Kemaren lupa dijelasin, DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) itu kayak DPK nya SMA. Kayak DPK di atas OSIS, DPM pun berada di atas BEM. Setelah DPM, di atasnya lagi adalah MPM (MPK).
[*********]
"Kamu kenapa? Sakit?"
"Gak, cuma mual,"
"Kok bisa? Udah minum obat?"
"Dari dua hari yang lalu, udah kok, tapi sekarang maunya istirahat aja,"
"Iya, banyakin istirahat ya,"
"Istirahat gimana? Tugas gak kunjung berhenti, laporan besok dikumpulin aku belum ngerjain sama sekali. Tugas buat acara KIA, IKMT, nyusun proposal, nyari dana, argh...*"
"Hehe.. tinggal diatur waktunya kan? Ohh ya, kamu tahu gak si Arthur itu, yang sekarang jadi ketua BEM angkatan kita. Dia juga ketua Lintas Mahasiswa, ketua organisasi negaranya juga, sama ketua lorong di asrama*. Lalu dia anggota klub debat, politik, dan ilmiah."
"Heh? Gak kebanyakan itu? Rata-rata temen-temen aku maksimal ikut 2 organisasi, bahkan banyak yang enggak."
"Aku juga cuman dua,"
"Dan udah kewalahan kayak gini. Nanti kalau dia tiba-tiba sakit gimana?"
"Iya sih. Tapi kalau dia sakit, memangnya kita bisa buat apa? Dia tidak kenal kita ini,"
"Jangan gitu dong! Dia kan ketua kita semua!"
"Haha... dosen udah dateng!"
Percakapan dua mahasiswi yang cukup keras itu, membuat Lovino yang duduk di belakang mereka menelan percakapan tersebut tanpa keinginannya. Akan tetapi, dia tidak menyesal. Sejak diterima sebagai anggota kru pers satu-satunya di universitas itu (walaupun masih magang), dia memang perlu menjadi peka dengan keadaan sekitarnya. Ya, termasuk keahlian menguping.
'Ketua kita semua' dia menimang perkataan mahasiswi tadi. Itu tidak benar, dia tahu. Walau Arthur adalah ketua BEM bukan berarti dia berkuasa di atas mahasiswa lain yang seangkatan dengannya. Sejak menjadi kru pers mahasiswa, Lovino tidak melihat kampus seperti mahasiswa lain melihat kampus. Wawasannya lebih luas. Dia melihat bagaimana kampus bukanlah 'kesatuan komponen' yang langgeng melainkan terpisah-pisah. Berbagai pihak tidak ingin disatukan. Banyak konflik dan masalah di antara mereka. Dunia perpolitikan kampus lebih rumit daripada dilihat dari kacamata mahasiswa biasa.
Lovino tahu dia tidak akan pernah menyesal bergabung dengan pers. Semuanya terlihat menarik dan berbeda di matanya. Dengan diangkatnya Arthur menjadi ketua BEM, dia tak sabar akan serangakaian kejadian atau apapun itu di kemudian hari. Apakah Arthur akan memiliki 'kinerja' yang memuaskan dan dapat meredam berbagai konflik. Atau malah akan menjadi semakin kacau? Walau hanya di lingkup satu angkatan. Lovino akan menanti semuanya, di balik kacamata pers nya ini.
(*************)
Sebelum mata kuliah kedua untuk hari itu, beberapa orang memakai almamater kampus, memasuki kelasnya. Mereka kemudian memperkenalkan diri sebagai anggota BEM angkatan terbaru. Lovino tersenyum, berarti mereka adalah bawahan dari Arthur Kirkland. Dia kenal salah satu dari mereka di depan kelas, yaitu Elizabetha Hedervary.
"Kami hanya ingin kalian mengisi opini ini. Tidak akan lama kok," Elizabetha berkata, teman-temannya mulai memberikan para penghuni kelas secarik kertas. "Isi dengan jujur, dan benar-benar dari opini kalian ya,"
Tak lama Lovino mendapat secarik keratas itu di atas mejanya. Dia membaca tinta yang tertera di kertas.
Seberapa banyak pengetahuan kalian akan BEM? Apa yang kalian inginkan dengan kinerja BEM angkatan baru? Apa harapan kalian untuk kampus?
