MAAF LAMA! =="
Tapiii…di chapter ini salah satu misteri akan terjawab! Serius deh! xD
.
Sp-Cs: 'nambah ilmu'…waduh…Fei bukan guru loh… #GaNyambungBanget xD
.
Disclaimer: ATLUS
.
.
~CHAPTER 6: "When I Lost Hope"~
.
.
Jadilah selama kurang lebih seminggu lamanya SEES harus mengikuti kelas tambahan di libur musim panas bersama dengan beberapa murid Gekkoukan lainnya. Malas? Sudah pasti? Bosan? Apa lagi! Yah, tapi mau bagaimana lagi, sebab ini sudah menjadi 'titah' dari putri tunggal pemimpin grup Kirijo, tidak mungkin dibantah, ditolak, atau dipertanyakan –cukup dijalani saja.
Ketika semua kelas tambahan selesai dijalani hari ini, Junpei memaksa Minato untuk menemaninya ke Tartarus, sebab lelaki bertopi bisbol itu sudah sangat jenuh harus melotot pada huruf-huruf yang tertera di buku pelajarannya.
"Eh? Besok kan, kita masih ada kelas!" kata Fuuka.
"Ah, biarlah! Lagi pula, kan, besok hari terakhir. Bolos juga tidak masalah! Iya, kan, Minato?" tanya Junpei.
"Aku sih, tidak mau sampai bolos…" jawab Minato dengan malas serta memasang wajah inosen.
"Ck, dasar murid teladan…" gerutu Junpei.
"Akihiko senpai? Mau kemana?" tanya Yukari yang melihat Akihiko bersiap pergi ke luar asrama.
"Tartarus. Kalian mau ikut?" tawar pemuda berambut abu itu.
"MAU!" jawab Junpei semangat.
Kemudian entah bagaimana caranya Junpei berhasil memaksa Minato, Yukari, Ruuki, Fuuka, dan Aigis pergi ke Tartarus. Seperti biasa, disana Junpei langsung berlari mengejar shadow yang tertangkap di pandangannya. Yukari langsung bersiap untuk menyembuhkan Junpei –ya, karena Junpei ceroboh, ia yang paling sering terluka.
Junpei pergi bersama dengan Yukari dan Aigis, sedangkan Akihiko bersama dengan Minato dan Ruuki. Sebenarnya Junpei sudah merengek untuk pergi dengan Minato, tetapi sahabatnya itu menolak mentah-mentah dengan alasan Junpei terlalu berisik.
Suatu ketika, di tingkat lantai tertentu, ruangan sangat gelap. Tidak ada lampu yang menyala. Untungnya ada sinar bulan yang masuk melalui jendela. Tiba-tiba lantai berguncang, gempa. Entah apa yang terjadi. Yang Ruuki tahu, beberapa detik setelah gempa berhenti, Igor menariknya masuk ke ruang Velvet.
"Selamat datang, Ruuki, lama tak jumpa," sapa Elizabeth.
"Kali ini ada apa?" tanya Ruuki yang kurang suka berbasa-basi.
"Aku hanya ingin bilang bahwa dalam beberapa bulan ini kau akan mendapatkan sebuah jawaban," ujar Igor.
"Jawaban atas…?" tanya Ruuki.
"Atas apa yang kau pertanyakan di lubuk hatimu. Kau akan bertemu dengan seseorang yang tidak akan pernah kau sangka," jawab Igor. "Itu saja, kau bisa kembali pada teman-temanmu."
Dan seakan baru siuman dari pingsannya, ia melihat lampu di Tartarus sudah menyala. Minato dan Akihiko ada di sampingnya. Kepala gadis itu terasa pening, jantungnya berdegup kencang. Ia merasakan kehadiran seseorang di sekitar mereka, tetapi ia tidak tahu siapa. Ruuki sadar bahwa ada yang memperhatikan mereka sejak sebelum lampu mati, tetapi ia tidak tahu siapa. Tepatnya, ia tidak berani menduga.
.
.
"Akhirnya selesai juga!" sorak Junpei kegirangan saat ia keluar dari ruang kelasnya.
Ya, hari ini adalah hari terakhir kelas tambahan musim panas. Dan tidak hanya Junpei, murid-murid yang tergolong terkena 'cap' sebagai anak nakal seperti Kenji dan teman-temannya pun ikut bersorak seperti layaknya anak kecil yang baru saja memenangkan sebuah permainan.
