ket: italic = ingatan yang berkelebat (?)


Boundaries

Naruto bukan punya saya ^^


Hinata berjalan di lorong sepi, hendak pulang sekolah. Ia baru selesai mengerjakan tugasnya dan terpaksa pulang telat karena buku perpustakaan yang ia gunakan tak bisa dibawa pulang. Sekolah amatlah sepi dan sunyi. Malam sebentar lagi datang. Hinata mulai ketakutan.

Akhirnya, Hinata berhasil keluar dari gedung dan cepat-cepat berlari melintasi lapangan menuju ke gerbang. Namun di depannya, sesosok bayangan telah berdiri, seolah menanti. Hinata menggelengkan kepalanya, ketakutan, dan lari ke lain arah. Sayangnya, begitu ia berbalik, bayangan itu ada di depannya juga! Hinata menoleh ke belakang dan bayangan itu tak bergerak. Begitu pula di depannya. Gadis itu melirik sampingnya, dan sungguhan terkejut begitu melihat bayangan itu ada di samping kanan-kirinya pula.

"KYAAAA!" jerit Hinata ketakutan. Kakinya lemas. Ia terduduk gemetar.

"Gadis payah begini!" suara membahana. Hinata tak berani melihat ataupun mendengar. Tangannya menutup kedua telinga, matanya terpejam.

Kami-sama, tolong!

"Hinata?"

Mendengar suara itu, Hinata segera membuka mata, mendongak penuh harapan. Di depannya, Sasuke berdiri dan memandangnya aneh. Yokai miliknya itu mengulurkan tangan yang segera disambut Hinata.

"Kau bahkan gemetar," keluh Sasuke. Hinata tak bisa menjawab ataupun protes. Ia masih ketakutan.

"Kau membuat majikanku ketakutan, Sai," ucap Sasuke tajam. Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya. Sai? Sasuke mengenalnya? Hinata berbalik dan melihat bayangan itu berjalan menghampiri mereka. Tangan Hinata mencengkram baju Sasuke erat, ketakutan namun penasaran.

"Itukah penerus keluarga Hyuuga?" perlahan, sebagian wajah Sai terlihat. Kulitnya putih pucat, namun ekspresinya aneh. Tersenyum lebar. Padahal tak ada yang lucu disini. Tanpa sadar, Hinata menarik baju Sasuke.

"Kau mengenalnya?" bisik Hinata. Sasuke mengangguk kecil.

"K-kenapa dia s-selalu tersenyum?" tanya Hinata. Tangannya mencengkram baju Sasuke makin erat.

"Dia terlihat lemah," Sai memotong pembicaraan mereka berdua. "Namun, sepertinya instingnya kuat."

Alis Sasuke mengerut, "Dia tidak lemah. Tentu saja instingnya kuat, dia adalah seorang Hyuuga."

Wajah Hinata memerah. Ia menyembunyikan wajahnya dibalik badan Sasuke, namun tetap mengintip apa reaksi Sai.

Reaksinya adalah menyeringai. Seringainya bukanlah senyuman pura-pura seperti barusan. Seringainya asli, mirip dengan seringai Sasuke yang mengerikan sekaligus membuatnya tampan.

"Pastilah kau disuruh Ino," ucap Sasuke. Baru saja Hinata mau bertanya, siapakah Ino, muncul gadis cantik. Rambutnya pirang panjang, bajunya cukup terbuka, dan ia langsung berlari menghampiri Sasuke—namun ditahan Sai.

"Aaaa, Sasukeee!" teriaknya heboh sendiri. Sasuke sendiri hanya menghela napas dan malah mengajak Hinata pulang.

"Tunggu Sasukeee~!" seru Ino. "Aku jauh-jauh datang kesini!"

Sasuke menatapnya datar selama sedetik, lalu kembali mengajak Hinata pulang. Mengabaikan teriakan Ino, Hinata menahan Sasuke yang terlihat bosan dan bertanya, "Mereka siapa?"

"Teman lamaku. Sai masih kerabat jauhku, sementara Ino… majikannya. Ia onmyouji dari daerah lain," jelas Sasuke sesingkat mungkin.

Mata Hinata membesar. Ino masih seumurnya namun telah memiliki yokai? Sungguh hebat.

"Hebat?" lagi-lagi Sasuke membaca pikirannya. Ia menepuk kepala Hinata, "kalau dia hebat, kau juga sama."

Lagi-lagi Hinata harus menyembunyikan wajahnya yang memerah. Sambil mengalihkan pikirannya, ia kembali bertanya, "Kenapa kau tak mengobrol dengan mereka? Mereka dari daerah lain untuk menemuimu kan?"

