Sp-Cs: IYA! Fei juga paling suka adegan itu! x'D
.
Disclaimer: ATLUS
Warning: OC berpotensi (besar) mary-sue, typo(s) bertebaran, (berusaha) mengikuti timeline P3F, (sangat) butuh review #dor.
.
.
~CHAPTER 11: "Now Here We Stand"~
.
.
Betapa terkejutnya SEES saat mereka sampai di asrama. Lantai asrama retak, seakan baru saja terjadi gempa. Retakan-retakan itu menimbulkan efek cahaya, seakan dibawahnya ada magma layaknya gunung berapi.
"Apa ini?!" pekik Junpei terkejut dna panik.
Tidak hanya Junpei yang panik, tetapi semua yang ada di tempat itu juga panik. Semuanya, kecuali Metis yang tanpa ekspresi.
.
.
SEES ditambah Metis berkumpul di lounge lantai satu. Perasaan panik, bingung, kesal, semuanya bercampur menjadi satu. Metis mengatakan bahwa sebentar lagi mereka akan bisa pulang. Setiap anggota SEES masing-masing memegang sebuah kunci. Kunci-kunci tersebut bisa digabung menjadi satu untuk membuka pintu utama asrama –agar mereka bisa 'pulang' dan bebas dari Abyss of Time.
Masalahnya ada satu. Kemana mereka akan pulang? Ke masa lalu? Ke masa depan? Atau ke masa dimana seharusnya berada? Yang mana? Dan SEES pun memikirkannya satu persatu. Setiap orang di tempat itu memikirkannya masak-masak.
Detik, menit, dan jam pun berlalu tanpa ada yang mengeluarkan sepatahkata pun. Bosan dengan keheningan yang tercipta, Yukari akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Aigis," panggil Yukari. "Kau adalah pemimpin disini, menggantikan dia. Menurutmu, kita harus pulang kemasa yang mana?"
"Ng…aku tidak tahu, Yukari-san…" jawab Aigis yang masih bingung. Yah, Fuuka hanya berharap agar Aigis tidak overheat saat ini.
"Aku ingin pulang ke masa lalu," kata Yukari. "Aku ingin bertemu dengan Minato-kun!"
"Ap-apa?! Berarti kita akan harus melawan Nyx lagi! Bagaimana jika kita malah kalah?!" sergah Junpei yang terkejut akan pernyataan Yukari.
"Kita tidak akan kalah. Toh, beberapa bulan lalu kita menang, kan?" balas Yukari.
"Aku akan ikut dengan Yukari," ujar Mitsuru.
Akihiko terkejut akan pernyataan Mitsuru. Ya, tentu saja. Di ruangan itu, Akihiko adalah orang yang mengenal Mitsuru paling lama. Dan pemuda itu tidak menyangka kalau seorang Kirijo Mitsuru akan sependapat dengan pernyataan Yukari tadi.
"Aku tidak ingin melihat ke belakang lagi," kini Ken yang membuka suara, dan mata semua orang tertuju kepada si anggota yang termuda di SEES. "Yang sudah berlalu, ya biarlah berlalu. Kita tidak boleh terus melihat ke belakang. Kita harus menatap ke masa depan."
"Ya, kuyakin jika Shinji ada disini, ia akan sependapat dengan Ken –seperti aku," ujar Akihiko.
Fuuka menjadi tegang dan panik sendiri. Gadis yang pendiam itu kebingungan melihat teman-temannya berselisih pendapat. Ia sedih melihat teman-temannya, terutama Yukari dan Junpei yang sepertinya kesal satu sama lain.
"Aigis," kali ini Ruuki yang memanggil. "Aku akan ikut denganmu."
"Apa? Kenapa? Dia kan tidak tahu akan kemana!" kata Akihiko.
"Aigis adalah pemimpin disini, bukan? Maka dari itu aku akan ikut dia kemanapun ia pergi," jawab Ruuki.
"Kalau kalian berbeda-beda pendapat seperti ini…berarti kita tidak ada cara lain…" ujar Metis.
