Rate : M
Pair : Sasuke U & Naruto U
Disclaimer : Kishimoto Masashi Sensei
Genre : Angst/hurt/comfort
WARN : typo everywhere, alur gaje nan abal, BL and DON'T LIKE DON'T EVER TRY TO READ !
"Naruto, apakah kau bisa mengantarkan Sasuke untuk berkeliling sekolah ini?" tanya Kakashi.
"Bisa saja tapi saya ada jam mengajar olahraga di kelas XI sekarang"
"Tadi aku sudah meminta guru Guy untuk menggantikkan mu"
"Baiklah terima kasih pak. Mari Uchiha-kun saya antar berkeliling sekolah" kata Naruto mengajak Sasuke untuk berkeliling sekolah.
"Hn"
.
.
.
"Ini adalah ruang laboratorium kami, dan di ujung sana terdapat ruang musik dan olahraga kami"kata Naruto sambil menunjukkan ruangan yang di maksud.
"Hn".
Hanya dua huruf itu saja yang meluncur dari mulur sang Uchiha, padahal Naruto sudah menjelaskan panjang lebar mengenai isi sekolah ini semenjak mereka meninggalkan ruang kepala sekolah tadi. Naruto pun sudah mulai merasa kesal karena penjelasannya yang panjang lebar hanya di balas oleh dua huruf tersebut. Namun, ia masih berusaha tetap sabar dan tersenyum menghadapi Uchiha satu ini.
"Emm.. Maaf kalau saya lancang, apakah Uchiha-kun ini guru pindahan?"
" panggil aku Sasuke" akhirnya ia mengeluarkan kata-kata yang lain selain 'Hn' andalannya itu.
"Eh? Baiklah Sasuke-kun, anda belum menjawab pertanyaan saya tadi"
"Sudah ku bilang cukup panggil aku Sasuke, apakah kau tidak dengar Dobe?"
"E- Apa? Beraninya kau memanggil ku Dobe, dasar Bre-maaf!" beruntung kata-kata kasar tersebut sempat ditahannya.
"Hn" dengan tampang tak bersalah Uchiha tersebut melewatinya begitu saja.
'BRENGSEK! Kalau ini tidak di sekolah sudah kubunuh kau Uchiha!' gerutunya dalam hati.
Kemudian ia pun mengejar Sasuke yang sudah berjalan di depannya tadi dan mengantarkannya ke ruangan barunya.
.
.
.
"Apa sudah kau temukan dimana keberadaannya?" Tanya lelaki berambut panjang kepada lelaki lain yang berdiri dihadapannya.
"Sudah tuan, sekarang dia tinggal di sebuah kota di utara Jepang. Dia bekerja sebagai guru" jawab lelaki berkacamata hitam ini.
"Baiklah terima kasih. Kau boleh pergi"
Kemudian lelaki berkacamata hitam ini pergi dari ruangan bosnya tersebut.
"Ternyata sangat mudah menemukanmu bocah bodoh!" kata lelaki berambut panjang tersebut disertai dengan tawa yang bisa membuat siapa saja merinding di buatnya.
.
.
.
Sementara itu terlihat di sebuah taman seorang pemuda pirang berjalan terseok-seok.
'Sial! Kepalaku mulai sakit lagi' batinnya sambil berusaha berjalan menuju apartemennya. Semakin ia berusaha melangkah semakin itu pula rasa sakit di kepalanya menjadi-jadi. Ingin rasanya ia memukul kepalanya dengan batu sekarang juga. Rasa sakit yang awalnya hanya di rasakannya di kepala kini mulai menjalar ke seluruh tubuh. Dan pandangan matanya pun sudah mulai mengabur.
'Brengsek! Kalau begini bagaimana aku bisa sampai dirumah' gerutunya dalam hati berharap rasa sakit yang menderanya dapat berhenti sebentar saja. Ya, setidaknya biarkanlah ia sampai dengan selamat di apartemennya dulu.
Tepat ketika ia hendak menyebrang jalan, tiba-tiba saja sebuah mobil sport berwarna hitam melaju dengan kecapatan tinggi.
BRUKK
Tubuh Naruto terpental beberapa meter jauhnya. Ia pun pingsan tak sadarkan diri.
