Main Title :

"Owari"

(End)

Chapter's Title :

Hontou douka shiteru mitai

(There really must be something wrong with me)

~o 0 o~

Saya tidak berniat mengumpulkan keuntungan dalam bentuk materiil dengan FF ini, Naruto dan karakternya adalah karya Masashi Kishimoto

(There is no summary)

07:44 AM 5/2/2013

(hari pendidikan oi)

By: Anonim Now (and forever)


Opening

Nanpeeji mo tsuiyashite tsudzurareta bokura no kibun
Doushite ka ichigyou no kuuhaku wo umerarenai

Our feelings have been written down over countless pages,
But for some reason, I just can't fill in this one line of blank space.

Himitsu to The Hidden Feeling

Shikamaru menengok jam tangan yang bergelung di pergelangan tangan kanannya untuk ke-4 kalinya. Intensitas kegiatan 'menengok-jam' itu berbanding lurus dengan intensitas dia menengok ke jalanan depan kantor besar Hokage- tempat dimana dia berdiri sekarang.

Di sampingnya seorang pemuda seumurannya tengah asik mengamati Shikamaru sambil terus menerus mengeremus keripik kentang merk favoritnya. Pemuda tambun satu itu heran lantaran sahabat jeniusnya itu akhir-akhir ini makin sering bersikap ganjil. Dia hapal kebiasaan sahabat rambut nanasnya itu, sahabatnya itu… Shikamaru Nara, sedang menyembunyikan sesuatu, yang dia mau pun Ino tidak tahu entah itu apa.

Biasanya Akimichi Chouji itu adalah shinobi paling sabar satu angkatan geninnya (Yah kecuali untuk masalah 'gendut' dan 'tidak gendut') Tetapi, mau tidak mau dia mulai luluh, keinginantahuannya mengalahkan 'diam'-nya Akimichi Chouji. Dia menghentikkan kentangnya di udara, tepat di depan mulutnya, lalu menurunkannya, menoleh pada sahabat kentalnya itu.

"Kau tidak apa-apa?"

Shikamaru menoleh demi melihat sahabatnya bertanya padanya, dia jelas sekali sudah ketahuan kalau sedang tidak 'tidak-apa-apa'.

"Hn.."

Lalu Shika melanjutkan ritualnya, mondar-mandir sambil melihat jam.

"Ino pasti sedang sibuk di toko bunga, dia mungkin sedikit telat untuk menghadiri pemberitahuan misi di kantor Hokage hari ini"

-Dan… voila Chouji benar tebakannya. Shikamaru menurunkan tangannya, menatap intens sahabat tambun satu timnya itu.

"Tapi tidak seterlambat ini.. Hokage ke-5 tidak punya waktu sebanyak ini untuk menunggu"

"Kita bisa masuk sekarang, nanti Ino biar kita beritahu belakangan" Chouji memberi alternatif pilihan, merasa Shikamaru sudah tidak sabar lagi menunggu Ino datang.

"Tidak bisa" Shikamaru menjeda kalimatnya, "Ini harus kita dengarkan sama-sama"

"Sama-sama?" Chouji bertanya lugu, menangkap sesuatu yang aneh.

"Apa .. kau sudah tahu misi ini apa? Kenapa kau tahu misi ini harus kita dengarkan sama-sama?"

Shika terpekur sesaat, bingung menjawab apa. Seolah menyampaikan sanggahan pun dia tidak sanggup, bukan karena otaknya tidak lagi mau bekerja, hanya saja, dia tidak mau berbohong.

"Nee… Chouji! Shikamaru!" Tiba-tiba dari kejauhan, Ino terlihat berlari, melambaikan tangannya pada ke-2 sahabat satu-timnya.

Shikamaru senang tidak perlu menjawab pertanyaan Chouji yang terakhir.

"Ma …hahh hah"

Ino terengah-engah, memegang lutut dan perutnya yang keram karena berlari,

"..af.. aku.. telat.. hhah hah"

"Ck, mendokusai.." Shika melengos melihat sahabatnya itu akhirnya datang.

Setelah Ino selesai merapikan ritme napasnya, dia mendongak.

"Kau.. -Shikamaru, sebenarnya ada apa di rumahmu? Banyak ninja dari Sunagakure di depan rumahmu.." Ino alih-alih bertanya di luar konteks, menyampaikan keingintahuannya ketika melihat suasana rumah Shikamaru saat berlari tadi.

"Karena kau terlambat, kita tidak punya banyak waktu, ayo cepat ke atas" Shika memilih menghadiri pemberitahuan tepat waktu, daripada menjawab pertanyaan Ino. Dia mulai menaiki tangga, untuk menuju kantor Hokage.

