Kamar 270 di hari itu sama seperti kamar-kamar lainnya di lorong, sepi seperti tak berpenghuni. Hari libur, terutama hari minggu memang dijadikan ajang bagi mahasiswa untuk bepergian entah ke tempat-tempat olahraga, mall, jalan dengan teman atau pacar, acara organisasi atau bahkan seminar. Hanya beberapa yang tetap di kamar, itu pun tidak membuat kesan tak berpenghuni hilang karena mereka menghabiskan waktu dengan tidur seharian.
Kesan sepi di lorong harus hilang untuk sementara karena seseorang mahasiswa Inggris yang diramalkan akan menjadi ketua BEM angkatan, Arthur Kirkland, membuka pintu kamar agak keras. Tanpa berlama-lama berada di dalam situ, dia cepat mengambil alat-alat mandi dan –rupanya- kembali menutup pintu agak keras. Dia cepat 'menyegarkan' dirinya di kamar mandi, dan melewatkan kehadiran Livio yang tadi mengejarnya sekarang berada di kamar.
Melihat tidak adanya perlengkapan mandi Arthur, Livio langsung tahu di mana Arthur sekarang. Dia pun tidak menyusul untuk mandi, tetapi dia berputar-putar, mengatur napasnya, lalu membuka jendela kamar. Sinar matahari yang menyilaukan membuktikan bahwa waktu sudah agak siang. Livio mengambil kursi Antonio yang berada di depan jendela tersebut, yang juga berada di samping kursi Arthur. Dia tidak merasa lelah. Keringat yang melekat di tubuhnya tidak dianggapnya sebagai sesuatu yang tidak nyaman. Karena apa yang telah terjadi sepanjang pagi tidak membuatnya menyesal sekalipun. Senyum yang terhias di wajah Rose terus melekat di benaknya.
Tak seperti Arthur, Livio merasa dia harus berterimakasih kepada Antonio. Untuk melihat Rose saja dia sudah gembira, apalagi hari ini. Tak hanya melihat, tetapi berbincang-bincang, tertawa-tawa sambil berolahraga bersama. Livio tidak suka aktivitas berkeringat, tetapi dengan kehadiran Rose, dia sanggup melakukan apa saja yang dia tidak sukai.
Cukup jelas sekarang bahwa Rose adalah orang yang disukainya. Mahasiswi dari Inggris itu tak hanya cantik dan pintar, tetapi dia ramah dan baik hati. Tidak seperti perempuan-perempuan yang dikenal Livio selama ini yang egois dan hanya mengutamakan penampilan.
Seperti namanya, Rose adalah mawar pertama yang berkembang di hatinya. Mengapa Antonio tahu akan hal ini masih sebuah pertanyaan. Livio bukanlah orang yang suka bercerita, apalagi tentang cinta. Memang dia telah mengatakan beberapa hal kepada Antonio, tetapi dia yakin itu tidak menjelaskan bahwa dia menyukai Rose. Apakah karena dia memang orang yang mudah ditebak? Dia tidak tahu jawabannya, tetapi mungkin Arthur tahu.
Pintu kamar terbuka. Livio cepat menoleh pada pintu yang terletak di belakangnya. Terlihat Arthur yang setelah mandi, sibuk mengeringkan rambutnya yang pirang.
Setelah semua hal itu, Livio tak tahu harus berkata seperti apa untuk pertama kalinya kepada Arthur. Karena tidak mempunyai pikiran lain, dia pun bersikap natural dengan tersenyum.
Arthur memandangnya untuk sesaat.
Livio berusaha untuk tidak kaku dengan beranjak dari kursi tersebut.
"Kau tidak mandi?" tanya Arthur akhirnya, dia membuka pintu lemarinya. "Seharusnya kau lakukan itu, nanti kulitmu iritasi,"
Livio cepat-cepat mengangguk. Dia tentunya ingat ketika kulitnya terkena iritasi dan gatal-gatal yang cukup buruk sehingga dia harus dibawa ke poliklinik, dengan diantar oleh Arthur, karenanya itu cukup memalukan. Memang air asrama tidak bisa dipercaya, dan kulitnya juga sangat sensitif.
