Main Title

'Owari'

Chap's Title

CHAPTER II

'The Curse'

Disclaimer : Naruto by M. Kishimoto

Story by: Anonim Now


Sou yatte ima wa boku no hou e
toitsumeru koto mo nakute
Mada futari wa sugu soko ni iru no ni
Douka mata aemasu you ni nante
Doukashiteru mitai

You used to come search for me way back when
You used to ask so much more of me then
I know that you're still here you still see me you're still with me
Yet why, do I pray to see the old you again
There's something wrong with me


There really must be something wrong with me

Shikamaru berjalan di sepanjang koridor gedung Kazekage dengan langkah yang super malas. Sangat kontras dengan gadis yang berjalan di sampingnya, wajahnya sangat cerah (bahkan terik menurut Shikamaru) dan langkahnya tegas, merefleksikan karakternya sekali.

Shikamaru menyeret langkahnya sehingga menimbulkan suara gesekan antara alas kakinya dan lantai pasir padat yang ia langkahi -semakin memperkontras kedua orang itu. Gadis berkuncir empat di sampingnya sedari tadi sudah menahan omelan lantaran suara itu, namun bukannya terbiasa dengan suara itu, gadis itu memutuskan berhenti dan menegur sejenak, 'yah mendapat kata-kata 'merepotkan' hari ini tidak salah juga, setidaknya di antara kami ada suara selain seretan kaki malasnya' begitu batin Temari.

"Apakah kakimu terlaru berat untuk diangkat, tuan Nara? Hentikan seretan berisik itu" Temari memulai teguran khasnya. Tajam, dan tegas, yah tipikal wanita menurut Shikamaru.

Alih-alih memberikan kata-kata favoritnya, Shikamaru hanya diam dan berhenti berjalan.

Temari mendengus kesal, melihat lawan bicaranya tak juga menjawab.

"Aku menyuruhmu berjalan dengan baik, bukan berhenti" Temari berjalan mendahului Shikamaru yang berhenti di depannya. Shikamaru masih diam, dia diam-diam memperhatikan Temari, mengamati cara berjalan calon Ratu Suna itu, meski langkahnya tegas, gadis itu sedikit pincang. Mau sekuat apapun dia, Shikamaru tau, turnamen kemarin membuat luka juga pada Temari. Luka di kaki dan sekujur tubuhnya. Hanya saja, gadis ini dikenal Shika sebagai tipikal wanita gengsi tinggi, dengan segala alasan dia akan menutupi kelemahannya pada siapa pun juga.

Toh, walau pun terlihat jelas dia menderita juga. Dasar tsundere no tsubaku.

"Kenapa kau memaksakan dirimu?"

Shikamaru tiba-tiba memulai pembicaraan baru diluar ranah perkiraan Temari. Gadis yang setahun lebih tua dari Shikamaru itu menoleh. Menampakkan raut wajah bingung.

"Memaksakan apa?"

"Untuk melakukan turnamen, dan menikah secepat ini, kau masih terluka.. itu jelas sekali!"

Shikamaru menjeda kalimatnya dengan dengusan,

"Lalu kenapa pernikahannya dipercepat? Dan untuk apa kau mau melakukan hal ini? Kau bisa saja menolak" Shikamaru mengutarakan pikiran yang mengganggunya selama ini, masih dengan tatapan dan nada malasnya.

Mengingat bahwa pernikahannya dengan Ratu Suna ini tinggal menunggu jam, Shika mendadak merasa tulang keringnya berdenyut lagi, kalau bertemu Ino, dia pasti akan ditendang lagi, dia akan marah karena persiapan bunga-bunga itu tidak mungkin dilakukan dengan waktu seminim ini. Shika berjengit demi memikirkan hal itu.

"Hah.. kau ternyata memikirkan hal yang sama, kau tahu aku hanya menuruti hasil rapat, desa kami sudah mengalami kekosongan pemimpin terlalu lama. Lagipula lukaku tidak parah", Temari membuang napasnya lega, dia kini mengerti apa yang mengganggu pikiran calon suaminya itu.

"Aku hanya ingin… berguna untuk rakyatku!" Temari berkata melankolis, tidak seperti biasanya, nada bicaranya penuh kelembutan, bukan keangkuhan.

"Aku akan lakukan apa pun untuk mereka, aku tidak masalah meski pernikahan ini dipercepat secepat apa pun"

Temari tersenyum lembut. "Toh, ini untuk desa ku"

Shikamaru terpaku beberapa saat. 'Aku akan lakukan apa pun untuk desa ku' rasanya nada bicara itu pernah dia dengar, mungkin déjà vu dengan perkataan Tsunade;

"..mengikuti pernikahan aliansi ini juga bisa diartikan berkorban untuk desa Konoha"

"Aku mohon padamu Shikamaru.. berkorbanlah untuk aliansi ini.."