Ino sebenarnya ingin protes, tapi mendengar nada bicara Shika, dan kali ini karena memang dia yang salah, Ino mengurungkan niatnya. Ino hanya saling tatap dengan Chouji, memberikan tatapan rahasia pada Chouji seolah bertanya 'apakah-dia-PMS?' atau 'apa-aku-terlambat-begitu-lama?'. Entah diartikan apa tatapan Ino oleh Chouji, Chouji hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.

Surprising News

"Apa?" Suara Ino tercekat di tenggorokan, demi mendengar penjelasan Tsunade-sama.

Sabaku no Temari, akan diangkat menjadi seorang ratu di kerajaan Suna, gadis itu.. gadis yang berbeda hanya beberapa tahun darinya, dan satu turnamen dengannya saat akan menjadi genin. Kini akan menjadi ratu? Bagaimana dengan Gaara? Bukankah adiknya itu lebih kuat darinya? Bukankah Gaara mantan jinchuriki ekor satu? Kenapa bukan Gaara yang jadi Raja di Suna? Ah~ Ino punya pikiran buruk tentang 'ketidak-percayaan-rakyat-Suna-pada-seorang-mantan -Jinchuriki', Ino menyamakan keadaan Gaara dengan Naruto, sahabat kuningnya itu juga Jinchuriki, dan sikap orang-orang padanya tidak bisa dibilang baik pada mulanya.

Dan untuk memperparah pemberitahuan Tsunade-sama kali itu, Ino dan Chouji dikagetkan dengan berita bahwa Sabaku no Temari akan (baca: harus) menikah sebelum memegang jabatan Ratu. Dan adat di sana mengatakan bahwa, laki-laki yang berhak menikahi Temari-sama hanyalah laki-laki yang bisa mengalahkannya, dalam pertarungan Shinobi.

Parodi sekali… bukankah itu berarti, laki-laki itu adalah…

"Shikamaru…" Tsunade-sama berkata tegas dalam kalimatnya, "Akan menjadi pengantin calon Ratu Suna itu… "

Ino dan Chouji lagi-lagi terperangah, mereka menoleh cepat bersamaan ke arah Shikamaru yang sedang mengalihkan perhatiannya pada tatapan kaget kawan-kawannya. Dia… jelas sekali sudah tahu fakta ini sebelum mereka.

"Tapi sayangnya, Yoshino Nara tidak menyetujuinya, dia berdalih bahwa Shikamaru adalah putera tunggal pewaris klan Nara di Konoha, dia tidak ingin klan-nya mengabdi pada desa lain, selain Konohagakure" Tsunade berkata serius, menampakkan kebimbangannya.

"Aku sudah berunding dengan para pemuka di Suna dan Konoha, kami tidak bisa memaksakan pernikahan aliansi ini pada klan Nara" Tsunade menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Sebagai alternatif, kami mengadakan turnamen lagi"

"T-turnamen apa?" Ino bertanya tercekat.

"Turnamen untuk mencari Shinobi laki-laki yang mampu mengalahkan Temari, dan menikah dengannya"

"Jika tidak ada yang mampu?" Chouji bertanya di luar dugaan, Ino sendiri kaget, dia menatap Hokage ke-5 dengan tatapan sama ingin tahunya dengan Chouji.

"Klan Nara tidak punya pilihan, mengikuti pernikahan aliansi ini juga bisa diartikan berkorban untuk desa Konoha…" Tsunade-sama menatap Shikamaru yang masih mengalihkan pandangannya pada sudut ruangan, entah Tsunade-sama atau kedua sahabatnya, dia enggan menampakkan ekspresi wajahnya pada mereka.

"Dan untuk perdamaian" Tsunade mengakhiri kalimatnya.

Shikamaru menoleh ringan ke arah Tsunade-sama, memperlihatkan wajah yang sulit dibaca.

Sorry Marry

"Maaf atas pemberitahuan ini…"

Shikamaru memulai kalimat pertamanya sejak keluar dari ruang Hokage, pada kedua sahabatnya.

Baik Chouji maupun Ino masih diam, tidak merespon, lebih kepada, bingung mau merespon bagaimana.

"Maafkan aku Chouji~ aku tidak bermaksud merahasiakn ini padamu, aku hanya, tidak bisa mengatakannya dengan benar"

Shika menunduk, ragu melanjutkan kalimatnya.

"Maafkan aku Ino, aku tidak bermaksud diam-diam menikah duluan sebelum kamu.. aku tidak bermaksud menggagalkan permintaan Asuma sensei padamu untuk memenangkan semua 'persoalan cinta'"

"Maafkan aku, Ino… Chouji… aku…"

"Bodoh…" Ino merutuki sahabatnya itu.

