Chapter ini bukanlah chapter sesungguhnya, hanya pre-chapter. Terimakasih atas reviewnya (eaps semoga cowok yak), katanya fanfic ini terlalu membosankan, terlalu serius dan less humour.
Oke, sebelumnya ngerespon dulu ya reviewannya yang lain boleh menghiraukan paragraf ini (terimakasih Mr. Truth sudah menjadi guest, saya jadi gak bisa nge-PM dan jelasin ke Anda secara langsung). Waktu pertama kali baca reviewan, jujur saya bingung. Karena hal yang pertama yang muncul di benak saya: Ini kali pertama Anda baca fanfic saya, alias, ini kali pertama Anda membaca tulisan saya. Alasannya? Karena saya pikir saya sudah menciptakan humor di sana sini. Mungkin karena Anda kurang peka atau apa. Karena begitulah gaya menulis saya, despite dengan pembawaan yang begitu serius dan 'membosankan', saya suka menambahkan bumbu humor yang emang kadang-kadang gak ketara.
Mungkin salah saya juga, memunculkan konflik terlalu dini dan terlalu berlarut hingga membosankan. Untuk itulah hadirnya chapter ini, sebagai selingan. Eits, bukan berarti pre-chapter ini gak penting. Namanya juga pre- berarti berhubungan dengan chapter berikutnya. Hubungan apa itu? Ya baca pre-chapter ini!
Chapter sesungguhnya akan publish hari minggu, seperti biasa (kalau sempat ya)
(***********)
Laundry Day 'Hari Penatu'
"Livio, bagaimana dengan praktikum pertamamu?" tanya Arthur. Dia baru saja sampai di kamar, kini duduk dan membongkar tas punggungnya.
"Baik," Livio menjawab singkat.
Mereka sebagai mahasiswa baru memang belum sebulan mengikuti kuliah. Hari itu kebetulan adalah hari pertama Livio mengikuti praktikum Biologi Dasar.
"Kalo ada masalah dengan biologi, tanyakan saja padaku ya?" Arthur memberikan teman sekamarnya seuntai senyum.
"Tentu saja, Arthur. Aku tidak akan lupa,"
"Aku juga bisa bantu kok! Bahkan aku lebih bisa biologi daripada dia!"
Kedua mahasiswa berambut pirang itu seketika menolehkan kepala kepada pintu, yang kini terbuka. Antonio masuk, senyum menghiasi wajahnya. Tanpa menaruh perhatian pada tangannya yang menaruh sepatunya pada rak sepatu, dia cepat menghampiri Livio yang sedang belajar di lantai di atas tikar.
Arthur cepat menghampiri mereka berdua, "Enak saja! Jangan percaya dia, Livio! Aku lebih pintar daripada dia!" dia melemparkan pandangan menantang pada Antonio, yang mahasiswa spanyol itu juga membalas dengan hal yang sama.
Livio tertawa. Kedua orang di sampingnya ini memang aneh-aneh! Orang biasanya akan rendah hati walau sebenarnya mereka sangat pintar dalam suatu pelajaran, nah mereka tidak! "Kalau begitu aku minta bantuan kalian berdua!"
"Deal!" seru Arthur mulai memindahkan alat-alat tulisnya ke lantai.
"Tetapi aku tetap lebih pintar daripada dia!" Antonio cepat duduk di sebelah Livio, mengeluarkan isi tasnya. "Ahh sial! Basah!"
Kedua temannya cepat melihat ke arahnya.
"Salah sendiri menaruhnya dalam tas!" Arthur memutar kedua bolamatanya, Antonio bodoh sekali!
"Kalau begitu kau tidak mendapatkan es ini!"
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, penghuni kamar 270 –minus satu orang lagi- me-review pelajaran pada hari itu.
"Arthur!" Pintu kamar terbuka untuk memperlihatkan Vash, teman lorong mereka. "Kau dipanggil SR*!"
"Untuk apa?"
"Tidak tahu!"
"Arthur sangat sibuk ya.." kata Livio ketika hanya dia dan Antonio berada di kamar.
"Tenang saja! Aku akan setia menemanimu Liv!"
