Chap's Title:

"Daijoubu.. desuka?"

Original Story belongs to Masashi Kishimoto sensei

(Yosh, Untuk another disclaimer itu ada banyak cuplikan lagu OST-nya anime Ano hana. aku pake semua OSTnya. Judulnya aoi shiori by galileo galilei, sama secret base yang dinyanyiin seiyuu-seiyuunya.)

Rated: teen

13 Mei 2013

(Pas pembukaan SBMPTN)


Deai wa futto shita shunkan

(saat dulu kita bertemu dalam waktu yang singkat)

(Shikamaru's POV)

Kimi wa Otome Dakara… (karena kau perempuan)

Aku dan Chouji adalah sahabat sejak kecil, meski aku lahir hampir bersamaan dengan Ino, aku tidak mengenalnya lebih lama daripada aku mengenal Chouji.

Itu karena dia perempuan…

Aku dan Chouji sangat dekat sekali, tidak seperti hubunganku dengan Ino, meski kami bertiga punya ke-3 orangtua yang saling bersahabat juga, hubunganku dengan Ino, tidak bisa sedekat hubungan ku dengan Chouji.

Itu karena dia seorang perempuan…

Aku selalu bermain bersama Chouji di hutan Nara, selalu begitu setiap pulang sekolah, itu kebiasaan yang dibentuk orangtua kami. Mereka biasa mengajak kami ke hutan itu, memperkenalkan kami bertiga yah… dengan Ino juga. Kami mulanya bermain bertiga. Tapi aku dan Chouji lupa tepatnya kapan, Ino mulai tidak hadir dalam permainan kami di Hutan Nara. Untuk seterusnya aku bahkan lupa, kami bertiga pernah main bersama.

Itu karena dia seorang perempuan…

Aku selalu pulang sekolah bersama Chouji, meski di sekolah aku akrab dengan Kiba, Naruto dan yang lain. Aku selalu pulang hanya bersama Chouji. Aku tidak tahu sejak kapan kami sedekat ini.

Tapi hari itu berbeda,

Hari terakhir sekolah, sebelum liburan musim panas, beberapa anak sudah mulai tidak masuk sekolah, mereka meliburkan diri. Bahkan Chouji juga, tapi hari itu dia tidak masuk karena dia sakit perut. Aku terpaksa pulang sendirian. Siang itu, sebelum pulang sekolah, tepatnya saat istirahat, aku sedang tertidur di atap sekolah seperti biasa, yang tidak biasa hanya tidak ada Chouji di sampingku, dan hal lain yang membuat hari itu tidak biasa adalah,

"Ino-san~ bisakah kau berikan ini pada Sasuke-kun? Kaori membuatkan ini untuknya" Seorang gadis berambut kepang dua menyerahkan sebuah biskuit berpita pada Ino, seorang gadis lain berwajah bulat tersipu malu di sampingnya.

"Eh? Pada Sasuke? Kenapa harus aku?" Ino bertanya kaget

"Yah~ kau sangat berani, kau teman kami yang baik, jadi tolong kami ya?" Gadis berkepang itu memohon sambil berkedip pada Ino.

Ino melengos.

"Tidak bisa!" Ino memberikan lagi biskuit itu, sambil mendekap tangannya di depan dada.

"Kita bahkan satu kelas dengannya, masa harus aku yang berikan?" Ino membuang muka ketus.

"Kau bohong! Kau juga menyukainya kan? Hah kau selalu berteriak-teriak bahwa kau menyukainya, menyedihkan sekali mengingat Sasuke hanya mengabaikanmu, maka dari itu kau tidak mau menolong kami" gadis-gadis kecil itu menghardik Ino sambil pergi meninggalkannya sendirian.

"Bodoh…" Ino mengumpat pelan.

Shikamaru hanya diam, berusaha agar keberadaannya di atap itu tidak di ketahui Ino.

Seingat Shikamaru, gadis berkepang dua itu, dan Kaori adalah sahabat dekat Ino, mereka selalu pulang bersama, namun sejak insiden di atap tadi, Shika tidak yakin Ino akan pulang bersama mereka.

Maka dari itu…

Kaerimichi ni kousaten de

(di perempatan lampu merah menuju jalan pulangku)

Saat aku temui dia bediri di depan Sekolah sendirian, menunduk dan mengepalkan tangannya. Aku menghampirinya…

Entah sampai kapan pun, aku tidak paham kenapa aku melakukannya.

koe wo kakete kureta ne "issho ni kaerou"

(kau berbicara padaku "mari kita pulang bersama")

"Mau pulang bersama?"