NARUTO'S POV
"Arrggghhhh!" ia berteriak ketika ia merasakan sebuah benda menabrak tubuh bagian sampingnya dengan sangat keras.
Tubuhnya pun terlempar beberapa meter dari tempatnya berdiri tadi.
'Apakah aku akan mati sekarang?' tanyanya dalam hati. Dan kegelapan pun menghampirinya.
Ia pingsan tak sadarkan diri.
END of NARUTO'S POV
Mobil hitam itupun langsung menepi. Terlihat seorang pemuda berambut merah turun dari mobil tersebut dengan wajah shock. Ia pun kaget dengan kejadian yang baru saja ia alami. Segera ia berlari kearah korban yang baru saja ditabraknya. Dan betapa kagetnya ia ketika ia mendekati tubuh sang korban.
"NARUTO?" pekiknya.
Kemudian tanpa membuang waktu secepat mungkin ia membawa Naruto ke rumah sakit terdekat. Di gendongnya tubuh Naruto yang sudah bersimbah darah tersbut ke mobilnya dan membaringkannya di kursi penumpang. Dengan kecepatan di atas rata-rata di pacunya mobilnya. Tak diperdulikannya lagi jalanan yang lumayan padat waktu itu, yang terpenting sekarang ialah nyawa pemuda pirang yang kini pingsan disampingnya.
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit Naruto pun segera dilarikan ke UGD. Pemuda berambut merah tersebut pun hanya bisa terduduk lemas di kursi yang terdapat di samping ruang UGD tempat Naruto sekarang dirawat.
Hampir setengah jam lamanya ia duduk di kursi itu. Cemas, menyesal dan ketakutan, itulah yang dirasakannya sekarang. Bagaimana ia tidak takut, ia baru saja menabrak Naruto dan ia nyaris membuat pemuda itu kehilangan nyawanya.
Terlihat seseorang berbaju serba putih, namun terlihat baju itu kotor oleh darah. Sudah dapat dipastikan itu adalah darah Naruto.
"Bagaimana keadaannya dok?" terdengar suara Gaara mendesak.
"Anda ini siapanya?"
"Saya kerabatnya, bagaimana keadaannya? Apakah ia baik-baik saja?" desaknya tak sabaran.
"Untunglah kau segera membawanya ke rumah sakit, terlambat sedikit saja ia sudah dapat dipastikan meninggal, ia kehilangan banyak sekali darah, keadaannya sekarang sangat kritis" jawab sang dokter memberi penjelasan kepada Gaara.
Hampir saja ia terduduk lemas mendengar penjelasan dokter barusan. Ia masih tak percaya bahwa ia hampir menghilangkan nyawa temannya tersebut.
"Kau boleh menjenguknya tapi jangan menganggunya, karena keadaannya masih sangat lemah" sang dokter mempersilahkan.
Dengan langkah berat Gaara menuju ruangan tempat Naruto di rawat. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan yang ada di hadapannya sekarang. Di tubuh Naruto telah terpasang berbagai macam selang dan kabel yang menghubungkan ke alat-alat rumah sakit. Ia tengah berjuang antara hidup dan mati.
'Andai saja aku lebih berhati-hati tadi pasti ini tidak akan terjadi' sesalnya dalam hati. Andaikan saja ia tadi tidak menabrak Naruto mungkin sekarang mereka sedang berbincang-bincang di sebuah café sambil bertukar kenangan masa lalu ketika mereka masih bersekolah sekarang. Ya, tentu saja harapan itu sudah terlambat.
.
.
.
Dua hari Naruto tak sadarkan diri, dan sudah dua hari pula Gaara menemaninya di rumah sakit.
Drrtt Drrtt Drrtt
Gaara yang tersentak kaget begitu merasakan ada getaran dari saku celananya. Ternyata handphone yang bergetar. Ada panggilan masuk, ia pun keluar dari kamar tersebut untuk mengangkat telepon tersebut.
"Ha-…" belum saja ia sempat mengatakan kalimatnya ia sudah di bentak seseorang dari seberang telepon.
"Kau kemana saja! Dua hari tidak pulang, tidak ada kabar! Kau membuat semua orang cemas dirumah" bentak seseorang dari seberang sana.