Livio tidak terlalu setuju dengan perkataan itu, tetapi dia tidak membalasnya. Dia melanjutkan mengerjakan PR.
"Kenapa dengan tanganmu, Liv?"
"Tidak apa-apa.. hanya sedikit gatal," dia cepat-cepat menurunkan tangannya dari telapak tangannya yang lain.
"Ohh,"
"Antonio?"
"Ya?"
"Kapan kau akan mencuci pakaian?"
"Besok mungkin,"
"Jangan lupa mengajakku ya,"
Livio berharap perkataan terakhirnya benar-benar dimengerti Antonio. Setiap bertanya kapan dia akan mencuci, Antonio pasti akan menjawabnya dengan 'mungkin besok', dan 'besok' tidak pernah datang kecuali dia yang mengingatkan. Walaupun begitu, dia tidak pernah menyerah untuk mengajak dan mengingatkan Antonio.
Malam itu terus berlanjut dengan goresan pensil dan pena mereka.
(**********)
Sudah tiga hari Livio tidak mencuci pakaiannya. Pakaian kotornya telah menumpuk. Antonio tampak tidak ingin mencuci hari itu, dia pun memutuskan untuk mencuci sendirian.
Pagi itu, seperti pagi-pagi yang lain ketika dia hendak mencuci, dia menemukan Vash sedang sibuk dengan pakaiannya.
"Kukira kau sudah berhenti mencuci," Vash berkata tanpa beranjak dari posisinya.
Livio tidak menjawab, dia tidak mengerti maksudnya.
"Tanganmu baik-baik saja kan?"
Livio terpaku dalam pijakannya. Tidak, tangannya masih gatal, dan itu adalah karena sabun –terutama sabun cuci- yang membuat kulitnya iritasi. Hanya dia dan Vash yang tahu hal ini. Dia tidak mencuci selama tiga hari, berharap tangannya lebih baik, tetapi nyatanya, tangan itu makin gatal.
"Sini aku lihat!"
Livio terkejut, Vash sudah berada di dekatnya, dan kini memperhatikan tangannya.
Setelah beberapa detik, dia menyentak tangannya, dan menariknya keluar dari tempat mencuci pakaian.
"Mulai sekarang, kau tidak boleh mencuci pakaianmu sendiri!" Dia terus berjalan dan akhirnya berhenti di hadapan pintu kamar mahasiswa dari Liechtenstein itu. "Arthur!" dia menggendor pintunya, tidak santai.
"Kukira kau menjunjung tinggi kedamaian di lorong!" Arthur membuka pintu dengan kesal. Hari itu hari Jum'at dan dia kuliah lebih siang.
"Untunglah kau sedang tidak kuliah! Sekarang bawa anak ini ke poliklinik!" Vash melepaskan lengannya pada lengan Livio.
"Livio? Sakit apa?"
"Tuh kan! Kau ini teman kamarnya tetapi tidak tahu dia sedang sakit apa! Karena itu bawa dia ke poliklinik dan tunjukkan bahwa kau teman kamar yang baik!"
Arthur bertukar pandang kepada Antonio, mahasiswa spanyol itu juga sama bingungnya.
"Mau denganku juga?"
"Tidak perlu, berdua sudah cukup," Arthur mengambil sepatunya di rak.
"Lekas sembuh ya, Livio!" Antonio tersenyum, tetapi menunjukkan wajah bahwa dia merasa simpatik dan bersalah.
Livio sempat membalas senyumannya, "Tidak apa-apa, Antonio. Ini hanyalah masalah kecil," sebelum tangannya ditarik oleh Arthur.
(**********)
"Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku?" tanya Arthur, berjalan keluar dari poliklinik. Mereka telah melakukan pengecekan terhadap Livio. Obat-obat (terutama salep) yang dia perlukan kini berada di tangannya.
"Tapi ini kan hal biasa, nantinya juga hilang,"
"Apakah sekarang hilang?" jelas sekali Arthur menahan amarahnya.
"Selama tiga minggu ini gak papa kok,"
Arthur berhenti, menghela nafasnya lalu menatap temannya yang lebih pendek itu, "Mulai sekarang kau harus menggunakan jasa laundry,"
"Laundry pakaian kan ribet dan mahal.."
