Taman bermain.
Yokai berwujud wanita berambut merah.
Di ayunan yang bergoyang pelan, Hinata duduk menatap yokai berkacamata tepat dihadapannya.
Naruto bukan milik saya, sayangnya. Dan sayangnya, saya gabisa update secepat Naruto. Karena itu, mohon maaf m(_ _)m
Chapter 6:
"Hyuuga, eh?"
Hinata tak bergeming. Ayunannya masih berayun pelan.
"Kau penerus klan Hyuuga berikutnya? Menyedihkan," seru yokai itu. "Siapa yang memilihmu, hm?"
Hinata masih terdiam. Ia amati yokai yang memprovokasinya.
"Kau lemah. Aku sudah mengawasimu dan mencari hal-hal yang berkaitan denganmu. Kau hanyalah tuan putri lemah, Hyuuga!"
Gadis berambut kelam itu diam saja. Diamnya itu justru memprovokasi si Yokai, membuatnya makin kesal dan marah.
"Kau pikir kau kuat, eh? Tidak sama sekali, Hyuuga. Dan, apakah benar bahwa yokaimu itu Sasuke? Sasuke-sama? Oh, sungguh malang nasibnya."
Mendengar nama Sasuke disebut-sebut, bahu Hinata menegak sedikit. Yokai itu menyadari, omongannya telah termakan sedikit-sedikit.
"Sungguh kejam keluarga Hyuuga. Menyuruh Sasuke-sama mengabdi pada gadis lemah sepertimu.
Angin berhembus makin keras. Rintik makin deras. Hinata masih tak bergerak.
Kesal, yokai itu mengeluarkan jurus-jurusnya. Ia mengeluarkan pisau-pisau dari angin yang tak terlihat. Salah satu pisau angin itu mengenai bahu Hinata, menyobek bajunya.
"Lihat? Kau tak bisa menghin—"
Hinata mengeluarkan shikigami dari kantung celananya. Bersyukur, Sasuke selalu mengingatkan untuk membawanya kemana-mana. Ia tebar shikigami itu dan membaca mantra-mantra dengan cepat. Pisau-pisau angin itu menabrak dinding transaparan yang dibuat Hinata untuk melindungi dirinya.
"Kau hanya bisa berlindung dari shikigami lemah itu!" seru yokai itu geram.
"Tidak juga," balas Hinata pelan, namun masih terdengar olehnya, meskipun angin bertiup kencang. Detik berikutnya, yokai itu sudah terhempas menabrak pagar taman. Di hadapannya, berdiri seorang Sasuke Uchiha, menatapnya keji.
"Karin."
Hinata mengerjapkan matanya. Sasuke mengenal yokai itu? Gadis berambut legam itu mengalihkan perhatiannya. Itu bisa dipikirkan nanti. Kini, saatnya berkonsentrasi pada yokai yang dipanggil Karin itu.
Mata beningnya mengawasi pertarungan Sasuke dan Karin yang tak seimbang. Walaupun Hinata telah menyuruh Sasuke tak mengeluarkan semua kemampuannya, yokai berambut merah itu tetap terpojok. Berkali-kali terhempas, berulang-ulang terjatuh, luka disekujur tubuhnya. Meski begitu, yokai itu tetap bangkit lagi, lagi dan lagi.
Cukup, Sasuke. Aku akan mengurungnya.
Sasuke menggeram. Ia lebih suka menghabisi Karin sendiri—lebih cepat dan mudah. Namun Hinata memerintahkannya untuk tak membunuh yokai itu dengan alasan: latihan. Toh Sasuke turuti juga perintah majikannya. Ia ingin melihat bagaimana jika Hinata bertarung yang sebenarnya.
Ya, dari awal Sasuke dan Hinata sudah tahu akan ada yokai yang mengincarnya.
"Sasuke!" seru Hinata. Sakura berbalik, mengerjap tak percaya.
"Kau mengenalnya Hinata? Kenapa kau tak mengenalkannya padaku!" serunya tak percaya.
"Maaf, Sakura, aku benar-benar harus pergi," ucap Hinata tak mengindahkan seruan sahabatnya itu. "Ja na!"
"Eh, Hinata!"
Seruan Sakura tak lagi Hinata dengar. Ia dan Sasuke sudah jauh dari pandangan. Hinata melirik Sasuke, mengatur bukan saatnya untuk itu!