"Maaf, aku tidak sempat menelponmu. Aku ada urusan mendadak" ia berbohong.
"Kau dimana sekarang, ada yang harus kubicarakan denganmu"
"E-eh, kau mau kesini sekarang?" ia mulai kebingungan. Jelas saja ia bingung, bagaimana reaksi sang kakak jika mengetahui bahwa sang adik telah menabrak seseorang dan hampir menghilangkan nyawa orang tersebut.
"Iya, apa perlu ku ulangi sekali lagi agar kau dapat mendengarnya?" suara sang kakak yang menelponnya mulai terdengar menakutkan.
"Bukannya aku tidak mau bertemu denganmu, hanya saja…" ia ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Hanya saja apa? Apa kau melakukan hal yang macam-macam hah?"
"Ti-tidak kok" jawabnya cepat.
"Kalau kau tidak melakukan hal yang macam-macam mengapa suara mu terdengar gagap? Kalau kau tidak memberitahukan dimana keberadaan mu, aku akan menyuruh polisi untuk mencarimu!" terdengar nada mengancam dari sang kakak.
"Huh, baiklah-baiklah aku akan memberitahu mu dimana aku sekarang. Akan ku sms alamatnya tapi berjanjilah jangan beritahu siapa-siapa dulu baik itu Tou-san dan kaa-san sekalipun" akhirnya ia mengalah, karena ia tau jika kakaknya sudah berbicara maka ia akan melakukannya, sekalipun itu membahayakan nyawanya.
"Baiklah"
Klik
Suara telepon ditutup. Ia pun langsung mengirim alamat rumah sakit dimana ia berada sekarang.
To : Kankurou-nii
Subject : Suna International Hospital
Room 370
Terlihat dahi Kankurou, kakak dari Gaara yang barusan menelponnya berkedut. Ia bingung mengapa alamat yang di sms sang adik adalah alamat rumah sakit. Ia pun langsung bergegas menuju alamat yang dituju.
Sementara itu di rumah sakit.
'Apa yang akan aniki lakukan jika ia mengetahui ini' batinnya mulai kacau. Ia takut jika sang kakak mengetahui perbuatan yang sudah dilakukannya ini.
'Bagaimana jika ia melaporkan ku pada Tou-san dan Kaa-san, bisa-bisa aku di marahi habis-habisan. Argghh! Bagaimana ini? Jansin-sama tolonglah aku' mohonnya dalam hati.
Kriuukkk~
Terdengar suara dari perut Gaara. Memang sejak tadi malam ia tidak ada makan sedikitpun, akhirnya ia pun memutuskan keluar sebentar untuk membeli makanan.
.
.
"Ugh… Kenapa badanku sakit semua" gumam Naruto yang masih belum membuka matanya. Ia merasa aneh mengapa ia mencium bau obat-obatan yang sangat tajam. Dan ketika ia membuka matanya, ia kaget. Perlahan ia mencoba bangun tiba-tiba rasa sakit langsung menjalar ke seluruh tubuhnya dan itu membuatnya meringis.
"Aww.. Eh? Dimana aku? Sejak kapan kamarku berganti cat?" ia mulai bertanya-tanya sendiri.
Belum hilang keterkejutannya, ia sudah kembali terkejut ketika seorang wanita berpakaian putih masuk ke ruangannya.
"Hei! Siapa kau?" tanyanya terdengar sedikit berteriak.
"Eh tuan sudah sadar, tunggu sebentar akan saya panggilkan dokter" kemudian ia pun pergi tanpa menjawab pertanyaan dari Naruto yang masih bingung.
'Sebenarnya aku ini dimana sih? Eh, tunggu dulu jangan bilang kalau aku ada di rumah sakit?' ia mulai menyadari tempat dimana ia berada.
"Hey, kenapa di tubuhku banyak sekali selang yang menempel?" ketika ia melihat ke arah tubuhnya.
Cklek
Suara pintu dibuka, Naruto yang tadinya menunduk karena masih sibuk melihat tubuhnya yang terpasang berbagai macam selang mendongak untuk melihat siapa yang datang.
"Gaara?" matanya membulat ketika melihat sosok teman semasa SMA-nya dulu memasuki kamar.
