Fei dateng lagiii~ #ditampar

.

Sp-Cs: makasih :)

Sharksurfer: ya! Fei juga ngerasa agak terganggu saat nulisnya sih ==" (terus ngapain nulis? #plak). Tapi Fei udah terlanjur bikin plotnya sampe tamat, jadinya Fei kalo ganti adegan, bingung mau ganti gimana. Dan sebenernya Fei bikin cerita Ruuki(OC) x Chidori itu berdasarkan Aki x Shinji. Jadi kalo gaje ya…bukan Fei namanya… #ditamparmasal

.

Disclaimer: ATLUS

Warning: OC berpotensi (besar) mary-sue, typo(s) bertebaran, (berusaha) mengikuti timeline P3F, (sangat) butuh review #dor

.

.

~CHAPTER 9: "I Wanna be Standing with You"~

.

.

Nii-san…nii-san!" seru Ruuki yang ditarik oleh Akihiko.

"Pergi, Ruuki! Pergi dengan mereka!" teriak Jin yang berusah mengambil evokernya.

"Tap-tapi…!"

"Tidak ada tapi!" kata Jin memotong perkataan adiknya. "Ruuki…kau percaya padaku, kan?"

Dan lalu Akihiko berhasil menarik Ruuki naik tangga, membuat gadis itu tidak dapat lagi melihat kakaknya. Yang ia tahu, tidak lama setelah mereka sampai di lantai berikutnya, SEES mendengar teriakan Jin yang kesakitan karena diserbu shadows.

.

.

(Masih tanggal 31 Januari)

Dugaan Fuuka benar, setelah naik tangga dua kali, mereka melihat Takaya telah menunggu. Tanpa ba-bi-bu, Akihiko dan Ken langsung memanggil persona mereka. Yah, anggota SEES yang lainnya memaklumi, karena kedua orang itu sudah gatal ingin membalas dendam atas apa yang sudah diperbuat Takaya pada Shinjiro. Lho, memangnya Ruuki dan Junpei tidak mau membalas dendam akan kematian Chidori? Tentu saja ingin. Tetapi sejak persona-nya berubah, Junpei menjadi lebih kalem saat bertarung. Sedangkan Ruuki? Gadis berambut biru itu masih sesekali melirik ke arah tangga lantai bawah –masih berharap melihat sosok kakaknya berhasil mengalahkan shadows yang menyerangnya kemudian naik ke lantai itu untuk membantunya.

Sama seperti Jin, Takaya pun sepertinya sudah lebih dulu berlatih dan mempersiapkan dirinya dengan baik sambil menunggu tibanya hari ini. kekuatan lelaki itu bahkan mencapai 2 kali lipat dari sebelumnya. Yukari yang memiliki kekuatan paling besar dalam hal mengobati pun langusng 'disimpan' oleh teman-temannya. Jadilah Yukari berdiri disisi Fuuka untuk mengobati setiap temannya yang terluka saat bertarung melawan lelaki berambut panjang itu.

Setelah berjuang susah payah, SEES menang. Dengan segera mereka berlari menaiki anak tangga menuju puncak Tartarus yang sudah tidak jauh lagi. seluruh perasaan bercampuraduk dalam benak masing-masing anggota SEES. Senang karena perjuangan mereka sebentar lagi akan berakhir, dan mereka juga takut kalau ternyata mereka tidak mampu melawan Nyx.

Sesampainya mereka di puncak, mereka disapa oleh angin malam yang sangat dingin dan pemandangan bulan yang 'indah'. Belum sempat mereka menarik nafas, Nyx datang. SEES pun langsung kembali ke posisi untuk bertarung. Minato, Junpei dan Koromaru di paling depan, diikuti oleh Akihiko dan Ken, lalu ada Mitsuru dan Ruuki, dan dipaling belakang ada Yukari dan Fuuka. Ini adalah formasi terakhir dari Minato. Ya, terakhir. Karena setelah mengalahkan Nyx, mereka tidak perlu lagi repot-repot datang ke menara yang menjadi sarang shadows ini.

