LANGSUNG SAJA KE CERITA
Jelas saja mereka berdua kaget. Kankurou merupakan kakak kelasnya semasa SMA dulu, jangan tanya bagaimana mereka bisa kenal. Tentu saja karena ia kakaknya Gaara, semasa sekolah dulu mereka sering latihan bela diri bersama-sama.
"Jadi, orang yang Gaara tabrak itu kau? Gaara! Mengapa kau tak bilang kalau 'korbanmu' itu Naruto?"
"Kau tidak tanya, ya tidak ku beritahu" katanya membela diri.
"Ah sudahlah Kankurou-nii tidak apa-apa. Lagipula Gaara juga sudah membawakku ke rumah sakit, dan keadaanku juga sudah agak mendingan" jawab Naruto sambil tersenyum.
"Dan apa yang kau lakukan di kota terpencil ini? Bukankah kau harusnya ada di Tokyo sekarang?" Kankurou terlihat sedikit bingung. Bagaimana ia tidak bingung seorang pewaris tunggal salah satu perusahaan paling besar di Tokyo berada di kota yang sangat jauh dari keramaian.
"Aku hanya ingin melupakan semua masalah dan bebanku. Mungkin setelah aku siap aku akan kembali ke Tokyo" jawabnya sambil menghela nafas.
"Oh, begitu. Jangan terlalu lama berlarut-larut dalam kesedihan Naruto" sambil tersenyum.
Dan pembicaraan itu terus berlanjut dan membahas berbagai topik pembicaraan. Mulai dari bagaimana Naruto bisa sampai di Suna sampai membahas masa-masa saat mereka masih sering melakukan aktivitas bersama.
Ruangan kamar yang awalnya sepi menjadi ramai dipenuhi gelak tawa mereka ketika mengingat hal-hal konyol yang sering mereka lakukan dulu.
.
.
.
"Hmm.. Baiklah karena hari sudah hampir malam sebaiknya aku pulang dulu. Nanti kalau sempat aku akan menjengukmu lagi" kata Kankurou sambil beranjak meninggalkan kursi.
"Terima kasih atas kunjunganmu Kankurou-nii. Lain kali kalau berkunjung bawakan aku ramen ya?" katanya sambil mengeluarkan cengiran khasnya.
"Hahahaha baiklah akan ku bawakan makanan kesukaanmu itu kalau aku berkunjung lagi"
Kemudian pemuda penyuka boneka kayu itu pun melesat keluar ruangan dan menghilang dibaliknya.
.
.
.
Tak terasa seminggu sudah Naruto dirawat dan hari ini ia sudah di ijinkan pulang oleh dokter. Akhirnya ia pun memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Toh, ia juga sudah lelah berbaring selama 1 minggu penuh dirumah sakit.
Dengan langkah pelan ia menyusuri daerah pinggiran taman. Mencoba menikmati keindahan taman tersebut, sampai-sampai ia tak menyadari bahwa ada seseorang yang berjalan didepannya.
Chuu~
Namun ia tak merasakan sakit.
'Hangat' batinnya.
Ketika ia membuka matanya, betapa ia sangat terkejut.
"Kyaa! First kiss ku! Apa yang kau lakukan hah!" pekiknya hampir membuat tuli pemuda yang ia timpa.
"Dobe! Pelankan suaramu! Kau seperti gadis yang mau diperkosa saja! Minggir!" balasnya sambil mendorong tubuh Naruto, pemuda yang sudah menimpa tubuhnya tersebut.
"Teme brengsek! Apa maksudmu menciumku begitu hah?!" katanya sambil berusaha bangkit.
"Hey! Kau itu yang jalan tidak lihat-lihat, tidak punya mata hah?" balasnya tak mau kalah.
"Tetap saja kau sudah mengambil ciuman pertama ku brengsek" sahutnya setengah berteriak. Tentu saja perkataannya membuat beberapa pasang mata di taman itu memperhatikan pertengkaran mereka.
