Inilah dia Chapter 2 yang udah Rinko janjikan.

Oke tanpa banyak cingcong lagi, langsung maju aja.

Dislameir: Kali ini Rin gak bakal mengaku deh. Bleach itu punya om saya. Tite Kubo.#dihajar Tite fc#

Warning: ooc, gajeness, misstypo ada di mana-mana, EYD semerawut #bahasa apa pula#, pokok'e Don;t like, don't read geh.

Kaa-san by Rinko Kurochki (tanpa Raiko)

.

.

.

Awan mendung dan langit yang kelabu mewarnai prosesi pemakaman Kurosaki Rukia. Dengan balutan baju hitam, para pelayat menangisi kepergian Rukia. Setelah prosesi pemakaman selesai, mereka semua pergi meninggalkan pemakaman tersebut. Tak lupa mereka mengucapkan ungkapan belasungkawa pada Ichigo dan Byakuya.

Ichigo masih termenung menatap gundukan tanah tersebut. Walaupun bajunya telah basah kuyup karena hujan yang melanda, tetapi tidak mampu membuatnya ingin pergi meninggalkan pemakaman tersebut. Tatapan matanya benar-benar kosong. Seakan-akan Rukia telah membawa sebagian rohnya bersamanya. Melihat adik iparnya yang masih terus terpaku, Byakuya menghampirinya.

''Pulanglah. Sakura sedang menunggumu.'' Ujar Byakuya menatap adik iparnya tersebut.

Ichigo menganggukan kepalanya lemah ''em.''

Di langkahkannya kaki tersebut pulang ke rumahnya, meninggalkan Byakuya yang masih menatap sendu makam adik tercintanya tersebut.

.

.

#Rin_Kurochiki#

.

.

Ichigo kembali ke rumah dinasnya. Ishida dan yang lainnya telah menanti kedatangan Ichigo. Melihat kondisi Ichigo, membuat semuanya merasa prihatin dengannya. Maklum saja, kehilangan orang yang dicintai bukanlah perkara mudah. Apalagi pernikahan mereka masih terbilang seumur jagung, 2 tahun. Itulah kenapa teman-teman Ichigo datang untuk memberi support padanya.

Ishida sebagai sahabat karib Ichigo mendekatinya dan memberikan handuk padanya.

''Keringkan dulu rambutmu.''

''Terima kasih.''

Ichigo mengeringkan rambutnya perlahan. Ditatapnya wajah Sakura yang tengah tertidur digendongan Inoue. Begitu tenang dan damai. Wajah yang benar-benar mirip dengan Rukia, semakin membuat Ichigo merasa bersalah pada dirinya sendiri atas kematian istrinya. Bagi Sakura, pastilah berat menerima kenyataan bahwa Ibu yang seharusnya ada di sisinya, menyayanginya, dan menjaganya saat ini tidak ada di sisinya lagi.

Didekatinya malaikat kecilnya tersebut. Inoue memindahkan gendongannya pada Ichigo. Sejenak Ichigo mengamati wajah bayi mungilnya tersebut. Dikecupnya pipi, dahi, dan mata putrinya tersebut. Merasa ada yang menyentuhnya, membuat bayi berusia kurang dari 2 hari tersebut membuka matanya. Mata hazel yang hangat seperti milik Ichigo membuat Ichigo kagum.

''Cantik seperti Ibumu. Walaupun warna matamu sama dengan ayah, tetapi pancarannya sama seperti milik ibumu.'' Ichigo tersenyum lembut.

Di pelukanya Malaikat kecilnya itu. Teman-teman Ichigo hanya mampu menatap sendu ayah dan anak tersebut.

7 Tahun Kemudian

''ohayou gozaimasu, Taichou.''

''Ohayou.''

Hari ini adalah hari yang paling menyibukkan untuk divisi 5. Sudah 5 hari ini, Kurosaki Ichigo selalu disibukkan dengan misi yang tidak kenal waktu. Belum lagi paper work yang harus Ia kerjakan. Dan ya, seperti sekarang ini. Di atas mejanya telah tersedia 6 tumpukan paper work yang harus ia kerjakan. Ia menatap nanar paper worknya itu.

'hah. Kerja lagi.' Batin Ichigo menggerutu.

Sebelum Ia meraih paper worknya, seseorang telah mendobrak pintu membuat Ichigo menoleh ke arah pintu itu. Dari luar muncul seorang gadis kecil dengan kerutan didahi.

