Chap's 4
title:
'Gomenasai'
Disclaimer , Naruto , by Masashi Kishimoto
rated : teen
#
"Aku… sudah putuskan! Aku akan memberikan tahtaku pada adik dan kakakku…" Temari berujar lemah pada rapat aliansi itu, suaranya serak namun air mata tak bisa terlihat dari wajahnya.
"Aku bukan ratu yang baik"
#
Mayat Hidup
Sambil bersandar di ranjang rumah sakit, Shikamaru menatap langit malam Sunagakure dari satu-satunya jendela di ruangan kecil itu. Kejadian akhir-akhir ini sangat ganjil, Shikamaru merasa ada banyak hal yang disembunyikan dalam tragedi pernikahannya ini. Tapi… dia tidak kunjung mengerti juga apa itu.
"Apa aku harus bertanya pada Hokage?" Shikamaru berujar pelan sendirian. Tidak! Tsunade-sama pasti tak akan mengatakkannya. Dia terlalu terikat kode etik untuk sekedar memberitahukan padanya apa yang terjadi. Cih! Meskipun seharusnya Shikamaru tahu, terlepas dari kode etik apa pun, dia adalah suami Ratu Sunagakure.
Aihs.. Shikamaru benci harus menjadi suami gadis mati suri itu. Di luar dugaannya ini sangat merepotkan. Bahkan teman-temannya juga harus merasakan repotnya.
Tunggu sebentar… Ada orang lain yang bisa dia tanyai tentang semua ini. Ya! Meskipun dia tahu ini tidak akan mudah mendapat informasi dari orang ini.
Sai Himura ?
Dia berada di tebing Utara saat Temari jatuh ke laut, dia berada di kamar Temari saat Shikamaru mendatanginya. Bukan tidak mungkin Sai mengetahui sebagian hal yang tidak diketahui Shikamaru. Shikamaru berdecak kesal, sejak awal kedatangan mayat hidup itu dia tidak bisa benar-benar menyukainya. Setidaknya pikiran buruk selalu membayangi firasatnya tentang Shinobi mantan anbu Roots itu.
Sai juga ditugaskan khusus oleh Tsunade setelah turnamen bodoh itu, dia tidak ditugaskan sepaket dengan teman-temannya. Dia pasti punya tugas khusus.
Shikamaru memutuskan berhenti dari semua kalkulasi itu, dia mulai beranjak dari ranjangnya. Shika meraih kantung infuse dan mengantonginya di saku jaket Shinobinya. Tujuannya sekarang adalah…
'mencari mayat hidup itu'
#
Sai sedang duduk di kursi panjang dekat oase Suna yang setengah terkuras –sendirian mengingat saat itu nyaris tengah malam. Tangannya sedang memegang buku sketsa dan kuas di tangan lainnya. Pandangannya kosong jatuh jauh ke dalam lukisannya sendiri, lukisan bunga gurun yang hampir jadi.
Kebetulan setelahnya angin berhembus ganjil ketika kuasan terakhir nyaris diselesaikan Sai, Sai menoleh pelan ke arah pintu gerbang Oase menyadari kehadiran sosok lain di Oase itu selain dirinya. Dia tersenyum pada sosok yang berdiri di gerbang itu.
"Konbanwa… Nara" Sai berucap datar.
Shikamaru menatapnya dengan tatapan menyelidik nan tajam. Alih-alih menyerangnya dengan kunai seperti yang ingin dia lakukan sejak pertama menemui pemuda itu, dia hanya menghela nafas berat dan tersenyum tak simetri.
"Konbanwa…"
#
Lukisan Sai kini tergeletak di samping kursi Oase itu. Kursi itu kini tidak hanya ditempati Sai seorang, dia berhasil mendapatkan teman yang menemaninya duduk di kursi itu, terlepas dari suka atau tidak Sai pada kehadiran sosok di sampingnya.
Sai meneguk teh kaleng yang dia bawa dengan khidmat, berbeda dengan pemuda di sampingnya, dia hanya memainkan kaleng teh itu di tangannya. Tidak berniat meminumnya sama sekali.
"Duduk bersama di kursi tengah malam begini, apakah itu biasa dilakukan oleh teman?" Sai tiba-tiba berujar, berusaha tersenyum lagi. "Hatsyii…" Sai melanjutkannya dengan bersin.
Shikamaru membuang napas, mulai bersandar pada kursi itu. Menatap Sai yang sedang mengelus hidungnya.
"Ya… mungkin" Shika memutar kaleng teh-nya sekali lagi, "Tapi biasanya tidak semalam ini, ngomong-ngomong apa kau sakit?"
Sai hanya tersenyum sekadarnya dan menggeleng.
"Sejak mengenal shinobi Konoha aku mulai mengenal banyak ikatan yang tidak kupahami" Sai berujar lagi.