Merasa diperhatikan Sasuke pun langsung menarik tangan Naruto menjauhi tempat tersebut, dan tentu saja Naruto yang masih kesal kaget karena tindakan tiba-tiba yang dilakukan Sasuke.
"Hei! Lepaskan aku brengsek!" ia berusaha melepaskan genggaman tangan Sasuke di pergelangan tangannya, namun percuma saja karena tenaga Sasuke lebih kuat darinya. Akhirnya, ia pun memilih pasrah saja toh kalau Sasuke berani macam-macam setidaknya ia bisa memukulnya.
Setelah membawa Naruto ke sebuah tempat yang lumayan sepi, ia pun melepaskan tangan Naruto yang sudah memerah karena genggamannya barusan.
"Lihat! Setelah menciumku sembarangan kau membuat tanganku menjadi sakit!" tak berusaha menurunkan volume suaranya sambil menunjukkan pergelangan tangannya yang sudah memerah akibat perlakuan Sasuke barusan.
"Bisakah kau pelankan suaramu atau aku akan melakukan 'sesuatu' padamu!" tatapnya tajam pada pemuda blonde yang berteriak-teriak dihadapannya.
Sontak saja wajah Naruto memerah mendengar perkataan Sasuke barusan.
"A-apa yang mau kau lakukan Teme brengsek?!" ia sudah mulai takut melihat wajah menyeringai Sasuke.
Sambil menyeringai dan menyunggingkan senyumnya yang sangat menyebalkan-menurut Naruto- ia mulai berjalan maju dan mendekati Naruto. Naruto yang sudah takut pun berjalan mundur sampai tubuhnya terhimpit oleh batang pohon dan tubuh Sasuke yang sudah mulai mendekatinya.
'Pohon sialan! Siapa sih yang menanam pohon disini! Sasuke sialan! Kuso! Teme! Apa yang mau ia lakukan! Brengsek!' rutuknya dalam hati sambil menyumpahi orang yang menanam pohon yang sudah menghalangi tubuhnya dan tentu saja menyumpahi Sasuke juga.
"Apa yang mau kau inginkan hah?! Dasar manusia mesum pervert brengsek!" makinya terhadap pemuda yang ada di hadapannya.
Namun Sasuke tetap berjalan ke arah Naruto tanpa menghilangan smirk jahat-mesum-di wajahnya.
Saking dekatnya wajah mereka berdua Naruto maupun Sasuke sampai bisa merasakan hembusan napas masing-masing.
"Aku menginginkan mu dobe" katanya setengah berbisik tepat di depan bibir Naruto.
Oh lihatlah Naruto sekarang, tubuhnya sudah sedikit gemetar, keringat dingin sudah mulai mengucur dari pelipisnya, tangannya sudah memegang erat batang pohon yang ada di belakangnya. Sungguh nasib mu sial hari ini Naruto. Namun entah kenapa Naruto juga tidak berniat berteriak ataupun memukul pemuda pucat nan tampan yang ada di hadapannya sekarang. Ingat, Naruto kan memiliki ilmu bela diri yang lumayan.
Dekat…
Dekat…
Dekat…
Sangat dekat…
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA"
Naruto yang sedari tadi sudah menutup matanya kemudian membuka matanya dan menunjukkan raut wajah bingung.
Sedangkan Sasuke sudah tertawa terbahak-bahak melihat wajah ketakutan Naruto. Sungguh ia merasa sangat OOC kali ini, namun begitu melihat raut wajah Naruto yang menurutnya sangat konyol barusan ia sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
"Hey Teme baru kali ini aku melihat mu tertawa begitu lepas" kata Naruto sekenanya.
Sontak mendengar perkataan Naruto yang barusan ia pun langsung terdiam dan mengembalikan wajah stoic andalannya itu.
Dan memang perkataan Naruto barusan ada benarnya juga. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia tertawa lepas seperti ini. Naruto lah yang sudah berhasil membuatnya kembali tertawa lepas, sungguh ia ingin rasanya memeluk dan mengucapkan terima kasih. Namun tetaplah ia seorang Uchiha yang menjaga image dan memiliki gengsi yang sangat tinggi, mana mungkin ia tiba-tiba melakukan hal seperti itu tentu itu akan menjatuhkan harga dirinya yang sudah setinggi langit.