''Sakura-chan?'' Putri kecilnya itu berjalan cepat sambil tersungut-sungut berjalan kearahnya. Ditatapnya wajah ayahnya tersebut.

''Tou-san berbohong kan?'' Tanya gadis cilik itu sambil berkacak pinggang.

Dari belakang muncul Hinamori dengan nafas tersengal-sengal.

''ano, Ma.. maaf Taichou. Aku tidak dapat menghentikannya.'' Hinamori menunduk dalam.

''Tidak apa-apa, Momo. Kau boleh pergi.''

''Baik. Permisi.''

Ichigo menghampiri putri kecilnya yang masih menggembungkan pipinya dengan kerutan didahi.

'manis sekali. Persis Rukia.' Batin Ichigo sembari terkekeh.

Di gendongnya malaikat kecilnya tersebut. Ichigo mencium lembut pipi Putrinya. Sontak membuat Sakura menolehkan kepalanya kearah ayahnya.

''Tou-sannnnn.'' Rajuk bocah kecil itu. Melihat itu, Ichigo tertawa geli.

''hahaha. Tou-san tahu kenapa kau marah.'' Ucap Ichigo mencoba merayu putri kecilnya.

''jika Tou-san tau, kenapa Tou-san mengingkari janji? Sakura sudah menunggu Tou-san dari tadi.''Ujar gadis manis tersebut.

Kimono pink yang Ia gunakan dan rambut yang selalu di kuncir dua semakin membuatnya terlihat lebih manis. Ichigo terkekeh geli.

''Baik-baik. Kali ini Tou-san yang bersalah. Tou-san sudah ingkar janji. Maukah gadis manis Tou-san ini memaafkan Tou-san?'' Ichigo mengeluarkan jari kelingkingnya. Kebiasaan mereka jika ada dari mereka yang ingin meminta maaf karena mereka salah.

Dengan wajah cemberut, Sakura mengeluarkan jari kelingkingnya.

''baiklah, Sakura maafkan. Tapi jangan diulangi lagi.''

Dengan kekehan geli, Ichigo mengaitkan jari kelingkingnya .

''Terima kasih, nona manis.'' Goda Ichigo.

Setelah acara saling meminta maaf itu, Wajah Sakura tiba-tiba berubah menjadi riang. Ditatapnya mata hazel milik ayahnya tersebut.

''ne, ne, apa kita akan jadi pergi ke tempat kakek, tou-san?''

Ichigo tersenyum lembut pada putri kecilnya tersebut.

''Iya. Tapi... apa tugas rumah dari sensei sudah kau kerjakan, hem?''

''Tentu saja sudah. Minami-sensei pasti akan bangga dengan nilaiku.'' Ujar Sakura membanggakan diri.

Mendengar itu Ichigo tertawa geli. ''Baiklah kalau begitu. Kita pergi sekarang.''

''Benarkah? Yeeyyyyy. Ayo, Tou-san.!''

Dengan menggendong putri kecilnya. Ichigo keluar dari ruangannya untuk beranjak pergi ke tempat ayahnya di Real World, Karakura. Sebelumnya, Ichigo telah berpesan pada Momo bahwa dia akan pergi dan akan kembali lusa.

.

.

#Rin_Kurochiki#

.

.

Melihat kedatangan cucu perempuannya, membuat Isshin berteriak girang sembari memeluk erat tubuh Sakura. Tentu saja hal itu tidak berlangsung lama karena Ichigo telah melepas pelukan itu dan melempar Oyajinya tersebut keluar. Sedangkan Yuzu dan Karin, begitu melihat keponakannya yang lucu ini datang mereka langsung berebutan ingin menggendong. Yang bisa dilakukan Ichigo hanya mengelemgkan kepala.

Hari ini menjadi pesta dadakan untuk keluarga sekarang musim dingin, tetapi tidak menyurutkan semangat mereka untuk mengadakan pesta barbeque dengan mengundang teman-teman Ichigo. Orihime dan Ishida sekarang sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan berumur 5 tahun. Wajahnya persis seperti Orihime. Warna rambut dan sifatnyapun sama seperti Orihime. Hanya saja matanya mirip seperti ayahnya. Melihat adik kecil yang lucu, Sakura mendekatinya.

''halo bibi hime.'' Sapa Sakura dengan senyum manisnya.

''oh hey Sakura-chan. Kau mau bermain dengan himeka?'' tawar Hime pada Sakura.

