Maaf lama! Soalnya Fei pulang sore terus sih…jadi ga sempet ngetim deh ==". Ini pun Fei berhasil update karena hari ini libur dalam rangka hari tenang (bagian mananya yang tenang? ==")

.

Sp-Cs: Dokter Rin? Fei pernah denger fandom itu, tapi ga pernah masuk ke dalam fandomnya, hanya sekilas tau. Jadi yang tentang Serafina bisa jadi pedang itu Fei ga niru dari mana-mana ya, itu udah ada di pikiran Fei sejak Fei kelas 5. Suwer! Jangan marahi Feeeiii~ :'( #plak

shikakukouki777: Aih…bahkan Fei belum kepikiran hubungan antara Minato sama Ruuki loh ==". Masalah Akihiko, Fei pun masih galau. Jangan-jangan suatu ketika si Aki nyanyi gini: "mau dibawa kemana hubungan kitaaa~". Wkwk xD #dor

.

Disclaimer: ATLUS

Warning: OC berpotensi (besar) untuk menjadi mary-sue, berusaha mengikuti alur P3F, typo(s) bertebaran.

.

.

~CHAPTER 4: "I was Going to Find You"~

.

.

"Halo, Ruu-chan. Akhirnya kita bertemu lagi sejak sepuluh tahun yang lalu…" kata anak itu.

"Pharos…" bisik Ruuki, sedang anak lelaki itu hanya tersenyum kepadanya.

.

Hari itu cerah sekali. Musim semi memang musim yang paling cantik –karena banyak bunga warna-warni bermekaran. Disiram cahaya matahari yang terik, ternyata tidak membuat udara menjadi hangat. Udara di luar masih saja dingin, padahal sebentar lagi akan memasuki musim panas. Ya, bulan Mei ini adalah bulan terakhir di musim semi yang indah.

"Ruuki-chan? Tumben sekali kau membeli takoyaki. Seingatku, kau kan, alergi dengan gurita…" ujar Yukari yang mendapati teman seasrama sekaligus teman sekelasnya sedang membeli Takoyaki di hari Minggu yang cerah itu.

"Selamat pagi, Yukari-san. Tidak, takoyaki ini bukan untuk kumakan. Aku membelinya untuk gadis kecil yang ada di kuil. Dari kemarin kulihat ia lesu sambil memegang perutnya, jadi kupikir mungkin ia lapar," kata Ruuki.

Setelah menganggukkan kepalanya, Yukari ikut Ruuki ke kuil, menemui gadis kecil yang tadi diceritakan Ruuki. Gadis kecil yang manis itu rambutnya diikat dua dan emngenakan ransel berwarna merah. Seperti yang dikatakan Ruuki, gadis itu memang berwajah lesu dan sedari tadi memegang perusnya yang kurus. Ruuki menghampirinya, lalu memberikan takoyaki pada gadis kecil tersebut dan mulai mengajaknya bermain.

Setelah bermain dan mengobrol cukup lama, Ruuki dan Yukari pun kembali ke asrama. Keduanya hendak belajar bersama-sama dengan Minato untuk mempersiapkan diri menjelang ulangan mid semester.

"Hm, matamu kenapa, Ruuki?" tanya Minato yang tiba-tiba menyadari bahwa ada warna hitam di bawah kelopak mata Ruuki.

"Eh? Oh, ini…mataku bengkak sedikit. Semalam kurang tidur, kurasa…" jawab Ruuki sekenanya. Minato menganggukkan kepalanya, kemudian matanya tertuju lagi pada kertas soal yang daritadi ia kerjakan.

'Tidak…jangan sampai Pharos benar-benar mendatangi Minato-san…' batin Ruuki.

.

.

"Hei, kau sudah dengar tentang rumor yang sedang populer di sekolah akhir-akhir ini?" tanya Yukari pada Ruuki.

Sudah sekitar dua minggu lebih sejak ulangan mid semester usai, kini murid-murid sekolah Gekkoukkan mengenakan seragam dengan kemeja lengan pendek. Ya, sekarang adalah bulan Juni, bulan pertama di musim panas.

"Rumor apa, Yukari-san?" tanya Ruuki.

"Tentang adanya hantu di sekolah!" jawab Yukari. Malam ini aku ingin membicarakannya dengan anggota SEES yang lain!"