Minato, Junpei, Yukari, Ruuki, dan Fuuka keluar dari gedung bersama-sama. Junpei mengajak mereka pergi mall Paulownia untuk main, tetapi Ruuki malah ingin segera pulang ke asrama untuk istirahat. Dan karena wajah gadis berambut biru itu memang terlihat pucat, Yukari pun memaksa agar mereka langsung pulang saja.
Di gerbang sekolah, mereka berlima bertemu dengan Akihiko dan seorang anak laki-laki berambut coklat dan mengenakan seragam SD Gekkoukan yang sedang mengobrol. Tersadar bahwa adik-adik kelasnya itu ada di dekatnya, Akihiko pun menyambut mereka.
"Kalian sudah keluar rupanya," ujar Akihiko. "Kalian ingat kan kalau aku pernah bilang bahwa akan ada anak yang akan tinggal di asrama selama libur musim panas?" tanyanya.
"Err…kau tidak pernah bilang kalau yang kau maksud adalah anak SD…" gumam Yukari.
"Hm, yah, aku memang tidak pernah bilang juga kalau orang yang kumaksud adalah anak SMA seperti kita," kata Akihiko.
"Perkenalkan, namaku Amada Ken, umurku masih 10 tahun. Mohon bimbingannya selama liburan musim panas ini," ujar anak SD itu, Ken, sambil tersenyum.
"Ken, dari sebelah kiri mereka adalah Junpei, Minato, Ruuki, Fuuka, dan Yukari. Kelimanya kelas sebelas," ucap Akihiko. "Nah, bisa kalian antar Ken ke asrama? Aku harus ke suatu tempat dulu. Dan katakan pada Mitsuru kalau aku akan pulang ketika hari gelap."
Dan jadilah Akihiko pergi meninggalkan para juniornya di gerbang. Tidak lama kemudian, Minato dan teman-temannya (ditambah dengan Ken) pun menuju stasiun untuk kembali ke asrama.
Malam itu, Yukari menumpang tidur di kamar Ruuki, karena kamarnya sendiri AC-nya belum diservis. Agar lebih seru (menurut Yukari), gadis berambut coklat pendek itu mengajak Fuuka untuk tidur bertiga di kamar Ruuki. Dan tentu saja, sebelum tidur ia ingin bergosip dulu –kebiasaan para gadis remaja jika mengadakan pesta piyama.
Entah bisa disebut dengan kebetulan atau apa, ternyata ketiga gadis ini memikirkan sebuah hal yang sama. Mereka menduga bahwa Ken, anak SD yang baru tinggal di asrama itu hari ini adalah seorang pengguna persona seperti mereka. Walau tidak yakin, tetapi ketiganya memiliki pikiran seperti itu.
Dan benar juga, belum sampai bulan Agustus berakhir, seluruh anggota SEES dipanggil ke ruang komando oleh Ikutsuki. Sang Chairman pun menyatakan bahwa Amada Ken adalah seorang pengguna persona dan akan bergabung dengan mereka.
.
.
Suatu ketika, Junpei mengajak teman-teman anggota SEES menonton film di bioskop. Ya, karena sedang libur panjang, bioskop selalu memutarkan film-film baru yang bagus dan sayang dilewatkan setiap harinya. Tetapi sepertinya yang tertarik untuk menonton film dengan Junpei hanyalah Koromaru, Ruuki, dan Ken. Jadilah mereka berempat pergi bersama-sama ke bioskop.
Tidak hanya satu film saja yang diputar untuk hari itu, tetapi ada tiga sampai empat film lainnya juga. Saat sedang melihat-lihat jadwal film yang diputar untuk hari itu, tiba-tiba seorang satpam menghampiri dan menegur mereka karena ada peraturan tidak diperbolehkan membawa hewan ke bioskop. Karena Junpei bersikeras tetap ingin menonton, ia pun akhirnya menonton sendirian. Lho? Kemana Ruuki dan Ken? Ternyata keduanya lebih memilih untuk menemani Koromaru di luar gedung.
Dua jam berlalu dan Junpei belum keluar dari gedung. Jam tangan Ken sudah menunjukkan pukul empat sore. Astaga, memangnya lelaki bertopi bisbol itu menonton film apa, sih, sampai-sampai dua jam belum selesai?
"Ruuki-san, bolehkah kita pulang duluan? Aku bosan…" ujar Ken.
"Hm? Tunggulah sebentar lagi…mungkin tidak lama lagi Junpei-kun selesai…" kata Ruuki untuk kesekian kalinya sejak satu jam yang lalu.