Ucapan Hinata itu membuat Sai dan (terutama) Ino bersorak senang. Mereka menghampiri Sasuke dan Hinata dengan wajah sumringah. Ino bahkan memeganag kedua tangan Hinata penuh haru, "Hyuuga! Kau benar-benar-benar baik!"

Sementara Sai tersenyum—sepertinya tersenyum licik—seraya melirik Sasuke. Hinata tak mengerti hingga ia melihat wajah Sasuke. Wajah yokainya itu terlihat makin malas dan kesal. Sepertinya Sasuke malas berurusan dengan Sai dan Ino. Hinata menggigit bibir, mengucapkan maaf dalam hati—berharap Sasuke membaca pikirannya dan menerima maafnya.

Nyatanya, toh Sasuke meliriknya dan mengangguk kecil. Paling tidak, Hinata tak kepikiran untuk minta maaf terus-terusan.

"K-kalian ada urusan apa di daerah i-ini?" tanya Hinata saat mereka berempat pulang ke kediaman Hyuuga.

"Ah, bukan apa-apa, kami mendengar Sasuke telah memiliki majikan baru dan memutuskan untuk menjenguknya," jelas Sai. "Apalagi Sasuke sangat susah diatur."

"Diam kau," potong Sasuke.

Hinata tertawa kecil. Mungkin ini yang membuat Sasuke kesal. Mereka terlalu akrab hingga tahu seluk-beluk Sasuke. Apalagi Ino yang sedari tadi ingin menempel pada Sasuke—namun ditahan Sai.


Sesampainya di kediaman Hyuuga, Ino disambut baik oleh keluarga Hyuuga sebagai keluarga Yamanaka. Ino dan Sai ditempatkan di ruang tamu, diantar langsung oleh Hinata dan Sasuke.

"Kalian masih ingin berbincang dengan Sasuke kan?" ujar Hinata ramah. "Silahkan ngobrol sepuasnya."

Kalimat Hinata itu sukses membuat Sasuke melotot namun tak berkutik. Sementara Ino bersorak gembira diikuti senyuman Sai.

"Ngobrol dengan mereka sampai puas ya," ucap Hinata, menepuk pundak Sasuke. Ia hendak berbalik, namun Sasuke menahan tangannya. Masih dengan wajah ruet dan kesal, ia berkata, "Habis ini latihan kan?"

Hinata mengangguk.

"Kalau ada Neji atau Hanabi, berlatihlah dengan mereka berdua."

Hinata mengangguk lagi.

Sasuke terdiam. Seakan ada yang ingin ia katakan, namun tak sanggup keluar dari tenggorokan. Hinata menunggu cukup lama, namun Sasuke tak kunjung bicara. Akhirnya Hinata berbalik, namun tangannya tetap menahan Hinata.

"Ya? Kenapa?" tanya Hinata bingung.

Sasuke terdiam cukup lama, lalu menggeleng. "Tidak. Selamat berlatih."

Hinata tersenyum, "Terima kasih." Lalu berbalik pergi.

Sementara Sasuke masih menatap punggung mungil Hinata yang berjalan menjauhinya. Mungkin Sasuke akan tetap menatap gadis itu kalau saja Sai dan Ino tak berdehem keras. Sasuke menoleh, alisnya mengerut kesal.

"Chemistry kalian sangat terasa," komentar Ino seraya memeluk dirinya sendiri. "Aku sampai cemburu."

Sai disebelahnya hanya tersenyum—palsu, seperti biasa. "Akhirnya kau mempunyai majikan yang cocok, Sasuke."

Yang dikomentari hanya menghela napas dan menggeser pintu. Ia duduk di depan kedua sahabatnya itu dengan wajah terganggu.

"Ya, kalian memang cocok… namun tetap aneh," tambah Ino seraya memangku kedua tangannya. Ia melirik Sai, meminta persetujuan.

Sai mengangguk, "Ya. Dia bahkan tak menyebutkan namamu."

Mata Sasuke melebar, namun dengan cepat ia menguasai diri. Dengan tenang, ia menganggukan kepala, menyilahkan keduanya kembali berbicara.

Ino melirik langit-langit, mengingat-ingat, "Masih ada yang aneh… kau sudah maksimal, namun majikanmu masih bingung."

Sai mengangguk lagi, setuju. "Kau dengan mudahnya memahaminya, namun ia masih belum mengerti bagaimana memahamimu."

"Apakah dia sudah mengetahui konsep 'jadi satu' itu?" tanya Ino sambil menopang dagunya.

