Telah tertera jelas dalam setiap kontrak perkuliahan bahwa ponsel serta alat komunikasi macam apapun dilarang digunakan ketika perkuliahan berlangsung. Beberapa dosen dan asisten praktikum mungkin meringankannya dengan menghimbau mahasiswa untuk "mendiamkan" ponsel mereka, tetapi beberapa yang lain dengan tegas menyuruh untuk "mematikan" ponsel tersebut. Walaupun begitu, memang dasarnya mahasiswa yang masih muda dan alay*, dalam perkuliahan dengan asyiknya mereka memainkan ponsel mereka. Mungkin tidak dalam berkomunikasi secara bertelepon, tetapi mengirim sms dan mengakses internet.

Arthur Kirkland tidak berbeda dengan mahasiswa lain. Awalnya dia memang "taat", tetapi seiring berjalannya waktu, dia tidak dapat mematikan ponselnya barang sedikit pun. Entah karena provider ponselnya, dia tidak dapat menerima beberapa pesan yang penting ketika dia mematikan benda tersebut. Padahal dia mahasiswa yang sibuk dan tidak dapat melewatkan informasi sedikit pun. Mungkin mahasiswa lain tidak ingin terputus komunikasi dengan pacar mereka walau kuliah sekalipun. Tetapi Arthur tidak. Kotak masuk ponselnya lebih penuh dengan jarkom, kakak kelas, dan orang-orang yang tidak berteman dengannya secara langsung. Semuanya berkaitan dengan organisasi yang dia ikuti. Hanya sedikit sekali dari orang yang dia kenal. Tetapi, di hari itu, hal itu menjadi pengecualian.

Ian Kirkland, kakaknya, tidak henti-hentinya menelepon selama kelas berlangsung. Ponsel Arthur yang telah diset silent pun terus bergetar. Dalam keadaan frustasi karena teman-teman hingga dosen merasa agak curiga, Arthur pun mematikan ponsel tersebut.

"Ada urusan apa hingga kau tidak bisa menungguku selesai kuliah?" tanya Arthur setelah kelas berakhir dan dia keluar dari ruangan. Dia tahu kakaknya lebih suka mengganggunya daripada menyampaikan pesan yang benar-benar penting.

"Hei, tidakkah kau rindu kakakmu? Terakhir kali kita ketemu saat masa perkenalan.. atau kau malah melupakan kakakmu?"

Arthur tentu saja ingat, ketika masa perkenalan kampus, kakaknya Ian adalah salah satu panitia. Dan daripada terlihat seperti kakak dan adik, Ian malah memanfaatkan hal itu sebagai ajang penyiksaan lebih kepada Arthur.

"Kalau kau rindu kau bisa datang ke asrama, mudah bukan? Tetapi kau tidak melakukannya karena kau tidak pantas sebagai kakak,"

"Ohh Artie! Kata-katamu itu menyakitkan, kau tau!"

"Kalau begitu cepat katakan apa yang mau kau sampaikan atau aku harus memblokir nomormu?" Arthur melihat dengan kesal teman-teman sekelasnya yang sudah tidak berada di sekitarnya. Dia yakin mereka semua sudah berjalan ke ruang laboratorium, atau bahkan sudah sampai di sana. Sampai kapan kakak berambut merahnya akan menahannya?

"Oke-oke Artie. Aku dengar kau akan menjadi ketua BEM angkatan. Pertanyaannya, apa yang kau rencanakan? Kukira kau akan memilih tempat yang tidak mencolok seperti DPM*? Hmm?" Ian bertanya dengan tidak sabar.

"Kata siapa? Lagipula Antonio sudah menjadi anggota DPM..."

"Aye? Kenapa kau tidak mau bersama dengan pacarmu itu?"

"Go die! Aku menjadi ketua BEM angkatan karena mempunyai satu tujuan. Kau dengar ini. Tujuanku adalah menjadi ketua BEM sesungguhnya. Jadi, bersiaplah untuk menjadi bawahanku?"

"Ohh tidak, aku takut," seru Ian, terdengar mengejek. Dia memang anggota BEM seperti Arthur. "Bagaimana kalau aku mendaftar jadi ketua BEM, biar kau rasakan nanti!"

