A/N: terimakasih yang udah review dan favorit. Saya kira fic ini terlupakan dan gak bakal ada yang mau baca lagi T^T yah terimakasih karena itu ide-ide mengalir di kepala saya. Tergantung kesibukan, tetapi saya usahakan fic ini update seminggu sekali.
Untuk chapter ini agak spesial, karena ada karakter baru yang spesial.. siapa ya..
[*********]
"Aku yakin, Arthur! Kita dapat memenangkan ini! Minggu depan, kita tunjukkan bagaimana BEM kita, angkatan kita adalah yang terbaik!" seru Elizabetha menggebu-gebu.
"Kalau begitu kau sadar bagaimana pentingnya rapat untuk menyiapkan hari itu, bukan?"
Elizabetha tersenyum dan mengangguk, "Sebanyak apapun rapat yang kau gelar demi hari itu, akan aku ikuti,"
"Then I'll have your word,"
Elizabetha masih tersenyum-senyum, "Tenang saja, Arthur! Walau misalnya aku tidak berguna, masih ada anggota yang lain, Roderich, dan Ratna misalnya. Dan jangan lupa, seluruh mahasiswa angkatan kita mendukung!" gadis itu masih ingat dengan jelas bagaimana kemarin di ruang sekretariat. Mereka membaca hasil angket ke-2 yang mereka bagikan kepada mahasiswa. Yaitu tentang opini tindakan BEM menghilangkan jam malam. Mereka mendapat respon yang memuaskan. Sebagian besar mahasiswa menyambut positif dan mendukung. Bahkan beberapa bersedia bersuara dalam musyawarah terbuka antara pihak asrama, GDA, BEM angkatan dan KM*.
Elizabetha tak sabar hari di mana musyawarah itu diadakan. Dalam musyawarah itu akan diputuskan apakah pihak asrama akan mengabulkan keinginan organisasinya atau pada akhirnya menolaknya. Tetapi, dia tidak yakin semua ini berakhir dengan penolakan. Dengan dukungan lebih dari 3000 mahasiswa angkatan baru, lalu kepiawaian dan keagresifan Arthur, penolakan adalah mustahil.
Kepada Arthur, Elizabetha tak henti menyanjungnya. Arthur memiliki segala sifat yang diperlukan untuk pemimpin yang ideal. Mahasiswa dari Inggris itu tegas, agresif, bijaksana, peduli dan tidak pernah ragu-ragu. Dia pendengar yang baik, diwujudkan dari angket-angket yang disebarkan kemudian mengambil tindakan dari situ. Dia ingin merangkul seluruh mahasiswa yang menjadi cakupan kerjanya. Dia tidak egois dan tidak bersikap eksklusif. Dalam salah satu rapat dia pernah berkata bagaimana BEM yang dibawahinya bukanlah 'BEM' saja yang bertindak di atas mahasiswa. BEM haruslah mencerminkan mahasiswa dan memberikan manfaat bagi mereka. Jargon BEM sebagai 'penampung aspirasi mahasiswa', aspirasi benar-benar harus terwujud, tidak hanya sebagai 'penampung' saja. Dia visioner dan menginkan perubahan. Dia ingin menggunakan wewenangnya sebaik-baiknya. Tidak hanya duduk santai seperti kebanyakan ketua dan presiden mahasiswa.
Kepemimpinan Arthur yang begitu berbeda ini, mendapatkan banyak kecaman. Dan kecaman yang paling serius adalah dari BEM KM sendiri. BEM tersebut di atas mereka, dan tentu saja mereka merasa bertanggungjawab atas tindakan-tindakan Arthur. Mereka menganggap keputusan Arthur, terutama untuk menghilangkan jam malam itu benar-benar bodoh dan menyimpang. BEM merasa dipermalukan. Tindakan mereka untuk menghentikan Arthur adalah dengan mengirimkan surat peringatan. Tak hanya itu, kalau mereka bertemu dengan Arthur secara tidak sengaja, mereka menceramahinya habis-habisan. Terutama dengan kakaknya, Ian Kirkland. Kejadian tempo hari yang begitu menegangkan memang masih melekat di memori Elizabetha.