"Ada yokai yang mengincarmu," ucap Sasuke. Hinata mengangguk pelan.
"Sasuke," panggil Hinata. "Aku punya rencana."
Sasuke menyerang Karin, beberapa hantamannya dapat dihindari namun tak sedikit yang membuatnya terluka. Yokai bermata gelap itu menyerang, sekali lagi, lalu langsung melompat ke belakang. Ia melirik Hinata.
Gadis bermarga Hyuuga itu sudah siap. Saat Sasuke dan Karin sibuk bertarung tadi, Hinata menggambar lingkaran di sekeliling mereka dan menempelkan kertas mantra. Kini, gadis itu menjauh, dengan kedua telapak tangan menyatu, ia membisikkan mata seraya berseru dalam hati.
Sasuke!
Yokai tampan itu meloncat keluar garis, membuat Karin bangkit. "Sasuke-sama!" seru Karin yang telah bangkit, bersiap menerjangnya. Namun ia justru menabrak kekkai—dinding tak terlihat yang dibuat Hinata untuk mengurungnya. Berulang kali ia mencoba menembus kekkai yang dipasang Hinata, namun gagal. Berbagai jurus dan mantra telah di ucapkan, namun kekkai seorang Hyuuga tak semudah itu ditembus. Matanya menatap Hinata geram, apalagi gadis itu kini tak memperdulikannya, malah mendekati Sasuke.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Hinata. Sasuke menepuk kepalanya.
"Lumayan. Timingnya sudah tepat," ucap Sasuke, "Namun kau tidak bisa selalu defensif. Kau juga harus menyerang."
Hinata mengangguk pelan. Iris beningnya melirik Karin yang terpenjara dalam kekkainya.
"Kau kenal dia?" tanya Hinata. Sasuke mengangguk pelan.
"Bawahan keluargaku dulu," jawab Sasuke singkat. Ia menghampiri Karin, meninggalkan Hinata. Gadis itu menatapnya, mengamati Sasuke yang tak ingin bicara banyak soal asal-usulnya.
"Sasuke-sama!" sebutnya. "Oh, Sasuke-sama, mengapa kau menghamba pada Hyuuga rendahan itu?"
Sasuke tak menjawab, namun alisnya berkedut kesal. Ia membuang muka, menatap Hinata, "Mau kau apakan dia?"
"Hyuuga! Aku memberi peringatan padamu!" seru Karin memukul-mukul kekkai.
"Diam kau!" seru Sasuke, membuat Hinata sendiri mundur. Kenapa Sasuke kesal sekali? Siapa sebenarnya dia? Apa hubungan Karin dengannya?
Perlahan, Hinata mendekat, tak memperdulikan Sasuke yang menyipitkan mata was-was sekaligus kesal. Hinata mengelus kekkai yang ia buat seraya menatap Karin.
"Apa tujuanmu?" tanya Hinata.
Karin tak lagi memukul-mukul kekkai. Ia mundur namun menyeringai melihat Hinata datang dan mengajaknya bicara. Dengan lantang ia katakan, "Aku adalah utusan Madara Uchiha-sama!"
Detik berikutnya, Hinata sudah 10 meter jauhnya dari Karin. Tangan Sasuke berada di pinggang Hinata—barusan membawa gadis itu menjauh—dan kini sudah memasang kuda-kuda, bersiap melindungi Hinata. Sementara Hinata sendiri masih kebingungan, namun bersiap menerima serangan. Ada apa sebenarnya? Siapa Madara Uchiha? Masih satu klan dengan Sasuke, namun kenapa begitu mendengar nama itu sikapnya langsung berubah?
Karin tertawa keras, "Bingung Hyuuga? Kau bilang kau majikan Sasuke-sama? Majikan yang bisanya hanya berlindung dibalik yokai dan menyuruh-nyuruh tanpa tahu sejarahnya—"
Api membakar kekkai Hinata. Sasuke. Alisnya bertautan, kesal. Namun tak lama, api padam dan kekkai itu masih utuh. Yokai di dalamnya pun masih tertawa.
"Kesal, Sasuke-sama? Salahkan majikanmu yang memasang kekkai begitu kuatnya," balas Karin.
Sasuke menggeram, namun tangan Hinata menepuknya dari belakang. Gadis itu maju, mendekati Karin, "Lalu? Apa yang kau mau?"
"Hanya memberi salam penghormatan kepada Hyuuga," jawab Karin yang masih menyeringai. "Hyuuga mungil yang tak tahu apa-apa."