Semua elemental dikerahkan oleh masing-masing anggota SEES. Dan satu persatu kekuatan mereka dapat dihalangi oleh si lawan secara perlahan. Perlahan mereka pesimis. Tersisalah Minato seorang diri. Semacam lubang hitam terbentuk di atas langit. Lantai tempat mereka berpijak menjadi seperti kaca yang transparan, dimana mereka bisa melihat penduduk Iwatodai yang keluar dari peti mereka –padahal saat itu masih Dark Hour.

Deru angin di puncak Tartarus makin menguat, seakan ada badai. Namun, mungkin bukan badai namanya, karena satu persatu anggota SEES tidak mampu berdiri. Tetapi Minato masih memaksakan dirinya untuk bertahan. Lubang hitam yang terbentuk itu pun mulai menghisap sang leader ke dalamnya. Teman-temannya meneriaki dia, meminta ia jangan pergi, meminta ia untuk tetap disini. Semuanya memanggil dia, terutama Aigis yang sambil menangis.

.

.

3 Maret.

Usai berdoa, Ruuki mengambil tasnya dan keluar kamar, diikuti oleh kucingnya. Di depan kamarnya, ia melihat seorang gadis berambut pirang dan bermata biru bersender di dinding di depan pintu kamarnya. Wajahnya aneh, namun entah mengapa tampangnya sangat tidak asing untuk Ruuki. Ia tidak mau memusingkan siapa gadis itu, sehingga ia langsung beranjak turun ke lantai satu, keluar asrama, kemudian pergi ke sekolah.

Ujian kenaikan kelas sudah usai, walau Ruuki bahkan tidak ingat sedikit pun tentang saat ia mengerjakan soal. Lalu, kenapa ia masih pergi ke sekolah? Ia anak OSIS. Dan selama 2 hari ini –yakni hari ini dan besok- OSIS harus menyelesaikan persiapan kelulusan murid kelas 12 yang akan dilaksanakan lusa.

.

.

4 Maret.

Gadis bermabut pirang itu lagi-lagi berdiri di depan kamar Ruuki. Tatapannya sama, seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi entah apa. Ruuki tetap berniat untuk melewati gadis itu agar tidak terlambat sekolah. Baru ia berjalan beberapa langkah dari gadis itu, Ruuki mendengar orang itu membuka suara.

"Kau masih belum ingat rupanya,"

Ruuki berbalik badan dan menghadap gadis berambut kuning itu. Ia bingung. Ia mencoba berpikir. Apa yang ia 'belum ingat'?

"Ini kedua kalinya ingatanmu dimanipulasi, aku turut berduka," kata gadis itu lagi.

"Siapa…" gumam Ruuki. "Siapa kau?"

"Namaku Aigis," jawab si pirang, kemudian ia berjalan mendahului Ruuki dan turun ke lantai bawah.

.

.

5 Maret.

Ruuki sedang membereskan buku dan kertas-kertas yang ada di kamarnya. Ia tidak ingat apa saja yang ia lakukan selama setahun belakangan ini sampai-sampai kamarnya terbilang cukup berantakan karena letak buku dan kertas yang tidak beraturan. Setelah selesai, ia merapikan ranjangnya, dan menemukan sesuatu yang menarik di bawah matras ranjangnya (bukan di kolong ranjang). Ia menemukan amplop berwarna hijau muda disana. Begitu Ruuki akan membuka amplop itu, Fuuka sudah memanggilnya untuk pergi ke sekolah, sehingga Ruuki hanya meletakkan amplop itu di lacinya.

Hari ini adalah hari kelulusan murid kelas 12 SMA Gekkoukan. Seluruh siswa kelas 10, 11, dan 12, serta para orangtua dari murid kelas 12 sendiri dan guru-guru semuanya ada di aula. Ya, ini adalah momen terpenting bagi seluruh murid senior.

Diawali kata sambutan dari kepala sekolah, pidato dari wakil orangtua murid, wakil murid yang lulus, kini sang ketua OSIS akan memberikan pidato terakhirnya di aula itu. Kirijo Mitsuru memantapkan langkahnya menuju podium dan memegang mikrofon.