Dia tidak langsung mengisi, melainkan melihat teman-temannya. Bagaimana reaksi mereka, apakah mereka dengan antusias mengisinya, atau bahkan tidak peduli. Setelah melihat sekeliling, Lovino tersenyum karena sudah dapat mengambil kesimpulan. Rata-rata dari mereka malah mengisinya dengan cepat sekali, seperti tidak memikirkannya dengan matang. Mereka mengisinya dengan asal-asalan.
"Apa yang kau tulis, Lovi?"
Dia mendengar Livio di sebelahnya yang bertanya kepadanya.
"Tidak yakin. Bagaimana denganmu, Liv?"
Livio, teman sekelasnya dan teman baiknya, menggelengkan kepalanya. Daripada teman-teman yang lain, Lovino dapat melihat bahwa Livio sangat ingin mencurahkan opininya tetapi dia kebingungan sehingga tidak tahu apa yang harus ditulis.
"Kalau kau tidak mau mengisinya ya tidak usah. Ini bukan suatu kewajiban bukan?"
"Aku tahu. Tapi teman baikku adalah ketua BEM angkatan. Kau ingat?"
Lovino mendesah tetapi tersenyum. Livio memang terlalu baik. Tak lama dia melihat temannya menggoreskan sesuatu di atas kertas. Dia pun mengikutinya. Sebagai anggota pers, tidak etis kalau dia termasuk pihak yang apatis.
(***********)
"Aku tidak mengerti apa maksud mereka mengirim selebaran itu," kata Jose, mahasiswa dari Mexico yang merupakan teman Lovino di koran kampus.
"Kata kakak kelas ini tidak pernah terjadi di angkatan sebelumnya! Mengesankan bukan?" seru Alfred. Dia menjabat sebagai fotografer di organisasi itu.
Mereka bertiga (dengan Lovino) sedang berjalan menuju sekretariat organisasi mereka untuk menghadiri pertemuan mingguan.
"Kukira kau cocok lho jadi ketua DPM angkatan,"
"Cocok dan juga menarik! Teman baikmu, si Arthur itu, kan ketua BEM angkatan. Bayangkan kalian berdua sama-sama ketua,"
"Jadi, kalian mendukungku hanya karena Arthur ketua BEM angkatan?"
Naluri pers mereka bertiga langsung muncul. Mereka memperlambat jalan mereka, dan –berusaha tidak terlihat- mencuri dengar percakapan tiga anggota DPM yang kini berjalan mendahului mereka. Di antara mereka adalah Antonio Fernandez Carriedo.
"Aku tidak tahu sih. Mungkin mustahil,"
"Kalau kau jadi ketua DPM aku tidak yakin persahabatanmu dengan ketua BEM angkatan beralis tebal itu akan langgeng,"
"Kecuali kau mendahulukan organisasi di atas persahabatan,"
Ketiga orang tersebut tertawa, dengan satu persatu memasuki ruang sekretarian DPM angkatan terbaru. Kebetulan ruang sekretariat itu bersebelahan dengan ruang sekretariat koran kampus.
Salah seorang di antara mereka sempat memberikan tatapan ketiga anggota pers itu dengan curiga. Menyadari hal itu, Lovino dan kawan-kawan cepat-cepat memasuki ruang sekretariat mereka.
(***********)
"Antonio menjadi ketua DPM angkatan, yang juga merupakan teman baik Arthur... itu akan menjadi peristiwa yang sangat menarik," Fatima tersenyum puas mendengar laporan ketiga anggota kru yang baru. Anggota yang lain mengangguk, dan wajah mereka tampak setuju dengan perkataan ketua redaksi itu.
"Tetapi kudengar dari sahabatku, bahwa mereka berdua sedang bertengkar," beber Lovino lagi.
Fatima mengangkat alisnya, kemudian tersenyum dengan bangga ke arah Lovino. Pandangannya memberikan pemuda itu pengertian bahwa dia akan cocok menjadi kru permanen. "Itu membuat hal ini menjadi lebih menarik,"
Lovino mengangguk-angguk. Dari sekian banyak konflik antara organisasi di kampus, yang paling terlihat dan 'panas' adalah diantara DPM dengan BEM. Walau sama-sama mengayomi mahasiswa, kedua organisasi itu tidak pernah akur. BEM yang selalu terlihat paling aktif, adalah wujud bahwa mereka hanyalah bawahan dari DPM. DPM yang selalu bekerja di 'balik meja' membuat organisasi ini tidak tampak sepopuler BEM.