Dia tidak ke kamar mandi seperti yang disarankan Arthur. Dia berdiri di tempat dan tampak seperti ingin mengatakan sesuatu.
Arthur menghiraukannya dengan mencari pakaian yang bersih.
"Uhmm.. Arthur.."
Arthur berhenti menggerakkan tangannya, bersiap mendengarkan apa yang akan dikatakan si pirang dari negara kecil dekat Jerman itu.
"Kau serius dengan perkataanmu pada Antonio tadi?" Livio bertanya, tetapi dia cepat-cepat menggeleng, "Ahh ya, kau tadi benar-benar serius. Tetapi kau harus tahu Arthur, bahwa Antonio hanya ingin membantu. Seharusnya kau menyatakan ketidaksukaanmu dengan cara yang lebih halus," akhirnya dia mengatakannya, dia merasa lega ya, dan dia berharap Arthur dapat mengerti apa yang dimaksudkannya. Menjadi penengah bukanlah pekerjaan yang mudah.
Arthur tidak langsung menjawab, dia mengambil pakaiannya lalu menutup dan mengunci lemarinya. Barulah ia menatap Livio. Tetapi tidak seperti apa yang diperkirakan Livio, tatapan Arthur halus dan tidak mengancam seperti yang diberikannya pada Antonio tadi. "Ya, aku tahu."
Mendengarnya, Livio langsung bergidik. Tidak, Arthur tidak mengerti.
"Aku sudah mencobanya sejak awal dia melakukan hal ini. Apa yang dilakukannya pagi ini bukanlah hal pertama," lanjut Arthur, "Aku sudah mencoba mengatakannya, memberinya tanda yang jelas bahwa aku tidak menginginkan itu. Tidak usah pedulikan aku. Dia seharusnya urusi saja urusannya sendiri, dia kan juga sudah punya Aiko, seharusnya dia lebih memusatkan perhatiannya pada gadis itu," dia terdengar yakin di awal, tetapi dalam kalimat terakhirnya terdengar keraguan, "Tetapi memang dasarnya dia orang bodoh. Dia kalau tidak aku gertak seperti tadi, dia tidak akan pernah menyadarinya."
Livio mendengarkan dengan saksama, dia lalu setuju dengan perkataannya itu. Tetapi, sebagai penengah dia seharusnya tidak.
"Karena itu, kau tidak usah memikirkan masalahku dengan Antonio. Bukankah kau mendapatkan waktu yang sangat menyenangkan? Bagaimana dengan Rose? Dia begitu cantik bukan?"
Belum Arthur menyudahi kalimatnya, kemerahan di pipi Livio sudah begitu terlihat. Ternyata! Dia memang orang yang mudah ditebak!
"Terimakasih sudah memberikan nasihat itu. Tetapi, cukup di sini ya. Tak usah kau pikirkan lagi," Arthur tertawa kecil sebelum mengakhiri percakapan.
(*********)
Livio terlalu baik. Padahal ini bukanlah urusannya. Arthur menghargainya. Tetapi tetap saja, Livio tidak mengerti. Ya, bagaimana bisa mengerti perasaan ketidaksukaannya setelah melakukan hal yang begitu menyenangkan. Sudah cukup lama Arthur tahu bahwa Livio menyukai Rose yang masih kerabat dekatnya. Dia menghabiskan waktu dengan gadis yang disukainya. Sementara Arthur, sepanjang pagi dihujani cerita dua gadis cerewet yang bahwasannya dia sangat tidak peduli apapun itu. Dari mana Antonio mendapat gadis-gadis itu? Dia tahu maksud Antonio merencanakan hal ini. Tetapi, Antonio sangat tidak melakukannya dengan baik. Gadis cerewet yang selalu mengatakan hal yang sia-sia bukanlah kriteria gadis yang disukainya. Antonio hanyalah mencari gadis dengan asal-asalan yang dia ketahui menyukai dirinya. Antonio sama sekali tidak menghargai dirinya.
"Kau mau ke mana?" tanya Livio ketika dia mengambil tas punggungnya.