Metis turun ke bawah asrama, dan SEES pun mengikutinya. Robot berpakaian hitam itu membawa mereka masuk ke sebuah pintu yang pernah diklaimnya sebagai pintu terakhir. Ternyata didalamnya bukan dungeon layaknya Tartarus maupun altar seperti yang sudah-sudah. Pintu yang terakhir ini membawa mereka kepada sebuah arena pertarungan. SEES langsung paham. Mereka harus bertarung –dan yang menang nantinya akan menentukan kemana mereka akan pulang.
"Ng, kupikir seharusnya kita bisa membicarakan ini dan mendiskusikannya baik-baik…" kata Fuuka gugup.
"Kita sudah selesai membicarakannya. Dan ini adalah solusi dari yang kita bicarakan," kata Akihiko. "Kau harus bergabung dengan kelompok Aigis, Fuuka, dia adalah pemimpin."
Dan jadilah demikian. Kini SEES terpecah-pecah. Yukari dan Mitsuru yang ingin pulang ke masa lalu agar mereka mungkin bisa menyelamatkan Minato, Akihiko dan Ken yang ingin pulang ke masa depan agar mereka tidak perlu melirik masa lalu yang menyedihkan, Junpei yang ditemani Koromaru yang ingin pulang ke masa mereka yang seharusnya. Terakhir adalah kelompok yang dipimpin Aigis, yakni Ruuki, Metis, dan Fuuka.
Pertarungan pertama adalah kelompok Aigis melawan Akihiko dan Ken. Ini kurang menguntungkan bagi Aigis dan Ruuki yang keduanya memiliki kelemahan terhadap elemen listrik –sekalipun mereka memegang wild card. Yah, untunglah mereka masih memiliki Metis yang bisa sedikit melemahkan kekuatan Akihiko, dan Ruuki bisa menggunakan elemen 'darkness' yang merupakan kelemahan Ken.
Sampai suatu ketika Akihiko dan Ken kehabisan tenaga. Keduanya tersengal-sengal. Tetapi sebenarnya bukan hanya mereka berdua, karena lawan mereka pun sama. Duo elemen listrik itu mengakui kekalahan mereka, lalu memberikan kunci mereka masing-masing pada Aigis. Yang mengejutkan adalah, keduanya berubah menjadi bola api dan terbang ke perapian yang adad di atas dinding arena pertarungan.
Metis menjelaskan bahwa itu akan terjadi kepada siapa pun yang kalah dalam pertarungan. Dan Ruuki sangat tidak menyukai ini.
"Metis…kau tahu ini akan terjadi cepat atau lambat, bukan?" tanya Ruuki.
"Tahu bahwa kita akan menang? Tentu saja, Aigis nee-chan kan bersama kita," jawab Metis.
"Bukan itu. Tetapi tentang kita harus bertarung melawan teman kita sendiri!" seru Ruuki. "Aku bahkan tidak percaya bahwa kita baru saja akan nyaris membunuh Akihiko senpai! Dan juga Ken!"
"Ruuki-san, kau harus menenangkan dirimu…" ujar Aigis.
"Bagaimana caranya?! Kau tidak mengerti, Aigis, kau tidak akan bisa mengerti! Kau hanya robot yang tidak akan bisa mengerti perasaan dan air mata manusia!"
Cukup sudah. Kini air mata gadis berambut biru itu tidak dapat lagi menahan tangisnya. Tetes demi tetes air matanya mulai mengucur turun ke pipinya. Lalu gadis itu keluar dari ruangan itu, pergi ke asrama seorang diri. Samar-samar, ia mendengar Fuuka yang memanggil gadis itu, lalu ia juga mendengar Aigis yang berkata,
"Jangan lagi panggil aku kakak, Metis."
.
.
Ruuki merebahkan dirinya di tempat tidur. Dari arena pertarungan, ia langsung mengurung diri di kamarnya. Perasaannya campur aduk, rasanya kurang lebih hampir sama seperti saat setelah kejadian rumahnya terbakar.
