Fei udah selesai UN kemaren dan sekarang Fei update fict ini! *dance*
.
Sp-Cs: Apa yang terjadi pada Ruuki? Kasih tau gak yaaa –dihajar-? Makasih doanya :')
.
Disclaimer: ATLUS
Warning: OC berpotensi (besar) untuk menjadi mary-sue, berusaha mengikuti alur P3F, typo(s) bertebaran.
.
.
~CHAPTER 5: "Unexpected, What You Did to My Heart"~
.
.
"Ap-apa yang terjadi?! Arisato, hubungi Akihiko! Iori, panggil ambulans segera!" seru Mitsuru.
"Tap-tapi kenapa dia bisa sampai –"
"Diam, Iori, telepon rumah sakit SEKARANG!" seru Mitsuru lagi, memotong perkataan Junpei.
.
.
"Ruuki…kau percaya padaku, kan?"
Suara itu sering menghantui mimpi indahnya sejak dua tahun yang lalu. Tidak ada angin maupun badai yang menerpa, tepat sehari setelah informasi bahwa kakaknya telah menghembuskan nafas terakhir, gadis berambut biru itu sesekali mendengar kalimat yang sama dalam tidur malamnya. Seakan seseorang berjaga di samping tempat tidurnya dan mengucapkan kalimat yang sama setidaknya seminggu sekali.
Kakaknya. Ia yakin itu suara kakaknya. Tetapi laki-laki itu telah tiada. Si jago merah telah melahap habis rumah kesayangannya. Namun seakan belum kenyang, api itu memangsa orangtua dan kakak laki-lakinya –kakak satu-satunya.
Tapi ia tahu, kebakaran itu bukanlah kebakaran yang biasa terjadi karena mungkin gas meledak, korslet, lilin yang menyala, dan sebagainya. Ia tahu, mereka yang melakukannya. Entah apa motifnya, sampai detik ini ia tidak tahu kenapa mereka tega melakukan perbuatan tak bermoral seperti itu.
Satu hal yang aneh saat kejadian kebakaran itu berlangsung adalah, Ruuki melihat suatu makhluk yang aneh. Makhluk itu memiliki sayap berwarna hitam di punggungnya. Tidak hanya sayapnya, tetapi seluruh tubuhnya bernuansa gelap. Makhluk itu membawa pedang di tangan kanannya. Tidak ada wajah. Oh tunggu, mungkin sebenarnya ia memiliki wajah, tetapi muka itu seperti mengenakan topeng yang cukup mengerikan karena warnanya putih pucat.
Selain kejadian kebakaran itu terjadi, Ruuki tidak pernah melihat sosok makhluk tersebut. Kemana pun ia mencari, tetap tidak bisa ia temukan makhluk yang ia anggap sebagai biang keladi.
Yang menyebalkan selanjutnya, para polisi menutup kasus kebakaran tersebut karena mereka tidak berhasil menemukan penyebab kebakaran, atau siapa yang menyebabkannya. Semuanya abu-abu, terlebih karena tidak ada saksi mata. Dan tinggalah seorang gadis malang yang tidak tahu harus tinggal dimana lagi. seorang gadis yang mana tak seorang pun seakan mau berpihak padanya. Seorang gadis yang bahkan mungkin dunia ini tidak mau berpaling mengasihaninya. Sebatangkara. Namanya Ruu Misaki.
.
.
"Senpai, ia mulai siuman!" ujar Yukari senang.
"Hn, tolong kau cari dokternya, Takeba," pinta Akihiko.
Ruuki membuka kelopak mata sekuat tenaganya. Rumah sakit lagi, untuk kesekian kalinya. Baunya yang khas, dinding putih, ruangan yang itu-itu saja. Gadis berambut biru itu melihat Yukari keluar dari kamarnya meninggalkan dirinya dengan senpainya yang berambut abu-abu.
"Dasar, kau itu tidak sadarkan diri sampai seminggu lebih. Aku heran. Oke, tidak hanya aku, yang lain pun heran. Apalagi dokter mengatakan kau dalam keadaan terombang-ambing antara hidup dan mati," jelas Akihiko yang kemudian mengambil jeda. "Katanya, kau mengalami pendarahan serius di bagian kepalamu, tetapi operasi telah berjalan dengan lancar dan seharusnya kau bisa sadar beberapa jam setelah operasi berakhir. Namun kau tidak kunjung siuman. Akhirnya dokter menyatakan bahwa kau tidak ingin membuka matamu."
