Judul : Cinta Kuah Ramen & Sebuah Pensil (Chapter 5, Ending)

Rate : T

Naruto © Masashi Kishimoto

Cinta Kuah Ramen & Sebuah Pensil © Sera~Uchiha

WARNING : Gaje, OOC, Alay, Lebay, Typo(s)

EFEK : Mata copot, jantung bochor, kepala lepas sama badan, mati mendadak/? *abaikan, minna._.*

BAHASA INDONESIA

Summary : ["Ah, panas!" kuah ramen itu tumpah tepat dikemeja putihnya - "Bolehkah aku meminjam sebuah pensil milikmu, Nona Jambu?" tanyanya] Kisah dimana seorang lelaki yang bernama Sasuke harus memilih antara cinta kepada kakaknya atau cinta kepada pujaan hatinya.

Sebelumnya, author minta maaf karena ngaret. Ya, namanya juga lebaran XD

Happy reading!

R&R ya. Soalnya author udah nulis ini dengan marah, emosi, nangis, cemburu, dll~ /apa


Sedari tadi, Sasuke hanya mondar-mandir didepan ruang ICU. Ia menggigit bawah bibirnya. Menahan agar air matanya tidak menetes saat itu juga. "Pasti.. pasti ini komplikasi dari ginjalnya"

Sakura menatap Sasuke sendu, matanya sembab dan wajahnya 'lengket'. "Maksudmu?"

Sasuke meyakinkan dirinya untuk menceritakan semuanya. Dimulai saat dirinya masih berusia 10 tahun. Hari itu—tepatnya malam hari Sasuke menjerit kesakitan pada perutnya. Membuat Mikoto, Fugaku, dan Itachi terbangun dari tidurnya—saat itu mereka berempat tidur dalam satu kasur.

Mikoto tampak panik dengan keadaan anak bungsunya. Ia dan Fugaku memutuskan untuk membawa Sasuke menuju Rumah Sakit Konoha.

Selesai diperiksa, Dokter Tsunade—yang saat itu menangani Sasuke—memvonis bahwa salah satu ginjal Sasuke mengalami kelainan dan harus dicangkok.

Fugaku, ia tidak bisa mencangkokkan ginjalnya. Sebenarnya bisa, namun karena ginjalnya hanya tinggal satu—karena harus dicangkokkan dengan ginjal kakaknya dulu.

Mikoto, ia tidak bisa mencangkokkan ginjalnya karena berbeda. Tidak bisa dipaksakan.

Harapan terakhir hanya ada pada Itachi yang kala itu masih 11 tahun. Karena besarnya rasa sayangnya terhadap Sasuke dan tak ingin kehilangannya, Itachi memutuskan untuk mendonorkan ginjalnya kepada Sasuke.

Hingga saat ini, Itachi hidup dengan satu ginjal. Sama seperti ayahnya.

"Betapa mulianya kakakmu itu,"

"Jadi..., inikah yang kau maksud dengan berkorban itu, Sasuke?" tanya Sakura

Sasuke mengangguk pasrah. "Kau tahu, ini sangat menyakitkan. Aku—aku seharusnya tidak ada didunia ini. Harusnya, Itachi yang berbahagia hari ini, bukan harus terbaring dan ditemani selang-selang yang menghiasi tubuhnya itu. Konyol." Sasuke mengutuk dirinya sendiri. Memukul tembok yang ada dihadapannya hingga tangannya memar dan biru.

"Baka. Jangan lukai dirimu sendiri!" ucap Sakura seraya mengambil sapu tangannya dan mengikatnya ditangan Sasuke. Sasuke menatap Sakura dan memeluknya erat.

"Aku memang bodoh. Terima kasih telah menjadi orang yang selalu membuatku sadar akan kebodohanku" bisik Sasuke. Sakura tersenyum dan membalas pelukan Sasuke

"Apakah kalian—"

"Eh, Dokter. Gomen. Bagaimana keadaan kakakku?" tanya Sasuke seraya melepas pelukan Sakura

"Bisa kita bicara di ruanganku saja?" tanya sang Dokter balik

Sasuke mengangguk dan berjalan mengekori Dokter menuju ruangannya.

"Jadi begini.., ginjal kakakmu membusuk didalam tubuhnya. Dan berkomplikasi ke hatinya. Dan, ini penyakit yang jarang kami temui. Ini kasus yang cukup parah..." jelas Dokter dengan mimik sedih

Brak.

Sasuke menghentakkan telapak tangannya dimeja sang Dokter—membuatnya sedikit melompat terkejut.

"Aku tidak mau tahu, jika kau tidak bisa menyelamatkan anikiku—"

"—akan ku patahkan semua tulang rusukmu! Akan kuhancurkan tubuhmu—" ancam Sasuke yang terbawa suasana hatinya

Sakura segera masuk kedalam ruangan dan membawanya keluar. Sasuke memang temperamental. "TENANG, BAKA! KAU TIDAK BISA SEPERTI INI!"

"Lihat aku! Lihat mataku, Teme!" Sakura mendorong tubuh Sasuke hingga mentok ke tembok

"Kau menghancurkan dokter itu, sama saja kau menghancurkan dirimu sendiri, Sasuke! Kau harus pikir bagaimana perasaan Itachi jika tahu bahwa adiknya sebejad ini! Tenangkan dirimu!"

