ARE YOU AGAINST THE CURFEW?
SIGN HERE, AND GIVE US YOUR VOICE ON THE OPEN MEETING THIS FRIDAY!
Mahasiswa angkatan baru penghuni asrama, pada Senin pagi dikejutkan oleh sebuah baliho yang dipasang di dekat gerbang asrama mereka. Baliho itu tentu saja baru dan mengundang perhatian. Siapa saja mahasiswa angkatan baru yang sedang berjalan menuju tempat kuliah mereka, pasti melihatnya.
"Kau yang memasang ini?" Alfonso sedang berjalan bersama Arthur, dan curiga, siapalagi yang mampu membuat sesuatu yang begitu besar selain organisasi BEM.
"Tadinya, tetapi BEM KM tidak mengizinkan."
"Lalu kau tetap membuatnya? Kau ini gila?"
Arthur mendesah, "Mau bertaruh? Aku ini tidak gila. Buktinya, ini bukan perbuatanku!"
Alfonso membelalakkan matanya, "Lah kalau bukan kau siapa lagi?"
"Mana kutahu!" Arthur menegaskan sebelum mempercepat jalannya. Sementara, mahasiswa lain kebanyakan memperlambat jalan mereka dan banyak yang dengan semangat membubuhkan tanda tangan.
Alfonso menggelengkan kepalanya. Kalau bukan Arthur dan BEM-nya, berarti siapa lagi? Ahh, dia tidak mengerti. Dia pun menyusul temannya itu.
(*******)
Keberadaan baliho itu terus dibicarakan oleh mahasiswa angkatan baru, bahkan di ruang kelas. Sudah beberapa kali Alfonso ditanyakan opininya apakah akan membubuhkan tanda tangan, mahasiswa Portugal itu menjawabnya dengan gelengan dan memikirkannya nanti. Walaupun begitu, dia tak berhenti untuk berpikir bagaimana keadaan ini memberikan pengaruh kepada temannya, Arthur. Si ketua BEM angkatan yang baru itu, pasti banyak diberi pertanyaan serupa pertanyaannya pagi ini. Mereka pasti langsung menduga bahwa itu adalah perbuatan BEM di bawah Arthur. Si pirang itu pasti akan kesulitan menjelaskan kepada mereka satu persatu. Apalagi kalau yang bertanya adalah kakak kelas.
Alfonso terhenyak, bagaimana kalau kakak kelas? Apalagi dengan BEM KM? Dia tahu sekali bagaimana BEM angkatan baru dengan KM tidak dalam satu tangan dalam masalah jam malam itu. Arthur telah menceritakan semua kepadanya, BEM KM membencinya! Dengan baliho yang rasanya agak 'frontal' itu, Arthur pasti mendapatkan masalah yang besar! Padahal itu bukan keputusan dan perbuatannya!
Selesai kelas, Alfonso langsung menghampiri kelas Arthur. Akan tetapi, dia tidak mendapati mahasiswa itu. Wajar sekali, pikirnya. Arthur pasti harus bertindak cepat menangani kesalahpahaman ini. Ketika sedang larut dalam pikirannya, dia tak sengaja menabrak Livio. Mahasiswa bertubuh kecil dari Liechtenstein itu meringis kesakitan sebelum bertanya kepadanya,
"Di mana Arthur?"
"Tidak berada di kelas," Livio tampaknya akan terus berjalan menuju kelas tersebut, Alfonso pun menambahkan jawabannya, "Lebih baik kita kembali ke asrama, bersama. Aku yakin kita menemukannya dalam perjalanan kita menuju ke sana,"
Livio tampak masih bingung, tetapi akhirnya mengiyakan karena lengannya sendiri digaet oleh Alfonso.
Alfonso terus berjalan, dia telah melepaskan lengan Livio setelah pemuda Liechtenstein itu setuju mengikutinya. Walaupun alasannya tidak terlalu jelas, dia yakin sekali akan ada sesuatu yang terjadi di dekat gerbang asrama. Ya, di tempat baliho itu terpasang. Saat itu sudah siang, pasti banyak orang -tak hanya mahasiswa angkatan baru- yang melintas dan dengan mudahnya membaca baliho tersebut. Dia yakin, banyak kakak kelas yang sudah tahu, termasuk BEM KM.
Langkah kaki Alfonso pun dipercepat.
(***********)
Alfonso dan Livio sama-sama berhenti. Mereka tertegun, tak jauh di depan mereka terdapat lingkaran kerumunan. Kemudian, tak jauh lagi adalah baliho... yang kini hanya terlihat setengah.