Ruuki terdiam akan penjelasan senpainya. Tidak ingin membuka mata? Tidak sadar sampai seminggu lebih? Kenapa tidak sekalian saja tidak perlu sadar-sadar lagi?
"…Dan kau memanggil-manggil kakakmu setiap malam," kata Akihiko lagi.
Tepat sebelum Ruuki ingin mengatakan sesuatu, Yukari datang bersama dengan seorang dokter. Kemudian Mitsuru dan teman-temannya yang lain pun masuk ke kamarnya setelah dokter memeriksa gadis itu sebentar.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Ruuki dipaksa Mitsuru untuk tetap tinggal di rumah sakit selama kepalanya masih diperban. Mitsuru melarangnya ke sekolah. Namun begitu, putri tunggal keluarga Kirijo itu tetap meminta tolong kepada Yukari, Minato, dan Junpei untuk mencatatkan pelajaran-pelajaran selama Ruuki tidak masuk.
Sampai akhirnya tibalah hari yang mereka tunggu-tunggu (atau mungkin tidak juga), hari dimana bulan penuh. Sayangnya, Ruuki masih harus di rumah sakit –Mitsuru masih tidak memperbolehkannya kemana-mana. Malam ini adalah giliran Junpei yang menemani Ruuki di rumah sakit. Mitsuru, Akihiko, Minato, Yukari, dan Fuuka pergi mencari shadows yang "tersasar" di luar Tartarus.
Kesal? Jelas. Bosan? Sangat! Junpei yang harus menjagai Ruuki selama Dark Hour berlangsung saja bosan, apalagi Ruuki yang sudah tiga minggu berada di dalam kamar rawat rumah sakit sejak ia siuman dan tidak boleh keluar?
Ruuki bertambah kesal lagi ketika saat ia masuk ke sekolah lagi, ia langsung dihadapkan dengan minggu ujian. Yah, tidak terlalu menyebalkan juga karena Yukari sudah emmbantunya belajar setiap hari selama ia di rumah sakit, sehingga ia tidak terlalu gugup. Tetapi tetap saja menyebalkan.
Melihat adik kelas-adik kelasnya merasa jenuh belajar, Mitsuru pun mengajak teman-teman seasramanya pergi berlibur ke vila pribadinya di Yakushima saat libur seusai ujian. Jelas ajakan ini disambut oleh teman-temannya, terutama oleh Junpei. Jadilah ketika liburan dimulai, mereka langsung pergi ke pelabuhan, naik kapal untuk menuju Yakushima.
Memang dasar anak orang kaya raya, vila keluarga Kirijo sudah seperti istana dalam cerita-cerita di buku bergambar. Ada pantai pribadi, ada maid, dan sebagainya. Ruuki, Minato, Yukari, Junpei, dan Fuuka pun akhirnya bertemu dengan Kirijo Takeharu, ayah Mitsuru, yang wajahnya agak…err, seram.
Setelah menaruh barang di kamar masing-masing, mereka bermain di pantai sampai puas. Ketika sore tiba, mereka bertujuh pun kembali ke vila untuk makan malam. Seusai makan malam dengan hidangan yang lezat, sang tuan rumah meminta SEES ke ruang tengah untuk mendiskusikan sesuatu. Takeharu berbicara tentang shadows dan Tartarus, kemudian tentang Dark Hour. Dalam hati, Ruuki merasa ada sesuatu yang mengganjal, dan ia mempertanyakan pada diri sendiri apa yang mengganjal itu.
Pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya saat Takeharu menayangkan sebuah video dokumentasi. Dalam film itu, terlihat sosok ayah dari Yukari yang meminta maaf karena ternyata penyebab adanya Dark Hour, Tartarus, serta shadows adalah kesalahan Takeba Eiichiro –ayah Yukari. Beliau mengatakan bahwa itu semua disebabkan oleh karena eksperimennya yang gagal.
Terkejut akan perkataan ayahnya sendiri dalam video tersebut, Yukari langsung berdiri dan kemudian berlari keluar vila. Minato pun keluar menyusul gadis berambut coklat susu itu sesuai permintaan Mitsuru.