Dia menatap keberadaanku dengan tatapan kaget dan malu. Aku pikir dia akan memakanku bulat-bulat atau menendangku, tapi di luar dugaan dia hanya berjalan dan berkata,

"Ikkou.." (ayo!)

boku wa terekusasou ni (ketika aku tersipu)
kaban de kao wo kakushinagara (aku menyembunyikan wajahku dengan tasku)

Aku tidak tahu apa itu dihitung pulang bersama atau tidak, dia bahkan berjalan beberapa meter jauhnya di depanku, tidak ada suara di antara kami selama perjalanan, dan dia hanya menatap tanah atau sepatunya selama berjalan.

hontou wa totemo totemo ureshikatta yo (sebenarnya, aku sungguh-sungguh bahagia)

Aku tahu aku sedang bermimpi kali ini. Mimpi pulang bersama dengan Ino untuk pertama kalinya saat aku masih di , entah kenapa mimpiku mulai berbeda dari kenangan ku dulu, ketika dia –ino, tiba-tiba berhenti, namun dengan santainya aku berjalan melewatinya, mengira dia hanya lelah atau bagaimana. Namun karena bahkan sampai aku berada di depannya dia tidak kunjung bergerak,

aku akhirnya berbalik, dan bertanya;

"Kau kenapa?"

Dia mengangkat kepalanya dari tundukannya, menatapku kosong.

"Aku hanya bisa sampai sini… aku berhenti disini. Kau berjalanlah saja… " Ino tersenyum aneh.

"Duluan saja… aku disini saja"

Dan seketika aku bangun dari tidurku. Mimpi itu selalu berakhir sampai situ saja.

Good Luck

Langkah Ino berhenti di tengah koridor gedung Kazekage, matanya menyapu lorong panjang itu mulai dari ujung-ujung sepatu miliknya sampai pada ujung-ujung sepatu yang lain. Sepatu Shinobi Konoha yang dikenalnya itu ikut berhenti juga.

Shikamaru Nara kini berada beberapa meter di depannya. Beberapa saat yang lalu, perasaan yang salah yang Ino rasakan sedari makan malam bersama teman-temannya tidak kunjung hilang. Namun kali ini perasaan itu benar-benar kuat dirasakan mencekiknya. Meski ia tahu dengan tidak langsung, bahwa penyebab perasaan yang salah ini, tidak lain dan tidak bukan adalah sahabat kecilnya yang berdiri di depannya sekarang. Mungkin? Ya mungkin saja.

"Sedang apa kau disini?" Shikamaru bertanya, suaranya menggema, membentur dinding-dinding dingin gedung.

"Aku ingin bertemu denganmu"

Sejak mendengar alasan Ino barusan, pelipis Shika berkedut, dan tulang keringnya tiba-tiba nyeri. Dengan pertimbangan dan kalkulasi otak Shika, Ino menemuinya malam itu untuk menendangnya. Alasannya mudah… gadis itu benci karena tidak bisa merangkai bunga gurun untuk pernikahannya besok. Shika meregangkan kaki-kakinya, meski dia tahu persis sakitnya sensasi tendangan Ino, dia memilih menyerah saja. Toh, dia sudah ditakdirkan begitu.

Meski ia pasrah, Shikamaru masih berpikir Ino adalah anggota paling dewasa di tim sepuluh. Mungkin itu efek karena dia seorang wanita, tingkat kedewasaannya lebih tinggi dibanding Chouji dan dia sendiri, bahkan terkadang lebih tinggi dari almarhum Asuma.

Maka dari itu dalam hati kecil, Shikamaru berharap Ino mengurungkan niatnya menendang tulang keringnya.

"Shika"

Ino tiba-tiba sudah berada lebih dekat dari sebelumnya, Shika terhenyak.

"Ya?"

Ino mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya, seikat rangkaian bunga gurun dalam vas pasir padat. Shika tertegun sejenak.

"Maaf hanya ini yang bisa kurangkai untukmu," Ino menunduk sambil tersenyum getir.

"Dan.. Aku berubah pikiran, itu ku berikan gratis saja. " Dia berucap pelan, sementara Shikamaru masih terpekur menatap bunga-bunga gurun itu.

"Yah… ini agak sulit mendapat persetujuan Gaara untuk memetiknya, mengingat dia langka sekali"

Shika menatap Ino dan bunga itu bergantian.

"Tapi kuharap kau mau menerimanya" Ino tersenyum, senyum yang aneh bagi Shika.

Shikamaru menerima bunga itu dari tangan Ino, masih bingung mau berkata apa.

"Arigatou…" adalah satu-satunya kata yang berhasil dia ucapkan untuk bunga gurun pemberian Ino itu.

Sementara itu, Sai membuang napas lega di balik tembok di persimpangan koridor itu, tersenyum sama getirnya dengan Ino.

Bad Son

"Ibu belum datang?" Shikamaru bertanya pada Shizune pagi itu, pernikahannya tinggal sebentar lagi.

"Entahlah, aku dengar Nara-san tidak bisa datang, maafkan kami Shikamaru"

Shikamaru menunduk lemah, dia tahu sifat ibunya yang lebih keras kepala dari siapa pun, jika dia sudah repot-repot setuju dengan pernikahannya ini, maka mendatangi pernikahannya bukan hal yang bisa diharapkan. Karena semua itu terlalu menyebalkan bagi Ibunya.