"Ke perpustakaan," jawabnya, dan tanpa basa-basi lagi, membuka pintu lalu pergi.
(**********)
Beberapa menit kemudian, sekiranya 10 menit setelah Arthur meninggalkan kamar, Antonio akhirnya datang.
"Kalau kau menanyakan Arthur, dia berada di perpustakaan. Mungkin mengerjakan laporan," ujar Livio tanpa ditanya.
"Memangnya aku peduli," respon Antonio dengan dingin. Beberapa detik kemudian dia tahu bahwa sikapnya itu salah. Dia melihat Livio yang berdiri mematung, di tangannya terdapat peralatan mandi.
"Maaf," Antonio berkata lagi. "Dia kan bilang sendiri bahwa aku tidak usah peduli dengan urusannya. Ya sudah aku mengabulkannya. Aku tidak akan peduli. Biarlah dia melakukan apapun yang dia mau. Memang dasar dia orang yang terlalu sombong dan egois,"
Livio menelan ludahnya. Berusaha tidak terlihat kecewa. Perkataan "Maaf" tadi sepertinya tidak akan mudah dikeluarkan Antonio kepada Arthur. Dan orang Spanyol ini, dibandingkan Arthur, memang tidak dapat menahan ataupun mengatur emosinya. Ya, jelas sekali dia terlihat marah.
Livio tidak akan mencoba berdebat dengan Antonio. Sia-sia saja mengatakan sesuatu kepada mereka yang tidak dapat "mendinginkan kepala" dengan cepat. Tanpa berkata-kata lagi, dia meninggalkan kamar untuk mandi.
(********)
"Ketua BEM tampaknya sedang tidak dapat fokus,"
Arthur mengangkat alisnya, mengalihkan matanya dari buku. Dia sejak tadi tidak menyadari kehadiran Sofia di bangku di depannya.
"Calon" ketua BEM angkatan. Aku belum ditugaskan secara resmi," ujar Arthur mengoreksi, tetapi detik kemudian dia menyesal mengatakannya.
"Baiklah "calon ketua BEM angkatan" yang tampaknya sedang ada masalah."
Arthur mengembalikan pandangannya kepada buku, berharap dengan begitu mahasiswi Perancis itu dapat lenyap. Tentu saja itu tidak mungkin. Sofia akan terus berada di dekatnya kecuali dia sendiri yang meninggalkannya.
"Hmm? Tidak mengatakan apa-apa rupanya?"
Arthur menatapnya dari sudut matanya. Bertanya-tanya sejak kapan Sofia berada di situ. Dia merasa bodoh sekali membiarkan gadis itu memperhatikannya.
"Oke, biar kutebak. Kau merasa terbebani dengan tugasmu sebagai ketua BEM angkatan?" Sofia tertawa, memulai spekulasinya, "Bayangkan, ketua BEM angkatan dari mahasiswa Teknik Mesin yang setiap hari harus berhadapan dengan laporan! Aku yakin mereka semua tak akan memilihmu sebagai ketua BEM yang sesungguhnya* demi kebaikanmu!"
Arthur tak bergeming, pandangannya terus ke buku.
"Hmm? Bukan itu kah? Kalau begitu..." Mata Sofia yang keunguan berpendar ke sekeliling, pada rak-rak buku dan orang-orang yang mengunjungi perpustakaan pada hari minggu. Ah, dia bukan termasuk mahasiswa yang cinta perpustakaan, dia datang di hari itu hanya untuk menemani sepupunya. Dia bosan melihat rak buku yang tampak sama semua, kebosanan itu akhirnya hilang ketika dia melihat Arthur seorang diri. Arthur tampak kusut sekali. Dia dapat menebak dengan benar kalau Arthur berada dalam masalah karena ketika dia menghampiri, Arthur sama sekali tidak bergeming. Seperti tidak melihatnya. Ayolah, seberapa bencinya Arthur padanya, dia tak akan sekalipun menghiraukannya. "Kau frustasi karena kau akan menjadi ketua BEM angkatan tetapi kau tidak kunjung punya pacar?"
Arthur seperti tersedak, buku di tangannya berguncang.