Benar juga, selepas sekolah, Yukari langsung menyeret Ruuki untuk langsung pulang. Sepertinya Minato, Junpei, Mitsuru, dan Akihiko juga sudah menerima pesan yang dikirim Yukari tadi siang, makanya begitu sampai di asrama, mereka langsung memulai 'rapat' mereka.

Sambil membicarakan tentang hantu, sedikit-banyak Junpei menyinggung-nyinggung fakta bahwa Yukari takut akan hantu. Untuk membantah Junpei, Yukari pun mengajaknya, Minato, dan Ruuki untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai hantu tersebut. Ia berniat membawa ketiga teman sekelasnya ke belakang stasiun yang terkenal menyeramkan.

Di belakang stasiun, keempatnya dihadang dua pemuda berandalan. Hanya dalam sekejap mata, Junpei langsung babak belur oleh kedua berandalan tersebut. Sebelum berhasil menghajar Minato, pemuda yang lain datang. Seakan ia adalah bos dari berandalan-berandalan itu, dua pemuda yang menghadang mereka langsung lari terbirit-birit. Pemuda yang baru saja datang itu mengenakan pakaian yang snagat tertutup, seakan ia terkena penyakit berbahaya. Suaranya sangat rendah, tampangnya tua, padahal Ruuki yakin umur tidak jauh dengan umurnya sendiri.

"Apakah kalian tidak pergi ke sekolah, sampai-sampai kalian tidak tahu siswi yang bernama Yamasgishi Fuuka menghilang dari sekolah kalian?" tanya pemuda itu ketika Yukari menjelaskan maksud kedatangan mereka sampai panjang lebar.

Cukup tersentak dengan perkataan pemuda itu, mereka pun akhirnya undur diri dan berniat untuk membicarakan hal ini dengan Mitsuru dan Akihiko.

Benar juga, keesokkan harinya di sekolah, karena sudah mendengar laporan dari keempat adik kelasnya, Mitsuru langsung menginterogasi Mr Ekoda, wali kelas gadis bernama Yamagishi Fuuka. Setelah didesak terus-terusan, akhirnya beliau pun mengakui bahwa Fuuka yang selama ini dipikir orang absen karena sakit, sebenarnya menghilang dan belum ditemukan.

.

.

Saat itu bulan sedang penuh, terang sekali. Anggota SEES berniat masuk ke Tartarus dengan cara yang sama dengan Fuuka. Ya, mereka berasumsi bahwa Fuuka terjebak di dalam Tartarus dan tidak dapat keluar. Tambah lagi, gadis itu tidak masuk lewat pintu depan Tartarus, melainkan ia sudah ada di dalamnya ketika pukul 12 tepat tengah malam –saat Tartarus terbentuk saat itu.

Dengan berpencar, Mitsuru, Akihiko (yang tangannya sudah sembuh), Junpei, Minato, Ruuki, dan Yukari mencari kunci untuk bisa masuk ke ruang olahraga –ruang dimana Yamagishi Fuuka disekap oleh teman-teman sekelasnya. Setelah mendapat kunci yang dicari, Minato, Akihiko, Junpei dan Ruuki menjelajahi Tartarus untuk mencari Fuuka. Sedangkan Yukari dan Mitsuru menunggu di lobi lantai satu.

Satu jam mereka mencari, ternyata pencarian mereka tidak sia-sia. Minato melihat sesosok gadis yang lebih pendek darinya bersembunyi di belakang dinding dekat mereka. Itulah Fuuka, gadis berambut pendek berwarna biru kehijauan. Akihiko memberikan sebuah evoker kepada Fuuka untuk berjaga-jaga, kemudian menuntun adik-adik kelasnya kembali ke tempat Mitsuru dan Yukari.

"Aahh…bulannya cantik sekali, terlihat jelas dari sini!" kata Junpei sambil mereka berjalan.

"Hm, bulan yang penuh memang cantik. Omong-omong…waktu shadow-shadow itu datang ke asrama juga lagi bulan penuh. Lalu, kejadian di kereta juga waktu bulan penuh…" ujar Ruuki.

"Apa? Benarkah itu, Ruuki?" tanya Akihiko terkejut. Ia segera mencoba untuk menghubungi Mitsuru.

Setelah Akihiko menghubungi Mitsuru, mereka langsung pergi ke lantai satu. Lelaki berambut abu-abu itu berasumsi bahwa shadows akan berkeliaran di luar Tartarus setiap bulan penuh. Dan ketika mereka sudah di lantai satu, mereka melihat Mitsuru dan Yukari diserang oleh dua ekor shadow, yang satu ber-arcana Emperor, dan satu lagi Empress. Keduanya berasal dari luar Tartarus.