Kenapa? Kenapa Shikamaru merasa gagal menjadi anak yang baik sejak lahir.

I Bet

"Temari-san… petinggi besar ingin bertemu denganmu di ruangannya" Seorang kunoichi menyampaikan pesan pada Temari dari pintu kamarnya. Temari menoleh pelan, dirinya baru saja mematut diri di depan kaca mensejajarkan baju pernikahannya dengan bahunya,

"Ah~ ya aku akan segera kesana"

Blue Memories

Shika memandang vas pasir berisi bunga-bunga gurun dari Ino dengan tatapan kosong. Dia sudah berpakaian lengkap, hanya tinggal menunggu dipanggil dan dia akan keluar dari ruangannya, menuju balkon besar gedung Kazekage, memasangkan cincin pada jari-jari Temari, dan bersumpah untuk menikahinya. Dan setelah itu rasanya dunianya pasti akan berbeda.

"Shikamaru-san~ upacara akan dimulai…" seorang suruhan petinggi besar memannggilku, membuyarkan lamunanku. Aku menoleh sambil merapikan kerahku, meraih gelas di dekat vas bunga itu, dan menenggak seteguk airnya.

"Ya…"

Inilah… aku akan memulai kehidupanku yang baru.

Ck! Merepotkan.

Kaze to Hana

Nara's POV

Aku berjalan pelan menuju sebuah cuilan langit yang Tuhan berikan pada siapa saja yang berdiri di balkon besar gedung Kazekage. Disana sudah ada Wakil Petinggi Besar, Temari, dan penghulu. Temari memakai gaun putih panjang yang ujung-ujungnya menyentuh lantai pasir, pakaiannya sangat besar, membuatnya terlihat keberatan. Wajahnya ditutupi kain seperti cadar, lebih dari itu, tiara yang dia kenakan sangat besar, maniknya menutupi separuh lebih wajahnya. Dari balik tiara itu, aku bahkan tidak bisa melihat rambut pirangnya itu.

Aku meletakkan langkah kaki terakkirku di sampingnya, gadis di sampingku itu tidak bergerak sedikit pun, menoleh pun tidak. Aku merasa wajar karena mengangguk saja pasti membutuhkan chakra sangat besar terutama untuk menggerakkan tiara itu. Aku meliriknya sekilas, lalu ku edarkan pandangan ke bawah balkon itu, di sana beratus-ratus rakyat Suna bersesakkan untuk melihat prosesi pernikahan calon ratu mereka. Aku melihat beberapa teman-temanku berjaga di setiap sudut keramaian, dan beberapa di atas gedung-gedung tinggi lain. Hokage ke-5, Shizune dan perwakilan Konoha berada di sebarang gedung juga, di balkon ini kini hanya ada aku, Temari, penghulu, dan wakil petinggi Suna.

Aku membuang nafasku pelan, sebelum suara deheman penghulu mengusik telingaku;

"Ehm…" Dia menunjuk tanganku samar.

Aku menghela napas lagi, mengeluarkan tanganku dari saku, berdiri dengan tegak setegak yang aku bisa. Kullihat Temari bergerak tidak tenang, aku menatapnya,

"Kau baik?"

Dia hanya terdiam, menghentikan gerakannya, sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Dengan berkah ikatan persaudaraan antara kedua desa, saya menikahkan anda… Nara Shikamaru dari Konohagakure dan Sabaku No Temari putri Sunagakure …"

Suara bising keramaian di bawah memudar, suara peghulu juga tak jelas kudengnar lagi, akku terpusat pada pikiranku sendiri... aku terpejam. Inilah.. inilah Shikamaru, awal hidup merepotkanmu yang baru.

"Aku tidak masalah harus menikah dengan siapa pun…" Batinku

"Dengan gadis mana pun dan kapan pun…"

"Aku sudah dewasa… aku tidak akan kalah dari Ino hanya tentang soal kedewasaan,"

"Kami lahir bersama"

"Jika dia sudah beranjak dewasa… maka aku juga harus"

"…jika dia bisa mengalah dengan soal percintaan yang menjadi passionnya selama ini, kenapa aku tidak…"

"Jika dia bisa berdamai dengan takdir yang ditetapkan padanya, kenapa aku tidak?"

"Bukankah kami sama?"

"Kami bahkan lahir dan tumbuh bersama… kenapa aku harus menjadi anak-anak terus, dan dia menjadi gadis yang hebat sendirian…"

"Aku akan… berdamai dengan takdirku…"

"Aku tidak peduli meski orang yang aku sukai dan yang akan menikah denganku adalah gadis yang berbeda…"

"Ini takdirku… untuk berkorban untuk desa…"

"Ya kan? Ino?"

"Kau juga… sudah menyadari hal itu kan?"

