Fei: "Fei balik lagi~"
Minato: "Tumben cepet…"
Fei: "Gak seneng aja sih lu."
Minato: "Memang gak seneng."
Fei: "…*tendang Minato*…"

.

Sp-Cs: Aih, jangan bikin Fei ge-er selangit dong… #blush (?). makasih ya review-nya :')

.

Disclaimer: ATLUS

.

.

~CHAPTER 3: "Now Here We are, Suddenly Standing with You"~

.

.

00 : 00 : 00

Dan Dark Hour pun dimulai.

.

.

Gedung sekolah Gekkoukkan yang sangat bagus itu tiba-tiba seakan bergerak. Ada bagian yang seperti tertarik keatas, dan ada pula yang tertarik kebawah. Ada bentuk-bentuk aneh yang tiba-tiba keluar dari dalam gedung. Tidak ada lagi gedung Gekkoukkan yang warna utamanya adalah putih. Gedung itu sekarang malah berbentuk seperti menara pisa yang menjulang tinggi ke angkasa. Warnanya pun tidak dapat dideskripsikan.

Darah mulai tergenang dimana-mana, lampu dan elektronik di sekitar remaja-remaja itu pun mati. Nuansa yang tidak mengenakan keluar dari gedung aneh itu. Dari Tartarus.

"Ap-apa yang terjadi pada sekolah kita?!" kata Junpei, terperanjat melihat 'sosok baru' sekolahnya itu.

"Inilah yang disebut Tartarus. Jangan khawatir, setelah Dark Hour selesai, sekolah kita ini akan kembali seperti semula," ujar Akihiko.

"Nah, ayo kita masuk," kata Mitsuru.

Di dalam Tartarus, ada tangga besar di tengah-tengah ruangan. Hanya ada tangga itu saja. Tidak ada pintu (selain pintu yang mereka masuki dari luar tadi), jendela, atau tangga yang lainnya. Hanya ada tangga besar di tengah ruangan…dan pintu berwarna biru yang ada di sudut ruangan. Pintu itu tiba-tiba muncul disana. Namun, sepertinya tidak ada yang begitu memperhatikan akan kehadiran pintu tambahan itu. Hanya Minato dan Ruuki yang melihat ke arahnya. Minato mengambil inisiatif untuk maju lebih dulu, lelaki itu berjalan menuju pintu tersebut dan membukanya. Kemudian Ruuki mengikuti Minato, masuk ke dalam pintu itu.

Di dalam, dua kursi telah disiapkan di tengah ruangan. Ruangan itu bernuansa biru –segalanya berwarna biru. Di balik meja ada lelaki berhidung panjang, yakni Igor, ditemani oleh asistennya, Elizabeth. Ternyata pintu bersiluet biru itu menuju kepada Ruang Velvet. Minato dan Ruuki pun duduk di kursi yang telah disediakan.

"Selamat datang di Ruang Velvet. Sepertinya kalian telah menemukan pintu ini," kata Exlizabeth.

"Ng, maaf. Apakah hanya kami saja yang bisa melihat pintu itu? hanya kami yang bisa masuk kesini? Soalnya tadi kulihat Yukari-san, Junpei-san, dan para senpai tidak terusik dengan kehadiran pintu ini," kata Ruuki.

"Ya. Hanya orang yang telah menandatangani kontrak ini saja yang bisa masuk kesini," ujar Igor, sambil memperlihatkan dua cari kertas dalam map, dimana kertas yang pertama terdapat nama serta tandatangan Minato, kertas yang kedua terdapat nama dan tandatangan Ruuki.

"Kau juga didatangi anak itu?" tanya Minato sambil mengangkat sebelah alisnya.

"Anak itu? Maksudmu, Pharos? Ah, ya. Dulu aku pernah bertemu dengannya di hari saat aku kehilangan kakakku…" jawab Ruuki.

"Nah, pintu menuju ke ruangan ini tidak hanya ada di dalam Tartarus. Kalian harus mencari sebuah pintu lagi di dunia kalian," ujar Elizabeth.

"Pembicaraan kali ini cukup sampai disini. Sampai jumpa lagi, anakku…" ucap Igor.

Pandangan kedua remaja itu memutih, seakan dihadapan mereka ada lampu yang baru dinyalakan –tepat di depan mata mereka, silau sekali. Saking silaunya, mereka menutup mata. Saat membuka kelopak mata, mereka mendapati mereka ada di Tartarus lagi. Lalu keduanya kembali pada teman-teman mereka yang sudah siap untuk naik ke tangga.

"Jadi, apa senjata kalian?" tanya Akihiko.

Ruuki melihat Yukari sudah siap dengan busur dan anak panahnya. Sedangkan Junpei siap dengan pedangnya yang besar. Lalu ia melihat Minato menunjukkan pedang pendeknya –disambut dengan anggukan puas Akihiko.