Akihiko, Junpei, dan Minato langsung mengambil posisi untuk menyerang kedua makhluk itu, sedangkan Ruuki mengobati luka Mitsuru danYukari. Lalu, mana Fuuka? Ah, dia gemetaran saking terkejutnya melihat kedua monster itu. Tetapi mungkin ia nekad juga, karena ia segera merogoh evoker yang diberikan senpai-nya dalam saku, kemudian menodongnya ke dahi. Persona milih Fuuka pun keluar, dan ia bisa menggantikan Mitsuru dalam hal menganalisis shadow.

Karena kelemahan dan kekuatan kedua shadow itu mudah dideteksi oleh Fuuka, pertaruangan itu berlangsung dengan singkat. Mereka kembali ke asrama, dengan Fuuka sebagai anggota SEES yang baru.

.

.

"Begitukah, Akihiko?" tanya Ikutsuki.

"Ya. Kalau asumsiku benar, shadow-shadow itu akan berkeliaran di luar Tartarus setiap bulan penuh," jawab Akihiko.

"Dengan mengetahui hal ini, kita akan lebih bisa bersiap-siap. Omong-omong, emmorimu bagus sekali, Misaki. Kau bisa mengingat hal sekecil itu –seperti bentuk bulan padahal sudah dua bulan berlalu," puji Mitsuru.

"Biasa saja, senpai. Aku hanya terbiasa melihat apa yang ada di sekitarku," ujar Ruuki.

"Sungguh kebiasaan yang baik!" kata Ikutsuki. "Nah, kalau begitu, aku akan kembali ke rumah. dan persiapkan diri kalian untuk bulan penuh selanjutnya di bulan depan, ya," pesan Ikutsuki sebelum beranjak dari asrama SEES.

Keesokkan harinya, Ruuki merasa malas sekali pulang sendirian. Ingin pulang dengan Yukari, tetapi gadis berambut coklat susu itu ada latihan memanah. Dengan Minato, tetapi lelaki itu ingin makan ramen dengan temannya dulu sehingga Ruuki harus menunggu –menunggu adalah hal yang paling Ruuki benci. Dengan Junpei? Huh, ogah! Karena Junpei terlalu berisik dan sebenarnya suara lelaki bertopi itu mengganggu Ruuki. Jadilah Ruuki berpikir untuk pulang sendiri –mau tak mau.

Baru saja akan masuk ke stasiun, Ruuki melihat sesosok gadis. Gadis itu mengenakan gaun putih dan berenda, rambutnya merah panjang, tangannya membawa kapak. Sesuatu menggelitik hati dan pikiran Ruuki. Ia yakin kalau ia pernah melihat gadis itu sebelumnya, bahkan mengenal. Tapi, siapa?

"Ruuki? Sedang apa kau?" tanya seseorang dari belakang –Akihiko.

"Ah, senpai. Eh, tidak, aku sedang tidak melakukan apa-apa. Mungkin aku hanya melamun sebentar," jawab Ruuki.

"Jangan keseringan melamun, nanti kau tersambar petir!" kata Akihiko mencoba untuk melucu.

"Huh, mana ada petir di cuaca cerah begini!" balas Ruuki.

"Ada saja. Kau lupa kalau persona-ku berelemen listrik? Listrik itu mirip seperti petir, jadi kalau aku menyerangmu dengan listrik bagaimana ya…?"

"S-senpai tidak serius, kan?"

"Aku becanda, bodoh. Ayo pulang ke asrama!" ajak Akihiko.

'Dimana perempuan itu? Ah…dia sudah pergi. Tapi mungkinkah yang tadi itu..? Ng… tidak mungkin…hanya perasaanku. Tapi siapa dia? Kenapa rupanya tak asing bagiku?' batin Ruuki.

.

.

Beberapa malam berikutnya, Ruuki tidak bisa tidur. Ada perasaan mengganjal dalam hatinya. Gelisah. Takut. Cemas. Khawatir. Tapi ia tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Yang ia tahu hanyalah ada sesuatu yang abstrak yang mengganggu malamnya.

Kemudian gadis pemilik kucing berbulu putih itu beranjak dari ranjangnya, karena menyerah. Baru saja ia akan berdiri, matanya menangkap sesosok anak kecil yang sangat tidak asing untuknya. Pharos.