"Setahun yang lalu, saya menerima tanggung jawab besar sebagai ketua OSIS," ujar Mitsuru mengawali pidatonya. "Saat pertama kali saya berdiri di posium ini di hadapan kalian, saya memberitahu kalian untuk meraih peluang saat kalian memiliki kesempatan. Yah, pasti takdir yang membuat saya mengingat akan hal ini. Seperti yang kalian mungkin tahu, ayah saya secara mendadak…"

Mitsuru menarik nafas dalam-dalam sebab ia mulai merasa sesak. Seakan ada sesuatu yang mengganjal dalam tubuhnya. Hati dan pikirannya tidak nyaman, seakan ia sedang melupakan suatu hal.

"Ayah saya secara mendadak meninggal dunia, karena sakit," lanjutnya. Kemudian ia terdiam lagi. Kepalanya terasa pening. Wajahnya pucat. Ia merasa sedang ada sesuatu yang tidak beres di otaknya. "…Sakit…?"

Murid-murid yang duduk di bawah panggung mulai melihat satu sama lain, mulai bertanya-tanya ada apa dengan ketua OSIS mereka. Mereka bingung karena tidak pernah melihat Mitsuru seperti itu saat pidato. Tetapi sebagian memaklumi dengan asumsi sang ketua OSIS masih belum bisa menerima kepergian ayahnya.

"Saya ingat…" gumam Mitsuru perlahan. "Dengan meninggalnya ayah saya, saya telah kehilangan tujuan hidup."

Para murid semakin bertanya-tanya tidak karuan. Ruuki yang duduk disamping Yukari mendengar gadis itu bergumam,

"Tunggu, bukankah seharusnya aku…?"

Lalu seperti seorang amnesia yang kepalanya terbentur kemudian ingat kembali potongan memori yang hilang, Ruuki mengingat apa yang terjadi. Di akhir bulan Januari lalu, Minato terhisap lubang hitam. Tidak tahu apa yang terjadi di lubang itu. Satu hal yang diyakini SEES, pemuda berambut biru sedang bertarung melawan Nyx seorang diri. Satu persatu dari mereka berusaha menyumbangkan kekuatan dan doa mereka sambil berusaha untuk menghancurkan si lubang hitam itu sendiri. Ketika mereka lihat Minato berhasil mengalahkan Nyx, seakan angin kencang menghempas mereka dan mereka tidak ingat apa-apa lagi seputar persona, Tartarus, dan shadows.

Kini Ruuki melihat Akihiko dan Junpei berdiri. Tidak lama kemudian seorang guru yang duduk di dekat Akihiko menyuruh keduanya untuk duduk, namun dihiraukan. Lalu Mitsuru melanjutkan pidatonya, mengundang senyum Yukari. Lalu Ruuki bisa mendengar Junpei berseru.

"Janji yang waktu itu!" seru pemuda bertopi bisbol itu.

Mitsuru menyelesaikan pidatonya, kemudian melompat turun ke bawah panggung, dimana Akihiko, Junpei, Yukari, Fuuka, dan Ruuki sudah menunggunya. Ya, mereka memiliki janji untuk berkumpul di atap sekolah setelah berhasil mengalahkan Nyx.

Begitu keluar dari aula, keenamnya disambut oleh Ken dan Koromaru. Lalu mereka menuju atap dan berharap Minato serta Aigis sudah ada disana. Benar juga, keduanya sudah menunggu mereka. Minato tertidur di pangkuan Aigis. Sedangkan Aigis…ia menangis.

"Ada apa Aigis? Kenapa dia…tertidur…?" tanya Ruuki, yang mungkin sebenarnya sudah tahu jawabannya.

Aigis hanya tersenyum sambil terus menumpahkan air matanya.

.

.

Ruuki membuka matanya. Biru. Semuanya biru. Ia sadar, sekarang ia ditarik lagi oleh Igor ke Ruang Velvet. Sudah lama sejak kedatangannya di ruang itu. Kini Igor memperlihatkan 2 carik kertas di meja. Yang satu atas nama Arisato Minato, yang satu lagi atas nama dirinya –Misaki Ruu.