Aku masih memejamkan mataku erat, namun kemudian aku mencoba membuka mataku dan menyadari aku kembali lagi pada kenyataan yang harus aku hadapi, yaitu menikahi gadis yang berdiri di sampingku.

Aku membuka mataku dan kembali pada cuilan langit yang sama,

Pada sinar matahari yang sama,

Pada biru langit yang sama,

Pada awan yang sama,

Pada keadaan yang sama…

"Ck.. bahkan langit sewarna matamu itu mengajak inderaku mengingatmu di saat seperti ini…"

"Ino… kau gadis merepotkan…"

"Kau sangat merepotkan…"

"Seandainya kau bukan seorang perempuan, kau tidak akan semerepotkan ini, aku tidak akan serepot ini…"

"Seandainya kau bukan seorang perempuan,"

"Aku bisa mengenalmu lebih dulu, bahkan sebelum Chouji"

"Aku bisa mengajakmu bermain di Hutan Rusa bersama Chouji"

"Seandainya kau bukan seorang perempuan…."

"Aku tidak akan menyukaimu seperti ini…"

"Saat ini seharusnya hatiku tidak akan seberat ini… kalau saja kau bukan perempuan Ino…"

"Dadaku tidak akan berdebar sehebat ini…"

"Dan pernikahan aliansi ini tidak akan sesalah ini…"

"Aku… Nara Shikamaru… berjanji akan setia menjaga gadis di samping saya seumur hidup saya dengan menikahinya"

"Aku?" Naruto meniru logat Shikamaru sambil mencibir,

"Bagaimana bisa janji suci pakai bahasa se-informal itu?"

"Baka … apa maksudnya dengan kata 'gadis di sampingnya?' apa sulitnya mengatakan namanya sih" Sakura mendengus, ikutan kesal di samping Naruto. Sejak mendengar janji Shikamaru barusan, dia dan Naruto melonggarkan misi penjagaan mereka, sekedar untuk mencacat gaya bahasa si mempelai pria jenius itu.

"Dia kehilangan akalnya…" Kiba memberi raut wajah jelek, antara mau mengejek Shikamaru dan malu karena pemuda itu membawa nama desa dalam bahasa akadnya yang sangar.

Neji geleng-geleng di sampingnya.

"Ck, Bocah ini…" Tsunade mengepalkan tangannya erat, chakra Shanaroonya bergeliat-geliat di tangannya.

"Beruntung sekali Kankurou sedang ke WC, kalau sampai dia dengar ini, aku yakin dia ngamuk" Shizune tersenyum kaku di samping Tsunade.

Suara riuh terdengar dari bawah, karena bahasa sangar Shikamaru tidak bisa didengar dari bawah, para warga Suna asal berteriak saja, mengira akad sudah sah dilakukan, yah memang sudah sah – namun dengan cara sangat ekstrim ala Shikamaru.

Sementara itu, di balkon utama, wajah penghulu itu memucat dan memucat,

"A-ano?" penghulu di depan Shika tergagap, dia menunjuk Shika dengan tatapan aneh.

"Nee?" Shika menggaruk kepalanya santai, tapi ia dengan cepat sadar penghulu itu tidak sedang ikut-ikutan mengomentari gaya bahasa ekstrimnya barusan, dia menunjuk sesuatu di belakang Shikamaru.

"BRUUAK"

Wakil Petinggi Besar Sunagakure terkapar di belakang Shikamaru, tangannya menggenggam kunai yang basah oleh racun, Tsunade dalang di balik tumbangnya wakil petinggi itu, dia menatap wajah Shika dengan tajam dan serius.

"Ada sabotase, Shikamaru… bawa pergi Temari-san"

Run Away

Normal's POV

Shikamaru melompat bersama gadis berpakaian repot itu di atas gedung-gedung tinggi Sunagakure, mereka sedang dikejar beberapa Shinobi aneh berpakaian hitam. Shikamaru tidak begitu paham sabotase yang dimaksud Hokage ke-5, tapi dia tahu wakil petinggi itu berniat membunuhnya sebelum Tsunade membantunya. Dia harus berterimakasih pada Hokage perempuan itu.

Shikamaru melihat beberapa kawannya juga sedang bertarung dengan shinobi berpakaian sama dengan yang mengejarnya. Sial, batin Shikamaru, dia tidak mungkin mendapat bantuan dalam kondisi seperti ini.

Shika menggeret Temari merapat pada sebuah gedung, bersembunyi.

"Kau lepas saja tiara dan gaun pengantin mu itu, mereka akan dengan mudah menemukan kita dengan pakaianmu yang seperti itu"

Gadis itu masih diam, Shikamaru berpikir dia pasti sedang shock, meski kericuhan di pernikahan aliansi begini sudah sewajarnya terjadi.

Temari masih diam.

