Oke, ini adalah chapter terakhir!

.

Disclaimer: ATLUS

Warning: OC berpotensi (besar) mary-sue, typo(s) bertebaran, (berusaha) mengikuti timeline P3F, (sangat) butuh review #dor.

.

.

~CHAPTER 12: "Unafraid of the Future"~

.

.

Kini Aigis hanya perlu mengumpul dua buah kunci lagi. Dua kunci yang tersisa, yakni milik Yukari dan Mitsuru. Namun, jika Aigis sudah berhasil mendapatkan kunci-kunci tersebut, apa yang akan dia lakukan? Jika Aigis akan membuka pintu asrama, kemana ia akan pulang? Ke masa lalu? Masa depankah? Atau kemana? Aigis belum bisa menetapkan jawabannya…

.

.

Tanpa ingin beristirahat sejenak di asrama, Aigis, Metis, Ruuki, dan Fuuka tetap berada di arena pertarungan –menunggu kehadiran lawan terakhir mereka, yakni Mitsuru dan Yukari. Sebenarnya mereka mau saja beristirahat, sebab tenaga mereka sudah cukup terkuras saat berhadapan dengan Junpei dan Koromaru. Tetapi mengingat ini adalah langkah terakhir sebelum akhirnya mereka pulang, tenaga yang telah hilang itu seakan teragnti dengan semangat mereka. Ya, mereka ingin cepat-cepat pulang.

Kedua orang yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Mitsuru dan Yukari datang, sudah siap dengan evoker dan senjata masing-masing. Karena tidak ada juri maupun wasit yang dapat menengahi pertarungan atau menentukan kapan mulai dan berakhirnya pertarungan tersebut, Yukari langsung menyerang lawannya dengan skill garu.

Tindakan Yukari yang langsung menyerang dan langsung dilanjutkan oleh serangan milik Mitsuru tidaklah membuat Ruuki dan Fuuka terkejut. Hal itu terbilang wajar, malah. Ruuki dan Fuuka sangat tahu bahwa kedua lawan mereka yang terakhir ini adalah anggota SEES yang paling ambisius dan selalu memegang teguh pendiriannya. Mereka akan selalu berusaha untuk tetap mempertahankan apa yang mereka inginkan. Karena itulah, Yukari dan Mitsuru adalah lawan terberat.

Jika dua pertarungan sebelumnya Metis adalah 'senjata' yang berguna, kali ini ia tidak bisa menggunakan skill apapun kecuali kekuatan fisik. Yah, mau bagaimana lagi, elemental es dan angin masing-masing adalah kekuatan Mitsuru dan Yukari.

Sesuai perhitungan Fuuka, pertarungan ini berlangsung jauh lebih lama daripada saat melawan Akihiko-Ken dan Junpei-Koromaru. Tetapi pada akhirnya kedua gadis ini tumbang juga karena kelelahan. Dengan kata lain, kelompok Aigis menang.

Kini semua kunci ada pada Aigis. Teman-temannya yang berubah menjadi bola api –karena kalah bertarung- sudah berubah menjadi bentuk manusia lagi. Saatnya sudah tiba bagi mereka untuk pulang. Tetapi, kemanakah mereka akan pulang? Ke masa manakah Aigis akan membawa mereka?

"Serahkan kuncinya padaku, Aigis!" seru Yukari yang masih berusaha merebut kunci di tangan Aigis.

Yukari sepertinya masih tetap ingin kembali ke masa lalu, ia masih belum bisa menerima fakta bahwa Minato sudah tiada. Sebenarnya seluruh anggota SEES pun pasti merasakan hal yang sama, namun masing-masing dari mereka memiliki persepsi sendiri-sendiri. Khusus untuk Yukari, sambil meneteskan air matanya, gadis berambut coklat itu tetap bersikeras akan keinginannya.

Pada akhirnya Yukari lemah dan berlutut. Menangis tersedu-sedu sambil sesekali menggumamkan nama Minato. Mitsuru menghampiri adik kelasnya itu dan memeluknya. Keduanya menangis bersama.

"Aku juga ingin bertemu dengannya lagi, Yukari-san," ujar Ruuki pelan. "Tapi, menurutku ini bukanlah cara yang benar."

Kedua gadis yang berlutut itu kini berdiri, dan Ruuki langsung memeluk Yukari dan Mitsuru. Fuuka menangis. Akihiko dan Ken tanpa ekspresi. Junpei diam-diam menangis. Koromaru menggoyang-goyangkan ekornya. Aigis ingin ikut menangis, tetapi tidak bisa. Sedangkan Metis, ia tidak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba Yukari melepaskan pelukannya. Perlahan ia tersenyum, kemudian berkata,

"Ayo kita pulang, ke masa kita."