"Jadi kau ragu memberitahu kami hanya karena itu?" Ino melengos mengejek,

"Kau pikir untuk apa Asuma-sensei memintaku memenangkan 'persoalan cinta'? dia menyayangi kita, dia tidak mungkin meminta hal yang aneh padaku hanya untuk menghancurkan persahabatan kita. Tidak masalah jika kau… atau Chouji menikah duluan dari pada aku.. "

Ino berceramah panjang, berkacak pinggang, dia tidak habis pikir kedua sahabatnya itu berpikiran bahwa Ino harus menikah duluan.

"Aku bukan anak kecil, berumur delapan belas tahun bukan berarti hanya identitas saja, itu berarti aku sudah dewasa… aku bisa membedakan mana yang kekanakan, mana yang harus dipikirkan dengan rasional"

"Hey.." Ino tersadar sesuatu, "Apakah Chouji menunda pernikahannya dengan Ayame karena aku juga?" Ino menatap tajam ke arah Chouji.

"A…a-aku" Chouji bergelagat aneh, dia mulai salah tingkah.

"T-Ti.. tidak apa-apa Shikamaru~"

Tiba-tiba Chouji mengalihkan destinasi bicaranya pada Shikamaru, mengalihkan tanggung jawab menjawab pertanyaan dari Ino.

"Aku senang kalau kau akan menikah … meski aku berharap, itu dengan gadis dari Konoha.." Chouji melirik Ino sesaat dengan tatapan ganjil,

"Tapi… aku paham kau sangat bingung bagaimana cara memberitahu kami, jadi… kau menyerahkan pemberitahuan ini pada Hokage kan? Ah… itu sama-saja, yang penting kami sekarang sudah tahu.." Chouji menggaruk belakang kepalanya sambil terkekeh canggung karena Ino masih menatap Chouji dengan tatapan tak menyenangkan.

"Yokatta nee" Shikamaru berkata dengan aksen dan morfem-morfem kata yang tidak biasa, yah.. daripada 'mendokusai' atau 'what the hag' andalannya.

"Lagi pula aku tidak pasti menikah dengan wanita merepotkan itu.. siapa tahu ada Shinobi desa lain yang bisa mengalahkannya" Shika berujar santai,

"Ah~ Sou ka…" Ino dan Chouji berkata bersamaan.

"Yah itu memang tidak pasti, tapi yang pasti… kapan kau dan Ayame menikah?" Ino tiba-tiba bertanya pada Chouji.

Chouji gelagapan, pipinya benar-benar merah.

"I..itu.."

Obvious Tournament

Vo

"Kirigaya Higaki dari desa Kirigakure kali ini gagal menjadi shinobi yang mampu mengalahkan Temari-sama, bahkan luka di kakinya terlihat parah.. Putri tunggal kazekage memang perlu diwaspadai.." Seorang pengomentar acara turnamen meneriakkan kata waspada dengan sedikit serak.

"AIIIHSS… permainan bodoh ini membosankan, Temari menang terus, ngomong-ngomong, buat apa sih kita semua disuruh menjaga turnamen pencarian jodoh barbar ini?" Lee menanyai Tenten di sebelahnya.

"Jangan mengeluh, ini permintaan Tsunade-sama, mana semangat mudamu itu Lee" Tenten bersungut-sungut juga, sebenarnya dia juga bosan melihat calon Ratu Suna, menumbangkan satu per satu Shinobi yang meminangnya.

"Turnamen ini tidak hanya membawa tujuan untuk mencari Shinobi yang akan menjadi suami Ratu Sunagakure, turnamen ini membawa prestise dan masalah politik juga.. wajar kita disuruh berjaga, kecenderungan balas dendam, kericuhan dan semacamnya akan mudah terjadi" Neji mengutarakan pendapatnya. Diikuti dengan anggukan paham Tenten dan Lee.

I..

"Kurasa dia mau membunuh shinobi dari desa Kumogakure barusan, Temari itu benar-benar berbahaya, bahkan disaat shinobi Kumo tadi kehabisan chakra, dia sempat-sempatnya menerbangkannya ke pojok stadium untuk ke sekian kalinya.."

Kali ini Kiba berkomentar dari tribun paling dekat stadium, sambil tentu saja berjaga. Wajar saja, hampir seluruh chuunin di Konoha diminta Tsunade berjaga selama turnamen, mau bagaimana pun turnamen aneh ini dihadiri pemuka-pemuka besar desa ninja.