Bugh. Sakura melempar satu pukulan kearah pipi agar ia jera. "Kakakmu sedang berjuang mati-matian agar tetap bisa bertahan. Demi siapa? YA DEMI KAU, SASUKE. KAU SEORANG! Bukan aku atau yang lainnya! Didunia ini hanya kau yang ia sayang!"

Sasuke tersungkur. Ia malu. Ia pasrah. Ia menyesal. Ia menangis dengan kelakuan BODOHnya itu.

-ooo-

Itachi masih tertidur dalam masa kritisnya. Sasuke masih setia menemani kakaknya—hingga ia bolos sekolah 11 hari. Sama seperti yang Itachi lakukan saat merawat Sakura.

Sasuke kembali mengingat masa kecilnya dulu dengan Itachi. Ia kembali menangis sendu. Ia menggenggam erat jemari Itachi yang diselipkan selang infus. Tak lama kemudian, tangannya bergerak. "Tachi-oniisan!"

Sasuke menggenggam erat tangan kakaknya itu. Menatapnya sendu, lalu menangis. Ini sudah kedua kalinya ia menangis—setelah pernah menangisi kematian orang tuanya.

"Hey, Bodoh. Jangan menangis lah. Usiamu sudah 16 tahun" ujar Itachi

"Kau yang bodoh. Dalam kondisi seperti ini, kau masih saja bisa berkata seperti itu! Adik mana yang tidak menangis melihat kakaknya sakit keras seperti ini!" Sasuke meluapkan semua yang ada dihatinya sekarang

Itachi tersenyum tipis. Lalu mengelus lembut kepala adiknya dan menghapus air matanya.

"Terima kasih, kau telah memberiku kasih sayang yang besar. Maaf bila aku belum menjadi kakak yang sempurna untukmu. Tapi, yang kulakukan selama ini adalah agar aku menjadi kakak yang sempurna, yang kuat, yang bisa menjadi tameng dikala kau nyaris disakiti orang. Tapi, ternyata aku tidak bisa. Semua yang ku lakukan hanya merepotkanmu, Sasuke. Gomennasai" lirih Itachi seraya menyentuh kening adiknya menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya.

"Wah, Itachi-kun, kau sudah sadar? Syukurlah..." ujar Sakura seraya memecah keharuan antara kakak dan adik ini

"Hei, aku membawakan makanan untuk kita bertiga. Ya, walaupun hanya bakpau, sih. Setidaknya, bisa mengganjel perut yang keroncongan ini, hehe" lanjut Sakura seraya menunjukkan plastic berisi 3 buah bakpau. Itachi melempar senyuman seakan-akan senang dengan sikap blak-blakan Sakura

"Itadakimasu!~" seru Sakura, Sasuke, dan Itachi bersamaan—dengan posisi Itachi yang setengah duduk

"Uhuk! EHEM." Itachi sedikit "menyinggung" keharmonisan(?) Sasuke dan Sakura. Membuat mereka panik, takut Itachi kenapa-kenapa

"Hei, hei..., kau, kenapa?" Sasuke mulai panik

"Hahahaha! Tidak apa-apa, Bodoh! Aku hanya iseng. Ngomong-ngomong, kalian cocok juga, ya—bila menjadi sepasang kekasih" jawab Itachi seraya tersenyum manis

Dor! Sakura dan Sasuke langsung menunduk. Wajah mereka seperti kepiting rebus—tidak seperti biasanya yang selalu mengelak. Apakah mereka diam-diam mengakui perasaan mereka? Entah.

"Kenapa diam? Hayooo, kalian sudah saling menyukai, ya?" pertanyaan Itachi ini semakin membuat dua makhluk ini merasa terpojokkan. Huhu.

"TIDAK, BAKA ANIKI!" jawab kedua makhluk—yang masih gengsi untuk mengakui perasaan mereka

"Kalian ini lucu ya. Hahahaha!" Itachi tertawa puas

-ooo-

Sudah sekitar 2 minggu, Itachi dirawat disini. Tubuh yang tadinya kuat—bisa dibilang gemuk—sekarang hanya terlihat seperti "hanya tulang belulang". Benar-benar kurus karena virus yang berkembangbiak di ginjalnya yang mulai membusuk.

"Sasuke-kun.." ucap Sakura—lebih tepat disebut berbisik

"Hn" sahutnya

"Apakah.. Kau yang memberikanku cokelat dan boneka saat aku sakit?" tanya Sakura to-the-point

GLEK.

"Apa yang membuatmu yakin bahwa aku yang memberikan?" tanya Sasuke balik

"Karena ini—" Sakura menunjukkan kertas post-it hijau itu ke Sasuke

"—aku yakin karena tulisan tanganmu dengan yang di post-it bingkisan itu sama"

Sasuke tak bisa mengelak lagi. Ia ibarat telah ditodong ribuan samehada dihadapannya. Sasuke memilih diam seakan-akan Sakura tak pernah bertanya seperti itu. Sementara Sakura, ia menjadi bingung sendiri. Apa aku salah bertanya?

"Kalau misalkan memang aku yang memberikannya, kenapa?" tanya Sasuke memecah keheningan

"Errr. Ya tidak apa-apa" jawab Sakura

"Apa kau akan senang?"

