Fei balik lagi! eh? Fei belum bilang disini kayaknya…TAPI FEI UDAH LULUS LOH! Iyeiyeiyeiyeiyei~~~ #gilakumat

.

Sp-Cs: Kucingnya sebenernya tetep ada kok, kan Ruuki kemana-mana dia ikut. Tapi Fei-nya aja yang enggak nyebutin. Tenang aja, Serafina (kucing Ruuki) belum Fei bikin sate kok! #DicakarKucing

panthera master: Wkwk iya, Ruuki itu rada nerd, kayak Fei #dor. Hehe. Iya nih, sayangnya Fei ambil plotnya berdasarkan P3F, bukan P3P…tapi kayaknya setelah ini tamat, Fei bakal bikin oneshot ber-setting P3P. Mungkin loh yaaa~

.

Disclaimer: ATLUS

Warning: OC berpotensi (besar) mary-sue, typo(s) bertebaran, (berusaha) mengikuti timeline P3F, (sangat) butuh review #dor

.

.

~CHAPTER 8: "Now and Forever"~

.

.

"Jin nii-san…itu kau kan?" tanya Ruuki.

Ruuki mendengar desas-desus pertanyaan yang terlontar dari mulut anggota SEES lainnya ketika mendengar pertanyaan Ruuki.

Jin berbalik. Ia tersenyum. Sorot matanya masih terlihat sedih.

"Nii-san…" kata Ruuki.

"Kita akan bertemu lagi, Ruu, kau percaya padaku, kan?" ujar Jin kemudian ia menyusul Takaya ke dalam Tartarus.

.

.

Jika dipikir-pikir, berarti saat ini seluruh anggota SEES sedang menghadapi dilema masing-masing. Mitsuru yang sedih kehilangan ayahnya, namun tetap berusaha tegar karena ialah pemimpin grup Kirijo pengganti ayahnya. Akihiko dan Ken yang masih merasa sangat kehilangan sosok Shinjiro. Fuuka yang belum lama ini sahabatnya, yakni Natsuki, pindah sekolah. Junpei yang baru saja kehilangan Chidori. Minato yang masih sangat kesal akan kebohongan Ikutsuki. Yukari yang belum lama ini menonton video yang asli mengenai ayahnya (video yang belum diutak-atik Ikutsuki). Aigis yang masih berusaha bersikap seperti manusia. Koromaru yang ikut-ikutan sedih melihat semua teman-temannya bersedih (bagaimana pun juga dia mengerti perasaan manusia). Dan ada Ruuki yang baru saja benar-benar yakin bahwa kakaknya masih hidup dan kini ada di kubu yang berlawanan dengannya.

Mereka terjebak dalam lamunan masing-masing, sampai seseorang menelepon ke asrama SEES dan mengatakan bahwa gadis yang bernama Yoshino Chidori adalah salah satu siswi di SMA Gekkoukan. Sama seperti Shinjiro, Chidori ternyata juga jarang masuk sekolah. Hal ini sangat mengejutkan SEES. Wajar, karena walau mereka tahu gadis itu seumuran dengan Junpei dan Ruuki, namun mereka tidak pernah tahu bahwa ia masih menyandang status sebagai siswi SMA Gekkoukan. Seperti layaknya ketika Shinjiro meninggal, sekolah pun mengadakan misa dalam rangka meninggalnya Chidori di pagi harinya.

Tetapi hari ini, Ruuki tidak masuk sekolah. Malah, gadis berambut biru tua itu terus mengurung diri di kamarnya sejak pagi. Dipanggil berkali-kali oleh Yukari dan Fuuka, ia tetap tidak beranjak dari kamarnya. Pada akhirnya Yukari, Fuuka, dan anggota SEES lainnya menyerah. Mereka ke sekolah seperti biasa, meninggalkan Ruuki yang ada di kamar.

Setelah yakin tidak ada seorang pun –bahkan Koromaru sekali pun di asrama, Ruuki keluar dari kamarnya. Perutnya langsung minta makan begitu ia mencium aroma roti panggang dari lantai satu. Gadis itu langsung turun ke bawah. Dan benar juga, ia langsung menemukan dua potong roti panggang isi coklat dan teh kesukaannya, beserta secarik kertas di samping piring roti.