"Minato sudah menyelesaikan kontraknya, sekarang ia bisa tidur dengan tenang," ujar Igor. "Tetapi kontrakmu masih belum selesai. Di kertas yang kau tandatangani tertulis bahwa kau akan menyelesaikan 2 tugas yang tempatnya berbeda. Dua."

"Jadi, maksudmu aku harus pindah ke tempat lain sekarang?" tanya Ruuki.

"Tidak. Karena tugasmu yang di Iwatodai belum selesai. Malah, kau akan dihadapkan dengan petualangan yang baru, setelahnya kau baru akan pindah," jelas Elizabeth.

"Nah, itu dulu untuk saat ini. Kita akan bertemu lagi di lain waktu, sebab akan ada yang datang ke asramamu sebentar lagi," ujar Igor.

.

.

Ruuki membuka matanya lagi, kini ia ada di kamarnya. Sudah hampir sebulan sejak peristiwa meninggalnya Minato, dan Ruuki masih tinggal di asrama itu. Sebenarnya Mitsuru sudah memutuskan untuk menutup asrama Iwatodai karena toh, SEES sudah dibubarkan. Tidak ada lagi shadows, tidak perlu menggunakan persona, Tartarus lenyap. Mereka adalah remaja biasa 100%. Maka dari itu Mitsuru ingin adik-adik kelasnya pun tinggal di asrama yang biasa juga.

Ya, malam ini adalah malam terakhir yang akan mereka lewatkan bersama-sama di asrama Iwatodai –asrama yang amat sangat penuh dengan kenangan. Mitsuru sudah memesan sushi dan sashimi untuk perpisahan malam ini. Tetapi sepertinya yang berpesta hanya Mitsuru, Fuuka, Junpei, Ken, dan Koromaru. Yukari sedang sibuk dengan latihan klub memanahnya. Akihiko juga sibuk karena ia baru saja direkrut oleh seorang manajer klub tinju nasional. Sedangkan Ruuki? Gadis itu masih membutuhkan waktu untuk sendiri setelah membaca isi dari amplop hijau yang ia temukan di hari kelulusan Mitsuru. Isi surat itu ialah:

'Adikku, Ruuki.

Tepat setelah kau keluar dari kamar dan menuju ke Tartarus untuk melawan Nyx, aku langsung masuk ke kamarmu. Tidak, jangan tanya bagaimana. Aku masuk ke kamarmu hanya untuk menyelipkan surat ini.

Aku tahu kau mungkin membenciku. Yah, siapa sih yang tidak akan membenci kakaknya jika kakaknya seperti aku? Aku sudah memanipulasi ingatan adikku dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Tetapi aku punya alasan –alasan yang sama sekali tidak kuat.

Aku memanipulasi ingatanmu karena aku tidak mau kau terus bersedih mengenai kepergian Chidori yang tiba-tiba waktu kau kecil. Tetapi sepertinya kau dan gadis berambut merah itu memang sahabat sejati, sehingga kalian (aku memanipulasi ingatannya juga sebelum bergabung dengan Strega) perlahan bisa mengingat satu sama lain.

Saat rumah kita terbakar, aku ada di belakangmu. Sungguh, tetapi tanganku tidak mampu menggapaimu, entah kenapa. Suaraku tidak bisa keluar, tidak mau mematuhi otakku yang ingin memanggil namamu. Dan aku hanya bisa mendengar isakanmu yang memanggil ayah, ibu, dan aku. Sedih rasanya saat aku masih bernyawa, namun orang-orang menganggapku telah tiada. Tetapi aku sudah tidak apa-apa, yang ada apa-apanya justru kau. Aku terlalu khawatir terhadap dirimu.

Takaya merekrutku dalam Strega. Ia menjadikanku tangan kanannya. Lalu aku menemukan Chidori yang masih belum menemukan memori aslinya, kemudian mengajaknya bergabung. Dalam hati aku berjanji, bahwa aku akan setia pada Takaya dan melindungi Chidori layaknya dirimu.