Melihat reaksinya, Sofia tertawa. Dia menahan perutnya, tetapi tawa yang dia keluarkan tidaklah seperti tawa terbahak-bahak. Mereka kan di perpustakaan.
Arthur benar-benar kesal.
"Dengan sifatmu yang seperti itu, wajar kalau tak ada cewek yang berani mendekati mu. Jadi sabar ya,"
"Memangnya penting apa?"
"Huh?"
"Memangnya penting? Sebagai ketua BEM angkatan memangnya aku harus memiliki pacar? Sejak kapan seseorang dilihat dari kepunyaannya akan pasangan?"
Sofia mengedipkan matanya, menatap Arthur dengan bingung sebelum akhirnya tertawa kembali.
Arthur sangat kesal.
"Tuan alis tebal mulai dengan gayanya yang sombong!" kata Sofia masih dengan sisa tawanya. "Memang, itu bukan syarat seseorang menjadi ketua BEM. Akan tetapi, kalaupun kau tidak menyukai siapapun gadis di kampus ini karena /kesombonganmu/, kencani saja salah satu dari mereka. Banyak gadis yang menyukaimu, kau tinggal memilih! Kau tidak perlu mencurahkan hatimu pada siapapun itu. Gadis itu hanya mendapatkan status, tetapi bukan cintamu! Bagaimana?"
Arthur sangat tidak suka dengan ide itu.
"Ya, daripada kau dianggap aneh. Untuk orang sekejam kau rasanya tidak terlalu buruk melakukan itu."
Arthur tidak tahan lagi, dia beranjak dari kursinya, meninggalkan mahasiswi gila itu.
"Yaah dia pergi juga," Sofia menghela nafas, tidak berpikir untuk menyusul cowok itu. Membuatnya menjadi kesal memang sebuah hiburan baginya.
Lalu seseorang menepuk pundaknya. Orang itu adalah sepupunya. "Sudah selesai mencari bukunya? Ayolah kita pulang, tempat ini benar-benar membuatku depresi."
"Jangan begitu! Tempat ini tidak terlalu buruk kok!" sepupu berambut pirang itu menunjukkan buku yang telah ia dapat. Matanya yang kehijauan mencerminkan kepuasan.
Sofia menggeleng, dia beranjak dari tempat duduknya. "Ayo kita cari makan,"
(*********)
Arthur mendesah, melihat jam tangannya yang menunjukkan hampir waktu tutup perpustakaan. Dia kemudian melihat pekerjaannya. Laporan praktikum yang ditulis tangan itu belum dapat dikategorikan "hampir selesai". Walau dia sudah mencoba fokus dengan duduk di meja yang jauh dari tempat strategis, termasuk dari jangkauan Sofia, tetap saja dia tidak mengerjakannya dengan lancar. Perpustakaan hampir waktu tutup, mau tak mau dia harus kembali ke asrama.
Pukul lima dia sampai di kamar. Hanya mendapati Livio, bagus, dia senang tidak harus melihat si Spanyol dekil itu. Rupanya kesenangannya itu hanya berlangsung sementara, karena ketika melihat meja belajar, pada bagian meja Antonio, dia melihat benda itu. Tumpukan kertas yang berisi laporan yang telah lengkap. Ingin sekali dia menggeram dan melakukan apa saja untuk meluapkan rasa irinya. Ya, dia iri. Antonio yang bodoh selalu berhasil mengerjakan tugas lebih dulu daripadanya. Dan dia selalu mendapatkan nilai tinggi. Seperti tidak perlu melakukan kerja keras. Lalu apa maksudnya menaruh kertas itu di meja, seperti menunjukkan dengan sombong bahwa dia sudah selesai. Seperti mengatakan, "Hola calon ketua BEM angkatan, tugasku sudah selesai lho, silahkan salin. Tapi ingat bahwa aku lebih pintar dan rajin daripada kau." Tentu saja tidak, Arthur tidak akan lagi bertindak bodoh seperti menyalin. Selain karena dia akan menjadi ketua BEM angkatan, sejak tadi pagi rasanya dia akan jijik menyentuh apapun yang berkaitan dengan si Spanyol.