'Aku tahu kau bolos, menunggu kami semua keluar asrama, lalu kau baru akan keluar juga. Tapi sebelumnya, kau harus makan dulu. Jangan khawatir, aku pernah mengalami hal yang sama denganmu.

dari Akihiko'

Ruuki membaca kertas itu dalam hatinya, lalu sedikit tertawa geli saat melihat roti itu pagian pinggirnya sebenarnya agak gosong. Tapi biarlah, ia makan juga daripada perutnya kosong. Toh, senpainya itu sudah repot-repot membuatkan sarapan untuknya sebelum pergi ke sekolah.

Kini Ruuki pergi jalan-jalan ke kuil. Jalanan yang ia lalui sepi sekali. Tidak aneh, sih, sebenarnya, karena bagaimana pun jam segini para murid masih di sekolah dan para pekerja ada di tempat kerja masing-masing. Tersisalah seorang siswi SMA bernama Ruu Misaki yang bolos sekolah.

Sesungguhnya, ia pun tidak mengerti kenapa ia begini. Bukan maksudnya ia ingin membolos sekolah. Sayang malah kalau ia harus membolos pelajaran, apalagi hari ini ada pelajaran Edogawa sensei yang merupakan pelajaran favoritnya. Tetapi, rasanya ia terlalu malas untuk ke sekolah hari ini. Mungkin karena kalau ia pergi sekolah, ia akan ingat kalau Chidori sebenarnya murid sekolah itu juga. Uh, tuh kan, ingat lagi tentang Chidori…

Di kuil, Ruuki hanya main dengan Maiko saja. Main ayunan, jungkat-jungkit, perosotan, dan sebagainya. Pelarian? Sepertinya bermain dengan Maiko tidak bisa disebut dengan pelarian. Pelampiasan? Tentu saja bukan. Jadi apa?

Ruuki melirik jam tangannya. Sudah pukul 3 sore. Berarti jam sekolah sudah usai dari 15 menit yang lalu. Tidak lama lagi Maiko pasti akan dijemput oleh orangtuanya. Ruuki pun mengucapkan sampai jumpa pada gadis cilik yang ia temani bermain itu, lalu pergi naik kereta menuju sekolah.

SMA Gekkoukan sudah tidak seramai pagi biasa. Oh tunggu, ini sudah lewat jam pulang sekolah, tentu saja akan lebih sepi. Ruuki langsung masuk ke ruang aula sambil mengendap-endap bak seorang pencuri.

Aula masih belum dibereskan rupanya. Masih ada bunga-bunga disetiap kursi, masih ada peti tempat Chidori ditidurkan, masih ada foto gadis itu saat tersenyum, masih ada warna-warna hitam menghiasi ruang itu yang bertanda dukacita. Ruangan itu terlihat sama persis seperti saat misa yang diadakan untuk Shinjiro, yang berbeda hanya isi peti dan wajah pada foto.

Gadis berambut biru panjang itu naik ke panggung. Menatap lekat-lekat wajah yang tertampang di foto tersebut. Chidori. Ia tersenyum. Senyumnya mirip seperti senyum terakhir gadis itu padanya.

Entah apa yang terjadi, Ruuki merasa seperti ada potongan-potongan gambar yang menyatu di pikirannya. Seakan ia menemukan beberapa rekaman video yang sempat hilang dari otaknya. Mengerti, ia pun tersenyum kecil, sambil menahan air mata yang siap tumpah kapan pun.

"Dasar bodoh," gumam Ruuki. "Kenapa aku baru sadar? Kenapa aku baru ingat sekarang? Kenapa aku begitu payah? Kenapa aku baru ingat kalau kau pernah menjadi sahabatku beberapa tahun lalu?! Kenapa?!

"Sejak aku bertemu denganmu lagi di stasiun waktu itu, aku tahu betul kalau aku mengenalmu, tahu bahwa aku tahu bahkan segalanya tentang dirimu! Tapi kenapa? Kenapa aku bisa melupakan hal itu?!