Shikamaru berdecak jengkel,

"Ayolah, Kau sudah jadi Ratu sekarang, jangan jadi versi yang merepot…"

Kata-katanya terputus, Shikamaru tiba-tiba merasa kepalanya pening, pandangannya memudar, dia terjatuh ke tanah, dan tidak sadarkan diri, yang terakhir dilihatnya adalah Temari yang masih diam dan berdiri terpaku menatapnya terjatuh.

Azayaka

"Shikamaru-kun daijoubu ka?" suara lembut yang dikenal Shikamaru menyadarkannya dari ketidaksadaran, dia menatap gadis bermanik hijau itu dengan kepala berat, seolah dia baru bangun dari tidur panjang.

"Kau beruntung Shika, kau pingsan bukan karena racun, ini obat tidur, efeknya biasa aktif satu jam setelah mengonsumsinya" Sakura menjelaskan alasan Shika pingsan barusan.

"Sakura~ dimana Temari?" Suara Shika terdengar serak, dia benar-benar seperti habis tidur panjang.

"Aku tidak tahu, bukankah tadi dia bersamamu?" Sakura bertanya balik, nadanya terdengar panik.

Shikamaru langsung beranjak dari tempatnya terbaring tadi, berlari berpisah dengan Sakura.

Beberapa kali dia harus berhadapan dengan shinobi hitam yang menyerang Suna itu, Shikamaru yakin, wakil petinggi yang ingin membunuhnya itu bukan wakil yang sebenarnya, dia pasti sudah mati atau sedang disekap. Ada hal yang aneh, dia tidak merasa mengonsumsi obat tidur apa pun, kenapa dia bisa pingsan? Apa obat tidur yang dikatakan Sakura tadi ada di minumannya? Shika bingung harus bersyukur atau tidak, dia harusnya bersyukur di minumannya hanya ada obat tidur bukan racun, namun karena obat itu dia kehilangan Temari.

Hal aneh lainnya adalah di sepanjang jalan, Shika tidak melihat ratusan rakyat Suna yang tadi di lihatnya berkerumun di tengah desa, mereka semua hilang, yang ada hanya shinobi-shinobi aliansi yang bertarung dengan shinobi hitam dengan kunai basah itu. Shika terhenyak sesuatu,

"Kawan-kawan hati-hati dengan kunai mereka, itu beracun"

Shika melihat Sai yang sedang bertarung dengan beberapa musuh sekaligus, Shika tanpa pikir panjang langsung menolongnya. Begitu semua beres, alih-alih mengucapkan terimakasih, Sai buru-buru pergi ke arah tebing dekat pantai Sunagakure, Shika mendapat firasat Sai buru-buru menuju suatu tempat yang berbahaya, dia lantas mengejarnya.

Koko ni Iru Yo

Semuanya terekam cepat dalam indera-indera Shikamaru,

suara dentingan kunai yang melemah,

suara gesekan alas kaki dan pasir tebing utara Sunagakure, dan

hembusan angin kuat yang mengarah ke satu-satunya laut terluas Sunagakure.

sumpah membunuh dari seorang Shinobi hitam dengan pedang yang terhunus,

terhunus pada seorang kunoichi bergaun putih kebesaran, yang bahkan cadar pernikahan masih menutupi sebagian wajahnya, rambut pirang itu mencuat berantakan, dia parah sekali.

"Mati kau.. "

Dan kata-kata itu memulai akhir yang sebenarnya, Temari terdorong kuat ke ujung tebing menuju laut, dengan puluhan karang tajam menyembul di bawahnya.

Sai terlihat tak bisa berkutik meski dia berada di sana, dia juga terhimpit oleh puluhan Shinobi hitam yang menyibukkannya.

Bagaimana dengan Shikamaru?

Dia baru sampai… dia baru saja sampai ke tebing itu, ketika tubuh gadis yang sebelumnya berada di sampingnya di atas balkon gedung Kazekage, terhempas tak berdaya menuruni terjal tebing menuju laut lepas.

Angin berhembus ganjil.

Bersama angin… Ratu penghempas angin itu jatuh dan membawa tubuhnya sendiri ke laut dingin Sunagakure.

"TEMARI!"

Memori (flashback)

"Aku hanya ingin… berguna untuk rakyatku!" Temari berkata melankolis, tidak seperti biasanya, nada bicaranya penuh kelembutan, bukan keangkuhan.

"Aku akan lakukan apa pun untuk mereka, aku tidak masalah meski pernikahan ini dipercepat secepat apa pun"

Temari tersenyum lembut. "Toh, ini untuk desa ku"

(end of flashback)

Okaeru

"SHIKAMARU!" Ino memanggil namanya dengan sangat keras, Shikamaru menoleh lemah, sangat malas menoleh sebenarnya.

Di belakangnya dilihatnya Ino dan Chouji berlari mengejar langkahnya yang sudah lebih dulu meninggalkan gerbang Akademi usai sekolah sore itu.