Kedua orang yang berkata begitu adalah wanita, pantas saja semuanya jadi merepotkan. Batin Shikamaru.

"Ck, mendokusai"

Temari tertawa demi mendengar kata sakral itu dari Shikamaru.

"Hahaha, aku pikir aku tidak akan mendapatkan kata-kata itu lagi darimu, rupanya aku memang harus membiasakan diri"

Temari melanjutkan jalannya menuju ruang pertemuan. Dia dan Shikamaru akan membahas urusan-urusan pernikahan dengan para petinggi desa.

"Mudah sekali kau bilang 'aku harus membiasakan diri' " batin Shikamaru.

Huh apa sebenarnya ini? Shikamaru benar-benar merasa ada yang aneh dalam hatinya. Dia akan dengan sangat senang hati berkorban untuk desa Konohahakure, tapi dia tidak punya semangat seperti Temari untuk melakukan semua ini.

"Hontou douka shiteru mitai"

Ini pasti ada sesuatu yang salah dalam diriku.

Shikamaru membatin dalam hatinya,

tapi apa?.

Unmei

"Bujang pertama yang akan menikah di angkatan kita" Kiba mengoceh tidak jelas sambil memakan unaginya,

"Dan.. Chuunin pertama di angkatan kita" Kiba melanjutkan fonemnya.

"Mengalahkan Temari dalam turnamen sepertinya telah mengubah hidup bocah pemalas itu..khehehe" Kiba terkekeh tidak jelas.

"Ya ya ..Temari sudah banyak berpengaruh dalam hidup Shikamaru Nara" Naruto menambahkan, sambil menyeruput kuah terakhir di mangkuk ramennya.

"Aku tidak bisa memutuskan, apakah Shikamaru harus senang atau menangis" Sakura menggoyangkan gelas tehnya dengan malas, ikut nimbrung dalam pembicaraan dua laki-laki palingbawel seangkatannya.

"Tentu saja dia senang.. Sakura~ apa maksudmu?" Naruto meletakkan mangkuk ramennya lebay, suara benturan antara meja dan mangkuk, menggetarkan meja dengan keras, membuat beberapa kepala dalam meja yang sama menoleh sebal ke Naruto.

"Ck.. kau ini, apa kau tidak paham perasaannya? Memangnya dia menyukai Temari-sama?" Sakura menjelaskan dengan kesal, dia sudah siap untuk mengeluarkan 'shanaroo' nya kepada Naruto dengan senang hati jika Naruto bertanya lagi.

"Tentu saja~ mereka selalu bersama setelah desa kita beraliansi" Naruto memberikan alasannya.

"Itu karena mereka sama-sama pengurus akademi ninja di masing-masing desa, tentu saja frekuensi bertemu mereka tinggi"

Kali ini Chouji yang memberikan sanggahan, entah bagaimana Chouji sendiri tidak tahu perasaan sahabat kentalnya itu. Shikamaru tidak pernah terbuka soal percintaan, kecuali saat Shika pernah mengatakan padanya bahwa sebenarnya dia menginginkan dukungan dari Chouji dan Ino sekaligus dalam turnamen chuunin dulu. Itu diartikan Chouji sebagai cinta monyet Shika pada Ino pada mulanya, tapi itu semua batal populer, karena Ino ternyata meneruskan dukungannya pada Sasuke Uchiha.

"Shikamaru akan menikah dengan kunoichi kuat yang lebih tua darinya, err… aku juga bingung dia harus bahagia atau tidak" Rock lee mengopi kata-kata Sakura.

Semua sibuk membicarakan pernikahan besok, dan Ino lebih memilih diam daripada nimbrung, dia hanya memangku dagunya dengan tangan, sambil menatap gelasnya yang masih penuh dengan teh hijau. Dia senang salah satu anggota tim 10 menjadi orang yang pertama menikah, secara tidak langsung itu membawa kebanggan pada Ino yang sebenarnya ingin memenangkan semua hal tentang percintaan dari teman-temannya. Namun, kali ini Ino merasaada yang salah dengan semua ini.

"Hontou douka shiteru mitai"

Ini pasti ada sesuatu yang salah dalam diriku.

Ino membatin dalam hatinya, membuang napas lelah,

tapi apa?.

Ano Hana

Ino berjalan-jalan sambil menghirup udara malam yang dingin khas gurun pasir Sunagakure. Manik aquamarine-nya terpusat pada bayangan seorang pemuda yang tengah melukis di dekat Oase besar Sunagakure. Demi memuaskan rasa ingin tahunya, dia menghampiri sosok berkulit pucat itu.