"Naruto, kau sudah sadar rupanya. Tunggu disini akan kupanggilkan dokter" katanya yang hendak berbalik lagi memanggil dokter.
"Hei! Tunggu dulu, jangan kemana-mana. Bisakah kau jelaskan mengapa aku bisa ada disini" pintanya pada Gaara.
Akhirnya Gaara pun duduk di kursi yang ada tepat di samping tempat tidurnya dan menceritakan kejadian yang dialami Naruto. Mulai dari ia tertabrak oleh mobil Gaara, bagaimana ia bisa ada di rumah sakit ini, dan berakhir dengan berbagai macam selang yang menempel di tubuhnya.
Betapa shock Naruto begitu ia mendengar semuanya dari mulut Gaara. Ia kini sudah mengingat semuanya.
"Maafkan aku Naruto, sungguh aku tak bermaksud untuk mencelakaimu" lirihnya.
"Sudahlah Gaara, tak apa. Tak ada yang perlu kau sesali, toh juga semuanya sudah terjadi. Kau juga sudah bertanggung jawab membawaku ke rumah sakit kan?" jawabnya sambil tersenyum.
Kemudian seseorang berbaju serba putih dengan sebuah stetoskop menggantung di lehernya masuk ke kamar Naruto.
"Bagaimana keadaanmu Naruto?" Tanya dokter tersebut kepada Naruto.
"Baik saja dok, hanya saja badan dan kepalaku terasa sakit"
"Hahaha, tapi kau hebat Naruto. Kau sanggup bertahan, padahal darahmu banyak sekali yang keluar" kata dokter tersebut sambil memeriksa keadaan Naruto. Naruto pun hanya bisa tersenyum.
Sedangkan Gaara yang mendengar hal tersebut hanya bisa tersenyum pahit.
"Baiklah, kau sekarang beristirahatlah" kata sang dokter kemudian ia pun meninggalkan Naruto dan Gaara.
"Oh iya Gaara, apa yang kau lakukan di Suna? Bukan kah kau tinggal di Tokyo?"
"Aku sedang berjalan-jalan saja, melepas penat hehehe" katanya tersenyum.
"Oh, kau terlihat semakin tinggi sejak kita lulus SMA dulu" kata Naruto kembali mengenang masa SMA nya dulu.
"Ah, kau juga" Gaara tersipu mendengar pujian Naruto barusan.
"Oh, iya bagaimana hubunganmu dengan Neji-nii?"
"Ah, kami baik-baik saja, ia sedang sibuk mengurus pekerjaannya sekarang"
"Baguslah kalau begitu"
Keheningan pun menyelimuti ruangan tersebut. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Terlihat tak ada yang ingin membuka percakapan di antara mereka berdua.
Naruto masih meratapi nasibnya yang sial ini, sedangkan Gaara pusing memikirkan jawaban untu pertanyaan beruntun yang akan ditanyakan Temari kepadanya.
Drrtt Drrrtt Drrtt
Terdengar hp Gaara bergetar.
"Halo"
"Kau ada dimana? Aku ada di parkiran, cepat kemari"
"Baiklah aku akan segera kesana" kemudian ia pun memutuskan sambungan telepon tersebut dan segera menuju tempat parker dimana sang kakak sudah menunggunya.
"Naruto, tak apa kan kalau kau kutinggal sebentar?" Tanyanya sebelum meninggalkan ruangan.
"Iya, tidak apa-apa" jawabnya sambil tersenyum.
Kemudian Gaara pun menghilang di balik pintu. Sementara itu Naruto berusaha meraih hpnya yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidurnya.
"Huh, untung saja masih bisa di gunakan" sambil melihat miris ke arah hpnya yang layarnya sudah retak akibat benturan tabrakkan.
Ia pun menghubungi salah satu kontak yang ada di hpnya.
"Halo" jawab suara di seberang sana.
"Halo, pak ini saya Naruto. Saya minta maaf pak karena tidak masuk beberapa hari ini"
"Naruto ? Kau kemana saja, para murid menanyakan tentang mu" suara Kakashi terdengar khawatir.
"Maafkan saya pak. Saya ada urusan mendadak, emm.. apakah saya bisa minta cuti duluan Pak?" tanyanya ragu.