"Mungkin"

"Oh" dibalik bukunya, senyuman 'menyeringai' terukir di bibir tipis si bungsu Uchiha ini

"Sasuke.. Uchiha?" Dokter menyebut nama Sasuke dengan ragu-ragu

"Hn?"

"Pemeriksaan Itachi sudah selesai. Kau dan pacarmu itu bisa masuk sekarang." Jelas dokter. Ada yang salah, ya?

"Errr, kenapa setiap orang menyangka aku dan Sakura pacaran, sih" batin Sasuke. Raut wajahnya berubah menjadi ala ala stoic-nya Itachi. Bukan seorang 'Uchiha' banget kalau tidak bisa stoic. Author benar, kan, minna? *senyum unyu ala kunyuk*

"Sasuke-kun.. Apa mungkin..?" gumam Sakura dalam hati

"Hey, baka!" Sasuke berusaha menyadarkan Sakura dari lamunannya

"Eh! A-apa?"

"Kau ingin menemui Itachi atau tidak, sih?"

"Tentu saja!" Sakura segera masuk kedalam ruangan Itachi dan di ekori oleh Sasuke

Itachi masih tertidur pulas. Membuat Sasuke dan Sakura tidak ingin berbicara keras-keras. Mereka tahu, Itachi memang benar-benar butuh istirahat.

-ooo-

Pagi ini, Itachi meminta Sakura untuk membawanya jalan-jalan keliling Rumah Sakit. Dengan senang hati, Sakura mendorong kursi roda yang diduduki Itachi berkeliling. Melewati ruangan demi ruangan dimana orang yang kondisi kesehatannya kurang baik dirawat. Adegan(?) lucu pun terjadi. Seperti Sakura yang lari-lari ketika tak sengaja memasuki kamar mayat—yang mungkin ia kira toilet—dan membuat Itachi tak henti-hentinya tertawa seakan lupa pada apa yang ia derita. Lalu, ketika mereka melewati ruang bayi. Mereka sengaja menghentikan langkahnya dan melihat dari kaca bayi-bayi yang mungil dan menggemaskan.

"Sakura-chan, kau suka dengan bayi, ya?" tanya Itachi seraya memperhatikan Sakura

"Begitulah, hehehe"

"Tenang saja. Suatu saat nanti, bayimu dan Sasuke akan tertidur disalah satu box bayi itu"

DEG. Sakura merasa jantungnya berhenti berdetak saat itu juga saat mendengar kata 'Suatu saat nanti, bayimu dan Sasuke akan tertidur disalah satu box bayi itu'. Kenapa harus si pantat ayam itu, eh?!

"Ah, it's never happen, Itachi-kun.." Sakura sedikit terkekeh

"Tapi, aku yakin bahwa kau mencintainya, kan? Jujur saja. Siapa tahu, aku bisa membantumu meluluhkan hati beku Sasuke"

Sakura tetap menggeleng dan segera mendorong kursi roda Itachi lagi, hingga sampai disebuah ruang perawatan untuk chemotherapy.

"Itachi-kun, kau lapar? Kita ke kantin rumah sakit yuk!" ajak Sakura

Itachi terdiam memandang kearah ruangan orang yang menjerit kesakitan saat menjalani perawatan chemotherapy-nya. Ia menatap miris kepada gadis kecil berambut biru pendek yang sedang menangis itu. Siapa lagi kalau bukan Konan yang sedang Itachi ingat. Air mata berusaha ia bendung, ia tertunduk lemas.

Tes. Butiran air mata jatuh dari pelupuk matanya.

"Itachi-kun, ka-kau kenapa? Ehm, sebaiknya kau harus istirahat dulu" Sakura tak mengerti apa yang tiba-tiba terjadi pada Itachi, ia segera mendorong kursi roda Itachi.

Tiba diruangan Itachi, Sakura melihat Sasuke bersender ditembok seraya melipat kedua tangan di dadanya.

"Kau darimana, eh?" tanya Sasuke

"Sudah, jangan banyak tanya! Ayo, duduk sini!" Sakura menarik tangan Sasuke dan menyuruhnya duduk di kursi depan ruangan Itachi

"Hey, aku ingin bertanya tentang Itachi.."

"Bertanya tentang apa? Tumben" jawab Sasuke

"Apa hubungan Itachi dengan kemoterapi?" tanya Sakura

"Tampaknya, ia memiliki pengalaman menyedihkan disitu, ya?" sambungnya

Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Kemo? Kemo kemo kemo..." Sasuke mengulang-ulang kata 'kemo' agar ia mengetahui maksud Sakura

"Pasti.. dia teringat dengan Konan" ucap Sasuke

"Konan? Siapa dia?" tanya Sakura kepo

"Konan itu sahabat kecil dan cinta pertama Itachi dulu. Sekarang dia sudah tiada. Dia, Itachi, yang selalu kuat dan sabar, ketika mendengar nama "Konan" atau melihat kejadian yang mirip seperti yang Konan alami dulu, ia akan berubah menjadi pribadi yang sangat cengeng dan mudah tersulut bila seseorang mengungkit-ungkit Konan dengan menghinanya. Lalu, kalau soal kemo.. Oh ya! Dulu, Konan itu meninggal karena penyakit kanker paru-parunya. Yaa, kau kan tahu, orang yang menderita kanker itu harus menjalani kemo setiap jangka waktu tertentu. Mungkin, itu yang membuatnya sedih. Hufftt.." jelas Sasuke panjang lebar

