Epilog of 'Owari'

Disclaimer :

Saya bukan pemilik cerita Naruto, karakter semuanya karangan Masashi-sensei

(kucekkucekmata)

Ini akhir fic Owari~ mohon dibaca...

3

rated : teen

Author: anonim

^Alfatani^

Sorry

"Maaf Shikamaru, Ino tidak ada dalam daftar pasien rujukan dari Sunagakure, apakah dia tidak dirawat langsung di sana? Disini hanya ada Rock-lee, Neji, Tenten dan beberapa shinobi aliansi Iwagakure"

Itu adalah pesan yang disampaikan Kakashi-sensei. Pesannya baru sampai pagi itu di rumah sakit Suna. Namun Shikamaru tidak berada di ruangannya saat pesan itu sampai, dia masih berada di laut, mencari seseorang.

Ah, kaze ga jikan to tomo ni nagareru

Ah, angin dan waktu yang mengalir bersama

Kimi ga saigo made kokoro kara "arigatou"

hingga terakhir pun kau berterima kasih dari hatimu

Kanashikutte sabishikutte

begitu menyedihkan dan sangat kesepian

Sakendeita koto shitteita yo

aku mengetahui teriakkanmu itu

Namida wo koraete egao de sayounara setsunai yo ne

Nara's POV

Sumbu dan Nyala

Aku adalah sumbu. Sedangkan kau adalah (salah satu) nyala menyalakan sumbu ini, dengan semangatmu, dengan kedewasaanmu, aku bukan apa-apa meski aku memiliki intelejensi apa pun itu. Aku tanpa kau, tanpa Chouji.. menghadapi hal-hal rumit selama ini, menghadapi kematian Asuma, bersamamu dan Chouji, aku tidak akan sekuat ini.

Flashback

Tidur, Makan, dan Marah

"Kau tukang tidur.. sedangkan Chou tukang makan, daan.." Dia menggaruk pipinya yang merah dengan kikuk,

".. ini agak sulit dikatakan dari mulutku sendiri, tapi aku tahu aku terlalu menyibukkan diriku sendiri tentang 'Penampilan', marah-marah dan semacamnya" Ino menghela napas berat, seberat apa yang dia berusaha katakan.

"Tim sepuluh selalu kabur dalam turnamen, selalu bersembunyi~ tapi~"

"Bukan berarti kita shinobi yang buruk, aku bangga kok dengan tim kita, tim kita adalah tim yang salah satu anggotanya menjadi chuunin pertama seangkatan" Ino melirikku.

"Tapi.. bisakah kita menjadi shinobi yang baik? Dan menjadi manusia yang baik sekaligus?" Ino memulai inti pembicaraannya.

"Ayolah Shikamaru~ tidur empat sampai lima jam sehari sudah cukup untuk pemuda berumur delapan belas tahun" Ino mengacungkan ke-4 jari kirinya kepadaku.

"Rusa-rusamu bahkan hanya membutuhkan lima menit sehari untuk tidur, dan mereka masih bisa berlari kencang"

"Itu Men-"

"Jangan mengeluh! Aku pekerja medis disini, jangan menyangkalku~" Ino menghentikkan protesku sebelum aku menyelesaikannya.

"Dan kau Chouji, kalau kau tidak suka dikomentari tentang berat badanmu, berhentilah makan terlalu banyak! Aku tidak keberatan kau kelebihan berat badan sedikit, tapi apa kau ingat pamanmu pernah terkena kolesterol karena makan tanpa kontrol! Apa kau tidak memikirkan kesehatanmu!, jangan makan hanya karena nafsu saja~"

Aku melirik Chouji yang berhenti mengunyah tiba-tiba.

"Dan kalian! Ingatkan aku kalau aku mulai bicara tidak berguna, bergosip, marah tanpa sebab, dan cerewet untuk hal yang tidak penting, ingatkan aku juga kalau aku terlalu banyak membeli barang tidak perlu… ingatkan kalau…" Ino menghentikan kata-katanya, membiarkan kami diselimuti keheningan sesaat.

"Aku sepertinya berakhir menjadi yang paling buruk di antara kalian"

Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan mulai menangis.