Antonio adalah anggota DPM. Dari percakapan yang dicuri dengar tadi, Antonio kemungkinan akan menjadi ketua DPM angkatan. Secara tidak langsung dia akan menjadi 'saingan' Arthur di BEM. Kedua organisasi yang selalu bertikai ini akan membuat permasalahan bagi hubungan kedua sahabat itu. Apalagi mereka sendiri sedang bertikai. Hal ini akan berdampak bagi organisasi yang mereka ayomi. Apakah dengan mereka sebagai sahabat dan sama-sama sebagai ketua, akan membuat kedua organisasi tersebut makin berseteru. Atau bahkan tercipta kedamaian antara BEM dan DPM. Banyak kemungkinan, dan banyak peristiwa yang akan terjadi. Semua ini akan menjadi berita yang menarik.
"Kalian bertiga," Fatima menatap Lovino, Alfred, dan Jose satu-persatu. "Terutama Lovino. Aku ingin fokus berita kalian di antara BEM dan DPM, juga antara Antonio dan Arthur. Jangan takut mengusik kehidupan pribadi mereka. Kita adalah pers dan kita punya hak menulis berita di sini," Fatima tersenyum dengan penuh kebanggaan. Gadis berkerudung dari Pakistan ini menatap dengan penuh determinasi. Koran kampus yang dibawahinya ini, akan terus jadi pemantau apapun yang terjadi di kampus. Untuk BEM dan DPM yang selalu sewenang-wenang, mereka tidak boleh meremehkan kekuatan pers.
(**********)
"Kau tahu tidak isunya?"
"Apa?"
"Beberapa anggota BEM tadi menemui pihak pengelola asrama. Ada juga yang melihat mereka menemui GDA* di sekretariat mereka,"
"Kenapa mereka begitu?"
"Well, aku dengar mereka ingin mengubah peraturan,"
"Peraturan?"
"Jam malam asrama! Mereka ingin mengubah kebijakan itu. Mereka bahkan ingin pihak asrama meniadakannya!"
"Tidak mungkin!"
"Mungkin saja! Kau tahu kan beberapa hari yang lalu, ketua BEM angkatan yang baru itu dihukum karena melewati batas jam malam?"
"Iya aku tahu itu,"
"Kau ingat mereka memberikan selebaran untuk menulis opini? Aku yakin mereka tidak main-main untuk berpihak kepada kita. Peniadaan jam malam itu akan menjadi wujudnya!"
Lovino mencatat baik-baik percakapan dua mahasiswa yang duduk tak jauh dari mejanya di kantin.
Dia sungguh tidak tahu akan BEM ingin meniadakan jam malam. Apakah benar mereka akhirnya berpihak pada mahasiswa angkatan baru? Jam malam memang sangat menyusahkan. Apalagi buat mereka yang aktif di organisasi. Dia seringkali harus memotong diskusinya dengan kakak-kakak kelas di koran kampus hanya karena waktu hampir menuju jam malam. Jadi, tindakan BEM ini akan menguntungkannya juga.
Hal yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apa motifnya. Mengapa mereka berpihak kepada mahasiswa? Ada apa dengan angket-angket kemarin? Sebagai organisasi yang mengayomi mahasiswa, BEM lebih banyak berperan sebagai otoritas. Kebijakan-kebijakan mereka seringkali tidak menguntungkan mahasiswa. Lalu, ada apa dengan tindakan BEM sekarang? Apakah ini berkaitan dengan Arthur Kirkland? Sebagai pemimpin dari BEM, apakah ini wujudnya sebagai pemimpin yang baru, menciptakan kebijakan yang baru?
"Aku mendengar dari temanku. Memang benar kalau Arthur Kirkland ingin dengan kepemimpinannya, BEM menjadi lebih berpihak kepada mahasiswa," kata Gupta di suatu pertemuan informal di sekretariat koran kampus. Siapapun anggota kru yang merasa ingin berdiskusi, bebas melakukan di sekretariat yang dapat digunakan kapan saja.
"Kalau begitu bagus bukan? Kita tahu kita harus berpihak kepada siapa," kata Alfred dengan enteng.