"…Tunggu…aku…oh, aku ingat sekarang. Kakakku. Itu jawabannya, kan, Chidori? Kakakku yang jenius itu berhasil membuatku lupa setiap detil tentang dirimu! Tapi kenapa, kenapa di saat seperti ini aku baru ingat tentang semuanya? Kenapa aku baru ingat tentang persona milikku? Kenapa aku baru ingat tentang dirimu dan asal persona milikmu? Kenapa aku baru ingat tentang…astaga…"

Habis sudah air matanya jatuh dari kelopak mata. Ia terdiam. Belum puas sebenarnya Ruuki mengungkapkan perasaannya, tetapi ia tidak tahu bagaimana berkata-kata lagi.

"Sudahlah. Menyesal sekarang juga tidak ada gunanya, kan?" kata Ruuki, entah pada siapa. Ia turun dari panggung dan membelakangi peti Chidori. "Kau lihat aku dari sana bersama orangtuaku, Chidori. Aku tidak akan lari lagi, dan aku akan bicara dengan kakakku jika saatnya tiba."

Dentingan kaca pecah terdengar di kepala Ruuki. Gadis itu tahu apa yang terjadi. Sama seperti saat ia memulai hubungan dengan teman-temannya, saat ia mendapatkan persona baru –karena ia memiliki wild card seperti Minato-, ia mendengar dentingan yang sama. Apa yang terjadi kali ini? Persona-nya berubah. Ia merasakan kekuatan yang baru dari persona tersebut melimpah dalam tubuhnya. Dan yang Ruuki tahu kini Mazed Eyes telah menjadi Doomed Eyes, yang tidak lagi lemah terhadap serangan elektrik.

.

"Sudah selesai?"

Ruuki yang baru keluar selangkah dari aula menoleh ke belakang, si asal suara. Dilihatnya Akihiko berdiri disamping pintu, bersender pada dinding sebelahnya.

"Senpai…" gumam Ruuki. "Sejak kapan…?"

"Sejak aku melihatmu masuk ke ruangan ini. Aku mendengar dari kata pertama sampai kata terakhirmu padanya," ujar Akihiko.

"Dasar, kau cocok kalau menjadi penguntit," kata Ruuki sambil membuang muka.

"Hn, setidaknya dulu saat Shinji, aku tidak secengeng kau," kata Akihiko sambil tertawa kecil.

"Ap-Apa maksudmu?!" ucap Ruuki kesal, walau tahu senpainya hanya bergurau.

"Bukan apa-apa. Ayo pulang," ajak Akihiko, dijawab anggukan kepala adik kelasnya.

.

.

Hari-hari berlalu dengan cepat. Tidak ada lagi yang membicarakan tentang Chidori, maupun Strega. Semuanya seperti angin lalu. SEES pergi ke sekolah pagi sampai sore, lalu pergi ke Tartarus setiap hari pada malam harinya. Yah, semua kembali seperti rutinitas mereka biasanya.

Tapi, siapa bilang mereka sudah benar-benar tidak membicarakan tentang 3 orang anggota Strega itu? Buktinya, ada 2 orang anggota SEES yang masih terus 'membicarakan' masalah Strega dalam benak dan pikiran masing-masing. Kedua orang itu adalah Junpei dan Ruuki.

Junpei masih sedih kehilangan Chidori. Tidak aneh, kok, sebenarnya. Karena bagaimana pun juga, Chidori merupakan gadis pertama yang Junpei hadapi dengan perasaan yang serius. Tentu, karena selama ini Junpei hanya senang menggoda gadis-gadis yang tak sengaja lewat di hadapannya. Tetapi untuk Chidori, ia sangat berbeda. Gadis berambut merah itu selalu ada di tempat spesial di hati Junpei. Dan pemuda bertopi itu berniat membalas dendam pada Takaya, bahkan mungkin telah bersumpah. Namun, Junpei masih harus tetap menjalani hari-harinya karena ia belum bertemu dengan Takaya lagi. Pada akhirnya, ia berusaha mengusir rasa sedihnya dengan makin sering pergi main bersama dengan Ryoji, Minato, dan Kenji.