Sasuk menghela napas. Ia mengangguk, "Sudah kuberitahu. Tapi dia terlalu polos. Dia bahkan sama sekali tak berniat menjadi penerus Hyuuga," Sasuke mengacak-acak rambutnya.

Seketika, Ino dan Sai langsung mengangguk-angguk, "Pantess…."

"Dia punya modal yang kuat untuk menjadi penerus Hyuuga," gumam Sai. "Kau tinggal memolesnya sedikit lagi."

Sasuke hanya mengangguk kecil. Ia menatap tatami, menghindari tatapan kedua temannya yang menusuknya sedari tadi.

"Kau pasti masih memikirkan Hinata," ucap Ino melihat Sasuke yang tak konsentrasi sama sekali.

"Tentu saja, Bodoh. Dia majikanku," sergah Sasuke.

Ino tersenyum, "Baiklah. Hampiri dia sekarang dan latih dia hingga menjadi Hyuuga yang kami tunggu-tunggu," Ino bangkit dan menarik tangan Sai.

"Ayo pulang!"


Pakaiannya basah oleh keringat. Kulitnya terasa lengket. Tulangnya seakan remuk semua. Ia menjatuhkan dirinya di pinggir dojo, bersender pada dinding kayu di belakangnya. Ia luruskan kakinya dan melemaskan ototnya.

Matanya menatap pintu dojo yang terbuka lebar. Disana Sasuke berdiri, dilatarbelakangi matahari senja. Ia berjalan masuk dan duduk disebelah Hinata. Ia memberikan sebotol air dingin yang segera disambut Hinata. Gadis itu benar-benar kelelahan rupanya.

"Mana Yamanaka-san?" tanya Hinata seraya mengambil handuk kecil untuk mengelap keringatnya.

"Pulang," jawab Sasuke singkat. "Bagaimana?"

Hinata menelengkan kepalanya, "Apanya?"

"Latihannya."

Seketika, Hinata menunduk, "Buruk sepertinya. Aku tidak yakin—"

"Hanya masalah waktu," potong Sasuke. "Dan kau takkan maju jika masih tak yakin."

Hinata kembali terdiam. Ia tahu omongan Sasuke benar. Ia terlalu lelah untuk menanggapi. Kini, ia hanya ingin bersandar pada dinding kayu ini, menikmati angin sore yang berhembus sepoi-sepoi.

Waktu seakan berhenti. Matahari masih disana, malam tak datang-datang. Keduanya pun terdiam. Yang menandakan waktu masih berjalan hanyalah detak jantung mereka—satu-satunya yang berbunyi selain hembusan angin.

Entah mengapa Hinata takut. Ia ingin seperti ini saja, selalu. Ketakutan yang baru Hinata sadari saat ia latihan sendiri tadi. Ia takut sendirian. Ia merasa nyaman dengan Sasuke. Ketakutannya hilang jika bersama Sasuke. Saat tadi meninggalkan Sasuke bersama Ino dan Sai, ketakutannya muncul lagi. Seakan ada batas antara ia dan Sasuke. Ia takut Sasuke pergi….

Sementara Sasuke juga tenggelam dalam pikirannya. Ia memikirkan perkataan Ino dan Sai tadi siang. Entah berapa kali ia memberitahu Hinata tentang konsep 'jadi satu'. Bahkan kalau tidak salah, Hinata pun sampai hapal—tapi kenapa ia tak kunjung mengerti? Ia seolah memberi batas dan tetap menganggap Sasuke 'orang lain'—bukan satu kesatuan dengannya. Ia juga tak pernah memanggil nama Sasuke. Kadang, Sasuke iri saat ia memanggil Hanabi atau Neji. Sasuke ingat, Hinata pernah memanggil namanya sekali.

"Jangan panggil aku 'Nona', U-Uchiha-san," ucap Hinata. "Pa-panggil a-aku Hinata."

"S-Sasuke…."

Kapan lagi Hinata memanggil namanya seperti itu?


Mata Sasuke melebar saat merasakan sesuatu bersender padanya. Ia melirik Hinata. Gadis itu tertidur dengan lelapnya. Kepalanya ia sandarkan pada pundak Sasuke. Rambut gelap Hinata ikut jatuh di pundaknya walaupun sudah dikuncir. Sasuke memainkan rambut Hinata yang tersampir di pundaknya, mengelusnya bahkan menciumnya. Entah apa yang membuat Sasuke melakukan itu. Bosan, mungkin. Iseng, namun toh ia menyukainya. Muncul harapan bodoh agar Hinata terlelap hingga pagi jadi mereka tak perlu berubah posisi.