"Ikatan Naruto dan Sasuke… Ikatan Sakura dan Ino, ikatan Hyuuga dan Naruto… semuanya membingungkan…"
Shika terdiam, mendengarkan setiap kata-kata Sai dengan seksama.
"Mereka mengorbankan diri mereka karena ikatan dengan orang lain, aku tidak mengenal yang disebut 'ikatan' ini sebelumnya,"
"Ini sangat rumit… aku tidak bisa paham bagaimana cara mereka berpikir tentang ikatan mereka"
Baru kali ini Shikamaru mendengar Sai berkalimat lebih dari biasanya. Bahkan kali ini seolah curhat padanya. Shikamaru masih diam. Sai kembali meneguk teh dalam kaleng miliknya.
"Ikatan itu bukan sesuatu yang bisa kau putuskan sepihak…" Shikamaru akhirnya mengeluarkan kata-kata sejak pertama kali duduk di sana.
"Aku juga tidak paham apa yang kau maksud dengan ikatan" Shika membuka kaleng teh itu pada akhirnya.
"Kebanyakan ikatan akan kau sadari ketika kau kehilangan orang yang bersangkutan, bisa dikatakan… Ikatan itu ada karena kita tidak bisa hidup sendirian, dan merasa kehilangan. Asalkan orang-orang saling mengerti satu sama lain, itu sudah termasuk ikatan" Shikamaru menyelesaikan kalimatnya dengan menenggak teh kaleng miliknya.
Sai tersenyum lagi.
"Wakatta, aku pikir kita saling mengerti, Shikamaru… Hatsyiii" Sai bersin lagi, Shikamaru tidak benar-benar memperhatikan bersin Sai, dia terlalu malas memikirkan kesehatan pemuda mayat satu itu.
Lebih dari itu Shikamaru menoleh pada Sai cepat, rasanya di panggil dengan nama kecil oleh orang sekaku mayat begitu terasa ganjil.
"Aku pikir kita bisa jadi teman…" Sai tersenyum lagi dalam kata-katanya.
"Meski pertemuan pertama kita sangat buruk…" Sai melanjutkannya, masih dengan ekspresi dan nada bicara yang sama.
"Tapi rasanya, ikatan kita tidak semudah itu ya?" Sai tersenyum lagi, meski kata-katanya tidak formal, nadanya tetap terdengar tidak pas.
"Aku masih merasa, kau masih memandangku sebagai musuh" Sai menoleh pada Shikamaru, lalu tersenyum lagi. Senyum yang semua orang tahu itu palsu.
"Aku memang tidak suka padamu" Shikamaru bicara jujur.
"Tapi bukan berarti ikatan bisa dibuat hanya dengan rasa suka, bahkan keadaan bisa membuat kita berteman"
Sai tersenyum lagi. Namun senyumnya buru-buru hilang, dia sadar orang di sampingnya berada di luar pembicaraan, pikirannya jauh dari sana. Perhatian Shikamaru kembali pada Sai, tepatnya pada tangan pemuda seputih mayat itu, tangannya berkerut, seolah baru terendam air lama, kalau diperhatikan lagi, Shikamaru baru sadar Sai lebih pucat dari biasanya. Apa dia benar-benar sakit?
"Ada.. masalah?" Sai akhirnya berujar, tersenyum lagi.
Shikamaru mengangkat pandangannya dari kaleng tangan Sai yang berkerut. Shikamaru pikir dia seharusnya tidak terlalu memikirkan keadaan Sai, dia pasti habis terendam air lama karena menguras oase. Begitu perkiraan Shikamaru.
"Kau tadi bilang kita bisa saling mengerti… kau pasti tahu bahwa aku kesini dengan maksud tertentu…" Shikamaru berujar dengan nada serius.
"Katakan…" Shikamaru menoleh penuh ke arah pemuda yang duduk di ujung kursi lainnya itu.
"Apa yang aku tidak tahu… namun kau ketahui… tentang tragedi kemarin"
Sai yang menatap Shikamaru tidak langsung tersenyum, dia menyiratkan pandangan tak bisa ditebak dari tatapanya pada Shikamaru. Namun sekali lagi dia berusaha tersenyum palsu lagi sebelum memulai berkata.
"Wakatta…"
#
Shikamaru berlari sekencang dia bisa menuju gedung terbesar desa pasir itu. Dia harus bertemu dengan Temari.
Flashback
"Yang aku tahu dari tragedi itu… Temari-san tidak benar-benar bangkit dari kematian, dia…tidak mati suri," Sai berujar tenang.
"Dia mengadakan perjanjian dengan seseorang… "
Shika terhenyak,
"Perjanjian macam apa?"
"Bertukar hal yang berharga… Temari-san menukar hidupnya dengan perjanjian itu, dia harus selamat dari maut untuk menyelamatkan seluruh rakyatnya ketika tragedi itu, dia tidak sempat jatuh dari tebing jika mau menyelamatkan rakyatnya. Maka dari itu, dia mengadakan perjanjian"
Shikamaru terdiam, dia mencerna kata-kata Sai dengan seksama, ada yang aneh dalam kalimat itu.