Seperti Junpei, Ruuki juga masih sedih kehilangan Chidori. Ia juga kesal karena baru menemukan potongan-potongan memorinya yang telah sekian tahun menghilang. Ia dilema untuk kesekian kalinya. Antara Chidori, dan juga Jin. Shirato Jin, kakaknya. Kakaknya yang selama ini ia kira sudah tiada, lalu muncul lagi. Sempat berpikir mungkin Jin yang ia temui adalah orang lain, namun ternyata Jin yang muncul memang kakaknya. Untuk menghadapi dilemanya, Ruuki pun jadi sering latihan kendo. Yah, ia malah terlihat seperti seorang yang depresi dan membutuhkan pelampiasan, dan anggota tim kendo lainnya lah yang menjadi sasaran empuk untuknya. Bagaimana tidak? Karena ia ingin melampiaskan perasaannya, ia memukul musuhnya –yang tak lain adalah lawan tanding dari klub Kendo sendiri- dengan sepenuh hatinya. Astaga, bahkan Yuko, si manager klub pernah menegur Ruuki karena seperti orang kesurupan. Dasar.

Omong-omong tentang Jin, Mitsuru penasaran. Tidak hanya Mitsuru sebenarnya, tetapi anggota SEES lainnya pun penasaran. Suatu ketika, si penerus grup Kirijo pun mengumpulkan teman-temannya dan mencoba 'menginterogasi' Ruuki tentang orang yang gadis itu panggil sebagai 'kakak'.

"Jadi, Ruuki, waktu itu kau memanggil Jin yang merupakan anggota Strega dengan sebutan kakak. Begitu, bukan?" tanya Mitsuru, dijawab anggukan kepala Ruuki. "Tapi…nama margamu…"

"Misaki adalah nama keluarga ibuku sebelum ia menikah dengan ayahku. Nama asliku sebenarnya adalah Shirato Ruu," jawab Ruuki.

"Hah? Jadi nama 'Ruuki' itu 'ki'-nya darimana?" tanya Junpei yang sebenarnya agak melenceng dari tujuan pertanyaan Mitsuru.

"Ng, itu dari kakakku. Yah, kan aneh kalau panggilanku jadi 'Ruushi', jadi nii-san panggil aku 'Ruuki'," jawab Ruuki.

"Hn. Jadi…ada yang ingin kau katakan tentang Jin pada kami? Karena kau pernah bilang bahwa keluargamu sudah tidak ada, hanya tinggal kucingmu saja," ujar Mitsuru.

"Harusnya…yah, harusnya setahuku rumahku sudah terbakar…orangtua dan kakakku ada di dalam saat peristiwa itu terjadi…ng…" kata Ruuki bingung.

"Apakah dulu, sebelum rumahmu terbakar, kau pernah tahu tentang persona, tentang shadow, tentang Strega?" sisik Mitsuru.

"Tentang persona dan shadow, ya, makanya aku bisa tahu orangtuaku adalah pengguna persona. Tetapi aku tidak pernah tahu tentang Strega sampai aku bergabung dengan kalian…" jawab Ruuki risih.

"Hhhh…" Mitsuru menghela nafasnya berat, karena tidak berhasil mendapat informasi yang ia harapkan.

"Oh ya, aku sempat penasaran," kata Junpei. "Kau bilang kau pernah mengenal Chidori sebelumnya, Ruuki-chan?"

"Dulu dia sahabatku," jawab Ruuki yang membuat semua mata SEES tertuju padanya. "Beberapa tahun yang lalu, ia dikabarkan menghilang dari rumahnya –saat itu kami sudah bisa mengeluarkan persona. Nii-san yang melihat aku sangat sedih karena Chidori tidak pernah ditemukan sampai setahun ia menghilang, langsung mencari cara agar aku bisa melupakannya. Dan entah bagaimana caranya, ia berhasil membuatku lupa segalanya tentang Chidori, bahkan ia seperti membuat memori baru untukku seakan aku tidak pernah kenal ataupun bertemu dengan Chidori sebelumnya…"

"Astaga…jahat sekali…" gumam Fuuka.

"Tidak, dia tidak jahat," kata Akihiko yang duduk disamping Fuuka. "Menurutku ia tidak jahat, baik malah. Yah, ia tidak ingin melihat adiknya terus-terusan bersedih, namun harus kuakui, caranya salah."

.

.

Mitsuru memberitahu anggota SEES bahwa Aigis menghilang. Kejadian itu berlangsung ketika Dark Hour. Masing-masing dari mereka tidak berani kalau harus berpencar seorang diri, karena sekali itu, saat itu adalah Dark Hour, shadow bisa keluar kapan pun dan menyerang mereka. Jadilah SEES mengandalkan kekuatan Fuuka untuk mencari Aigis.