Setelah menaruh tas dan berganti pakaian, Arthur memutuskan untuk tidur sejenak. Fisik dan pikirannya sudah ditempa sejak pagi. Setelah bangun dia akan kembali mengerjakan laporan yang harus dikumpulkan besok.
Arthur terbangun secara otomatis pada pukul setengah tujuh. Setelah benar-benar terbangun, mood nya kembali jelek karena mengetahui akan siapa yang telah berada di (bagian) atas tempat tidurnya. Bukan lain adalah Antonio, dan dia sedang bertelepon. Arthur tahu dengan siapa dia bertelepon, karena sudah seminggu terakhir, setiap malam, si Spanyol itu melakukannya. Arthur tidak keberatan, benar-benar tidak keberatan. Tetapi semenjak dia tahu bahwa konversasi yang dilakukannya itu rata-rata tidak penting, dan tuhan dia melakukannya sepanjang malam. Memang tidak ada kaitannya dengan dirinya. Tetapi itu membuatnya kesal harus mendengarnya. Apalagi untuk malam itu. Arthur benar-benar merasa itu sudah cukup.
"Mau ke mana?" dia mendengar Livio bertanya.
"Ke kamar Alfonso, mengerjakan laporan," katanya sambil mengambil barang beserta alat tulisnya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia meninggalkan kamar, lalu menutup pintu agak keras.
Sampai larut malam, Arthur tidak kembali. Itu membuat Livio cemas. Sesibuk apapun aktivitas Arthur, dia pasti akan kembali sebelum pukul sebelas.
Livio menatap Antonio yang kini sedang berada di depan meja belajar, masih dengan telinganya ditutup oleh ponsel. Mungkin dia membutuhkan headset karena pembicaraan yang berjam-jam itu, tidak itu bukan permasalahannya. Antonio tampak tidak peduli. Dan sejak dia berada di kamar, tidak sekalipun menyinggung soal Arthur.
"Kau tidak tidur?"
Livio terkejut, Antonio rupanya tahu bahwa dia mengamatinya dari tempat tidurnya di atas. Dia cepat-cepat mengambil bukunya, menunjukkan bahwa dia masih belajar. "Sebentar lagi..."
"Kau kuliah pagi kan besok? Sekarang sudah hampir jam 12. Biasanya jam 10 kau sudah tidur," kata Antonio diliputi keheranan. Dia berkata kepada Livio, tetapi tangannya masih dengan ponsel.
"Iya benar. Tetapi tak apa, tak usah pedulikan aku," Livio tersenyum. Jarang sekali Antonio peduli dengan keadaannya. Livio menebak, mungkin karena Antonio terlalu heran. Dia memang tipe mahasiswa yang tidak pernah tidur larut apapun kondisinya.
"Kau khawatir dengan Arthur?"
Livio kembali terkejut. Antonio tahu juga. Dan akhirnya dia berbicara tentang Arthur!
"Dia mungkin memutuskan untuk menginap di kamar Alfonso,"
Livio menunduk, memikirkan spekulasi Antonio tersebut. Memang tidak ada salahnya menginap di kamar teman. Rata-rata teman selorong yang dia ketahui juga suka bertukar kamar.
"Jadi kau tak usah khawatir. Lebih baik kau tidur saja,"
Livio mulai membenarkan perkataan itu. Ya, Arthur mungkin menginap. Jadi dia sebaiknya tidur saja. Tetapi, ada satu hal yang mengganjal.
"Antonio, apakah kau masih kesal dengan Arthur?" dia menanyakannya dengan pelan, takut ternyata Antonio masih dan dia akan menyinggung perasaannya.
Entah karena dia terlalu kecil suaranya hingga tak sampai di telinga Antonio, atau karena dia sudah terlambat karena Antonio kini kembali berbincang dengan Aiko. Apapun alasannya, membuat lega Livio dalam satu sisi, tetapi di sisi lain dia tetap penasaran.
Dia akhirnya memutuskan untuk tidur.