Entah mengapa, hari itu Ruuki lebih 'sabar'. Biasanya, ia akan lebih parah dari Ken. Kalau Ken mengeluh bosan ketika sudah menunggu satu jam, Ruuki akan mengeluh bosan ketika baru sekitar 15 menit menunggu. Jadi entah apa yang membuatnya ingin menunggu hari ini.
"Ruuki-san, sudah jam 4 sore… film kartun yang biasa kutonton pasti sudah mulai…" ucap Ken dengan nada khawatir.
"Begitukah?" tanya Ruuki jadi tidak enak hati pada anak SD yang duduk disampingnya. "Baiklah, ayo kembali ke asrama, biar nanti aku akan SMS Junpei-kun untuk bilang bahwa kita kembali duluan," kata Ruuki akhirnya.
Sesaat sebelum naik kereta, Ruuki melihat sesosok gadis berambut merah panjang dan mengenakan baju gothic lolita berwarna putih. Gadis yang pernah ia temui di stasiun. Tetapi ia tidak sendirian, karena seorang pemuda berambut biru tua yang membawa sebuah koper. Ruuki tidak melihat wajah pemuda itu, namun entah kenapa ia mengenal baik punggung orang itu.
.
.
Tidak terasa hari ini adalah hari terakhir libur musim panas. Saat ini Junpei sedang sibuk meminta sontekan PR pada teman-teman seasramanya. Ya, seperti yang kita tahu, menjelang libur musim panas di Jepang, guru-guru menghadiahi murid-muridnya dengan segudang PR. Bagi anak-anak yang rajin seperti Minato, Ruuki, Fuuka, dan Mitsuru mungkin sudah selesai di beberapa minggu pertama. Untuk Yukari dan Akihiko yang tingkat kerajinannya sedang mungkin semua PR baru selesai beberapa hari sebelum liburan usai. Masalahnya, untuk seorang Iori Junpei yang pemalas, IA BARU MENYENTUH PR-NYA HARI INI! astaga, pemalas sekali dia ini.
Lalu, bagaimana dengan si robot cantik bernama Aigis? Dia ternyata sudah mengerjakannya bersama-sama dengan Ruuki dan Fuuka. Kaget?
Dan neraka bagi Junpei pun tiba. Hari pertama masuk kembali ke sekolah setelah libur panjang, guru-guru menginginkan semua PR dikumpulkan. Semua pasti bisa membayangkan apa yang terjadi pada Junpei yang baru mulai mengerjakan PR-nya kemarin pagi.
"Selamat sore semuanya," sapa Akihiko sore harinya ketika Ruuki dan teman-temannya sampai di asrama.
Ada seorang laki-laki yang duduk di seberang Akihiko. Lelaki itu menggunakan beanie di kepalanya, memiliki rambut berwarna coklat tua yang agak panjang, dan mengenakan jaket berwarna merah marun. Ia adalah pemuda yang menyelamatkan Minato, Junpei, Yukari, dan Ruuki tempo dulu di belakang stasiun.
"Namanya Aragaki Shinjiro," kata Akihiko melihat pertanyaan 'Siapa dia?' yang ada di mata para juniornya. "Dia adalah temanku sejak kecil, pengguna persona juga. Dulu ia anggota SEES, sempat keluar, sekarang bergabung lagi. oh, dia murid Gekkoukan juga, seumuran denganku," jelasnya.
"Ooh, berarti dia senpai kita juga? Keren!" seru Junpei.
"Berisik…" dengus Shinjiro pelan begitu mendengar suara Junpei. Ia pun bangkit berdiri dan membawa tasnya yang ada di lantai. "Kamarku masih yang dulu, kan?"
"Ya, masih di lantai dua," jawab Akihiko.
.
.
Bulan penuh. Semua anggota SEES sudah siap untuk bertempur. Mereka sudah menyiapkan evoker dan senjata masing-masing. Tetapi ternyata ada yang kurang. Junpei tidak ada di antara mereka.
"Dasar bodoh! Seharusnya dia tahu hari ini adalah hari yang penting! Kemana, sih dia!" omel Yukari.
Tetapi mereka harus tetap mencari shadow yang berada di luar Tartarus seperti biasanya. Jangan hanya karena satu orang tidak ada lantas mereka tidak beraksi.
Kali ini Fuuka mendeteksi sebuah shadow di mall Paulownia. Shadow tersebut katanya ada di daerah kabel-kabel. Berterimakasih kepada Shinjiro yang menduga bahwa tempat yang dimaksud mungkin adalah Escapade, mereka pun bergegas kesana.