Fuuka mendeteksi adanya Aigis di Jembatan Moonlight, jembatan yang sama saat mereka melawan Jin dan Takaya. Tetapi Aigis tidak sendiri, Fuuka merasakan adanya orang lain disana, yaitu Mochizuki Ryoji. SEES pun segera pergi ke jembatan tersebut.

Sesampainya disana, SEES melihat Aigis ada dalam kondisi berlutut, kepulan asap tipis keluar dari setiap sendi tubuhnya. Dan tidak jauh dari sana, mereka melihat Ryoji yang berdiri mematung.

Tidak butuh waktu lama Ryoji menjelaskan apa yang terjadi, SEES langsung mengerti. Ia adalah bentuk manusia dari Death, yang mana 10 tahun yang lalu pernah Aigis kurung dalam tubuh seorang anak laki-laki kecil berusia 6-7 tahun. Ya, 10 tahun kemudian anak laki-laki itu tumbuh menjadi seorang siswa SMA yang belum sadar bahwa dalam tubuhnya terdapat sosok jahat. Anak laki-laki itu adalah Arisato Minato.

"Pharos…" gumam Ruuki.

"Mm-hm, aku dan Pharos…sama…" ujar Ryoji, menatap Ruuki dan Minato bergantian.

"Berarti…kau orang yang… -"

"Sepertinya akulah penyebab orangtuamu meninggal waktu itu," ujar Ryoji memotong perkataan Ruuki. "Tetapi kakakmu berhasil melarikan diri. Ia tidak sempat menyelamatkan orangtuamu. Kulihat waktu itu kau baru pulang dari sekolah, sepertinya kau berpikir kakakmu juga telah tiada. Itulah yang menyebabkan Jin tidak jadi memanggilmu –padahal ia ada di belakangmu saat itu."

"Aku…AKU TIDAK MENGERTI!" erang Junpei kesal. Entah sebenarnya ia memang kesal atau apa, tetapi ya, dia mengerang mendengar pembicaraan mereka dengan Ryoji.

Kemudian Mitsuru memanggil beberapa orang bawahan ayahnya dulu untuk membawa Aigis ke laboratorium untuk diperiksa. SEES pun kembali ke asrama mereka dengan perasaan yang gundah. Ya, lagi-lagi.

Malam berikutnya, mereka kedatangan tamu spesial yang tak seorang pun undang. Ia adalah Ryoji. Bukan, saat itu bukan sedang Dark Hour. Ryoji datang seperti seorang tamu biasa. Tetapi, karena SEES sudah tahu siapa ia sebenarnya, SEES pun tidak bisa melihat Ryoji 'normal' lagi.

Kedatangan Ryoji cukup singkat. Ia datang hanya untuk memberikan 2 pilihan: apakah SEES akan membunuh Ryoji, atau ingin menghadapi Death. Jika mereka membunuh Ryoji, maka ingatan SEES tentang segala hal berkaitan tentang persona, shadow, dan Tartarus akan hilang, lalu mereka akan hidup tenang sampai mereka mati ketika Death datang. Tetapi jika tidak, mereka harus melawan Death yang menurut Ryoji tidak dapat dikalahkan. Pemuda itu berkata bahwa ia akan menunggu jawaban SEES sampai malam tahun baru. Karena setelah malam ini, Ryoji akan menghilang dari hadapan orang-orang.

Sebelum pergi meninggalkan tempat itu, Ryoji meminat maaf khusus untuk Ruuki. SEES tidak mengerti kenapa Ryoji meminta maaf pada gadis itu. Kemudian terungkaplah bahwa orang yang melukai kepala Ruuki sampai berdarah beberapa bulan lalu adalah Pharos, alias Ryoji sendiri.

.

.

Berhari-hari SEES memikirkan kedua pilihan tersebut. Satu sisi, mereka ingin menghadapi Death dan menyelesaikan apa yang mereka perjuangkan selama berbulan-bulan. Tetapi mereka ingat bahwa Ryoji pernah berkata Death mustahil untuk dikalahkan. Astaga, sebegitu kuatnya kah, Death itu?