Namun, ternyata video itu masih belum selesai. Latar saat Takeba Eiichiro berbicara adalah di sebuah laboratorium. Kini latarnya berpindah ke sebuah perumahan. Pemandangan yang sangat tidak asing bagi Ruuki. Tidak ada suara yang terdengar dari video itu, padahal ditayangkan tiga orang sedang bertengkar karena suatu hal. Tanggal yang tertera di sudut kanan bawah menunjukkan bahwa kejadian ini berlangsung beberapa hari sebelum kejadian ayah Yukari tadi. Kemudian Ruuki tersadar. Kini semuanya jelas. Semuanya sudah terjawab.
"Kau sudah tahu semua ini dari awal, kan, Mitsuru senpai?" tanya Ruuki sambil berdiri. "Kau sudah tahu dari awal bahwa penyebab adanya shadows adalah ayah Yukari-san. Kau sudah tahu dari awal bahwa aku adalah anak dari dua korban pertama para shadows!"
"Hah? Aku tidak mengerti!" ujar Junpei. "Maksudku, bukankah kedua orangtua bersama kakakmu meninggal dua tahun lalu? Di video itu, kan, tanggalnya lebih dari dua tahun yang lalu!"
"Yang meninggal dua tahun yang lalu adalah kakakku, dan kedua orangtua angkatku," kata Ruuki. "Kau pasti tahu itu, senpai. Tetapi, sama seperti Yukari-san. Aku tidak membutuhkan rasa kasihan darimu atau siapa pun!" kata Ruuki lagi dan kini ia melakukan apa yang tadi sahabatnya lakukan –keluar dari vila.
Bukan pertama kalinya Ruuki merasakan perasaan sedih seperti ini. Alasan perasaan sedihnya beragam, tetapi apapun alasannya, ia akan selalu melakukan hal yang sama, yakni naik ke atas pohon. Kenapa ia memilih untuk memanjat ke atas pohon? Sederhana saja, yaitu agar orang lain tidak tahu kalau ia sedang menangis.
Tetapi, untuk pertama kalinya, kini ada orang lain selain kakaknya yang berhasil menemukan ia di atas pohon. Sanada Akihiko adalah orang kedua yang berhasil menemukannya menangis seorang diri di atas pohon.
Ruuki dan Akihiko sama-sama telah kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidup mereka. Menurut Akihiko, itulah yang menyebabkan ia dapat menemukan dimana Ruuki saat ini. Kini keduanya terdiam. Ruuki masih ada di atas pohon, sedangkan Akihiko terduduk di bawahnya. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Dan lalu, bintang-bintang yang bertebaran indah di langit malam itu menjadi saksi bisu saat Akihiko dan Ruuki menangis bersama-sama –menangisi masa lalu mereka.
.
.
Keesokkan paginya, Fuuka mengajak Yukari, Mitsuru dan Ruuki berjalan-jalan di tengah hutan. Hutan tersebut sangat sejuk, mungkin karena udaranya yang lembab serta banyak pohon. Keheningan melanda Yukari dan Mitsuru, serta Ruuki. Beberapa kali Fuuka berusaha untuk mencairkan suasana, namun usaha keras gadis itu gagal.
Tiba di jantung hutan, mereka menemukan Junpei, Minato, dan Akihiko yang ketiganya hanya mengenakan pakaian renang. Yang membuat terkejut lagi adalah, keempat gadis itu melihat Minato bersama dengan seorang gadis tak dikenal. Gadis itu mengenakan terusan berwarna biru muda, dan rambutnya berwarna pirang.
Tak lama kemudian, Ikutsuki pun datang ke tempat mereka dan menjelaskan bahwa gadis berambut pirang itu adalah sebuah robot yang bisa mengeluarkan persona. Nama robot itu adalah Aigis, dan Aigis akan bergabung dengan SEES ketika mereka sudah tiba lagi di Iwatodai keesokkan harinya.
Benar juga. Setelah mereka kembali dari Yakushima dan masuk ke sekolah lagi, Aigis ikut mereka. Ya, robot cantik itu ingin ikut bersekolah di Gekkoukkan bersama anggota SEES lainnya. Dengan cara bicara Aigis yang sebenarnya agak aneh (karena ia memang bukan manusia), ia kadang menjadi bulan-bulanan murid-murid Gekkoukkan yang suka berbuat onar. Tetapi memang dia robot, Aigis tidak mempedulikannya.
Kurang lebih seminggu kemudian, suatu ketika saat Akihiko pulang malam karena baru menyelesaikan kegiatan klubnya, ia menemukan seekor anjing putih yang terluka karena bertarung melawan shadows. Lelaki yang tergabung dalam klub tinju itu langsung menghubungi Mitsuru dan meminta teman-temannya datang ke tempat kejadian perkara.