"Ohh jadi kau mau bersaing denganku?" Arthur menyeringai. Persaingan antar saudara dan dilihat seluruh kampus? Terdengar menarik sekali baginya.

"Tidak, kau akan kalah sebelum kau mulai. Jadi, selamat menjalani hari-harimu sebagai ketua BEM angkatan, Artie!" tanpa berkata lagi, Ian memutus percakapan.

Suara dengung dari seberang sana membuat Arthur kembali kepada situasinya. Ahh ya, dia hampir terlambat menuju kelas praktikumnya.

(********)

"Kukira ada apa sehingga kau tidak bareng dengan Antonio tadi ke sini!" seru Oz setelah mendengar penjelasan Arthur tentang kakaknya menelepon.

"Omong-omong, di mana Antonio?" tanya Victor, matanya yang keunguan melihat ke sekeliling.

"Lah memangnya dia di mana?" tanya Mathias.

"Karena itu aku nanya, tadi aku melihatnya, tapi sekarang tidak."

"Tetapi tadi dia ada kan waktu praktikum?" tanya Oz. Victor hanya bisa menutup wajahnya dengan tangan, beginilah punya dua idiot di dalam kelompok.

"Kalau begitu kita kerjakan tugas tanpa dia," kata Kiku.

Arthur mengangguk, disusul Victor.

"Kalau begitu kita kerjakan tugasnya di kantin karena aku lapar!" seru Mathias lalu dengan cepat berjalan menyeret Oz.

(********)

"Kalau kau mengumpat-umpat begitu, berarti jelas sekali kalau kau bodoh dalam pelajaran ini!"

"Memang! Aku memang bodoh! Karena itu aku tidak peduli!"

Oz melihat gadisnya sedang berbincang-bincang dengan gadis lain tetapi wajahnya terlihat sedang kesulitan, karena itu dia memutuskan untuk menemuinya.

"Tentang matematika lagi kah? Ratna, bukankah kau menyukai uang? Anggap saja matematika seperti kau sedang menghitung uang!"

"Tidak semudah itu, anak manja!"

Victor dan yang lain hanya bisa memandangi mereka dari meja lain yang agak jauh. Mereka tidak dapat menghentikan Oz.

"Apa kita akan membiarkan Oz?" tanya mahasiswa dari Monako itu.

Kiku mengangguk, "Biarkan saja. Dia tinggal mengkopi,"

"Curang sekali," timpal Mathias dengan cepat.

Victor ingin meminta pendapat Arthur, tetapi Arthur sudah bertanya terlebih dahulu, "Siapa dia?"

"Hah?" Victor memandang dengan bingung.

"Gadis bersama Ratna, siapa dia?"

Victor terlihat semakin bingung, "Dia itu sepupunya Sofia. Kau tidak tahu? Kukira kau dekat dengan Sofia?"

Arthur menggeleng, "Aku tidak tahu."

"Terus? Kenapa kau bertanya tentang dia?"

"Tidak, bukan apa-apa."

"Kalau begitu kita kerjakan tugas," Kiku cepat menginterupsi.

(*********)

Arthur memasuki ruangan dengan senyum kecil tetapi diliputi rasa kebanggaan. Kemarin, dia telah resmi sebagai ketua BEM angkatan, lalu hari ini untuk pertama kalinya dia membuka rapat dalam masa jabatannya. Rapat yang diikuti para anggota BEM seangkatan yang bergerak dibawahnya. Memegang titel sebagai ketua BEM angkatan, berarti dia lah pemimpin dari semua mahasiswa seangkatan dengannya.

Sebagian besar anggota BEM angkatan terbaru adalah teman-temannya, termasuk Oz, Ratna dan Kiku. Sebagian yang lain yang dia kenal dalam organisasi itu juga telah menjadi temannya.

"Apakah kau yakin menunjuk Ratna sebagai bendahara kita?" Elizabetha, anggota dari Hungaria yang berkuliah di jurusan gizi.

"Kudengar ayahnya adalah seorang akuntan, dan aku tahu dia dapat mengatur uang dengan baik."

"Begitukah? Bagaimana kalau ada yang lebih baik dari dia?"

Arthur mengedipkan matanya yang hijau, "Misalnya kamu?"

"Ya! Mengapa kau tidak bertanya dulu, seperti "Siapa yang mau jadi bendahara?" tetapi kau malah langsung menunjuk dia!"