"DRUUUAKK" Sebuah bongkahan pagar pembatas stadium terlempar indah hampir mengenai Naruto, tentu saja itu hasil karya Temari.

"Haa…Dia bisa saja membunuh penonton di tribun pertama, pantas lima tribun pertama sepi begini… Arrgghh.. hey..hey.. ini hanya pendapatku saja, atau dia sangat niat sekali membunuh semua shinobi yang menjadi lawannya kali ini, kurasa Shikamaru pun kalau sekarang melawannya, akan kalah juga"

Naruto mengomentari balik pendapat Kiba sambil terus menghindari bongkahan pagar stadium yang melayang-layang.

"Tidak" Kiba melompat dari tempatnya berdiri, "..dia mau membunuh kita juga… awas Naruto!" Kiba baru saja akan mengingatkan Naruto akan hembusan angin Temari yang mengarah ke Naruto, tapi sialnya kawannya itu sudah terpental ke tribun paling belakang.

La..

"Sebenarnya dia manis.." Naruto berucap ditengah-tengah tugasnya, masih mengamati jalannya turnamen,

"Aku sempat heran shinobi yang menantangnya hanya sedikit seperti ini, sekarang aku tahu jawabannya dengan baik… haahh Tsundere no Sabaku" Naruto memberi wajah jelek, ketika mengatakkannya. Membuat Tenten dan Lee tertawa.

"Kurasa kali ini dia akan menerbangkan Shinobi Kiri itu ke rumahnya" Shino menunjuk ke arah stadium.

"TUINGG"

Dan tebakan Shino tidak salah. Semua yang mendengar ramalan Shino tadi langsung sweatdrops.

"Ahh~ kalau begini jadinya, Shikamaru akan jadi Raja Sunagakure beneran… sial"

Naruto menyumpah lagi. Ino yang baru datang, dan mendengar ucapan Naruto langsung berhenti. Dia menerawang ke arah tribun paling atas, khusus para pejabat Konoha. Disana Shikamaru berdiri di samping Tsunade-sama, Tsunade sepertinya mengatakan sesuatu padanya, namun Shika hanya diam, dan wajahnya tidak juga terbaca. Hati Ino sedikit sesak.

Bunga Gurun

"Hei lihat Shika!" Ino menunjuk ke arah sekumpulan bunga rambat yang mengelilingi oasis terbesar milik Sunagakure, saat itu, Ino dan Shikamaru sedang jalan-jalan di Suna, yah sebenarnya mereka bertemu dengan tidak sengaja tadi, tapi sepertinya mereka punya pikiran yang sama untuk berjalan-jalan, mumpung ada di luar desa.

"Apa itu?" tanya Shikamaru enggan.

"Itu bunga gurun, cantik kan? Ah~ ini hampir musim gugur, kita beruntung masih bisa melihat bunga selangka ini di Sunagakure, biasanya dia hanya akan muncul di awal musim semi" Ino berjongkok untuk mengamatinya lebih dekat. Bunga putih berputik kuning itu sudah mulai sedikit layu, namun masih bisa terhitung cantik, khususnya dimata Ino.

Shikamaru hanya diam, sambil mengamati Ino menyentuh bunga itu berkali-kali.

"Bagaimana kalau kau bilang pada Temari-san atau Gaara atau pejabat Suna lain, bolehkah aku mengurusi bunga ini? Aku ingin pengembangbiakkannya" Ino berucap semangat.

"Ck, merepotkan sekali.. untuk apa bunga itu di tanam di Konoha? Geografis kita berbeda dengan Suna, bunga itu tidak akan tumbuh, kau menyia-nyiakan waktu" Shika mengomentari permintaan Ino dengan wajah malas. Gadis ini pikirannya bunga terus, bahkan dalam misi sekalipun, batin Shikamaru.

Ino terdiam agak lama, membuat Shika agak merasa bersalah juga, sudah mengeluh pada si maniak bunga ini.

"Ino.." Shika berkata lirih.

"Ini salah mu!" Ino berdiri dan menendang tulang kering Shika dengan sepenuh hati. Kejadiannya cepat dan tiba-tiba sekali.

"A..apa itu?" Shika melompat kesakitan, mengelus tulang keringnya sambil meringis, otak jeniusnya tidak sempat merespon tindakan kilat Ino, lagipula dia tidak menyangka Ino akan begitu marah, hanya karena disinggung begitu, harusnya Shika ingat Ino itu temperamental. Dan sialnya saat marah, Ino bahkan mewarisi kemampuan Yondaime, bergerak secepat kilat seperti barusan. (padahal beda gen)

"Kau seharusnya memberitahuku beberapa minggu sebelumnya.." Ino menjeda kalimatnya, Shika belum mengerti maksud gadis Yamanaka satu ini.