Anjing yang dimaksud bernama Koromaru. Fuuka, Minato, dan Yukari mengenal baik anjing yang ternyata bisa memanggil persona itu. hal menarik yang SEES ketahui selanjutnya adalah, Aigis dapat mengerti bahasa anjing –ia mengerti apa yang dikatakan Koromaru.
"Aku akan menghubungi dokter hewan," ujar Mitsuru sambil merogoh ponsel di saku roknya. Sementara Mitsuru berusaha menghubungi rumah sakit hewan, Yukari dan Fuuka mengelus si anjing yang pemberani itu.
.
.
Walau sudah sembuh, Mitsuru belum memperbolehkan Koromaru untuk ikut mengejar Shadow saat bulan penuh. Jadilah Ruuki diminta senpainya yang berambut merah itu untuk menjaga dan mengawasi Koromaru di asrama, sedangkan anggota SEES yang lainnya berburu shadow yang berkeliaran di luar Tartarus.
"Kau tahu tentang kisah anjing bernama Hachiko?" tanya Ruuki pada Koromaru, untuk membuka percakapan.
"Arf!" kata Koromaru, membuka suaranya. Tetapi Ruuki bukanlah Aigis yang mengerti bahasa Koromaru. Walau begitu, Ruuki tetap menganggap ia mengerti Koromaru. Bukan bahasa Koromaru, tetapi ia mengerti Koromaru sendiri.
"Aku sudah dengar cerita mengenai kau, tentang mengapa kau bisa sampai bertarung dengan para shadow di kuil itu," ujar Ruuki. "Kau anjing yang setia, Koro, kau seperti Hachiko." Katanya lagi sambil mengelus kepala anjing yang tiduran dengan malas di kaki Ruuki dengan lembut.
"Hm, Ikutsuki-san lama sekali. Padahal Senpai bilang kalau beliau akan sampai disini beberapa saat setelah mereka pergi…" kata Ruuki.
Tidak lama kemudian, Ikutsuki Shuuji akhirnya sampai juga. Ia menjelaskan bahwa ternyata ban sepeda bocor, sehingga ia harus mengganti ban-nya sendiri, kemudian mengebut ke asrama.
Kini Ruuki, Koromaru, dan sang Chairman mengawasi layar di ruang komando lantai empat. Selama menunggu kabar dari anggota SEES yang lain, Ruuki dan Koromaru harus mendengarkan lelucon Ikutsuki yang sangat garing, bahkan tidak dapat ddisebut lelucon mungkin. Tetapi Ruuki diam saja, tidak ingin berkomentar, hanya tertawa kecil dengan agak tidak ikhlas karena memang tidak ada yang lucu yang terlontar oleh Ikutsuki.
Bunyi 'ting' yang nyaring terdengar, menyelamatkan Ruuki dan Koromaru dari lelucon Ikutsuki yang tidak lucu sama sekali. Ternyata Mitsuru menghubungi mereka.
"Mitsuru? Apakah itu kau?" panggil Ikutsuki.
"Ya, Chairman, ini saya," ujar Mitsuru.
"Bagaimana shadows-nya?" tanya Ruuki.
"Sudah kami atasi," jawab Mitsuru tidak semangat.
"Bagus, sekarang kalian bisa kembali ke asrama," kata Ikutsuki.
"Itulah dia masalahnya. Sepertinya kami terkurung disini. Pintunya tertahan dari luar," ucap Mitsuru.
"Ah…baiklah, aku akan mencari bantuan, tunggulah disana," kata Ikutsuki.
.
.
"Akan ada anak baru yang akan tinggal di asrama?" tanya Junpei tak percaya.
"Mm-hm, tapi Akihiko senpai bilang anak itu hanya akan tinggal di asrama selama libur musim panas," jawab Yukari.
"Kok aneh? Kenapa saat libur ia baru datang? Biasanya, kan, kalau libur anak-anak pulang ke rumah masing-masing…" kata Ruuki.
"Entahlah," Yukari mengangkat bahu. "Oh ya, Mitsuru senpai bilang malam ini kita harus ke ruang komando, katanya sih ada yang ingin dibicarakan."
"Paling masalah Koromaru, kan?" ujar Minato yang tumben tidak tertidur saat jam istirahat siang.