Sakura menganggukan kepala dan menggandeng tangan Himeka. Melihat itu Orihime tersenyum simpul.

Ishida dan Ichigo sekarang ini tengah memanggang daging untuk pesta dadakan ini. Merasa bosan dengan keheningan diantara mereka, Ishida mencoba membuka topik pembicaraan.

''Bagaimana dengan sekolah putrimu, Kurosaki?''

''Tumben kau menanyakan tentang sekolah Sakura. Ada apa?'' Tanya Ichigo heran.

''Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya saja.'' Jawab Ishida ketus. Sejenak Ichigo menghela nafas panjangnya.

''Beberapa hari ini Ia terus menanyakan tentang Ibunya.'' Ujar Ichigo menatap sendu langit sore itu.

Mendengar itu, Ishida juga ikut menghela nafas. Ditatapnya Sakura yang tengah bermain dengan putrinya.

''Bagi gadis sekecil itu, memang tidak mudah menghadapi cobaan seperti ini. Tapi sebagai seorang ayah, kau harus mau berperan menjadi Ibu untuknya.''

''Aku tahu.''

Keheningan melanda mereka. Dengan pelan, Ishida menepuk bahu Ichigo.

''Kau harus bisa tegar di depan putrimu. Walaupun berat percayalah, Rukia-san akan tersenyum di sana.''

Mendengar hal itu, Ichigo hanya dapat tersenyum simpul.

Malam telah menjelang. Acara makan-makan pun telah dimulai. Mereka semua asyik bercengkrama satu sama lain. Disaat Sakura menolehkan kepalanya ke arah Orihime dan Himeka, terlihat kalau Himeka tengah duduk di pangkuan Orihime. Tertawa lepas melihat wajah Himeka yang belepotan karena Cheese Cake yang Ia makan. Melihat itu, sontak wajah Sakura berubah murung. Hal itu membuatnya iri sekaligus merindukan sosok ibunya. Ichigo yang melihat gelagat aneh dari Sakura segera mendekati putri kecilnya tersebut.

''Ada apa?'' Tanya Ichigo sembari membelai rambut raven putrinya.

Sakura menggelengkan kepalanya. ''Tidak apa-apa Tou-san. Aku akan ke dalam.''

Gadis kecil itu berjalan menjauh dengan kepala tertunduk. Ichigo menghela nafas panjang ketika melihat putri kecilnya tersebut beranjak menjauh darinya. Ia tahu apa yang membuat putrinya menjadi sedih seperti itu. Putrinya merindukan Ibunya. Sudah sering kali Ichigo melihat Sakura seperti itu jika putrinya itu melihat keakraban yang tercipta antara Ibu dan anak. Ichigo ingin menyusul putrinya. Tetapi, Oyajinya meraih lengan Ichigo dan menggelengkan kepalanya.

''Biarkan dia sendiri dulu, Ichigo. Dia butuh waktu.''

Ichgo hanya mampu menatap sendu punggung putri kecilnya.

'Sakura-chan.'

.

.

#Rin_Kurochiki#

.

.

Waktu menunjukan pukul 11 malam. Semua teman Ichigo telah kembali ke rumah masing-masing. Isshin, Yuzu, dan Karin sudah selesai membereskan perlengkapan pesta barbeque yang tadi mereka gunakan. Setelah Ichigo selesai membantu membereskan semuanya, Ia mencari keberadaan putri kecilnya tersebut. Ichigo menemukan malaikat kecilnya tersebut tengah tertidur lelap di depan TV.

''kenapa kau tidur disini, sayang?'' Ucap Ichigo lirih.

Karena ia tidak ingin putri kecilnya masuk angin, akhirnya Ia menggendongnya untuk Ia letakkan di kamar. Dengan perlahan, Ia baringkan tubuh putrinya tersebut. Ichigo duduk tepat di sisi ranjang putri kecilnya tersebut. Dapat Ia lihat ada bekas jejak air mata di pipinya. Dipelupuk matanya pun masih ada air mata yang akan mengalir.

'kasihan sekali, putri kecilku ini.' Batin Ichigo.

Ichigo menyekanya dengan jari telunjuknya. Ia tahu, putrinya ini pastilah akan menangis jika melihat teman-temannya dapat akrab dengan Ibu mereka. Pernah sekali Ichigo melihat Sakura menangis karena Ia tidak sengaja melihat teman sekelasnya tengah asyik bercanda dengan Ibunya. Ichigo yang saat itu datang untuk melihat Sakura hanya mampu menatap sendu putrinya.