"Sebagai gantinya, orang yang mengadakan perjanjian dengan Temari-san mendapatkan imbalannya…"
"Siapa orang itu? Apa imbalan yang dimintanya?" Shikamaru bertanya sesantai mungkin, meski degup jantungnya jadi semakin cepat.
"Sudah kukatakan sebelumnya padamu Shikamaru, aku tidak paham tentang ikatan…" Sai beranjak hendak pergi, Shikamaru buru-buru menghentikkan langkahnya.
"SIAPA ORANG ITU?" Shika setengah berteriak.
"Aku tidak berurusan dengan itu, kurasa satu hal yang perlu kau tahu, orang-orang tinggi Sunagakure, mereka mungkin mengetahuinya"
#
Perjanjian macam apa yang dimaksud Sai? Shikamaru membatin, dia mendarat dari lompatannya, tepat di teras depan kantor Kazekage, -calon kantor milik Temari, dia mengetuk pintu pasir itu pelan. Namun tidak ada jawaban. Dia memutuskan untuk membukanya sendiri.
#
Shikamaru melihat sosok orang lain di dalam ruangan megah itu. Sebenarnya dia tidak menduga orang itu bisa berada disana. Dia berdiri tegak menatap kursi Kazekage yang kosong, Shikamaru bisa memastikan di ruangan itu hanya ada Shikamaru dan sosok itu. Tapi sosok itu punya hal yang tidak biasa, meski Shikamaru tidak bisa merasakan chakra dengan baik, dia cukup yakin, chakra orang di depannya itu sangat berbahaya, chakra ini… chakra membunuh.
Sosok itu berbalik, menatap Shikamaru dengan tatapan dingin. Tangannya menggenggam kertas yang kusut. Dia berjalan beberapa langkah mendekati Shikamaru. Orang itu adalah… adik kandung Temari, Sabaku no Gaara.
"Aku tak tahu kau akan kesini juga" Shikamaru berucap datar.
Gaara masih diam, tatapannya masih sama tajamnya.
'Cih, dia masih sangat menakutkan seperti turnamen chuunin dulu' batin Shikamaru.
"Dimana Temari?" Shikamaru bertanya lagi suaranya menggema.
"Kukira kau seharusnya tahu dimana dia berada" Gaara masih diam, tubuhnya tidak bergerak, suaranya mendesis mengerikan.
"Apa?" Shikamaru terhenyak sesaat, "Bagaimana bisa aku tahu? Aku di rumah sakit sepanjang hari"
"Kankurou benar.." Gaara menunduk rendah, matanya terpejam, tangannya yang menggenggam kertas semakin mengerat, suara gemerisik kertas yang terjebak di tangannya terdengar mengganggu.
Shikamaru pelan-pelan menelan ludah, dia harus menerima kebenaran kalkulasi firasatnya, bahwa pemuda di depannya ini sedang tidak dalam mood baik.
"Kau sangat menyusahkan…" Gaara masih menunduk.
"Apa maksudmu sebenarnya? Dimana Temari?" Shikamaru berusaha kembali pada tujuannya menuju kantor Kazekage.
"Berhenti… menanyakannya" Gaara berkata rendah.
"Baiklah kalau kau tidak mau menjawab, aku tidak ada urusan denganmu" Shikamaru berbalik hendak keluar lewat teras lagi, sebelum Gaara tiba-tiba sudah berada di depan bingkai teras itu.
"Kau mencari kakak-ku, maka kau berurusan denganku…" Gaara menatap Shika tajam.
"Jangan bercanda, aku sedang tidak ingin berurusan denganmu" Shikamaru berkata sekalem mungkin.
"Temari sudah cukup menderita karena turnamen itu, dia mengorbankan segalanya untuk menjadi seorang Ratu yang baik untuk desanya…" Gaara berorasi dengan nada dingin.
"Tapi, aku tidak akan biarkan dia menderita hanya karena menikah dengan rusa Konoha"
"GWAAARRRHH"
Gaara bergerak cepat. Kejadian setelahnya sangat cepat, yang tiba-tiba terjadi adalah seluruh lantai tempat kaki Shikamaru berpijak kini hancur dan remuk, beruntung Shikamaru buru-buru menghindar. Tapi menghindar sekali tidak akan cukup, Gaara menyerangnya berkali-kali dengan cepat hingga beberapa dinding dan jendela ruangan itu roboh.
'Sebenarnya apa yang dipikirkan monster ini?' batin Shikamaru.
#
"GWAARRRHH"
Suara dinding roboh memenuhi tengah malam desa Sunagakure. Naruto terbangun dari tidurnya, karena vas di sampingnya terjatuh.
"Apa-apaan ini?"
Sementara itu Kiba, Shino, Hinata dan Sakura buru-buru berkumpul di lobi rumah sakit.
"Ada apa ini?" Sakura berteriak keras.