Yaqikiniku-Q kini dihiasi orang yang berebut menatap kami dengan tatapan aneh.

End of Flashback

Shikamaru membanting tubuhnya ke laut lagi, beruntung dia basah, kalau tidak semua temannya akan tahu dia sedang menangis.

3 Hari kemudian~

Twillight and Death

Shikamaru kembali pada tebing itu lagi, dengan merah langit yang sama, debur ombak yang sama, asin angin yang sama. Dia menoleh ke samping, tersenyum mendapati sesosok gadis yang sama pula. Sama dalam mimpinya.

"Ada apa?" Kau –Shikamaru Nara mencoba untuk bertanya.

"Kau tidak menolak indera penglihatanmu?" Gadis itu bermain kata-kata lagi, sejak gadis itu tahu bermain kata-kata dengan sahabat jeniusnya ini kadang-kadang menyenangkan, melakukannya sekali -dua kali bahkan berakhir jadi kebiasaan.

"Buat apa? Aku senang kau disini" Kau menatap sisa-sisa cahaya dari ufuk barat, menikmati hangatnya selagi kau bisa. Aroma pantai tidak buruk. Setidaknya selama gadis itu masih di sampingnya, betapa pun keberadaan sosok itu menggelitik akal sehat dan logikanya.

Gadis itu tersenyum manis mendengar jawabanmu. Tersipu dalam tundukkan, sebenarnya itu jarang terjadi, bahkan sangat langka. Hanya saja kau juga terlalu malu untuk sekedar mengintip senyum itu, kau malu kalau-kalau senyum dan rona merah gadis di sampingmu itu tertular lebih parah pada mu.

"Ada apa?" kau mengulangi pertanyaan pertamamu lagi.

"Ada yang ingin kau tanyakan padaku?" gadis bersurai emas itu menanyaimu balik.

Wajahmu sedikit menegang, raut kepelikkan kini menguar lagi. Kau tak ingin lekas-lekas membahas ini, tapi kau tak bisa mengelak rasa ingin tahumu.

"Kenapa kau melakukannya?" kau akhirnya bertanya, masih ambigu sebenarnya.

"Apa?"

"Menyelamatkanku… Temari, dan desa Sunagakure sendirian, kenapa kau mau menerima permintaan bodoh petinggi besar kolot itu" Kata-kata kolot sedikit mengusik déjà vu gadis di sampingmu.

Kau lantas terdiam, merasa cukup dengan eksplanasi atas pertanyaanmu. Kau butuh dari sekedar jawaban. Apalagi keheningan yang diberikan lawan bicaramu.

"Aku jengah melihatmu berkorban sendirian untuk aliansi, melihat Temari kesakitan dalam turnamen, melihat diriku tidak berdaya… tidak bermanfaat bahkan di umurku yang ke-18 tahun ini…"

"Aku ingin berguna, setidaknya bagi desa sekali saja."

Kau –Shikamaru Nara, punya sanggahan terbaik yang bisa kau katakan sekarang juga, tapi gadis di sampingmu itu tahu pasti apa yang akan kau keluhkan.

"Aku tidak memilih kematian sebagai rencanaku Shikamaru" Ino berucap cepat.

"Aku tahu semua orang akan begini… siang dan malam dalam 18 tahun hidupku itu hanya perjalanan, akhir perjalanan itu adalah kematian" Ino menekan kata-katanya, membuatnya serendah yang dia bisa.

"Semua yang hidup pasti mati… itu fakta,"

"Bukan sesuatu yang perlu ditangisi berulang kali" Ino memandangmu dengan tatapan lembut, kau enggan membalasnya, bahkan menoleh, tapi kau mendengarnya.

"Kita manusia, kita belajar dari kesalahan orang lain… dari fakta dan pengalaman. Kematian itu takdir… itu faktanya…"

Shikamaru mulai jengah, mulutnya gatal untuk angkat bicara.

"Tapi, kau bisa tidak menghadapinya sekarang!" Kau berteriak demi mengeluarkan semua emosimu. Bukan gayamu sama sekali, tapi gadis di sampingmu memang merepotkan, dia bisa mengeluarkan sisi-sisi lain dalam sifatmu, contohnya sekarang.