Arthur dan Antonio itu teman dekat. Sejak pertama berkenalan dengan mereka, dia tahu mereka tidak dapat hidup tanpa yang satu. Ke mana-mana mereka selalu bersama. Walaupun suka berdebat, mereka selalu terlihat akrab. Sebagai teman yang sudah mengenal satu sama lain sejak lama, masalah seperti ini adalah masalah kecil. Pastinya keesokan hari mereka sudah dapat bertingkah seperti biasa. Atau menganggap hari ini tidak terjadi. Bukankah itu yang biasa kedua sahabat lakukan setelah bertikai?
(********)
Kepergian Arthur rupanya hanya untuk sementara karena pada pagi harinya, dia dibangunkan olehnya. Walaupun masih mengantuk karena tidur terlalu malam, dia senang Arthur tidak melupakannya. Arthur selalu peduli kepadanya.
Dia tersenyum melihat Antonio yang juga sudah bangun. Jadwal kuliah mereka di hari senin memang pagi. Kecuali Berwald, yang masih tertidur karena jadwalnya sore. Tiba-tiba dia mempunyai ide yang cemerlang.
"Ayo kita sarapan bareng!"
Seruannya membuat Arthur dan Antonio menghentikan apapun yang sedang mereka kerjakan.
"Ayolah! Arthur kau tidak ada laporan atau pertemuan BEM kan? Antonio juga tidak akan berangkat kuliah dengan Aiko kan?" Livio mengatakannya secara natural. Dia yakin mereka berdua akan setuju, dan mereka akan kembali berbaikan lagi. Mudah bukan?
Dia melihat Arthur mengangguk. "Baiklah, tapi aku harus menyiapkan bukuku dulu," dia melanjutkan memasukkan buku ke dalam tas.
Livio tersenyum senang. Dia lalu beralih kepada Antonio.
Si Spanyol melanjutkan menyisir rambutnya, "Aku tidak usah ikut ya? Kan kau hanya perlu Arthur."
Livio menggeram. Si Spanyol ini! "Aku mengajakmu karena kau temanku! Pokoknya kau harus ikut!"
(**********)
Pagi itu, Arthur dan Antonio memang dibuat keheranan. Selain ide Livio yang cukup "berani", melihat dia penuh semangat dan ekspresi adalah sesuatu hal yang jarang.
Arthur ikut karena dia merasa bersalah karena kali terakhir dialah yang membatalkan rencana. Antonio tidak merasa penting untuk ikut karena Arthur sudah bersedia. Lagipula dia dan Livio tidak terlalu dekat. Tetapi kenapa Livio memaksa?
Livio menghiraukan keheranan kedua temannya. Setelah siap mereka bersama-sama menuju kantin. Rencananya, dia akan berjalan cepat sehingga membiarkan kedua teman yang sedang berselisih itu dapat berjalan bersebelahan. Tetapi kenyataannya adalah hal yang cukup lucu sehingga dia harus menahan tawanya.
Setiap kali dia menambah kecepatan jalannya, Arthur dan Antonio yang berada di kedua sisinya ikut menambah kecepatan mereka. Ketika dia memperlambat jalannya, keduanya pun begitu. Alhasil, dia akan selalu berada di antara kedua teman itu. Livio heran, kenapa mereka berdua dapat bekerjasama untuk tidak melakukan kontak. Sejak pagi juga tidak ada sapaan ataupun candaan yang dilontarkan mereka berdua. Livio mengambil kesimpulan bahwa rupanya perang dingin belum berakhir. Tetapi tenang, dia mempunyai banyak cara.
Di kantin, Livio cepat memesan, dan dia cepat mengambil tempat duduk, yang sekiranya cukup cerdik.
"Lovino, apa kabar? Aku duduk di sini ya?"
Lovino yang duduk sendiri di sebuah meja menatap temannya dengan heran, sebelum akhirnya mengangguk. Alis matanya tersilang seperti biasanya.
"Liv, aku tidak yakin mereka mendengar pesananmu," Arthur berjalan mendekati meja itu. Kemudian matanya bertemu dengan Lovino. Dia berhenti berjalan.