"Hey! Kau melamun ya? Jangan-jangan kau memikirkan hal mesum yang tidak-tidak!" pekik Naruto dan langsung membuat Sasuke mendengus kesal.
"Aku tidak semesum dirimu dobe" sahutnya berusaha menahan senyuman.
"Huh dasar teme jelek! Menyingkir aku mau pulang! Hilang sudah mood-ku untuk bersantai di taman, dan itu semua gara-gara kau!" rutuknya sambil meninggalkan Sasuke.
Sementara Sasuke hanya menampakkan seringai kecil di wajahnya yang datar tersebut.
'Manis' batinnya sambil melihat punggung Naruto yang semakin lama menjauh dan akhirnya tak terlihat lagi.
.
.
.
Di sebuah bar terlihat seorang pemuda dengan gaya rambut yang melawan gravitasi sedang duduk disertai dengan seorang gadis yang berpakaian minim bergelayut manja di lengannya.
"Apa kau tidak bosan hmm? Bagaimana kalau kita 'bermain'?" rayu sang gadis pada pemuda di sebelahnya.
"Aku sedang tidak ingin. Sebaiknya kau pergi sebelum aku mengusirmu" sahutnya dengan nada datar namun menusuk.
"Huh! Baiklah aku pergi" sang gadis pun pergi meninggalkan sang pemuda dengan perasaan kesal, oh sungguh baru kali ini ia ditolak. Sungguh kali ini nasib mu belum beruntung gadis ckckckck.
'Mata birunya, rambut kuningnya, cengiran bodohnya, aroma tubuhnya. Oh sungguh itu membuat ku gila sekarang! Apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimanapun caranya ia harus menjadi milikku' pikiran sang pemuda berkecamuk memikirkan pemuda lainnya yang selalu menghantuinya dimanapun dan kapanpun.
Lihat saja sekarang di bar yang ramai ini ia bahkan masih bisa memikirkan pujaan hatinya tanpa merasa terganggu hingga sesuatu yang membuatnya tersentak dari lamunannya.
'Rambut pirang itu?! Bukankah itu…' tanyanya dalam hati ketika melihat seorang pemuda pirang yang terlihat sedang mabuk di meja bar.
.
.
.
"Eunghh~" ia menggeliat pelan ketika cahaya matahari mulai memaksa menerobos pengelihatannya. Ia pun perlahan bangkit namun rasa sakit dikepalanya membuatnya kembali merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
Dengan perlahan ia membuka matanya.
"Dimana aku?" ucapnya masih setengah sadarkan diri.
Tak lama kemudian masuklah seorang pemuda berambut raven sambil membawa sebuah nampan yang berisikan makanan.
"Sudah sadar Dobe?" sambil meletakkan nampan berisi makanan tersebut di meja.
'Eh? Rasanya aku tidak asing dengan panggilan tersebut' batinnya masih berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih di awang-awang.
Kedip.
Kedip.
Kedip.
Kedip.
"Hwaaa! Aku dimana ini? Kau! Apa yang sudah kau lakukan padaku hah?!" pekiknya sembari menunjuk-nunjuk pemuda yang ada di depannya.
"Ck. Dasar dobe, apa kau tak ingat semalam kau mabuk berat huh?" disertai dengan seringai mengejek diwajahnya.
#FLASHBACK#
'Dasar pantat ayam sialan! Sudah merusak mood ku, mencuri first kiss ku lagi! Arrgghh! Kuso! Kuso! Kuso!' rutuknya dalam hati ketika mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk singgah di salah satu bar yang cukup ramai pengunjungnya. Dengan penuh nafsu ia menegak minuman beralkohol yang baru saja ia pesan berharap rasa kesalnya segera menguap hilang entah kemana.
Dan entah sudah gelas keberapa ia meminum minuman laknat tersebut, akhirnya kesadarannya pun mulai menghilang juga rasa kesalnya.