"Sebentar, aku akan menganalisnya dulu…" ujar Fuuka. "Ah! Shadow yang ber-arcana Hermit ini berelemen listrik!"
"Listrik? Takeba, berarti kau harus tetap disini bersama dengan Yamagishi, akan berbahaya jika kau ikut maju kali ini," kata Mitsuru memberi intruksi. Setelah itu anggota SEES lainnya langsung menyerang si monster.
Ketika sudah selesai, Fuuka baru mendeteksi keberadaan Junpei. SEES pun segera pergi menuju tempat dimana teman mereka berada.
Akhirnya mereka menemukan Junpei yang sedang dalam keadaan terikat tangan dan kakinya. Lelaki itu tidak sendirian, karena ada seorang gadis berambut merah dan mengenakan baju gothic lolita putih yang berdiri di dekat Junpei.
"Duh, kalian larinya cepat sekali, sih…" gerutu Ruuki pelan yang baru sampai di tempat itu.
Ruuki tidak bisa melihat apa yang ada di depan mereka karena terhalang Shinjiro dan Akihiko. Tetapi kemudian ia melangkahkan kakinya ke samping dan melihat Junpei. Dan ia pun kini melihat gadis yang ia temukan dua kali di stasiun.
"…Chidori…?" gumam Ruuki.
"Misaki…Ruu…?" Chidori pun bergumam balik.
"Siapa kau?!" bentak Mitsuru. "Lepaskan Iori!"
Perlahan, gadis berambut merah itu –Chidori, merogoh sesuatu yang ada di sakunya. SEES terkejut, karena yang Chidori keluarkan adalah sebuah evoker. Dengan kata lain, gadis itu pun adalah seorang pengguna persona seperti mereka. Tetapi kemudian SEES pun berhasil 'melumpuhkan'nya dan mengambil evoker tersebut. Minato melepaskan tali yang terikat pada Junpei, dan lalu Chidori pun hilang kesadarannya. SEES segera membawa Chidori ke rumah sakit terdekat.
Keesokkan sorenya sepulang sekolah, Ruuki pergi mengunjungi ruang kamar inap Chidori. Dari luar ruangan, Ruuki bisa mendengar suara Mitsuru yang terus-menerus menyemproti Chidori dengan sejumlah pertanyaan. Tetapi sepertinya si lawan bicara tidak membuka suara sama sekali.
Ruuki membuka pintu kamar itu dan masuk. Dilihatnya Chidori memang sudah siuman dan sudah dipasang selang infus. Dilihatnya pula wajah Mitsuru yang sudah lelah –mungkin karena Chidori tidak pernah mau menjawab pertanyaan dari Mitsuru. Ruuki pun beranjak menuju kursi yang ada di sebelah ranjang gadis berambut merah itu.
"Hai Chidori, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Ruuki berbasa-basi sambil tersenyum. Pertanyaan Ruuki itu bernasib sama dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Mitsuru, tidak dijawab. "Aku bawa bunga poppy, karena kudengar katanya semalam tidurmu dihantui mimpi buruk."
"Sweet pea," gumam Chidori.
Dengan mendengar gumaman pelan tersebut, Mitsuru dan Akihiko terkejut, karena itu adalah kali pertama Chidori membuka suaranya. Sedangkan Shinjiro tetap diam di tempatnya.
"Kenapa? Kau ingin aku memberikanmu bunga sweet pea lagi seperti kau masuk rumah sakit dulu?" tanya Ruuki sambil tersenyum.
"Tidak, karena bunga sweet pea adalah lambang perpisahan…" ujar Chidori.
"Itu kalau kau mengartikan dari segi negatif. Kalau dari sisi positif, sweet pea itu arti dalam bahasa bunga adalah 'kebahagian', tahu!" kata Ruuki sambil tertawa kecil.
Chidori pun tersenyum cerah kepada Ruuki, hanya kepada Ruuki. Tetapi kemudian raut wajahnya berubah. Ia seperti tidak bisa bernafas. Yang tadinya ia duduk bersandarkan bantal, tiba-tiba ia merebahkan tubuhnya. Ia tidak bisa mengatur nafasnya, malah ia seperti sesak nafas. Ruuki yang terkejut langsung melompat dari kursinya. Kemudian Ruuki, Mitsuru, Akihiko, dan Shinjiro melihat sesosok makhluk sedang mencekik leher Chidori.