"Kalau ini masih musim semi, aku bisa memanen bunga lebih banyak dan lebih indah, aku bisa mendapatkan bunga gurun lebih banyak juga" Ino memelankan suaranya, sambil berbalik dan menatap bunga gurun layu itu lagi. Shika masih diam dan merintih, dia bingung antara ingin mendengar penjelasan Ino dan mengerang kesakitan.

"Seharusnya… aku bisa memberikan lebih banyak bunga pada pernikahanmu nanti" Kali ini kata-kata Ino benar-benar lirih.

Menyadari maksud Ino sedari tadi, mau tidak mau Shikamaru merasakan panas dalam dadanya. Bukan karena cuaca di Suna yang terik, melainkan ada perasaan ganjil yang sulit keluar dari dada Shikamaru, dan demi mendengar kata-kata Ino tadi, perasaan itu semakin besar saja.

"Aku belum tentu akan menikah sekarang kan.." Shika akhirnya bicara.

"Sou ka.. " Ino berbalik, "Saat pernikahanmu dengan Temari-san nanti, pastikan hanya aku yang merangkaikan dan mengurusi bunganya, kau dan Chouji sahabatku, jadi.. biarkan aku memberikan perlakuan seorang sahabat pada pernikahan kalian.."

Shikamaru, entah kenapa, tidak suka sesuatu dari kalimat Ino barusan.

"Bukan berarti gratis ya? Aku beri diskon 50% saja~ hehehehe" Ino berusaha melucu, tapi bagi Shikamaru itu tidak lucu. Terlebih senyum yang diberikan Ino.. bukan senyum yang biasanya. Shikamaru berpikir, Ino terlalu lama berkutat dengan Sai, maka dari itu senyum mereka kini identik.

Ganjil.

'It' is The Day After Tomorrow

"Kau akan menikah lusa.. pastikan dirimu tidak terlibat banyak urusan penjagaan lagi, fokuslah pada upacara pernikahanmu, mengenai Yoshino Nara, ibumu, aku yang akan bicara dengannya, aku akan membawanya ke Suna" Tsunade berkata tegas, menyampaikan hasil rapat dengan aliansi petinggi-petinggi Suna-Konoha perihal keputusan turnamen pada Shikamaru.

Shikamaru berdiri di depan Tsunade, dia sudah berusaha menngeluhkan, betapa rapat itu sangat merepotkan, karena bahkan dia, yang notabenenya sangat terpengaruh dengan hasil rapat, tidak diundang ikut rapat, atau minimal dimintai pendapat.

"Maafkan aku… aku mohon padamu Shikamaru.. berkorbanlah untuk aliansi ini.."

Hontou douka shiteru mitai

(There really must be something wrong with me.)

To Be Continued

The Closing:

Oshibana no shiori hasande kimi to korogasu tsukaisute no jitensha
Wasurekake no renga wo tsumiagete wa kuzushita

I put in a pressed flower as a bookmark and roll along with you on the bike we found thrown away.
We piled up the bricks we've forgotten and then tore them back down.

Ikooru e to hikizurarete iku kowai kurai ni aoi sora wo
Asobitsukareta bokura wa kitto omoidasu koto mo nai

We're being pulled to the same level, to be equals. All tired out from having fun
I'm sure that we won't remember the frighteningly blue sky.


Tadaa~ ini FF yang saya tawarkan untuk awal Mei ini. (huh so paradoks)

Afwan Jiddan Katsiran agak kurang deksripsi. maklum saya ingin membuatnya abu-abu, seperti warna favorit (ditabok) (tertabok)

nee, tahukah minna-chan opening dan closing itu diambil dari apa? hehehe

saya memang bukan author sehebat author-author lain di fandom ini. apalagi saya bukan fans berat couple ini. hanya saja dulu ada alasan tertentu kenapa saya suka mereka.

walau alasan itu sekarang sudah gak ada sih,

(curhat) (diabaikan)

jadi... maaf FF-nya aneh.

maaf ya~Temarinya kebanyakan, aku sendiri gak tahu kenapa hehehe

maaf geje, maaaaff~

itu dulu deh, nanti kalau mood, tak lanjutin. (afwan logatnya~)

ohya afwan itu artinya maaf, bahasa arab. biasanya sih gak selebay di atas ngomongnya (afwan jiddan katsiran) tapi berhubung saya pantas minta maaf heu.. yah~

kritik, saran, dan komentarnya akan sangat saya hargai~

nee, jaa ne~

wassalam 3

sincerely, Author Anonim