''Kaa-san.''

Mendengar putrinya mengigau membuat Ichigo membelalakan matanya. Putrinya mengigau tentang Ibunya. Kembali setelah ia mengatakan itu, putrinya kembali mengigau.

''hiks.. hiks... Aku rindu kaa-san. Hiks.. hiks...'' Isak putrinya.

Ichigo segera meraih tangan putrinya tersebut. Dikecupnya lembut tangan mungil putrinya . melihat putrinya yang terus mengigau tentang ibunya, membuat air mata telah menetes dipipi Ichigo.

''sst... jangan menangis. Tou-san di sini sayang.'' Bisiknya lirih. Dengan perlahan dikecupnya dahi putrinya tersebut. Ichigo menatap sendu putrinya.

''apa yang harus kulakukan, Rukia? Putrimu merindukanmu.'' Ichigo berkata lirih.

Setelah menyelimuti putrinya dan memastikan putrinya telah tenang, Ichigo keluar dari kamar tersebut dan berjalan ke arah dapur. Diraihnya botol air mineral yang ada di kulkas. Walaupun Ia tahu jika saat ini salju tengah turun dan cuaca sangat dingin, tetapi diteguknya air dingin itu Sedikit demi sedikit yang –mungkin- dapat menghilangkan stressnya. Ichigo melihat ayahnya tengah duduk terdiam di depan tv. Tumben sekali Oyajinya tidak menyalakan tv. Ichigopun mendekati Oyajinya.

''Oyaji belum mengantuk?''

''Belum .Kau sendiri?'' Tanya Isshin kembali. Ichgo menggelengkan kepalanya.

Keheningan melanda mereka. Hanya suara hujan salju yang meramaikan suasana antara ayah dan anak itu. Ichigo dengan tiba-tiba membuka topik pembicaraan.

''Ayah, perasaan apa yang kau rasakan pada saat Ibu meninggal?''

''Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?'' Tanya Isshin dengan tanpa menatap putranya.

Ichigo menundukan kepalanya. ''Hanya ingin tahu saja.''

Mendengar jawaban putranya, Isshin terkekeh pelan. Ditatapnya langit-langit rumahnya.

''Jujur saja Ayah sangat terpukul dengan kejadian itu. Ayah tak henti-hentinya menyalahkan diri Ayah sendiri karena telah membuat Kau dan adik-adikmu menjadi seorang piatu.''

Ichigo menunduk sedih mendengar hal itu. Yang ia tahu, dulu ia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Ibunya. Saat itu, Rukia yang selalu berkata bahwa bukan dia yang membunuh Ibunya. Rukia selalu memarahinya jika Ia terus menerus menyalahkan dirinya. Dulu, pada saat Ichigo dalam keadaan terpuruk dan menangis, Rukia akan dengan tanpa segan-segan menendangnya atau memukul kepalanya. Dan ya... pada akhirnya Rukia jugalah yang membuatnya sadar akan hal itu. Isshin tersenyum simpul kemudian kembali melanjutkannya.

''Tapi ketahuilah Ichigo, jangan terus menyalahkan diri sendiri karena kematian orang yang kita cintai. Karena itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Itu adalah kehendak dari Kami-Sama.''

Ichigo mengangguk setelah mendengar kata-kata ayahnya.

''Lalu, bagaimana perasaanmu saat kau harus menjadi seorang single parent?'' tanya Isshin to the point.

Ichigo membelalakan matanya mendengar pertanyaan itu. Seketika wajahnya berubah murung.

''aku tidak tahu apa yang harus kulakukan agar Sakura bahagia.''

Mendengar penuturan putranya, Isshin tersenyum simpul. Ditepuknya bahu putranya tersebut.

''Yang harus kau lakukan adalah jangan menangis di depan putrimu. Karena bagaimanapun juga putrimu tidak bersalah dalam hal ini. Buatlah Ia merasa selalu diliputi kebahagian.''

Sejenak suasana hening saat itu. Tiba-tiba Ichigo mengatakan sesuatu.

''tapi...''

''tapi kenapa?'' Isshin menoleh kearah Ichigo.

Ichigo menundukkan kepalanya dalam. Bahunya sedikit bergetar.