"Pernahkah kau mencuci pakaianmu sebelumnya? Sebelum tinggal di asrama?"
"Belum sih,"
"Kalau begitu kenapa bersikeras?" Arthur memijat keningnya. Dia menyadari bagaimana percakapan ini tidak mengarah ke mana-mana. Apa sebenarnya yang disembunyikan Livio sehingga dia begitu keras kepala?
"Aku bisa kok mencuci pakaianku sendiri. Antonio mencuci, Vash juga.."
"Aku tidak!" Arthur berseru ketus. Sejak hari-hari pertama tinggal di asrama, dia memang menggunakan jasa penatu. Tidak pernah sekalipun mencoba mencuci pakaiannya sendiri. "Dengar, Livio. Jika kau ingin 'membuktikan dirimu' dengan mencuci, ketahuilah bahwa itu tindakan bodoh. Akhirnya kau malah menyakitimu dirimu sendiri!"
"Tapi Arthur..."
"Lihat," Arthur melangkah, mendekati Livio. "Gelembung di tanganku ini," Arthur memperlihatkan telapak tangannya, dan menunjukkan bagian di antara jari telunjuk dan jari tengah di mana terlihat beberapa bintik kecil mirip gelembung. "Kalau ini banyak akan gatal. Sama sepertimu, tanganku sensitif. Pakaian aku laundry karena aku menyadari keadaanku,"
Livio menatap gelembung tersebut yang mirip dengan gelembung di tangannya, sekaligus mendengarkan Arthur, dia terlihat terkejut.
"Lagipula mencuci itu pekerjaan perempuan!" Arthur menyeringai sembari menarik tangannya dari penglihatan Livio.
Mereka kembali berjalan menuju asrama.
"Sekarang kau mau kan laundry pakaian?"
Livio mengangguk pelan, "Tetapi temani aku caranya,"
"Tentu saja! Lagipula itu simpel dan mudah!"
(************)
"Antonio, berapa hari lagi kau akan memakai baju yang sama seperti yang sedang kau kenakan sekarang?" tanya Arthur dengan maksud menyindir. Bayangkan, tiga hari mahasiswa spanyol itu memakai pakaian yang sama.
"Besok terakhir mungkin,"
Arthur sangat menahan untuk tidak memukulnya dengan buku kalkulus yang super tebal.
"Tenang Arthur-san," Kiku tertawa di samping mereka. "Antonio tidak seorang diri melakukannya," maksud dia jelas sekali. Tak hanya Antonio, banyak mahasiswa yang memakai pakaian yang sama selama 1-2 hari. Kalau tidak sama, ya selang-seling antara dua pakaian.
"Orang lain boleh, tetapi tidak pada temanku sendiri!"
"Hanya teman? Kukira kita sahabat?"
"Jangan mendekat!" Arthur melangkah mundur, buku kalkulus di tangan.
"Tenang Arturo! Aku pakai parfum! Lagipula aku masih tetap tampan, cewek-cewek masih suka padaku!"
"Whatever! Jangan kau berharap dekat-dekat denganku sebelum kau mengganti pakaianmu!" Arthur menunjukkan kepalan tangannya –yang tidak memegang buku kalkulus- sebelum berjalan meninggalkan kelas.
"Memangnya buruk ya, aku memakai pakaian ini terus?" tanya Antonio sebelum beranjak dari kursinya.
"Tidak sih, tetapi kupikir sedikit kelewatan. Orang biasanya dua hari, kau sampai tiga hari," jawab Mathias berjalan di sampingnya.
"Apa bedanya hanya lebih sehari?"
"Berbeda banyak sekali," Viktor akhirnya berkata, berjalan mendahului mereka. "Oya, tadi Arthur ke mana?"
"Mungkin langsung ke perpustakaan," jawab Kiku.
"Dia sudah membawa laptopnya?"
Tidak ada yang menjawab sebelum Antonio menatap layar di ponselnya. "Belum, dan dia menyuruhku membawanya,"
"Sabar ya," sahut Mathias.
"Sekalian mengganti pakaian sepertinya bisa!" Kiku menimpali.
Dengan diiringi tawa, Antonio meninggalkan mereka.