"KAU ditungguin tahu!" Ino masih berteriak dari kejauhan, Shika menghentikan langkahnya, benar-benar menoleh dan berniat menunggu kedua sahabat satu tim-nya itu.

"BRUAAKKK" Ino menghempaskan tasnya ke punggung Shikamaru begitu jaraknya sudah dekat, Chouji yang tertinggal jauh terengah-engah sambil menatap adegan sadis itu, dia ingat betul tadi pagi satu-satunya gadis dalam timnya itu mengaku membawa gunting tanaman dalam tasnya untuk keperluan Ikebana dan mengurus taman Akademi. Jadi kesimpulannya, Shikamaru pasti kesakitan.

Shikamaru terhuyung jatuh ke depan. Sedangkan Ino hanya terkekeh sambil menyampirkan tasnya lagi di punggung. Dia berjalan melewati Shika dengan santai.

"Okaeru!"

(*Ayo pulang!)

Shikamaru terbangun dengan cepat dari pembaringannya, dia terengah-engah, nafasnya sangat berat, namun engahannya cepat. Membuatnya merasa seolah tulang-tulang rusuknya nyaris remuk. Namun kenyataanya memang begitu, bergulung-gulung perban melingkari dada dan tangannya.

Dia baru saja bermimpi lagi, mimpi pulang akademi lagi… sial sebenarnya apa yang otaknya selama ini pikirkan? Kenapa hanya mimpi aneh itu terus yang ada di otaknya selama pingsan? Dia buru-buru beranjak, jauh dari mimpi itu, ada hal yang perlu dia pastikan, yang seharusnya dia pikirkan…

Shikamaru, kini sedang berlari. Berlari di lorong-lorong sempit rumah sakit Sunagakure.

Menabrak beberapa perawat ber-badge Sunagakure, dan pasien-pasien lain.

Pikirannya kini, dipenuhi sosok yang nyata, sosok gadis bergaun pengantin yang berpura-pura kuat yang terjatuh di tebing Utara dalam ingatan terakhirnya. Temari.

Shikamaru tidak yakin kenapa hanya itu yang tersisa di dalam ingatannya, kenapa dia bisa terbaring di sini? Kenapa dia diperban? Dia tidak yakin bagaimana itu semua terjadi…

"Hontou douka shiteru mitai"

Ini pasti ada sesuatu yang salah dalam diriku. Batin Shika. Kenapa rasanya ada perasaan yang berakhir begitu menyakitkan. Dia mencari Temari untuk memastikannya.

Role

Shika terpekur sesaat, didapatinya kamar rawat Temari yang luas dengan banyak alat khusus di dalamnya. Terlihat gadis berambut pirang tua itu terduduk lemah di tempat tidurnya, dia sadar. Gadis itu jauh lebih baik-baik saja daripada yang disangka Shikamaru.

"Te-" Belum selesai Shika menyelesaikan kata panggilannya pada Temari, dia mendapati orang lain dalam kamar itu, seorang shinobi mantan anbu yang dia sangat kenal.

-Sai, berdiri beberapa meter di samping tempat tidur Temari, bercakap dengan Temari dengan mimik serius. Sejenak setelah keduanya sadar Shika berada di depan pintu mereka menghentikkan percakapan mereka.

Keduanya menatap Shika dengan tatapan sama payahnya, ada yang disembunyikan dalam percakapan itu, mengingat mereka langsung diam ketika Shika masuk, begitulah kalkulasi Shika saat itu.

"Nee," Sai menunduk hormat pada Temari, "Urusanku sudah selesai, aku pamit Nyonya Kazekage" ada nada aneh pada kata-kata Kazekage dalam suara Sai, meski begitu, Shikamaru tidak yakin itu sindiran atau bukan.

"Kau tidak perlu buru-buru" Shika menghentikan langkah Sai dengan kata-katanya.

Langkah Sai terhenti di samping Shika, dia tersenyum, kali ini terlihat sekali palsu.

"Aku sudah selesai"

Lalu dia menghilang di balik pintu kamar besar itu.

Kini tinggal Temari dan Shika.

"Kau tidak apa-apa?" Shika memulai kata-katanya, Temari hanya diam.

"Aku pikir kau nyaris mati, di luar dugaanku kau benar-benar kuat" Shika tersenyum tak simetri, jengkel juga mengakui Temari sekuat ini, meski dia lega Temari baik-baik saja.

"Aku tidak sekuat itu, untuk menerima dua orang tamu menyebalkan dalam waktu bersamaan di waktu istirahatku, bisakah kau keluar?"

Gaya bicara Temari terdengar sangat santai, Shika lega mendengarnya. Dia berbalik,

"Ya…, dasar merepotkan"

Sebelum benar-benar keluar, Shika menatap sejenak Temari yang menunduk dalam duduknya. Shika baru sadar, gadis itu tidak menatap wajahnya sama sekali selama bicara.