"Kalian tidak bisa melakukan ini!"
Terdapat banyak sahutan.
Alfonso tidak bisa menahan rasa penasarannya, dia meninggalkan Livio kemudian berusaha memasuki lingkaran. Dengan gesit, kini dia telah berada di barisan paling depan. Apa yang dilihatnya, dan mungkin di pikiran mahasiswa lain juga, adalah mimpi buruk.
Ian Kirkland, Menteri Kebijakan Kampus dan Lingkungan Sekitar Kampus BEM KM berada di tengah lingkaran. Dia sedang memegang sesuatu. Sesuatu itu mempunyai warna yang sama dengan warna kain di baliho. Kemudian, dia merobek sisa dari bagian tengah kain baliho, dengan tangannya sendiri. Rambutnya yang kemerahan begitu mencolok di tengah kerumunan, kedua mata hijaunya terlihat bersinar, alismatanya tersilang. Walau mahasiswa-mahasiswa lain berdiri agak jauh darinya, mereka dapat merasakan aura kemarahan dari tubuhnya.
Siapa yang tidak kenal dan tidak segan dengan mahasiswa Skotlandia ini. Ian Kirkland terkenal dengan keputusan-keputusannya yang pro-mahasiswa. Dia menjalankan tugasnya sebagai pembuat dan pengawas kebijakan yang tidak pernah segan. Tindak langkahnya selalu 'revolusioner', langsung dan tidak bertele-tele. Ketika kebanyakan mahasiswa anggota KM adalah pemikir dan selalu berembuk, Ian Kirkland lebih kepada tindakan secara langsung. Siapapun yang memperlambatnya akan dia lawan. Bahkan dosen sekalipun. Selama hampir setahun dia memimpin, banyak kebijakan-kebijakan baru yang menguntungkan mahasiswa. Semuanya, kecuali penghapusan jam malam. Itulah yang menjadikan dia dan adiknya, Arthur Kirkland, berbeda.
Siapapun tahu, bahwa Ian Kirkland bukanlah seseorang yang mudah dikalahkan dalam konfrontasi. Apabila orang tersebut pintar, maka ia tahu bahwa jangan pernah berurusan dengan mahasiswa Skotlandia itu, apalagi menjadi musuhnya. Sekarang ini, beberapa mahasiswa yang berada di hadapan Ian dan tampak melindungi satu sama lain itu, tampaknya bukanlah mahasiswa pintar tersebut.
"Katakan lagi, kalian mewakilkan apa?" Ian bertanya, terdengar jelas bagaimana kata-katanya begitu ditahan dan rendah. Jelas sekali dia sedang menahan amarahnya. Walaupun begitu, aura kekesalannya tetap mengalir.
"Kami mewakili UKM-UKM yang setuju dengan tindakan BEM angkatan! Kami ingin jam malam dihilangkan!" Seorang mahasiswa albino, yang tidak seperti teman-temannya di belakang, berdiri dengan tegapnya dan tanpa rasa takut.
"Kalau begitu organisasi kalian kububarkan!" Ian memberikan kain itu kepada temannya. Tentu saja, dia tidak sendiri, beberapa teman BEM-nya ikut menemaninya.
Mahasiswa albino yang kini dicap bodoh oleh siapapun yang melihat kejadian ini karena telah mengambil Ian sebagai lawan, tampak terkejut, rasa takut akhirnya terlihat walaupun sedikit. "Pembubaran organisasi hanya dilakukan oleh MPM. Kau tidak ada wewenang untuk itu!" serunya akhirnya.
"Dan kau tidak ada wewenang untuk memasang ini!" suara Ian begitu lantang. Siapapun bergidik mendengarnya. Amarahnya tampaknya tidak dapat tertahankan lagi.
Mahasiswa albino tersebut tampak tidak ingin mengambil langkah seribu, "Kami memang tidak punya surat izin. Tetapi ini adalah insiatif kami," mahasiswa ini benar-benar bodoh, dia malah melangkah maju, menantang Ian, "Bukankah kau pernah menyerukan kebebasan berpendapat? Inilah wujud kebebasan pendapat kami! Tapi kau, kau malah merobeknya, menyudahinya dengan tanganmu! Dasar hipokrit!"