"Oh begitu. Ternyata, dibalik kelembutan, ketenangan, dan ke-penuh kasih sayangannya, ia menyimpan masa lalu yang cukup membuat dada sesak, ya. Aku paham apa yang ia rasakan. Ya, intinya begini, siapa sih yang nggak sedih kalau ditinggal mati orang yang dicintai? Nggak ada, kan" timpal Sakura

"Sakura, ucapanmu tadi membuatku sedikit tersentuh. Aku menyesal dulu pernah membuat Itachi menamparku karena menyebut nama Konan dengan menambahkan kata "cewek mati". Hmm"

"Makanya, hidup itu harus belajar menghargai perasaan orang lain, wkwkwk. Eh, peace ah!" ejek Sakura

"Cih, dasar baka. Aku tidak seburuk yang kau kira tahu!" Sasuke mendecih

"Sudah ah, kita ke ruangan Itachi, yuk. Yaaa setidaknya menghiburnya saat keadaan hatinya seperti ini"

-ooo-

"Hey, Itachi-oniisan! Maaf baru kembali, tadi Sakura mengajakku ke kamar mayat coba. Bodoh sekali kan!" Sasuke berusaha membuat lawakan untuk Itachi—yang sebenarnya tidak ada lucunya sama sekali

Itachi masih setengah duduk seraya mengotak-atik laptopnya.

"Lalu, Sasuke menjerit seperti bocah kehilangan ibunya! Itu konyol!" tambah Sakura seraya menoyor kepala Sasuke

Masih tidak ada lucunya.

"Itachi-kun, kau harus tahu, tadi Sasuke sempat ditendang oleh ibu-ibu karena mencium bokongnya. Tidakkah itu menjijikkan?" tanya Sakura asal. Membuat Sasuke sangat jengkel. Kalau tidak demi kakaknya, ia tidak akan rela namanya dijual seperti ini. Sasuke merasa sangat di nistakan

"Hn, benarkah?" tanya Itachi yang akhirnya membuka mulutnya

"I-iya..." jawab Sasuke dusta

"Souka." Balas Itachi kemudian menutup laptopnya dan menarik selimutnya

"Errrr, kita gagal, Sas-uke" lirih Sakura dengan sedikit menekan kata 'Sas-uke'

"Jangan mengeja namaku seperti itu, menjijikkan!" Sasuke ketus

Kruuukk kruuukk.

Pipi Sakura memerah karena cacing-cacing diperutnya sedang tour konser. "Dafuq.."

"Bruakakakak!" Sasuke tertawa terbahak-bahak karena tak bisa menahan ketawanya

"Kau temani Itachi sana, aku akan belikan makanan" Sasuke pergi dari Sakura

-ooo-

Sudah lebih dari setengah jam Sakura duduk didekat ranjang Itachi seraya mengotak-atik telepon genggamnya. Ia bosan menunggu Sasuke yang tak kunjung datang.

"Aku lapaar.." keluh Sakura menahan lapar. Ia pun memilih tidur dulu.

Itachi yang mendengar keluhan Sakura segera mendekatinya. Ia membelai lembut rambut gadis yang (pernah dan sempat) mengisi kekosongan hari dan hatinya. Ya walaupun sekarang, ia harus merelakannya bersama Sasuke. Disamping karena adiknya juga menyukai Sakura, ia juga sadar waktu tak akan sanggup menyatukan cintanya dengan Sakura, mengingat penyakit yang tengah menggerogoti tubuhnya itu.

"Itachi-kun?" Sakura membuka matanya karena merasa ada yang menyentuh rambut merah jambunya

"Hn" balas Itachi seraya terus membelai rambut Sakura. "Aku suka rambutmu, Sakura-chan. Lembut dan warnanya sangat seni"

Pipi Sakura memerah. Dan semakin merah ketika Itachi mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura.

"Be my first kiss in the rest of my life, please. I beg you." bisik Itachi lembut (A/N : Author cemburu, minna~)

Sakura mengangguk pelan. Setidaknya, ia ingin memberikan Itachi kebahagiaan sebelum ia benar-benar tiada.

Tak sampai 1 menit mereka saling menautkan bibirnya—yang merupakan first kiss mereka berdua. Itachi juga takut bila ia menularkan penyakit kepada Sakura.

"Arigatou Gozaimasu.." bisik Itachi

"Hey, kalian! Aku kembali membawa makanan!" seru Sasuke dari ambang pintu, memandang kearah Sakura dan Itachi

"Heh, bodoh! Kau ini tidak tahu apa kalau aku sudah menunggumu lebih dari setengah jam?! Kau menyiksaku!" ketus Sakura dengan melemparkan tatapan mautnya ke Sasuke

"Yeh, maaf. Tadi itu antreannya panjang. Kau kira aku juga tidak capek berdiri sampai kakiku sulit ditekuk?" timpal Sasuke. Lebay.

Tanpa banyak cingcong, Sakura segera mengambil kresek yang Sasuke bawa berisi tiga buah Onigiri dan tiga bungkus Ramen. "Itadakimasu!"