Gadis di samping mu tersenyum getir, mengeratkan genggaman tangannya sendiri.

"Aku bukan Tuhan… waktu kematian itu bukan pilihan" Ino menjelaskan dengan nada serak.

Kau tahu itu, kau tahu itu dengan pasti, kau paham apa yang gadis itu katakan, setiap fonemnya kau paham. Kau mendengarnya berulang kali dalam hidupmu. Kau seharusnya paham…

"Aku mencintai ayahku… saat ayahku meninggal, rasanya aku ikut mati…" Ino mengkiaskan kata-katanya. Berusaha mencari pengalaman hidup bersama Shikamaru yang bisa dipahami bersama.

"Jika aku hanya mencintai ayahku saja, maka ayahku sudah lama meninggal…

"Tapi jika aku mencintai Tuhanku… Dia tidak akan mati… aku percaya pada-Nya, jadi aku tahu kematian ini pasti punya maksud"

Kau masih diam, sebentuk perasaan saling mengerti muncul dalam benakmu namun kau masih diam.

"Kau berulang kali mendapati kehilangan dalam hidupmu kan Shikamaru?"

"Tidak kah kau pikir itu remidi untukmu, karena kau tidak lulus dalam ujian kehilangan itu?"

"Kumohon dewasalah… "

"Asuma sensei, Shikaku-jiisan, Neji, dan ayahku… mereka pergi bukan tanpa alasan, ini bukan akhir Shikamaru, ini awal bagi kami… awal kehidupan yang baru… yang lebih kekal"

"Aku senang pada akhir hidupku, aku ditakdirkan untuk mengakhirinya dengan bahagia dan menjdi kunoichi yang berbakti, aku tidak ingin kau membawa kesedihan ini pada yang lain dan hidupmu! Di saat aku sangat bahagia bisa mengakhirinya seperti ini,"

"Sekali lagi kumohon padamu… kau sudah berumur 18 tahun 1 bulan 10 hari, jadi dewasalah!"

"Kau memang lebih dewasa dari padaku… Ino.. aku tidak mengerti tentang kematian…"

Ino tersenyum miris.

o0o

Kebahagiaan itu Sederhana

"Adakah yang ingin kau tanyakan lagi?" Ino lagi-lagi menggunakan nada yang sama, menanyaimu dengan nada lembut-menuntut yang sama. Kau punya lebih dari sejuta pertanyaan untuk gadis ini, namun kau memilah dari sejuta itu menjadi seribu, lantas seribu menjadi seratus… dan akhirnya kau temukan yang paling kau ingin tahu dari gadis manik biru itu. Meski kau tahu gadis itu tak punya jawabannya.

"Kenapa kau terlahir menjadi perempuan?"

Ino sedikit kaget mendengarnya. Kau menanyainya dengan serius jadi tidak masalah bagimu. Namun Ino terlihat kaget, sekaligus geli, dia akhirnya tertawa juga.

"Hahaha, apa yang sebenarnya kau pikirkan?"

Dia masih tertawa, kau rela memandanginya lama dengan keadaan begitu, tapi kau jengah juga, gadis itu tidak mengerti maksud kata-katamu. Lagi.

"Kau itu perempuan merepotkan… "

Ino pelan-pelan menghentikkan tawanya, dia menatapmu dengan ujung mata basah karena puas tertawa.

"Kalau kau bukan perempuan, kau tidak akan se-merepotkan ini…"

Ino kini benar-benar diam, dia menyimak kata-katamu dengan tenang.

"Kalau kau bukan perempuan, aku tidak akan menyukaimu, kita bisa pulang sekolah bersama, aku bisa bicara jujur padamu, aku bisa…"

"HENTIKAN!" Ino menghardikmu lebih ekstrim dari soal kematian tadi.

"Berhentilah mengeluh…" Ino mulai gundah, namun aneh, kali ini air mata setetes pun tak keluar dari matanya.

"Kau terlalu banyak mengeluh, kau tahu?" Ino menatapku miris, tatapan matanya penuh keseriusan.

"Seperti makanan untuk Chouji, keluhan seperti memenuhi seluruh hidupmu!" Ino masih dalam nada tajam yang sama, nada-nada itu membungkammu, membungkam mulutmu.