"Aku tak tahu kau ditugaskan ke Suna juga" Ino menyapa Sai, sambil duduk di sampingnya.

"Saya baru ditugaskan tadi sore" Sai meletakkan pensilnya, menatap si lawan bicara sejenak, sambil tersenyum khas.

"Saya dengar, Nara-san akan menikah besok, karena itulah saya ditugaskan mengamankan upacara pernikahan itu juga, dan kalau boleh.. saya juga ingin datang sebagai teman"

Sai tersenyum lagi, semakin sering Ino melihat Sai senyum, semakin Ino merasakan Sai semakin berbakat untuk tersenyum. Meski masih sulit baginya membedakan senyum Sai, dengan yang tulus dan tidak.

"Tentu saja boleh. Kau temannya juga kok, santai saja~" Ino mengayun-ayunkan tangannya pada Sai, memintanya santai saja.

"Ah~ dan berhentilah berkata 'saya' itu terdengar tidak pantas diucapkan laki-laki, aku saja pakai kata 'aku' padahal aku perempuan" Ino menyeringai bangga dengan gaya bahasanya.

(penggunaan kata 'aku' di Jepang memang beda, perempuan biasanya menggunakan 'aku' yang lebih halus, sedangkan laki-laki punya kata 'aku' untuk mereka dengan kesan yang lebih santai, misal; 'aku' untuk perempuan biasanya 'atashi' atau 'boku'., sedangkan laki-laki biasanya malah langsung menggunakan 'ore' (sangat tidak formal), dan 'boku' bagi mereka itu sudah terhitung formal sekali)

"Jangan membuatku merasa bukan perempuan kalau denganmu ya~ hehhe" Ino tekekeh.

Sai mengangguk pelan dan tersenyum lagi, lalu kembali melanjutkan lukisannya.

"Ah~ kau menggambar bunga gurun ya? Bagusnya… dimana kau melihatnya?" Ino iseng mengamati lukisan Sai, Sai menoleh dan tersenyum lagi.

"S-Sa.. Aku melihatnya di sekitar tebing di utara desa sebelum sampai di Suna, beberapa dari mereka sudah nyaris kering"

"Seberapa banyak?"

"Cukup banyak.."

"Bagus.. temani aku kesana"

Ino tiba-tiba impuls mendapat ide merangkai bunga gurun untuk pernikahan Shikamaru.

Hills

"Kita sepakat untuk membunuh mempelai pria dari Konoha itu dulu, dia akan merepotkan mengingat dia bahkan pernah mengalahkan Sabaku No Temari" Seorang pria berjubah hitam berkata pada seorang Shinobi tinggi di depannya.

"Aku tahu.. aku akan meracuni makanannya besok saat upacara, racun dari ular-ular di kawah gunung Myoboku terkenal mematikan, aku sudah mendapatkannya secara illegal. Temari akan kita culik, setelah itu kita akan memaksanya memberikan harta rampasan perang Shinobi Sunagakure"

"Bagus, bagaimana dengan kedua Sabaku bersaudara itu?"

"Mereka juga akan kuracuni, aku punya racun yang cukup untuk seluruh desa, akan ku tuangkan keseluruh oase terbesar di Suna, desa Sunagakure akan musnah"

"Bagaimana dengan para aliansi? Dan shinobi-shinobi desa Konoha?" pemuda berjubah itu bertanya lagi.

"Mereka juga akan mati"

"Apa racunnya masih cukup?"

"Kurasa iya"

Lalu kedua shinobi itu pergi dengan cepat dari sana, menyisakan Ino dan Sai yang bersembunyi di antara semak belukar tebing utara Sunagakure, bunga-bunga gurun yang di pegang Ino terjatuh dari tangannya. Air mata nyaris mengalir dari matanya sebelum Sai menatapnya dengan tatapan tajam,

"Kita harus melaporkannya pada Hokage" Sai berucap dingin.

The Wedding Curse

"Saya tidak ingin mengambil resiko, Hime Temari harus selamat! Dan tetap menikah" Seorang petinggi tertinggi Suna menyampaikan pendapatnya pada Tsunade. Ino dan Sai hanya terpaku di depan meja besar ruang pertemuan Sunagakure, mereka telah mengatakan semua yang didengar dari percakapan kedua Shinobi yang berniat menghancurkan Suna.

"Yang terpenting sekarang rakyat Suna, mereka juga dalam bahaya, bukan hanya Temari saja!" Tsunade berkata tegas dan setengah kesal pada petinggi berambut putih itu.