-ooo-

"Oh ya?"

"Jadi.. first kiss-mu sudah dicuri oleh Itachi?" tanya Sasuke dengan nada "menginterogasi" dan tatapan maut seraya berdiri dan melipat tangan di dadanya

"Iyaaa. Kenapa? Kau cemburu?" jawab dan tanya Sakura balik dengan nada malas dan berdiri mendekati Sasuke

"Iya, aku cemburu!"

Mata Sakura terbelalak, namun ia hanya membulatkan mulutnya dan berkata "Oh". Padahal, dalam hatinya, ia sedikit senang karena tandanya Sasuke menyukainya dan tidak senang bila ia dekat dengan Itachi. Benarkah?

"Sudahlah, jangan menatapku seperti itu! Aku.. aku risih!" keluh Sakura seraya membungkuk dan memasukkan baju-baju Itachi kedalam tas

Tsaaaahh(?)

Sasuke menarik tangan Sakura dan memojokkan tubuhnya ke tembok kamar Itachi, menatapnya lirih dan meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Sakura.

"Aku serius, Sakura-hime. Aishiteru" bisik Sasuke

"Ngg.." pipi Sakura sudah seperti kepiting rebus sekarang

"Ya, memang aku yang memberimu cokelat dan boneka saat kau sakit. Itu karena aku peduli terhadap dirimu" lanjut Sasuke

Bruuukk. Sakura malah pingsan karena ucapan Sasuke tadi.

-ooo-

"Nggh.. Aku dimana?" tanya Sakura seraya berusaha duduk

"Uh, kepalaku pusing sekali.." Sakura duduk seraya memijat-mijat kepalanya yang berdenyut

Sakura berdiri dan mencari-cari sosok Sasuke disetiap sudut ruangan. "Ini kamar Sasuke". Ia melihat-lihat gambar yang ada di meja belajar Sasuke. Pipinya merona (lagi) ketika melihat gambarnya yang di gambar langsung oleh Sasuke. Yaa, walaupun masih kalah jauh bagusnya dengan gambaran Itachi yang pernah ia lihat.

"Ah, sudahlah!" Sakura melangkah keluar. Baru saja ia membuka pintu, Sasuke sudah berdiri dihadapannya dengan pakaian rapi dan senyuman menawan. Sasuke segera menarik tangan Sakura dan menyuruhnya duduk disamping kolam renang

Glek. Sakura merasa gugup.

"Ini, makan dulu kue krim buatanku tadi" Sasuke menyodorkan sepotong kue cokelat dengan krim putih yang membuat lidah harus-segera-mencicipinya

Sakura mulai memakan kue yang diberikan Sasuke tadi. "Berarti, aku pingsan cukup lama, ya?"

"Ya. Lalu, bagaimana?" tanya Sasuke

"Bagaimana apanya?"

"Tentang perasaanku kepadamu. Apa aku salah?"

"Tidak. Menurutku, semua orang berhak untuk merasakan dan memilikinya"

"Lalu, bolehkah aku memilikimu?" tanya Sasuke dan berhasil membuat pipinya memerah (lagi dan lagi)

Sasuke tertawa melihat bibir Sakura yang belepotan krim itu.

"Ke.. kenapa?" tanya Sakura

"Bolehkah aku menyeka krim yang ada di bibirmu itu?"

"Iy—" Cup. Sasuke segera melumat bibir mungil Sakura seraya menjilat(?) krim yang ada di bibir manis Sakura

"Emmhh.." Sakura mendorong pelan dada Sasuke agar menjauh dan melepas ciuman mereka

"Maaf. Tapi, sekarang bibirmu sudah bersih, kan? Hehehe"

"Itu sih namanya MODUS!"

Telelet, telelet(?). Telepon rumah Sasuke terdengar. Sasuke segera mengangkat telepon itu dan meninggalkan Sakura sendiri.

"Dengan Sasuke Uchiha. Ini dengan siapa, ya?"

"Kami dari pihak Rumah Sakit Konoha ingin memberitahu bahwa—"

"—Itachi Uchiha, pasien ruangan ICU telah meninggal dunia"

Tuutt... Tuuuttt...

Gagang telepon yang tadinya Sasuke genggam erat langsung jatuh ke lantai dengan elegannya(?). Ia tercengang, mematung seperti kehilangan pikiran dan kesadarannya. Matanya terbelalak dan tes.. tes..

"Ada apa denganmu, Sasuke?" tanya Sakura khawatir

Tanpa berpikir panjang, ia segera menarik tangan Sakura dan menyuruhnya segera masuk ke mobil. Sasuke menginjak pedal gas agar segera tiba di Rumah Sakit

"Aarrggghh! Shit!" Sasuke menghentakkan tangannya ke setir mobil setelah melihat jalanan yang macet sehingga mobilnya tidak bisa bergerak dan juga hujan. Ternyata, dunia turut menangis karena kehilangan Itachi.

Sasuke menangis, menjambak rambutnya sendiri, dan tentu mengutuk dirinya karena ceroboh. Bukannya berada disamping Itachi disaat-saat terakhirnya, ia malah memadu kasih dengan Sakura—yang sebenarnya tidak terlalu penting dibanding Itachi—pikirnya.