Sudah, Ian benar-benar tidak tahan, kekesalannya sudah di ambang batas. Dia merenggut kerah mahasiswa yang tentunya lebih muda darinya ini. Tak perlu menahan lebih lama lagi, tinjunya akan mendarat kepada muka anak tersebut. Tetapi, kenyataan itu tidak pernah datang. Tangannya yang siap dengan tinjunya itu ditahan oleh seseorang. Siapa yang begitu kuat hingga dapat menahannya? Ian benar-benar tak menduga ini. Dia terkejut, rupanya orang tersebut adalah Antonio.
"Perkelahian tidak akan membawa masalah ini kemana-mana," kata mahasiswa spanyol itu. "Dan Ian, kau ini BEM. BEM selalu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin,"
Ian menatap Antonio yang mempunyai warna mata yang identik dengan warna matanya sendiri. Akhirnya mahasiswa skotlandia ini menurunkan tangannya, dan menariknya dari genggaman Antonio.
"Kalau begitu Antonio. Kau ini GDA dan calon ketua DPM, kau ajari anak ini!" setelah mengatakan itu, dia menatap teman-teman BEM-nya. Jelas sekali mereka begitu bersyukur Antonio dapat menghentikannya membuat perkelahian.
"Antonio, kau ini temanku. Kau ingin menghalangiku juga?"
Antonio yang kini berdiri di antara pihak BEM dan kesatuan UKM itu menatap temannya si mahasiswa albino. "Sayangnya Gilbert. Perbuatanmu itu salah. Kau tidak punya izin pihak asrama. Kau tidak punya izin dari GDA," Antonio mengoreksi itu dengan penekanan, menunjukkan bahwa dialah wakil dari GDA tersebut. Dia telah diberi perintah untuk menurunkan baliho ilegal itu, yang rupanya BEM telah melakukannya terlebih dahulu.
"Tetapi ini bukan lingkungan asrama! Ini di luar gerbang!"
"Ini masih daerah asrama!" rupanya Antonio tidak berbeda dengan Ian. Dia mengatakan itu juga dengan lantang. Kini wajah tenangnya telah menjadi sangar karena amarah.
Gilbert tidak percaya dengan penampilan kawannya sendiri, "Tetapi Antonio, kau ini juga-"
"Tidak ada tapi-tapian!" perintah Antonio. "Aku harap kau melepaskan sisa dari baliho ini, sekarang juga!"
Gilbert melangkah mundur. Selain rasa tidak percaya, timbul rasa lain, yakni kebencian kepada temannya sendiri. Dia kemudian menatap teman-teman UKM-nya yang sejak dari Ian sudah mati kutu, apalagi Antonio. Dia pun berkata pada mereka untuk mengikuti perintah Antonio. Dia dan teman-temannya bersama-sama melepaskan baliho tersebut.
Sudah mengetahui pihak yang kalah, para mahasiswa yang menonton dan sedikit telah bersahutan mendukung pihak kesatuan UKM, segera meninggalkan tempat itu –termasuk Alfonso-. Ada yang berjalan terlalu cepat lantaran takut akan menjadi korban terkaman tak hanya Ian, tetapi Antonio juga. Tingkah mahasiswa Spanyol yang mengejutkan ini tidak akan terlepas dari memori mereka untuk beberapa waktu yang lama.
Tak lama Gilbert dkk telah selesai dengan baliho mereka. Mereka akan segera meninggalkan tempat itu, apabila Gilbert tidak mempunyai kata-kata terakhir kepada BEM dan GDA di hadapannya.
"Walaupun telah tersobek-sobek, tetapi bubuhan tanda tangan-tanda tangan ini akan selalu ada dan tanda bahwa kami akan mendapatkan apa yang kami inginkan. BEM angkatan dapat memenangkan musyawarah terbuka jumat ini, jam malam benar-benar terhapus. Dan kalian, jangan mengharap meremehkan kami lagi!"
Ian, teman-teman BEM-nya, dan Antonio tidak membalas perkataan itu, hanya menatap punggung mahasiswa albino.
Akhirnya mereka benar-benar sendiri. Mahasiswa anggota BEM KM selain Ian, menghela nafas lega. Setidaknya, baliho itu akhirnya benar-benar hilang.
(**********)
"Apa yang telah kau lakukan cukup mengesankan," kata Ian akhirnya, teman-teman BEM-nya telah meninggalkan tempat itu.