"Ada orang bertarung" Shino berkata dingin.
"Suaranya seperti berasal dari arah gedung Kazekage, Hinata kau tahu siapa mereka?" Kiba menoleh ke arah Hinata yang sedang mengaktifkan byakugannya.
"D… dia… Gaara…"
"Dasar bodoh" Sakura buru-buru berlari keluar, disusul Kiba, Shino, dan Hinata.
Di tengah jalan mereka bertemu Naruto.
"Hey Sakura, sebenarnya ada apa tengah malam begini?"
"Aku tidak tahu, Gaara bertarung dengan seseorang" Sakura berujar sekenanya, dia masih berusaha berlari secepatnya.
#
"RASENGAN!?"
Naruto menyeruak lebih dulu menuju kantor Kazekage, dia dengan sekuat tenaga menghempaskan rasengan di antara Shikamaru dan Gaara, keduanya terlempar saling menjauh.
"BAKA! APA YANG KALIAN LAKUKAN TENGAH MALAM BEGINI?" Naruto berteriak keras ke arah keduanya. Kankurou tiba-tiba masuk dan berlari ke arah Gaara untuk menolong adiknya itu, Sakura dan Kiba menyongsong Shikamaru yang terluka kepayahan.
"Shikamaru!" Naruto menoleh ke arah Shika, "Gaara!" Lantas menoleh ke arah Gaara.
"APA KALIAN SUDAH KEHILANGAN AKAL KALIAN?" Naruto berteriak kencang, meski dinding-dinding ruang kazekage telah roboh, suara Naruto masih menggema terpantul runtuhan-runtuhannya.
"Tenanglah Naruto, semua ini bukan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan" Kankurou tiba-tiba bersuara, tangannya masih memegangi lengan Gaara yang terengah-engah.
"LALU apa yang bisa kau jelaskan tentang ini semua?" Naruto membuang napas kesal,
"Kita semua teman, dan telah beraliansi begitu lama, pertarungan sekecil apa pun bukan sesuatu yang bisa dijelaskan!" Naruto berkata tegas.
"Naruto…" Hinata berucap pelan. Kiba dan Shino menatap Naruto dan Kankurou bergantian.
"Shikamaru!" tiba-tiba Chouji menyeruak, dia kepayahan melewati beberapa runtuhan bangunan, dan mendekati sahabat setimnya itu. Chouji punya luka yang cukup parah, itu sebabnya dia terlambat sampai di sana.
"Aku tahu ini tidak seharusnya terjadi, maafkan kami atas kerusuhan ini, desa kalian sudah banyak membantu kami selama ini," Kankurou memandang Gaara sesaat,
"Temari pergi… " Kankurou akhirnya mengatakan alasan Gaara melakukan semua itu,
"Dia pergi dari desa, sebelumnya kami mengadakan rapat dadakan, dia meminta kami dan para petinggi berkumpul," Kankurou mengulum ludah enggan melanjutkan cerita,
"Dia menyerahkan jabatan Kazekage pada Gaara, dia bilang dia tidak cukup baik untuk melindungi desa makanya dia pergi diam-diam tadi malam"
Orang-orang di ruangan itu terhenyak, termasuk Shikamaru yang juga baru menngetahuinya.
"Dia menyerahkan surat penyerahan kekuasaan pada Gaara sebelumnya." Kankurou memandang Naruto lagi.
"Kami sudah membicarakan ini sebelumnya, kenapa tiba-tiba Temari melakukannya tidak kami ketahui dengan jelas…"
"Sejak pernikahan aliansi ini, semua hal buruk mulai terjadi, kami tahu ini kesalahan pihak Suna karena memaksakan pernikahan aliansi, kami tidak tahu ada banyak terror dan konspirasi Shinobi yang tidak menyetujuinya diam-diam"
"Kemungkinan besar, Temari merasa bersalah karenanya… maka dari itu dia pergi, tapi belakangan kami ketahui, masalah ini telah berakhir dengan campur tangan Shinobi Konoha… kami tidak tahu pasti, hanya saja Temari pernah mengatakan bahwa dia bahkan tidak bisa lebih baik dari Shinobi kalian. Kami tidak berusaha berpikiran buruk, hanya saja kami punya firasat Shikamaru Nara ada hubungannya dengan kepergian Temari"
Kankurou menyelesaikan kalimatnya dengan banyak helaan napas kaget dari orang-orang dalam ruangan itu. Semua orang disana menoleh ke arah Shikamaru, Hinata menutup kedua mulutnya dengan tangannya, kaget. Naruto menoleh pelan ke arah Shikamaru,
"Apa itu benar? Shikamaru…"
"Wakaranai… Aku tidak tahu"
Tiba-tiba hentakan keras terdengar di bibir teras yang nyaris runtuh, Tsunade-sama dan Shizune muncul bersama beberapa petinggi Suna.
"Ada apa ini?" Seorang petinggi Suna berteriak kaget melihat separuh lebih ruangan telah hancur.