"Aku pikir kau lebih pantas menjadi komite disiplin. Kau tahu, seperti mendisiplinkan berandalan yang sering kau sebut-sebut itu, siapa dia? Ohh ya Gilbert!"

Mendengar nama dari albino Prussia, wajah Elizabetha terlihat memerah.

"Lagipula kalau bendahara harus dipilih seperti itu, berarti jabatan Roderich sebagai sekretaris harus diubah. Karena itu, tidak. Ada interupsi lagi?"

Elizabetha kembali duduk di kursinya. Para anggota BEM yang hadir juga tidak terlihat ingin berkata-kata.

"Kalau begitu kita teruskan. Karena aku sudah memutuskan Elizabetha sebagai ketua komite disiplin, maka kita akan meneruskan ke divisi-divisi selanjutnya..."

Dan rapat yang panjang itu kembali berlanjut.

(**********)

"Menurutmu apakah Arthur pernah menjadi ketua sebelumnya ya? Seperti ketua OSIS? Dia tampak seperti tak ada kendala... seperti hal memimpin ini mudah sekali," kata Ratna seusai rapat.

"Kudengar sih dia adalah ketua OSIS, dan dia juga mengetuai banyak organisasi-organisasi lain. Jadi ya, hal ini kecil baginya,"

"Sungguh? Berarti CV-nya berwarna-warni dong?"

Oz hanya bisa mengernyit akan perkataan pacarnya. Memang CV bisa berwarna-warni?

"Hei, kalian tidak merasa keberatan dengan hasil rapat tadi?" Roderich datang menghampiri mereka.

Oz dengan cepat menggeleng, "Aku menjadi ketua komite lingkungan hidup. Itu sangat sesuai denganku!"

Roderich mendesah lalu menggelengkan kepalanya, "Kau memang menjadi ketua komite lingkungan hidup. Tetapi ingat lagi tugasmu. Kau harus menjadikan semua UKM* yang berkaitan dengan lingkungan hidup mau dibawahi olehmu,"

"Bukankah itu mudah? Lagipula Ratna juga akan membantuku!"

Ratna tersenyum, memperlihatkan giginya, "Tentu saja!"

Roderich hanya bisa menggelengkan kepala. Tetapi dalam hati dia bersyukur, sepertinya awal kepemimpinan Arthur disukai oleh semuanya. Ya kecuali hanya hal-hal kecil seperti sanggahan Elizabetha tadi.

"Roddy, kau tidak mau pulang hah?" seru Elizabetha yang telah berdiri di dekat pintu ke luar gedung.

"Sebentar sebentar..." sebelum Roderich dapat berjalan menyusul, Arthur datang menghampiri mereka.

"Kalian masih di sini? Sudah jam segini loh, nanti kena jam malam"

"Cie, mentang-mentang sudah menjadi ketua, tidak bakal kena jam malam!" seru Ratna sembari meninju pundak Arthur sedikit.

"Kalau begitu kita barang ketua saja biar tidak kena jam malam!"

Arthur menggerakkan tangannya kepada Oz, "Tidak, kalian duluan saja, aku harus membereskan sesuatu,"

"Membereskan sesuatu bagaimana? Ini sudah larut. Besok saja. Lagipula ruangan itu sudah resmi milik kita bukan?" Elizabetha kali ini bersuara, dia melihat Arthur dan sepertinya ketidaksabarannya dalam menunggu Roderich sudah hilang entah ke mana.

"Memang sih..."

"Eliza benar. Kau cepat bereskan ruangan itu atau apalah urusanmu itu, kita akan menunggu di sini. Ya kan, Elizabetha?"

Elizabetha cepat-cepat mengangguk. Perilakunya yang ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu seperti sudah hilang.

Arthur menatap keduanya dengan tidak percaya, juga pada Ratna dan Oz yang ikut setuju.

"Baiklah, terimakasih semuanya."

"Sama-sama ketua!" jawab mereka hampir bersamaan.

(*********)

Arthur sangat menyukai ini, jabatan sebagai ketua BEM angkatan tidak salah dipilihnya. Dengan visi dan misinya, dan anggota-anggota yang tak hanya reaktif tetapi kooperatif, dunia seperti telah menakdirkannya menjadi seperti ini. Arthur tidak bisa menghilangkan bayangan-bayangan menyenangkan ke depan, di mana dia harus mengatur jadwal organisasi dan kuliah, di mana dia akan sangat sibuk sampai membuatnya gila. Mungkin tidak sampai gila, tetapi dia sangat menyukai kehidupan seperti itu.