"Sasuke, kau ini kenapa?! Jangan membuatku khawatir!" Sakura mendesak Sasuke agar bercerita apa yang sesungguhnya terjadi. Bisa digambarkan, yang ada di otak Sakura hanyalah 'tanda tanya besar'.

-ooo-

Langkahnya terhenti diambang pintu. Ruang ICU yang ditempati Itachi kosong. Dimana Itachi?! Dimana?! *Sasuke dan Readers ngejambak author*

"Suster Hinata, dimana kakak saya?!" Sasuke bertanya kepada suster Hinata yang baru saja keluar dari ruang ICU Itachi

"Mayatnya sedang di pindahkan ke kamar mayat" jelas sang suster. "Aku turut berduka cita, Sasuke" suster Hinata memegang pundak Sasuke dan segera berlari menyusul perawat yang bertugas membawa mayat Itachi ke kamar mayat

"Jadi... maksudmu... Itachi-kun meninggal dunia?" lirih Sakura yang ikut mematung seperti Sasuke tadi

"Aaarggh!" Sasuke memukul tembok yang ada di hadapannya. Tak peduli tangannya sampai luka sekalipun

-ooo-

Air mata pun tak berhenti membasahi pipi si Uchiha bungsu ini. Tangisannya mengiringi pemakaman sang kakak yang dihadiri semua warga sekolahnya. Baik dari Hokkaido ataupun Konoha. Ya memang sulit di percaya mengapa semua warga sekolah Hokkaido—yang jauh-jauh datang dan harus menyeberang lautan(?)—dan Konoha High School—mengingat Itachi baru saja masuk—berbondong-bondong melayat dan berduka cita. Ibaratnya, gajah mati meninggalkan gadingnya. Walau raganya telah tiada, namun kebaikan, keramahan, dan kepopulerannya selalu melekat dihati setiap orang yang mengenalnya. Mereka semua kehilangan sosok yang dianggapnya tenang, bijak, dan 'sempurna'. Bahkan, Sakura sampai tak sanggup menopang tubuhnya dan pingsan seusai pemakaman Itachi.

"Sasuke.." seseorang memegang pundak Sasuke. Sasuke menengokkan kepalanya untuk melihat siapa yang 'tidak mengerti' bahwa ia sedang larut dalam kesedihannya. Ternyata itu Lee.

"Bukan maksudku untuk membuatmu terganggu, tapi, ada satu hal yang harus kau tahu.. tentang Itachi terhadap dirimu"

"Aku sengaja membawa laptop Itachi kemari. Tadi ada petugas rumah sakit yang bilang kalau laptopnya tertinggal di meja ruang ICU. Ya, aku tidak mungkin menyuruhmu untuk kesana. Sehingga aku yang ke rumah sakit dan mengambil laptopnya. Maaf bila aku lancang, tadi aku sempat membuka-buka isi laptopnya. Aku tertarik pada dokumen di microsoft word yang sepertinya, itu novel buatannya. Di bagian Tentang Penulis, ia menuliskan bahwa novel itu ia tulis selama 4 bulan dan diambil dari kisah nyatanya. Daripada aku cerewet, lebih baik kau baca langsung" jelas Lee panjang lebar. Sasuke hanya mengangguk.

Ternyata benar yang dikatakan Lee. Sasuke membaca kalimat per kalimat yang dibuat Itachi. Tampak indah dan enak dibaca.

Air mata Sasuke kembali jatuh setelah membaca sebagian dari seluruh kalimat bagian 'Tentang Penulis';

Aku menulis novel ini spesial untuk otouto kesayanganku, Sasuke Uchiha. Adik terkonyol (dan terbaik)-ku. Aku sangat menyayanginya, aku memang tidak bisa bertindak kasar kepadanya. Bahkan untuk teriak pun, aku tak sanggup. Aku merasa turut bersalah saat aku menamparnya—untuk pertama dan terakhir kalinya—karena ia sedikit menjelek-jelekkan sahabatku. Aku sadar, tidak sepantasnya aku kasar, mengingat ia satu-satunya keluarga yang aku punya.

Aku hendak bercerita, dahulu sejak kecil, aku memang sudah bertekad tidak akan membuatnya menangis, galau, ataupun marah—karena aku takut kehilangannya—. Sehingga, saat aku berusia 11 tahun, aku mendonorkan 1 ginjalku agar ia bisa bertahan hidup. Aku tahu, dengan satu ginjal saja bisa membuat kesehatanku tidak seperti sebelumnya. Lagipula, jika aku meninggal lebih dulu, setidaknya, masih ada organ tubuhku yang ada didalam tubuhnya. Yang masih bisa menemaninya kemanapun dia pergi—dengan atau tanpa ragaku.

Soal kisah cintaku juga aku tuangkan di novel ini. Pertama tentang Konan, sahabat kecilku. Setahun kemudian, aku bertemu dengan seorang gadis bernama Sakura dan langsung jatuh cinta padanya. Setelah mengetahui bahwa Sasuke juga menyukai Sakura, aku pun memutuskan untuk menghapus rasa cintaku terhadap Sakura. Demi adikku.

Ia mulai membaca novel. Di halaman pertama isi novel, dijelaskan bahwa Ara, sang tokoh utama, memiliki adik bernama Taka.