Sisi lain, SEES agak tergoda untuk membunuh Ryoji. Yah, daripada mereka bersusah payah melawan Death yang belum tentu berhasil, lebih baik mereka tidak tahu apa-apa kemudian masuk surga kan? Iya kalau masuk surga, kalau neraka? Tunggu, lupakan kalimat terakhir itu, karena kalimat tersebut hanya ada dalam otak Junpei seorang, tidak untuk anggota SEES lainnya.

Sehari sebelum hari yang dijanjikan, Aigis telah dinyatakan 'sehat' dan masuk kembali ke asrama. Senang? Sudah pasti. Terutama Ken dan Koromaru, keduanya sangat senang Aigis kembali lagi. Terutama ketika dilihat oleh mereka bahwa Aigis entah kenapa serasa telah berubah. Ia terlihat bersikap sebagai manusia umumnya. Mungkinkah itu bagian dari efek ketika ia diperiksa di laboratorium?

Sebelum naik ke atas, Ruuki sempat mendengar Aigis yang meminta Minato untuk membunuh Ryoji besok malam. Ya, dari awal pertama Aigis bertemu dengan Ryoji pun, Aigis langsung memberi label 'bahaya' untuk Ryoji. Kini SEES tahu kenapa Aigis tidak menyukai Ryoji, dan tentu itu adalah alasannya meminta Minato membunuh pria itu.

Hari yang dijanjikan pun tiba keesokkannya. Tanggal 31 Desember, malam tahun baru. Ryoji datang sesuai dengan perjanjian. SEES sudah siap di ruang tengah lantai satu. Begitu Ryoji masuk ke gedung itu, semua mata tertuju padanya. Pemuda itu melihat ekspresi anggota SEES satu persatu. Ia tahu bahwa keberadaannya membuat mereka tidak nyaman. Sehingga ia berkata bahwa ia akan menunggu di kamar Minato.

"Jadi…bagaimana keputusan terakhirnya?" tanya Minato.

Sebenarnya, sejak kedatangan Ryoji ke asrama waktu itu, SEES jarang ke Tartarus untuk latihan. Malam-malam lebih banyak mereka lewati untuk mendiskusikan 2 pilihan yang diajukan untuk mereka. Memberikan pendapat pro dan kontra untuk masing-masing pilihan. Mempertimbangkan emosi, logika, dan konsekuensi yang ada.

"Chidori…ia telah memberikan nyawanya untukku, aku tidak ingin melupakannya," ujar Junpei.

"Mm-hm! Aku juga, aku sudah memutuskan bertarung untuk bagian Shinjiro-san!" kata Ken.

Akihiko tersenyum pada Ken, dan anak kecil itu membalasnya. Ya, mereka makin dekat sejak kejadian penembakan yang dilakukan Takaya pada Shinjiro.

"Aku akan membantu kalian sampai akhir," ucap Fuuka sambil tersenyum.

"Ya, aku juga tidak akan mundur ketika aku sudah tahu kenyataan tentang ayahku," kata Yukari.

"Sama. Setelah akhirnya aku tahu tentang jawaban atas pencarianku, aku tidak akan mundur begitu saja," kata Ruuki.

"Hn, sepertinya kita semua memilih pilihan yang sama…" gumam Mitsuru sambil tersenyum.

Minato mengangguk lalu pergi ke kamarnya, sedangkan anggota SEES lainnya tetap duduk di tempat masing-masing. 15 menit kemudian, sang ketua kembali lagi dan menyatakan bahwa ia menyuarakan pilihan SEES pada Ryoji –bahwa mereka akan menghadapi Death di akhir Januari.

Diselingi rasa puas, optimis, sekaligus cemas, SEES melewati malam mereka di alam mimpi. Mereka tidak menonton pertunjukan kembang api yang biasanya diadakan setiap malam tahun baru, mereka tidak pergi ke kuil dan menghitung mundur menuju tahun yang baru bersama-sama dengan teman-teman sekolah mereka. Tidak. Mereka terlalu lelah untuk itu.

Karena ia tidak pergi ke kuil malamnya, Ruuki berniat pergi ke kuil pada pagi harinya, pagi pertama di tahun yang baru. Sudah siap dengan kimononya, ia pun turun ke lantai satu dan melihat Akihiko, Junpei, dan Ken sudah duduk di kursi meja makan.

"Selamat pagi, Ruuki-san! Selamat tahun baru!" sapa Ken yang sedang menggenggam cangkir kopinya.