''Aku tidak mampu melihatnya seperti ini jika Ia terus menerus merindukan Rukia. Aku tidak bisa melihatnya terus menerus menangis karena kepergian Ibunya. Apa yang harus kulakukkan, Ayah? ''

Melihat putranya yang mencoba menahan isakan, Isshin merangkul bahu putranya.

''Ayah tahu ini sulit untukmu. Tapi berusahalah. Sekarang, Tidak apa-apa jika kau ingin menangis. Menangislah jika kau ingin menangis. Ayah akan menjadi sandaranmu.''

Ichigo segera merangkul ayahnya. Ichigo menangis pilu dipelukan ayahnya. Kurosaki Isshin menepuk pelan bahu putranya. Mungkin ini adalah tangisan yang selama ini Ichigo coba pendam sendiri , yang sekarang tumpah. Tangisan pilu yang mampu membuat binatang malam ikut merasakannya. Disisi lain, Yuzu dan Karin yang menyaksikan itu ikut menangis. Mereka menatap iba apa yang tengah dirasakan kakaknya sekarang. Kejadian yang mampu membuat sinar redup di mata kakaknya pada saat Ia kehilangan Ibu mereka, kini terulang kembali. Orang yang selama ini kakaknya sebut sebagai orang yang telah mengubah dunianya, kini telah menyusul ke tempat Ibunya berada.

Matahari telah menampakkan kilau cahayanya. Walaupun tidak secerah saat musim semi, tapi setidaknya masih dapat menghangatkan suasana pagi ini. Di Musim dingin kali ini, Sakura tidak lincah seperti biasanya. Ia masih berdiri di depan jendela ruang keluarga mengamati suasana pagi hari di musim dingin. Kakeknya bilang, ayahnya tengah pergi untuk menjalankan tugas sebentar, karena kakek Yamamoto yang menyuruhnya. Lengkaplah sudah hari membosankan untuk gadis mungil ini.

Walaupun Ia masih dalam keadaan sedih karena kejadian tadi malam, tapi Ia berharap ayahnya akan menemaninya bermain salju sekarang. Tapi kenyataannya tidak.

'dasar Tou-san jahat.' Batin Sakura jengkel.

Melihat keponakan kecilnya berwajah cemberut, Karin pun mendekatinya.

''Mau bermain bola salju bersama bibi?''

Sontak gadis mungil itu menoleh dan menatap mata Karin.

''Apa bibi Karin mau?'' tanya Sakura polos. Karin terkekeh pelan.

''Tentu saja. Ayo.''

Sakura segera mengikuti Bibinya tersebut. Di belakang Rumah mereka sekarang ini banyak sekali tumpukan salju yang menggunung. Melihat itu, membuat Sakura tersenyum senang. Diraihnya sedikit salju yang ada dibawah kakinya. Namun sebelum ia membentuknya, sebuah bola salju mengenai tepat di kepalanya. Karin sebagai pelaku utama tertawa geli.

''ahahahahaha. Kena kau, Sakura-chan.''

''Bibiiiiiiiiiiiii. Awas ya.''

Dengan usaha yang gigih, Sakura mengumpulkan tumpukan tersebut menjadi sebuah bola salju. Dilemparnya bola salju tersebut kearah bibinya. Dan... jackpot... kena.!

''Itu balasan dariku, bibi Karin.'' Sakura tertawa geli.

''Baiklah kalau begitu. Perang kita mulai.''

Karin mengumpulkan bola salju untuk menyerang Sakura. Begitupun Sakura yang menyerang bibinya tanpa ampun. Walaupun baru berumur 7 tahun, tetapi kekuatannya tidak bisa dianggap remeh. Terbukti Karin selalu kewalahan menghadapi keponakan mungilnya tersebut.

Mendengar kegaduhan di belakang rumah, Yuzu dan Isshin menuju ke sana.

''Apa yang sedang kalian lakukan?'' Yuzu mencoba menengahi.

''Kami sedang bermain perang bola salju, bibi Yuzu. Mau ikut?''

''asyikkkk. Baiklah, Aku akan jadi sekutu Sakura-chan.''

''kalau begitu kakek akan jadi sekutu bibi karin. Yeahhhhh.''

Masing-masing dari mereka menyiapkan bola salju yang mereka pikir akan mampu mengalahkan lawan mereka. Setelah dirasa cukup, perangpun dimulai. Isshin terus menerus menggempur pertahanan lawan, sementara dari pihak Yuzu dan Sakura tidak mau kalah. Pertarungan bertambah seru saat Isshin berhasil tumbang karena bola yang berhasil dilempar cucunya mengenai wajahnya. Merekapun tertawa bersama.