"Bisakah kau bersyukur? Bisakah kau jadi Shinobi yang dewasa?" Ino menghela napas berat.

"Aku senang aku terlahir sebagai perempuan, aku senang bisa lahir sehari setelah kau lahir, aku senang bisa satu tim denganmu dan Chouji, aku senang aku bisa bisa pulang sekolah bersamamu meski hanya sekali, aku senang bisa memarahimu dan Chouji setiap hari, aku senang tumbuh dewasa bersamamu, Chouji, dan yang lain, meski aku harus berhenti disini, aku menikmatinya…"

Ino tertawa agak kering.

"Aku hanya tidak bisa mengatakkannya… alih-alih aku mengeluh, tolong jangan jadi sepertiku…"

Kau masih diam.

"Aku senang… aku bisa merasakan rasanya menikah denganmu…"

"Aku… senang… aku menyukaimu… " Ino terisak, namun belum juga menangis,

"Rasa suka ku ini sederhana saja… dimana aku hanya ingin merasakan rasanya menikah denganmu"

"Cobalah berdamai dengan takdirmu… bahagia itu sederhana Shikamaru… kau hanya perlu mensyukurinya"

o0o

Owari Janai Hajimaru sa..

"Merepotkan"

Ino terhenyak mendengar kata-kata Shikamaru barusan, bukankah gadis itu baru saja menekankan bahwa tuan Nara itu harus mengurangi keluhannya?.

"Merepotkan sekali mengetahui gadis yang kusukai mengatakkan suka padaku lalu berniat pergi selama-lamanya"

"Bruakk" Ino memukul Shikamaru dengan tangannya sampai pemuda itu terhuyung ke belakang.

"Siapa yang pergi selama-lamanya? Kau juga akan mati tahu!, kita masih bisa bertemu"

Hardik Ino sekuatnya.

"Tapi aku tidak yakin kau akan mengingatku…" Ino tiba-tiba mengubah nada bicaranya.

"Di surga, setiap pemuda baik diberi pasangan bidadari bermata jeli, kau pasti sibuk dengan mereka, bisa saja kau melupakanku" Ino mencibir sendirian, Shikamaru tersenyum sebal.

"Memangnya aku pemuda baik-baik?" Shikamaru tersenyum menyebalkan, Ino sudah menimpuknya dua belas kali setelah senyuman itu. Shika benar-benar kewalahan.

"Kau ha-rus men-coba men-jadi sa-lah satu-nya" Setiap suku kata Ino jadikan irama dalam pukulannya pada Shikamaru. Shikamaru tidak benar-benar berusaha mengelak, dia hanya berulang kali mengeluhkan sakit tanpa reaksi sebanding.

"Kalau aku melupakanmu gimana?" Shika menahan tangan Ino untuk memberinya keheningan dalam berbicara.

"Tidak masalah sih, aku tinggal melemparimu dengan kunai tajam sampai kau sadar" Ino menarik tangannya cepat, membuang muka.

"Tunggu aku disana baik-baik" ucap Shikamaru pada Ino.

Ino tersenyum.

"Ohya.. maafkan aku, kau pernah bilang kau ingin menikah dengan gadis yang tidak cantik dan tidak terlalu jelek, nampaknya aku terlalu cantik untuk itu… jadi.."

Shika melirik Ino cepat, agak berkeinginan untuk mencibir. Ino tertawa.

"Dan.. kau bilang kau ingin punya dua orang anak, yang pertama perempuan dan yang kedua laki-laki, kau akan berhenti menjadi ninja ketika anak perempuanmu menikah, dan anak laki-lakimu telah jadi Shinobi kuat," Ino menjeda sejenak kata-katanya, dilihatnya wajah Shika agak terganggu karena cita-citanya dikuak sedetail mungkin, wajah Shika agak merah.

"Aku tidak bisa jadi ibunya, jadi sampaikan pada Ibunya jangan biarkan anaknya merokok, jangan biarkan mereka tukang tidur seperti ayahnya, bilang kalau mengeluh itu tidak baik, dan hargai orang tuamu! jangan sebut Otou-san mereka ini dengan 'old-man' atau 'Oyaji'sebetapapun Tou-sannya menyebalkan, nee wakaru deshou?" Ino berkata dengan mantap setelah mengatakkan semuanya. Nampak kebanggaan dari wajah Ino. Berbeda dengan Ino, Shikamaru agak terganggu dengan kalimat Ino barusan.