"Hmm… Memangnya ada apa sehingga kau meminta cuti duluan?"
"Saya ada urusan yang harus saya selesaikan dan mungkin tidak akan selesai dalam beberapa hari ini, apakah bisa?"
"Hmm… Baiklah, jika urusan mu sudah selesai segeralah masuk kembali. Aku tidak mau di demo oleh murid-muridmu karena guru idola mereka tidak masuk"
"Hahahaha, baiklah. Terima kasih atas pengertiannya" ia pun mengakhiri percakapan tersebut. Karena bingung tak ada yang bisa dilakukannya mengingat keadaannya masih kurang baik akhirnya ia memilih tidur dan sebentar saja ia sudah terbuai kedalam alam mimpinya.
Sementara itu di dalam mobil terlihat Gaara dan sang kakak, Kankurou.
Hening.
Gaara yang sedari tadi menunduk hanya bisa diam, karena ia takut akan ditanya oleh sang kakak.
"Sekarang jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya" akhirnya Kankurou buka suara.
"Aku akan jelaskan semuanya tapi kau harus berjanji untuk tidak marah dan tidak memberitahukan siapapun mengenai hal ini" ia memberanikan diri untuk melihat wajah kakak perempuannya tersebut.
"Iya-iya, sekarang cepat ceritakan!" katanya tak sabaran.
Gaara pun menceritakan semuanya, mulai dari ia menabrak Naruto sampai ia menunggui Naruto hingga ia sadarkan diri. Tak ada yang terlewat satupun.
Mendadak Kankurou menghentikan laju mobilnya ketika medengar penjelasan Gaara barusan.
"APA! Kau hampir menghilangkan nyawa seseorang Gaara!" pekiknya hampir membuat tuli telinga Gaara.
"Maafkan aku. Lagipula aku kan sudah bertanggung jawab dengan membawanya ke rumah sakit" katanya sambil menunduk menyesal.
"Huh, baiklah sekarang temani aku menemui orang yang sudah menjadi korban mu tersebut" ia pun memutar mobilnya kembali menuju rumah sakit tempat Naruto dirawat.
.
.
.
Ceklek
Naruto yang awalnya hanya menunduk-meratapi nasib-kemudian mendongak untuk melihat siapa yang datang.
"Kankurou-nii?" matanya membulat sempurna.
"Naruto?" yang disapa pun tak kalah kaget.
-MoodMaker-
TBC
A/N :
Akhirnya setelah melalui berbagai cobaan yang datang menghadang (?) #abaikan
Jadi juga lanjutannya, dan maaf juga mulai dari chap 2 ini ada pergantian GENRE.
Gomenasai kalau mendadak, salahkan saja idenya yang baru muncul di chap 2 ini #di getok
And mind to review ? Itupun jika masih pantas di beri review :3
Tengkyuu ^^
Balasan Review :
Hitoshii Rizu : Wah, tengkyuu yak :D, maunya sih juga update kilat tapi idenya ini loh yang sering ngilang tiba-tiba hehehehe ^^
Mio Altezza : Udah di lanjutt . Happy ending ? Emm.. Liat ntar deh tergantung mood hehehehe #digampar
SkySun : Wookie . Tengkyuu
Tia Hanasaki : Hahaha, iya nih udah di lanjut ^^
Ecca augest : Udah ^^ semoga tambah penasaran #di getok
Anon : Masih awal jadi rate M-nya belom keliatan hehehe. Terima kasih reviewnya "Burn my mind" sering-sering review ^^
Ciel-Kky30 : Wah makasih, hmm Sasuke ya ? Liat ntar deh kekekeke~
Dobe siFujo : Iyap, aku udah semangat ni ^^
99 : Yap, sudah saya lanjutkan :D
cho devi : Pastinya gak ada yang mampu, kalo Naru itu beneran nyata pasti udah ku klaim duluan deh wkwkwk :D #di gampar Masashi-sensei
Kiseki No Hana : Udah di lanjut ^^
puzZy cat : Iya yang kemaren itu tuh wkwkwkwk. Gomenasai *bow90* Kyuubi harus ku singkirkan dulu daripada dia buat keributan ntar wkwkwkwk
