok akan menjadi chapter terakhir :') Good bye, CKR&SP