Di gedung sekretariat, Arthur ditemui langsung oleh kakaknya ketika sedang melintasi lobi. Ian Kirkland dalam BEM menjabat sebagai menteri Kebijakan Kampus. Wajar saja dia sangat murka terhadap adiknya karena kebijakan dalam asrama adalah salah satu cakupannya juga. Gedung sekretariat menjadi sangat heboh dengan kedua kakak-beradik tidak hentinya melayangkan argumen dan juga saling mencaci. Untungnya Presiden Mahasiswa sedang berada di tempat dan langsung menghalau mereka berdua. Adu jotos yang kemungkinan sekali akan terjadi, berkatnya menjadi tidak.
"Kau mau ke mana sehabis ini? Bagaimana kalau kita bertemu dengan yang lain dan membahas rapat nanti malam?"
Arthur melambaikan tangannya, "Rapat nanti malam untuk nanti malam. Lagipula aku masih ada kelas,"
"Heh? Praktikum yah?" Elizabetha mengerti betul bagaimana Arthur adalah mahasiswa teknik mesin dan sangat sibuk dengan perkuliahannya. Satu lagi yang membuat Arthur pemimpin yang luar biasa.
"Tidak, hanya kuliah,"
"Ohh kalau begitu kita bertemu nanti malam,"
Mereka pun berpisah menuju dan melakukan kegiatan masing-masing.
(**********)
Arthur sampai di kelas. Masih sepuluh menit hingga kuliah itu mulai, tetapi kelas sudah penuh. Mahasiswa memenuhi bangku dan mereka saling berbincang-bincang karena dosen belum datang. Ketika Arthur datang, banyak dari mereka yang diam dan mendongak ke arahnya. Sejak mereka mengetahui secara resmi bahwa BEM angkatan ingin meniadakan jam malam (juga terberitakan di koran kampus), mereka mulai menaruh harapan kepada organisasi itu. Arthur sebagai ketua dari BEM angkatan pun mulai mereka anggap sebagai pemimpin mereka yang sebenarnya.
Sang figur pemimpin itu kini sedang sibuk mencari kursi yang kosong. Biasanya dia duduk di depan, tetapi karena kesibukannya, dia tidak bisa hadir di kelas untuk menemukan kursi depan yang kosong.
Oz memanggil-manggilnya, menunjuk bangku paling pojok yang kosong di barisan ke dua. Mahasiswa dari Australia itu jelas-jelas sudah menyiapkan kursi itu untuknya.
Bukannya menghampiri kursi itu, Arthur malah menggeleng. Dia berkata sesuatu seperti 'maaf' kemudian berjalan ke bangku belakang.
Untuk pertama kalinya Arthur mengikuti kuliah dengan duduk di bangku yang berada di barisan paling belakang. Dan untuk pertama kalinya dia tidak dapat berkonsentrasi penuh. Beberapa baris di belakang ribut dengan mahasiswa yang mengobrol, yang tidak ada kaitannya dengan matakuliah tersebut. Beberapa mahasiswa membuka laptop dan lebih asyik memainkan laptop daripada mendengarkan dosen.
"Kau sudah tahu situs ini?" Leon, mahasiswa dari Hong Kong, satu-satunya temannya di barisan belakang, tak hentinya mengajak bicara. Terutama tentang sesuatu yang populer dan hot di internet. Pada akhirnya, Arthur menyerah dan memilih mendengarkan temannya. Toh, dosennya juga tidak peduli sama sekali dengan kelas yang semakin ribut.
(**********)
"Kau, apa maksudmu tadi?"
"Apa maksudmu apa?" Arthur bertanya kembali. Dia tak mengerti dengan pertanyaannya juga tak mengerti mengapa Oz menghalangi jalannya.
"Kenapa kau tidak duduk di antara kami?"
"Aku tidak suka di pinggir, nanti mataku jereng."
"Tidak mungkin! Aku tidak pernah mendengarmu mengeluhkan hal itu!" Oz berseru. Tampak tidak ingin melepaskan Arthur. Beberapa temannya yakni Viktor, Kiku, Mathias dan yang lainnya mulai menghampiri mereka. Mereka datang dengan wajah bertanya-tanya.
"Ini karena Antonio, bukan? Kau tidak ingin duduk di sebelahnya?"
"Mengapa kau berpikiran begitu?"