Sasuke menggertak, hendak menyerang lagi—namun Hinata menepuk pundaknya.
"Salam penghormatan apa?" tanya Hinata tenang. Sesuatu menyelimuti hatinya. Seakan ada yang mendukungnya dan mendorongnya.
"Bahwa kami akan menyerang Konoha," ucap Karin lantang.
Hujan yang turun makin deras tak membuat suara Karin tertelan. Suara itu justru mampu membuat Sasuke dan Hinata tercenung. Sasuke, langsung menarik Hinata menjauh, bersiap-siap jika ada serangan mendadak. Sementara Hinata masih tercenung, tak tahu apa yang harus dilakukan.
"Kenapa kau mengatakannya padaku?" seru Hinata memecah keheningan. "Aku bukanlah ketua klan Hyuuga!"
Karin mendengus. "Aku tidak tahu. Lepaskan aku dari sini!"
"Jawab, Karin," suara dingin Sasuke ikut serta.
"Aku sungguhan tak tahu! aku hanya diutus Madara-sama! Jadi lepaskan aku!"
Jeritan Karin sia-sia. Baik Sasuke ataupun Hinata tak bergeming. Keduanya tetap diam. Sasuke menatap Karin kesal, menunggu perintah Hinata, sementara gadis itu sendiri terlihat bingung.
Frustasi, Karin makin menjadi, "Sasuke-sama! Kenapa kau mau diperintah oleh Hyuuga lemah ini? Hyuuga—yang telah membunuh klan-mu sendiri!"
Hinata merasakan kepalanya berputar-putar. Kini, yokai bernama Karin itu mengatakan hal yang... entahlah, Hinata terlalu pusing untuk memikirkannya. Ia terlalu kaget mendengarnya. Semuanya tampak datang secara tiba-tiba. Madara Uchiha, Sasuke mengenal Karin-bawahan klannya? Yokai juga memiliki klan? Dan mungkinkah Sasuke adalah klan tertinggi, layaknya Hyuuga diantara para onmyouji? Sasuke yang langsung waspada begitu mendengar nama Madara Uchiha, jantungnya yang memompa makin cepat begitu Sasuke melindunginya dan memujinya, dan sekarang Karin menambah masalah baru lagi bahwa klan Hyuuga, tempatnya dilahirkan, dibesarkan dan yang akan ia pimpin kemudian hari, membbunuh klan Sasuke, yokai miliknya yang telah membuat ikatan setia dengannya. Mungkinkah itu terjadi? Ayolah, seorang yokai yang temperamen mau menjadi yokai milik onmyouji yang telah membunuh seluruh keluarganya?
Namun, jari-jari Sasuke yang mengepal keras membuat Hinata meragukan analisisnya sendiri. Apalagi saat api Sasuke melalap kekkai Karin. "Kumohon, lepaskan kekkai itu. Biar kubunuh dia," desis Sasuke. Alisnya mengerut, aura hitam keluar dari sekujur tubuhnya—jelas-jelas marah. Namun Hinata tak bergeming. Matanya masih melebar, tak percaya apa yang ia dengar.
Hyuuga… keluarganya? Keluarganya membunuh klan Sasuke? Ia ulang kembali kata itu, entah keberapa kalinya.
Tidak, yokai itu pasti berbohong. Kalau iya, tak mungkin Sasuke mengabdi pada keluarga Hyuuga kan? Tak mungkin Sasuke mau melakukan perjanjian dengannya…. Namun, Hinata selalu merasa ada yang aneh dengan Sasuke. Ia juga tak tahu soal asal-usul Sasuke. Gadis itu melirik yokai di sampingnya. Otaknya kembali berspekulasi.
"Hinata!" seruan berserta derap langkah kaki dengan cipratan membahana. Neji dan beberapa onmyouji Hyuuga datang. Mereka mempercepat langkah kaki mereka begitu melihat seorang yokai histeris terkurung dalam kekkai dan Hinata-Sasuke di hadapannya.
"Apa yang terjadi?" seru Neji berlari menghampiri Hinata yang basah kuyup karena air hujan.
Hinata kembali ke dunia nyata, mengesampingkan fakta yang mengganggu pikirannya. Ia dan Sasuke saling lirik, "Ceritanya cukup panjang."