"Tidak!" Lovino dengan tegas menyanggahnya. "Sebagai pers kita tidak boleh berpihak. Kita tetap menjadi orang ketiga. Kita akan melihat konsekuensinya. Aku yakin mereka akan ditentang. Tidak hanya DPM, tapi dengan BEM secara keseluruhan. Kepemimpinan Kirkland akan sangat diuji. Ini akan menjadi lebih menarik!"
Di saat yang sama, semua yang berada di ruangan itu tersenyum semakin lebar.
(**********)
Desas-desus bahwa jam malam akan ditiadakan sudah tersebar. Tidak hanya untuk mahasiswi di asrama putri, tetapi juga ke kakak kelas. Koran kampus dengan giat mencari informasi yang akurat untuk memberitakannya.
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, Lovi. Arthur dan Antonio belum akur-akur. Mereka bahkan semakin bertikai. Mereka kemarin adu mulut di kamar. Dan kau tahu? Itu karena jam malam sialan itu,"
Lovino terkejut. Dia tidak pernah mendengar sahabatnya Livio mengatakan sesuatu yang kasar seperti 'sialan'. Sahabatnya pasti sangat frustasi.
"Kau harus tenang. Aku mengenal mereka sejak SMA. Mereka selalu bertikai, tetapi mereka tetap bertahan sebagai sahabat!"
"Aku tidak yakin itu Lovino! Kemarin aku melihat mata mereka! Mereka kini membenci satu sama lain!"
Lovino terdiam. Dia tidak tahu apalagi yang harus ia katakan sebagai penenang sahabatnya. Sembari mengelus pundak sahabatnya, dia tidak kunjung berhenti berpikir. Dia yakin kedua orang itu semakin bertengkar karena yang satu adalah BEM, yang satu lagi adalah GDA. Antonio sebagai GDA pasti melindungi pihaknya. Kalau tidak ada jam malam berarti tugas GDA akan berkurang hampir sebagian. Yang berarti, mereka tidak dapat menindak sepuasnya mahasiswa yang terkena jam malam lagi. Peran Antonio sebagai DPM belum terlihat di sini. Tetapi tidak mengapa, walau ini tidak dapat dijadikan berita, keadaan sudah bertambah 'panas'.
[***********]
Preview chapter selanjutnya:
Tindakan nyata Arthur dalam masa kepemimpinannya pertama adalah dengan meniadakan jam malam. Rupanya hal ini banyak ditantang, oleh pihak pengelola asrama, pihak intern BEM dan DPM, bahkan sahabatnya sendiri, Antonio. Walau begitu, dia tidak akan mundur. Ada teman-teman BEM seangkatan yang memihaknya, juga saentaro mahasiswa pembenci jam malam. Mereka yang menentangnya kalah jumlah. Dia akan menang.
Dari segala peristiwa awal kepemimpinannya ini. Membuat Arthur benar-benar harus mengubah prioritasnya. Organisasi dan kepentingan mahasiswa nomor satu. Cinta dan ketiadaan pacar yang akhir-akhir ini suka diungkit-ungkit oleh teman-temannya benar-benar ia lupakan. Persahabatan, terutama persahabatannya dengan Antonio yang dia sadari semakin rentan, dia biarkan dan tidak ia perbaiki. Antonio yang merupakan anggota GDA dan DPM tidak akan pernah mempunyai pikiran yang sejalan dengannya. Dia mempersilahkan Antonio untuk berubah dari sahabat menjadi musuh.
Tetapi, apakah ini akan menjadi keputusan terbaiknya? Apakah semuanya akan berjalan sesuai yang ia inginkan?
[*******]
A/N: maaf telat banget updatenya! Saya udah mulai semester 2 lho ww
*GDA (Gugus Disiplin Asrama): mereka yang menghalang Arthur dkk di chapter sebelumnya. Mereka adalah mahasiswa yang sangat ditakutkan mahasiswa lainnya.
*keluhan mahasiswi ini sebenarnya diambil dari keluhan teman saya sendiri. Contoh tepat mewakili mahasiswa yang rata-rata memang punya kegiatan seabrek (termasuk saya orz)
*setiap lorong punya ketua lorong. Untuk asrama putra, disebut Pak RT. Yep, Arthur di lorongnya lebih dipanggil 'Pak RT' daripada 'Arthur'.