"Hahahaha dasar teme brengsek! Bisa-bisanya kau mengambil first kiss ku!" racaunya tak jelas.
Tak jauh dari tempat ia duduk, terlihat seorang pemuda yang menjadi sumber kekesalannya hari ini.
Uchiha Sasuke.
Namun karena dipengaruhi efek alkohol tentu saja ia tidak menyadari ada pemuda tersebut.
'Bukankah itu Naruto?' batin Sasuke ketika melihat Naruto yang sudah mabuk sambil meracau tak jelas. Perlahan ia mendekati Naruto yang sudah terlihat sangat kacau.
"Dobe?" panggilnya perlahan namun tak ada sahutan.
"Dobe?" kali ini lebih keras berharap 'sapaan'nya tersebut dibalas.
"Sas-uke? Hahahaha kau manusia brengsek! Berani-beraninya kau mengambil first kiss ku! Kau pikir kau siapa hah? Hahahaha" racaunya ketika ia melihat Sasuke sudah berada di dekatnya. Baru saja ia hendak berdiri untuk menggapai Sasuke tubuhnya limbung seketika. Untung saja ada Sasuke yang langsung reflek menangkap tubuhnya.
"Ck. Dasar idiot" akhirnya dengan susah payah ia membopong Naruto yang sudah tak sadarkan diri ke mobilnya dan membawanya ke rumahnya.
#FLASHBACK OFF#
"Sudah ingat hn?" membuyarkan lamunan Naruto.
Seketika saja wajah Naruto memerah mengingat kejadian yang membuatnya berakhir di kamar Uchiha pagi ini. Bagaimana tidak memerah, jelas saja ia malu ketika mengingat ia mengumpat tidak jelas ketika ia sedang mabuk berat.
"Eung… ettou….A-arigatou" ucapnya pada Sasuke sambil menunduk malu.
"Hn" balasnya sambil melenggang pergi keluar kamar, dan tepat ketika sebelum ia pergi "itu sarapan mu sudah ku taruh di meja" lalu menghilang di balik dinding kamar tersebut.
Kruuyukk~
Ah sepertinya Sasuke memang mengerti Naruto memang sudah kelaparan. Tanpa ba-bi-bu segera saja ia melahap makanan yang sudah di sediakan oleh sang tuan rumah tersebut.
.
.
.
"Ohayou Sensei" sapa beberapa siswi ketika melihat Naruto sedang berjalan di koridor kelas.
"Naruto!" terlihat seseorang sedikit berlari ketika ingin menghampirinya.
"Ya ada apa Lee?" tanya Naruto.
"Kemana saja kau beberapa hari ini? Apa kau mengambil cuti?" tanyanya sambil menautkan alisnya.
"Ah itu, aku sedang ada urusan hehe" sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Oh begitu, kau tak tau betapa repotnya kami menjawab pertanyaan para murid kesayanganmu itu" katanya sambil mengehela napas.
"Ehehehe maafkan aku! Ah bagaimana sebagai permintaan maaf ku, aku traktir kau makan ramen hari ini?" sambil menarik tangan Lee.
"Baiklah kalau kau memaksa hahahaha"
.
.
.
Sementara itu, di sebuah ruangan.
"Tuan, ini data yang tuan minta" kata seseorang dengan menggunakan jas hitam sembari menyerahkan sebuah 'dokumen' yang mampu membuat sang penerima menyeringai.
"Ya, sebentar lagi semuanya akan berakhir Uzumaki! Hahahahahahahaha" ia tertawa puas dengan nada yang sangat mengerikan.
.
.
.
"Haaahh~ " ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
Sambil mengistirahatkan dirinya yang baru saja pulang mengajar pikirannya pun larut dalam lamunannya. Sungguh ia benci saat-saat dimana ia pulang kerumah dalam keadaan sendiri, walaupun ia sudah hidup sendiri selama beberapa tahun terakhir ini.