"Selamat pagi Ken-kun, Junpei-kun, Akihiko senpai! Selamat tahun baru juga!" balas Ruuki (yang tumben) ceria.

"Kau akan pergi ke kuil juga?" tanya Akihiko.

"Mm-hm," jawab Ruuki menganggukan kepalanya. "Mitsuru senpai dan yang lain sudah berangkat duluan kan? Ah, andai aku bisa lebih cepat memakai obi-nya…"

"Hn, ayo," ajak Akihiko pada Ruuki.

"Senpai? Kau tidak mengajakku dan Ken?" tanya Junpei bingung.

"Hah? Kalian kan bisa pergi sendiri. Kalau Ruuki kasihan jika harus pergi sendiri. Tambah lagi ia pakai kimono, sulit jalan cepat. Kalau ia sampai jatuh bagaimana?" ujar Akihiko cerewet.

"Senpai, aku bukan anak kecil lagi, aku bisa pergi sendiri…" kata Ruuki yang berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Siapa bilang kau anak kecil?" tanya Akihiko, kemudian memegang tangan Ruuki. "Ayo pergi."

Akihiko menarik tangan Ruuki yang ia pegang. Ruuki yang masih mati-matian menyembunyikan wajahnya menurut saja. Sebelum keluar asrama, ia sempat mendengar Junpei berkata pada Ken,

"Aku tidak tahu kalau mereka sekarang berpacaran…"

Lalu Ruuki langsung merutuk kesal. Ya iyalah, karena sebenarnya ia memang tidak berpacaran dengan senpainya itu.

Di kuil, antrian untuk orang-orang yang ingin berdoa sudah agak berkurang. Sepertinya kebanyakan orang tetap tinggal disana setelah hitung mundur menuju tahun baru, lalu langsung mengantri untuk mengucapkan permohonan. Ruuki dan Akihiko hanya perlu menunggu selama 15 menit di antrian, dan kini adalah giliran mereka. Sesudah itu, mereka bergabung dengan anggota SEES lainnya.

.

Libur telah usai. Murid-murid harus segera pergi ke sekolah masing-masing lagi. Gumaman, rutukan, dan desahan kesal bercampur menjadi satu. Ya iyalah, karena mereka masih ingin bersantai dan menikmati liburan.

Benar juga kata Ryoji bulan lalu. SEES dan orang-orang lain tidak akan bertemu dengannya lagi. Toriumi sensei pagi ini menyatakan di depan kelas bahwa Mochizuki Ryoji pindah sekolah mengikuti orangtuanya yang lagi-lagi pindah lokasi kerja. Murid-murid kelas 2F sedih mendengarnya, namun Ruuki, Minato, Yukari, Junpei, dan Aigis tahu alasan yang sebenarnya.

Suatu ketika, sepulang sekolah, Aigis meminta Ruuki menemaninya pulang. Jadilah Ruuki pulang bersama dengan Aigis hari itu. Robot cantik yang sifatnya mulai seperti manusia itu curhat pada Ruuki, tentang teman-teman sekelasnya yang menatap dirinya aneh. Aigis melihat teman-teman sekelasnya memperlakukan ia berbeda. Apalagi ada satu atau dua orang penghuni kelas (selain Ruuki, Minato, Yukari, dan Junpei) yang tahu bahwa ia bukan manusia melainkan robot, lantas memperlakukan Aigis dengan cara yang berbeda.

"Begitukah?" tanya Ruuki. "Hm…tapi aku sih, tidak pernah melihatmu berbeda. Menurutku kau sama saja seperti kami, Aigis."

Dan usai Ruuki mengucapkan kalimat itu, Aigis tersenyum sumringah.

.

.

'Hari Perjanjian' pun tiba dengan cepat. SEES memberi nama hari dimana mereka akan bertarung dengan Death adalah 'Hari Perjanjian'. Entah siapa yang memberikan nama tersebut, namun yang pasti kini setiap anggota SEES sudah siap akan datangnya hari ini.

Menurut Ryoji bulan lalu, SEES akan bertemu dengan Death di lantai terakhir Tartarus. Dengan kata lain, mereka harus mendaki naik terus sampai puncak. Dan Fuuka pun dapat merasakan kehadiran 2 orang pengguna persona selain mereka yang ada dalam Tartarus saat ini. siapa lagi kalau bukan Jin dan Takaya.