"Yang jelas, hal ini harus segera dilaporkan kepada Ketua Klan—"ucap Sasuke. "Walaupun aku sendiri tak yakin."
Hinata melirik Sasuke penuh tanda tanya, namun ia diam saja. Ia alihkan pandangannya ke kekkai yang ia buat. Para onmyouji berkumpul disana, merapalkan matra sementara Karin di dalamnya menjerit-jerit.
"Apa yang mereka perbuat, Neji-nii?"
"Ah. Mengurung yokai itu, tentu. Dia dapat di interograsi—"Neji melirik Sasuke, memutuskan tak melanjutkan kalimatnya. Hinata memperhatikan itu. Perilaku Sasuke, gerak-geriknya, dan perasannya yang gelisah. Pastilah ada sesuatu. Kemungkinan besar tentang Hyuuga dan Uchiha yang disebut Karin. Tapi ia tak ingin menanyakannya sekarang. Tak perlu terburu-buru, Sasuke pasti akan menjawabnya jika ia bertanya sesuatu.
Hinata merasa kepalanya berdenyut. Terlalu banyak masalah yang menghampirinya. Tanpa sengaja, ia melirik Sasuke yang juga menatapnya. Ia menunduk, menyembunyikan kepalanya yang memerah. Perasaannya pada Sasuke bahkan belum selesai, namun tambah lagi urusan yokai bernama Karin ini. Apalagi kata-kata terakhirnya…
"Sasuke-sama! Kenapa kau mau diperintah oleh Hyuuga lemah ini? Hyuuga—yang telah membunuh klan-mu sendiri!"
Rasanya, kepalanya berdenyut makin kencang.
Hinata berjalan menyusuri lorong rumahnya dengan Sasuke di depannya. Malam baru saja tiba, Hinata hendak masuk kamar untuk bersantai sebelum makan malam dihidangkan. Hari yang cukup panjang dan melelahkan untuknya. Apalagi sehabis makan malam nanti ia dipanggil ayahnya untuk membahas soal Karin. Namun sebelum itu, ia harus menanyakan soal Karin dan Madara Uchiha kepada Sasuke…
Berkali-kali mulutnya terbuka, lalu menutup lagi. Kepalanya menunduk, melihat jemarinya saling bertautan. Entah hilang kemana keberaniannya tadi. Sekarang, memanggil nama Sasuke pun ia tak sanggup.
Tiba-tiba, kepalanya membentur sesuatu. Ia mendongak, mengelus dahinya. Ia menabrak yokai miliknya yang kini menatapnya dengan wajah tak terbaca.
"S-S-Sa-Sasu—"
"Ini sudah di depan kamarmu," potong Sasuke. Ia menggeser pintu kamar Hinata dan membiarkan gadis itu masuk. "Kau penasaran kan?" tambah Sasuke sambil menutup pintu kembali. Yokai itu pastilah membaca pikirannya. Perlahan, Hinata mengangguk. Gelisah menghampirinya.
"A-aku tahu, mungkin kau tak suka asal-usulmu—"
"Tak apa," lagi-lagi Sasuke memotong ucapan Hinata. Ia bersandar pada dinding, tepat di hadapan Hinata yang duduk di atas tatami.
"La-lagipula… mungkin… mungkin jika aku lebih memahamimu, aku dapat membaca pikiranmu juga!" sebut Hinata. Ia tahu Sasuke sedikit kaget, walaupun dapat menyembunyikan kekagetannya.
"Baiklah," yokai tampan itu kini berjalan dan duduk di sebelah Hinata. "Apa yang ingin kau ketahui?"
Lagi-lagi, Hinata menunduk, memainkan jemarinya, "A-apakah benar… apa yang Karin katakan? B-bahwa… k-keluarga Hyuuga t-telah membunuh… klan-mu?"
OMAKE:
Pagi itu, pekikan suara Sakura menggema di seluruh sekolah. Dan hanya dibalas dengan, "O-ohayou, Sakura-chan," oleh Hinata sambil takut-takut.
Gadis berambut merah muda itu menarik sahabatnya duduk di bangku mereka depan-belakang, bahkan sampai membawakan tas Hinata dengan maksud mempercepat jalannya sang Hyuuga.
"A-ada a..."
"SIAPA COWOK KEMARIN, HINATAAAA?" seru Sakura frustasi.
"C-co-cowok?"