"Lalu, kau, Misaki?" tanya Akihiko pada Ruuki.

"Hm… aku punya ini," jawab Ruuki sambil menunjuk kucingnya.

"Kucing?" tanya Junpei bingung.

"Bukan kucing biasa," ujar Ruuki. Gadis itu menggendong kucingnya –Serafina-. Tiba-tiba kucing putih yang cantik itu berubah menjadi sebuah pedang katana yang panjang –pedang samurai.

"Kau…penyihir?" tanya Mitsuru sambil mengerjap-erjapkan matanya.

Tidak hanya Mitsuru, namun Yukari, Junpei, dan Akihiko (Minato hanya cuek seperti biasa) pun terkejut setengah mati saat melihat kucing Ruuki menjadi benda panjang itu. pedang itu berwarna putih –seperti bulu Serafina. Dan layaknya pedang samurai, Ruuki membawanya dengan tangan kiri (nantinya ia akan menggunakan tangan kanan untuk mengeluarkan pedangnya).

"Penyihir? Hm, tidak. Aku tidak mengerti. Tiba-tiba saja dulu Serafina bisa seperti ini," jawab Ruuki.

"Baiklah, ayo kita masuk," ajak Akihiko, tetapi ia dihadang oleh Mitsuru.

"Jangan bercanda Akihiko! Kau masih terluka! Aku tidak akan mengizinkanmu masuk ke dalam dengan kondisi lenganmu yang sekarang!" seru Mitsuru.

"Ck. Ya sudahlah. Kalau begitu aku harus memilih satu diantara kalian untuk menjadi pemimpin menggantikanku sementara," ujar Akihiko.

Begitu mendengar Akihiko berkata akan memilih pemimpin, Junpei langsung berjingkrak-jingkrak kesenangan, dan berharap senpainya itu akan memilihjnya. Namun, Akihiko menunjuk Minato dan Ruuki.

"Minato, kau jadi ketuanya. Ruuki, kau mendampingi dia," kata Minato.

"Ap-apa? Kenapa mereka?!" seru Junpei kesal.

"Jelas saja, karena mereka bisa memanggil persona tanpa rasa takut," jawab Yukari.

Kemudian, Minato, Ruuki, Yukari, dan Junpei naik ke atas tangga dan mulai menyelusuri setiap sudut di lantai itu. Namun, karena memang masih memiliki perasaan kesal dan mulai merasa bosan karena daritadi mereka berada di level yang sama, Junpei nekad naik sendirian ke lantai dua.

Tersadar Junpei tidak ada bersama mereka, Minato langsung mengajak kedua temannya mencari Junpei. Ketika mereka menemukan Junpei, lelaki bertopi bisbol itu sedang diterkam oleh dua ekor shadows. Ruuki dan Minato langsung menghajar shadows tersebut. Sedangkan Yukari memanggil persona-nya untuk menyembuhkan luka Junpei. Setelah itu, Mitsuru meminta mereka untuk kembali ke lantai bawah, kemudian mereka kembali ke asrama, mengakhiri petualangan di hari itu.

Keesokkan harinya, Akihiko menghampiri Ruuki, Yukari, Minato, dan Junpei di kelas mereka, dan meminta mereka untuk pergi ke kantor polisi di Paulownia Mall sepulang sekolah, berkata bahwa ia akan menunggu mereka berempat disana. Tanpa membuang-buang waktu, setelah bel tanda sekolah usai hari itu keempatnya langsung pergi bersama-sama ke Paulownia Mall, dan masuk ke kantor polisi.

Di kantor polisi, mereka mendapati senpainya sedang berbicara dengan seorang polisi yang dari tampangnya sudah menginjak usia sekitar 30 sampai 40an. Ketika Akihiko menyadari para juniornya sudah sampai, lelaki berambut perak itu memperkenalkan keempatnya kepada polisi yang ada dihadapannya.

"Beliau adalah Officer Kurosawa, kenalanku. Ia menjual senjata dan peralatan, serta pelengkapan untuk melawan shadows," jelas Akihiko.

"Dia tahu tentang shadows?" bisik Junpei pada Akihiko.

"Ya, namun ia tetap manusia biasa yang akan tertidur di dalam peti selama Dark Hour berlangsung," jawab Akihiko.

Setelah pertemuan dengan Kurosawa, Junpei mengajak teman-temannya untuk main ke game center. Saat melangkah ke tempat yang ditunjuk Junpei, Ruuki melihat ada cahaya berwarna biru terpancar dari sebuah sudut –sepertinya Minato pun menyadarinya. Keduanya melangkah ke sudut ruangan itu, lalu menemukan pintu berwarna biru –pintu yang mereka yakini akan menuju ke Ruang Velvet. Benar juga, setelah membuka pintu misterius itu, mereka langsung disambut hangat oleh Elizabeth dan Igor.