(**********)
Antonio berjalan seorang diri menuju asrama. Sudah beberapa kali dia tak sengaja menatap seorang gadis yang juga sedang menatapnya. Sudah beberapa kali dia tersenyum pada gadis-gadis itu. Nah, walau pakaian yang ia kenakan sudah dia pakai tiga hari, banyak gadis yang meliriknya. Tentu saja karena mereka tidak tahu fakta tentang pakaian itu. Intinya, pakaiannya tidak memengaruhi bagaimana ia terlihat. Selain itu, dia yakin sebenarnya gadis-gadis itu ingin dirinya telanjang. Tentu saja, dia kan tampan dan atraktif.
Dengan terus berjalan dan memikirkan gadis-gadis yang ingin dia kencani, dia akhirnya sampai di depan gedung asrama. Berjalan masuk lalu menaiki tangga, dengan cepat dia sampai di kamar 270.
Rencananya sederhana, dia membuka lemari Arthur untuk mengambil laptop, tetapi dia terhenti pada tumpukan pakaian kotor miliknya di pojok ruangan. Ini dia, alasan dia terus memakai pakaian yang sama: karena pakaian kotor telah menumpuk. Dia malaaas sekali untuk mencuci. Berhemat pakaian adalah cara satu-satunya untuk tidak membuat tumpukan pakaian kotor menjadi lebih tinggi.
Dia telah melihatnya, bagaimana Livio menggunakan jasa penatu untuk pakaiannya karena suruhan Arthur. Dia tidak ingin berakhir seperti itu. Dibandingkan kedua laki-laki pirang itu, dia tidak punya uang yang cukup, penatu terlalu mahal! Lagipula dia jarang mengganti pakaian, jadi buat apa membayar mahal untuk sesuatu yang sedikit!
Setelah mengambil laptop dan menyimpannya di dalam tas punggung, dia keluar kamar dan menguncinya.
(**********)
"I am really going to kill you,"
"Coba saja?"
Buku kalkulus siap menghajar Antonio.
"Sudahlah Arthur. Tidak ada manfaatnya meladeni orang bodoh. Mending fokus pada laporan,"
"Kau benar Viktor," tidak seperti perkataannya, Arthur memberikan sentakan 'kecil' pada kursi yang diduduki Antonio. Karena kursi itu beroda, dengan mudah Antonio terjatuh dari kursinya. Perpustakaan yang sunyi itu mendadak ramai oleh tawa kelompok tersebut. "Nah, ayo kita fokus laporan," kata Arthur, dengan sisa tawanya.
(**********)
"Cuci pakaianmu sekarang!"
"Tidak mau"
"Cuci pakaianmu, sekarang!"
"Tidak, mau!"
Tidak ada jawaban. Antonio mendongak dari buku yang dibacanya sambil tiduran. Betapa terkejutnya dia kini melihat Arthur melemparkan pakaian kotornya ke luar jendela?!
"Apa yang kau lakukan?!"
"Kan di luar hujan! Jadi pakaianmu sekalian dicuci!"
Antonio menatap dengan horor pakaiannya yang kini tersangkut di ranting pohon di antara turunnya air hujan.
"Hentikan itu!" Antonio meloncat ke arah Arthur dengan tangannya yang bagaikan siap menerkam.
"Akan kuhentikan kalau kau mencuci pakaianmu sekarang!" seru Arthur di antara tangan Antonio yang mencengkeram tubuhnya dan menjambak rambutnya. Dia cepat kehilangan keseimbangan sehingga mereka saling menerkam dan menjambak di lantai.
"Mereka berantem lagi.." seru teman selorong yang melihat mereka berdua dari luar kamar. Livio yang baru saja pulang dari kuliah hanya menggeleng-gelengkan kepala. Semua keributan itu berakhir ketika Vash datang.
(*********)
"Baju milik siapa itu?! Mohon diturunkan!" seru seorang SR dari dekat pohon. Beberapa mahasiswa berdiri tak jauh dari situ, kepo dengan apa yang akan terjadi. Hujan telah lama selesai, orang-orang telah kembali beraktifitas. Total tiga buah baju berada di atas pohon dan terlihat jelas.
