Hai. Karena masih libur lebaran, saya mengucapkan minal aidin bagi yang merayakan. Mohon maaf lahir dan bathin. Maafkan kesalahan saya yang menumpuk. Karena itu, hari ini update! Enjoy minna~


Naruto bukan punya saya kook!


Chap 5

Sasuke melirik buku harian milik Hinata di tangannya malas-malasan. Bukan, bukan karena ia tidak bisa membaca—walaupun yokai, tapi bertahun-tahun menghamba pada manusia, apalagi manusia bermarga Hyuuga, membuatnya tahu hal-hal duniawi termasuk membaca, SMS, e-mail dan segala macamnya. Bukan pula karena ia merasa risih—hei, ini buku harian majikannya, alias dirinya yang lain, untuk apa merasa risih? Dan bukan juga karena Hinata disebelahnya gugup bukan main, sehingga ia ikutan gugup—oh ayolah, seakan itu akan terjadi pada Sasuke Uchiha.

Jadi, kenapa?

Karena isi buku harian itu di dominasi oleh Naruto Uzumaki. Ya, si idiot itu.

"Sasuke," panggil Hinata takut-takut, "Kau bosan ya?"

"Hn."

Sasuke membaca pikiran Hinata. Gadis itu benar-benar merasa malu karena baru sadar, isi diary-nya sangat bodoh. Sebenarnya biasa saja, namun kenapa harus Naruto yang mendominasi? Selain Naruto, keluarga Hyuuga dan ikatannya dengan Sasuke juga disebut-sebut. Yah, memang cukup banyak, terutama di akhir-akhir halaman. Sepertinya keberadaan Sasuke menyita perhatian Hinata juga. Terlihat disana, pikiran gadis itu soal Naruto pelan-pelan terhapus karena nasibnya sebagai penerus keluarga Hyuuga dan adaptasinya dengan Sasuke.

Namun, tetap saja kalau dihitung dari awal, Naruto mendominasi!

"Sasuke?"

"Hn."

"M-maaf," ucap Hinata dengan wajah memerah. "Kalau ingin berhenti, bilang saja."

"Segitu sukanya kau dengan Naruto?" tanya Sasuke tiba-tiba, membuat wajah Hinata makin merah.

"Aa—b-begitulah," jawab Hinata seadanya.

"Walaupun dia menyukai sahabatmu?" tanya Sasuke lagi. Ia benar-benar tak mengerti jalan pikiran manusia. Buat apa susah payah mencintai orang yang sama sekali tak memperdulikan kita? Hanya bikin capek hati saja. Walaupun sudah tahu, mereka tetap menutup mata dan tak ingin peduli. Padahal kalau mereka membuka mata dan menoleh sedikiit saja, mungkin ada orang lain yang lebih baik—jauh lebih baik—dari orang yang mereka sukai.

Seketika, wajah Hinata memelas. Ia bingung menjawab.

"Kau tahu itu kan? Dia benar-benar naksir sahabatmu," tambah Sasuke lagi. Hinata mengangguk pelan.

"Aku tahu…," bisik Hinata. Ia merasakan perih dan ngilu di dadanya, menyesakkan.

"Kenapa kau masih menyukainya, kalau begitu?"

Hinata memejamkan matanya, menahan tangis. Sasuke benar. Mungkin karena itulah ia selalu menatap Naruto sinis dan malas membaca buku hariannya yang penuh oleh Naruto. Teringat saat Sasuke mengawasinya di kelas, saat Naruto makan siang bersamanya dan Sakura… Naruto yang mengkhawatirkannya dan membuatnya melayang, namun langsung menjatuhkannya ke tanah begitu ia bermanja-manja pada Sakura, meminta diantar ke UKS….

"Menangis saja."

Seketika, air matanya langsung tumpah. Tubuhnya gemetar, wajah pucatnya memerah. Tangannya menutupi seluruh wajahnya. Harusnya ia tak menangis. Ia adalah ketua klan Hyuuga berikutnya. Ia harus kuat. Namun semakin mengingat itu, semakin deras air matanya.