"P-persona?!" tanya Mitsuru kaget. "Kenapa bisa -?!"
"Ck," dengus Shinjiro. Ia segera menghampiri Chidori dan meminumkan sebutir kapsul kepada gadis itu. Seketika itu juga persona yang tadi mencekik Chidori langsung lenyap dan gadis itu pun terlelap dengan tenang.
"Aku akan memberikan obat yang benar kepada suster," ujar Shinjiro kemudian ia keluar dari ruangan. Tidak lama kemudian Akihiko pun ikut keluar menyusul sahabatnya. Tinggalah Ruuki bersama Mitsuru yang masih menunggu di kamar Chidori, keduanya larut dalam keheningan sampai yang lebih tua membuka mulut.
"Kau pernah kenal Yoshino sebelumnya?" tanya Mitsuru.
"Aku tidak tahu…" ujar Ruuki pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Tetapi entah kenapa aku seakan sudah lama mengenal dia dengan sangat baik…"
.
.
4 Oktober.
Jika bulan sebelumnya Junpei tidak ikut berburu shadow, kali ini Shinjiro dan Ken yang tidak ikut. Keduanya tidak ada sejak dark hour hari itu dimulai. Tidak ada yang melihat mereka berdua. Tetapi seperti yang sebelumnya, mereka harus tetap menjalani misi mereka.
Kalau dihitung dengan jam yang normal, entah sudah berapa jam mereka menghadapi shadow ber-arcana strength dan fortune yang letaknya di tengah kota itu. Jelas sulit sekali SEES menghadapi kedua shadow tersebut. Strength yang memang shadow yang kuat, serta Fortune yang sangat 'tricky'. Entah sudah berapa kali Yukari terus-terusan menyembuhkan teman-temannya. Tetapi pada akhirnya kedua monster itu jatuh juga.
SEES pun kembali ke asrama, padahal dark hour masih belum berakhir. Ken dan Shinjiro masih belum ada di antara mereka. Yukari pun meminta Fuuka mencari keberadaan kedua anggota SEES itu.
"Hari ini… tanggal 4 Oktober…" ujar Mitsuru pelan.
"…Serius?! Sekarang tanggal 4 Oktober?! Sial!" kata Akihiko kemudian ia pergi keluar asrama lagi.
"Ada apa dengan tanggal 4 Oktober?" tanya Junpei mewakili teman-temannya.
"4 Oktober adalah hari peringatan kematian ibu daripada Amada," kata Mitsuru lalu ia pun menjelaskan apa yang terjadi pada ibunya Ken.
Kemudian mereka bergegas menyusul Akihiko yang sedang mencari Ken dan Shinjiro. Mereka sampai di stasiun, tepatnya sudut belakang stasiun, ketika mereka mendengar suara tembakan pistol.
SEES (kecuali Ken) melihat Shinjiro yang tubuhnya masih berdiri tegap walau sudah berdarah karena tembakan pistol. Sang senpai berdiri di depan Ken, seolah ingin melindungi. Dihadapan mereka berdiri dua orang pria. Yang satu memegang pistol, berambut putih panjang dan wajahnya putih pucat. Dan yang satunya lagi tidak terlihat wajahnya, tetapi Ruuki tahu ia pernah melihat pemuda itu bersama dengan Chidori sewaktu di stasiun. Dan Ruuki tahu, kalau ia jelas-jelas mengenal pemuda berambut biru tua itu.
Saat anggota SEES yang lainnya sedang menyerukan nama Shinjiro, saat Ken sedang memukul-mukul lantai sambil menangis, saat Koromaru sedang menggonggong kepada si penembak, saat Shinjiro sendiri langkahnya mulai goyah kemudian perlahan terjatuh, Ruuki masih berfokus pada pemuda yang memunggungi mereka sedari tadi.
Laki-laki yang berambut putih itu mengantungi kembali pistolnya kemudian berbalik badan dan mulai melangkah pergi.
"Ayo pergi, Jin," ujar lelaki itu kepada temannya yang membawa koper.
.
DEG.
.
"Jin…Nii-san…?" tanya Ruuki pelan.
.
.
~TBC~
.
.
Yak, akhirnya satu misteri telah terungkap! Masih ada misteri lainnya seperti hubungan antara Ruuki dengan Pharos, hubungan Ruuki dengan Chidori, kenapa kepala Ruuki berdarah, DAAAANN…kenapa kakak Ruuki masih hidup? Penasaran? Ehehehe :P
REVIEW!