The Last Chakra

"Kau tidak apa-apa?" Tanya sakura selepas mengecek luka Shikamaru, selama mengecek, gadis itu juga menceritakan, betapa desa Suna sangat parah kerusakannya. Meski begitu korban luka dan meninggal tidak begitu banyak, itu karena beberapa waktu sebelum penyerangan, ada shinobi aliansi yang mendapat bocoran sabotase itu. Begitu yang Shika tau dari cerita Sakura.

Maka dari itu, racun di oase yang sudah di sebarkan tidak begitu berdampak buruk bagi para warga, karena sepuluh oase terbesar yang terkontaminasi sudah dikuras dan airnya di buang ke laut. Mungkin hanya beberapa warga yang kurang beruntung dan sempat meminium racunnya, beberapa di antara mereka bisa di selamatkan tepat waktu, yang lainnya meninggal. Jika shinobi-shinobi aliansi tidak sigap menguras ke-10 oase kejadian ini bisa jadi lebih parah.

Dan sejauh ini, shinobi konoha tidak ada yang terluka parah, mereka semua sedang di rawat di rumah sakit Suna.

"Untunglah, kawan-kawan semua baik-baik saja" Sakura berucap sambil melirik Shikamaru yang terpekur.

"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Temari-san? Kudengar kau merobek infuse hanya untuk berlari mencarinya…" Kata-kata Sakura agak tajam.

"Dia masih belum bisa dijenguk lagi, pertama dan terakhir kali aku mendatangi kamarnya, dia menyuruhku keluar" Shikamaru menjawab pertanyaan Sakura tentang keadaan Temari dengan malas. Luka Shika tidak begitu parah, dia sudah nyaris pulih untuk sekedar berjalan-jalan keluar, meski harus mendapat teriakan Sakura berkali-kali.

"Aku tidak melihat Rock-lee, Ino dan beberapa Shinobi lain di rumah sakit ini" Shikamaru tiba-tiba menyadari sesuatu,

"Mereka mungkin dirawat di Konoha, aku tidak begitu tahu jelas teknis penempatan pasiennya, tapi Rumah Sakit ini memang sangat penuh sejak tragedi itu," ucap Sakura sambil bersedekap dan bersandar di jendela,

"Kuharap Piggy tidak apa-apa, aku bahkan tidak sempat mengecek rumah sakit konoha, aku sibuk sekali disini" Sakura berkomentar dengan kesibukkannya merawat pasien.

"Ya… aku juga" Shikamaru berucap dalam hati, dia khawatir juga dengan sahabat-sahabatnya itu, mendengar cerita Sakura, teman-temannya tidak ada yang tahu perihal sabotase mendadak itu, mereka pasti tidak siap menghadapi serangan itu, makanya banyak di antara mereka terluka. Padahal kalau diperhitungkan lagi meski jumlah shinobi musuh itu banyak, mereka bukan professional semua.

"Shikamaru, kau tahu sebutan isterimu itu pasca tragedi ini?" Sakura tiba-tiba berucap diluar konteks

"Apa lagi? Tsundere no Sabaku terkuat?"

"Hehe, kami menyebutnya 'Gadis mati suri'" Sakura terkekeh mendengar kata-katanya sendiri,

"Ck. Mendokusai"

"Tapi itu ada alasannya," Sakura menegakkan tubuhnya, nada bicaranya mulai serius,

"Hinata kan pandai merasakan chakra dengan matanya," Sakura mulai bercerita,

"Menurutnya chakra orang yang terjatuh dari tebing itu adalah owari no chakra, Chakra terakhir yang biasanya membawa serta jiwa pemiliknya pergi dari tubuhnya, tapi…" Sakura menjeda kalimatnya, wajahnya menegang,

"Kau tahu sendiri Temari-san pasti sangat kuat, sampai keluarnya owari no chakra saja tidak bisa membuatnya mati" Sakura menoleh ke Shikamaru yang ikut-ikutan berwajah serius.

"Apa jangan-jangan dia jincuriki juga? Ah itu memang tidak mungkin, tapi benar-benar~ Sabaku bersaudara itu orang-orangnya kuat-kuat semua"

Sakura berbalik menatap desa Suna dari jendela yang disandarinya tadi.

"Bahkan 60% kerusakan desa sebenarnya akibat ulah Gaara, dan Kankurou bisa menguras 4 oase sendirian, padahal yang lainnya dilakukan lebih dari delapan puluh shinobi, sedangkan Temari, dia tidak bisa mati" Sakura tersenyum getir.

Sementara Shikamaru masih diam, dia merasa ada bagian yang aneh dengan kata-kata Sakura tadi.

Clue

"Kau tidak apa-apa kan?" Ibu Shikamaru bertanya di seberang telepon, berita kerusuhan Suna pasti sudah sampai padanya.

"Ya, aku baik" Shika menjawabnya santai, meski dia senang bisa mendengar suara cerewet ibunya.