Segugus tangan merangkulnya dan memeluknya. Tangan itu mengusap-usap rambut dan pundaknya pelan, menenangkannya. Sasuke. Namun tindakan yokai itu justru membuat tangis Hinata makin menjadi. Ia harusnya bersyukur memiliki yokai seperti Sasuke. Membayangkan dirinya sendirian di kamarnya yang cukup luas, menangis tanpa ada menghibur atau memeluknya… kesepian….

"A-a-arigatou…Sasuke."

"Hn."


Gadis berambut gelap itu terbangun. Mata polosnya mengerjap-ngerjap. Lengket. Otaknya berputar, mengingat semalam ia menangis. Menangis… di pelukan Sasuke.

Matanya seketika beradaptasi. Tangannya mencengkram hakama seseorang, badannya berada di pangkuan orang itu, dan badannya juga bertumpu padanya. Seseorang itu adalah—bukan orang—tapi…

"Sudah bangun?"

Tapi yokai. Yokai miliknya bernama Sasuke Uchiha.

"Aa—"

"Sekarang sudah pagi, adikmu sudah mengetuk pintu dari tadi," cerita Sasuke.

"S-Sasuke!" panggil Hinata menarik lengan baju Sasuke, menahan yokai itu agar tidak menghilang. Sasuke menaikkan sebelah alisnya, bertanya-tanya, namun segera tahu jawabannya. Kadang Hinata berharap, ia-lah yang dapat membaca pikiran Sasuke dan yokai itu tak dapat membaca pikirannya, namun harapan hanyalah harapan. Sasuke sukses membaca pikiran dan harapannya barusan, tersenyum samar.

"Tak apa, yokai tidak tidur. Jangan merasa tak enak pada dirimu yang lain," ucap Sasuke menepuk kepala Hinata. "Teruslah berharap. Mungkin menjadi kenyataan."

Dan yokai itu menghilang, meninggalkan Hinata dengan perasaan campur aduk.


Hari itu hari Minggu.

Hinata menatap Sasuke dengan wajah merah padam, membuat Sasuke menggaruk kepalanya, kebingungan. Lorong kediaman Hyuuga terasa 5 kali lebih panjang begitu Sasuke muncul di hadapannya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke. "Perlu kupanggilkan seseorang untuk memeriksa badanmu?"

Hinata menggeleng cepat, bersiap kabur. Namun Sasuke mengikutinya. Hinata merutuk dalam hati—baru ingat Sasuke yokainya dan selalu mengikutinya.

"Kau mau kemana? Menghindariku?"

"T-t-ti-tidak!" seru Hinata menghentikan langkahnya.

"Tapi kau hanya berputar-putar," Sasuke melipat tangannya, menaikkan sebelah alisnya. Posenya yang keren itu makin membuat gadis dihadapannya pusing.

"A-aku mau keluar."

Tubuh Sasuke menegak. Tatapan matanya serius, "Kemana?"

Hinata menimbang-nimbang, "Entahlah. Mungkin ke rumah Sakura."

Sasuke terdiam, menatap Hinata. Gadis itu menunduk, mengalihkan pikirannya. Ia tahu, pastilah Sasuke mencari tahu sendiri jawabannya—mengapa ia menghindar—dengan membaca pikirannya. Gadis itu berusaha mengalihkan pikirannya. Ia mencoba memikirkan kupu-kupu yang barusan lewat, bunga-bungaan yang indah, mata hitam Sasuke yang menelannya—tidak, gelapnya malam, bintang-bintang, pelajaran Astronomi di sekolah—ah ya, ada PR Astronomi, mungkin ia bisa belajar bareng dengan Sakura, atau mengerjakannya sendiri di kamar sambil memperhatikan Sasuke diam-diam—tidak, apa tadi? Oh, Sakura. Mungkin Sakura akan menjerit jika ia dapat melihat Sasuke yang begitu tampan—tidak-tidak, Naruto. Ya, mungkin ia bisa mengajak Naruto juga dan memperlancar hubungan mereka walaupun ia tahu Naruto menyukai Sakura seperti yang dikatakan Sasuke semalam… lalu ia menangis… dan tertidur di pelukan yokai itu….

Wajah Hinata berubah menjadi merah padam.