Entah Hinata berada dimana. Sekelilingnya gelap. Cahaya hanyalah dirinya. Hinata sendiri. Ia takut, sedih. Ia panggil nama ayahnya, Neji, Hanabi, Naruto, Sakura, semua orang yang ia kenal. Ia berteriak, menangis, gemetar. Ia ingat, masih ada satu yang belum ia panggil. Padahal jika ia panggil—pastilah dia datang dan menolong Hinata. Hinata berteriak memanggil namanya, namun tercekat di tengah jalan. Suaranya sama sekali tak keluar.

Tangis Hinata makin keras begitu yang ia panggil muncul di hadapannya. Namun dia bersama orang lain. Sai dan Ino. Keduanya menarik tangannya, jauh dari Hinata. Hinata berlari, berteriak, namun ia tak dapat menggapai mereka. Jarak antara mereka makin jauh. Hinata terjatuh, namun dia hanya menoleh sedikit lalu berjalan lagi. Hinata menangis, berteriak memohon mereka untuk menunggunya.

Hinata tak tahu harus berbuat apa. Ia memanggil namanya berulang kali, namun tak ada suara yang keluar. Suara Hinata habis. Namun ia tetap memanggil namanya dalam hati, lagi dan lagi.

Sasuke… bisik Hinata lemah. Tolong aku… kumohon. Sasuke… Sasuke… Sasuke

Hinata tak ingin sendiri lagi. Ia kembali mencoba, membuka mulutnya, memanggil namanya, "Sasuke…."


Mata Sasuke melebar. Hinata memanggilnya—mengigau sepertinya. Tangannya mencengkram baju Sasuke erat, alisnya mengerut. Mungkinkah ia mengalami mimpi buruk?

"Jangan takut, aku disini," bisik Sasuke. Tangannya menggenggam tangan Hinata, menenangkannya. Perlahan, cengkraman Hinata mengendur. Ia kembali tertidur pulas. Sasuke menyeringai melihat betapa polos majikannya. Walaupun karena mimpi buruk, Sasuke senang pertanyaannya tadi terjawab. Ia puas walaupun Hinata memanggilnya hanya dalam mimpi.

Sasuke memejamkan matanya, ikut menyandarkan kepalanya ke kepala Hinata. Ia ingin menolong gadis itu, walaupun hanya dalam mimpi. Ia nikmati hambusan angin sore yang me-ninabobokan mereka berdua. Seraya berdoa dalam hati agar matahari tak buru-buru turun, agar malam tak segera datang, agar waktu berhenti, agar Hinata tak terbangun.


iyaaaappp! satu lagi chapter gaje dari saya saudara-saudara! maafkan segala typo, keanehan dan ketidak-nyambungan di chapter ini m(_ _)m maafkan character yang OOC disini, bahkan Sasuke jadi melankolis begitu aaaaaa!

Penjelasan:

omyouji: orang pinter istilahnya kalo di Indonesia #salah ehm, omyouji itu kayak keluarga Hyuuga, kerjaannya membantai yokai-yokai (gomen kalo salah #authorsesat)

shikigami: itu berasla dari dua kata, shiki dan kami. 'shiki' (dari kata shi dan ki, shi: mati, ki: roh) sendiri artinya roh. kalau 'kami' di sini artinya kertas. jadi kesimpulannya. Shikigami adalah roh yang biasa dipakai oleh onmyouji yang pemanggilannya lewat kertas. shikigami bisa berarti kayak jin atau kami (dewa). Shikigami itu terikat sama manusia yang merupakan majikan mereka sebagai tambahan (thanks to the RED Phantom & UQ atas penjelasannya! m(_ _)m)

maaf chapter kemarin nggak jawab review, nggak sempet *ditabok*

fishy: makasih~ ^^ darimana ya? campur-campur, dari cerita guru agama di sekolah, dari nurarihyon no mago, dari kekkaishi, dan anime2 lain berbau yokai hehe

niwa: makasiih~ iya, saya ngebayangin sasuke kayak Sebastian LOL anda... betuuuull~ o

ulva-chan: makasiih~ sip, udah update ^^

sasuhina-caem: siip, sudah lanjuuut~ XD

n: LOL bagi saya dua-duanya sama2 bodoh *digampar* XDD

Lizy94: makasiiih ^^

ulva-chan: makasiih~ iya, soalnya seperti yang udah dibilang Sai & Ino diatas, Hinata masih belum ngertiin Sasuke ^^

kritik & saran ditunggu~ :D