"Bagaimana dengan Ino di sana? Apa dia baik?" Shikamaru tiba-tiba teringat tentang Ino yang dirawat di Konoha.

"Ah? Ino-chan dirawat disini?" Ibunya bertanya dengan nada tinggi setengah berteriak, Shika mau tidak mau menjauhkan telepon di tangannya dari telinga.

"Ya, sebagian shinobi dirawat disana karena disini penuh"

"Ah kau seharusnya memberitahu kaa-chan, kaa-chan tidak tahu" Suara ibunya terdengar kesal.

"Yah~ aku juga baru tahu, dia tidak dirawat di rumah sakit Suna, kemungkinan sih dia di Konoha"

"Kalau Ibu tahu, Ibu pasti langsung kesana begitu mendengar tragedi ini Shika, dia terluka parah tidak ya? Apa dia baik-baik saja?"

"Ck, bagaimana bisa aku tahu? Ah kau ini"

"Siapa yang kau sebut 'kau' ha?"

"Ah~ betsuni~ aku senang ibu tidak jadi ke Suna saat itu, kalau ibu kesini, ibu bisa terluka"

"Ya, maka dari itu ibu harus segera bertemu dengan Ino-chan, ibu harus berterimakasih"

Shika terhenyak, berterimakasih?

"Berterimakasih untuk apa?"

"Berkat dia menelpon cuaca di Suna sedang buruk, dia meminta ibu tidak datang ke Suna saat pernikahanmu, dia meminta ibu datang setelahnya saja"

Cuaca buruk? Bagaimana mungkin? Bukankah malam sebelum pernikahannya begitu cerah?

"Sudahlah, Ibu mau menjenguk Ino-chan dulu ya?"

Lantas suara telepon yang putus mengganti percakapan itu. Shika masih terpaku di tempat.

'Kenapa Ino berbohong pada Kaa-channya?'

'Apa dia adalah shinobi aliansi yang tahu sabotase ini sebelumnya?'

Buru-buru Shikamaru mengangkat ponselnya lagi, kali ini dengan nomor tujuan beda dari sebelumnya.

"Kakashi-sen? Bisakah kau cek sesuatu untukku?"

#

"Hontou douka shiteru mitai"

Ini pasti ada sesuatu yang salah dalam diriku.

#


Zero-san, nee gomenasai.. banyak Shika/Tema-nya. cup cup jangan ngamuk lagi ya, bisa-bisa kotak ripiuw ku berantakan gara-gara kamu.

Magenta-san. inget magenta itu inget Ino ya? magenta itu semacam ungu bukan sih? (ganyambung) nee aku paham akhirnya elipsis itu apa, aku sudah berusaha benerin di chaps lanjut-lanjutnya, hehe tapi maaf ya kalau ada khilap khilap gitu... hehe dan gomen ne yank-san ini agak telat banget nglanjutinnya, hehe (ditimpuk)

Tomcat(?) aaarrrrgh maakaashiihhh pembenarannya, hehe biasalah manusia banyak salahnya, (garuk garuk kepala)

Nita-san, ripiew nit-san gak geje kok.., nyenengin malah, jadi RnR terus yaak? (pinginnya) hehe iya ya? aku juga udah kebelet ngeluarin chaps yang full mereka berdua. tapi aku belum dapet feel nih hehe

Yola-san, Shikamaru gak ingusan kok, (kecuali kalau lagi pilek). (ditimpuk sandal swallow sama Yola) nanti ku timpukkin kankurou deh gara-gara ngomongin Shika Ingusan, tenang ya Yola-san, hehehe

zielavena96-san. apa yaaaaw? ayo ayo tebak tebak berhadiah (ditimpuk sandal lagi)


Yosh, aku sadar ketika ngpost chaps ini, udah mulai ketahuan gimana arah ceritanya.

Aku lagi-lagi punya alasan khusus ngpost chaps ini. Awalnya udah bener-bener males ngpost lagi, karena setelah baca kok aku gak bisa dapet feelnya banget, akhirnya meski sudah jadi agak lama, chaps ini gak ku post post in.

Semoga fic ini lekas berakhir.

Teruntuk sahabatku, yah walaupun kamu bukan fans ShikaIno, walaupun kita bukan sahabat karib, aku ngepost ini buat kamu DK-san. Selamat jalan ya~

Nee, minna-san, Author ini bukan fans ShikaIno yang baik, bukan author fic yang baik, bukan temen yang baik, tapi bolehkah aku minta tolong?

dan nonim-chan juga bukan hamba Allah yang baik,

Jadi tolong bantuin doa ya, buat temenku DK-san. Baru saja meninggal dunia kemarin tanggal 12 Mei 2013. Itu salah satu alasan nonim ngpost chaps ini -meski dengan aras-arasen.

Semoga dia diterima di sisi-Nya.

DK-san~ semoga kamu lulus UN juga ya…

arigatou gozaimasu for reading~ pls continue to review my Fic...