Mulai dari masa kecil, saat remaja, saat jatuh cinta pada Anabelle—yang karakternya bila di kehidupan nyatanya adalah Konan—dan kematiannya, pertemuan dengan Tenshi—atau Sakura.

Sasuke tidak sanggup membaca sampai bagian akhir. Ia cukup tertusuk dengan bagian Ara yang harus kehilangan Anabelle karena kecelakaan. Benar-benar seperti kehidupan nyata Itachi dengan sedikit tambahan dan ubahan cerita.

"Terima kasih, Lee. Oh ya, boleh aku minta sesuatu padamu?" tanya Sasuke seraya memejamkan matanya

"Apa?" jawab Lee

"Bawa laptop ini pulang dan tolong kemas barang-barangku. Tidakusah bertanya untuk apa. Mengerti?"

-ooo-

Sasuke sudah menyiapkan koper berisi baju-baju dan barang-barang berharganya—termasuk barang-barang milik Itachi. Ia segera pindah dari rumahnya agar ia bisa melupakan Sakura. Ia menyesal telah membuat kakaknya itu mengorbankan perasaan cintanya hanya demi makhluk nista seperti dirinya. Seharusnya, bukan ini yang dilakukan Sasuke. Harusnya, dia malah merawat perasaan cintanya terhadap Sakura yang sudah tumbuh didalam hatinya, bukan membuatnya layu, membiarkannya begitu saja. Itu sama saja seperti ia tidak menghargai perasaan kakaknya. Sasuke memang sudah gelap hatinya. Hidupnya sudah dipenuhi dendam tak terbatas karena kematian kakaknya. Kini, ia membenci dirinya sendiri dan menyesal berada didunia ini. Gila.

"Sayonara..." Sasuke mengunci pintu utama rumah dan segera menarik koper besar dan menggendong tas punggungnya itu

Di taksi, ia hanya diam merenung seraya memandangi cincin 'platinum' yang bertuliskan heiwa atau 'damai', kalimat favorit Itachi. Cincin itu milik Itachi yang ia temukan di laci kamarnya seusai beres-beres.

"Sudah sampai, Tuan" ujar sang supir. "Ada yang bisa saya bantu lagi?"

"Tidak, biar tas-tas saya saja yang mengambil" jawab Sasuke

Sasuke turun dari taksi seraya membawa tas dan mengeluarkan koper dari bagasi taksi. "Ini tipnya"

Sasuke segera mengambil troli tas dan meletakkan 2 koper beserta tas-tasnya, lalu mendorongnya menuju tempat check in. Usai menunjukkan bukti pembelian tiket penerbangan, ia jalan menuju terminal B3.

"Ayam, ayam!" terdengar suara teriakan. Sasuke yang merasa 'julukannya' dipanggil itu segera menengok kearah sumber suara

"Bukan." Sasuke bergumam dan menghirup nafas. Lalu, melanjutkan langkahnya seraya terus mendorong trolinya

-ooo-

Mungkin, banyak yang bertanya-tanya, bagaimana nasib novel yang Itachi tulis.

Setahun pasca kematian Itachi, Sasuke, demi mengenang kehidupan Itachi, ia mengirim naskah novel tersebut atas nama penulisnya, Itachi Uchiha ke penerbit, tanpa mengubah, menambah, atau mengurangi isi naskah novel agar benar-benar murni tulisan Itachi Uchiha. Ia hanya mendesain cover novel dan memberikan plot atau summary di buku bagian belakang.

Beberapa minggu setelah naskah dikirim, ia mendapat kabar dari penerbit, bahwa novel yang Itachi tulis lolos karena kisahnya yang cukup menyentuh dan kalimat yang ia pilih sangat indah. Sasuke hanya tinggal menunggu kurang dari 2 minggu lagi untuk melihat novel yang sengaja ia beri judul "Greatest Live, Ara" ada di toko-toko buku.

"Selamat, Itachi. Jerih payahmu selama 4 bulan untuk menulis novelmu berbuah indah. Novelmu menjadi best seller di Jepang dan sudah diterjemahkan kedalam beberapa bahasa" gumam Sasuke disamping pusara Itachi seraya meletakkan sebucket bunga didekat nisannya.

Penghargaan demi penghargaan yang seharusnya Itachi pegang seandainya ia masih hidup, kini terpajang dikamar baru yang Sasuke desain mirip seperti kamar Itachi di Konoha dulu.

Ditempat lain..

"Ino, apa kau ada rekomendasi untuk membeli novel bagus?" tanya Sakura kepada Ino. Mereka tengah berjalan-jalan di toko buku.

"Oh ya, aku mendengar berita kalau ada novel yang jadi best seller karena kisahnya yang menyentuh. Apa kau minat?" saran Ino

"Bagaimana ceritanya?" tanya Sakura balik

"Aku tidak tahu persis, yang kudengar, katanya, novel itu bercerita tentang pengorbanan dan perjuangan hidup. Entahlah" jawab Ino

Sakura menarik tangan Ino menuju rak-rak yang khusus berisi novel best seller. "Yang mana novelnya?"

"Nah, yang ini! Aku masih ingat covernya!" seru Ino seraya menunjuk kearah sebuah novel yang covernya berwarna merah dengan pepohonan dan seorang lelaki yang duduk dibawahnya seraya menulis-nulis.