.

.

SEES berdiri di depan pintu. Aigis memegang kunci yang daritadi ia genggam, melirik teman-temannya sekali lagi, lalu memasukkan kunci tersebut ke dalam lubang kunci di pintu. Cahaya putih keluar dari pintu itu, dan SEES seakan tersedot ke dalamnya.

Seakan orang yang baru siuman dari pingsannya, Ruuki membuka matanya yang berat. Cahaya lampu biru agak menyilaukan matanya. Gadis itu sudah tidak asing lagi dengan ruangan serba biru tersebut. Ruang Velvet, ruang yang selalu ditempati oleh Igor dan Elizabeth sang asisten.

"Selamat datang di Ruang Velvet," ujar Igor.

Belum sempat mengucapkan sepatahkata, Ruuki sadar bahwa Igor tidak hanya memanggil ia seorang diri. Kursi yang berada di sebelah kursinya di tempati oleh Aigis yang ada dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dibelakang kursi Ruuki dan Aigis ada anggota SEES yang lain ditambah dengan Metis. Igor menyatakan bahwa SEES telah 'bebas' dari Abyss of Time, dan Aigis serta Metis sudah menyelesaikan tugas mereka. Lalu anggota SEES yang berdiri di belakang kini tahu 'rahasia' kekuatan wild card Minato, Ruuki, dan Aigis. Kini Igor beralih pada Ruuki.

"Tugasmu di Iwatodai akhirnya selesai," ujar Igor. "Sesuai dengan isi kontrak yang kau tandatangani, kau akan mendapatkan misi yang kedua."

"Tunggu dulu," kata Ken. "Kalau tugas Ruuki-san di Iwatodai sudah selesai, apa maksudnya ia akan…"

"Ya, dia akan pindah dari Iwatodai, pindah ke luar kota untuk melaksanakan tugas yang lain," kata Elizabeth.

"Dan kau sudah tahu tentang ini dari awal?" tanya Yukari pada Ruuki.

"Tidak juga," jawab Ruuki bimbang.

"Nah, sudah saatnya kalian pulang," kata Igor.

.

.

Saat SEES membuka mata, mereka sudah tidak ada di Ruang Velvet. Kini mereka ada di ruang tamu lantai satu asrama. Semuanya duduk di sofa. Semuanya, namun SEES tidak melihat adanya Metis. Mitsuru, Yukari, Akihiko, Ken, Junpei, Fuuka, dan Ruuki yang tersadar masing-masing melihat kalender di ponsel dan ada yang melihat keluar jendela, serta ada yang berusaha membuka pintu asrama. Sedang Koromaru yang menyibak-nyibakan ekornya menghampiri Aigis yang belum juga membuka matanya.

Tanggal 1 April. Mereka sudah tidak terjebak lagi di Abyss of Time. Sudah bukan tanggal 31 Maret, mereka sudah berhasil 'pulang'. SEES sungguh bersyukur. Tentu saja, siapa yang tidak akan bersyukur jika ada di posisi mereka?

Ken dan Fuuka menyadari ada sesuatu yang tidak biasa saat melihat Aigis. Koromaru masih duduk di depan Aigis yang tidak bergerak. Jangankan bergerak, membuka mata saja belum. Padahal seharusnya robot satu itu juga ikut membuka matanya saat mereka keluar dari Ruang Velvet.

SEES lalu bertanya-tanya. Apakah dengan tidak berfungsinya lagi Aigis itu telah menandakan 'tugas'nya sudah benar-benar selesai. Astaga, SEES yang sudah menganggap Aigis sebagai bagian dari mereka tentu tidak rela jika robot yang satu ini harus meninggalkan mereka. Memang, ia robot, tetapi ia juga teman dan sahabat mereka.

Junpei dan Akihiko bersama-sama mengangkat Aigis ke laboratorium, yang lainnya pun mengikuti. Sesampainya di laboratorium, Fuuka langsung memeriksa Aigis dengan laptopnya serta komputer dan beberapa peralatan lain yang ada disana. Tetapi hasilnya nihil, Aigis belum juga kembali sadar.

Tetapi seakan sedang merayakan hari April Mop, Aigis tiba-tiba membuka matanya secara perlahan. Dan dengan inosennya ia berkata bahwa daritadi ia tertidur. Sungguh, Aigis telah membuat SEES nyaris terserang penyakit jantung.

Saat itu adalah sekitar pukul satu subuh. SEES pun memutuskan untuk masuk ke kamar masing-masing dan tidur. Ya, ini akan menjadi tidur untuk terakhir kalinya bagi SEES di asrama Iwatodai, sebab nanti pagi mereka akan pergi ke asrama yang 'normal'.