"Baiklah," ucapan Sasuke membuat Hinata mendongak, mengerjap-ngerjapkan matanya kaget sekaligus bingung. Pikirannya tak dibaca?

Punggung itu telah berbalik menjauhinya. Entah mengapa muncul rasa penyesalan di hati Hinata. Gadis itu mengamati Sasuke yang menjauh lalu mendadak hilang di lorong—sudah tak terkejut lagi dengan kebiasaannya muncul-hilang.

Dan saat itu, Hinata tahu, Sasuke mengikuti permainannya.


Sakura menyenggol pintu kamarnya agar terbuka. Kedua tangannya sibuk membawa nampan berisi minuman dan snack.

"Jadiii, ada apa, Hinata?" tanya Sakura begitu menghempaskan badannya diatas bantal.

"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin main," jawab Hinata. Matanya memperhatikan kamar Sakura yang benar-benar cerah. Tak seperti kamarnya yang sederhana meskipun ukurannya dua kali lebih luas dari kamar ini.

"Yakin?"

Hinata mengangguk. "Aku hanya ingin main."

Dan kedua gadis itu mengobrol tentang apa saja, dari topik remeh temeh sampai bergosip soal anak-anak di sekolah mereka. Dan kalau sudah sampai sekolah, pasti yang dibahas Naruto lagi. Selain karena Hinata menyukainya—meskipun Sakura tak mengetahuinya, sengaja Hinata tutupi agar persahabatan mereka tak rusak kalau-kalau Naruto beneran jadian dengan Sakura—juga karena Sakura membenci Naruto setengah mati—iya, sekarang sih benci, tapi kita gak tahu nanti-nanti kan? Makanya Hinata udah jaga-jaga.

Membahas Naruto membuat Hinata kembali mengingat kejadian semalam. Mendadak, wajahnya memerah lagi.

"—ngeselin banget kan? Eh, Hinata? Eh, kau mendengarku, tidak?" Sakura melirik Hinata cemas. "Wajahmu merah. Kemarin juga begitu. Tidak enak badan?"

Hinata menggeleng. Ia butuh curhat. Mungkin dengan mengeluarkan beban pikiran, dapat melegakannya.

"Ngg, Sakura… sebenarnya aku sedang membuat cerpen," ucap Hinata.

"EEH? Benarkah? Kau tertarik dengan dunia tulis-menulis? Aku mau baca!" seru Sakura, bangkit. Matanya membulat tak percaya.

"Iya, tapi aku tak pede dengan ceritanya," kata Hinata lagi. Maaf, Sakura.

"Memang ceritanya seperti apa?" tanya Sakura bersemangat. Gadis itu penggemar novel teenlit dan cerpen-cerpen remaja itu tak menyangka Hinata ada minat ke arah sana.

"Mungkin karena aku dilahirkan di keluarga onmyouji, aku jadi membuat cerita supernatural seperti ini," Hinata menunduk. "Ceritanya tentang seorang gadis dan makhluk asing—"

"Makhluk asing?" pekik Sakura. "Roh maksudmu? Percintaan terlarang! Lalu, lalu?"

Hinata tergagap, bingung kenapa tiba-tiba sudah sampai percintaan. Padahal tadinya dia baru mau bertanya, apakah cerpen itu—yang sebenarnya disisipi cerita Hinata dan Sasuke—akan berakhir dengan percintaan.

"Jangan anggap ini percintaan dulu," desah Hinata. "Roh ini mengabdi menjadi bawahan si gadis. Dia membantu si gadis apa saja karena—mm, karena gadis itu pernah menolongnya. Lalu, si gadis yang tak pernah dekat dengan laki-laki pun merasa nyaman dengan perlakukan si Roh. Keberadaan Roh itu membuatnya nyaman dan...," wajah Hinata kembali memerah, mengingat mata gelap Sasuke, rambut kelamnya, tatapan matanya yang dingin namun sebenarnya lembut, ajarannya ketika dojo yang keras namun mudah dimengerti—

"Lalu apa? Kenapa bengong?" Sakura melambaikan tangannya di depan wajah Hinata.