Kehidupan sosial gadis itu di dunia nyata dulunya nyaris nol. Sejak dulu dia memang sangat tidak pandai bergaul, bicara dengan orang lain hanya seperlunya, tidak akan angkat bicara kalau tidak ditanya atau disuruh. Tetapi semuanya berubah ketika dia masuk ke asrama ini. Oke, tidak berubah sepenuhnya, sih, tetapi tetap saja ia merasakan ada yang berubah dari dalam dirinya.
Walau pun asrama yang ia tempati ini terbentuk karena mereka adalah pengguna persona, tetapi orang-orang yang didalamnya sangat hangat –dan Ruuki tidak pernah menemukan orang-orang seperti mereka. Entah mereka bersikap hangat karena ia 'senasib' dengan mereka atau memang mereka orang baik. Intinya, Ruuki mendapatkan kehangatan yang berbeda di tempat ini.
Dan mungkin untuk pertama kalinya setelah Chidori, Ruuki memiliki teman. Gadis itu memiliki orang lain selain keluarganya yang bisa ia anggap sebagai orang-orang istimewa di dalam hidupnya. Astaga, dan untuk pertama kalinya, ia pun bisa merasakan cinta pertama! Oke, ini 'kemajuan' pesat. Tetapi ini bukanlah intinya.
Intinya adalah ketika ia sudah mendapatkan apa yang selama ini ia dambakan, yakni teman-teman, sekarang ia malah harus melawan mereka. Seakan semua yang pernah mereka lalui selama berbulan-bulan lalu hanya ada dalam mimpi, yang setelah ia terbangun dari tidurnya ia harus menghadapi fakta bahwa mereka adalah musuhnya.
Sebuah godaan besar yang menggiurkan tiba-tiba merasuki pikiran Ruuki. Mungkin tidak salah juga kalau ia kembali ke masa lalu. Selain ia bisa menyelamatkan Minato, ia juga bisa menyelamatkan kakaknya dan bahkan orangtuanya. Ya, tepat seperti kata Yukari.
Lalu, tiba-tiba pandangan mata Ruuki menangkap sosok anak laki-laki kecil berkulit putih pucat dan mengenakan pakaian bergaris hitam-putih, seperti tahanan penjara. Wajah yang sangat tidak asing bagi Ruuki. Dan sosok itu bahkan seharusnya tidak ada lagi disana.
"Halo, Ruuki-chan, kita bertemu lagi," sapa anak laki-laki itu.
"Pharos…kenapa kau…?"
"Aku memang selalu bersamamu, ingat?" tanya Pharos. "Ruuki-chan, kau tidak boleh bimbang. Minato-kun juga tidak bimbang, lho."
"Minato-kun?"
"Saat masing-masing dari kalian berpikir untuk membunuhku atau tidak waktu itu, Minato-kun menurutku adalah satu-satunya yang dengan tegas berpikir untuk tidak membunuhku, lalu ia tidak pernah mengganti atau menyesali pilihan itu.
"Bukankah kau sendiri yang berkata bahwa Aigis adalah pemimpinmu, maka dari itu kau ingin mengikutinya? Jika kau berpikir untuk pergi ke masa lalu untuk mengubah apa yang terjadi, berarti kau telah menyesali pilihan utamamu.
"Dan lagi menurutku, sekalipun kalian pergi ke masa lalu, kalian tidak akan bisa mengubah apa pun. Kuyakin nantinya saat ini akan datang juga, dan pada akhirnya kejadian ini akan berputar terus dan berulang-ulang," jelas Pharos.
"Maksudmu…"
"Ya, kita tidak bisa mengubah apa yang terjadi di masa lalu, tetapi kita bisa bekerja keras untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik," kata Pharos. "Nah, Ruuki-chan, apa yang ingin kau lakukan sekarang?"
.
.
Ruuki membuka matanya. Nuansa warna biru ada di sekitarnya. Ia sedang ada di dalam sebuah lift. Ini bukanlah elevator biasa. Ini adalah Ruang Velvet. Igor dan Elizabeth terlihat sudah menunggunya membuka mata.
Tunggu, bukankah tadi di kamar ia bersama Pharos? Apakah itu hanya mimpi?
"Selamat datang di Ruang Velvet," sapa Elizabeth seperti biasa.