Mata Sakura terbelalak melihat nama "Itachi Uchiha" di bagian bawah covernya. "Kau lihat nama itu? Ingat, kan?" Ino mengangguk dan ikut terkejut

"Pasti Sasuke yang menerbitkannya" gumam Sakura, ia terharu dan merindukan si pantat ayam itu

"Kita beli ini! Biar aku yang bayar!" seru Sakura seraya mengambil 2 buku. Untuknya, dan untuk Ino.

-ooo-

8 tahun kemudian..

Sekarang, Sasuke bekerja sebagai seorang dosen. Disini, ia terkenal karena cara mengajarnya yang santai namun mudah dipahami. Dan tentu juga karena ketampanannnya itu. Masih muda, tetapi sudah bisa menjadi dosen. Hebat, kan?

Seusai mengajar, ia duduk diruang guru. Menghela dan mengatur nafasnya. Lelah. Ia merogoh saku celananya dan mengambil kunci mobilnya, pergi menuju restoran terdekat.

"For Jashin's sake! Kenapa lagi?!" mobil Sasuke tiba-tiba berhenti didepan Rumah Sakit. Sasuke pun keluar dari mobil untuk memeriksa keadaan mesinnya

"Butuh bantuan, Sasuke-san?" tanya seseorang yang bersuara melengking

Dor. Darimana orang ini tahu nama Sasuke? Agar tidak penasaran, ia pun menengok kearah orang tersebut

"Sakura-chan?!" pekik Sasuke kaget, ternyata yang dihadapannya sekarang adalah Sakura yang masih mengenakan pakaian ala dokter

Sakura mengangguk. "Terkejut, ya?"

-ooo-

"Sudah sekitar 9 tahun kita tak bertemu, dan kau masih seperti yang dulu. Sekarang, aku bekerja sebagai dokter anak di Osaka Infirmary. Kau sendiri?" tanya Sakura seraya menyeruput strawberry smoothnya

"Dosen di Japan Technique Institute. Ehm, kau sudah punya berapa anak?" pertanyaan nista keluar dari mulut Sasuke dan membuat Sakura sedikit tertawa. "Hei, kenapa? Tidak ada yang lucu disini, bodoh!"

"Memangnya aku sudah tampak seperti seorang ibu, Pantat Ayam?" ucap Sakura yang memanggil Sasuke dengan ejekannya, dulu

"Wajah dan postur tubuh tidak berpengaruh, Nona Jambu" jawab Sasuke cuek

"Aku masih sendiri. Kalau kau? Sudah hamil berapa bulan isterimu?" pertanyaan autis lagi

"Aku juga.. masih sendiri" jawab Sasuke

"Souka" balas Sakura

"Sakura, bila seseorang ada yang melamarmu sekarang, bagaimana? Akan kau terima atau tolak?" tanya Sasuke tiba-tiba

"Memang kenapa?" tanya Sakura balik seraya menyeruput minumannya

"Karena 'seseorang' itu... Aku" jawab Sasuke yang mengagetkan Sakura hingga membuat ia tersedak

"Dasar, bodoh. Minumnya pelan-pelan!" Sasuke mendekati Sakura dan menepuk-nepuk punggungnya

Melihat Sakura sudah agak mendingan, Sasuke berlutut kepada Sakura dan menunjukkan cincin platinum yang dulu milik Itachi. "Marry me, Sakura"

Sakura memang bukan tipe orang yang suka membuat orang menunggu. "Umm.. Yes, I will, Sasuke"

Sasuke pun segera memeluk Sakura. Disaat itu pula, mereka jadi pusat perhatian para pengunjung restoran. "I love you."

THE END


Fyuuh, akhirnya selesai juga ya fanfic ini. Yaa walaupun agak sedih, tapi gapapalah. Kan dimana ada awal selalu ada akhir.

Maaf maaf banget yaa kalo ada alur yang sama dengan pengalaman kalian, bahasanya kurang baku, atau nyinetron alias mainstream banget. Saya kan juga manusia :') /digiles

Minta pendapatnya ya. Baik dari keseluruhan cerita ataupun chapter ending ini. Terima kasih juga yang udah mau review + fav-in cerita abal ini. Semoga kalian masuk surga, Aamiin..


#PromoteSession

COMING SOON, NEW FANFICTION!

Siapa sih yang nggak tau Kyuubi Uzumaki? Ya, si gadis tomboy, nekad, tapi sering patah hati dan berjerawat ini lagi mencari cinta sejatinya.

Percaya atau tidak, ada keanehan yang dia alami. Setiap dekat-dekat lelaki yang ia suka, pasti tumbuh satu jerawat. Lah, kenapa tuh? Tapi, setiap nggak lama setelah jerawat itu tumbuh, lelaki yang dia suka malah ninggalin atau nyakitin dia. Apa jerawat itu pertanda sebagai Early Warning kalo lelaki yang dia suka itu bukan cinta sejati dan hanya akan menyakitinya? Atau karena jerawat itu yang bikin lelaki yang dia suka malah nyakitin dia karena nggak tertarik sama Kyuubi?

Yuk! Ikuti kisah lucu dan romantis Kyuubi di "Ratu Jerawat Mencari Cinta"