"Ini tidak bisa diterima bagaimana kalian bisa melaku-"
"CUKUP!" Tsunade menghentikan ocehan petinggi itu dengan teriakkannya. Petinggi itu kontan berwajah nanar, dia takut namun tetap berusaha bicara,
"A-aapa maksud Nyonya Hokage? Mereka sudah melakukan kesalahan besar"
"Ini kesalahan kita, apa kau tidak paham juga?" Tsunade berjalan beberapa langkah ke arah Naruto,
"Karena kita tidak mengatakan pada mereka apa yang terjadi, mereka mulai bertengkar! APA KAU PIKIR PERJANJIAN BODOH PETINGGI BESAR ITU MAIN-MAIN?" Tsunade kembali berteriak, membuat Naruto nyaris terhuyung ke belakang.
"Hey, nenek! Sebenarnya ada apa ini? Perjanjian apa yang kau maksud?"
"KALAU PETINGGI BESARMU ITU TIDAK SECEROBOH INI, SEMUA INI TIDAK AKAN TERJADI!" Tsunade kembali berteriak pada petinggi itu, seorang lelaki tua di barisan paling belakang bergelagat aneh, dia adalah petinggi besar itu.
"Hey ne-" Sebelum Naruto menyelesaikan keluhannya, Tsunade membungkam mulutnya dengan tangannya.
"Sekarang dengarkan aku baik-baik! Aku memang bukan apa-apa di desa Sunagakure, disini aku hanya akan bicara atas nama perwakilan aliansi kedua desa! Desa Sunagakure sekarang sedang dalam kekosongan kekuasaan, dan satu-satunya petinggi besar kalian sudah melakukan kesalahan besar yang mengancam aliansi ini, maka dari itu aku tidak bisa tinggal diam"
#
Flashback
"Kita bisa membiarkan Shinobi Konoha yang akan menikah dengan Temari-san itu mati, jika dia mati, para pemberontak akan mengira pernikahan dibatalkan, dengan begitu keinginan para Shinobi pemberontak itu bisa terkabul, dan desa tak perlu repot" Petinggi besar berbicara pada petinggi Suna lainnya.
"Tapi, kenapa kita tidak membatalkan pernikahan dengan baik-baik saja petinggi besar?" petinggi muda itu mengajukan alternatif.
"Tidak bisa! semua ini sudah bagus, tujuan pernikahan aliansi ini adalah untuk mendapatkan kesan bahwa klan Shinobi di Suna menjadi tambah banyak, apalagi klan pemuda itu adalah klan Nara, klan penjaga hutan terbesar di Konoha. Jika klan itu bisa beralih ke Suna, maka itu akan bagus untuk imej desa kita"
"Kita memang akan kehilangan Pemuda Nara itu jika memang dia akan dikorbankan, namun… Temari-san menjadi berhak atas beberapa warisan klan tersebut secara tidak langsung, itu semua sudah kesepakatan aliansi, maka dari itu pernikahan ini akan menguntungkan"
#
"Temari-san… petinggi besar ingin bertemu denganmu di ruangannya" Seorang kunoichi menyampaikan pesan pada Temari dari pintu kamarnya. Temari menoleh pelan, dirinya baru saja mematut diri di depan kaca mensejajarkan baju pernikahannya dengan bahunya,
"Ah~ ya aku akan segera kesana"
#
"Temari-san, demi desa, tetaplah selamat dan bertahan disini! Jangan ikuti upacara pernikahan itu! akan ada Sabotase besar dalam upacara pernikahanmu" Petinggi besar berujar tegas pada Temari,
"APA maksudmu? Aku tidak bisa diam dan merasa aman sendirian disini! Bagaimana dengan desa? Bagaimana dengan Gaara dan Kankurou? Bagaimana dengan Shikamaru dan Shinobi aliansi? Sabotase ini urusan serius!"
"Desa akan aman, beberapa jam sebelum sabotase, ada shinobi aliansi yang berhasil mengetahui rencana sabotase ini diam-diam, Kankurou dan Gaara akan baik-baik saja, semua akan baik"
"Lalu bagaimana dengan Shikamaru? Apa dia akan tetap mengikuti upacara pernikahan palsu ini? Apa dia akan baik-baik saja?" Temari berteriak tidak santai pada petinggi renta itu.
"Pernikahan tetap dilanjutkan Temari-san~ ada orang yang akan menggantikanmu sementara dalam upacara itu"
"Kalau begitu Shikamaru juga harus digantikan!" Temari berkonklusi dengan tegas, namun petinggi itu hanya menghela napas, kemudian berbalik.
"Itu tidak mungkin" Petinggi besar berkata pelan.