"Dasar cerewet! Memanngnya kau paham dengan kata-katamu barusan?" Shikamaru bertanya malas,

"Tentu saja, memangnya kenapa? Ada yang salah?" Ino berkacak pinggang.

"Kalau kau paham ya sudah, aku tidak perlu menceritakan pada Ibu anak-anakku lagi… dia sudah paham"

"Eh?" Ino perlu loadingextra untuk mencerna kata-kata itu. Dia lantas mengerucutkan bibir karena memahami sesuatu.

"Kau tidak ingin menikah lagi?" Ino bertanya to the point.

"Tidak perlu, menikah denganmu sudah cukup merepotkan…"

"Merepotkan ya?" Ino bertanya sambil mencibir sebal.

Shikamaru tersenyum.

"Kau janji akan menemuiku kan?" Shika bertanya tiba-tiba.

"Aku akan berusaha, kau juga kan? M-maksudku bukan untuk segera mati, tapi… jadilah shinobi baik-baik dan…" Ino menoleh ke arah Shika.

"Ya… " Entah bagaimana suasana membawa 'mood' keduanya, tahu-tahu jantung Shikamaru menjadi sedikit berdetak lebih cepat, yah hanya milik Shikamaru, mengingat lawan bicaranya tidak punya hal itu lagi.

Meski aneh, Shikamaru dan Ino saling mendekatkan wajah mereka canggung. Sinar matahari sore kini benar-benar akan menghilang, memberikan siluet kedua remaja yang saling merapatkan jarak.

"Arigatou…" Suara Ino menipis. Nada suara itu takkan pernah Shikamaru lupakan dalam hidupnya.

Belum sempat wajah Shikamaru sampai pada gadis di depannya, gadis itu sudah tertelan angin asin pantai itu, lenyap dibawa desir angin dan ombak. Yang Shikamaru ingat gadis itu menyisakan sebuah senyum manis pada Shika sedetik sebelum keberadaannya tak terdefinisi ruang dan waktu.

"Ck, Wakatta~"

Kimi to aki no owari

(musim gugur bersamamu berakhir)

Shourai no yume ooki na kibou wasurenai

(aku tak dapat melupakan mimpi masa depan dan harapan yang besar)

Juunengo no kyugatsu mata deaeru no wo shinjite

(aku percaya kita dapat bertemu lagi pada bulan Septembersepuluh tahun mendatang)

Saikou no omoide wo

(kenangan-kenangan terbaik)

Kimi to Aki no owari zutto hanashite

(musim gugur bersamamu akan berakhir, aku terus berbicara)

Yuuhi wo mite kara hoshi wo nagame

(melihat matahari yang tenggelam dan menatap bintang)

Kimi no hoho wo nagareta namida wa zutto wasurenai

(aku terus tak dapat melupakan air mata yang mengalir di pipimu)

Kimi ga saigo made ookiku te wo futtekureta koto

(hingga saat terakhir kau melambaikan tanganmu)

Kitto wasurenai

(pasti takkan kulupakan)

Dakara koushite yume no naka de zutto eien ni...

(maka dari itu, teruslah berada di keabadian di dalam mimpi)


Ino Nara.. 18 tahun 1 bulan 6 hari

Lahir 24 September 1981, Meninggal 30 Oktober 1999

"nee, kyou mo kawaranai kyou da…"

(*Hey, hari ini adalah hari ini, dan tidak akan berganti)


Baru kajian di sekolah tadi sore... dengan mata pedes banget karena di perjalanan nangis inget DK.

ada quotes bagus,

ada 2 nikmat yang paling banyak dilalaikan manusia, dan cenderung membuatnya rugi karena penyesalan.

nikmat kesehatan dan waktu luang.

Allah itu bersumpah dengan waktu di surat al-ashr. itu karena waktu sangat berharga

dia tidak akan pernah kembali.

Aku nggak paham kematian tapi yang pasti

Berapa pun umurmu, kematian itu sangat dekat.