Ia merindukan masa-masa dimana keluarga kecilnya masih ada dan berkumpul di dekatnya, hingga kecelakaan maut itu merenggut seluruh keluarga kecilnya. Masih jelas diingatannya bagaimana sang kakak meregang nyawa di pangkuannya, bagaimana mobil sang ayah terbakar dan menewaskan kedua orang tuanya.
Sungguh kenyataan yang ironis memang tapi apa yang bisa dilakukannya, toh ia memohon pada siapapun tidak akan pernah bisa merubah keadaan.
Masih terlarut didalam lamunannya tiba-tiba saja handphone-nya berbunyi.
"Moshi-moshi"
"Ah~ Naruto, apa kabarmu?" tanya suara di sebrang sana.
"Aku baik-baik saja Kakashi, tumben kau menelpon ada apa?"
"Engg, begini beberapa hari kedepan perusahaan akan mengadakan rapat dengan perusahaan Hyuuga corp, dan direktur perusahaan itu ingin berbicara langsung dengan mu apakah bisa?" tanya Kakashi dengan sangat hati-hati. Jelas saja walaupun Naruto lebih muda darinya tetap saja pada posisi ini Naruto adalah bosnya walaupun Naruto sendiri tidak menyukai kalau dirinya dipanggil bos oleh karyawannya sendiri.
"Baiklah katakan padanya aku akan hadir, kapan rapat itu diadakan?"
"2 hari lagi pukul 9 pagi"
"Baiklah aku akan berangkat besok"
"Arigatou Naruto-sama"
"Ne"
Tuut tuut tuut
"Haah~ baru saja lepas dari satu 'keributan' sudah muncul 'keributan' yang lainnya" keluhnya sambil memejamkan matanya melepaskan kepenatan yang menghampirinya setelah seharian bekerja.
.
.
.
"Selamat datang kembali Naruto-sama" sapa salah seorang receptionist yang sedang bertugas waktu itu.
Sementara Naruto hanya tersenyum kecil sembari menganggukkan kepalanya kearah receptionist tersebut.
"Ah Naruto-sama" ujar Kakashi sambil membungkukkan badannya.
"Tidak usah terlalu formal begitu Kakashi, kau tau kan aku tidak suka dengan hal yang berbau formal" ucapnya sambil tersenyum.
"Sesekali mencoba tak buruk kan?" sambil tersenyum lalu menyerahkan beberapa berkas yang akan dibahas pada saat rapat nanti.
Naruto yang menerima berkas itu langsung melihat-lihat berkas tersebut, sesekali ia mengerutkan alisnya namun setelah itu wajahnya kembali ke mode normal.
"Mari kita mulai saja rapat ini karena direktur kami sudah datang" ujar Kakashi membuka rapat.
Terlihat ada beberapa orang yang mengelilingi meja panjang berbentuk oval tersebut dan raut wajah mereka terlihat err tegas-menakutkan-.
.
.
.
"Fyuh~ Akhirnya rapatnya selesai juga" desah Naruto sambil melonggarkan dasi yang daritadi serasa mencekik lehernya.
"Naruto…" panggil seseorang di belakangnya.
Baru saja ia ingin menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya…
BRUKK
Terdengar suara tubuh jatuh secara tiba-tiba.
"Aww.. a-apa i-ni?" tanya sambil mencabut sesuatu yang sudah menancap di lengan kanannya. Lalu kesadarannya pun menghilang.
"Bawa dia!" perintah seseorang yang sudah menembaknya dengan peluru bius tersebut. Kemudian ia terlihat menelpon seseorang.
"Bos target sudah didapatkan"
"Bagus, cepat bawa ke markas sekarang juga"
"Baik bos"
.
.
.
NARUTO POV'S
Aww… Dimana aku sekarang, tidak adakah cahaya yang cukup untuk menerangi ruangan ini?
Hey! Tunggu dulu bukankah tadi aku masih berada di kantor kemudian ada yang memanggilku dan ada yang menembakku dengan peluru bius.
K-kenapa aku tidak bisa bergerak?
H-hey siapa yang mengikatku di kursi seperti ini?
Ah sial!