"Memangnya aku tidak tahu? Dengar Arthur, kau masih menganggap Antonio sahabatmu bukan?" Oz bertanya, mengharapkan jawaban yang serius dan jujur. Memang apa yang terjadi di kelas tadi adalah rencananya. Dia menyiapkan bangku kosong itu di sebelah Antonio dengan harapan agar Arthur duduk di kursi karena kursi-kursi lain di barisan depan telah terisi. Betapa kecewanya dia melihat Arthur lebih memilih kursi di bagian paling belakang.
Dia sudah mendapatkan informasi dari Livio bahwa mereka benar-benar sedang bertengkar, seperti apa yang dirasakannya ketika pulang dari rapat dan bertemu Antonio sebagai GDA di malam di minggu yang lalu. Dia pun ingin mengakurkan mereka berdua. Dia mengerti sekali bagaimana kesibukan membuat mereka tak kunjung akur. Dia tak suka bagaimana mereka saling menatap dingin satu sama lain ketika mengerjakan tugas kelompok. Ayolah, mereka berdua adalah temannya. Dan rasanya tidak enak sekali mendapatkan pertengkaran di antara teman. Kiku dan yang lain juga berniat mengakurkan mereka.
"Oz, ada apa ini? Aku mendengar kau menyebut namaku?"
Oz menatap mahasiswa berkulit kecoklatan itu dengan wajah lega. Dengan kehadiran Antonio di sini, pekerjaannya menjadi mudah.
"Sungguh Oz, aku benar-benar ada agenda sore ini. Lain kali saja,"
Oz melongo. Dia tak menyangka Arthur malah meninggalkan mereka dengan cepat.
Antonio masih di situ, melayangkan pandangan meminta jawaban.
Oz tersenyum-senyum cengengesan.
(**********)
"Antoni-kun, kau harus makan,"
"Tapi aku tidak lapar,"
"Kau mengatakan itu dari kemarin, dan kemarin, dan kemarinnya lagi,"
Antonio tersenyum menatap pacarnya yang duduk di seberang meja, "Sungguh, aku tidak,"
"Tapi kau makan kan tadi siang? Atau jangan-jangan tidak?" Aiko, gadis Jepang yang tampak selalu kalem dan lemah lembut, menatap wajah pacarnya dengan muka khawatir.
"Oke-oke. Aku akan memesan milkshake," mahasiswa dari Spanyol itu melihat dengan jelas kekhawatiran pacarnya, membuatnya merasa bersalah. Dia akhirnya memesan sesuatu untuk diminum untuk menyenangkannya.
Walaupun Antonio sudah memesan sesuatu, kekhawatiran dan kesangsian tidak lepas dari wajah Aiko. "Kenapa kau begini Antonio? Kukira kau benar-benar sedang tidak lapar di hari-hari sebelumnya. Tetapi rupanya berlanjut hingga sekarang. Betapa bodohnya aku, pasti kau sedang ada masalah kan?"
Mendengarnya, Antonio benar-benar merasa bersalah, dia mengambil tangan Aiko di meja dan menggenggam telapak tangan pacarnya itu. "Kau tidak perlu khawatir, Amor. Dan kau tidak bodoh, kau brilian,"
Kembali, hal itu tidak membuat Aiko luruh kekhawatirannya. Dia malah mengambil tangan Antonio, membuat telapak tangannya kini berada di atas dan mengenggamnya erat. Tak hanya itu, alis matanya yang tipis tersilang, "Ini pasti karena Arthur bukan? Dan organisasinya? Kau takut organisasimu kehilangan wewenang, benar bukan?" Aiko sangat tahu pacarnya tak hanya anggota DPM, tapi GDA juga. Maksud dari perkataannya adalah GDA. Kini dia mengerti. Tindakan Arthur dan organisasinya untuk menghilangkan jam malam pasti sangat mengusik Antonio. Terlebih lagi karena Arthur sendiri adalah sahabatnya.
"Tidak!" Antonio melepas genggaman tangan pacarnya. Tetapi menyadari hal itu dia kembali menggenggamnya, kini lebih erat dan pandangannya kepada pacarnya lebih serius. "Menganggap masalah sepele seperti itu hingga mengganggu nafsu makanku. Aku tidak sebodoh itu!"
Aiko menyentakkan tangannya dari Antonio, dia meletakkannya jauh dari jangkaunnya. "Menurutku kau tidak hanya bodoh, tetapi pembohong juga!"