"Ituuu yang menjemputmu kemariiiinn, yang... yang...," Sakura tak sanggup berkata-kata. Hinata menelengkan kepalanya, berpikir sebentar. Di rumah Sakura kemarin... Sasuke yang menjemput kan?
"Sasuke?"
"NAMANYA SASUKE?"
"I-iya..."
"Hinata!" pekik Sakura, membuat Hinata hampir terlonjak dari bangkunya. Kedua tangannya digenggam oleh Sakura, dengan wajah dimelas-melaskan, gadis impian para cowok Konoha berkata, "Kumohon! Kenalkan aku dengannya!"
Hinata meneguk ludah. Ia melirik sekelilingnya, penuh dengan anak yang berbisik-bisik. Ia bahkan menemukan Naruto yang bersungut-sungut mendengar pembicaraan mereka tadi. Sementara telinganya sempat mendengar bisikan salah satu anak; "Hyuuga dijemput? Jangan-jangan si Sasuke-Sasuke itu pacarnya!" membuat wajahnya memerah.
"Dia tinggal dimana? Konoha juga? Kok aku tak pernah melihatnya?" tanya Sakura bertubi-tubi. Sementara Hinata masih speechless, tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa melirik ke sampingnya, menatap sosok kasatmata yang hanya bisa dilihat oleh pemiliknya. Hinata penasaran, bagaimana reaksinya menjadi bahan pembicaraan gadis secantik Sakura. Hinata pikir, bahkan yokai setampan dan segagah Sasuke pun bisa salah tingkah jika dipuji oleh gadis secantik Sakura. Nyatanya, yokai miliknya itu malah bertampang bosan, menyenderkan badannya pada Hinata dan memainkan ujung rambut Hinata, seolah tak ada yang lebih menarik dibanding rambutnya yang gelap dan halus.
Menyadari majikannya kesusahan dan meliriknya minta bantuan, Sasuke tak mau ambil pusing. Ia malah melakukan salah satu hobi barunya; berbisik di telinga Hinata hingga gadis itu kegelian atau bulu tengkuknya berdiri.
"Mereka kan, manusia. Sahabatmu sendiri, pula. Kalau yokai-yokai yang menganggumu, baru akan kutangani," bisik Sasuke, membuat Hinata kegelian dan mendapat pandangan aneh dari sekelilingnya.
"Hinata? Beritahu akuu! Kenapa wajahmu tiba-tiba merah begitu?" protes Sakura saat Hinata tiba-tiba bangkit.
"K-k-ku-kurasa... kurasa aku harus ke toilet!" seru Hinata. Agak aneh, seorang Hinata yang pendiam, tenang dan kalem bisa berteriak juga. Sementara Hinata kabur, bisik-bisik makin ribut.
"Pasti benar si Sasuke-Sasuke yang katanya tampan itu pacar Hyuuga! Kalau tidak, mana mungkin dia salah tingkah begitu."
"Benar juga, Hyuuga kan tak pernah sampai berteriak..."
Dan telinga Sakura pun memanas, "Uh, kenapa tiba-tiba Hinata punya pacar? Dan setampan itu pula!"
Dam dam dam dam daam~ kali ini, sayangnya nggak ada omake yang romance-romance yah. Dan mulai serius. Kalo di anime-anime sih, ini ibarat awal-awal masuk arc baru (?). SasuHina moment pun terpaksa ditipiskan. Giliran udah mulai serius begini malah gaada omake yang bikin seger yaah, haaahhh...
Terima kasih atas review-reviewnya~ kalo nggak ada review-review ini, mungkin saya gak update-update terus yah *ditimpuk
Scarlet: ihihi, iyap ini lanjut. Yah, sayangnya sih cuma begitu reaksi Sakura, Hinata langsung dibawa kabur Sasuke sih -_-V
AngelOfDeath: sayangnya, maaf ya romance malah gak nambah disini m(_ _)m siip, udah update!
demikooo: siaap, udah updatee~
Dai Dandelion: yoroshikuu~ ehehe maaf ya malah gaada omake romance di chapter ini. Makasiih reviewnyaa
Lyla Lonyx: yoroshiku jugaa, siip udah update!
Reverie Metherlence: ehehe, maaf author sibuk sih #ditimpuk sip, udah update!
Anami Hime: oke, udah lanjut~
Yaaaa, sampai jumpa chapter depan! Kalau ada kritik, saran, curhat, sumbangan ide, keluh kesah, silahkan review! Caiyo caiyo~