"Aku tidak mungkin melakukannya! Petinggi besar apa kau serius dengan semua ini? Bagaimana bisa aku mengorbankan Shikamaru! Kita bahkan tidak tahu apakah ini yang benar-benar Shinobi pemberontak itu inginkan" Temari menghentak meja dalam ruangan rahasia dan tertutup dengan petinggi besar itu, dia kaget mendengar rencana pengorbanan Shikamaru oleh petinggi besar.
"Kau tidak punya pilihan Temari! Apa yang kau inginkan? Laki-laki konoha itu atau rakyatmu?"
#
"BRAAAKKKK" Suara dinding yang roboh mengalihkan Temari dari tangisannya di penjara rahasia Sunagakure. Dia yang mulanya dikurung disana agar aman dari bahaya sabotase kini dengan tiba-tiba diselamatkan dengan robohnya dinding penyerap cakra itu dari luar oleh seseorang.
"Daijoubu? Temari-san?" Gadis yang baru saja membobol penjara rahasia itu terengah-engah dibalik debu-debu dinding yang berhamburan.
"K..kau…" Temari terbata-bata, tubuhnya hampir lemas karena tidak bisa berkutik di dalam penjara rahasia itu, dinding-dinding penghisap cakra yang di desain mengurungnya itu membuatnya nyaris tidak bisa berkutik.
"Kita harus keluar dulu dari penjara ini…" Gadis penyelamatnya itu buru-buru membawa Temari keluar dari gedung rahasia itu.
#
"Bagaimana kau bisa tahu aku disini? Petinggi besar membawaku diam-diam" Temari bertanya lemah pada sosok yang menyelamatkannya itu, kini dia sedang di sembuhkan aliran cakranya oleh gadis penyelamat itu.
"Maafkan aku… Temari-san… aku dengan tidak sengaja mengetahui pembicaraanmu dengan petinggi besar siang tadi…" Gadis penyelamat bermanik aqua itu berujar serak, kata-katanya barusan membuat sekujur tubuh Temari lemas dibuatnya. Temari kehilangan kata-kata.
"Lalu apa yang kau inginkan? Aku… juga tidak ingin semua ini terjadi, maafkan aku…"
Temari berkeringat dingin, rasa-rasanya air mata nyaris terseret jatuh dari kelopak matanya.
Gadis di sebelahnya itu sama nanarnya, hanya saja matanya sudah cekung sekali, dia pasti sudah banyak menangis sebelumnya. Dengan senyum lembut gadis bersurai panjang itu menatap Temari lembut, dipegangnya tangan Temari lembut sambil menghangatkan tangan gadis yang lebih tua beberapa tahun darinya itu dari keringat dinginnya.
"Aku tahu perasaanmu, aku pun akan memilih rakyat desaku jika aku ada di posisimu," Gadis bermanik aqua itu mengusap airmata yang mengalir di pipinya sesaat.
"Jadi… sementara kau menyelamatkan rakyatmu, izinkan aku menyelamatkan sahabatku…"
"A-apa maksudmu?" pupil mata Temari membesar, dia menatap gadis di depannya dengan tatapan kaget dan penasaran.
"Aku punya rencana lain, bisakah kita mengadakan perjanjian untuk menjalankannya?"
#
"Aku akan mengatur diri agar bisa menggantikan posisimu sebagai mempelai wanita dalam upacara pernikahan itu, aku akan memeriksa semua air dan makanan yang mungkin dibubuhi racun untuk membunuh Shikamaru, petinggi-petinggi, dan saudara-saudaramu,"
"Temari-san pergilah ke setiap Oase di Suna, kemungkinan besar racun-racunnya bersumber di sana, evakuasi rakyat Suna pasti akan membutuhkan banyak tenaga, maka dari itu para Shinobi aliansi kudengar kewalahan menguras Oase dan mengevakuasi tepat waktu sebelum upacara dimulai" Gadis itu menghela napas berat,
"Aku akan melindungi calon suamimu, bagaimanapun juga dia sahabatku sejak kecil juga… aku akan berjanji melindunginya, sementara itu Temari-san bisa melindungi rakyat Suna"
Temari terlihat berpikir, dia yakin rencana itu tidak salah untuk dicoba, namun dia merasa terlalu tak berdaya.
"Temari-san tidak mungkin kembali ke upacara sekarang, mau bagaimana pun, kata-kata petinggi itu benar, jika Temari-san memaksakan diri mengikuti upacara, bisa jadi pengurasan oase tidak bisa tepat waktu, petinggi besar dan Hokage mengira hanya tujuh oase yang tercemar racun, tapi setelah aku kalkulasi, racun itu bisa menyebar dengan cepat, kemungkinan sepuluh oase lebih telah tercemar, dan saluran-saluran air juga, aku tidak punya banyak waktu juga, aku dan Sai sudah menguras sebuah oase, tapi sisanya belum… "
"Aku pikir dengan menyelamatkan dirimu, nasib rakyat suna dan Shikamaru bisa ditolong…"
Temari memandang wajah gadis itu jauh ke dalam matanya, dia tidak berbohong. Gadis itu tidak berbohong, matanya sangat cekung dia pasti sudah begadang sejak pagi untuk menguras sebuah oase.