Antonio tercengang. Tak hanya karena sentakkan itu, tetapi perkataan gadis di depannya. Dia tak percaya Aiko barusan menghardiknya.
"Ohh dia memang pembohong sejati! Selamat Aiko, kau akhirnya mengetahui keburukan dibalik ketampanannya!"
Mereka berdua sontak mendongakkan wajah mereka dari satu sama lain ke seseorang yang berdiri di dekat meja mereka.
"Tapi kalian berpacaran. Jangan bertengkar di depan umum. Malu dong!"
Seseorang yang baru datang ini adalah seorang gadis. Rambutnya pirang keemasan, dan walaupun sudah dikuncir kuda, tetap menjuntai panjang. Kulit gadis ini putih seperti susu. Mata gadis ini memiliki warna yang sama dengan sepupunya. Di depan matanya bertengger kacamata persegi dengan bingkai tipis berwarna merah . Gadis ini sangat Antonio kenal, dia adalah Rose Kirkland.
"Silahkan Rose, duduk di sini," Aiko menepuk kursi di sebelahnya, Rose menyambutnya lalu duduk.
Antonio benar-benar tidak percaya apa yang dilihat dan didengarnya. Kenapa Aiko begitu bersikap manis kepada Rose sementara sebelumnya dia begitu bertindak menjengkelkan?
"Maaf sudah mengganggu ya. Aku tak sengaja mendengar kau mengatakan sesuatu tentang sepupuku,"
"Ohh, tidak ap—"
Belum Aiko menyelesaikan perkataannya, Antonio menyerobot. "Kalau begitu permintaan maaf tidak diterima," Antonio memandang gadis itu dengan pandangan tidak suka. Dia yakin gadis dari Inggris itu bukannya 'tidak sengaja' tetapi 'menguping'.
"Aiko, apakah kau membenci sepupuku? Karena sepupuku mengancam kehadiran pacarmu?" seperti menghiraukan kehadirannya, Alice menatap langsung Aiko di sebelahnya.
"Tidak, aku pikir sepupumu hebat. Tetapi aku yakin Antonio lebih hebat, hanya saja dia bertindak bodoh akhir-akhir ini,"
Antonio tertegun, apakah dia salah mendengar? Aiko barusan memujinya, ya walau akhirnya tetap dengan 'bodoh'.
"Bertindak bodoh seperti kehilangan nafsu makan?"
"Tepat sekali,"
Antonio duduk kembali di kursi, memainkan milkshake yang dia pesan dengan sendok. Dia kini menyadari bagaimana kedua gadis itu berbincang-bincang seperti dia tidak berada di situ.
"Bilang kepada dia. Bila ini terus berlanjut, dia tidak akan pernah melawan sepupuku!"
"Tentu! Aku akan mengenalkannya kepada beberapa semangat Jepang yang efektif!"
"Ya! Lakukan itu!"
Kedua gadis itu saling tersenyum, seperti telah mencapai suatu kesepakatan yang begitu krusial.
"Livio! Kau kah itu!" Rose beranjak dari duduknya ketika melihat Livio berdiri tak jauh dari mereka.
Belum sempat Livio merespon, Rose sudah menghampirinya dan memeluknya dari arah samping. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Makan," kata Livio, kemudian dia sadar itu adalah jawaban terbodoh sepanjang masa. "Bagaimana denganmu, Rose? Ada urusan apa kau dengan Antonio?"
"Mau tau saja ini kamu!" Rose tertawa-tawa, sembari dengan efektifnya menjauhkan Livio dan dirnya dari pasangan tadi.
"Rose gadis yang baik ya!"
"Begitu dibilang baik?"
Mendengar itu kekesalan Aiko kembali. Dia kemudian melihat pelayan kantin membawakan pesanan mereka. Dia tersenyum penuh arti kepada pacarnya.
"Nah, makan atau aku akan menahanmu lebih lama di sini!" Gadis Jepang itu tahu sekali bahwa sejak sepak terjang BEM angkatan, Antonio menjadi lebih sibuk dengan rapat setiap harinya. Dia menyodorkan makanan yang diam-diam ia pesan itu ke hadapan Antonio.
Lelaki Spanyol itu jelas terlihat kaget.
"Makan!" masih tersenyum, Aiko menepuk kepala Antonio sebelum menyuapi dirinya sendiri dengan makanannya.