"Aku tidak percaya ini!" terdengar Elizabetha berseru. Adapun setelah itu, semuanya berlari menyusulnya. Arthur yang masih bingung dengan apa yang terjadi, juga ikut berlari.

Di depan sebuah gerbang yang tertutup mereka berhenti.

Arthur memandang ke bawah, mengatur nafasnya, tetapi dia dapat mendengar apa yang dikatakan Elizabetha selanjutnya.

"Di jamku masih kurang 5 menit!"

Ohh akhirnya Arthur tahu. Mereka terkena "jam malam".

"Peraturan adalah peraturan," seru petugas yang menjaga gerbang tersebut. Gerbang itu menutup jalan satu-satunya menuju asrama. Tak hanya seorang petugas, tetapi beberapa orang menjaga gerbang itu. Mereka sebenarnya adalah mahasiswa seangkatan dengan mereka yang tergabung dalam gugus disiplin asrama. Sayangnya, Elizabetha bukan bagian dari mereka.

"Tetapi kita punya ketua BEM angkatan di sini," kali ini giliran Oz. "Kau lihat dia? Ayolah siapa tak kenal dia?"

Petugas itu menatap Arthur, tetapi tidak dengan pandangan hormat atau segan seperti kebanyakan mahasiswa lain. "Ketua atau bukan ketua, peraturan adalah peraturan."

Terlihat alis mata Oz yang tebal tersilang. Apakah setiap petugas disiplin asrama akan mengatakan hal itu berulang-ulang.

"Sekarang serahkan kartu mahasiswa kalian."

Ratna seperti akan memprotes, dia ahli dalam hal itu, tetapi sebelum dia dapat melakukannya, seseorang yang mereka kenal terlihat di hadapan mereka.

"Tidak usah kau lakukan itu, mereka teman-temanku."

"Tetapi Antonio, peraturannya..."

Antonio, mahasiswa dari Spanyol itu terlihat berbeda dengan seragam yang dipakainya. "Aku tahu, aku saja yang akan mengatasi laporannya. Sekarang bebaskan mereka,"

Petugas lain tampak ragu untuk sementara, tetapi entah karena alasan apa mereka menyutujui. Padahal ini melanggar peraturan.

Gerbang terbuka, kelima orang itu pun masuk.

"Makasih, Antonio! Tidak sia-sia berteman denganmu!" seru Elizabetha sambil lalu.

Roderich memberikan senyuman.

"Mate, kebaikanmu akan kubalas nanti!" Oz memberikan tepukan di bahu.

"Aku tahu kau ini dapat diandalkan, Antonio!" seru Ratna tersenyum lebar.

Semuanya menyerukan rasa terimakasihnya, kecuali Arthur. Dia hanya berjalan, memalingkan mukanya. Semuanya tidak menyadari kejanggalan ini, kecuali Oz. Sebagai teman sekelas, dia menyadari perilaku aneh mereka hampir seminggu ini. Tidak ada salah lagi, bahwa sesuatu terjadi di antara mereka.

Tiga pasang alis dari tiga muka yang berbeda, tersilang malam itu.

[**********]

AN: maaf agak crappy. Bikin ini ketika lagi sedikit kelaparan. Biasalah, mahasiswa sedang mengirit. ;; Saya sudah selesai UTS nya, jadi mungkin bisa update sering lagi. Gimana UTS kalian juga? Lancar kan?

*muda dan alay= quote kakak kelas.. eh maksud saya kakak alumni

*UKM = Unit Kegiatan Mahasiswa . Kayak klub/ekstrakulikuler/organisasi yang ada di sekolah

*Jam malam= kalau tadi belum jelas, di asrama diterapkan jam malam yang berlaku pukul 9 malam. Jadi lewat dari itu akan disita kartu mahasiswa (KTM) dan diberi hukuman yang agak aneh. Yep, bahkan lewat semenit dari jam malam aja kena hukuman. Jamnya juga, harus sesuai dengan jam yang ada petugas, jadi gak bisa alasan kayak Elizabetha tadi ;3