''Tadaima.''

Kurosaki Ichigo telah kembali dari misinya di salah satu sudut kota Karakura. Karena dirinya yang paling dekat dengan jarak hollow, membuatnya mau tidak mau harus menyelesaikan tugasnya. Saat di tengah perjalanannya pulang, Ia melihat ada boneka chappy kesukaan putri kecilnya. Jadi, Ia membelikannya untuk malaikat kecilnya itu sebagai tanda permintaan maafnya.

Ichigo tersenyim melihat boneka tersebut. Chappy adalah boneka kesukaan mendiang istrinya. Dulu, Ia sering sekali membelikan Rukia boneka seperti ini jika ia pulang dari misi. Tapi sekarang, semua boneka itu Byakuya yang menyimpannya. Takut jika putrinya menanyakan boneka milik siapakah itu.

Ichigo meneriakkan nama anggota keluarganya satu persatu.

''Oyaji, Yuzu, Karin, Sakura, dimana kalian?''

Tidak ada jawaban. Ichigo terus mencari dimana keberadaan anggota keluarganya tersebut. Dapat Ichigo dengar teriakan Yuzu dan putrinya dari belakang rumah. Ichigo bergegas menuju belakang rumah. Dilihatnya Yuzu dan putrinya tengah tertawa riang melihat ayahnya yang terkapar tak berdaya setelah bola salju yang besar menimpa kepalanya. Karin hanya menggelengkan kepalanya melihat kebodohan ayahnya.

Ichigo melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh putrinya. Ia sudah kembali tersenyum riang sekarang.

'syukurlah jika Sakura sudah tersenyum.' Batin Ichigo seraya tersenyum simpul.

''Sakura-chan.''

Mendengar namanya dipanggil, Sakura menolehkan kepalanya kearah asal suara.

''Tou-sannnnn.''

Mengetahui ayahnya telah kembali, Kurosaki Sakura segera berlari kearah ayahnya. Ichigo menangkap tubuh putrinya tersebut lalu mengendongnya. Dicubitnya pelan pipi chuuby milik putrinya tersebut.

''menyenangkan tidak bermain dengan kakek dan bibi, hem?''

Gadis manis itu tersenyum riang. ''tentu saja, Tou-san. Tapi Tou-san tidak ada.''

Gerutu Sakura pada Tou-sannya. Ichigo terkekeh geli mendengarnya.

''maaf ya, nona manis. Tadi kakek Yamamoto memberikan tugas untuk Tou-san. Jadi Tou-san harus pergi pagi-pagi sekali. Tou-san tahu jika Sakura-chan pasti akan cemberut jika Tou-san tinggal. Jadi...''

Ichigo mengeluarkan boneka chappy yang Ia sembunyikan dibelakangnya.

''.. Tou-san belikan ini untuk Sakura-chan.''

''wahhhh... chappy. Terima kasih, Tou-san.'' Ucap Sakura riang seraya merangkul ayahnya.

Ichigo tersenyum lembut sambil membelai rambut raven putrinya.

''Douitashimashite, sayang.''

Melihat hal itu, Isshin, Yuzu, dan Karin tersenyum bahagia.

To Be Continued

Sesuai janji chapter depan adalah ending dari cerita ini.

kalo kalian mau tau ni ya, saya ini sangat tidak menyukai angst apalagi kalau salah satu dari ichiruki tewas.

Readers: Nah lu kenape bikin ini, onyon.

Rinko: karena otak saya kok yang mau. Saya kan hanya menjalankan aja.

Ini adalah sebagai ajang dimana saya mau mengasah kemampuan saya. Saya gak nyari apa-apa di fanfiction. Hanya mau berpartisipasi aja. Hehehe.

Kalo masih kurang berkenan mohon dimaafkan ya. Orang itu harus berusaha untuk maju, jika ia mau sukses... #ceilah... dari mane ni bahase#

Jadi... saya tampung kritik dan saran. Ngeflame nggeh monggo, tapi kacang sekarang mahal lho..#ape nyambungnye#

Okelah.. tunggu chapter 3 nya ya...

Ehehehehe... readers sekalian dapet salam dari Raiko. Katanya kangen ama kalian.

Readers: cuihhhh...

Love you, all...