"Ah, mm, begitulah, maksudku dengan adanya Roh itu, si gadis merasa nyaman. Ia selalu kepikiran Roh itu meski berapa kali telah mengalihkan perhatiannya. Menurutmu, apa yang akan terjadi selanjutnya?"

"Tentu saja jatuh cinta, kan?" balas Sakura santai. "Kau ini, pertama bilang jangan anggap ini percintaan, tapi kau sendiri membuat cerpenmu romance begini. Endingnya jelas sudah diketahui."

"Ta-tapi dia itu Roh!"

"Ya, justru disitu menariknya kan? Pembaca akan menunggu bagaimana mereka berdua saling jatuh cinta," ujar Sakura.

Hinata terdiam. Benarkah?

"Sakura, jika orang yang kau sukai dapat membaca pikiranmu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Hinata tiba-tiba.

"Hm? Cerpen lagi? yah, senang, mungkin? Aku tak perlu menyatakan perasaanku walaupun pada akhirnya aku pasti malu bertemu dengannya jika ia tak menyukaiku," ia terkekeh. "Seru juga. Bikin saja cerita seperti itu."

Hinata terdiam, tak lagi mendengar kata-kata Sakura. Apakah itu berarti ia telah jatuh cinta dengan Sasuke? Namun berarti dia tak bisa menyembunyikan perasaannya dari Sasuke. Keduanya berbeda.

"Kita adalah satu sekarang."

Benar. Apa salahnya mencintai dirinya yang lain? Tunggu, apa itu berarti positif ia menyukai Sasuke? Bagaimana dengan Naruto? Apa ia masih menyukainya? Apakah hati dapat bercabang? Sungguh, pening kepala Hinata.

Perkataan Sakura tak lagi di dengarnya. Sudah setengah jam beralalu dan Hinata belum bersuara, membuat Sakura merasa tak enak.

"Kau serius tak apa-apa?" tanya Sakura cemas.

Hinata, yang sudah tak tahan, akhirnya mengangguk. "Entahlah. Akhir-akhir ini aku berlatih lebih keras daripada biasanya."

Mendengar kata 'berlatih', Sakura langsung paham, problem Hinata tak jauh dari rumahnya sendiri. Onmyouji stuff—begitu pikirnya.

"Lebih baik kau banyak istirahat," nasihat Sakura.

"Terima kasih, Sakura-chan," Hinata tersenyum lemah. Ia melirik jendela kamar Sakura yang menampilkan langit berawan kelabu. "Firasatku tak enak."

"Hm?" Sakura ikut memandangi langit. "Sepertinya akan segera hujan."

Hinata mengangguk, "Kalau begitu lebih baik aku pulang dulu."

"Perlu kuantar? Eh, tunggu sebentar," mata gadis berambut terang itu membulat, bahkan mungkin bersinar. Ia tersenyum samar saat melihat sesuatu di jendela, lalu melesat keluar kamar, berderap kakinya menuruni anak tangga. Hinata pintu kamarnya yang terbuka lebar, meninggalkan tanda tanya. Penasaran, Hinata bangkit dan melihat jendela kamar Sakura. Ada siapa dibawah sampai-sampai Sakura melesat begitu cepat?

Mata Hinata membulat.

Sasuke di depan pagar rumah Sakura.


Hujan turun rintik-rintik.

Hinata belum ingin pulang. Ia masih betah di taman bermainnya dulu—taman kecil dengan satu perosotan, satu jungkat-jungkit, dua pasang ayunan dan tempat duduk panjang dari kayu. Gadis itu duduk di atas ayunan, menggoyangkannya pelan.

Angin berhembus kencang, memunculkan seseorang. Hinata hanya dapat melihat bayangannya dari jauh. Jalannya tegap, jelas-jelas berjalan menujunya. Hawa pekat menyelimutinya. Hawa yokai.

Makin lama, bayangan yokai itu semakin terlihat. Perempuan. Berambut merah. Berkacamata. Berkimono panjang yang menapu menatap Hinata lurus-lurus.

Hinata hanya menatapnya. Tangannya tak gemetaran ataupun berkeringat. Apa ini? Perasaan ingin maju tanpa malu. Keberanian? Mungkinkah akhirnya Hinata merasakan keberanian menyelimutinya?