"Ruuki-chan, maaf mengganggumu lagi," ujar Pharos sambil menyunggingkan senyum khas-nya.

"Pharos…" ucap Ruuki, matanya menolak untuk melihat anak itu secara langsung.

"Aku sudah bertemu dengannya, dengan Arisato Minato. Dia pemuda yang baik ya!" kata Pharos sambil terkekeh kecil.

"Kumohon, Pharos, berhenti menyakiti Minato secara langsung lebih dari ini!" ujar Ruuki.

"Menyakiti? Aku bahkan tidak menyentuhnya sama sekali."

"Berhenti menjadi anak polos, Pharos, aku masih ingat betul apa yang kau dan dia lakukan pada kakakku! Pergi kau dari hidupku!"

.

.

Yukari sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Ditemuinya Fuuka dan Mitsuru di ruang makan, serta Minato yang baru saja turun dari lantai dua. Minato berkata bahwa Junpei masih bersiap di kamarnya, dan Mitsuru berkata bahwa Akihiko baru saja berangkat. Yang bangun paling pagi hari ini adalah Fuuka. Aneh, biasanya selalu Ruuki. Baru kali ini rekor Ruuki yang selalu bangun paling pagi dikalahkan. Dan bahkan Fuuka berkata bahwa ia sama sekali belum melihat teman mereka yang selalu membawa kucing itu.

Dengan perasaan penasaran, Yukari pun naik lagi ke lantai tiga. Sekilas ia seperti mendengar suara kucing –suara Serafina, tetapi tidak ada suara Ruuki. Gadis berjaket merah muda itu kini telah sampai di depan pintu kamar Ruuki. Masih ada suara Serafina, hanya suara kucing itu saja yang bisa didengar. Yukari mengetuk pintu berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Pintunya pun terkunci. Masakah sahabatnya itu masih tidur?

Perasaan cemas serta bingung meliputi hati Yukari. Ia merogoh ponselnya, kemudian menelepon ke nomor ponsel Ruuki. Ia bisa mendengar nada dering yang ditimbulkan oleh ponsel Ruuki dari dalam, tetapi tidak diangkat sama sekali. Sampai empat kali Yukari mencoba, masih tidak diangkat juga. Dengan rasa putus asa, Yukari mengirim SMS pada Minato untuk meminta lelaki itu datang ke tempatnya, agar Minato mendobrak pintu kamar Ruuki.

Tidak sampai lima menit sejak Yukari mengirim SMS itu, tibalah Minato, Fuuka, dan Mitsuru di lantai tiga, bersama dengan Junpei yang baru saja keluar dari kamar. Dengan segera Minato dan Junpei berusaha mendobrak pintu kamar Ruuki. Setelah pintu itu berhasil didobrak, mereka mendapati Ruuki tidak ada di tempat tidurnya. Gadis itu masih di kamar, tetapi ia duduk terkulai bersender di dinding. Serafina masih saja mengeong, seakan ingin memberitahu sesuatu anggota SEES yang lain –sayangnya mereka tidak ada yang bisa mengerti bahasa kucing.

"Ruuki-chan, kalau tidur jangan di lantai, nanti masuk angin!" ujar Yukari yang menyadari sahabatnya itu masih mengenakan piyama.

Yukari menghampiri Ruuki, berniat membangunkannya. Tetapi begitu ia memegang kepala gadis itu, suatu cairan membasahi tangan Yukari. Cairan itu tidak banyak, tetapi berwarna merah. Cairan itu berasal dari kepala Ruuki. Darah keluar dari kepala gadis itu.

"Ap-apa yang terjadi?! Arisato, hubungi Akihiko! Iori, panggil ambulans segera!" seru Mitsuru.

"Tap-tapi kenapa dia bisa sampai –"

"Diam, Iori, telepon rumah sakit SEKARANG!" seru Mitsuru lagi, memotong perkataan Junpei.

.

.

~TBC~

.

.

Eh? Kok jadi rada horor gini ya? :/
Seriusan, waktu bikin plot fict ini dari awal sampe akhir, Fei ga kepikiran sama sekali untuk bikin adegan ini. Tapi gapapa lah, terlanjur #dor.

Btw, untuk chapter selanjutnya paling cepet di update akhir April ya. Soalnya hari Senin Fei udah US, terus tengah April Fei UN, maklum kelas 12 kan repot banget ==". Abis itu Fei bebas deh sampe September :P. makanya doain Fei lulus ya! xD

REVIEW!