SEES dengan semangat menerjang setiap shadow yang ada di hadapan mereka, berusaha secepatnya sampai di puncak Tartarus. Sampai di suatu lantai, Fuuka berkata bahwa di lantai berikutnya ada seorang pengguna persona yang telah menanti mereka. Menurut Fuuka, kemungkinan besar adalah Jin.

"Jin nii-san…" gumam Ruuki pelan saat mendengar notifikasi dari Fuuka.

"Kau siap, Ruuki?" tanya Akihiko saat melihat perubahan air wajah Ruuki yang ada di sampingnya.

"Hn? Tentu saja. Kali ini aku akan ikut bertarung, tidak seperti yang waktu di Jembatan Moonlight!" ujar Ruuki.

Asumsi Fuuka ternyata benar. Jin telah menunggu mereka di lantai berikutnya. Dengan aba-aba dari Minato, Fuuka, dan Mitsuru, SEES pun bertarung melawan Jin yang ternyata lebih kuat dari sebelumnya.

Tidak kenal kakak atau bukan, Ruuki berani melawan Jin menggunakan persona-nya. Ia bahkan sudah mengganti persona-nya dengan Hariti yang tidak memiliki kelemahan apa pun. Sebaliknya, Jin malah tidak sekalipun menyerang Ruuki. Ia menyerang Minato, Mitsuru, Akihiko, Junpei, Yukari, Aigis, Ken, dan Koromaru. Tetapi tidak Ruuki.

Jin pun kalah pada akhirnya lewat serangan Ruuki yang terakhir kali. Entah karena memang Jin sudah kelelahan, atau memang ia ingin kalah di tangan adiknya sendiri. Tapi yang pasti, ia kalah, dan ia tak dapat mengungkirinya lagi. Setidaknya yang ia tahu, ia telah memberikan yang terbaik, sudah membantu Takaya dalam rangka mengulur waktu. Dan ia tidak menyesal, karena pada akhirnya ia…bertemu dengan adiknya lagi.

"Ayo kita naik ke lantai selanjutnya!" seru Junpei.

"Ng! Sekitar 2-3 lantai di atas kita ada Takaya, kalian harus lebih berhati-hati lagi," ujar Fuuka.

Ruuki melihat Jin yang masih duduk di lantai bersandar tiang karena lelah. Kemudian gadis itu melihat tangan-tangan shadow dari bawah mulai merayap naik ke lantai itu. Akihiko terus-terusan menarik lengan Ruuki untuk mengajaknya naik ke tangga menuju lantai selanjutnya. Lalu gadis itu melihat kakaknya bangkit berdiri, melihat padanya, dan tersenyum. Senyum hangat yang biasa ia berikan dulu, itu senyum kakaknya.

"Nii-san…nii-san!" seru Ruuki yang ditarik oleh Akihiko.

"Pergi, Ruuki! Pergi dengan mereka!" teriak Jin yang berusah mengambil evokernya.

"Tap-tapi…!"

"Tidak ada tapi!" kata Jin memotong perkataan adiknya. "Ruuki…kau percaya padaku, kan?"

Dan lalu Akihiko berhasil menarik Ruuki naik tangga, membuat gadis itu tidak dapat lagi melihat kakaknya. Yang ia tahu, tidak lama setelah mereka sampai di lantai berikutnya, SEES mendengar teriakan Jin yang kesakitan karena diserbu shadows.

.

"Ruuki…kau percaya padaku, kan?"

.

.

~TBC~

.

.

Wow, ini chapter terpanjang yang pernah Fei tulis! Jadi disini Fei ada kasih kayak 'hint' Akihiko x Ruuki. Tapi Fei masih belum kepikiran untuk bikin mereka jadian. Kenapa? Karena saat bikin plot, Fei gak masukin unsur romance Ruuki dengan Akihiko, alias 'hint' yang ada di chapter ini tidak direncanakan #dor
Tapi Fei masukin sedikit romance dan humor yang sangat tipis (kalo terasa) karena menurut Fei kok kayaknya fict ini terlalu serius dan bahkan ada bagian yang agak 'dark'. Jadi Fei kasih sedikit warna lain. Hehehe~

REVIEW!