END NARUTO POV'S
"Hmmm, rupanya kau sudah sadar bocah?" terlihat seorang lelaki yang sedang duduk dengan angkuhnya di hadapan Naruto.
"Siapa kau?!" tanya Naruto langsung pada intinya, jelas ia geram setelah dibius dengan cara yang sungguh tidak elit, di bawa ketempat yang tidak ia kenal dan begitu ia tersadar sudah dalam keadaan terikat.
"Hooo~ Calm down little boy… Aku bahkan belum melakukan apapun padamu hm?" sambil menaikkan sebelah alisnya dengan menunjukkan raut wajah yang sangat menyebalkan.
"Apa maumu hah!? Mengapa kau mengurungku disini?!" geram Naruto sambil berusaha melepaskan ikatan di tubuh, tangan maupun kakinya.
"Hm, menarik… Jadi sang Uzumaki tidak suka dengan hal yang bertele-tele ya? Sangat menarik, kau tau aku juga sebenarnya orang yang suka dengan hal-hal yang langsung to the point tapi alangkah baiknya kalau kali ini kita melakukan 'pemanasan' terlebih dahulu Uzumaki?" sambil mendekat ke arah Naruto. Lelaki itu mengelus pipi Naruto secara perlahan dan tentu saja itu membuat Naruto langsung memalingkan mukanya, setelah puas 'menggoda' Naruto terlihat ia mengeluarkan sebuah benda yang berkilau dan…
SREEETTTT
"Aaarrrgghhhh!" terdengar raungan yang mengerikan dari Naruto. Bagaimana ia tidak meraung lelaki tersebut menggores dadanya secara perlahan namun mengakibatkan luka yang dalam dengan menggunakan pisau lipat yang ia keluarkan.
"Hmmm darahmu ternyata rasanya manis. Hahahahahaha!" ucap lelaki tersebut sambil menjilat bekas darah Naruto yang menempel di pisau lipatnya tersebut.
"BRENGSEK! APA YANG KAU INGINKAN HAH?!" berontak Naruto semakin menjadi-jadi.
Dan kemudian…
SREEETTTT
SREEETTTT
SREEETTTT
"AAARRRGGGHHHH!"
Bagaimana Naruto tidak berteriak belum hilang sakit dari luka yang dibuat lelaki tersebut ia sudah kembali membuat luka yang cukup dalam di pipi, paha dan lengan Naruto.
"B-brengsek kau!" sambil berusaha mengatur nafasnya yang mulai tersengal-sengal karena menahan rasa sakit dari lukanya tersebut. Belum lagi rasa sakit di kepalanya yang mulai menyerangnya menandakan bahwa penyakitnya sudah mulai kambuh.
'Sial! Penyakit ini sudah mulai tidak bisa berkompromi lagi' batinnya menggerutu ketika pandangan matanya sudah mulai mengabur.
"Hoo~ Bagaimana Uzumaki? Apakah aksiku barusan membuatmu kesakitan? Oh, maafkan aku, sungguh aku tidak tau kalau itu menyakitkanmu" dengan nada yang agak mendesah sambil terus mendekatkan wajahnya ke arah Naruto sambil mengecup bibir Naruto.
Naruto yang tidak terima bibirnya dicium menggigit bibir lelaki tersebut hingga berdarah.
"Arrgh! Oh! Jadi kau mulai berani ya terhadapku sekarang Uzumaki?!"
Dan yang terdengar selanjutnya adalah raungan kesakitan atau yang lebih tepatnya teriakan sang Uzumaki yang memenuhi ruangan tersebut.
-MoodMaker-
Tbc
A/N :
Oke akhirnya saya berhasil up-date setelah beberapa bulan (read = abad) saya terkena WB laknat ini.
Maaf untuk review yang belum sempat dibalas.
Maaf juga kalau ceritanya kurang memuaskan.
Dan maaf jika saya TERLALU LAMA untuk up-date FF ini bukan maksud untuk meninggalkannya tapi saya punya kesibukan lain yang tidak bisa saya tinggalkan.
Last words, mind to give me some review?