Air mata mengalir deras di pipi Temari. Dia tidak pernah menangis sederas ini sejak kematian ayahnya dan Ibunya Gaara –ibu tirinya. Temari mencengkeram tangannya sendiri kesal dengan situasi pelik saat itu.
"Yamanaka! Kumohon! Berjanjilah untuk menyelamatkan Shikamaru!"
Ino menghirup udara basah di hidungnya yang basah karena air mata, dia mengelap air matanya cepat-cepat. Kemudian dia menggenggam tangan Temari yang tergenggam kuat.
"YA… Ratu…"
#
INO'S POV
Aku menyukaimu Shikamaru…Mungkin lebih karena itulah aku memutuskan untuk tak mendengarkan peringatan Sai ketika aku berusaha membebaskan Temari dan terlibat dalam rencana ini.
Mungkin karena aku menyukaimu, aku memutuskan untuk melihat kau dan Temari bahagia, dengan begitu aku harus membuatmu tetap hidup dan mendampingi Temari sebagai ratu Suna.
Aku tidak bisa membiarkanmu mati di atas rencana petinggi besar kolot itu.
Shikamaru, aku …
"Aku menyukaimu dengan sederhana, perasaan suka ku pada mu adalah perasaan sederhana dan sekejap dimana aku hanya ingin menikahimu saja…"
Aku… bodohkah aku karena menginginkannya?
Sepertinya aku memang bodoh…
Kata sebuah sajak lama;
"Kau akan mendapatkan dunia jika kau menghendakinya, tapi kau tidak akan mendapatkan lebih baik setelahnya, namun jika kau berusaha mendapatkan akhirat, kau akan mendapatkan dunia dan akhirat keduanya berada di tanganmu"
Aku tidak tahu itu sesuai dengan keadaanku atau tidak, tapi aku menginginkanmu… dan Tuhan memberikanmu sesaat… dengan mengijinkan aku menggantikan Temari, untuk menikah denganmu.
Sesaat? Ya.. kupikir ini sedikit lebih cepat dari dugaanku.
Kematian itu… tidak bisa kau sangka kan?
#
Aku terhempas di tebing Utara Sunagakure, kupikir aku sudah membawa rombongan Shinobi pemberontak itu cukup jauh darimu untuk membuatmu selamat. Tapi aku salah, kau malah menyusul Sai yang mengejarku ke tebing ini.
Kau meneriakkan satu nama saat aku jatuh, aku hanya mampu tersenyum.
Kau tak perlu khawatir lagi dengan gadis yang kau teriakan namanya Shikamaru. Dia baik-baik saja.
"TEMARI!" suara Shikamaru menyeruak keras.
Dan aku merasa hembusan angin menerbangkanku cepat ke laut Sunagakure.
End of Ino's POV
#
Temari mengembuskan jutsu anginnya kuat untuk mengeluarkan isi oase menuju saluran pembuangan. Namun sejenak dia merasa namanya dipanggil seseorang, Temari menoleh ke Utara.
'Gadis itu… apa dia baik-baik saja?' batin Temari cemas.
#
End of Flash back
#
Shikamari belari ke arah utara, dia berlari tanpa menghiraukan panggilan Sakura, Naruto dan teman-temannya. Shikamaru kini tahu semuanya, Tsunade sudah lebih dari cukup meceritakannya. Kini Shika tahu siapa yang jatuh dari tebing, dia tahu kenapa Temari tak mau memandang wajahnya saat dia jenguk, dia tahu kenapa tangan dan kulit Sai lebih pucat dan kenapa Sai pilek, padahal sudah lewat sehari sejak pengurasan oase itu dilakukan, itu semua karena…
Pemuda itu pasti sudah menyelam ke lautan Suna sendirian, berjam-jam mencari Ino sendirian.
Shika berhasil mencapai tebing utara Suna, debur ombak sudah terdengar jelas dan keras. Disana meski dia sampai lebih dulu dari yang lain, dia mendapati seseorang sudah sampai disana duluan.
Sai berbalik, di tangannya ada beberapa helai bunga gurun yang sudah layu. Sai tidak lagi berusaha tersenyum, dia hanya menatap Shika dengan dingin sedingin malam itu.
Shikamaru berjalan cepat ke arahnya, dan dengan sepenuh hati meninju wajah pemuda mayat itu sampai jatuh.
Naruto, Chouji dan kawan-kawan yang baru sampai di tebing itu langsung kaget melihat Sai terhuyiung jatuh dengan hidung berdarah.
"Shikamaru!" Chouji berteriak lebih cepat dari Naruto, dia menarik lengan Shika cepat.
"Sai… kenapa kau tidak beritahu padaku sebelum semua ini terjadi… kenapa kau tidak bilang KAU TAHU SABOTASE INI SEBELUMNYA!"
Shikamaru berteriak keras.