"Kau hanya kurang berani, Hinata. Keberanian adalah salah satu kunci utama seorang Hyuuga. Jadilah kau pemberani."

"Berani itu apa?"

"Berani itu, maju tanpa rasa malu. Ia maju untuk membelanya atau membela yang ia sayang. Berani juga berarti melakukan sesuatu yang tak semua orang sanggup. Mencoba hal baru."

"Hyuuga, eh?"


Yoosh~ mulai muncul konflik besar... Kalo di anime-anime shounen sih, ini mulai arc LOL. Doakan saya kuat nulis konflik ini. Karena seringnya kalo nulis konflik yang rada ribet saya males mikir dan memutuskan untuk istirahat dulu. Giliran udah semangat, saya baca ulang dan (niatnya) saya lanjutin. Tapi sayang niat itu jarang tercapai -_-V

Maafkan juga karena saya gak sempet bales review. Mata udah ngantuk berat ini. Gomen bangeeett! Saya kasih bonus deh:


OMAKE!

"Kau masih…," belum sempat Sasuke berbicara, Hinata sudah menggeleng cepat dengan wajah lebih merah lagi dan kabur. Sayang, di depannya Sasuke telah berdiri. Hinata mundur selangkah takjub. Ia menoleh ke belakangnya, dan melihat Sasuke tiba-tiba muncul.

"Mau lari kemana?" ucap Sasuke membuat Hinata bergidik. Gadis itu jatuh lemas, berjongkok di lantai kayu. Ingin kabur rasanya saat Sasuke muncul di sebelahnya, ikut berjongkok dan memandanginya lekat-lekat.

"J-jangan lihat aku s-seperti itu, S-Sasuke," ucap Hinata. Segala ucapannya adalah perintah, maka Sasuke pun mengalihkan pandangannya dengan kecewa.

"Sudah kubilang, jangan merasa segan dengan dirimu yang lain kalau ingin tembok itu runtuh," Sasuke menghela napas. Gadis disebelahnya hanya tertunduk, namun Sasuke bisa melihat telinganya—dari sela-sela helaian rambut—memerah. Yokai itu menyeringai tipis.

Hinata tak tahu harus seperti apa di depan Sasuke. Sungguh! Susah sekali menganggap itu hal yang biasa. Bagaimanapun juga, ia harus menganggap Sasuke adalah dirinya yang lain—tapi tetap tidak bisa!

Sibuk dengan pikirannya sendiri, Hinata terkejut—hampir melompat kaget karena mendadak hembusan napas begitu dekat di telinganya. Matanya membeliak, seketika menoleh dan mundur cepat. Sasuke. Lagi. Yokai itu meniup telinganya yang memerah!

Seringai tampak di wajah tampan yokai itu. "Aku suka melihatmu saat kaget."

Penjelasan itu tak memberitahu apa-apa! Hinata tak terima! Mana ada pelayan menjahili majikannya? Apakah ada seseorang menggoda dirinya sendiri? Orang gila, mungkin. Berarti Sasuke gila? Dan itu berarti Hinata juga gila? Tidak, otak Hinata beku. Error.

Ketidaknyambungannya ditambah dengan tawa Sasuke—yang pastilah sedang membaca pikirannya. Yokai itu tiba-tiba sudah di depan Hinata, mengangkat gadis itu, membantunya berdiri seakan membantu anak kecil.

"Cepat-cepatlah bisa membaca pikiranku," bisik Sasuke tepat di telinga Hinata, lalu menghilang.

Lagi, Hinata terduduk lemas, dengan kulit pucat yang berganti warna merah.


Yep. Setengahnya bener-bener awal dari chapter ini. Tapi saya apus karena Sasuke berasa OOC (dan di chapter ini kayanya dia malah tambah OOC -,-) Di omake ini Sasuke lebih mirip setan penggoda, bukan yokai... oh apa harusnya dari awal Sasuke setan penggoda aja ya, biar seru? #melenceng

Jadiii... apa menurut kalian soal chapter ini? Mind to review? Thanks before~