"Sepertinya kau sedang menghadapi satu hari yang sangat berat," ujar Igor dengan senyum khasnya. "Tetapi jangan khawatir, semuanya akan segera berakhir disaat yang sudah ditentukan. Dan jika kau terbebas dari masalahmu hari ini, maka misimu di Port Island sudah selesai. Kau senang?"
"Hei, bolehkah kutanya sesuatu?" tanya Ruuki. "Ini adalah pertanyaan yang sebenarnya ingin kutanyakan saat pertama aku dan Minato-kun bertemu denganmu: kenapa aku?"
"Tidak ada yang tahu tentang jawaban pertanyaan itu. Aku, Elizabeth, kakakmu, dan teman-temanmu pun tidak. Karena jawabannya hanya ada dalam dirimu," jawab Igor. "Nah, kau harus segera kembali ke duniamu, sebab ada seorang gadis yang memanggilmu."
.
.
Ruuki membuka matanya lagi. Kini ia ada di kamarnya sendiri, bukan di Ruang Velvet. Tidak ada Pharos, tidak ada Igor, maupun Elizabeth. Ia seorang diri di ruangan itu. Benar kata Igor, seseorang di luar kamarnya mengetuk pintu dan memanggil namanya.
Dibukanya pintu kamar, dan ditemuinya Fuuka yang bertampang sangat cemas. Setelah menyatakan bahwa dirinya tidak apa-apa, Ruuki turun ke lounge dan menemui Aigis.
"Aigis," kata Ruuki, membuat Aigis yang awalnya duduk sekarang berdiri. "Waktu itu, saat kubilang bahwa aku tidak pernah melihatmu berbeda dan sama saja seperti kami, aku serius. Kau bukan robot bagiku, Aigis, kau adalah teman yang berharga untukku. Kuyakin, yang lain pun akan berpikir demikian."
"Ruuki-san…terimakasih…!" ujar Aigis sambil tersenyum.
Lalu Ruuki, Aigis, Fuuka, dan Metis kembali ke arena pertarungan. Mereka lihat kini yang menjadi lawan mereka adalah Junpei dan Koromaru. Jika sebelumnya duo elemen listrik, sekarang duo elemen api. Dua sisi berimbang, karena di kelompok Aigis tidak ada yang memiliki kelemahan elemen api, sedangkan kelemahan Junpei hanya dipegang Metis, dan kelemahan Koromaru bisa diatasi dengan kekuatan wild card Ruuki dan Aigis.
Tidak butuh waktu lama sampai Aigis dan timnya berhasil 'membuat' Junpei dan Koromaru 'berubah' menjadi bola api seperti yang terjadi pada Akihiko dan Ken. Sangat disayangkan sebenarnya, baik menurut Ruuki maupun Fuuka. Bagaimana pun, sebenarnya Junpei dan Koromaru bahkan tidak ikut berselisih, ia hanya ingin memberitahukan konsekuensi pada setiap pilihan yang ada. Malah, jika tim yang terbentuk hanya tiga –jika tidak ada Aigis dan Metis-, Ruuki dan Fuuka pasti akan ikut dengan Junpei.
Tetapi sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu. Kini Aigis hanya perlu mengumpul dua buah kunci lagi. dua kunci yang tersisa, yakni milik Yukari dan Mitsuru. Namun, jika Aigis sudah berhasil mendapatkan kunci-kunci tersebut, apa yang akan dia lakukan? Jika Aigis akan membuka pintu asrama, kemana ia akan pulang? Ke masa lalu? Masa depankah? Atau kemana? Aigis belum bisa menetapkan jawabannya…
.
.
~TBC~
.
.
Eh, di chapter kemaren Fei lupa bilang. Kan di chapter kemaren banyak yang Fei skip, dan seharusnya yang bagian 'tayangan-tayangan' itu harusnya memang gak langsung sih. Jadi dari tayangan A gak langsung ke tayangan B dan selanjutnya. Tapi Fei terlalu males ngetik satu-satu, jadinya Fei skip abis-abisan deh…#ditampar
Chapter depan akan tamat! TAMAT! TAMAAA –*ditampar lagi*
REVIEW!