"Desa Suna bisa bangkit lagi tanpa rakyat, tapi tanpa Ratu, desa tidak bisa bangkit lagi"

"Itu kekanakkan.." Ino berkata dengan suara tercekat, Tsunade mendelik padanya. Ino tentu saja melupakan fakta bahwa ia sedang bicara dengan seorang petinggi di Sunagakure, terbukti dari caranya menghardik petinggi beruban itu. Sebelum petinggi itu protes pada Ino, Tsunade buru-buru meminta Sai membawa gadis itu keluar dari ruang pertemuan.

Di luar ruangan Ino menendang tempat sampah dengan keras, dia berbalik dan siap mericau pada Sai.

"Dasar petinggi kolot, aku yakin Temari-san tidak menyukai cara ini"

"Kita tidak bisa melakukan apa pun Ino, jika kita bertindak gegabah, itu bisa jadi tidak sejalan dengan rencana petinggi, dan akan tambah sulit" Sai mengutarakan pikirannya dengan dingin, senyum tidak lagi menghiasi bibirnya.

"Aku menyesal kita mengatakkan semua ini pada mereka, seharusnya kita mengatakkannya pada Temari, Gaara atau Kankurou" Ino mendengus kesal, seluruh wajahnya merah karena kesal, dia bingung kenapa perasaannya kalut dan labil seperti ini.

Sai menatap Ino tajam.

"Kita dilarang menyebarkan berita ini" Sai berkata seolah dia berhasil membaca pikiran Ino.

"Ya aku tahu, tuan Shimura"

"Aku tidak bermarga Shimura"

"Terserah.."

Ino berjalan menjauhi Sai, menuju tempat lain dimana dia tidak menemukan orang yang bisa membantah kekesalannya, namun Sai terus mengikutinya, Tsunade sudah mewejanginya untuk menjaga gadis itu dari tindakan gegabah.

"Jika aku bisa melakukan sesuatu, aku akan korbankan apa pun agar semua ini tidak terjadi.." Batin Ino.

Di samping itu, Kankurou tengah berbincang dengan Temari di balkon rumah keluarga bergelar Sabaku itu.

"Hah.. aku tak habis pikir kau akan menikah dengan anak ingusan dari Konoha itu, apa kau tidak malu? jangan-jangan kau benar-benar menyukai bocah itu" Ucap Kankurou pada Temari di sampingnya.

"Huh, aku tidak masalah dengan itu dan aku tidak malu juga karena itu. Kalau aku harus mempermalukan diriku demi desa, akan kulakukan, itu harga yang kuberikan pada desa yang melahirkan adik dan kakak yang aku cintai"Dia memandang Kankurou sambil tersenyum lembut.

Kankurou hanya tersenyum tipis. Sambil menggeleng pasrah. Kepala adik-adiknya, terutama yang satu ini, lebih keras dari karang pesisir Iwagakure. Kankurou mendongak pelan, tersenyum pada adik perempuannya.

"Hey-hey! Berhati-hatilah dengan apa yang kau katakan… "

To be Continued


Hmm.. Chapter II ini dibuat kilat-kilat gimana gitu~ jadi maaf kalau banyak minusnya.

Sebenernya aku gak mau lanjutin chap ini kalau bener2 gak niat banget. karena kalau gak niat itu malah bikin gak nge-feel ceritanya. Tapi berhubung saya merasa menulis prolog ttg Shika-Tema di fandom ini malah bikin galau, yoweslah~ lanjutin dulu.

(berasa minjem jutsunya Yondaime buat nge-flash chap 2 ini)~

nee aku mulai paham apa yang dimaksud All-chan (Alleth) dengan 'teknik penulisan masih ada yg perlu dibenahi'

Setelah baca-baca lagi, emang tulisan saya sulit dipahami ya? alurnya melompat-lompat. keburu-buru

(menjitak diri sendiri)

Di Chap II ini, memang konflik sudah mulai saya cuatkan (he)

Semoga dimengerti deh percakapan 2 shinobi yang mau menghancurkan Suna itu, abis kalau sulit di pahami bisa jadi ceritanya nge-hoooong banget gitu.

nee..

Zeroplus-san sejujurnya saya pingin liat kamu nangis darah deh.. XP

ShikaIno Akan saya pertimbangkan, meski, akhir cerita ini sebenernya sudah di otak sih hehe~

Alleth Mohon bantuannya lagi~ saya butuh banyak belajar bahasa nih~ hehe

Yola-san hehe saya masih fans Shika-Ino kok jadi wait and see dulu aja~

(sok misterius) (digoreng)

Ohya maaf ya jika banyak salah~ meski itu di review saya pada FF minna-san atau ke-silent-nan saya setiap membaca FF minna sengaja atau tidak sengaja. Maaf juga FF saya terlalu kaku..

RnR will be very apreciated.. 3

jazakillahu ahsanal jazaa (semoga kebaikanmu dibalas Alloh)