(**********)
Antonio kini yakin sekali. Sembari memakan nasi di hadapannya, pikirannya mengutuk seseorang. Rose Kirkland! Sedekat apa pacarnya dengan mahasiswi Inggris itu! Dia ingat perkenalan pertama mereka saat bersepeda beberapa minggu lalu. Dan di saat itu mereka hanya saling kenal dan sama sekali tidak terlihat akan menjadi dekat! Lalu tepukan di kepala itu. Itu adalah perlakuan yang biasa ia dapatkan dari Rose!
Antonio menatap pacarnya yang sedang menyuapi diri dengan sup. Tentu saja dengan harapan dia tidak menatap kembali. Dia mengira ini hanya karena perasaannya, dan karena kesibukannya dia tidak terlalu memperhatikan perubahan pacarnya (ups). Tetapi sekarang dia tahu betul, beberapa hal dalam diri pacarnya telah berubah. Dia tampak lebih 'berenergi', mudah tersenyum, dan lebih banyak berbicara. Penampilannya juga lebih 'segar' dengan rambut hitam sebahu yang diikat kuda. Apakah ini semua karena Rose?
Dia mulai sibuk dengan makanannya... hingga pengusik itu datang. Tepatnya, orang yang menarik perhatian banyak orang itu memasuki kantin. Dengan beberapa 'pengikutnya', dia melenggang menuju meja yang kosong.
"Arthur!"
Ya, orang itu adalah Arthur Kirkland. Dan para 'pengikut' adalah teman-teman BEM-nya.
Antonio meletakkan sendoknya, dia tertegun. Rupanya orang yang memanggil Arthur agak keras itu adalah Aiko! Sejak kapan Aiko berani bertindak sesuatu yang begitu menarik perhatian?
Arthur menatap mejanya. Kemudian membalas lambaian tangan Aiko dengan senyum yang begitu kharismatik. Gadis yang disapanya itu tertawa dengan menutup mulutnya.
Antonio tidak percaya apa yang dilihatnya! Gadisnya baru saja berperilaku seperti kebanyakan mahasiswi angkatan terbaru akhir-akhir ini.
"Arthur itu baik sekali ya. Tapi ahh, dia pasti menyapa karena ada kau di sini,"
Antonio untungnya tidak sedang menyuapi makanannya, karena dia yakin dia pasti tersedak karena mendengar kata-kata ini.
"Kau tahu kan, setiap gadis di angkatan kita membicarakannya. Bahkan aku pernah mendengar kakak asisten* menggosipkannya." Aiko meminum jus buahnya sebelum kembali berkata, "Kau pasti merasa beruntung. Karena kau ini teman dekatnya. Banyak gadis yang ingin jadi pacarnya kau tahu, tetapi berteman dengannya saja tidak bisa,"
Antonio tetap tidak merespon. Dia memakan makanannnya dalam diam.
"Kenapa diam saja? Kau cemburu ya? Tenang, Antoni-kun. Aku ini tidak akan melihat kepada siapapun selain kau. Daisuke da! Zutto!" Aiko mengatakan kata-kata terakhir itu dengan mengelus punggung tangan pacarnya yang kecoklatan.
Sebagai respon, Antonio tersenyum dan mencium tangan yang tengah mengelus permukaannya itu. Setidaknya sifat Aiko yang begitu manis tidak pernah berubah. Antonio merasa beruntung sekali.
Di beberapa meja di samping kanan mereka, Arthur dan kawan-kawannya terlibat dalam pembicaraan yang seru, yang tentunya menarik perhatian. Antonio berusaha untuk tidak terusik dan makan dengan lancar. Aiko tidak boleh tahu bahwa alasan dia diam tadi adalah agar dia dapat menahan kata-katanya untuk menyanggah perkataan Aiko yang begitu memuji Arthur. Gadis itu tidak boleh tahu akan pertengakarannya dengan Arthur. Dia ingat saat makan siang beberapa minggu yang lalu, Aiko menanggapi dengan serius masalahnya dengan Arthur hanya karena rencananya untuk mendekatkan mahasiswa Inggris itu dengan teman-teman Aiko tidak berjalan dengan lancar. Ya, Antonio tidak mau merepotkan Aiko dengan masalah baru yang dia sadari lebih serius seperti ini.