Seusai pelajaran hari itu, Yukari, Ruuki, Minato, dan Junpei langsung menuju ruang klub masing-masing. Sebenarnya keempatnya malas sekali ikut kegiatan klub akhir-akhir ini. Hal tersebut dikarenakan terlalu lelah saat menjelajahi Dark Hour. Apalagi Minato, karena ia merupakan sang Leader di lapangan.
Entah kenapa, kegiatan klub hari ini sangat tidak bersahabat. Karena semua kegiatan klub hari itu berlangsung sampai hari gelap, sekitar pukul tujuh malam. Keempat remaja yang memiliki kekuatan khusus itu pulang bersama-sama dan berniat untuk langsung ke lantai empat, tidak masuk ke kamar masing-masing dulu.
"Wah, malam sekali kalian," kata Mitsuru ketika Ruuki, Minato, Junpei, dan Yukari sampai di ruangan yang dituju.
"Kegiatan klub hari ini memang lebih parah dari biasanya," ujar Akihiko.
"Senpai? Kenapa Akihiko senpai..?" tanya Junpei.
"Kenapa aku tidak pulang malam?" kata Akihiko. "Ya karena aku kaptennya," jawab Akihiko yang membuat orang-orang di tempat itu terdiam saking bingungnya.
"Mitsuru senpai juga tidak ada kegiatan klub? Fuuka-san juga?" tanya Ruuki.
"Pelatih anggarnya tidak ada hari ini, jadi aku pulang cepat. Sedangkan Yamagishi, aku tidak memperbolehkan ia ikut kegiatan klub olahraga karena tubuhnya lemah. Sedangkan klub yang bukan olahraga belum membuka pendaftaran," jelas Mitsuru.
"Jadi senpai, apa yang ingin dibicarakan?" tanya Yukari.
"Masalah Koromaru," jawab Mitsuru.
"Tuh kan," bisik Minato pelan, yang terdengar oleh Junpei yang mendelik padanya.
Mendengar namanya disebut, si anjing yang berbulu putih itu masuk ke ruangan, di belakangnya ada Aigis yang mengikuti. Koromaru memakai seperti aksesoris anjing yang berbentuk seperti sayap di lehernya. Manis sekali anjing itu, padahal merupakan anjing jantan.
"Anjing itu akan bergabung dengan kita, dengan SEES," kata Mitsuru.
"HAH?!" pekik Junpei, Yukari, dan Ruuki karena terkejut.
"Tidak masalah kan, lagipula dia juga pengguna persona. Atau jangan-jangan kalian takut dikalahkan oleh anjing ini?" goda Akihiko.
"Sembarangan! Justru aku yang akan melatih Koromaru!" kata Junpei. "Tapi…anjing saja bisa mengeluarkan persona. Apa lagi nanti? Monyet?"
"Hn, tidak ada yang tahu," jawab Mitsuru sambil tersenyum. "Nah, itu saja yang ingin kubicarakan. Kalian berlima harus istirahat sekarang, besok kalian harus sekolah."
"Sekolah? Besok, kan, sudah mulai libur!" kata Junpei.
"Hm? Aku sudah memberitahu Takeba, Yamagishi, dan Misaki bahwa kalian akan mengikuti kelas musim panas," kata Mitsuru.
"Mitsuru sudah mendaftarkan kalian berlima. Ini disebabkan karena banyak menjelajahi Dark Hour, waktu belajar kalian pasti berkurang. Makanya Mitsuru memutuskan kalian ikut pelajaran tambahan, agar pelajaran kalian tidak tertinggal karena lebih fokus pada shadows," jelas Akihiko.
"Tidakkah mereka bertiga memberitahu kalian, Arisato? Iori?" tanya Mitsuru.
Dengan cekatan, Junpei dan Minato langsung menggeleng cepat-cepat, menandakan jawaban atas pertanyaan Mitsuru adalah kata 'tidak'. Dengan tatapan marah, Junpei mendelik pada Ruuki, Fuuka, dan Yukari.
"Kenapa kalian tidak memberitahu kami! Seharusnya kalian bilang dari awal!" kata Junpei setengah membentak kepada ketiga gadis yang seangkatan dengannya itu. "Iya, kan, Minato?!"
"Aku, sih, tidak terlalu peduli…" jawab Minato dengan malasnya sambil membenarkan posisi headset-nya.
"Mmm…maaf, Junpei-kun…" ujar Fuuka.
"Tapi kenapa!" kata Junpei.
"Ng, kejutan?" kata Yukari dengan terkekeh kecil, padahal tidak ada yang lucu.
.
.
.
REVIEW!