Sakura, Naruto dan kawan-kawan lainnya yang baru sampai terhenyak. Naruto beranjak cepat menghampiri Shikamaru.
"APA maksudmu Shika? Nenek tidak bilang apa-apa tentang Sai dalam ceritanya!" Naruto mengangkat kerah Shika kuat, dia tidak terima Shikamaru menyalahkan Sai padahal setahu Naruto, Sai tidak ada hubungannya dengan rencana Ino.
"Maafkan aku Naruto… Apa yang Shikamaru katakan benar… Tapi, aku tidak mungkin mengatakkan sesuatu yang sudah aku janjikan pada Ino dan petinggi aliansi, untuk tidak menyampaikan semua ini pada kalian"
Suara Sai terdengar lemah, lantas perlahan-lahan genggaman tangan Naruto melemah, dia melepaskan kerah Shikamaru.
Shikamaru begitu lepas dari cengkraman Naruto langsung beranjak ke ujung tebing, secepat mungkin Sakura menarik tangan Shikamaru cepat.
"Kau tidak bisa mencarinya sekarang! Aku dengar semua Shinobi aliansi sudah berusaha mencarinya juga, Shikamaru…" Sakura terdengar serak, air matanya mengalir deras.
"Aku mulanya juga bingung, kenapa sementara Temari-san sudah berhasil ditemukan, beberapa Shinobi aliansi masih melakukan pencarian sesuatu di laut utara Suna, mereka sudah melakukan pencarian Shika… mereka tidak menemukannya… Ino… tidak…" Shikamaru menarik tangannya cepat dari Sakura.
"Aku tidak peduli"
Lalu Shikamaru berjalan ke tebing.
"Shikamaru, lautan utara masih tercemar sejumlah racun buangan oase kau tidak –"
"BYUUURR"
Tetapi Shikamaru sudah menenggelamkan dirinya dalam lautan. Chouji yang wajahnya sudah merah dan air-mata sudah membanjirinya ikut berlari menyusul Shikamaru.
"Aku juga akan mencari Ino…" Naruto berujar pelan.
"Naruto…" Sakura mendesis dalam tangisannya.
"Setidaknya kita harus mencoba mencari sahabat kita…"
Lutut-lutut Sakura melemas, dia terjatuh di atas pasir tebing utara Suna, Sakura menangis sejadi-jadinya, Hinata buru-buru mendekatinya, meski wajahnya juga belum kering dari air mata.
Malam itu mereka semua mencari jasad Ino Yamanaka sampai pagi. Seandainya mereka tahu Owari no Chakra yang berada di tebing itu adalah milik Ino, mereka mungkin bisa segera mencari gadis itu di laut. Seandainya mereka tahu lebih cepat, mereka tidak akan memberikan julukan bodoh pada Temari tentang gadis mati suri. Mereka tidak akan tertawa… diatas pengorbanan sahabat mereka sendiri.
Penyesalan itu selalu datang terlambat iya kan?
#
To be Continued~
Makasih ya buat Zero, Yola, dan Nita yang udah ripiuw Chaps 3 yang geje tak terkira buana hehehe
Aduh iya nih, kayaknya feelnya belum dapet di chapter 3. Aku lagi galau jadi ceritanya malah gak mudengi... TIDAAAAKKKK (Guling-guling)
itu intinya apa ya? ehm (mikir) ehm (mikir lagi)
jadi... ehm (mikir)
(digampar)
intinya, Shikamaru itu jadinya merasa sudah menikah sama Temari. Di akhir akad, tiba-tiba Sabotase dimulai.
Nah, sebenarnya~ Ino itu udah tahu kalau Shika direncanain bakal dibunuh lewat racun di gelasnya (ingetkan Shika minum air dulu sebelum berangkat upacara), makanya dia ganti racun pakai obat tidur. Nah karena si shinobi pemberotak yang nyamar jadi wakil petinggi ngerasa Shika kok gak mati-mati habis diracuni mau menikam shika dari belakang biar pernikahan aliansi batal gitu. Tapi kan gajadi karena ditolong Tsunade gitu kan.
hehehehe
Nah, sebelumnya karena temari ada urusan mau menguras oase yang teracuni sedangkan Ino mau menolong Shikamaru dengan pura-pura jadi Temari, makanya Ino bertukar posisi sama Temari . Jadi sebenernya yang nikah sama Shika itu Ino (mekso banget).
hehehehhehehehe
Makanya Hinata merasa orang yang jatuh dari tebing itu seharusnya sudah mati karena udah ngeluarin owari no chakra (chakra terakhir). tapi kok Temari masih Hidup? ya karen inolah yang jatuh dari tebing dan meninggal, Ino kan bertukar posisi sama temari. (author pingin nangis)
hehehehhehehehhehehehehhe
yah begitulah~ fic saya memang awet deh gejenya, jadi malu~ hueeeee
(ketawa sendirian)
(ditendang)
RnR?
(ditendang lagi)