(************)
"Jadi pihak mana yang akan kau lindungi Antonio? Kami atau DPM?" tanya ketua pembina GDA dengan serius.
Malam itu adalah malam rapat untuk kesekian kalinya. Tugas GDA adalah untuk memantau di lapangan, bukan untuk rapat! Kasihan sekali GDA harus bertindak di luar kebiasaan mereka seperti ini hanya karena organisasi kampus yang begitu bandel.
Antonio yang duduk di seberang ketua tersebut berpikir. Dia telah izin dari rapat DPM untuk menghadiri rapat GDA ini.
"Aku adalah bagian dari GDA dan DPM. Aku akan berpihak kepada keduanya,"
Tak hanya pembina, para peserta rapat saling menatap satu sama lain. Bagaimana Antonio dapat berpendapat untuk keduanya di musyawarah nanti?
"Baiklah kalau itu keputusanmu. Jangan lupa untuk terus berbicara dengan Ludwig. Kalian berdua adalah andalan kami. Jangan kecewakan kami!"
Antonio mengangguk.
Ludwig yang dibicarakan juga mengangguk.
Mereka semua kembali berbicara hingga akhirnya rapat selesai.
"Kau, aku, dan para pembina GDA. Kita semua dapat mempertahankan kebijakan ini," kata Ludwig, berjalan di samping Antonio menuju asrama.
Antonio terlihat mengangguk.
"Bagaimana dengan tugasmu dengan Arthur?"
Antonio berhenti, dia menatap mahasiswa Jerman itu penuh tanda tanya.
"Jangan bilang kau lupa. Ini tugas krusial yang diberikan pembina kepadamu."
"Tentu saja aku ingat, Amigo. Dan aku pikir aku akan berhenti melakukannya."
"Warum?"
"Aku telah mencoba. Arthur benar-benar tidak bisa diubah pemikirannya. Lagipula, kami bukan apa yang disebut sebagai 'teman' lagi..." Antonio mengatakan kalimat terakhir dengan hati-hati.
Ludwig menatap Antonio, dia tampak tidak terkejut seperti apa yang teman Spanyol-nya harapkan. "Sayang sekali kalau begitu,"
(********)
Di kamar, dia mendapati ketiga teman sekamarnya sudah tertidur. Semuanya terlelap di tempat tidur masing-masing. Antonio berjalan masuk dan melepaskan tas kecilnya, lalu mengganti pakaiannya ke pakaian tidur. Dia tidak langsung naik ke tempat tidurnya di atas, melainkan berhenti di bawahnya. Melihat Arthur yang terlelap di bawah selimutnya.
Dia menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibilang benci. Melainkan sedih, ya dia sedih. Mengapa pertemanannya dengan Arthur bisa begitu hancur hanya karena urusan-urusan organisasi? Dia menyadari hal ini dan sangat ingin kembali berbaikan dengan Arthur. Tetapi sikap Arthur yang tidak pernah kooperatif, membuat dirinya tidak bisa mencapai apa-apa. Apakah Arthur menyadarinya? Apakah Arthur sengaja membuang pertemanan ini?
"Apa yang kau pikirkan tentang aku, Arturo?" Teman? Musuh? Antonio tidak melanjutkan kata-katanya. Arthur tentunya tidak dapat menjawabnya, telah berada di alam mimpi.
Dengan satu helaan nafas, Antonio memutuskan untuk segera tidur.
(*********)
Preview chapter selanjutnya:
Akan lebih banyak konflik! Terutama karena hari di mana musyawarah terbuka itu dilaksanakan akan segera tiba! Ian Kirkland juga akan muncul lebih banyak!
[*********]
A/N:
Kenapa saya bilang Rose Kirkland spesial? Karena kasihan dia, sejak awal chapter sudah disebut tapi baru bisa debut dengan langsung masuk ke jalan cerita di chapter ini! /pelukrose
*KM: singkatan Keluarga Mahasiswa. BEM KM adalah BEM yang mencakup semuanya. Yap, di atas BEM angkatan.
*asisten dosen: tentunya mahasiswa juga! Tetapi rata-rata adalah mahasiswa di tingkat sebelum tingkat akhir! Woops, begitu populernya Arthur!
Terimakasih lagi untuk yang udah baca! Siap-siap untuk chapter selanjutnya!