Lovino juga terkejut, tidak menyangka akan bertemu dengan si alis tebal. Kalau dia bertemu dengannya, berarti dia juga akan bertemu dengan... Si bodoh penggila tomat. Benar saja, orang itu berjalan di belakang Arthur.
"Hello, Lovino. Lama tak jumpa," kata Arthur, mengambil kursi di sebelah Livio.
"Ya, dan di saat bertemu kau sudah menjadi ketua BEM," Lovino mengatakannya senormal mungkin. Dia memang lulusan satu SMA dengan Arthur. Waktu itu dia menjadi ketua OSIS, jadi tidak mungkin dia tidak mengambil jabatan sebagai ketua BEM. Walau dia tahu bahwa Arthur kini hanya sebagai ketua BEM angkatan, tidak akan heran kalau Arthur nantinya akan menjadi Presma.
"Kau juga, aku dengar dari Livio kau cukup aktif di koran kampus,"
"Dia hanya melebihkan. Masih magang,"
Arthur mengangguk.
Lovino melihat dari sudut matanya bahwa Antonio telah duduk di sebelahnya, tetapi tidak mengatakan apapun. Aneh.
Livio di lain pihak berusaha menyembunyikan senyumnya. Dia berhasil! Dia duduk berhadapan dengan Lovino di sebelah dinding. Antonio dan Arthur mau tak mau harus memilih apakah duduk di sebelahnya atau Lovino dan berakhir duduk secara berhadapan.
Tak lama makanan mereka datang.
Lovino yang telah makan terlebih dahulu, membuatnya dapat melihat situasi lebih jelas. 5 menit berlangsung, dan dia cepat mendapatkan kesimpulan. Kaku. Tidak ada satupun yang melontarkan pembicaraan. Livio seperti asyik menikmati makanannya. Lalu Arthur dan Antonio makan dengan lambat sekali, mereka tampak fokus sekali dengan makanan mereka.
"Mereka satu departemen bukan? Ada apa dengan mereka?" Lovino bertanya, ketika akhirnya dia hanya berdua dengan Livio. Antonio telah pergi terlebih dahulu tanpa alasan yang jelas. Arthur juga pergi tak lama setelah itu. Tetapi tanda-tandanya tidak menunjukkan bahwa dia pergi menyusul si Spanyol itu.
Livio setengah melemparkan peralatan makannya ke piring. Semangat dan keyakinan yang telah dibangun sejak pagi, kini rasanya tercerai-berai.
Lovino menaikkan alisnya. Menjelang 30 menit kuliah pertama, dia memutuskan untuk tinggal lebih lama. Bersiap mendengar apapun yang akan dikatakan si pirang yang tampak lemas itu.
[***********]
Preview chapter selanjutnya:
Jum'at di minggu itu, Arthur akan secara resmi ditugaskan menjadi ketua BEM angkatan. Kesibukan dan tugas-tugas baru pun harus dihadapinya. Dinamika kehidupan sebagai seorang mahasiswa semakin dirasakannya. Akan tetapi, apakah hal itu akan menutup dan membuatnya lupa akan masalahnya dengan Antonio? Dua gadis yang ditemuinya hari minggu itu rupanya hanyalah contoh dari sekian banyak gadis yang akan merepotkannya. Usulan dari Sofia mau tak mau harus dipertimbangkannya.
[************]
AN:
Semoga kalian suka chapter ini. Saya membuatnya nyicil di tengah belajar buat UTS /heh /bandel
*ketua BEM yang sesungguhnya = Presiden Mahasiswa. Karena Arthur dan yang lain adalah murid tahun pertama, maka dia hanya diperbolehkan menjadi ketua BEM angkatan. Hal ini hanya ada pada tahun pertama. Tahun kedua barulah dia dapat mencalonkan diri menjadi Presma. Di IPB (haduh IPB lagi) tahun pertama dianggap sebagai tahun bersama (TPB). BEM (dalam hal ini BEM TPB) melihat hal ini sebagai persiapan agar mahasiswa tahun pertama dapat mengayomi teman-teman tahun pertamanya, barulah dia dapat mengayomi seluruh mahasiswa (BEM KM).