"Aku melakukan ini karena aku mewakili GDA. Jangan harap aku melakukannya lain kali, yakni sebagai DPM,"
Ian tersenyum, amarahnya telah hilang. Dia mengenal Antonio tentu saja dari adiknya. Dia sering mendengar cerita adiknya bahwa Antonio, tidak seperti wajahnya yang ramah, kalau marah seperti banteng yang siap untuk menanduk. Hal itu menakutkan, sehingga orang-orang lebih suka menyenangkan hati Antonio daripada membuatnya marah. Bahkan ketika tersenyum, dia sering memalsukannya. Arthur seringkali mengingatkannya bagaimana lihainya Antonio memainkan karismanya dan memperalat orang. Semua ini, sudah ia buktikan dengan mata kepalanya sendiri. Peristiwa barusan dengan pelepasan baliho membuatnya teringat akan sifat-sifat si Spanyol itu. Tidak pernah Ian, begitu setuju dengan orang-orang yang berteman dengan Arthur kecuali Antonio. Ya, ia bangga sekali adiknya dapat berteman dengan orang berbahaya seperti Antonio.
"Kalau begitu, dalam musyawarah terbuka nanti, kau masih dalam posisimu sebagai GDA bukan?"
"Ya, tentu saja,"
"Kalau begitu. Tidak ada salahnya kita bekerjasama, bukan?"
Antonio terkesiap. Sejak kapan Ian berdiri begitu dekat dengannya. Mahasiswa asal Skotlandia yang juga kakak dari Arthur Kirkland itu merangkul pundaknya.
"Dengan bersama-sama, kita pasti bisa membuat adikku tercinta itu sadar siapa yang sebenarnya berkuasa,"
(***********)
Malamnya di Kantin Umum Asrama, terdapat peristiwa lain lagi. Sama seperti siang, banyak mahasiswa yang menonton dengan penasaran. Sama seperti siang, Gilbert menjadi pusat perhatian. Hal yang berbeda adalah, lawan Gilbert bukanlah Ian Kirkland, tetapi secara genetik sama dengan mahasiswa skotlandia ini, yakni Arthur Kirkland.
"Siapa yang menyuruhmu berbuat begitu? Tidakkah otakmu pernah bekerja?!" Arthur jelas-jelas terlihat marah, dia memojokkan si albino ke dinding, tangannya mencengkeram kerah mahasiswa tersebut.
Gilbert, dengan kekuatannya melepas tangan itu dari kerahnya, "Aku hanya ingin membantu! Lagipula aku tidak sendiri!"
"Ya, dengan hanya 3 UKM! Itu tidak cukup!" Arthur menekankan setiap perkataannya, matanya menusuk Gilbert. "Tidak ada UKM lain yang cukup bodoh untuk mengikutimu!"
Gilbert terdiam, mulai menyadari kesalahannya.
"Dengar, aku tahu kau mendukung BEM angkatan," kini suara Arthur melemah, "Tetapi hal macam tadi siang bukanlah salah satu wujudnya. Aku harap kau tidak melakukan ini lagi!" dia memberikan Gilbert tatapan ancaman untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkannya.
Gilbert menatap sosok tersebut yang kemudian menghilang diantara kerumunan mahasiswa. Kerumunan tersebut juga perlahan melonggar, hingga mereka kembali sibuk dengan pesan-memesan makanan mereka.
Dia tidak meninggalkan tempatnya. Dia masih bingung, hingga dia melihat seseorang tak jauh darinya.
"Sepertinya kau butuh penjelasan," kata Elizabetha sebelum menariknya pergi.
[***********]
Maaf chapternya agak pendek. T_T Saya gak nulis 'preview chapter selanjutnya' karena rupanya bagian ini cukup tidak relevan/chapter-chapter yang saya tulis selalu tidak seakurat previewnya /iamsosorry.
Intinya untuk chapter selanjutnya, mungkin akan lebih banyak karakter/karakter yang udah muncul di chapter-chapter sebelumnya akan muncul lagi. Dan PruHun yep (maaf banget baru muncul sekarang).
Terima kasih lagi buat yang udah review+fav.
chianti maaf ya, mungkin chapter-chapter ini membuat Arthur agak menjauh dari urusan love-lifenya. Tapi dalam beberapa chapter, konflik jam malam ini akan berakhir. Ketika semuanya sudah normal, dia akan kepikiran lagi kok (ya diiringi oleh masalah-masalah sebagai mahasiswa lainnya). Intinya, take slow aja. Arthur pasti dapet pacar juga.
Kenapa A/N nya panjang sekali (mungkin karena saya lapar). Oke. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