Tanpa banyak berkata, Antonio yang telah berada di tempat kejadian cepat-cepat memanjat pohon.
"Ternyata itu bajumu?!" kata SR tersebut, memperhatikan mahasiswa itu. "Hati-hati jangan cepat-cepat," siapapun ngeri melihat seseorang memanjat pohon yang begitu tinggi.
"Tenang saja kak, dia sudah terbiasa panjat pohon di kampung," Arthur yang juga berada di situ tertawa kecil. Tentu saja 'kampung' hanyalah kiasan.
Tak lama, setelah aksi memanjat yang menegangkan, Antonio telah turun dengan pakaiannya.
"Sekarang kau ikut aku ke sekret untuk detensi!" kata SR dengan nada penuh otoritas.
"Arthur juga kak! Dialah yang melempar pakaianku!"
"Ya, kau juga!" SR menunjuk Arthur.
Arthur hanya bisa menatap, tidak menyangka bahwa dia ikut terkena detensi.
(*********)
"Akhirnya kau mencuci pakaianmu!"
"Ya, agar kau senang!"
Kamis pagi itu, Arthur baru saja selesai mandi. Di tempat cuci pakaian dia menemukan Antonio.
"Aku senang sekali!" kata Arthur dengan gaya sarkasme nya yang khas.
Tempat cuci pakaian itu juga tempat air mengalir, yang tentu saja tidak hanya digunakan untuk mencuci. Arthur menghampiri salah satu keran lalu membukanya untuk mencuci wajahnya. Tak lama dia selesai, ketika menoleh dia dikejutkan oleh semburan air yang tepat mengenai wajahnya.
"Ups tanganku tergelincir."
Jelas sekali Antonio melakukannya dengan sengaja, akan tetapi dia tetap tenang. Dia mendekati salah satu ember berisi air dan pakaian yang direndam.
"Ups kakiku tergelincir,"
"TERGELINCIR BAGAIMANA. ITU PAKAIAN MAUKU BILAS SEKARANG KOTOR LAGI." Antonio tak berlama-lama meratapi pakaiannya yang terhambur ke lantai, dia cepat mengambil gayung berisi air dan menyiramkannya pada Arthur, pada baju yang dikenakannya tepatnya.
Tak perlu lama untuk Arthur membalas menyiram dengan menyambar gayung seseorang yang juga sedang mencuci di situ.
"PERANG AIR!"
Gilbert yang sedang mengantri untuk mandi, melihat pertengkaran antara Antonio dan Arthur itu, segera mendeklarasikan dan memanfaatkan kejadian untuk perang air.
Mereka yang sedang mengantri, sedang mencuci, bahkan yang sedang mandi, berhamburan ke luar. Dengan gayung masing-masing mereka segera menyiram air dengan brutal ke segala arah.
Walau keadaan sudah menjadi kacau di sekitar mereka, Antonio dan Arthur tetap memfokuskan serangan ke arah satu-sama lain.
(**********)
Malam itu, lorong sepuluh dan lorong enam (pengguna kamar mandi dan tempat mencuci tersebut) kompak mendapatkan detensi dari SR.
(**********)
Hari minggu itu begitu damai menurut Livio. Arthur dan Berwald sedang sibuk membaca buku di meja masing-masing, Antonio di lantai sibuk menyetrika, sementara Livio sendiri sibuk menggambar di atas kasur Arthur.
"Jadi, apa detensi yang diberikan SR kepada kalian?" dengan suara beratnya, Berwald tumben sekali membuka percakapan di antara mereka.
"Membersihkan kamar mandi dan tempat cuci selama sebulan," Antonio yang menjawabnya.
"Lalu yang pohon itu?"
"Tidak ada, kami hanya menaruh nama kami di buku kasus," Arthur kali ini yang menjawab. "Setidaknya dengan begini, Antonio lebih rajin mencuci pakaiannya,"
"Bisakah kau berhenti membicarkan topik itu?"
"Kalian berdua, tolonglah berhenti bertengkar,"
[**********]
End of pre-chapter.
SR: Senior Resident. Kakak kelas yang tinggal di asrama untuk membina adek-adek kelas.
What is this rubbish.