"Ah, kalian menemukan pintu yang lain, kurasa," kata Elizabeth.

"Nah, bagaimana dengan relasi yang kalian miliki –selain dengan teman tim kalian?" tanya Igor.

"Hm, aku sudah berteman dengan Kenji, lalu aku bertemu dengan Bebe," jawab Minato.

"Kalau aku dengan Miyamoto-san dan Nishiwaki-san," jawab Ruuki.

"Bagus sekali, perbanyak relasi kalian dengan orang lain, itu akan sangat membantu kalian untuk melawan shadows," ujar Igor.

Setelah itu, Minato dan Ruuki keluar dari Ruang Velvet. Kemudian mereka langsung menyusul Junpei dan Yukari yang sudah ada di game center. Sampai senja, mereka baru kembali ke asrama.

Beberapa hari kemudian, Mitsuru meminta Ruuki bergabung dengan OSIS, sehingga ia pulang lebih sore dari biasanya. Tanpa diduga, Akihiko menunggunya di loker sepatu. Lelaki berambut perak itu mengajak Ruuki makan malam dulu sebelum kembali ke asrama.

Mereka pergi ke Wild Duck Burger. Akihiko segera melahap habis makanannya, sedangkan Ruuki yang tidak begitu merasa lapar hanya menyesap teh hangatnya saja.

"Jadi, kupikir kita sama," kata Akihiko akhirnya memulai pembicaraan.

"Sama?"

"Yah, kita sama-sama pernah kehilangan. Aku mengerti kesedihanmu, karena aku mengalaminya juga."

"Mm, bisa kita bicarakan hal yang lain? Karena menurutku, pembicaraan ini tidak membuatku nyaman. Tidak ada gunanya membicarakan tentang orang yang telah tiada –itu tidak akan membuat mereka kembali lagi. Dan jika senpai mengajakku kesini hanya untuk membicarakan hal itu, sebaiknya aku pulang sekarang," ujar Ruuki tanpa sedikit pun melirik senpainya yang duduk di hadapannya.

.

.

Suatu ketika, Mitsuru mendeteksi adanya shadows yang berada di luar Tartarus. Letak shadows tersebut adalah di kereta. Dengan segera, Keempat remaja yang sekelas itu mengambil senjata dan peralatan masing-masing dan mengikuti intruksi Mitsuru untuk pergi ke stasiun kereta.

Sesampainya di dalam kereta, mereka menemukan seekor shadow yang baru saja berjalan melewati gerbong pertama. Seperti biasa, Junpei yang tidak sabaran langsung ingin mengejar shadow itu. Junpei yang kesal akan pembawaan Minato yang tenang, dan berpikir bahwa mereka harus lebih berhati-hati, langsung berlari mengejar shadow tanpa aba-aba. Karena teman mereka sudah terlanjur pergi duluan, Minato, Yukari, dan Ruuki langsung mengejar Junpei.

Sesampainya di gerbong kelima, mereka merasa kereta yang dijalankan oleh shadow itu berjalan semakin cepat, seakan mereka sedang ada di dalam mobil yang sedang ngebut. Di gerbong selanjutnya, mereka bertiga menemukan Junpei yang (lagi-lagi) sedang diterkam oleh shadow. Bersama-sama, mereka mengalahkan shadow itu.

Sampai di gerbong paling depan, mereka menemukan shadow raksasa ber-arcana Priestess. Dengan kewalahan dan intruksi serta bantuan analisa dari Mitsuru, akhirnya mereka berhasil mengalahkan shadow itu. Setelah itu, mereka pun kembali ke asrama.

Sesampainya di kamar asrama, Ruuki yang merasa kelelahan langsung melempar dirinya ke tempat tidur. Matanya terasa berat sekali. Namun jantungnya masih berdetak kencang –jelas saja, karena Dark Hour masih belum selesai. Tiba-tiba Serafina mengeong pelan di tempat tidurnya. Mendengar suara kucingnya, Ruuki melihat ke arah kucingnya, lalu menangkap sosok seorang anak laki-laki berwajah pucat yang mengenakan baju bergaris hitam-putih, yang berdiri di depan pintu kamarnya.

"Halo, Ruu-chan. Akhirnya kita bertemu lagi sejak sepuluh tahun yang lalu…" kata anak itu.

"Pharos…" bisik Ruuki, sedang anak lelaki itu hanya tersenyum kepadanya.

.

.

~TBC~

.

.

Tanpa banyak bacot, Fei cuma punya satu pesan:
REVIEW!