Lalu aku menemukanmu di Iwatodai. Kulihat kau tersenyum, tertawa, dan bermain bersama dengan teman-temanmu. Pergi ke sekolah, berdoa di kuil, jalan-jalan di Paulownia Mall. Aku senang sekali hanya melihatmu seperti itu. Aku bahagia melihat adik perempuanku hidup normal. Namun aku salah, ternyata kau juga tidak bisa hidup sebagai gadis remaja yang normal. Ternyata kau harus mengemban tugas yang kurang lebih sama denganku. Bedanya, kita berada di sisi yang berlawanan.

Jangan pikir bahwa aku sudah tahu itu semua akan terjadi. Tidak, aku bukan cenayang, jadi aku tidak tahu bahwa kau akan tergabung dengan kelompok yang berlawanan dengan Strega. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau, aku harus tetap setiap pada Takaya. Hanya saja, aku sudah bersumpah untuk tidak akan pernah melancarkan serangan sekecil dan sedikit pun pada adikku.

Aku tahu kau ingin bicara empat mata denganku. Jangan khawatir, aku juga menginginkan hal yang sama. Tetapi aku ragu, karena sepertinya aku tidak akan selamat dari teman-temanmu. Walau begitu, aku akan berusaha untuk tetap bertahan, setidaknya sampai Nyx dikalahkan. Tapi apabila harapanku tidak dikabulkan, aku sudah memutuskan untuk memberikanmu personaku. Ya, aku akan menanamkan Personaku padamu, seperti saat ibu menanamkan Mazed Eyes dalam dirimu.

Ruuki, saat kau membaca surat ini, kuyakin kau pasti sudah menemukan potongan-potongan memori yang terhilang –tentang Chidori dan tentang persona (karena kutahu kau dan teman-temanmu akan lupa tentang persona saat sudah mengalahkan Nyx). Aku tidak tahu sudah berapa lama kau ingat, tetapi kutahu kau sudah ingat.

Baiklah, Takaya sudah memanggilku. Aku harus segera bersiap ke posisiku di Tartarus. Sebelum aku pergi, sebelum aku menyelesaikan surat ini, aku ingin kau tahu bahwa aku selalu menyayangimu, selalu memperhatikanmu, selalu melindungi dan membantumu dari belakang. Kau tidak percaya? Tanyakan pada yang namanya Sanada Akihiko itu. Dia yang paling tahu setelah Aragaki.

Dari kakakmu,
Shirato Jin
'

Ruuki melirik amplop hijau yang berisikan surat dari kakaknya itu yang ia letakkan di atas meja belajar. Ia menghela nafas berat lagi. Baru ia berusaha untuk tertidur lagi, tiba-tiba ia mendengar suara dentuman keras dari lantai satu. Dengan segera gadis berambut biru itu keluar dari kamarnya dan turun ke bawah.

Sesampainya di ruang tengah lantai satu, ia melihat seorang gadis berpakaian serba hitam dan mengenakan benda aneh di kepalanya sedang menyekik leher Ken. Sementara Mitsuru, Junpei, Koromaru, dan Fuuka sudah terjungkal. Ruangan itu kacau, meja patah, sofa rusak, semua tidak karuan.

Masih dengan kebingungan akan apa yang sedang terjadi, Ruuki melihat Aigis yang sudah ada disana kembali mencoba untuk mengeluarkan personanya. Cahaya putih berbentuk spiral ditambah deru angin terbentuk dari atas kepala Aigis. Dan yang Ruuki lihat selanjutnya bukan Pallas Athena yang merupakan persona Aigis, melainkan persona Minato yakni
Orpheus.

.

.

~TBC~

.

.

Yep, sekarang udah mulai masuk bagian The Answer di P3F!
Jangan komplen masalah surat Jin, soalnya Fei udah tau kalo itu amata sangat gaje cetar membahana! Tapi Fei sendiri bingung, kayaknya nyaris di semua fict Fei yang serius selalu ada surat-suratnya? Aih =="

Dan kali ini Fei ngetiknya via komputer, jadi typo nya gak akan separah waktu Fei ngetik via laptop… #dor

REVIEW!