Pukul enam pagi. Ruuki dibangunkan oleh suara meongan Serafina –kucingnya. Ya ampun, ia tidak pernah bangun sesiang ini –biasanya ia bangun tidur paling lambat pukul lima. Gadis berambut biru itu bergegas mandi dan berpakaian, lalu mengecek sekali barang-barangnya yang ada dalam tas dan koper. Sip, semua sudah lengkap, maka ia pun turun ke lantai satu.

Saat Ruuki sampai di lantai satu, teman-temannya sudah ada disana, dikurang Aigis. Sepertinya Aigis masih ingin menatap 'kamar'nya sebentar lagi. Maka SEES pun menunggu di ruang tamu dalam keheningan.

"Jadi…Mitsuru senpai akan pergi kuliah ke luar negeri?" tanya Ken mencoba memcah keheningan.

"Ya," jawab Mitsuru singkat. "Kau sudah memutuskan akan pindah ke asrama mana, Ken?"

"Yep," jawab Ken sambil menganggukan kepalanya dengan mantap.

"Bagaimana dengan kalian, Yukari-san? Junpei-san? Fuuka-san?" tanya Ruuki.

"Aku sudah dapat tempat tinggal baru," kata Junpei. "Dan aku akan bawa Koromaru. Jadi kalau kalian kangen dia, tinggal datang ke tempatku!"

"Hm, sepertinya aku akan tinggal di rumah saja. Tadi ibuku menelepon dan meminta agar aku pulang," jawab Fuuka sambil tersenyum.

"Aku akan kembali ke asrama yang dulu, mungkin," jawab Yukari. "Kau sendiri bagaimana, Ruuki?"

"Aku mau pulang ke rumahku dulu," jawab Ruuki.

"Hah? Kamu tidak langsung ke tempat misimu yang baru?" tanya Akihiko.

"Tidak. Sekolahku yang ada di kota itu tidak memperbolehkan anak yang baru mau berumur 17 tahun untuk langsung ke kelas 12. Mereka ingin murid-muridnya masuk ke kelas yang sesuai dengan usianya," jawab Ruuki.

"Lho? Bukannya kau 18 tahun? Sama sepertiku, Fuuka, dan Yuka-tan?" tanya Junpei bingung.

"Tidak," jawab Ruuki sambil menggeleng. "Sebenarnya aku terlalu cepat masuk sekolah, umur 5 tahun sudah masuk SD. Jadi seharusnya aku baru masuk kelas 11."

"Astaga, pantas saja kau selalu memanggil kami –aku, Junpei, dan Fuuka- dengan formil…" ujar Yukari.

Tiba-tiba Aigis datang menghampiri mereka. Sepertinya ia sudah siap untuk 'dipulangkan' ke laboratorium yang ada di perusahaan Kirijo. Ya, karena tugasnya sudah selesai, maka Aigis tidak perlu pergi ke sekolah lagi, ia cukup duduk diam di lab dan menunggu jika kalau ada misi yang baru. Aigis, sambil menunduk ia berkata dengan pelan,

"Jika boleh, aku ingin tetap bersekolah. Apakah aku sudah terlambat?" tanyanya.

SEES duduk terdiam. Tidak ada yang berkata-kata. Semuanya terkejut akan perkataan Aigis.

"Tentu saja kau boleh tetap sekolah jika itu maumu," ujar Mitsuru sambil tersenyum.

"Dan kupikir kau akan memerlukan teman untuk tinggal di asrama, aku bersedia menemanimu," tawar Yukari, menyunggingkan senyumnya.

Lalu SEES mendengar suara klakson mobil yang ada di luar asrama. Sepertinya supir keluarga Mitsuru sudah datang. Ya, Mitsuru meminta supirnya untuk datang agar bisa mengantarnya dan teman-temannya.

Satu-persatu SEES keluar dari asrama. Mereka menatap asrama Iwatodai untuk terakhir kalinya. Potongan-potongan memori selama mereka tinggal ditempat itu terbayang dalam benak mereka. Sambil mengucapkan selamat tinggal dalam hati untuk asrama itu, mereka masuk ke dalam limosin yang telah menunggu.

"Selamat tinggal asrama Iwatodai. Dan sampai jumpa lagi…SEES…"

.

.

TAMAT

(Ada EPILOG di chapter depan!)

.

.

Akhirnya selesai! Tapi masih ada epilognya nanti. Hehe. Btw, gak ada yang penasaran nih, siapa yang Ruuki suka? #ditendang

REVIEW!